
Di balkon kamar seorang gadis cantik tengah duduk di lantai dengan menyandarkan punggungnya di tembok balkon, wajah dari gadis tersebut sedikit pucat, nampak sudut bibirnya lebam seperti habis dipukul oleh seseorang. Tangisan mendera membasahi salah satu kertas kusut yang sedang gadis itu pegang, banyak sekali tulisan-tulisan tangan yang membuat hati gadis tersebut tertohok sekaligus mental menjadi down.
Banyak tulisan yang berartikan caci maki pedas untuknya, selain itu terlihat juga telapak tangan kirinya di tambal Hansaplast untuk menutup luka dari sayatan yang menyakitkan. Rambutnya kusut tergerai, matanya sembab dengan terus menangis sesegukan tanpa ada yang tahu. Ia juga telah rapi bersama penampilan mengenakan seragam hari senin SMA Galaxy Admara, ya gadis itu salah satu siswi bersekolah di sekolah paling terkenal Internasional itu.
Rasanya ia enggan tak kuat berangkat ke sekolah hari ini, sahabatnya masih berada di luar kota dikarenakan sepupu kandungnya meninggal dunia akibat sakit parah yang di derita. Rasa tegar dan tangguh gadis itu menurun, merasakan hatinya begitu sakit dilukai banyak teman-teman yang membullynya semenjak sahabat karibnya pergi keluar kota bersama keluarganya.
Tetapi jika ia tak bersekolah, ia tak mampu beralasan pada sang ibunya. Gadis tersebut merupakan anak yatim, jadi ia di rumah tinggal bersama bundanya yang selalu menaruh kasih sayang yang ia berikan untuk anak satu-satunya. Seharian ia tak keluar dari kamar karena tak ingin semuanya ketahuan apa yang terjadi dengan gadis tersebut. Ia menghela napas, menghapus air matanya yang membanjiri pipinya dan berusaha semangat sekolah pada hatinya yang terpuruk dan wajah lesunya.
...---------->◎:☬☬☬:◎<----------...
Jova di kantin sekolah tengah membayar uang pada penjual kantin, gadis tomboy itu membeli sebuah permen karet kesukaannya. Usai membayarnya, Jova berbalik badan dan akan kembali menuju ke kelas namun, dirinya hampir terjungkal karena kaget melihat Reyhan berdiri tepat dibelakangnya.
"Anying! Ngagetin orang aja kerjaannya!"
"Dicariin taunya di kantin. Oi itu PR mu udah selesai belom? Kalau belom buruan kerjain daripada di semprot sama bu Aera."
Jova melongo dengan mata berkaca-kaca. "Loh nanti jam pertama ada bu Aera?! Bukannya nanti jamnya pak Harry yak?!"
Reyhan mendengus. "Emang iya sih, tapi karna pak Harry ada urusan mendadak di luar, yaa terpaksa nanti jam pelajarannya bu Aera dulu, nanti kalau udah pergantian jam barulah pelajarannya pak Harry. Nah sekarang aku mau tanya sama kamu, PR kamu sudah selesai kah?"
"Belum! Aku lupa! Gimana dong?!"
"Ya nggak tau kok tanya saya. Ayo balik ke kelas," ucap Reyhan santai sembari berbalik badan dan berjalan mendahului Jova.
Jova dengan cepat mencekal lengan Reyhan yang sudah melangkah pergi, dan yang di cekal pun menoleh dengan menaikkan satu alisnya.
"Contekin dong nanti PR-nya."
"Enak aja, buat sendiri lah. Heh aku kemaren malem-malem pusing tau gara itu tugas yang isinya cuman memakan otak."
"Ih pelit banget sih jadi sahabat, ayolah bantu aku. Masa beri contek gak boleh sih? Nanti kalau aku di hukum jemur di lapangan gimana? Kamu gak kasian sama aku."
"Yaaaa, kasian sih. Tapi aku ogah dong ngasih jawaban ke kamu, lagian kan kamu otaknya pinter kalau soal berkutat tugas Fisika."
"Gak ada yang bisa ngalahin kepinteran Anggara! Ayo dong Rey, mau ya?"
Reyhan menghela napasnya lalu mengangguk mengiyakan Jova. "Yaudah iya, aku kasih contek- eit tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi buat aku."
"Syarat apaan?!"
"Nanti pas istirahat, kamu harus traktir aku makan di kantin. Soalnya aku cuman bawa duit dua ribu, gak bisa dong buat makan bakso nanti hehehehe."
"Parah! Masa bawa duit cuman dua ribu sih?! Kere kamu?"
"Menghina bener! Ya enggak lah, aku tadi terburu-buru sampe cuman ambil uang dua ribu, yang penting aku gak bawa uang koin lima ratus rupiah."
'Sial emang anak Kunyuk ini, masa minta traktir sih hanya cuman ngasih contek. Hhh korban uang, kan gue nanti. Yaudah lah gak kenapa-napa, yang penting dapat jawaban halal dari sahabat laknat.'
'Dih, pake batin segala. Gue denger anjir, enak aja ngatain gue sahabat laknat. Sahabat berbakti gini di bilang begituan, emang ya itu mulut gak pernah di setrika.'
"Yaudah iya-iya deh nanti aku traktir kamu. Mumpung aku bawa uang lebih, tapi bakal jadi korban."
"Halah korban uang juga gak masalah tuh, yang penting nggak korban jiwa hehehe."
"Ya deh iya. Yaudah ayo balik ke kelas, aku mau ngerjain PR."
"Oke, let's go."
Kedua sahabat suka bermain debat itu, berbalik badan meninggalkan kantin dan segera menelusuri koridor sekolah lalu menaiki beberapa tangga untuk bisa tiba di ruang kelas XI IPA 2. Usai sampai di dalam kelas, Jova berlari kilat dan menduduki bangkunya lalu segera mengeluarkan alat tulisannya dan juga buku tugas Fisika.
Reyhan juga tengah mengeluarkan buku Fisikanya dan langsung diberikan kepada Jova dengan cara meletakkan bukunya di atas meja sahabatnya yang panik dikarenakan lupa mengerjakan PR. Freya yang ada duduk di samping bangku Jova mencondongkan badannya dengan menyipitkan kedua matanya menduga sahabatnya itu lupa lagi mengerjakan tugas PR dari guru.
"Tuh kan gak ngerjain PR lagi, kamu semalem ngapain aja?" tanya Freya dengan menautkan sesama jari jemari kedua tangannya.
"Begadang main game PS sama Nova sampe lupa waktu," ucap Jova sembari membuka buku tugas Reyhan yang akan ia salin di dalam buku miliknya.
"Ck, lagi-lagi seperti itu. Main game sih main game, tapi jangan sampai lupa waktu juga dong. Tuh liat sekarang, kamu ngibrit ngerjain PR-nya."
"Hmm oke-oke."
Hanya jawab singkat itu dari Jova, sementara Freya membuka buku tugas Fisikanya yang sore kemarin sudah kelar mengerjakannya. Dan kini Freya mengecek kembali hasil kerja otaknya dalam mengerjakan tugas memusingkan dari sang bu Aera guru mata pelajaran Fisika. Beruntung saja tulisan Reyhan mudah dibaca dan dipahami, kalau tidak semestinya Jova ngomel-ngomel spesial khusus untuk Reyhan.
Beberapa menit kemudian dan satu jam telah ada yaitu jam 07.00 yang mana saat ini bel upacara bendera telah berbunyi dengan nyaring. Jova dengan napas yang lepas lega menutup buku tugasnya serta menekan ujung bolpoin-nya, secara otomatis bolpoin yang untuk menulis tertutup, Reyhan dengan santai mengambil buku tugasnya yang setelah di salin cepat dengan sahabatnya. Kesemua siswa dan siswi kelas XI IPA 2 dan kelas lain-lainnya mengambil topi upacara kemudian bergegas pergi ke lapangan untuk melaksanakan upacara yang selama ini tertunda dikarenakan musim hujan yang belum kunjung berhenti.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Usai melaksanakan upacara bendera dengan tertib aturan lalu melanjutkan materi pembelajaran yang di berikan serta dibimbing oleh guru-guru selama dua jam di kelas, kini saatnya bel istirahat mendatang. Jelasnya pastinya bel ini yang di nanti-nantikan oleh para siswa siswi seluruh sekolah.
Di sisi lain, gadis yang menangis dengan memegang sebuah kertas kusut dalamnya berisikan tulisan caci maki untuknya, ia posisi sekarang sedang digiring oleh beberapa teman kelasnya yang membully dirinya ke toilet perempuan. Gadis itu berusaha memberontak namun tenaganya untuk melakukan penyelamatan diri tak mampu pada tenaga besar para tukang pembully.
