Indigo

Indigo
Chapter 153 | Inseparable


__ADS_3

Angga membuka kedua matanya yang amat berat, kepalanya terasa amat sakit dan juga pusing hingga ia memegang pangkal hidungnya. Pandangan yang buram itu telah menghilang serta menjadi jelas, di baringnya atas permukaan yang kasar si lelaki tampan menyipitkan matanya saat melihat banyaknya pepohonan besar nan langit malam tanpa adanya bulan bahkan bintang satupun.


Memang saat ini kepalanya sedang bermasalah namun Angga harus berusaha untuk bangkit dari baringnya, saat telah melepaskan tangannya yang memegang pangkal hidungnya dan hendak mengubah posisinya menjadi duduk, tubuh Angga tertahan saat ada yang menindih badannya.


Dengan paksa, Angga angkat kepalanya untuk menengok siapa yang sudah menindih badannya. Terlihat sosok gadis cantik berambut hitam panjang yang posisi matanya sedang terpejam dengan tenang.


“Freya ...”


Meskipun telah dipanggil oleh Angga, gadis itu tetap tidak membuka matanya. Sepertinya kekasihnya tengah tak sadarkan diri didekat lelaki tampan tersebut, Angga mencoba membelai-belai lembut rambut hitam legam Freya untuk menyadarkan dari pingsannya yang keadaan kepalanya tergeletak di badan milik Angga.


Tanpa ada lagi suara Angga yang memanggil gadis polos itu untuk bangun kecuali tangannya yang terus bergerak lepau menyadarkannya, kini terdengar lenguhan Freya lalu yang membuat Angga tersenyum lega adalah ketika tercintanya membuka kedua mata indahnya.


Freya menyipitkan sepasang matanya saat dilihatnya pandangan miliknya masih nampak blur tidak jelas, sehingga dirinya sulit mengenali seseorang yang ada di depan matanya. Namun selang detik kemudian, ia mengerjapkan mata saat yang Freya lihat rupanya itu adalah Angga nang sedang menatapnya.


“Angga?!” Gadis itu langsung spontan bangun duduk dan mulai mengedarkan pandangannya.


Tempat hutan yang sangatlah jauh berbeda, sunyi, gelap, menyeramkan membuat Freya reflek menjerit hingga kedua tangannya melingkar di tubuh kekasihnya yang hendak bangkit. Angga sedikit menundukkan kepalanya saat melihat Freya memeluknya dengan tubuh yang bergetar sementara wajahnya gadis itu sembunyikan di dada bidang Angga karena takut.


“Huhu! Kita ada dimana?!”


Angga tetap mengubah posisinya menjadi duduk lalu barulah langsung mendekap kekasihnya sekaligus salah satu tangannya mengusap-usap belakang kepalanya Freya untuk menenangkan hatinya yang sedang dilanda rasa ketakutan hebat setelah menelisik alam hitam asing ini.


“St, sudah nggak apa-apa. Jangan takut, ya? Kamu di sini bersama aku, gak ada yang perlu kamu takuti.”


“Pasti sosok bersuara menyeramkan itu yang sudah menyeret kita berdelapan ke dalam sini! Aku mau kembali ke bangunan villa saja, Ngga! Aku takut!”


Angga tetap mendekap tubuh mungil Freya yang masih bergetar itu, dirinya di situ beralih mengusap-usap punggung kekasihnya agar rasa ketakutan yang menyerang hati dan jiwanya itu mereda lalu segera menghilang. Kendatipun Angga merasa bersalah dan menyesal karena tidak peka tentang situasi yang tadi, andaikan ia mengetahui semuanya apa yang bakal terjadi, kemungkinan besar ia, Freya beserta pula lainnya tidak diseret ke dunia lain seperti hutan alam nuansa horor mencekam ini.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Reyhan menyentuh seluruh wajahnya kemudian membuka matanya usai tidak sadarkan diri di atas permukaan yang kasar alias tanah. Lelaki Friendly berambut cokelat itu mendesis karena merasakan kepalanya yang amat pusing dan untung tidak sampai kliyengan.


