Indigo

Indigo
END


__ADS_3

Pagi hari yang kelam, tetapi memang selalu kelam. Reyhan tengah duduk diam di kursi tepat sebelahnya ranjang pasien tempat terbaring Komanya sang sahabat. Telah sangat lama sahabatnya pejam mata, mukanya yang sangat pucat, ruang intensif yang selalu saja terdengar suara mesin monitor pendeteksi jantung, dan lainnya.


Seperti tak memiliki napas, namun masih bernapas. Itulah yang Reyhan perhatikan dari gerakan laju hela napas dari dada Angga. Meskipun demikian mengenai kondisi lemahnya, kepala pemuda tampan Indigo itu telah terlepas dari pembalut perban, hanya menyisakan bekas luka yang ada di kening sebelah kanan.


Sekarang, Reyhan yang setia berada di dalam ruang ICU sahabatnya, mulai mengangkat tangannya dari paha untuk menggenggam telapak tangan kanan Angga. Lelaki itu mempererat pegangannya di saat bisa merasakan bahwa suhu tubuh Angga semakin mendingin.


“Bro, kemarin itu adalah hari ulang tahun lo ke delapan belas. Jadi, umur lo sudah bukan lagi tujuh belas tahun. Tetapi, kenapa sampe sekarang lo masih begini? Lo malah seperti menikmati mimpi lo itu.”


Jevran dan Aji yang ada di samping kiri Angga, hanya menundukkan kepalanya dengan raut muka gundah mendengar segala rentetan ucapannya Reyhan yang membuat mereka saling muncul rasa iba.


“Gue tahu, sampai saat inipun keadaan lo sama sekali belum berkembang. Gue juga tahu, kesembuhan lo dari Koma sangat kecil, tapi cobalah untuk tetap bertahan demi kami yang senantiasa menunggu elo, Ngga. Banyak di sana yang rindu sama lo, termasuk Freya. Emangnya lo gak kasihan dengan pacar lo yang kesulitan melupakan segala kondisi buruk lo di rumah sakit ini?”


Di detik ketiga, Reyhan memejamkan matanya dan membiarkan air transparannya berlinang ke pipi, telapak tangan Angga yang telah ia rangkum dengan kedua tangannya, dirinya tempelkan di kening sentralnya.


“Gue mohon, jangan pernah tinggalin kami di dunia ... kalau lo nggak ada, hidup gue gak akan ada apa-apanya, Ngga.”


Kini Aji maupun Jevran, mengangkat wajah lalu saling melemparkan pandangan, mereka mengangguk senyum lalu mulai melangkah pelan untuk mendekati Reyhan yang sedang sibuk menyeka semua air matanya.


Cklek !


Reyhan beserta kedua temannya yang menjenguk Angga, menoleh ke seseorang nang telah membuka pintu ruang ICU. Terlihat di situ rupanya yang masuk adalah dokter Ello beserta beberapa perawat nang sedang tersenyum kepada mereka.


“Mohon minta waktunya sebentar, ya? Kami ingin melakukan sebuah pemeriksaan untuk Anggara. Boleh?” tanya dokter Ello dengan nada ramahnya.


“Oh. tentu saja, Dok! Silahkan. Kalau begitu saya dan teman-teman izin pamit keluar dulu,” sopan Aji merespon.


“Ayo, Rey. Kita keluar dulu dari sini, biar si Angga diberikan pemeriksaan terlebih dahulu sama dokter,” ajak Jevran.


Reyhan menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis lalu segera beranjak dari kursi, kemudian bola matanya menatap wajah dokter Ello yang dari auranya membuat nyaman semua pasien.


“Kami permisi ya, Dok?”


“Iya, Reyhan. Nanti kalau sudah selesai, kalian boleh diperkenankan masuk lagi untuk menjenguk Anggara,” ucap beliau.


Para lelaki yang mengenakan baju hijau penjenguk pasien dengan sesuai prosedur itu, menganggukkan kepalanya bersama tersenyum untuk mengiyakan dan menanggapi dokter Ello yang telah berujar.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Seorang empat gadis dengan berbadan ramping dan tinggi tengah berjalan menyusuri pantai utama. Di antara mereka bertiga itu adalah, Freya, Jova, Lala, terakhir Rena.


Niat mereka ingin menuju ke lantai 4 untuk menjumpai Angga yang masih senantiasa terbaring Koma di ruang intensif, namun langkah mereka berempat seketika berhenti saat tatapan keempat gadis tersebut bertemu mata ketiga pemuda yang tentu pasti mereka kenali.


“Lho, Reyhan? Aji? Jevran? Kalian di sini juga?? Kok, gak ngabarin?” kaget Freya.


Reyhan cengengesan dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Hehe, kami juga gak tahu kalau kalian berempat bakal ke sini.”


Jova mendorong pelan tubuh sahabat lelakinya. “Dasar! Tahu gitu mending kita ke sini-nya berbarengan aja. Terus, kalian habis darimana?”


“Biasa, habis jenguk Angga di ruang ICU. Kalian berempat juga mau ke sana, kah?” tanya Aji.


“Tebakan yang markotop, kami dari awal sebelum sampe ke kota Bogor udah ada rencana mau jenguk Angga,” jawab Rena usai mengangguk kepala.


“Oh, oke. Tapi mending jenguknya nanti aja, ya? Soalnya di ruang intensifnya, si Angga lagi diperiksa sama tim medis. Kalau ke sana sekarang, malah kayak mengganggu.” Jevran menimpali.


Mata Freya tatkala melebar terkejut dengan perasaan hati yang bimbang. “Maksudmu Angga lagi diperiksa sama tim medis?! A-angga gak ngalamin gagal jantung lagi, kan?!”


Reyhan tersenyum lalu menepuk-nepuk lembut bahu kecil Freya untuk menenangkan diri sahabat perempuan Nirmala-nya. “Kamu jangan khawatir, Angga diperiksa sama mereka karena memang ini jadwal waktunya untuk melakukan pemeriksaan setiap datangnya tiga puluh menit. Paham, kan?”


Mata Freya yang melebar, kini menipis sambil menghembuskan napasnya lega. “Oh, dokter hanya memberi pemeriksaan seperti biasanya, ya? Kirain ...”


Reyhan menggelengkan kepalanya. “Enggak, kok. InsyaAllah hal itu gak akan terjadi kembali.” Sesudah itu, lelaki tampan Friendly tersebut melepaskan tangannya dari pundak Freya.


“Em, Guys! Mendingan selagi nunggu Angga, kita makan-makan dulu, yuk! Jujur, perjalanan jauh bikin gue laper ama haus,” ajak Rena.


Lala mengernyitkan dahi. “Lah, mau makan-makan dimana?”


