
Agra yang mendengar celetuk Andrana begitu tak menyangka istrinya akan berkata seperti itu. “Mama sudah gila, ya?! Maksud Mama apa sih, hah?! Mama dengan seenaknya ngomong begitu, Indigo yang ada di dalam diri Angga itu untuk menjaga keselamatan anak kita! Kelebihan itu juga mencegah Angga dari segala marabahaya!”
Andrana melepaskan genggamannya dari telapak Angga dan menatap melotot pada Agra yang juga mendelik karena terkejut. “Menjaga keselamatan dan mencegah Angga dari segala marabahaya?! Apa ini yang Ayah maksud??!! Ayah gak lihat keadaan anak kita seperti apa?!”
“Ini sudah cukup mengancam nyawa Angga, lho Ayah! Kita pernah hampir saja kehilangan anak kita satu-satunya karena peristiwa di waktu yang lalu! Ayah ingat, kah??!!”
“Ayah ingat, kok! Tapi nggak perlu sampai marah-marah begini, Ma! Ayah intinya tidak setuju kalau Indigo Angga dicabut! Mama pastinya nggak mau nyesel, kan apa yang terjadi kalau Mama bertekad melepaskan kelebihan Angga yang sudah Angga kuasai bertahun-tahun?! Please Ma, coba pikir dengan akal sehatmu!”
“Lalu, Ayah pikir pikiran akal Mama seperti apa?! Gak waras, iya?!”
“Eh, ya ampun! Enggak begitu maksud Ayah, Ma! Aduh, Mama itu-” Agra menghentikan suara nada geramnya dan mengusap wajahnya kasar. “Cuman diserang kepanikan yang buat Mama sendiri bertekad sekonyol ini!”
Andrana menatap sengit Agra yang menegurnya lalu membuang mukanya dari suaminya. “Huh, terserah Ayah saja!”
Andrana melengos meninggalkan Agra begitupun Angga yang masih terbaring lemah di ranjang pasien, Agra memperhatikan kepergian istrinya yang akan menuju kemana. Begitu tahu Andrana membuka kencang pintu kamar rawat, Agra menahan istrinya dengan lantang suaranya.
“Eh Mama mau kemana, Ma?! Ini sudah larut malam-”
BRAK !!!
Istrinya membanting pintu kamar rawat no 110 dengan kencang membuat Agra reflek sedikit melompat terperangah. benar-benar, hati dan pikiran sang ayah Angga menjadi kalut karena situasi malam hari ini. Agra mengacak-acak rambutnya frustasi di sebelah anaknya yang masih senantiasa pejam mata.
“Astagfirullah, sebenarnya aku nggak mau situasinya jadi seperti ini! Tapi kenapa malah jadi begini?!”
Kepala Agra bergerak melihat ke arah pintu dan Angga bergiliran dalam bingung mengejar istrinya yang telah pergi atau menjaga anaknya.
“Haduh Angga bagaimana?! Masa aku tinggal?! Tapi kalau aku biarin Andrana malah terjadi sesuatu yang enggak-enggak.”
Agra tak mempunyai pilihan lain selain mengejar kemana Andrana pergi. “Ngga, Ayah tinggal sebentar ya.”
Setelah menepuk pelan bahu kanan untuk meninggalkan Angga dalam waktu sekejap, Agra melenggang pergi berlari meninggalkan anaknya begitupun ruang perawatan sang putranya. Pria berusia 50-an tahun tersebut tak mungkin mendiamkan sang istrinya apalagi ini masih sangat malam dan tentunya tak baik untuk istrinya yang malah keluar pergi di waktu pukul 00.00
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Koridor RS Wijaya Lantai 1
Andrana melangkah dengan mendekap tubuhnya yang berpakaian baju sweater, tentunya mampu menghangatkan tubuhnya meski masih terasa dingin karena angin tengah malam.
Wajah Andrana sama sekali tak menampilkan senyumannya tetapi memperlihatkan muka muramnya yang jelas. Rambut panjang hitamnya yang tergerai terus tertiup semilir angin, hanya membutuhkan ketenangan hati dan pikirannya terhadap kondisi anaknya.
Wanita berparas cantik itu meski umurnya sudah 40-an tahun menghembuskan napasnya lelah dan berbalik badan untuk mencari suasana yang membangun hatinya menjadi membaik, namun saat telah balik badan Andrana berpapasan sosok pria berupa wajah menyeramkan dan membuat Andrana terjengkang ke belakang karena amat terkejut. Muka Sang ibu Angga menunjukkan ketakutan mencolok-nya.