Sampai di dalam salah satu toilet, salah satu teman yang membully gadis itu menutup pintu toilet dan menguncinya. Emily Michaela Sophia, itulah nama gadis tersebut yang duduk di bangku kelas X IPA 5 sama seperti sang para pembully.
Bugh !
Emily di dorong kencang dengan kedua teman pembully tersebut hingga menghantam dinding toilet. Ya, mereka memang sengaja melakukan hal itu pada Emily. Emily tak mengeluarkan suara yang memekik, tetapi gadis itu menahan rasa sakit pada punggungnya begitupun kepalanya yang ikut terhantam. Satu teman pembully-nya langsung menarik dagu Emily ke atas agar Emily menatap wajah memuakkan dari ketua bully.
"Lihat gue bego! Lo gak usah sok yes deh di kelas, kenapa? Hati lo pasti berbunga-bunga kan disaat lo kebanyakan di puji semua guru!! Gak usah sok pinter lo dikelas!!"
Krek !
Saking kuatnya menarik dagu Emily ke atas, hal itu membuat tengkuk gadis itu sangat sakit layaknya nyaris patah. Emily kembali menangis dengan tubuh yang bergemetar.
"Heleh dasar cewek cengeng! Katanya tangguh? Katanya pemberani? Mana, gaya doang lo yang bisa seperti itu!" Satu pembully lainnya dengan lancang menjambak rambut panjang Emily yang tergerai. "Inget ya, selama sahabat terbaik lo itu yang sok pahlawan itu belum balik ke kota Jakarta, kita semua akan terus membully lo atau perlu kita buat lo pergi dari dunia ini! Hahahahaha!"
"Hiks sakit huhuhu! Gue mohon lepasin gue!! Apasih mau lo dari gue, sampe lo keji sama gue? LO SEMUA KEJAM!!!"
Perempuan siswi sekelas Emily yang enakan bersandar di pintu toilet, berdiri tegak lalu bersedekap di dada kemudian melangkah sedikit ke depan Emily.
"Kami kejam? Ya benar kami mengakui kalau kami semua disini kejam sama lo, karna apa ... lo perempuan yang gak tau diri sama sekali!!" Perempuan itu bernapas naik turun dengan mata mencuat hebat. "Kepinteran kami semua dikelas lo rampas semua!! Dan kami pernah dibuat malu sama lo sendiri, INGAT GAK??!!"
Emily menelan ludahnya dengan ekspresi amarah juga hatinya yang meluap. "Itu pantes buat lo semua, kalian itu licik bisa-bisanya waktu itu lo pada mencuri kertas jawaban Ujian kelas dua belas, dan habis itu lo taruh di tas gue. Sorry, mungkin waktu itu gue gak ada dikelas .. tapi gelagat kalian bisa gue tebak dan kenali, lo bersiasat buruk pada gue! Dan akhirnya senjata makan tuan, kan lo semua ketahuan sama gue sendiri dan gue laporin ke pak Harden, malangnya kalian malah dapat nasib .. lo semua di skors sampe satu minggu, gue masih inget semua itu penghianat!!"
Kesemua teman pembully itu melongo saling menatap dengan mengembuskan napasnya yang mulutnya terbuka menganga, nampaknya mereka yang mau membully Emily kehabisan kata untuk mencaci maki pada gadis yang masih memiliki jiwa keberanian walaupun dirinya di tengah-tengah menjadi korban bully.
"Sialan lo brengsek!!" Perempuan itu tak menerima pada ucapan Emily hingga yang tak terima itu menendang kuat perut Emily hingga ia terjatuh.
Brugh !!
"Ugh sakit!" pekik Emily dengan mengernyitkan matanya disaat tendangan itu rupanya mengenai ulu hatinya.
Satu gadis pembully itu berjongkok dan menatap smirk pada Emily yang kesakitan. "Lemah banget lo, sekarang lo sok-sokan pake 'lo gue' ya?! Mending jadi cewek culun aja yang gak tau apa-apa soal tentang bahasa pergaulan. Satu, lo gak pantes ngomong seenaknya sama gue dan anak-anak buah gue anjing!"
Dengan sikap bengisnya pada Emily, gadis itu meludahi si korban tepat mengenai wajahnya. Emily hanya bisa diam kembali dengan mata terus kontak pada mata gadis pembully tersebut. Tanpa Emily sadari, darahnya keluar dari mulutnya membuat para yang membully dirinya tersenyum Iblis kemenangan.
"Woi mana lipstik, bedak, dan eyeliner-nya? Cepetan kasihi ke gue!"
"Sabar bos, nih udah gue bawain tenang aja sama gue. Kalau sama gue beres semua deh," ujar gaya perempuan yang rambutnya di kuncir miring satu.
Perempuan itu yang berambut model gelombang yang di semir warna kecoklatan merebut cepat 3 alat perias wajah itu dari tangan anak buahnya. Emily tak tahu apa yang akan dilakukan pada perempuan itu yang sangat ia benci.
"Sini, gue dandani biar gak pucet."
Emily menggeleng cepat, sementara kedua tangannya di cengkram erat oleh satu pembully lagi yang tadi menjambak kuat rambut Emily.
"Gue gak mau!!"
"Ck, kenapa sih hah? Wajah lo itu udah kucel kek anak gembel tau gak, udah sini majukan muka lo!"
Grep !
Ketua pembully yang bernama Rainey menarik kerah seragam Emily lalu segera membuka tutupan lipstik dan segera langsung di oleskan ke bibir tipis pucat Emily. Emily mengerang bertanda meminta untuk dilepaskan, namun sayangnya tak di gubris oleh Rainey.
"Ssstt biar cantik Sayang, jangan gerak-gerak dong agar lo nanti cantik hasil dandanan terbaik gue hahaha."
Rainey mengoleskan lipstik merah cabainya dengan tanpa pakai perasaan, sehingga lipstik itu belepotan. Selanjutnya Rainey merias wajah Emily kembali hingga semua telah selesai. Sungguh, muka Emily menjadi tidak karuan pada riasan make up pada tangan Rainey.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Jova tengah berjalan sendirian karena ingin pergi ke toilet perempuan, dengan langkahnya Jova sembari bersenandung kecil. Sampai tibanya di toilet perempuan, Jova yang ingin membuka salah satu pintu toilet di paling pertama, ia mendengar suara gaduhan siswi-siswi lain serta tangisan yang memilukan hati. Dengan tak segan-segan itu, Jova melangkah berjalan ke pintu toilet paling pojok sendiri.
"Woi siapa yang di dalem!" teriak Jova sambil mendobrak-dobrak pintu toilet.
Brak !
Brak !
"Siapa yang nangis di dalem! Buka pintunyaa!!"
Di sisi lain, ketiga pembully itu kepanikan pada suara kakak kelas yang terkenal ganas itu. Emily terlihat sangat senang dalam hatinya karena ada kakak kelasnya yang datang. Namun entah kenapa mulut Emily kembali mengeluarkan darah, mungkin akibat dari tendangan kuat perempuan sama-sama pembully itu.
Rainey yang ketakutan segera mengambil kotak plastik tisu kecil dari saku kantung baju seragam jas almamaternya, lalu setelah itu mengeluarkan sebilah satu tisu kemudian ia berikan pada Emily dengan tatapan tidak suka.
"Cepetan lap darah lo! Awas ya kalau lo kasih tau kak Jova soal kami bertiga membully lo disini, kami semua gak bakal tanpa basa-basi membunuh sahabat lo yang masih disana!" ancam sadis Rainey dengan nada menekan agar Jova tak dapat mendengarnya.
Emily tanpa berpikir panjang mengangguk mengerti lalu cepat-cepat membersihkan darah mulutnya menggunakan tisu yang diberikan paksa oleh Rainey.
Setelah sudah bersih, tisu tersebut direbut oleh Gantari dengan kasar. Setelah itu Gantari membuka pintu toilet yang di luar sudah ada Jova yang melipat kedua tangannya di dada.
"Loh? Emily, Rainey, Eliana, Gantari?? Kalian bertiga ngapain ada di dalem toilet? Mana barengan lagi, itu juga kenapa wajah Emily bisa seperti itu?"
"Eeee itu Kak, Emily tadi sengaja pakai begituan buat iseng doang. Ya kan Emily?" tanya Rainey.
Emily menunduk dan menatap Jova. "Iya Kak, Emily cuma iseng doang."