“Dibawah kolong jembatan Ancol, Sayaaaaang. Ya di kantin rumah sakit, lah! Tuh, di depan sana ada kantin. Gitu aja pake ditanya, gila! Bloon banget sih, lo?”


Lala yang tak terima harga dirinya diejek oleh Rena, langsung menjambak rambut keriting temannya sekaligus menginjak kakinya untuk memberi pelajarannya. “Enak bener itu moncongnya! Kalau gue Bloon, elo juga Bloon, Sialan!”


“Eh sakit lho, Jir! Lo bisa gak, sih kalau nyerang tuh gak usah pake fisik segala?! Entar kalau rambut indah gue rontok, gimana?! Lo mau masang helainya ke kepala gue?!” damprat jengkel Rena.


“Ih, helloooo! Emang rambut situ kek puzzle yang asal di pasang gitu? Gak sudi banget, gue! Biar sekalian botak!”


Saking banyaknya perdebatan di antara dua gadis itu, tanpa mereka sadari telah ditinggal oleh teman-temannya ke ruang kantin. Hingga saat mereka tersadar bahwa para kawannya tak ada didekatnya...


“Woy!! Kok ditinggalin, siiiiiiiih!!!”


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Setelah makanan telah tak tersisa di piring, Aji dengan santainya bersendawa walau sesudahnya, mengucapkan kata 'Alhamdulillah'. Lelaki tersebut kemudian mengusap-usap perutnya bersama senyum sumringah.


“Akhirnya, kenyang juga gue, Cog! Makanan di sini enak-enak bener, sumpah! Agak lain sama kantin yang ada di sekolah kita.”


“Parah ini, bocah. Ya, gimana gak kenyang kalau kamu aja makan sampe habis tiga porsi? Itu perut apa air sumur? Luas banget!” cemooh Lala.


Kesemua temannya Lala tertawa mendengar ucapan gadis itu untuk Aji, sementara lelaki yang perutnya telah begah menggembungkan pipinya kesal akibat ditertawakan oleh mereka.


“Gakpapa ya, Ji? Asalkan kamu kenyang,” ujar Rena sembari menyandarkan punggung di sandaran kursi.


“Dih, belain. Oh iya, kamu kan crush-nya Aji, ya?” ledek Reyhan dengan senyum jahilnya.


Aji maupun Rena melotot atas penuturan Reyhan yang sedang sengaja meledek mereka. Daripada terkurung dalam sedih, kan? Lebih baik menjahili temannya, itulah motto terkininya si Reyhan.


“Gue gampar itu mulut lo lama-lama! Suka sembarangan kalau ngomong, emang sejak kapan gue suka sama Rena, hah? Orang gue lagi menikmati masa hidup Jomblo.”


Reyhan tersenyum miring pada Aji yang telah membela diri, walau ia tahu temannya itu tengah menyembunyikan rasa malunya. “Masa? Bukannya elo yang suka ribut, ya kalau ada orang pacaran? Apakah itu yang dinamakan menikmati masa hidup Jomblo? Lagian kalau gue terawang-terawang muka lo dari sini, elo gak bakal laku, sih di mata cewek. Soalnya wajah lo awet jelek, hahaha!”


“Anak cenayang, lu?! Pake gaya-gaya terawang segala. Emang Bangsat lo, sumpah! Udah berani main ngerusak reputasi aura kegantengan gue!” raung Aji dengan ingin menonjok muka Reyhan.


“Gak salah? Aura kegelapan, kali!” Jevran tertawa kencang usai puas menghina diri Aji yang menuju ke pertengahan emosi.


Dengan kepalan tangan yang telah sempurna, Aji langsung menggebrak meja bersama menatap tajam Jevran dan Reyhan secara satu persatu. “Emang bukan manusia, kalian berdua! Klop bener jadi tetangga. Gue merana, atuh!”


“Ya, dong. Tetangga seberangan gitu, lho. Ya gak, Vran?”


“Yoi, mari kita ber-tos!”


Kedua lelaki dengan satu komplek itu, mulai saling menghantamkan pelan telapak tangannya dengan tersenyum kemenangan karena sudah berhasil membuat Aji muncul tanduk merah, umpamanya begitu.


“Tau, ah! Ngambek aja, gue!” Aji mulai bersedekap di dada seraya membuang mukanya ke sembarang arah.


“Jir, elu Bencong? Perkara kelakar kayak gini aja, gampang ngambek. Sana, jadi blasteran cewek! Masalah biayanya, gak usah dibuat mumet. Gratis.”


“Emang tempatnya dimana?” Freya dengan polosnya bertanya tentang hal itu kepada Jevran.


Jova yang sedari tadi diam, nyengir dengan memijat pelipis matanya. “Kok, kamu tanggepin omongan kampretnya Jevran, sih?”


Freya menolehkan kepalanya ke arah Jova yang duduk di sebelahnya dengan mengedipkan kedua matanya. “Aku salah, ya?”


“Tempatnya itu ada dibawah tanah dari bangunan villa Ghosmara kota Bandung. Nah, di situ pasti Aji bakal bisa tuker jiwa dengan cara yang simpel dan juga praktis.”


Reyhan langsung menutup mulutnya saat teh yang ada di dalam, hampir menyembur keluar waktu mendengar jawaban tenang dari Jevran. Lelaki tampan berambut lebat dengan style keren itu, lekas meneguk minumannya.


“Yang bener aja, lo?” kejut Reyhan sembari mengelap sisa air di bagian bibirnya menggunakan punggung tangan.


“Otak Sengklek! Bukan jiwa gue yang berhasil di tuker ke jiwanya wanita, tapi jiwa gue yang bakal ilang. Udah tahu hutan keramat itu nyimpen setriliyun keangkeran sama tempat korban mati! Elu sengaja nyuruh gue potong umur?!”


“Eh! Tapi any way soal bangunan villa Ghosmara kota Bandung, gue jadi teringat sama pak Richard yang mukanya ganteng itu, aaaaa!” heboh Lala.


Rena yang merasa keki, segera mendorong kepala teman narsisnya itu ke bawah. “Sejak kapan jiwa lo jadi kurang normal gini? Lo naksir sama bapak-bapak?! Gila lo, yak! Kayak di dunia ini, cowok cuma ada satu. Cari, kek yang sepadan!”


“Huh, emang dari lahir ini anak jiwanya kurang normal, butuh asupan ajaran alim. Mungkin dulu pas kecil yang dia pelajari, buku panduan tentang ajaran sesat. Makanya dewasanya jadi somplak gini,” kata Jova bersama raut bosannya.