“Huwaaa!! MasyaAllah ada hantu!” Andrana menelungkup wajahnya dengan kedua lipatan tangannya dalam posisi wanita itu terjongkok dengan tubuh bergetar karena takut akan arwah yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Di belakang Andrana terdengar hentakan kaki berlari ke arahnya, langkah kaki besar seperti langkah kaki pria. Karena posisi wanita tersebut tengah diliputi penuh rasa ketakutan, beliau tak bisa menerawang siapa yang berlari ke Andrana bahkan Andrana menggunakan negatif thinking-nya bahwa yang mengarah ke dirinya adalah sosok hantu yang memberikan teror untuknya.
Pria itu berhenti berlari di tepat belakang punggung Andrana sementara Andrana detak jantungnya berpacu lebih cepat, pikiran buruknya terus menggerogoti otaknya.
“Jangan ganggu istri saya.” Suara dingin nada berat terdengar familiar di telinga Andrana, membuat wanita tersebut membuka wajahnya dari kedua tangannya dan menolehkan kepalanya lalu memandang ujung bawah pria itu hingga ujung kepala.
“Ayah!” Andrana beranjak bangun berdiri cepat dan mendekap tubuh suaminya dengan erat yang perasaannya dibelenggu ketakutannya pada arwah menyeramkan itu.
Agra membalas pelukan Andrana dengan satu tangannya, sedangkan pandangannya tak terlepas dari arwah pria itu yang mengenakan kemeja putih lumuran darah lusuh kotor serta dilapisi dengan jas hitamnya. Arwah itu juga menatap Agra namun tatapan datar.
“Tolong jangan ganggu istri saya,” perintah Agra dengan nada dingin serta wajah datarnya.
Arwah pria kantoran itu menganggukkan kepalanya lambat. “Saya hanya ingin lewat, dan saya tidak berniat menganggu istri anda. Maafkan saya telah membuat istri anda takut karena rupa saya.”
Agra mengangguk kemudian arwah beraura tak mencurigakan itu melewati raga tubuh Agra dan Andrana secara tanpa melangkahkan kakinya melainkan kaki yang tak menapak di lantai. Andrana yang merasakan arwah itu melewatinya, semakin mempererat pelukannya saking takut dan ngerinya.
Agra sedikit memutar badannya ke belakang untuk melihat kepergian arwah menyeramkan dari sosok pria itu yang menuju ke jalan lurus. Hingga di beberapa kilometer, hantu tersebut menghilang dalam sekejap mata dengan menyisakan butiran debu dan asap putih yang mengiringi kepergiannya entah kemana.
Agra menghela napasnya dan membalikkan badannya menghadap depan lalu kepalanya menunduk untuk menatap Andrana yang tengah menyembunyikan wajah cantiknya di dada bidang suaminya yang dilapisi kaus warna polosnya.
“Ma, hantunya sudah pergi. Mama nggak usah takut lagi,” ujar Agra bernada hangat seraya mengelus rambut halus bagian belakang istrinya.
Andrana langsung menarik wajahnya dari dada Agra dan melepaskan pelukannya. Wanita itu masih antisipasi kalau masih ada arwah yang membuat dirinya takut hanya karena wajahnya begitu menyeramkan.
“Dibilang juga, arwahnya sudah nggak ada, Ma. Sekarang hanya ada Ayah dan Mama di sini.”
Andrana yang getir mengalihkan pandangannya dari ketakutannya dan menatap mata Agra. Mata suaminya yang mampu menenangkan hatinya dan pikirannya, sepertinya Agra menggunakan aura yang menghipnotis membuat nyaman di setiap menatap matanya.
“Mama ngapain sih pakai acara jalan jauh-jauh segala? Lantai satu, lagi. Emangnya Mama gak takut kalau ditangkap setan?” canda Agra.
Otak konyol suaminya memang telah terkena virus jalan pikiran Farhan si papanya Reyhan yang menular ke Agra. Lihatlah saja, di segala tingkahnya banyak sekali yang membuat geleng-geleng kepala. Andrana yang mendengar ucapan suaminya hanya merenggut bibirnya.
“Mama minta maaf sama Ayah.” Agra menjadi terdiam pada lontaran Andrana yang istrinya utarakan. “Kayaknya Ayah benar kalau nggak seharusnya Angga dilepas kelebihannya yang sudah Angga pertahankan sejak kecil.”
“Eh? Berubah pikiran, ya?” tanya Agra dengan cengengesan.
“Mama juga minta maaf soal kita yang sampai berdebat tadi, Mama ngaku salah, Yah.” Andrana tak menggubris pertanyaan Agra dan masih menguntaikan kata permintaan maaf atas kesalahannya pada Agra.