Reyhan mulai bangkit bangun untuk mengubah posisinya menjadi duduk lalu mengedarkan pandangannya setempat. Kedua matanya membelalak terkejut apa yang dirinya lihat.


“Tempat apaan ini, anjir?! Hutan? Iya memang hutan, tapi kok suasananya beda gini?! Hawa aura menggentarkan ini cukup kuat. Apa jangan-jangan sosok pria itu emang sudah sengaja menyeret kami ke sini? Bangsat!!” umpat Reyhan.


Reyhan memegang tengkuknya kemudian memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara bergiliran akibat terasa pegal, kemudian pandangan matanya tak sengaja mengarah ke seorang gadis berpakaian khas anak tomboy yang tengah terbaring tidak sadarkan diri di jarak 2 meter sebelahnya.


“Jova?!” Reyhan langsung beranjak berdiri lalu berlari menghampiri sahabat perempuannya yang tergelimpang lemah di tanah, lelaki itu menjatuhkan kedua lututnya di atas tanah dengan perlahan kemudian mulai beraksi untuk membangunkan Jova dari pingsannya.


“Jovata! Bangun, Va!” Reyhan menggoyangkan pelan kepala sahabatnya yang kedua tangannya menangkup wajah cantiknya Jova, dan karena tidak membuahkan hasil, lelaki tersebut menepuk-nepuk pipi kirinya Jova seraya tetap menyebut-nyebut nama yang kerap dipanggil pakai nama depan.


“Nona Sableng Sejagat Raya!! Bangun, dong! Jangan bikin aku panik begini, woi!” pekik Reyhan.


Jova akhirnya membuka matanya dan pendengarannya mulai terusik karena suara-suara pekikan yang menyebut namanya. Gadis Tomboy tersebut memicingkan kedua matanya untuk memfokuskan satu pandangan yang ia tatap ini.


“Waaaaa!!!”


“Waaaaa!!!” Teriakan Jova kini menular ke Reyhan hingga lelaki itu ikut berteriak karena sahabat perempuannya yang tiba-tiba memekik kencang.


“Apaan, sih?! Teriak-teriak, sakit gendang telingaku! Teriakan toa Masjid-mu menular ke aku, tau gak?!” protes Reyhan.


“Lu setan yang nyasar?!” kejut Jova seraya tangan kanannya menuding lurus pada Reyhan yang mukanya berada di atasnya.


“Kamu tuh setan yang nyasar! Ngaca apa gimana kek, kalau kamu sendiri wujudnya kayak setan Kuntilanak yang rambutnya nyangkut di ranting pohon rimbun!” ejek Reyhan.


“What?!”


PLAK !!!


Jova menampar keras pipi kiri Reyhan hingga cap tangannya membekas di pipinya sang sahabat dengan warna kemerahan. Reyhan di situ langsung meringis kesakitan sembari mengusap-usap pipi bagian kirinya yang terasa perih dan panas itu.


“Woi!! Rada sengklek atau memang sudah sengklek?! Kenapa kamu nampar pipi aku, sih?! Sahabat macam apaan kayak gitu?! Huh!”


Jova membangkitkan tubuhnya menjadi dalam posisi duduk lalu menatap sinis Reyhan yang sibuk mengusap-usap pipinya yang memerah udang dan sekaligus telah dikasih bonus cap tangan gratis.


“Kamu nanyeak? Kamu bertanyeak-tanyeak??” Gadis itu bertanya dengan nada seperti seorang lelaki yang bermain konten video di suatu aplikasi online dengan rambut cepak mekar, hal itu membuat Reyhan bertindak keki menatap Jova bersama menggelengkan kepalanya beberapa kali.


“Iye. Saya bertanyeak-tanyeak! Sakit tau pipiku kamu tampar seperti ini! Kayak gak punya nurani hati sama etika!” kesal Reyhan menjawab.