“Bilang apa lo, Va?!” kesal Lala dengan menatap teman Tomboy-nya yang pandangan mata mengarah di jendela kaca pelosok kantin.


“Haha! Mamam tuh, ejekan. Tapi berhubung dengan villa itu, gue pengen nanya sesuatu, deh sama kalian. Emang bener, ya kalau si Kenzo dulu dijebak sama Emlano?”


Reyhan menolehkan kepalanya ke arah Rena dengan wajah yang berubah datar. “Iya.”


Bahkan kini saja sekarang, mereka berenam yang duduk bersama Reyhan menatap serius lelaki Friendly itu yang menghembuskan napasnya sambil menyandarkan punggungnya dan melipatkan kedua tangannya di dada.


“Kenzo di situ hanya sebagai alat untuk keberhasilan rencanannya antara Emlano dan Gerald. Kalian pasti tahu, titik tujuan mereka berdua itu kepada siapa.”


“Iya. Angga, kan? Tapi kenapa lo juga jadi yang terlibat aniaya itu? Sedangkan elo sama sekali gak urusan dengan dua orang keparat kayak mereka,” bingung Jevran.


Lagi-lagi Reyhan menghembuskan napas lalu menjawab pertanyaan yang berjaya membingungkan Jevran akan tragedi kejadian malapetaka tersebut.


“Gue ikut terlibat dalam kejadian itu, karena gue telah menghancurkan strategis yang udah Emlano rancang dengan sempurna. Walau, gue melakukan itu tanpa ada kesalahan sedikitpun.”


“Strategis apaan yang dirancang Emlano?” tanya Aji dengan mengerutkan jidatnya.


“Strategis yang kemungkinan besar bisa menjadi fatal untuk orang yang memiliki kelebihan indera keenam. Melenyapkan kekuatan Indigo Angga dari raga,” respon Reyhan menjelaskan.


“Apa?! Yang ada dibawah tanah kastil vampir- eh, iblis itu? Emangnya itu cowok bisa ngelakuin semua kejahatan yang diluar nalar?!” kaget Lala.


Reyhan menggelengkan kepala. “Bukan, itu sudah dari tempat kawasan hutan keramat yang ada dibawah tanah villa atau alam lain. Emlano hanya mencari sebuah tempat khusus untuk melakukan aksi kejamnya terhadap Angga.”


“Argh, brengsek! Terus?!” umpat Jevran.


“Gue ingin ngasih tahu ke kalian semua, kalau Emlano itu juga Indigo, tapi bukan Indigo beraura positif, melainkan negatif. Kegunaan dia mempunyai kelebihan yang maksiat itu, untuk menutup mata batin Angga agar dia gak mampu menyurvei aura yang ada di dalam dirinya Emlano.”


Freya dan Jova saling melemparkan pandangannya dengan wajah terperangah karena sungguh tidak menyangka bahwa Emlano bisa sejahat itu. Sementara seperti Aji dan Jevran mulai menegakkan posisi duduknya bersama menatap Reyhan intens.

__ADS_1


“Lo tahu semua tentang ini darimana?”


Reyhan mengarahkan bola matanya ke Aji. “Di dalem markas, tempat gue dan Angga diculik. Gue mendengar semuanya meskipun Emlano gak memberitahu hal itu ke gue, tapi Angga. Gue masih ingat jelas apa saja yang dia katakan ke sahabat gue. Cih! Dulu gue kira Emlano orang yang baik-baik, ternyata dia diem-diem bisa berprofesi jadi psikopat, bahkan mampu juga itu anak bikin gue hampir mati.”


“Tapi ... gue harap dia suatu saat nanti menyesali perbuatannya selama ini yang mengandung unsur kriminal. Dia saat ini mesti masih dikurung dalem penjara sampe lima tahun ke depan untuk menghadapi hukuman ganjaran hidupnya,” ulas Reyhan.


“Hiks ...”


Keenam remaja itu, menoleh cepat ke arah Freya yang tiba-tiba menangis dengan air mata nang telah lolos melumuri kedua pipinya. Kepala gadis cantik itu pula menunduk tanpa mau berhenti dari isakan tangisnya.


“Lho? Kamu kenapa nangis, Frey?!” panik Jova dengan membulatkan matanya sembari menyentuh pundak kanan sahabat Nirmala-nya.


Freya lekas menghapus air matanya. “E-enggak, aku cuman keinget ucapannya Angga sebelum dia tutup mata.”


“Ucapannya Angga? Memangnya omongan apa yang keluar dari mulut kekasihmu apalagi sampai membuatmu menangis seperti ini?” tanya lembut Reyhan bersama ekspresi lara.


Freya merapatkan bibirnya sejenak lalu mulai menjawab pertanyaannya Reyhan, “Meski itu hanya perkataan, tetapi semua untaian ucapan Angga membuat hatiku sakit. Ada banyak sekali yang dia katakan sama aku ... bahkan ada sebuah ungkapan yang seolah-olah kalimat terakhir untukku. Seakan juga, dia ingin pergi.”


“Kamu gak perlu ngasih tahu ucapan apa saja yang Angga omongin dulu sama kamu Sebelum dia dilarikan ke rumah sakit. Tapi, kenapa Angga bilang kayak gitu ke dirimu, Frey?” Jova bertanya dengan berhati-hati seraya mengelus-elus lengan tangan sahabatnya.


“Karena dia merasakan kalau hidupnya gak akan lama lagi, Va. Hiks! Aku juga bisa merasakan itu di waktu aku masih bisa menatap mata Angga,” respon Freya.


“Apa?” kemam Reyhan dengan tetesan air mata jatuh ke pipinya dan mengalir hingga sampai ke ujung dagu.


“Sebenarnya ini yang aku takutkan! Angga seorang Indigo, pasti dengan semua ungkapan yang dulu pernah terlontar, suatu ketika akan menjadi kenyataan. Dan aku gak mau jika itu sampai terjadi, hiks!” raung Freya.


Jova langsung mendekap erat tubuh mungil sahabatnya dengan bersama tangisannya. “Enggak kok, enggak! Apapun kondisinya Angga, kamu harus yakin kalau dia akan baik-baik saja. Angga cowok yang kuat! Sudah aku bilang beberapa kali, kan sama kamu?”


“Hiks! kenapa, sih Angga malah bertaruh nyawa buat aku?! Kenapa dia gak biarin aku yang kena pukulan besi itu? Angga sudah terlalu banyak berkorban untuk semua orang termasuk kita, Va! Rey! Aku ingin semua itu telah cukup buat Angga, aku gak mau dia merelakan raganya lagi untuk menjadi pengorbanan!”