“Iya, Ma. Ayah maafin kok, Ayah paham kenapa Mama bisa seperti itu tadi. Sudah ya, Ma lupakan saja soal yang itu.”
“Sabar banget menghadapi istrimu yang sifatnya kayak seperti ini ...” gumam lirih Andrana.
Agra yang masih bisa mendengarnya, membentang kedua tangannya untuk menarik tubuh Andrana ke dalam pelukannya. “Mama kan istri tercintanya Ayah. Gitu-gitu Ayah mudah sabar, kok.”
“Itu memang dasarnya Ayah sendiri yang hebat bersabar dan juga sama pemberani menatap hantu itu, padahal mukanya seram, lho.”
Agra dibuat tertawa pelan oleh istrinya yang bernada cicitnya. “Sudah yuk, kita ke kamar rawatnya Angga. Kasian anak kita sendirian di lantai sana. Mama juga habis ini istirahat, oke? Mama nggak boleh capek-capek nanti bisa sakit, Ayah juga yang repot.”
“Oh begitu, ya? Yasudah deh.”
“Eh enggak Ma! Bercanda Ayah, hehehehe. Kalau semisalnya Mama sakit, Ayah bakal setia ngerawat Mama sampai sembuh, karena Ayah cinta banget sama Mama.” Agra dengan mesranya meletakkan pipi bagian kanannya di atas kepala istrinya manja.
“Mama nggak perlu cemas lagi, ya ... Angga akan baik-baik saja sesuai apa kata dokter. Percayalah.”
Andrana tersenyum simpel mengangguk dan merasakan kenyamanan cinta di pelukan suaminya. Setelah itu Agra mengangkat kepalanya dari Andrana, melepaskan pelukannya kemudian lalu membawa istrinya pergi dari koridor RS Wijaya yang sepi dan menjadi terkesan horor.
Di perjalanan menuju ke lift utama, Agra tetap bersikap manis dan mesra kepada Andrana, istrinya yang diperlakukan seperti itu malah tersipu malu hingga kedua pipinya sedikit menampakkan merah merona. Meskipun telah menjadi suaminya, namun Andrana masih asing dengan sikap-sikap Agra yang jauh berbeda dari yang dulu. Dulu saat tahun dimana mereka masih masa muda, Agra begitu cuek dan memiliki sikap yang menyebalkan tetapi tahun kini yang mana mereka berdua berumur tua Agra malah justru sikapnya berubah menjadi bucin.
Tapi tidak apa-apa lah, itu juga mempererat ikatan hati mereka hingga kekal abadi. Dan Bersyukurlah percekcokan antara Andrana serta Agra telah selesai sudah, mereka sebetulnya pula tidak pantas sekali berdebat tetapi cocoknya saling menjaga satu sama lain dalam rumah tangga serta melindungi keselarasan keluarga.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Pagi pukul 07.00 Kamar Rawat 114
Reyhan yang telah sudah di kursi rodanya ingin menjumpai Angga di Kamar rawat 110, cukup jauh tetapi untungnya satu lantai tempat dirawatnya. Farhan yang matanya sayu karena kemarin asyik begadang menonton film Barat Action di salah satu channel Televisi, yang jelas di RS Wijaya ada parabola untuk menikmati berbagai channel film luar negeri.
“Makanya Pa, tidur tuh tidur. Bukan malah begadang semalaman, masih ngantuk, kan.” Reyhan menegur Farhan dengan nyengir.
“Film-nya bagus, lho Rey. Oh iya kamu mau nyamperin Angga di kamar rawatnya? Ayo Papa anter.”
“No need, Reyhan bisa ke sana sendiri, kok. Papa sama mama nikmati mimpinya aja. Daripada kesepian gak ada temen, mending jumpai tetangga bae.”
“Sejak kapan Angga tetanggamu?” tanya Farhan yang nyaman senderan di sandaran kursi sofa.
“Sejak kemarin. Ya jelas dong, Pa. Tetangga rumah sakit hehehe, orang satu lantai. Coba aja kamar rawatnya Angga di nomer seratus tiga belas, cuman nyebrang doang bakal langsung sampe.”
Farhan terkekeh pada penuturan anak putranya yang ngoceh di pagi hari ini. “Yasudah bentar, Papa bukain dulu semua pintunya.”
Farhan dengan niat segera menegakkan badannya dan kemudian beranjak berdiri melangkah membuka dua daun pintu kamar rawat tersebut supaya mempermudah Reyhan untuk lewat bersama kursi roda yang anaknya pakai.
“Yakin nggak mau Papa antar? Lumayan jauh lho, nanti yang ada kamu kecapekan,” tanya dan kata Farhan usai membuka kedua pintu dengan lebar.