“Sukurin! Gimana rasanya kuberikan sebuah cap tangan merah gratis untukmu? Enak, kan? Seperti dipijat? Oh ya dong, masa enggak?”


“Kampret ini bocah ... heh, mulut toa! Masih baik aku bangunin kamu dari pingsan kamu itu, kalau aku sahabat yang jahat dan gak punya hati buat dirimu, sudah aku tinggal kamu dari tadi. Biar kamu di sini di makan sama buaya darat!” emosi Reyhan.


“Iya, kamu yang buaya daratnya! Cowok tukang penggoda kayak sosok jin! Tukang gombal seperti lelaki murahan yang dijual di pasar lokal!” cemooh Jova.


“Omg! Woi! Aku lelaki yang jual mahal, ya! Jangan dikira, cowok ganteng kayak aku gini susah banget didapetin sama perempuan lain,” percaya diri Reyhan.


“Hellooo? Kamu bilang apa tadi? 'Aku lelaki yang jual mahal'? Jual mahal apaan, coba kalau kerjaannya suka godain guru-guru wanita di SMA Galaxy Admara, tebar pesona sama adek-adek kelas sepuluh. Oh iya, gak cuman guru-guru wanita doang sih yang kamu godain tapi juga guru-guru pria. Emang dasar cowok nol persen normal!”


Kedua mata Reyhan melotot tajam setelah mendengar semua lontaran panjang lebar dari Jova yang sengaja merendahkan harga dirinya nang mahal tersebut. Ingin ia balas dengan secara fisik, tetapi dirinya sadar kalau yang ada dihadapannya ini adalah sahabat perempuannya. Kalau dengan sahabat lelakinya yakni adalah Angga mungkin ceritanya sudah berbeda kali, ya?


“Dasar mulut kaleng rombeng bau air comberan! Itu mulut bisa disterilkan dulu gak, sih?! Aku masih cowok yang normal, seratus persen! Tega bener kamu langsung anjlokin persen normal ku dengan secara drastis!”


Jova melipatkan kedua tangannya di dada sambil menatap santai sahabatnya yang mulutnya mengomel-ngomel. “Habisnya, kamu ngapain bilang seperti itu, hah? Ngarep aku jadi pacarmu? Idih, aca-aca nehi-nehi! Meskipun aku ngiri sama kedekatannya Freya sama Angga yang mulai romantis sebagai sepasang kekasih, aku tetep gak mau jadi pasangan hidupmu!”


Reyhan merapatkan bibirnya dengan tampang muka semakin terlihat berang bersama jiwa emosinya yang makin meluap-luap lalu membuka mulutnya dan mengeluarkan nada tingginya, “Emangnya cuma kamu doang yang gak mau?! Aku juga ogah jadi pasangan hidupmu, malahan nggak sudi!”


“Oke, fine and I understand now.”

__ADS_1


“Alright, good job.”


“Okay kalau gitu!” tukas Jova.


Reyhan memajukan wajahnya ke dekat muka cantik Jova hingga jarak hidung mancungnya dan juga hidung mancung sempurna sahabat perempuannya hanya sebatas jari telunjuk tangan.


“Ya, okay ! Nggak perlu ngegas juga, kan bisa!” sembur Reyhan.


PLAK !!!


“Anying, buset! Ditampar lagi gue!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Jevraaaan!!! Tolongin akuuuu!! Aku gak mau dimangsa sama setaaaann!!!” teriak Lala sambil meronta-ronta karena ujung pakaian kerah kemejanya seperti ditahan oleh sesuatu dari atas.


Lala terus menggerak-gerakkan kedua kakinya yang tidak menapak di tanah melainkan di udara, gadis itu nyaris mengeluarkan air mata karena hatinya sekarang diserang rasa ketakutan. Takut bila nyawanya habis di tangan sosok misterius yang tidak terlihat.