Reyhan mengepalkan kuat telapak tangannya yang ada di atas meja dengan menundukkan pandangannya. “Istimewanya Angga rupanya masih ada yang lain, penyelamat. Gue tahu dia lebih mementingkan keselamatan hidup orang lain daripada harus dirinya sendiri. Tapi berkat pendiriannya Angga yang luar biasa, gue terhindar dari kecelakaan maut di beberapa bulan yang telah berlalu.”


“Kecelakaan maut?! Lo serius?!” gegau Aji.


Reyhan mengangguk lemah. “Serius, tempat lokasinya berada di jalan lalu lintas dekat komplek Permata. Sekuat tenaga, sekuat keyakinan, Angga berusaha mencegah gue dari kecelakaan beruntun itu. Gue di situ, benar-benar salut dan bangga mempunyai sahabat yang terbaik serta langka seperti dia.”


“Iya ya, Rey. Dulu waktu SMP, aku juga di selamatkan Angga dari kebakaran di sekolah kita berempat gara-gara salah satu kabel terkena tetesan cairan di ruang laboratorium IPA yang berakibat kabel listrik itu jadi mengalami korsleting. Banyak anak-anak yang udah keluar dari ruangan itu, sih kecuali aku. Tetapi untung saat yang bersamaan Angga langsung peka dan dateng nyelametin. Dia emang cowok superhero,” buras Jova.


“Angga telah banyak membatasi-ku dari marabahaya dan menyelamatkan aku dari semua kejahatan yang pernah terjadi. Memang kuakui, dia adalah lelaki yang penuh dengan bijaksana,” ucap Freya menimpali kedua sahabatnya.


Ketiga remaja dengan wajah sempurna tersebut, tersenyum pilu bersama air mata yang masih terlihat jelas basah di masing-masing pipinya. “Sang penyelamat hidup, yang tidak terlupakan.”


Ungkapan lirih yang bersamaan dari mereka bertiga, membuat Jevran, Aji, Rena, dan Lala ikut menarik senyuman sendu di bibirnya. Mereka berempat bahkan sekarang tak kuasa untuk menahan air mata yang sedari tadi tertahan agar tidak berhasil jatuh.


You are an extraordinary man, Anggara


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Tangisan dimana yang terjadi kepada tiga remaja yakni Freya, Jova, dan begitupula Reyhan. Mereka menatap pedih wajah pucat Angga untuk kesekian kalinya, di dalam ruang ICU yang tercipta suasana dingin, sunyi, serta lembab.


Suara mesin monitor detektor mesin juga menemani kesenyapan ruangan intensif tersebut sepanjang hari. Tak ada canda, tak ada tawa, bahkan senyuman bahagia di antara ketiga orang yang amat menyayangi diri Angga.


Dengan dada yang terasa sesak, Reyhan membuka mulut bersama air mata terus mengalir di pipi. “Sudahi semua ini, Ngga. Gerald, Teivel, dan Rain sekarang telah mendapatkan siksaan luar biasa di Akhirat Neraka Jahannam. Orang-orang yang membenci lo serta ingin berupaya mencelakai elo, udah gak bisa lagi menghancurkan hidup lo. Gue mohon bangunlah ...”


“Hiks, gue bisa menjamin sepenuhnya jika lo sanggup bertahan di sini, lo akan mendapatkan semua kebahagiaan yang tertunda. Mereka sudah gak akan bisa merusak reputasi lo di dunia ini, Angga. Bangun, ya? Ayo,” tambah Reyhan.


Dengan air mata yang tetap mengalir hingga menetes di lantai, Jova berkata, “Kami semua sayang banget sama kamu, Ngga. Kami bener-bener gak rela kalau hidupmu berakhir ...”


“Tolong jangan pernah hilang Koma-mu ini mengundang nestapa ke kami, aku gak kuat kalau kamu pergi, Angga.” Freya bertutur kata dengan hati yang teriris-riris sembari tangannya mengusap lembut kulit pipi putih pucat kekasihnya yang menjadi lebih dingin dibanding kemarin.


Isakan tangis pilu mereka semakin terdengar jelas. Sungguh begitu menyayat hati bila ada saksi mata yang melihat adegan menyakitkan tersebut. Hingga mereka bertiga yang konstan menatap muka tampan Angga, terkejut saat melihat lelaki Indigo itu meneteskan air bening dari sudut mata. Apakah benar seorang pasien yang mengalami Koma, mampu mendengar suara yang ada di sekitarnya?


“N-ngga? Lo, nangis?! Elo bisa dengar suara dari kami bertiga, kah?!”


Tiiiiiiiiiit !


Mereka semua yang sedang menumpahkan segala tangisannya nang telah bebas keluar dari mata, tubuhnya menegang bersama tatapan terpaku pada wajah tampan Angga yang begitu pucat. Hingga detik kemudian, ketiga remaja nang berada didekat ranjang pasiennya Angga, menoleh ke arah layar monitor yang mesinnya berbunyi dengan amat nyaring.


Tertera jelas, garis grafik yang ada di bagian paling atas sendiri berubah menjadi kontinu beserta angka HR medis yang tadinya 52, kini tergantikan jadi 0. Telah dipastikan sekali bahwa lagi dan lagi detak jantung Angga mengalami henti.


Reyhan menolehkan cepat ke arah sahabat lelakinya dengan menggelengkan kepala kuat. “Jangan lagi, Ngga. Jangan!!”


Tak segan-segan dan tidak ingin nyawa Angga terangkat dari tubuh, Freya segera mengulurkan tangannya gesit untuk memencet tombol emergency dengan segera.


“Jangan kayak gini lagi lah, Nggaaaaa!” pekik Jova takut sambil menggoyangkan lengan tangan kiri lemas milik sahabat Indigo-nya.


Tak berapa lama menanti, tim medis masuk ke dalam ruang ICU-nya Angga dengan berlari kencang. Mereka bertiga yang tangisannya semakin deras, menyingkir untuk membiarkan dokter serta para perawat mengecek kondisi lelaki tampan berambut hitam itu yang kembali mengidap kedaruratan.


“Dokter Ello, pasien kembali mengalami gagal jantung!”


“Tolong siapkan segera alat Defibrilator untuk pasien, cepat!!” tegas sang dokter.


Perawat itu menganggukkan kepalanya patuh pada instruksi tegasnya dokter Ello, sementara ketiga orang yang menangisi Angga sedari tadi memilih atau berinisiatif untuk keluar dari ruangan, tanpa disuruh duluan oleh salah satu dari tim medis.


Mereka berlima yang menyaksikan, hatinya kompak diliputi rasa takut yang sangatlah mendalam dimana kondisi gawat darurat Angga sedang berusaha diselamatkan oleh dokter Ello di sana.