__ADS_1
“Hahahaha, cuman jalan doang ke sana mah kecil, lah.” Ucapan Reyhan yang menjawab Farhan membuat Farhan cengar-cengir seraya mengangkat kedua alisnya ke atas. “Jalan? Kamu kan pakai kursi roda, hahaha kamu itu, Nak.”
“M-maksudnya jalan gunain kursi roda, Papa gantengnya Reyhan.”
“Ooohh, yaudah kalau gitu. Hati-hati ke sananya. Nanti Papa sama mama nyusul ke kamar rawat sahabatmu, oke?”
“Mantap, Pa!” Reyhan memberikan acungan jempol di tangan kanannya lalu meninggalkan Farhan serta Jihan yang mamanya sedang menikmati tidurnya.
Di lorong lantai 4, Reyhan begitu bersemangat untuk menemui sahabatnya yang tengah juga sakit di kamar rawat 110, nomor angka yang mundur dan tentunya Reyhan mengambil jalan belok kiri. Sebenarnya sulit menjalankan kursi rodanya yang ia duduki, karena baru 2 hari ini lelaki tampan itu menggunakan kursi rodanya.
Di jalan pandangan mata menghadap depan, di arah jalan pembelokan menuju lift, dari kejauhan Reyhan melihat lima anak gadis kecil kembar dengan memakai gaun hitam panjang yang seiras tengah berlari secara berbaris bersama tawa riangnya. Namun di selang detik kemudian, semacam lubang portal putih muncul dan kelima gadis kecil manis itu memasuki portal cahaya putih sedikit keabu-abuan. Portal tersebut menghilang kompaknya setelah lima anak kecil itu masuk ke dalamnya.
Sontak saja membuat Reyhan amat terkejut yang dirinya menghentikan kursi rodanya. Menatap tak percaya apa yang ia lihat barusan. Lubang cahaya portal? Lima gadis kecil? Berhasil Reyhan berpikir keras siapa lima anak itu.
“Siapa mereka tadi?! Apa itu dunia portal?!” Mata Reyhan seketika terbelalak. “Jangan-jangan lima anak perempuan itu, arwah?!”
“Aura mereka positif, bukan aura negatif! Tapi kenapa gue bisa lihat mereka yang positif?! Biasanya kan gue bisa lihatnya kalau aura arwah itu yang berenergi negatif!”
Reyhan menelan salivanya dengan susah payah tak menduga pada inderanya terkini. “Apa sekarang gue bisa ngeliat semua jenis hantu?! Tapi kan gue bukan cowok Indigo kayak sahabat gue. Agh! Sudahlah ngapain gue pikirin hal begituan, bikin pusing doang yang ada entar!”
Reyhan menghalau pikirannya yang dirinya terselip penasaran pada apa yang ia lihat tadi. Toh, menanggapi hal yang bertentangan Supernatural membuat lelaki itu muak dan menutup minat kesukaannya dalam berbagai tentang berbau mistik. Reyhan memutuskan melanjutkan jalannya di kursi roda untuk menuju ke kamar rawat sahabatnya.
Namun saat telah sampai di depan pintu kamar rawat no 110, mata Reyhan bertemu Agra yang telah membuka pintu dan hendak pergi meninggalkan kamar rawat anaknya. Agra tersenyum lebar pada Reyhan dan langsung dibalas sahabat dari anaknya dengan senyuman penuh.
“Mau masuk ke dalem? Om udah tahu itu.” Dengan nyengir Agra tangkas membuka pintu sebelah kiri yang posisinya masih tertutup. Membukanya lebar-lebar agar Reyhan mudah memasuki ruang perawatan Angga.
“Tau aja Om Agra. Eng .. ngomong-ngomong Om mau kemana pagi jam segini?” tanya Reyhan tak berpaling dari ayahnya Angga.
“Mau beli bubur ayam di depan rumah sakit. Kenapa? Kamu mau Om beliin bubur ayam?” Kini giliran Agra yang bertanya.
“Eh, nggak usah Om! Gak perlu repot-repot, lagian Reyhan nggak lapar, kok hehehe.”
“Yakin, nih? Bisa aja mulutmu bilang nggak lapar, tapi hatimu bilang lapar. Hayo, iyakan?”
“Apaan dah, Om. Enggak kok, beneran suer beneran.”
“Hehehe, yasudah kalau gitu. Om ke sana dulu, ya. Jangan lupa siapin hati pas masuk ke dalem.” Reyhan mengerutkan keningnya tak mengerti mengapa Agra mengucapkan kata tersebut, sementara Agra telah melenggang pergi meninggalkannya.