“Jevran Adifian Luji! Ayo sadar, dong!! Pingsannya udahan! Tolongin aku, huhuhuhu!”


Jevran mengernyitkan kedua matanya dengan sedikit menggerakkan kepalanya hingga salah satu pipinya menempel di tanah kering. Lelaki tersebut kemudian mengerjapkan matanya berkali-kali untuk membuang pandangan yang buram itu, setelah dilihatnya telah jelas apalagi sekarang Jevran sudah melihat sekitarnya dengan jernih oleh pandangan mata, perlahan dirinya membangkitkan tubuhnya yang terbaring di atas tanah.


“Akh, tangan gue! Terkilir ini pasti,” rutuk Jevran seraya memijat tangan kanannya sebentar dan sekalian meredakan rasa pusing di kepalanya.


“Hiks! Jevran!! Kamu sudah sadar, kan?! Hiks! Bantuin aku, please ! Aku gak mau mati!” pekik Lala meminta tolong pada Jevran sang teman yang baru saja bangun dari ketidaksadaran dirinya.


Jevran langsung menolehkan kepalanya ke belakang lalu mendongak ke atas. “Lho, La?! Kok kamu bisa ada di atas pohon?!”


“Hiks! Mangkanya tolongin aku, Vran! Ini dari tadi makhluknya enggan ngelepasin akuuu!!” Kini bukan hanya rasa ketakutan saja yang ada di hati Lala, tetapi juga rasa kesal karena Jevran tidak peka terhadapnya di masa genting seperti ini.


Jevran yang sudah beranjak berdiri, menatap teduh Lala berguna untuk memberikan sedikit ketenangan untuk gadis tersebut. “Oke-oke! Kamu tenang dulu, bukan setan yang menahan bajumu tapi ranting pohon yang ada di dahannya yang membuat kemeja-mu tersangkut di ranting.”


Seketika Lala berhenti menangis dan meronta-ronta secara menggerakkan kedua kakinya. “Jadi bukan makhluk hantu yang buat aku gelantungan kayak gini?! Tapi ranting pohon?! But, bagaimana aku turunnya?!”


“Santai, santai. Oke? Ini aku lagi cari cara agar kamu bisa terlepas dari ranting dan turun dari atas pohon. Hmmm ...”


Jevran menilik semua sekitar pohon dan mulai berpikir keras bagaimana bisa menurunkan temannya dari sana. Jika ia memanjat pohon besar dan menjulang tinggi itu untuk menyelamatkan Lala, kemungkinan akan menjadi bencana musibah bagi Lala begitupun dirinya.


Tiba-tiba mata Jevran terbentur pada kemeja panjang dengan motif kotak-kotak merah yang dipakai oleh Lala, seketika dalam sekejap detik kedua mata Jevran terbelalak karena mendapatkan ide yang cemerlang.


“Oh! Lala! Aku punya ide yang terbaik buat kamu! Kamu kan pakai kemeja, tuh. Nah coba sekarang kamu lepas semua kancing kemeja kamu- eh tapi pakai dobel kaos, kan??” tanya Jevran dari bawah dengan agak berteriak.


“Iya, aku pakai! Kaos oblong lengan pendek! Terus habis itu gimana?!”


“Bagus kalau pakai dobel kaos. Sekarang kamu ikuti aturanku, lepas semua kancing dari kemeja-mu. Itu kan posisi kerah belakang bajumu tergantung di atas ranting, otomatis kalau kamu lepas kemeja kamu, dirimu bakal bisa terlepas dari sana!”


“Aturan yang meresahkan! Nanti kalau aku jatuh ke bawah gimana?! Kan sakit banget!” rengek Lala.


‘What? Tangkap gue dari bawah?! Ih, entar nanti kalau malah kayak di film-film Drakor yang gue tonton di Iflix gimana? Secara, Jevran kan bukan cowok tipe gue, tipe gue adalah kayak Anggara Vincent Kavindra pacarnya si Freya.’