Raga Freya bergetar sebentar waktu kekasih yang ia cintai telah diberi kejutan oleh pada kedua alat pacu jantung dengan tenaga tangannya sang dokter. Dada pemuda Koma itu membusung ke atas setiap dadanya dikenakan alat medis yang mengandung aliran listrik untuk membantu mengembalikan detak jantung dirinya yang berhenti.


Dengan peluh keringat yang meluncur dari dahi hingga ke tulang pipi, Reyhan mengepalkan kedua telapak tangannya saat dokter Ello telah mengejutkan jantung sahabatnya pakai alat fundamental itu sampai kelima kalinya. Namun sayangnya, hal tersebut tak membantu Angga sama sekalipun.


Dokter pria itu segera meletakkan kedua alat pacu jantung tersebut ke asal tempatnya, lalu mulai melakukan tindakan kompresi dada untuk pasiennya yang tidak mendapatkan pengaruh sedikitpun tentang kondisinya nang telah mendekat menuju kematian.


Sementara salah satu perawat yang berdiri di atas kepala Angga, sedang meremas tabung resusitasi usai menggantikannya dengan ambu untuk memberi napas buatan kepada lelaki tampan tersebut.


Dokter Ello menghembuskan napasnya berkali-kali setiap menggunakan tenaganya untuk memberi tindakan besar, beliau juga sesekali menatap layar monitor yang mana gawatnya di antara semua barisan bawah garis grafik itu mendatar.


“Ayolah, Anggara! Ayo!!!” pinta mohon sang dokter dengan terus melakukan kompresi dada hingga menimbulkan banyak keringat yang membasahi tubuhnya.


Perawat yang terus memberi Angga napas buatan dengan bantuan ambu tabung resusitasi, meneguk ludahnya bersama susah payah di saat pemuda itu belum ada reaksi tanda-tanda apapun yang terlihat.


Dokter Ello tetap melakukannya dengan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan hidup pasiennya yang jantungnya belum sama sekali kembali berdetak seperti semula. Hingga bahu kiri beliau ditepuk pelan oleh salah satu perawat yang ada di belakangnya.


“Dok ...”


Orang-orang yang menunggu detak jantung Angga kembali, kini sekarang dibuat terkejut setengah mati usai dokter Ello menghentikan kerjanya dan menganggukkan kepalanya kepada semua perawat agar mereka melakukan tugasnya.


Mulut Freya menganga lebar waktu, satu perawat mencabut dia plester yang ada didekat mulutnya Angga lalu setelah itu melepaskan selang ETT dari trakea sampai keluar mulut. Sementara perawat lainnya, melepas beberapa kabel EKG dari badan kekasihnya.


Jova menelan salivanya kasar melihat perawat lainnya mencabut jarum infus sang sahabat lelaki dari telapak tangan kirinya. Di sisi lain, napas Reyhan naik-turun tidak menentu karena telah hampir semua alat medis terlepas dari raga Angga.


“Apaan, ini?! Kenapa semua alat yang menempel di tubuh sahabat gue, dilepas?! Apa yang terjadi dengan Angga?!” panik Reyhan saat menyaksikannya.


Kedua orangtuanya Angga langsung bergegas lari menuju ke arah dokter Ello yang baru saja keluar dari ruang ICU bersama wajah lelah dan kelamnya.


“Dokter! Apa yang telah terjadi dengan Anggara anak kami?! Mengapa alat-alat yang terpasang di Anggara, dilepas?! Ada apa, Dok?!” pekik Andrana.


Dokter Ello hanya mampu menghela napas panjangnya sambil memejamkan mata dengan menundukkan kepala, membuat Agra menekan seluruh giginya karena beliau seperti sungkan menjawab dari pertanyaan istrinya.


“Jawab, Dok!!! Ada apa dengan Anggara?! Mengapa di dalam ruangan itu ... putra saya tidak lagi menggunakan alat bantu nafas itu, Dokter?! Tolong segeralah jawab pertanyaan kami. Kami keluarganya Anggara, sudah seharusnya kami mengetahui apa yang terjadi!” murka Agra.


Bibir dokter Ello mengatup rapat, lalu dengan berat beliau mengangkat wajah suramnya ke semua penunggu Angga. “Setelah apa yang telah kami usahakan, rupanya ini justru menjadi sebaliknya ...”


“Dan mohon maafkan saya, Anggara sudah tidak bisa lagi kami selamatkan ...”


DEG


Bagaikan dijatuhkan dari awan ke tanah, mereka syok sekali mendengarnya bahwa nyawa Angga telah tidak sanggup untuk ditolong. Tangisan pecah kembali terdengar di antara dua gadis dan satu wanita paruh baya, yakni ibunya Angga.


“A-apa, Dok? Anggara sudah tidak bisa lagi diselamatkan?!” kejut Agra tak percaya.


“Benar, Pak. Jadi tolong Ikhlaskan kepergiannya agar Anggara bisa tenang di alam sana,” ucap sang dokter walau sangat dengan berat hati.


“Enggak, Dok! Ini gak mungkin! Anggara adalah anak lelaki satu-satunya kami yang kuat, dia pasti sanggup menghindari maut yang ingin menjemput!” raung Andrana setelah menggelengkan kepalanya.


“Tapi, Ibu ... nyawa Anggara memang telah tidak mampu lagi untuk kami selamatkan. Di Komanya yang telah usai, Anggara sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan, Bu. Tolong Ikhlaskan anak Ibu, supaya di alam yang berbeda Anggara bisa beristirahat dengan tenang.”


“Huaaaaaa, Anggaaaaaaaa!!!” Freya dengan tangisan kencangnya, langsung berlari ke dalam ruang ICU kekasihnya lalu segera meraih tubuhnya untuk memeluk erat, walaupun sebelum itu ia tak sengaja menabrak perawat yang sedang melepaskan alat medis lainnya nang masih terpasang di raga Angga.


“Hiks, Angga! Kenapa kamu malah justru tinggalin aku, Ngga?! Huhuhu! Kenapa kamu gak bisa bertahan demi aku yang selalu setia menunggu sadar-mu dari Koma?!”


“Huhu, Angga! Bangun, Ngga! Lo jangan kayak gini, jangan tinggalin kami semua! Kami sayang banget sama elo, gue mohon!” raung Reyhan dengan tangisan kencangnya setelah berlari kuat dan memeluk badan sahabatnya.


Napas Jova tercekat, seorang yang ia yakini dengan sepenuh hati bila esok nanti sanggup bangkit dari tidur panjangnya, kini telah terbaring bersama raga yang telah tidak bernyawa lagi. Hingga karena tak kuasa menahan situasi yang benar-benar mengundang duka ini, Jova mendekap seluruh tangan kiri Angga.