Jova menatap Emily tak percaya, lihat dari muka Emily ia sangat ketakutan bahkan kakinya bergemetar hebat. Rambutnya kusut tak karuan.
Jova beralih menatap Rainey, Gantari, serta Eliana satu persatu. "Kalian bertiga gak membully Emily kan? Atau malah sebaliknya?" tanya Jova penuh selidikan.
Eliana yang ada di tengah teman-temannya menjawab, "Enggak kok Kak, kami gak membully Emily .. kan kami teman baiknya Emily, ya kan temanku Sayang?" Eliana merangkul Emily dengan lumayan menekan tengkuknya agar Emily segera meresponnya.
"Iya Kak Jova, Emily sama yang lain berteman dengan baik kok .. mereka juga gak pernah membully Emily."
"Hmm? Heh kalian bertiga, kok muka kalian kayak menyimpan sesuatu ya? Jangan-jangan benar dugaan Kakak, kalian habis bully Emily."
"Enggak Kak! Ehm kami keluar dulu ya Kak .. kami bertiga lupa kalau ada tugas PR dari guru!"
Rainey pergi berlari keluar dari toilet perempuan di ikuti oleh Gantari dan Eliana. Kini sekarang di dalam, Emily berhadapan pada Jova yang menatapnya curiga. Jova yang merasa aneh pada gelagat tingkah Rainey, Eliana, dan Gantari langsung menghampiri Emily dengan berjongkok di depannya.
"Emily, kamu habis di apakan sama mereka? Bilang saja sama Kakak."
"Ehm, enggak kok Kak. Emily tidak di apa-apakan sama mereka bertiga. Soal muka Emily, Emily hanya ikut trend di video viral gitu Kak."
Jova menghela napasnya pelan. "Tapi, Emily gak boleh memakai riasan wajah berlebihan begini, Kakak hapus ya. Takutnya nanti kalau Emily di marahin sama guru, kan gak enak kalau image-nya Emily turun, ya kan?"
Emily hanya menunduk patuh pada kakak kelasnya yang menurut Emily ia begitu sangat nyaman dan aman berada di sisi Jova. Emily ditarik lembut oleh Jova untuk pergi ke wastafel sebelah toilet yang berjejeran begitu pula mereka menuju pada wastafel yang juga berjejeran. Kemudian Jova merogoh kantong saku seragam jas almamaternya untuk mengeluarkan sebuah satu kain.
Jova menyalakan kran air wastafel untuk membasahi kainnya lalu tak lupa memerasnya dan setelah itu ia usapkan kainnya yang basah itu ke bibir Emily yang ada lipstik belepotan tak rajin, sebelum itu Jova berjongkok balik dengan satu lutut menyentuh lantai. Kakak kelas Emily yang galak itu namun hatinya tulus membersihkan make up menor-nya dari wajah Emily, hingga pada akhirnya semua telah bersih pada sediakala.
"Nah, selesai!" pekik Jova gembira dengan senyuman menawannya.
Emily tersenyum lebar lalu memeluk erat Jova yang masih berjongkok di hadapannya, dengan sikap tulusnya Jova melingkarkan kedua tangannya untuk membalas pelukan adik kelasnya.
"Terimakasih Kak!"
"Iya sama-sama Dek, yaudah sekarang Kakak antar ke kelas yuk soalnya bentar lagi bel masuk mau bunyi deh," kata tutur Jova sembari melepaskan pelukan lembutnya begitupun dengan Emily.
"Iya Ka- akh aduh!"
Jova terkejut melihat Emily yang mengaduh-aduh memegang perutnya tepat ulu hati. Jova menyentuh kedua pundak Emily lalu menanyakan keadaannya.
"Emily? Dek, kamu gakpapa? Kok megang perut gitu? Perut kamu sakit ya?!"
"Gimana kalau sekarang kita ke UKS, kamu rebahan aja disana. Ayo Kakak antar kamu kesana-"
KRIIIIIIIIIINGG !!!
"Buset dah anjir, malah udah bel gimana sih?!" protes Jova dengan mendongakkan kepalanya ke atas.
"Yaudah yuk, Kakak anter dulu ke UKS habis itu Kakak balik ke kelas .. udah bel nih, emang ya waktu gak pernah mengasih kesempatan."
Emily hanya mengangguk dengan merintih kesakitan, Jova memegang kembali kedua bahu Emily dengan menuntun ia jalan keluar dari toilet perempuan dan menuju ke UKS, namun langkah mereka berdua terhenti disaat ada yang memanggil disalah satu mereka.
"Jovaaa!"
Jova berbalik badan dan mendapati dibelakang ada seorang lelaki pemuda kelas atas berlari menghampirinya. Ia adalah Johan Avren Noah siswa yang duduk di bangku kelas XII IPS 3 sekaligus ketua PMR. Johan membungkuk badannya dengan mengatur napasnya usai berlari.
"Kak Johan?! Lari-lari kek di kejar setan aja dah, napa sih pake lari-lari segala, capek kan tuh."
"B-bentar ... hosh ... hosh ... hosh ..."
"Kakak gak bisa lari jauh pake gaya, atur dulu napasnya baru ngomong." Ucapan Jova diberi anggukan kepala Johan serta mengacungkan jarinya yang membentuk tanda oke.
Setelah napas Johan telah teratur normal, ia menegakkan badannya dan menatap Jova dan Emily bergantian. Namun mata pandangan Johan terbentur pada Emily yang berwajah pucat serta kedua tangannya memegang perutnya.
"Ini Emily kenapa Va?! Kok mukanya pucet bener, sama si Emily perutnya lagi sakit nih??"
"Yaelah pake di tanya sih Kak, udah jelas-jelas kelihatan loh."
"Iya-iya deh Va."
"Udah ya Kak, Jova mau anter Emily ke UKS dulu .. kasian perutnya nambah sakit entar."
"Ruang UKS? Yaudah sama gue aja, lo balik kelas ae."
"Masa di anter sama cowok sih?"
"Apa salahnya sih Neng? Udah sono balik kelas, nanti dimarahin guru kalo lo gak balik-balik."
"Idih ngusir ini mah."
"Gak bermaksud gue, udah sana balik ke kelas nanti di cariin ayang lo loh."
"Ayang? Jova mana punya ayang, masih jomblo akut Jova tuh."
"Ck halah, masa gak mau ngaku sih? Itu loh, lo kan pacarnya Reyhan Ivander Elvano."
"Ih kurang lemon!!"
"Yahahaha kabuurr .. ayo Ly kita pergi dari monster itu hehehe, tapi pelan-pelan aja jalannya gak usah buru-buru."
"Huh, nyebelin banget sih! Oh iya, cepat sembuh ya Ly."
"I-iya Kak, m-makasih ya." Emily menjawab Jova dengan senyum menahan rasa sakit di perutnya.
"Iya sama-sama adek cantik hehehe."
Setelah mengucapkan kata itu, Jova berbalik badan berlari menuju ke kelasnya sementara Emily di tuntun jalannya oleh Johan yang nampak berhati-hati sangat pada langkah Emily yang sangat lambat dan lemah.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Jam pelajaran sekolah telah selesai dan pada saatnya kesemua siswa dan siswi pergi meninggalkan sekolah untuk menuju ke rumahnya masing-masing, sedangkan Freya yang ada di depan jendela kaca kelas menatap langit yang lagi-lagi sebentar lagi hujan mengguyur seluruh kota Jakarta. Freya menyesal ia kelupaan membawa jas hujannya, begitu pula dengan lainnya yang masih di kelas sebagiannya sudah pergi pulang.
Melihat Aji yang terburu-buru pergi dari kelas, sontak Reyhan berteriak. "Woi Maemunah lo mau kemana?! Abis ini hujan njir!"
Bukan menjawab dulu, si Aji sudah lari ngibrit dari kelas. Sepertinya satu pemuda itu cepat-cepat bergegas pulang sebelum hujan turun deras.
__ADS_1
"Ngeyel bener dibilangin!!"
"Eh woi udah-udah jangan dibawa emosi, mending kita semua susul aja yok si Aji," ajak Rangga pada kesemua temannya yang belum pulang.
Mereka semua mengangguk setuju lalu segera keluar dari kelas tak lupa membawa tas mereka masing-masing, beberapa lorong yang mereka lewati dan tangga yang mereka turun, tibalah mereka akan sampai di lobby sekolah tetapi satu pandangan sama membuat Freya, Jova, Reyhan, Rangga, Andra, Raka, Lala, Rena terperangah melihat Aji terduduk dengan merintih kesakitan memegang pantatnya.