“Maksudnya apaan, anjir?”
Reyhan mendengus dengan sedikit menipiskan bibirnya seraya matanya melirik menengok dalam ruang rawat Angga. Reyhan yang ingin tahu kembali menjalankan kursi roda miliknya selama masih mengalami kelumpuhan. Disaat menjalankannya hingga sampai ambang pintu kamar rawat sahabatnya, Reyhan terdiam sejenak sekaligus menghentikan kursi rodanya, melihat Angga yang seperti terbaring lemah dengan bantuan alat oksigen pernapasan yang terpasang di indera penciuman hidungnya.
‘Dia kenapa lagi ...?’
Perasaan Reyhan tak enak, menatap Angga dari jauh yang wajahnya sungguh pucat melebihi pucat-nya pemuda friendly tersebut. Baru saja akan melanjutkan ke dalam ruang, pandangan Reyhan teralihkan pada Andrana yang mendekati ranjang pasien tempat Angga terbaring.
“Nak Reyhan?!” kaget Andrana Reyhan yang ada di sebelahnya saat sedang mengelus surai rambut Angga.
“Hehehe maaf Tante. Kaget ya- lho eh! Mata Tante kok bengkak gitu? Tante habis nangis, ya?!”
Tak menunggu jawaban Andrana yang pertanyaan kejut Reyhan di gubris, pandangan Reyhan menelisik menatap seluruh muka Angga yang amat pucat. Hela napas dada yang gerak lambat, sekujur tubuhnya yang terlentang lemah apalagi Andrana yang usai menangis. Sudah ketebak di pikiran Reyhan.
‘Fix! Ini pasti Angga kenapa-napa lagi, Nih! Gak mungkin nalar gue salah.’
Andrana yang bisa mendengar relung hati Reyhan, melepaskan tangannya dari surai rambut anak semata wayangnya dan menyeka air matanya yang nyaris terjatuh. Melihat ke arah Reyhan yang ceria menjadi gelisah.
“Nalar kamu benar, kok. Angga sampai pagi ini masih belum sadar, tadi malam Angga bermimpi buruk hingga mengigau. Kalau Nak Reyhan menyaksikan Angga saat malam tadi, pasti Nak Reyhan miris banget lihat kondisi Angga saat itu. Bahkan mimpinya buat Angga terulang lagi sakit Depresinya, itulah yang membuat sahabat kamu nggak sadarkan diri.”
Reyhan menegakkan badannya cepat dan menoleh ke arah Andrana. “Apa, Tan?! Angga Depresi?!”
“Tante sudah nebak kamu bakal kaget. Iya, Nak Reyhan. Sebenarnya Tante dan Om sudah menganggap keadaan Angga ini wajar dan biasa, tapi semakin Angga mengalami itu semakin membahayakan Angga juga, Nak.”
“Wajar dan biasa? Kalau Tante bilang begitu, berarti sejak kecil Angga juga sudah seperti itu?!”
“Tebakan yang benar,” jawab Andrana sendu. “Bahkan hal seperti ini yang terus berulang-ulang, Tante ingin Angga lepas indera keenamnya.”
“Tante takut nyawa Angga yang jadi taruhannya, tapi Om Agra malah menetapkan Indigo-nya kukuh di dalam raga dan jiwa Angga.”
“Waduh kalau begini, maaf ya Tante. Reyhan lebih memihak Om Agra, karena Reyhan tahu Indigo itu kelebihan aura yang luar biasa, Tan. Bisa menjaga diri Angga dari marabahaya.”
Andrana menghela napasnya lemah. “Tante mengerti itu, Nak Reyhan.”
“Terus, kata dokter bagaimana, Tan??”
“Kata dokter Angga akan baik-baik saja, kita hanya menunggu kesadarannya,” respon Andrana menatap Angga yang belum siuman.
Reyhan mengangguk sedih dan ikut menatap Angga. Tak menyangka juga rupanya sahabatnya sering mengalami Depresi, sekedar curhat bercerita hal tersebut Angga tidak pernah. Maka dari itu Reyhan baru tahu sekarang saat diceritakan oleh Andrana. Namanya juga lelaki yang tertutup, tak mudah terbuka terhadap orang lain termasuk para sahabat akrabnya. Lebih kerap merahasiakan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Masih di posisi yang sama dimana lelaki Indigo itu senantiasa tutup mata, membuat Reyhan yang sedari tadi menunggu dan menunggu pikirannya menjadi tak karuan terhadap keadaan sahabatnya yang sekujur tubuhnya lemah bak patung yang tak ada pergerakan sedikitpun kecuali hela napasnya nang masih berhembus.