“Bangun, Nggaaaaaaa! Please, bukalah mata kamu sekarang juga untuk kami semua yang ada di ruangan ini, hiks! Hiks! Aku sudah meyakini dan mempercayai kalau kamu suatu saat nanti akan bangun, tapi mengapa kenyataannya menjadi begini, sih?! Huhuhuhu!”


“Hiks, tolong jangan pergi ke sana, Ngga! Aku masih cinta banget sama kamu, hiks! Kamu cowok yang kuat dan tangguh, kamu harus kembali membuka mata, ku mohooooon!!!” teriak Freya sembari meletakkan kepalanya di atas kepala Angga, sementara salah satu tangannya merangkum pipi dingin kekasihnya.


Kini sekarang dengan hati yang marah, Reyhan memukul-mukul keras dada Angga. “Bajingan lo, Ngga!! Dasar sahabat Bangsat! Bisa-bisanya lo lukai kesemua hati kami sama suasana ini! Kenapa lo tega banget Buat pergi, Ngga?! KENAPA???!!!”


Dokter Ello dan beberapa perawat yang berdiri diam secara barisan, menundukkan kepalanya akibat telah gagal menyelamatkan nyawa Angga. Sementara Agra yang sedang memeluk kaki panjang dari putranya, beralih berlari menghampiri dokter pria itu.


Sang ayah Angga dengan wajah yang sembab karena terlalu banyak menangis, memegang kuat kedua bahu dokter Ello. “Dokter, saya mohon lakukan sesuatu untuk Anggara! Berapapun biayanya, akan saya tebus demi keselamatan jiwa putra saya dan istri saya!”


Dokter Ello sekarang menatap mata Agra yang terus mengeluarkan air tangis. “Tolong maafkan saya, Pak. Tapi kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan jiwa Anggara ke raga. Saya minta tolong sekali dengan Bapak, meskipun ini begitu berat, Ikhlaskan atas kepergiannya Anggara.”


Dengan itu, tubuhnya Agra langsung melemas hingga terperosok ke lantai. Pria paruh baya yang wajahnya mirip dengan Angga, menonjok-tonjok lantai ICU bersama tangisannya yang tergugu.


“Ya Allah, mengapa Engkau begitu teganya mengambil nyawa anak Hamba untuk kembali berpulang kepada-Mu?! Hamba dan mereka sangat menyayangi Angga, tetapi kenapa Engkau justru berkehendak lain untuk mengajak Angga ke pangkuan-Mu?! Mengapa, Ya Allah?!”


“Pak Agra! sudah, Pak.” Dokter Ello yang kaget akan penuturannya Agra yang mengadu kepada Tuhan, langsung mengangkat badan baya itu untuk mengajaknya kembali berdiri.


Andrana yang mendapatkan perilaku suaminya nang setengah Stress mengenai kepulangannya Angga, hanya mampu menangisi anak putranya dengan tetap memeluk tubuh Angga secara erat.

__ADS_1


Mereka sungguh tidak menyangka, bila hal yang Angga dijemput oleh maut terjadi di dunia nyata. Kematian pemuda tampan ini yang pernah ada di dalam mimpinya Freya dan Jova, kini sekarang menjadi sebuah fakta. Sungguh memang suasana dan adegan nang penuh diselimuti rasa kedukaan yang menikam serta mendalam.


Mereka semua ingin jiwa Angga kembali menyatu ke raga, namun apa boleh buat? Mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa selain harus sanggup merelakan dan mengikhlaskan akan kepergiannya. Rupanya, sekuat tangguhnya nyawa Angga, tetapi ia tak mampu melawan maut yang mampir untuk menjemput.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


Berjalan sorang dengan tanpa tahu arah dan tujuan, itulah Anggara Vincent Kavindra.


Lelaki tersebut hanya mampu melangkah serta melangkah di hamparan ruangan putih ini yang tidak memiliki batas. Pandangan matanya kosong bersama air mata yang mulai berlinang dan jatuh ke pipi putih-bersihnya.


Angga lengkap dengan pakaian serba putihnya walau tanpa menggunakan alas kaki. Ia tidak tahu harus kemana selain hanya mampu menyusuri jalan yang sepertinya terus lurus dan tidak ada pembelokan sama sekali. Hingga pemuda tampan tersebut menundukkan kepalanya lemah dengan memejamkan mata.


“Maafkan gue, semua. Mungkin di dunia, gue telah membuat hati kalian terluka hingga menciptakan suasana yang penuh rasa nestapa ...”


Anggara...


Nama yang disebut, membuat Angga spontan mengangkat wajah gundahnya sekaligus menghentikan langkah kakinya. Dengan gerakan perlahan, arwahnya memutar ke arah belakang. Tatapan mata ia yang sayu, kini jernih waktu dirinya dikejutkan oleh ketiga remaja yang berdiri di hadapannya bersama senyuman damai.


“Reyhan?! Jova?! Freya?! K-kalian kenapa bisa ada di sini?!” Yang benar saja, itu adalah kedua sahabatnya Angga serta gadis kekasihnya yang sangat ia cintai.


“Bro, akhirnya kami bisa bertemu lagi dengan lo. Sudah lama banget gue gak pernah atau jarang melihat tatapan dari mata diri lo,” ucap Reyhan.


“Hati kami sangat bahagia karena bisa berjumpa lagi denganmu,” timpal Jova.


Angga menatap satu persatu dari mereka dengan wajah tanpa ada semarak sedikitpun. “Untuk apa kalian bertiga mendatangi gue di alam ini? Kita sudah berpisah. Kembalilah ke asal kalian, dan jangan pernah mencari gue lagi.”


Jova tetap tersenyum manis dengan wajah indahnya. “Justru itulah, kami ke alam ini karena ingin mengajakmu kembali bersama kami semua, Angga. Yuk ...”


Angga mengerutkan keningnya dengan menggelengkan kepala untuk menolak. “Apa yang kamu maksud, Va? Kalian bertiga tidak akan mungkin bisa mengajak gue ke dunia. Raga gue telah mati dan tidak lagi bernyawa, bahkan alam kita sudah jauh berbeda. Lebih baik, tinggalkan gue saja dan ... lupakanlah gue.”


“Kenapa lo berkata seperti itu, Ngga? Apakah elo menolak gini karena sudah gak ingin bahagia bersama kami? Lagian, gue, Jova, dan juga Freya gak akan pergi sebelum lo menganggukkan kepala untuk ikut kembali bersama kami ke dunia.”