"Eh Ji? Lo ngapain malah main drama?? Kek gak ada kerjaan aja perasaan," ungkap Raka meledek.
"Drama gigi lo garing! Jatuh gue, sakit anjir."
"Waduh sakit dong hahaha, yaudah sini-sini gue bantu." Reyhan mengulurkan tangannya untuk membantu Aji yang rupanya terjatuh.
"Aji, kamu gakpapa kan? Pasti sakit banget ya?" tanya Freya lumayan khawatir.
"Ini udah gak cuman sakit doang Frey, tapi sakit pake banget." Aji yang telah sudah di bantu Reyhan perlahan berdiri, kesemua temannya termasuk Reyhan nyaris tertawa melihat belakang celana Aji yang kotor kecoklatan seperti habis terkena minuman coklat.
"Buset?! Celana lo kotor!" pekik Andra menuding belakang celana SMA Aji.
"Hah yang beneran?! Ih gimana dong ini mah?! Bisa mampus gue di omel-omel mami sama papi."
"Yaudah sih, itu kesalahan lo. Teledor banget sih gitu aja sampe jatuh," protes Reyhan namun ia sedang menahan tawanya.
"Hadeh, kamu kok bisa jatuh itu gimana sih Ji?" tanya Rena dengan menepuk keningnya ia sendiri.
Aji yang cengar-cengir merasakan pantatnya sangat sakit, mulai menceritakan kejadiannya mengapa ia bisa terjatuh.
"Nasib apes gue itu njir ..."
"Jadi tuh kan gue lari kesini nah tiba-tiba tuh ada suara petir sialan sampe adek kelas yang minum Pop ice coklat kaget hingga minumannya tumpah jatuh ke lantai, gue yang sibuk lari eh yaudah tergelincir sempurna dan kepleset kan akhirnya. Nah bukannya nolongin kakak kelasnya, eh adek kelasnya malah kabur duluan."
Semuanya tertawa sementara Freya tersenyum dengan geleng-geleng kepala, Reyhan yang ada di tepat sampingnya akan segera meledek Aji yang sedang sengsara sore ini.
"Jangan-jangan itu si Adna, lagi adek lo yang kelas sepuluh. Kasian kakaknya jatuh eh si adiknya malah ninggalin, seperti kekasih yang meninggalkan lo tanpa alasan."
Aji dengan kesal menjitak kepala Reyhan. "Bukan Adna bego! Gak tau siapa namanya, yang jelas itu anak kelas sepuluh."
"Mungkin adiknya lari karna takut lihat muka lo yang jatuh kek orang gila, kan muka lo kek orang idiot," maki Raka sambil tertawa renyah.
"Eh Ka, gak boleh ngomong begitu," tegur Freya.
Pada akhirnya setelah itu mereka pergi ke lobby dan segera pulang, namun baru saja melangkah keluar dari lobby, hujan malahan sudah turun dengan lebatnya. Sialnya hari mereka, tak bisa pulang cepat dikarenakan tak ada satupun dari mereka yang membawa jas hujan.
"Yaelah tega amat sih malah ujan?!" kesal Jova dengan menghentakkan satu kakinya.
"Terpaksa Va, kita sabat tunggu hujannya reda," ucap Freya lembut.
"Duh, bisa pulang malem nih kalau begini." Reyhan menggelengkan kepalanya sembari menatap langit hujan.
"Eh Ji mending lo duduk di kursi aja deh sono, biar gak nambah kram itu bokong lo."
"Tumben? Perhatian banget sama temannya, biasanya juga selalu menindas." Aji berkata sekenanya.
"Astaghfirullah! Masih baik gue ya Ji, belum sampe gue lempar lo dari atas gedung sekolah!"
Aji menelan salivanya. "Sadis banget sih jadi temen. Yaudah dah gue duduk bae daripada emak rempong makin dower."
"Ngomong apa lo Ajinomoto?!"
"Eh iye-iye maaf gak sengaja ngomong gitu gue hehehehe," tuturnya sembari duduk di kursi panjang pojok tembok lobby.
Reyhan yang akan balik badan dikarenakan mau membuang sampah di dalam sekolah, melihat ada siswi berlari kencang dengan menangis tersedu-sedu. Tanpa berpikir panjang siswi itu kenapa, Reyhan langsung mengejarnya.
Reyhan terus mengejar gadis siswi itu tanpa henti sampai tiba-tiba tanpa Reyhan sadar siswi itu membuka pintu rooftop dan segera memasukinya. Reyhan berhenti sejenak usai berlari kencang menelusuri lorong-lorong dan para undakan tangga, ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal kemudian ia berjalan perlahan dan membuka pintu rooftop sedikit.
Reyhan mengerutkan keningnya pada keningnya yang penuh keringat akibat berlari tadi, dilihatnya seorang siswi menangis tersedu-sedu seraya mengusap air matanya yang tak bisa ia bendung. Air mata jatuh dari rooftop, kakinya yang bergemetar hebat tak ayal satu siswa kelas XI IPA 2 itu menghampiri siswi itu dengan wajah sendunya.
Baru mengetahuinya setelah berada di dekatnya, Reyhan kenal siapa siswi gadis itu. Ia nampak terkejut melihat ternyata yang menangis adalah sahabat tetangganya Anggara dan Freya di komplek Permata.
"Emily?!"
Emily lah yang menangis seperti itu. Emily dengan tersentak kejut langsung menoleh ke sumber suara, ia sangat kaget mendapati Reyhan sahabatnya Anggara yang bertetangga dengannya begitupun juga Freya.
"Kak Reyhan?!"
Reyhan mendekat ke Emily dan akan bertanya apa yang terjadi dengannya. "Emily kamu kenapa nangis? Ada apa?"
"Hiks, jangan ganggu Emily Kak!!"
BUGH !!
Emily dengan spontan membogem perut Reyhan sangat kuat hingga kakak kelasnya yang di tonjok kencang oleh Emily terbatuk-batuk berdarah. Reyhan terjatuh di lantai dengan merintih kesakitan karena pukulannya sampai ke ulu hatinya sama persis seperti Emily yang di tendang oleh Eliana sang pembully.
Brugh !
"Uhuk uhuk uhuk! E-emily- akh!"
Emily tanpa ada perkataan lagi langsung pergi berlari meninggalkan Reyhan yang posisinya terbaring dengan memegang perutnya yang dipukul keras oleh Emily.
"E-emang bener y-ya! Ternyata pukulan maut perempuan lebih dahysat d-daripada punyanya laki- ugh!!"
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Rangga menunggu Reyhan yang belum kunjung balik ke lobby, sampai tiba-tiba karena tidak sabar Rangga memutuskan mencari Reyhan di dalam sekolah.
"Gue cari Reyhan bentar ya."
Kesemua temannya mengangguk bersamaan lalu Rangga berlari mencari Reyhan seluruh dalam sekolah. Ia berlari menuju ke kelasnya untuk mencari Reyhan, siapa tahu Reyhan ada disana, namun rupanya pemuda itu tidak ada sama sekali. Rangga mencoba menelusuri setiap lorong-lorong hingga ia tiba di tangga terakhir yaitu tempat rooftop sekolah. Tanpa lama-lama Rangga pun memasukinya dan langsung syok melihat Reyhan yang terbaring menutup mata namun masih terdengar suara rintihan sakitnya.
Rangga langsung berlari kembali dan menghampiri Reyhan yang pastinya harus segera di tolong pada kesakitan-nya.
"Rey Reyhan?! Eh lo kenapa bisa kayak gini?! Mulut lo juga berdarah! Sini-sini gue bantu."
Rangga perlahan mengangkat tubuh Reyhan untuk bangkit duduk. "Lo habis kenapa Rey? Kenapa lo bisa seperti ini?"
"Gue ditonjok adik kelas, mungkin karna gue ganggu dia .. akhirnya dia marah terus nonjok gue- argh kram bener!"
Rangga mendesis pelan. "Yaudah ayo sini gue rangkul," ucap Rangga perlahan membantu Reyhan berdiri dengan merangkulnya.
"Lo ditonjok cewek apa cowok?" tanya Rangga.
"Cewek, sakit anjir."
"Jyah di tonjok cewek langsung jadi lemper lo. Kuat dikit kek," omel Rangga yang sebenarnya sedang meledek Reyhan.
"Pukulan maut tadi itu ... untung gue masih diberi kesempatan buat menikmati hidup," lunglai Reyhan dengan sesekali mendesis karena perutnya masih kram.