Sahabatnya Angga menyandarkan punggungnya di sandaran kursi roda dan kedua mata sipitnya tepatnya bola mata itu menilik arah jarum pendek jam dinding lingkaran yang ada di atas TV. Sudah pukul 14.00
“Cepet banget waktunya perasaan. Dunia memang berputar dengan cepat, ya? Mau Kiamat atau gimana, sih?” tanya Reyhan konyol bermonolog.
Saat ini hanya ada Reyhan dan Angga di kamar rawat 110, kedua orangtuanya Angga tadi memutuskan balik Komplek Permata karena harus mengurusi rumah dahulu yang 1 hari kemarin ditinggalkan. Sementara untuk dua orangtuanya Reyhan....
Flashback On
“Kamu yakin Mama Papa tinggalin kamu di sini? Nggak masalah?” tanya Jihan berjongkok di hadapan Reyhan.
“Nggak masalah, kok. Memangnya Mama sama Papa mau pergi kemana?”
“Mau pergi ke rumahnya oma sama opa sebentar, nanti sore Mama sama papa bakal ke sini lagi, kok. Beneran nggak apa-apa? Perginya sampai sore, lho.”
“Reyhan bukan anak kecil lagi, kali. Reyhan bisa jaga diri. Ehm, tapi ini sudah berulang-ulang kalian ke rumahnya oma sama opa. Sebenernya ada apa, sih?”
Farhan berdeham seperti bingung akan menjawab apa, tapi pada kemudian beliau bisa menanggapi anaknya. “Acara, Rey. Acara.”
“Acara kok berkali-kali?” curiga Reyhan.
“Suatu saat kamu akan tahu, kok. Sekarang Mama sama Papa pergi dulu, ya hehehe.”
Jihan beranjak berdiri dari hadapan Reyhan dan akan melenggang pergi meninggalkan anaknya di ruang rawat no 110 bersama Farhan setelah berpamitan dengan Reyhan. Lelaki itu hanya melongo menatap punggung keduanya yang sebentar lagi tak terlihat karena sang pemilik punggung akan pergi dari lantai 4
“Gue curiga ...”
Flashback Off
Reyhan menghembuskan napasnya dengan kasar sembari bersedekap di dada. “Apa sih sebenernya yang disembunyiin papa mama? Pasti ini! Ada yang aneh dibalik tempurung kelapa!”
“Gue juga gak tau kabar oma sekarang gimana di sana. Lo tau nggak, Ngga?” tanya Reyhan menoleh ke arah Angga yang terbaring lemah.
Dan seketika Reyhan ingat. “Oh iya ya ampun! Gue lupa kalau Angga masih pingsan, otak geblek emang lu, Rey!”
“Emang otak lo geblek.”
Reyhan yang tangannya menyentuh kening tengahnya seketika pemuda di kursi roda itu tersentak kaget celetuk suara yang mirip sekali dengan suara Angga. “Ngga?! Heh, lo bisa denger suara gue?!”
“Heh Kunyuk! Gue yang ngomong, bukan Angga.” Suara sendang tersebut berasal dari ambang pintu kamar rawat sahabatnya, berarti Reyhan harus menolehkan kepalanya ke asal suara.
“Lho?? Elo, Ga?!” Reyhan dengan cepat menatap ke jam dinding. “Masih jam segini kok ... wah murid sesat Rangga ini, bolos pelajaran sekolah, yak lu!”
Rangga mendengus sebal atas perkataan tetangganya yang asal nyeplos sembarangan. “Mata lo gue bolos pelajaran sekolah! Memang tadi di sekolah pulang cepet karena ada rapat! Biasalah para guru berunding sesuatu. Namanya juga SMA yang bermutu. Ya, gak?”
__ADS_1
“Bahahahaha! Oalah ada rapat toh, weh Tau aja lo SMA kita sekolah yang bermutu, murid yang di sana punya prestasi dan talenta tinggi, Bro. Kayak kita semua yang belajar di sekolah elit sono.”
“Yoi, eh itu ... si Angga oke-oke aja, kan? Pucet bener anjir kek mayat hidup!” seru Rangga berjalan masuk dalam kamar rawat menghampiri Angga.
“Bakal oke-oke aja, sih. Tapi buat sekarang itu anak lagi semaput, udah dari semalem pingsannye.”
“Hah?! Oh my gosh! S-si Angga maksud lo ceritanya lagi pingsan?! Why?!”
“Itu dia-”
“REYHAN, ANGGA, RANGGA, WE COME ! AND GOOD AFTERNOON SEMUANYAAA!!!” teriak Aji seperti toa Masjid dengan wajah sumringah cerianya seperti anak Pendidikan Usia Dini.