Ucapannya Reyhan, mampu membuat air mata Angga kembali lolos membanjiri pipi walau padahal tadi sudah ia tahan kuat agar tak terjatuh. “Bagaimana bisa gue ikut kalian bertiga, hah? Meskipun demikian, gue sudah tidak bisa lagi bersama kalian. Kalian bertiga bisa bahagia tanpa gue.”


“Hidup kami akan terasa syahda dan berwarna jika dilengkapi keberadaan dirimu, Ngga. Kamu bisa, kami bertiga akan menggiring-mu untuk meluncur ke dunia. Tempat yang seharusnya kita ada.” Kini Freya yang mengeluarkan suara.


Angga beringsut untuk menolehkan kepalanya ke arah kekasihnya yang telah berbicara dengannya bersama nada lemah-lembut. “Aku sudah gak ada di sana, inilah tempatku sekarang yang akan aku huni selamanya, sedangkan ragaku telah berada di dalam gundukan tanah. Maaf, aku tidak bisa lagi ikut bersama kalian. Kalian boleh pergi ...”


“Lo ngomong begini karena lo sudah terlalu menerima takdir yang terjadi dengan lo, kan? Gue tahu itu, Angga. Tapi satu pertanyaan yang harus lo jawab. Apakah lo sama sekali tidak ingin mencapai kebahagiaan bersama kami?”


Pertanyaan Reyhan, membuat Angga berpaling dengan kepala yang agak menunduk. “Sebenarnya, gue ingin menggapai kebahagiaan bersama kalian di dunia. Tetapi ...”


“Gak sanggup? Kamu ingin bilang nggak mampu untuk mendapatkan semua itu, kan? Kamu bisa kok, Ngga. Percayalah. Dengan adanya kami yang hadir di kamu, dirimu akan kembali menikmati bahagia tanpa jeda,” ujar Jova.


“Bahagia tanpa jeda?” Mendengar pernyataan itu, berhasil membuat Angga kembali menatap wajah Jova.


Jova menganggukkan kepalanya, tak hanya gadis Tomboy itu saja namun pula Freya dan Reyhan. Apalagi kini pujaan hatinya Angga, mengulurkan tangan kanannya ke arah lelaki tampan tersebut.


“Kalau kamu ingin mendapatkan itu bersama kami bertiga yang setia menunggumu, peganglah tanganku. Kamu akan kembali melihat alam semesta dan semua orang yang sangat merindukanmu. Yuk sini, Ngga.”


Angga menaikkan satu alis tebal hitamnya sembari menatap tangan Freya yang telah mengulur untuk ia genggam. Apakah ini masuk akal?


Lelaki tampan yang memiliki adiluhung 180 sentimeter itu, menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya keluar dengan perlahan. Ia mengubahkan bibir datarnya menjadi tersenyum dan menatap sosok mereka bertiga yang senantiasa menunggu jawaban pastinya dari Angga.


“Baiklah jika itu yang terbaik, gue akan ikut bersama kalian.”


Angga kemudian menerima bentangan tangan dari Freya, lalu menggenggam telapak tangan mulusnya. Setelah begitu tahu lelakinya menggenggam lembut tangannya, Freya ikut genggam balik telapak tangan putih milik Angga. Dan kini gadis itu menggandeng tangan kekasihnya untuk mengajaknya pergi dari alam ini, sementara Reyhan merangkul ramah tengkuknya Angga, sedangkan Jova menyentuh punggung kokoh punyanya sahabat lelaki Introvet-nya.


Mereka berempat yang berpenampilan setara, melangkah pergi bersama hingga suatu cahaya terang menyilaukan retina dari bola mata menawannya yang mereka miliki.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di dunia, mereka masih saja mengeluarkan suara tangisan pilunya yang membuat sang dokter dan para perawat tidak kuasa untuk mendengarnya. Mereka yang mendekap erat tubuh Angga, tentu saja mampu berhasil membikin tim medis hanya pasrah karena memang telah gagal menolong jiwa pemuda tampan itu.


Reyhan yang ada di sebelah kanan Angga, mengguncang-guncang tubuh sahabatnya yang sudah tidak terdapat ada darah nang mengalir di dalamnya. “Hiks! Bangun, Ngga! Please, jangan buat gue makin trauma. Gue sudah terlalu banyak kehilangan orang yang gue sayangi, dan gue gak mau banget jika bertambah satu akan perginya seseorang lagi yang juga gue sayangi, huhuhu! Nggaaaaaaa!!!”


“Bangunlah, Sayang! Jangan tinggalkan Mama dan ayah, hiks! Hanyalah kamu satu-satunya anak yang orang tua Angga miliki, Mama mohon jangan pergi, Nak!! Mama sayang banget sama kamu, huhuhuhuhu!!!” isak Andrana tetap memeluk kakinya Angga.


“Angga, kamu anak lelaki yang sangat kuat! Tolong jangan pergi seperti ini, Nak! Ayah mohon, kembalilah! Ayah juga sayang sekali denganmu, hiks!”


Freya yang ada di atas kepala Angga, semakin mempererat pelukannya dengan tanpa menyingkirkan telapak tangan dari pipi lelaki tampannya yang sangat dingin itu. “Aku gak mau cari penggantimu! Aku hanya ingin kamu, Angga. Hanyalah cowok seperti dirimu lah yang aku cintai, hiks! Jangan tinggalin aku, Ngga! Kamu gak boleh tega-tega seperti ini, aku mohon banget denganmu!!”


“Proses untuk pemakamannya Anggara dilakukan besok, ya? Untuk sementara waktu, biarkan Anggara kami bawa ke ruang Jenazah.”


“Jangan dulu, Dok! Jangan! Berikan kami kesempatan waktu lagi, pasti akan ada keajaiban dari Allah untuk Anggara, hiks!” sangkal Jova cepat sambil menggelengkan kepala kuat.


Jova kemudian beralih dari menatap dokter Ello ke sahabat lelakinya kembali, gadis itu memukul-mukul tangan kanan lemas Angga yang telah bagaikan tak mempunyai tulang. Gadis Tomboy itu yang terkenal kuat dan tidak gampang menangis, hari ini terkalahkan oleh hari yang mengundang nestapa dari kematiannya Angga.


“Angga! Bangun, dong! Ayolah cepet buka kedua matamu itu! Aku gak mau kamu dibawa ke ruang mayat buat proses pemakamanmu yang dilaksanakan besok! Please listen to me !”


Setelah 10 menit berlalu, Reyhan mulai membersihkan air matanya yang ada di pipinya serta di ujung dagu. “Angga beneran udah ninggalin kita semua, dia gak akan kembali lagi bersama kita. Menangisi dia pun juga sudah tidak ada gunanya, maka dari itu ... k-kita harus berusaha buat merelakan d-dan melepaskan kepergiannya Angga.”