“Woi, La! Ayo! Berani, kan?”


“Eh, iya-iya! Tapi beneran kamu tangkep lho, ya?!”


“Iya, sumpah bakal aku tangkap! Yang penting kamu lepas dulu itu kemeja-mu. Bisa, kan?”


Lala menganggukkan kepalanya mantap lalu mulai melepas beberapa kancing kemejanya dari atas ke bawah dengan detak jantung berdegup sangat cepat, tidak siap bila harus merasakan sakit di tubuhnya saat telah terjerembab ke Jevran yang menangkapnya.


“Vran! Kasih aku aba-aba, dong! Aku gak siap ...!”


Jevran memutar bola matanya malas ke sembarang arah. “Ya ampun ini cewek satu.” Lalu lelaki itu kembali menoleh ke atas menatap Lala yang menggigit bibir bagian bawahnya. “Oke bakal aku kasih aba-aba, hitungan sampai ketiga kamu harus lepas, ya?!”


“Yoi! Cepetan ...!”


“Satu ... dua ... tiga!!”


Hitungan sampai ketiga yang terdengar dari suara mulutnya Jevran, Lala langsung melepaskan kemejanya dan gadis berambut lurus itu langsung terjun ke bawah mendarat ke Jevran secepat kelapa yang jatuh dari pohonnya.


BRUGH !!!


“Ugh!” pekik Jevran saat dirinya jatuh terbaring hingga sampai kepalanya membentur tanah yang permukaannya kasar.


“Aw ... empuk juga gue jatuhnya- eh, Jevran! Kamu gak kenapa-napa?! Aduh, maaf! Pasti sakit banget, ya?!” Lala yang sedang bersyukur tak merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terkejut melihat Jevran yang menahan kesakitan lalu segera membebaskan tubuh temannya dari tindihannya.


“Aku gak apa-apa, kok. Cuman agak sakit dikit,” respon Jevran dengan tersenyum paksa karena punggungnya terasa sakit dan juga ngilu, ditambah kepalanya yang cenat-cenut usai terbentur.


“Sini aku bantu.” Lala menopang punggung Jevran untuk membantu bangkit bangun dalam posisi duduk lalu mengecek keadaannya, ada luka atau tidak.


“Aku minta maaf banget, ya! Mana yang sakit?!” tanya Lala risau terhadap teman satunya.


“Aku nggak apa-apa, La ... kamu gak kenapa-napa, kan? Ada yang sakit, kah?” tanya balik Jevran.


“Kok malah bertanya balik, sih? Aku gak kenapa-napa, kok- eh telapak tanganmu luka!” tunjuk Lala kemudian.


Jevran mengangkat tangan kanannya yang dituding Lala dengan mata mendelik, dirinya menatap nanar sebuah luka lecet bercampur darah sedikit yang ada di sisi telapak tangan bagian depannya. “Oh, ini? Jangan khawatir. Cuman sebatas lecet doang, kok.”


“Pasti gara-gara aku yang kamu tangkap dari bawah tadi ya, Vran?” Lala bertanya kembali dengan perasaan mulai bersalah.


“Bukan, bukan gara-gara kamu. Orang ini karena habis kena gesek batu kerikil di sini, santai saja.” Jevran perlahan beranjak berdiri dengan menahan rasa sakitnya di tubuh untuk membantu Lala bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Maafin aku, ya ...” lirih Lala memohon dengan wajah sendu.


“Jangan minta maaf, kamu gak salah. Sebentar, ya? Aku mau ambilkan dulu kemeja-mu yang ada di atas pohon,” ujar Jevran sambil melangkah mendekati pohon besar tersebut.


“Manjat?”


Jevran menggelengkan kepalanya. “Enggak, tapi pakai kayu panjang yang udah aku pegang ini.”