“Emang anak demit Lampor, bocah bandel kuman ini! Heh! Itu mulut bisa di kecilin gak volumenya?! Kalau gak bisa sini gue kecilin pake sogok garpu di leher lo!!” ucap sadis Reyhan melotot tajam pada Aji.
“Nah, kan. Ngeyel sih lo apa kata gue bilang pas di parkiran sekolah, gak usah pake acara teriak-teriak segala kayak singa mau brojol! Kena amuk sahabatnya Angga, kan? Modar!” timpal sarkas Andra bersandar di tembok dekat televisi lalu mengemut permen tusuk rasa buah nanasnya.
“Biarin lah, Ndra .. namanya juga itu anak mami papi kentir (Gila) gak usah di heranin, lah. Terserah dia aja,” sambung Ryan yang baru datang.
“W-woi!” Aji mendelik ke arah Ryan yang bicara seenaknya.
Reyhan mengusap wajahnya pelan dengan satu tangan. ‘Kalian semua tuh datangnya di waktu yang gak tepat. Seharusnya jangan ke sini, haduh ...’
Kini yang muncul dari ambang pintu adalah para gadis berseragam SMA OSIS yang gaya penampilan modelnya terlihat elite. Tentunya seragam tersebut sama dengan yang dipakai oleh para lelaki yang telah masuk di kamar rawat no 110
“Va, tadi kan kamu sudah makan mie soto dua mangkuk, lah sekarang masih laper, nih? Perut atau perut?” ledek Freya.
Jova menyerut mie kuah pop mienya dengan penuh nikmat, mengunyahnya lalu menelan. “Perut langsing.”
“Pede banget noh! Yang ada kalau kamu kerjaannya makan mulu apalagi porsinya setumpuk, kamu cepet gendut.” Jevran tersenyum miris mendengar ucapan lantang PD-nya (Percaya dirinya) Jova.
Jova meraung saat itu juga. “Kamu ngatain aku gendut?! Mana lagi ngatur-ngatur! Emang, ya kamu sama Rangga udah ketularan virus tengilnya Reyhan!”
“Eh buset, jangan salah paham gitu, Neng! Gak gitu maksud ku! Yaelah ini cewek harus diapain sih biar mudeng otaknya?!” kesal Jevran reaksi jawaban Jova dengan mengacak-acak rambutnya.
“Lah, gue lagi yang jadi sasaran ...”
Rangga yang sibuk membalas chat omelan sang kakak kandung perempuannya, tersentak kaget buras omongan gadis tomboy yang satu kelas dengannya. Pemuda yang 99 persen mirip Angga menatap bingung Jova. “Kenapa, sih?! Orang aku dari tadi gak ngomong apa-apa sama kamu!”
Freya menggelengkan kepalanya pada sikap gadis sahabatnya yang telah 5 tahun bersamanya termasuk Reyhan. Kini gadis polos tersebut mengalihkan pandangannya ke arah ranjang pasien Angga, perempuan itu kaget hingga kedua alisnya menaik ke atas. Melihat sahabat kecilnya sedang berbaring entah terbaring karena Freya tidak tahu apa yang terjadi dengan Angga sendiri, namun tapi yang jelasnya lelaki tampan tersebut terlihat dipasang selang oksigen hidung apalagi mata Angga nampak terpejam tenang.
Mata Freya berkedip-kedip lalu karena dirinya penasaran, dua kaki mulusnya melangkah mendekati Angga yang terbaring lemah di samping Reyhan nang masih tetap duduk di kursi roda. Tangan kiri halus Freya memegang tepi kasur ranjang pasien, menatap wajah Angga yang sungguh pucat.
Satu getaran suara keluar dari mulut Freya. “A-angga?”
Yang dipanggil masih saja setia dalam keadaan pingsannya, tidak meresponnya bahkan tidak ada pergerakan yang untuk menjawab panggilan dari Freya. Reyhan yang tak mungkin diam saja, memutarkan posisi kursi rodanya menjadi menghadap ke arah Freya berdiri.
“Frey, sahabat kita lagi pingsan. Jadi percuma kamu panggil-panggil, gak bakal dijawab sama Angga.”
Semuanya terkecuali Rangga dan Reyhan terkejut mendengar penuturan Reyhan yang langsung to the point. Bahkan Jova yang asyik memakan pop mienya sampai tersedak akibat kaget mendengarkan suara sahabat rese-nya barusan. Jevran, Andra, Aji, Ryan, dan Jova menoleh cepat ke arah Angga yang terbaring di sana. Sementara Freya yang menatap Reyhan menjadi berpaling dan beralih ganti menatap sahabat pertamanya dengan wajah sedih.