Di sisi lain, di lobby terlihat dari luar hujan telah reda. Namun kedua sahabat Reyhan masih setia menunggu Reyhan sampai nampak begitupun bersama Rangga. Tak lama kemudian berapa menit menanti, mereka dibuat terkejut oleh Reyhan yang di tuntun jalan dengan Rangga. Dirinya tertatih-tatih sembari memegang perutnya, itu yang membuat kedua sahabatnya khawatir begitupun para temannya yang belum pulang.
"Loh-loh Reyhan kenapa?! Kok kesakitan gitu?! Itu kenapa juga mulutmu berdarah?!" panik Freya menghampiri dua pemuda yang baru saja datang.
"Habis ditusuk pisau, kah?!" lontar panik Jova.
"Enak aja kalo ngomong! Habis di bogem mentah aku sama Emily." Reyhan mengelap sisa darah dari luar mulutnya.
"Hah Emily?! Emily Michaela Sophia anak kelas sepuluh IPA lima?!"
Reyhan mengangguk pada pertanyaan Jova, sementara Rangga membawa Reyhan untuk duduk di kursi pojok dinding lobby. Aji langsung kontak mata dengan temannya yang masih merintih kesakitan, dengan tertawa puas.
"Napa lo cengar-cengir kek ada bekas makanan yang nyangkut di gigi?" tanya Aji dengan tampang ledek.
Reyhan yang kini sudah duduk dibantu oleh Rangga, menatap Aji tajam dengan mendengus kesal. "Lo gak liat perut gue lagi kram? Kuping lo budeg kalo gue abis ditonjok Emily?!"
"Anjir galak banget lo kek Anggara, tanya baik-baik masa jawabnya ngegas kek knalpot motor. Yaaa itu sih menurut gue sebuah balasan karma .. karna apa, karna lu tadi sudah ngetawain gue disaat gue jatuh."
"Mata lo gak sampe kena hati!! Sakit hati gue lo ledek tadi tau gak?!"
"Idih?! Gue tolong deh sama lo Ji, lu kalau dengerin apalagi mencerna itu pakai logika bukan pakai hati. Kek cewek aja lo dengerin sama ngerasain pake hati."
Raka berdecih sembari melipat kedua tangannya di dada. "Emangnya lo sendiri kalau denger apalagi merespon pake logika? Keknya sih enggak deh, lo kalau denger dan respon pasti pake hati. Gak kek Anggara lo tuh, Anggara kalau dengerin apalagi ngerasain mesti pakai logikanya."
"Lo inget kan kejadian di Villa waktu itu?" tanya Raka tersenyum miring tanpa berpikir kalau Reyhan merasa sangat amat bersalah pada peristiwa yang melukai Anggara.
"Ehm- eee iya gue inget kok," jawab Reyhan dengan menunduk.
"Iya gue emang yang salah, gue gak mikir dulu pake otak kalau waktu itu bukan Anggara tapi arwah yang nyamar jadi sahabat gue," sambung kata Reyhan lesu.
Freya, Jova, dan Rangga saling menatap lalu menoleh menatap ke Reyhan. Mungkin kejadian itu memang tidak bisa Reyhan lupakan selama-lamanya, semua itu akan terus ada di benaknya pada memori tersebut.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Reyhan turun dari motornya usai tiba di depan gerbang rumahnya, membuka gerbang rumahnya sedikit lebar lalu segera mengiring masuk motornya ke dalam. Rangga yang melepas pengait helmnya langsung kemudian berlari menahan motor Reyhan yang sedang menggiring motornya ke dalam pekarangan rumahnya.
"Rey bentar!" tegas Rangga.
Reyhan menoleh ke Rangga yang menahan jok belakang motornya. "Apa?"
Rangga menghela napasnya lalu mengembuskan napasnya pelan. "Rey lo kenapa sih tadi langsung pergi gitu aja pas Raka ngomong gitu ke elo? Iya gue tau lo trauma yang dulu, tapi gak gini caranya Reyhan!"
"Lo hampiri gue hanya karna protes kayak gitu, mending lo balik saja sana. Gue mau masuk ke dalem."
Rangga mengusap wajahnya kasar dengan satu tangan. "Sifat lo gini lagi sumpah! Gak habis pikir gue lo bakal kek begini lagi. Reyhan, lo gak bisa ngelupain semua peristiwa itu? Itu udah lama banget Reyhan, tiga bulan yang lalu. Lo gak bisa seperti itu terus-terusan."
"Meskipun Anggara sudah membaik disana, tapi awal dari kesalahan sampe Anggara masuk rumah sakit, gue kan!"
"Reyhan, gue mohon lo jangan kek begini, semua itu sudah terlewati. Anggara juga sudah memaafkan lo kan waktu dia sadar dari pingsannya."
Reyhan menyentuh keningnya dengan mendesis karena tiba-tiba kepalanya terasa pening entah kenapa. "Udah ya Ga, bentar lagi mau maghrib. Mending lo pulang balik ke rumah lo daripada kakak lo nungguin lo lama."
Reyhan melengos balik badan dan kembali menggiring motornya ke teras rumah, dengan langkah tak semangat Rangga berbalik badan juga untuk pergi ke rumahnya yang ada di samping rumah Jevran.
Usai standar-kan motornya di teras rumah, Reyhan menarik kunci motornya dari tempatnya lalu ia masukkan ke dalam tas punggung abu-abunya lalu dengan langkahnya Reyhan berjalan dan akan membuka pintu rumahnya, akan tetapi sudah dibuka duluan oleh Jihan dari dalam.
Jihan terkejut sekaligus senang melihat anaknya telah pulang, namun wajah Reyhan nampak sedih tak seperti biasanya. Jihan yang meratapi Reyhan ikut berwajah lara namun setengah bingung ada dengan Reyhan hari ini.
"Nak kamu-"
"Assalamualaikum," salam Reyhan dengan bertautan tangan bersama Jihan dilanjutkan mencium punggung tangan sang ibu lalu secara lemas kemudian melewati Jihan dari samping.
"Waalaikumsalam ..." lirih Jihan sambil memutar badannya untuk memperhatikan langkah Reyhan yang tak semangat jika sudah ada di dalam rumah.
Farhan yang sedang menonton film horor sembari menyeduh teh melati hangat begitu menikmati. Bola mata Farhan mengarah ke kanan disaat Reyhan ada di sampingnya dengan membentangkan tangan ke depan.
"Eh anak Papa sudah pulang, gimana sekolahnya tadi?" tanya ramah Farhan seraya meletakkan cangkir mug transparannya ke atas meja.
"Assalamualaikum, normal aja Pa," singkat Reyhan dengan menyalami tangan Farhan lalu mencium punggung tangannya dengan sopan.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah kalau begitu, yaudah sini duduk temenin Papa nonton film Ghost Writer. Film indo kesukaanmu kan itu, hehehe."
Reyhan menatap layar televisi besar yang disana terlihat ada aksi adegan horor, memang benar film indo yang berjudul Ghost Writer adalah film favoritnya Reyhan namun kali ini ia merasa tidak mood untuk menontonnya.
"Nanti Reyhan nyusul."
Reyhan memutar sedikit badannya kemudian ia melangkah naik undakan anak tangga dengan sangat lesu dan amat lunglai. Farhan serta Jihan yang ada di bawah tangga melongo mengerutkan jidatnya masing-masing mengapa tingkah Reyhan sangat diam, tak seperti biasanya yang langsung petakilan berisik seperti monyet di hutan, namun ia begitu diam tak mengeluarkan sepatah kata apapun usai menjawab suruhan lembut dari Farhan serta mengucapkan salam pada Jihan di ambang pintu rumah.
Reyhan membuka kamarnya yang tertata rapi bersih tak berdebu, dirinya melempar tas punggungnya sembarang arah lalu kemudian ia membanting tubuhnya di atas kasur empuknya. Tangan kanannya ia letakkan di atas kening sembari mata kontaknya berpusat di langit-langit dinding.
Flashback On
"Rey, Freya kenapa-"
"Apa? Napa lo balik, hah??!!"
"A-apa maksud-"
"Gak usah pura-pura bego deh! Heh, apa lo gak inget? Lo udah nyakitin Freya sampe dia kesakitan, tau gak!!!"
"Gue nyakitin Freya? Sumpah Rey, gue gak ngelakuin itu! Lo tau sendiri kan, gue gak bisa kasar sama cewek terutama Freya! Sahabat kecil gue!"
"Alah omongan lo tuh basi! Disini ada saksinya!"
"Bener, lo sendiri yang bikin Freya nangis kesakitan. Lo nendang Freya sampe dia jatuh keras di lantai."
"T-tapi gue gak nendang Freya, gue bener-bener gak kayak gitu."