Lala mengangguk pelan lalu memperhatikan Jevran yang mengangkat tangan kanannya dan kayu panjang yang temannya temukan dibawah pohon. Jika dilihat wataknya Jevran oleh Lala, lelaki itu adalah lelaki yang berhati mulia meskipun terkadang suka mengesalkan karena ketidakpekaan serta tingkah konyolnya, namun hatinya tulus dalam membantu.


Setelah mendapatkan kemeja Lala yang agak kotor, Jevran menurunkan kayu panjangnya sebagai alat penolong lalu mencabutnya dari ujung kayu tersebut kemudian memberikannya kepada gadis itu dengan tersenyum.


“Nih, kemejanya.”


“Hihi, makasih!” senang Lala dengan memeluk pakaiannya.


“Iya, sama-sama. Lebih baik kita pergi dari sini, yuk. Kayaknya kita berdua terpisah dari teman-teman kita akibat seretan gaib yang diberikan sosok pria misterius itu, deh.”


Lala mendekati Jevran dengan hati yang getir. “Kita gak bakal bisa keluar dari sini? Kayaknya kita ada di tengah hutan apalagi kita gak tahu keenam teman kita dimana.”


Jevran menoleh ke arah Lala. “Mungkin. Tapi kita jangan berpikiran negatif dulu, kita pasti akan bisa keluar dari tempat ini. Yang terpenting kita berdua harus menemukan kesemua teman kita.”


“Iya, oke- ehm ... punggung kamu sakit, ya?” tanya Lala saat melihat Jevran memegang punggungnya dengan sedikit mendesis.


“Lumayan. Ayo kita jalan,” ajak Jevran seraya menuntun salah satu tangan Lala untuk meninggalkan tempat itu.


“Vran ... Itu tanganmu.” Lala memanggil temannya sambil melihat gandengan dari tangan Jevran yang menggandeng tangannya.


Jevran yang tersadar langsung melepaskannya. “Eh, maaf. Yasudah ayo jalan. Ke arah sana, ya?”


Lala mengangguk pelan dengan mulut bungkam seraya memegang telapak tangannya yang telah disentuh oleh Jevran bahkan menggandengnya walau itu secara tidak sadar. Wajah gadis tersebut tersipu malu, untung saja hanya ada ia dan Jevran. Coba saja kalau ada yang lainnya, apalah yang akan terjadi?


Kini sekarang Lala mengikuti langkah Jevran yang sebagai pemimpin jalan sekaligus penjaganya bila ada hewan buas atau orang jahat yang ingin melukainya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Rena mengusap-usap kepalanya yang berambut pendek model keriting itu. Sakit? Tentu, karena ia telah merasakan kepala miliknya terbentur di atas tanah. Sementara Aji yang keadaan tubuhnya terlungkup dan pemuda itu kondisinya tengah tak sadarkan diri, kini sekarang membuka matanya serta di situ ia merasakan ada yang janggal di seluruh wajahnya.


“Eh? Ji?! Pppfft! Hahahahaha!!! Anjay, gokil banget itu mukamu!” seru Rena menertawakan Aji renyah sambil menuding kencang temannya.


Aji bangun duduk perlahan saat mendapati Rena yang sedang tertawa kencang padanya. “Apaan, sih? Ada apa sama mukaku sampe buat kamu ngakak gitu?”


“Coba kamu pegang wajahmu, kena apa itu.” Rena yang menyuruh Aji, ditanggap oleh lelaki tersebut dengan anggukan kepala lalu mulai memegang bagian mukanya.


“Eh? Apaan nih yang basah?!” Aji langsung mengecek saat air itu menempel di tiga jari di tangan kirinya.


“Astaga dragon ! Muka ganteng gue kena lumpur, dong!” Usai itu, Aji mencoba mencium bau aroma lumpur kotor menjijikkan itu.


“Huek! Mana bau, lagi!” protes Aji seraya mengelap bekas lumpur itu yang ada di tangannya di atas tanah dan menggosok-gosoknya agar jarinya tidak ternoda dan bau lumpur lagi.