“Hiks! Tapi, Rey?”


Reyhan menolehkan kepalanya ke arah Freya yang terkejut mendengar hal nang telah ia ucapkan dengan luka hati. “Kamu harus mampu mengikhlaskannya, Frey. Karena Angga telah pergi meninggalkan kita semua ...”


“Aku gak nyangka hal ini benar-benar terjadi. Angga meninggal memang membuat kita nggak rela, tapi aku juga gak mau di Akhirat nanti dia tersiksa karena kita semua gak ada yang sanggup melepaskan kepergiannya Angga,” ujar Jova dengan nada getar seraya mengangkat tangan kiri sahabatnya lalu meletakkannya perlahan di atas perut.


Reyhan yang ada di hadapannya Jova, juga ikut akan menaruh tangan kiri Angga ke atas perut. Namun sebelum itu, lelaki Friendly yang telah dihancurkan oleh sahabatnya sendiri, melonggarkan alat pulse oximeter dari jari telunjuk Angga.


“Kalau lo memang sudah tiada di dunia ini, oke. Kami akan berusaha untuk mengikhlaskan atas perginya elo, Ngga.”


Tit..


Tit..


Tit..


Reyhan menghentikan tangannya waktu ingin mencabut jepitan alat medis kecil itu dari jari telunjuknya Angga saat ia dikejutkan suara mesin monitor pendeteksi jantung kembali berbunyi. Dengan segera, Reyhan dan lainnya menengok layar monitor tersebut.


Mereka semua yang ada di dalam ruang ICU-nya Angga, terkejut sekaligus tidak menduga bahwa semua garis yang tertera di dalam layar monitor itu kembali berubah dan bergerak usai membentuk menjadi zig-zag. Bahkan HR medis yang tercantum angka 0 bisa tergantikan drastis dan meningkat menjadi 89


Dokter Ello yang menyaksikan ini, sampai membelalakkan matanya karena sangat terkejut apa yang barusan terjadi pada pasiennya. Bahkan sebagian ada perawat nang mengucek-kucek mata karena takutnya itu hanyalah sebuah halusinasi.


“B-bagaimana mungkin?! Bukankah pasien Anggara telah dinyatakan meninggal dunia?! Tapi ... Astaghfirullah, apakah ini suatu Mukjizat dari Allah?” semarak sang perawat.


“Gawat! Apa jangan-jangan pasien Anggara telah menjadi makhluk zombie?! Karena tadi pasien telah menghembuskan nafas terakhirnya!” heboh perawat kedua.


Rekannya yang mendengar kehebohan dan ucapan panik aneh dari perawat itu, langsung menyiku kencang lengannya. “Berpikirlah dengan sewajarnya saja!”


Baru saja akan mengembangkan suara bahagianya, Jova dikagetkan lagi oleh jari-jemari dari tangan kiri Angga yang bergerak lemah. Di sisi lain, pemuda itu nampak mengambil napas dalamnya lalu menghembuskannya secara samar-samar.


“Angga?! E-elo udah bangun?! Hah?!” kejut Reyhan sambil menggoyangkan pelan tangan kanan sahabat Indigo-nya.


Tangisan mereka yang memilukan kini menjadi haru di waktu kedua mata Angga yang telah lama terpejam, sekarang terbuka perlahan-lahan dengan menampilkan iris abu-abu autentiknya yang selama ini tidak pernah terlihat.


“D-dokter Ello Hanendra! Putra saya telah membuka mata!!” teriak Agra senang.


Beliau dengan segera berlari ke arah ranjang pasien Angga beserta para perawat. Lelaki tampan itu memejamkan matanya sejenak lalu membukanya balik, untuk menormalkan pandangannya yang masih mengabur. Suara-suara bising di sekelilingnya membuat telinga Angga terusik walau masih sayup-sayup.


Kini pandangan mata Angga yang blur tergantikan menjadi jernih, dan pandangan pertama yang ia tatap adalah sebuah dinding cat putih.


“Angga! Kamu sudah bisa dengar suaraku?! Ini aku, Freya Septiara Anesha! Dirimu masih ingat aku, kan?!” panggil gadis itu dengan menempelkan telapak tangannya di dada.


Bola mata lelaki tampan itu yang masih tertuju di pandangan dinding, beralih ke arah seorang gadis cantik berambut hitam legam lurus sepunggung. Perempuan manis ini, tak asing bagi diri Angga. Ya, itu adalah kekasihnya!


Angga ingin sekali membuka mulutnya untuk merespon Freya, namun entah mengapa rasanya sangat sulit bahkan seperti kaku bila ia bersuara. Pada akhirnya, Angga hanya tersenyum saja. Dilemparkan sebuah senyuman yang telah muncul kembali itu, sudah cukup membuat hati Freya bahagia.


Mereka yang sebenarnya telah ingin berupaya melepaskan kepergiannya Angga, sekarang memeluk raganya dengan erat bersama teriak memanggil nama barisan pertamanya. Tangisan gembira dari sepasang orangtuanya, kedua sahabatnya, dan pujaan hatinya menggelegar sampai ke pendengarannya Angga.


“Sahabat gue masih hiduuuuuuuup!!! Terimakasih atas kemuliaan-Mu, Ya Allah. Terimakasih telah mengabulkan semua Doa kami semua untuk Anggaaaa!!” pekik Reyhan dengan tetap mendekap tubuh sahabatnya.


“Alhamdulillah Ya Allah, Sayang! Kamu telah kembali lagi bersama kami, Nak! Hiks! Mama dan ayah sangat bahagia sekali melihatmu yang telah membuka mata, huhu!”


“Anggara Vincent Kavindra, anak tangguhnya Ayah! Kamu telah bangun kembali, Nak!” ungkap bahagia Agra dengan tanpa mengurai pelukannya dari anggota tubuh kaki putranya.


“Huwaaaa! Sahabat terbaikku telah kembali bernyawaaaa! Ya Allah, seneng banget, hiks! Hiks!” Jova menimpali.


Angga yang mendengar rentetan bahagia dari ucapannya mereka berlima, hanya kembali menarik senyumannya. Ia saat ini memang tidak bisa mengeluarkan suara bahkan menggerakkan tubuhnya, alias mengalami kaku dilematis.


Dokter Ello dan para perawat yang merasakan serta memandangi adegan terenyuh ini, ikut tersenyum bahagia pula dengan hatinya yang amat lega dikarenakan Angga nang sempat dinyatakan meninggal dunia, kini di ruangan yang masih sama, ia terbangun kembali dari kematiannya.


Kuasa Mukjizat Tuhan yang dikirim ke Anggara, memang sungguh luar biasa!

__ADS_1


...-TAMAT-...


__ADS_2