"Gue, barusan bebas dari satu arwah yang culik gue tadi. Sebelum itu, gue gak tau apa yang sudah terjadi sama kalian disini!"
"Gue tau, gue udah tau semuanya. Arwah itu sengaja menyamar menjadi gue, sehingga kalian ngira itu gue. Padahal Enggak. Posisi gue disaat itu, di sekap dalem rumah tua!"
"Maaf Ngga, gue gak mau percaya sama lo. Kenyataannya juga begitu, lo sendiri yang nyakiti Freya!!"
"Rey tolong percaya sama gue-"
"Tadi lo nonjok perut gue kan? Dan gue belum membalas perbuatan brengsek lo. Jadi, biar impas lo harus rasakan ini!"
JLEB !!!
JLEB !!!
"R-rey ..."
Flashback Off
Mengingat masa lalu itu, Reyhan langsung memejamkan matanya kuat dengan telapak tangan kanannya mengepal kuat, setelah itu ia lumayan menggulingkan badannya ke samping kiri dengan menutup wajahnya bersama kedua tangannya lalu meraup-nya kasar menyesal. Jika saja waktu itu ia mempercayai Anggara hal tersebut tak mungkin Anggara berada di rumah sakit dan berujung seperti sekarang. Apapun itu, menurut bagi Reyhan semua adalah kesalahannya dirinya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Hari yang telah berganti yaitu hari selasa masih dengan seragam berjas almamater logo SMA Galaxy Admara. Di jam pagi buta Reyhan sudah sampai di sekolah, ia memang sengaja tiba sekolah lebih awal dari biasanya.
Pemuda itu yang ingin membuka pintu kelasnya, tak bisa alias masih dikunci. Reyhan hanya menghela napasnya dengan menyandarkan punggungnya yang masih menenteng tas sekolahnya di pintu kelas. Ia memejamkan matanya santai dengan melempit kedua tangannya di dada, menunggu sang petugas sekolah datang membukakan pintu kelas yang masih terkunci.
Samar-samar Reyhan mendengar suara keroncongan beberapa kunci yang semakin lama terdengar di telinga Reyhan, sepertinya ada yang datang membukakan pintu kelas. Betul dugaan Reyhan, namun saat Reyhan membuka matanya yang datang adalah mang Asep.
"Loh Rey? Awal banget datengnya, habis kesambet apaan? Biasanya juga kamu suka mepet dateng sekolahnya."
"Sengaja Mang, Reyhan pengen awal dateng ke sekolahnya."
"Oh begitu toh. Eh aduh sssshh!"
"Eh kenapa Mang perutnya?!" Reyhan berdiri tegak dan menghadap mang Asep.
"Aduh gak tau nih Rey, tiba-tiba perut Mamang mendadak mules. Aduh nih kamu bawain kuncinya terus sekalian bukain ya, tolong ya Reyhan murid yang teladan hehe. Ssshh Mamang ke toilet dulu kayaknya ada panggilan alam."
"Reyhan Mang?! Aduh Mang tapi Mang-"
"Halah sebentar doang kok, udah ini terima kuncinya!"
Mang Asep menarik tangan kanan Reyhan ke atas dan ia berikan beberapa kunci pintu kelas ke atas telapak tangan Reyhan.
"Mang yang bener aja- y-yah malah udah lari ngibrit," lirih Reyhan menatap kepergian mang Asep yang punggungnya lama-lama sudah tak terlihat.
Reyhan menatap beberapa kunci yang bergantungan dengan membayangkan bagaimana nanti kalau ada siswa-siswa dan siswi-siswi lain ada yang tahu Reyhan menjadi penggantinya mang Asep. Reyhan sudah membaca pikiran anak-anak SMA disini pasti mereka akan meledek Reyhan habis-habisan terutama anak lelaki kelas X terlebihnya.
Reyhan lebih baik membuang parak pikiran negatifnya lalu mulai melakukan tugasnya dengan cepat sebelum para siswa dan siswi tiba.
Tetapi kendalanya, Reyhan bingung kunci mana yang pas untuk lubang kunci pada bawah kenop pintu kelasnya. Reyhan menepuk jidatnya baru mengingatnya bahwa di setiap pintu kelas pasti kuncinya tetap semua sama tak ada yang beda kecuali ruangan selain kelas murid untuk belajar.
__ADS_1
Reyhan penuh tergesa-gesa memasukkan kuncinya pada lubang kunci pintu lalu segera memutarnya ke kiri untuk membuka pintu kelas.
Cklek !
Reyhan tanpa lama-lama berlari menaruh tas pundaknya di bangku kursinya lalu melanjutkan tugasnya sebagai pengganti mang Asep sementara.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Kini Reyhan yang berpeluh keringat sedang membukakan pintu kelas X IPA 5 dimana itu adalah termasuk kelasnya Emily Michaela Sophia dan lain-lainnya. Namun secara tidak sengaja Reyhan menginjak sesuatu.
Srakk !
Reyhan yang akan memutar kunci itu ke kiri untuk membuka pintu kelas X IPA 5, terhenti disaat ia merasakan menginjak suatu secarik kertas tipis di bawah sepatunya. Reyhan mengangkat kakinya lalu mengambil kertas kusut tersebut di lantai.
Di dalam tertuliskan sebuah hinaan perkataan pedas dan sebuah perkataan yang amat kasar dengan ditambah tanda (!) menandakan bahwa yang menulis sangat penuh emosi terdalam.
Reyhan begitu kaget membaca semua tulisan berisikan caci maki hinaan pedas untuk seseorang, padahal Reyhan kira tadi itu adalah kertas surat cinta yang dikirimkan oleh burung merpati.
Bola mata Reyhan bergerak turun dikarenakan ada sebuah tulisan lagi dengan huruf kapital, lebih parah daripada cacian maki tulisan di atas. Membuat Reyhan yang membacanya semakin geram.
Reyhan mencengkram kertas lusuh kotor itu namun tulisannya masih bisa dibaca dengan jelas, Reyhan menduganya ada salah satu siswa atau tidak siswi dibully dengan cara memaki pedas secara tulisan di kertas yang Reyhan pegang.
"Goblok! Siapa yang berani nulis kata-kata gak bermakna seperti ini?! Sialan nih bocah, minta kena kick dari sekolah kayaknya!"
"Kakak," panggil salah satu siswi yang baru datang.
Reyhan tersontak kaget dengan reflek menoleh ke sumber suara, disaat tahu itu adalah Emily yang berwajah pucat serta banyak lebam di mukanya membuat Reyhan bertanya-tanya dengan nada risau dalam bicara hati.
"Eh Emily?! Kamu udah dateng ya, bentar-bentar Kakak bukakan pintu kelasnya dulu hehe."
Emily hanya diam mengangguk dengan kedua tangan ia posisikan di depan bersama kepala yang menunduk. Reyhan yang telah memutar kunci serta membuka pintu kelasnya langsung mempersilahkan Emily untuk masuk ke dalam.
"Silahkan Ly- eh kamu kenapa? Kok nunduk begitu?" tanya Reyhan.
"K-kak .. m-m-maafkan Emily s-s-soal kemarin ya K-k-kak, Emily t-tidak s-sengaja pas di rooftop."
Suara permintaan maaf Emily yang gagap karena takut Reyhan akan memarahinya, Reyhan dengan tersenyum lembut sembari berjongkok lalu mengelus puncak kepala adik kelasnya.
"Hei, nggak apa-apa kok .. Kakak sekarang baik-baik aja meskipun kemarin langsung kram perut Kakak. Udah ya gak usah gagap gitu."
Emily menatap mata Reyhan yang bersorot ramah. "Kakak nggak marah sama Emily?!"
"Hehehe ya enggak dong, buat apa Kakak marah sama kamu hmm? Udah gak usah takut begitu sama Kak Reyhan, Kakak tau kok pasti kemarin kamu lagi ada masalah. Oh iya kok muka kamu lebam gitu, itu kenapa Dek?"
Emily menyentuh pipinya yang lebam dan akan berbohong pada Reyhan. "Ehm, ini kemarin Emily jatuh Kak. Tapi Emily gakpapa kok."
"Hadeh kok bisa jatuh sih, kasian tuh muka cantiknya. Yaudah deh sana gih masuk ke kelas, jangan berdiri terus nanti kakinya kesemutan."
Sebelum pergi, Emily berjinjit untuk melihat isi kertas lusuh kotor yang di pegang Reyhan. "Kak, itu kertas apa?"
"Oh ini? Ini kertas Iblis Dek, gak tau yang nulis siapa. Nah coba kamu lihat tulisannya siapa, barangkali ini tulisan temen sekelas-mu."