“Wahahahaha!!! Apes banget sih hidupmu, Ji? Yasudah yuk kita cari sungai atau danau di sekitar hutan sini. Kasiman amat dah, wakakakak!”


“Stop menertawakan aku, Serenong! Yasudah ayo cari, eh tapi mustahil juga sih kalau nemu dalam waktu yang singkat. Andaikan punya kucing Doraemon pasti ada alat yang membantu kita.”


Rena menoyor kepala Aji. “Kebanyakan halu, kamu! Udah ayo kita cari air sungai apa danau di sekitar sini. Bau tau itu mukamu!”


Rena merengkuh leher Aji kencang untuk mengajaknya pergi dari tempatnya dan mencari sebuah sungai atau danau yang ada di dalam hutan menyeramkan ini.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Freya mulai mengangkat wajahnya dari dada bidang Angga dan mulai mengontrol hati dan jiwanya untuk menghilangkan rasa ketakutan apalagi sedari tadi kekasihnya hanya diam mengusap belakang kepalanya dengan perasaan lembut.


“Keadaan sahabat-sahabat kita bagaimana ya, Ngga? Aku khawatir kalau mereka kenapa-napa,” cicit Freya menatap gundah Angga.


“Hindari pikiran negatif kamu. Mereka pasti baik-baik saja, lebih baik kita tinggalkan tempat ini untuk mencari mereka berdua dan juga teman-teman kita yang lainnya. Oke?”


“Iya, oke. Eum, kamu bisa berdiri? Mukamu kelihatan pucat pasti masih sakit, ya?” Pertanyaan Freya yang menyentuh pipi Angga, direspon kekasihnya dengan gelengan kepala.


“Aku nggak apa-apa,” ujar Angga sambil mengambil tangan kanan Freya untuk ia angkat berguna membantu gadisnya beranjak berdiri.


“Ayo kita pergi- emph!” Angga membungkukkan badannya spontan dengan salah satu tangan menopang lututnya sementara tangan satunya ia tempelkan di dadanya yang terasa sangat sakit.


Freya yang sedang membersihkan kotoran debu yang menempel di celana panjang ungu lavender miliknya dan baju sweater merah mudanya, menoleh ke arah Angga yang sedikit mengerang.


“Ngga?! Katanya nggak apa-apa?! Lah ini sekarang dada kamu sakit lagi?” panik Freya sambil ikut membungkukkan badan bersama tangan kanan memegang atas punggung kokoh milik Angga.


Baru saja ingin menjawab dengan kondisi napas yang tercekat dan mata yang posisi ia pejamkan, Angga dan Freya mendengar suara gesekan pisau yang dimainkan oleh seseorang dari jarak 15 meter samping mereka berdua.


“A-anggara ...” lirih Freya saat menatap sosok lelaki berpakaian gelap bersama topeng wajah yang dikenakannya.


Angga menatap lelaki itu dari kejauhan dengan napas yang kurang normal bahkan dari seluruh wajah tampannya terlihat pucat. Pemuda yang menggunakan dua pisau tajam di kedua tangannya terus melangkah mendekati dirinya begitupun pujaan hatinya yang sekarang menggenggam erat tangan Angga yang masih menyentuh dadanya.


“Selamat malam, dua manusia santapan gue. Ayo kita bermain bersama untuk mengatasi suasana hati yang menurun.”


“Pembunuh?! Eh, psikopat?!” kejut Freya dengan darah berdesir cepat setelah pemuda asing itu mengutarakan perkataan yang cukup mengintimidasi mereka berdua nang tidak bergerak sedikitpun karena masih mengamati lelaki berpakaian gelap alias hitam tersebut.


“Argh, tidak lagi! Freya, ayo lari!!” perintah Angga tegas dengan menarik tangan kekasihnya untuk mengajak mangkir dari pemuda membahayakan itu.


“Kabur? Baiklah akan gue kejar kalian sampai tertangkap, huahahahaha!”

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2