Emily mencoba mengintip isi tulisan itu yang membuat ia penasaran, namun alangkah itu Emily terkejut setengah mati pada kertas tulisan cacian maki pedas begitu parah tersebut. Tanpa kata-kata lagi, Emily berlari melengos meninggalkan Reyhan yang sedang tengah memperlihatkan tulisan kertas tersebut dan sikap Emily berhasil membuat Reyhan bingung tak mengerti ada apa dengan Emily. Reyhan menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari melihat Emily berlari dalam kelas.
"Lah kok malah lari sih? Apa gue udah salah sama dia? Atau karna tulisan ini? Tapi apa hubungannya sama Emily?"
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Rangga yang telah tiba di kelasnya berjalan ke bangku untuk meletakkan tas punggung coklatnya di kursi, namun mata Rangga berpusat langsung dulu ke bangku Reyhan yang kosong tetapi tasnya ada disitu.
"Lah? Tasnya ada tapi kok orangnya gak ada?"
"Siapa yang gak ada Ga?" tanya Freya menghampirinya yang masih menenteng tas pundak putihnya.
"Eh hai Frey, itu si Reyhan .. dia kemana ya kira-kira? Soalnya tasnya ada disini tapi orangnya gak ada."
"Paling juga tuh anak pergi ke toilet kalau nggak ke perpustakaan," celetuk Jova yang juga baru datang usai Freya.
"Selama itu?? Orang aku yang udah lama disini, si Reyhan belum balik-balik kok." Jevran menimpali ucapan Jova.
"Lah terus dia kemana dong?! Masa iya sih dia pergi dari sekolah."
"Boro-boro pergi dari sekolah, itu si Reyhan kalau hatinya lagi buruk atau lagi ada masalah, pasti hilang tanpa kejelasan pasti. Udah terbiasa aku sama Reyhan Kunyuk satu itu."
"Emangnya gitu Va??"
Yang dibicarakan langsung tiba datang di kelas lalu menyandarkan punggungnya karena sangat letih, beberapa menit ia membukakan semua pintu kelas sementara kunci yang bergantungan dengan kunci lain telah Reyhan berikan pada mang Asep disaat beliau ada di lokasi taman sekolah.
Pemuda itu mengelap keringatnya tanpa memedulikan temannya serta kedua sahabatnya menatap ia, yang pasti ia sangat begitu capek pagi ini. Setelah itu Reyhan berdiri tegak lalu pergi ke kursi bangkunya untuk mengambil botol Tupperware berisi air minum dari kantung tas di bagian samping. Reyhan membuka tutup botol merk-nya kemudian segera meneguk minumnya hingga sampai setengah.
"Hosh ... lega," ucap Reyhan dengan mendongakkan kepalanya usai menutup kembali botol minum.
Rangga yang ada di jauh sampingnya mencoba menghampirinya dan menanya begitupun dengan yang lainnya.
"Rey? Keringetan begitu, lo habis dimana?"
"Kalo gue jawab, pasti lo semua ketawain gue. Ogah gue."
"Ck halah gue udah tau itu mah, lo jadi calonnya mang Asep kan gantiin pekerjaannya tadi hehehe," ujar Aji cengengesan.
Reyhan menatap Aji dengan penuh tampang terkejut. "Anjir mulutnya! Terus itu lo tau darimana?!"
"Rendy kelas sepuluh IPA empat, barusan tadi dia datang ke kelas sini ngomong soal lo yang jadi petugas baru calon teladan terhormatnya mang Asep."
Dalam hati, Reyhan sungguh kesal pada Rendy Rio Alviano siswa kelas X IPA 4 kalau ngomong suka mengumbar-umbar seperti mulutnya perempuan.
'Anying itu anak satu, minta di sliding beneran dah.'
"Oh oke."
"Singkat bener lo kek tulisan WA?!"
Reyhan tak menggubris pada lontaran Andra, dirinya dengan tampang serius mengeluarkan kertas lembar tipis lusuh yang ia temukan di depan kelas X IPA 5.
"Itu kertas apa Rey yang kami lipat-lipat?? Kertasnya juga udah kotor banget tuh."
Reyhan membuka kertas itu yang ia lipat tanpa menjawab Freya terlebih dahulu, namun Jova yang tak melihat kondisi Reyhan yang tengah intens malah berkomentar sekaligus meledeknya.
"Kotor banget anjir! Gilak asli sih, ini Reyhan ambil kertas dari tong sampah. Apa gak bau tuh tanganmu?"
"Bisa diem? Ada yang ingin aku omongin sama kalian bertiga, hanya kalian bertiga yang lain mending sana pergi."
'Dih, bisa jadi cowok dingin juga rupanya sama cueknya juga. Jangan-jangan jiwa Reyhan ditempeli jiwanya Anggara kali yak. Bisa banget sifatnya begitu hih ngeri,' batin Jova.
"Idih ngusir ini ceritanya?! Yaudah oke kita minggat gak ikut campur urusan kalian bertiga." Setelah mengutarakan kata itu, Joshua mengajak temannya sekaligus menjauhi Reyhan sementara.
"Omong penting apa Rey?" tanya Freya sungguh-sungguh.
Reyhan melebarkan kertas tipis itu ke tengah meja dan jari telunjuknya menuding sebuah beberapa kalimat hinaan pedas yang membuat menohok hati.
Tulisan itu mampu membuat Freya, Jova, dan Rangga terkejut bukan main. Freya serta Rangga bersamaan membaca kalimat panjang sebuah makian pedas dengan membatin sedangkan Jova langsung membacanya di bagian kalimat pada semua huruf kapital berisi keinginan ia pergi dari dunia ini.
"Anjing! Siapa woi yang nulis kek beginian!" sarkas Jova berang.
Reyhan menggeleng kepalanya tak tahu. "Makanya itu aku tanya kalian, adakah teman sekelas kita menulis kata jahat begini. Tapi aku rasa gak ada sih."
"Oh iya waktu itu sudah diperingatkan untuk tidak membully, perkataan ini sama saja menghujat habis-habisan sampai ada yang menginginkan seseorang itu cepet mati. Di mading sudah di pajang sama anak-anak sekolah ini berupa poster untuk mengingatkan stop bullying or don't bully. Apa ada yang berani melanggar aturan sekolah disini?"
Ketiga remaja itu menggeleng pasti dan Freya langsung menjawab Reyhan. "Aku jarang banget lihat di sekolah ini ada kasus pembullyan, bahkan sekarang gak pernah loh."
"Oh iya guys, Kyra udah berangkat sekolah nih. Mungkin sekarang udah nyampe kelas."
"Wah yang bener Frey?! Kyra udah kembali sekolah?! Wih pasti Emily seneng banget tuh sahabatnya dah balik."
"Iya Va, soalnya tadi pas di lobby sempet bertemu Kyra, dan aku kira Kyra belum saatnya masuk eh ternyata dugaan ku salah."
Rangga tersenyum pada Freya lalu menoleh menatap Reyhan. "Lalu mau lo apain ini kertas?"
"Gue simpen, barangkali ini suatu bukti kalau ternyata disini ada pembullyan yang kita semua gak tau," ujar Reyhan dengan melipat kertas tersebut lalu segera ia masukkan ke dalam saku kantung celana SMA-nya.
Soal Emily tadi yang tiba-tiba berlari dengan ekspresi terkejutnya meninggalkan Reyhan usai melihat dan membaca semua perkataan pedas. Reyhan berpikir, mungkinkah kertas itu ada hubungannya pada Emily. Terlebihnya lagi luka lebam di wajah Emily terlihat habis dipukul oleh seseorang tetapi yang jelas bukan bundanya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di jam istirahat, sebagian ada murid yang pergi ke kantin termasuk Reyhan, Freya, Jova, dan juga Rangga yang sudah berada di persinggahan duduknya. Mereka bertiga sedang menikmati roti bakar rasa aneka yang kembar yaitu cokelat.
"Rey Reyhan, kamu bisa nggak sih kalau jadi cowok jangan dingin, cuek kek Anggara. Tau sendiri kan kalau kamu seperti itu yang ada suasana jadi kuburan China."
Reyhan menghela napasnya pada ucapan Jova yang rada lesu, yang Reyhan rasakan sepertinya Jova tak ingin kalau sifat Reyhan bukan sifatnya. Gadis tomboy itu lebih suka melihat sifat pemuda ini yang rese penuh humoris yang mewarnai dunia.
"Kamu maunya gimana?" tanya Reyhan.
"Ya jangan gitu! Masalah tentang tiga bulan yang lalu aja sampe kamu puter otak. Lagian buat apaan sih kamu simpan memori ingatan gak penting itu? Bikin masalah hidup doang."
Reyhan memutarkan bola matanya pelan. "Apa aku salah lagi?"
"Enggak sih, tapi yang aku dan yang lain pengen kamu lupain semua masa itu. Anggara udah baik-baik aja, Anggara udah maafin kamu .. buat apa kamu sedih lagi?? Hapus aja dari otakmu, Nyuk."
Reyhan menghembuskan napas dengan memejamkan matanya. "Maaf, aku sudah berlebihan, tapi yang ngerasain itu aku bukan kamu apalagi Freya, Rangga dan teman-teman kita yang waktu itu ada di Villa. Kamu pasti bisa rasain seberapa penyesalannya aku terhadap Anggara."
Reyhan bangkit dari kursi dan hendak melangkah pergi, namun alangkah ia akan melangkah dicegat mulut oleh ketiga remaja tersebut.
"Reyhan kamu mau kemana lagi?! Masa gitu aja langsung pergi lagi sih??"
"Aku mau ke perpus bentar Va, pinjem buku novel yang minggu lalu rilis. Takutnya kalau malah dah pinjem itu buku."
Freya bernapas lega. "Oh gitu, yaudah deh sana. Tapi nanti balik kesini lagi ya Rey."
"Iya," jawab singkat Reyhan lalu berlari dari kantin untuk menuju ke ruang perpustakaan.
Di lorong kelas, Reyhan mendapati Kyra yang memanggilnya dengan sebutan 'kakak'. Reyhan berhenti berlari lalu menoleh ke belakang.
"Kyra?"
Itu adalah Kyra, Kyra Letica Francesca siswi kelas X IPA 5. Kyra berlari menghampiri Reyhan yang ada di jauh depannya lalu berhenti saat sudah berada di dekatnya.
"K-kak! Hosh ... hosh ... hosh ..."
"Eh kenapa?? Atur napasnya dulu baru ngomong, kamu ini pake lari-lari segala. Capek kan tuh," ujar Reyhan cengengesan.
Kyra membungkukkan badannya untuk mengatur napasnya sampai normal lalu kembali berdiri tegak menatap kakak kelasnya yang terkenal friendly itu.
"Kak Reyhan, Kyra mau tanya dong."
"Iya boleh tanya Ky?"
"Ehm, gini tadi kan pas jam istirahat Emily masih ada di kantin sama Kyra, nah pas Kyra lagi ke bibi kantin Emily sudah gak ada Kak. Kakak Reyhan tau nggak Emily sekarang dimana? Gak seperti biasanya Emily pergi tidak bilang-bilang dulu."
"Oh gitu, hmm coba kamu cari dulu ke kelas .. bisa aja Emily ada di dalam sana."
"Ih udah Kak, Kyra sudah cari Emily dimana pun loh. Emily tetep gak ada. Duh gimana dong Kak, mana HP-nya gak dibawa lagi."
"Tenang dulu, kamu jangan panik seperti itu. Mending kamu emm coba cari dulu di kantin, oh atau kamu tanya kak Freya atau nggak kak Jova gih barangkali di salah satu antara mereka berdua lihat sahabat kamu, mumpung mereka berdua masih di kantin."
"Ehm, yaudah deh Kak coba Kyra kesana dulu. Makasih ya Kak Reyhan, oh iya ini Kakak mau kemana?"
"Biasa lah, pinjem buku novel di perpus hehehe. Yaudah buruan gih ke kantin, Kakak duluan yaa."
"Siap Kak, hati-hati yaa."
"Yoi cantik."
Reyhan berbalik badan dan kembali berlari menelusuri lorong-lorong setiap kelas dan ruangan, sementara Kyra berlari menuju ke kantin untuk menanyakan Freya ataupun Jova kemana Emily berada.
Sesampainya di dalam perpustakaan, lagi-lagi ruangan tersebut selalu sepi. Entah mengapa banyak yang jarang membaca buku di perpustakaan, tak seperti Reyhan setiap selalu on time pergi ke perpustakaan untuk membaca buku novel pada genre yang ia sukai dan ia minati. Di dalam perpustakaan, Reyhan mencari rak buku novel yang kemarin hari jumat yang lalu ia baca sampai tiba-tiba Reyhan melihat pak Arya sedang menata-nata buku novel terbaru lagi, tak ayal Reyhan dengan senyuman ramah menghampiri guru tersebut.
"Assalamualaikum Pak Arya."
Pak Arya yang sibuk mengambil satu buku novel dan akan ia letakkan tegak rapi di rak buku khusus novel, dengan reflek menoleh ke Reyhan bersama jawab salamnya.
"Waalaikumsalam Reyhan."
Reyhan mengintip beberapa buku novel yang masih ada di kardus bersih, lalu karena jiwa penasarannya meninggi siswa itu menanyakan kepada sang guru penjaga ruang perpustakaan.
"Sudah Bapak duga, kamu bakal dateng ke perpustakaan."
"Wah sampe hapal saya datang kesini jam berapa, emangnya Bapak kasih alarm?"
Pertanyaan Reyhan mampu membuat pak Arya yang sedang menata buku novel ke dalam rak tertawa geli.
"Ya enggak lah Rey, masa dikasih alarm. Lagian Bapak masih ingat kok gak lupa, namanya juga guru magang."
"Iya Pak saya juga tau itu. Oh iya Pak yang Bapak pegang itu buku novel apa? Kayaknya covernya menarik tuh."
Pak Arya mengeluarkan salah satu buku novel tersebut yang akan beliau ratakan di rak. Pak Arya dengan santai membaca judul buku tersebut yang memang judulnya dan covernya membuat tertarik pada pembaca buku.
"Ini judul novelnya Travel Time Dimension Of Death, buku keluaran terbaru Rey."
Mata Reyhan berbinar. "Wih kece! Mau dong Pak saya pinjam!" Reyhan membentangkan kedua tangannya dengan semangat.
"Hahaha, oke. Soal buku novel aja cepetnya minta ampun, yaudah ini pinjem aja. Inget ya harus dikembalikan minggu depan."
"Aman itu Pak ganteng- eh?!"
Mata Reyhan terbelalak saat ia lihat luar jendela kaca perpustakaan ada sesuatu yang jatuh seperti raga manusia. Reyhan yang berekspresi wajah terkejut langsung menyerahkan buku novel genre misteri yaitu Travel Time Dimension Of Death ke tangan pak Arya hingga pak Arya sendiri bingung pada murid kesayangannya itu.
"Kenapa Rey? Gak jadi pinja-"
"Pak, bukunya tolong simpan untuk saya ya Pak! Besok atau gak nanti saya kesini lagi buat pinjam buku novelnya!"
"O-oke, lah itu anak kenapa tiba-tiba begitu sih?"
Pak Arya yang mengenakan pakaian jas rapi berdasi mengerutkan keningnya dengan menggaruk tengkuknya pada keanehan muridnya yang sudah berlari kencang meninggalkan beliau serta ruang perpustakaan. Pak Arya mencoba melihat ke arah jendela kaca yang ada di belakangnya.
"Orang tidak ada apa-apa di sana, apa Reyhan melihat makhluk tak kasat mata?"
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Reyhan kini berlari cepat sampai di lobby sekolah, pemuda itu melanjutkan pergi ke parkiran roda dua ialah motor. Disana Reyhan melihat ada salah satu siswi di aspal posisi badannya terlungkup dengan bersimbah darah sampai darah segar tersebut mengalir membasahi jalan beraspal parkiran motor. Dengan langkah nyali yang ia kumpulkan menjadi berani, Reyhan bertekad melangkah ke siswi tersebut yang tak bergerak.
Langkah sedikit demi sedikit, Reyhan akhirnya sampai di depan siswi itu yang di bawah mukanya sudah berlumuran darah menodai aspal parkiran motor. Reyhan menelan salivanya susah payah lalu berjongkok di hadapannya, tangan yang lumayan bergemetar Reyhan coba balikkan tubuh siswi itu.
Jantung Reyhan berdetak sangat cepat mengetahui itu adalah siswi kelas X IPA 5 yang mukanya penuh berlumuran darah sementara kepalanya telah bocor. Napas Reyhan naik turun mode kilat sembari meratapi siswi kelas tersebut yang tak bergerak menutup mata terutamanya seluruh wajahnya berlumuran darah segar sementara seragamnya kotor berdebu.
"Emily Michaela Sophia??!!"
"B-bunuh diri??!!"
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1