“Kenapa Angga bisa pingsan? Memangnya Angga kenapa? Apa akibat faktor dari demam tingginya?” tanya Freya nada lirih pada Reyhan.
Pemuda itu yang membuka mulutnya untuk memberikan jawaban kembali bungkam. ‘Gue gak bisa bilang kalau Angga pingsan gara-gara Depresi itu, enggak akan! Ini saatnya mengatakan kebohongan demi kebaikan Angga.’
Freya melirik sedikit ke arah Reyhan. “Kok cuman diem, sih? Aku tanya sama kamu, lho.”
“Itu! Si Angga cideranya kambuh lagi, kebetulan tadi malam sahabat kita ngeluh ngerasain sakit di kepalanya, kayaknya parah banget sih sampe ngebuat Angga pingsan sampai hari ini.”
“Maksud you, Angga pingsannya dari tadi malam?! Buset jangka waktunya lama bener, Nyuk!” tukas Jova.
“Y-ya gitulah. Tapi kalian gak usah khawatir, oke? Kata dokter Angga bakal baik-baik aja, kok. Cuman perlu nungguin dia bangun.”
Atas lontaran kata Reyhan yang menenangkan kesemuanya membuat hati para kedua gadis sahabat beserta beberapa temannya lega, bahkan tergambar raut wajah jelas bahwa mereka nampak semu ranah.
“Alhamdulillah deh kalau begitu, gue jadi rada damai kalau begini. Tapi hari ini gue bahagia banget!” ucap Aji menyela kesepian yang nyaris terasa.
Reyhan mengerutkan keningnya. “Apaan?”
“Karena lo masih hiduuuupp!!” Aji memeluk Reyhan dengan sangat erat buat temannya yang dipeluk erat seperti didekap beruang bontot mengatupkan rapat bibirnya serta kesusahan bernapas.
“Untung gue masih bisa meluk raga lo, bukan batu nisan kuburan lo. Gak indah kalau lo mati, Broooo!!!” Aji dengan tingkah barbar-nya usai mengatakan kalimat terakhir, Aji mengguncang tubuh Reyhan begitu kencang.
“Eh sakit iya-iya aduh! Lepasin gue dong! Sumpek banget, tau!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Bruk !
Jova membuang cup pop mie kuahnya yang isinya telah kandas habis tak tersisa di keranjang sampah. Gadis tomboy itu balik badan ke belakang dan menghampiri kembali Freya dan Reyhan yang ada di sebelah kanan ranjang pasien Angga. Gadis berambut coklat agak gelap itu yang modelnya tergerai lurus tanpa poni, mencondongkan badannya ke depan. Sementara itu para teman mereka telah pulang ke rumah masing-masing.
“Masih belum sadar ini anak. Padahal udah senja, tapi belum ada tanda-tanda kehidupan.”
“Kesadaran!” kompak kesal Reyhan dan Freya membenarkan kata Jova.
“Eh iya maksudnya begitu. Ehm, gue takut anjir kalau Angga ada dibalik kondisinya yang akan baik-baik saja ... jangan-jangan bukan pingsan lagi, tapi Koma.”
“JOVA!”
Jova yang mendapatkan suara tinggi bersamaan dari kedua sahabatnya auto menoleh dengan ekspresi wajah terkejutnya. Gadis itu bukannya meminta maaf malah nyengir kuda sekaligus menggaruk kepala atasnya yang tidak gatal.
Reyhan lalu menatap gadis kalem tersebut. “Freya? Jangan khawatir sama Angga, ya ...”
“Iya Rey. Karena Angga bakal baik-baik aja, aku agak tenang kok,” tanggap Freya lembut dan melemparkan senyuman manisnya ke Reyhan.
Suara batuk-batuk yang tiba-tiba muncul membuat ketiga remaja itu menoleh ke arah Angga yang terbaring, dikarenakan asal sumber suaranya dari situ. Ketiga sahabatnya Angga menatap Angga lekat, memastikan lelaki pemuda itu sudah benar-benar sadarkan diri.
“Ngga? Lo dah bangun, kan?” Reyhan bertanya sambil memegang lengan kanan Angga yang masih terasa panas.
Lenguhan Angga terdengar disaat pemuda yang setengah sadar itu menyentuh dadanya dengan satu tangan ialah kiri. Tentunya yang menatapnya menjadi miris melihatnya. Sadar-sadar sudah membuat para sahabatnya getir hati pada kondisi Angga.
“Are you okay, Angga? Kamu kayak kesakitan begitu, mau aku panggil dokter buat meriksa kamu?” tawar Jova yang tidak tenang.
Angga hanya membalasnya dengan gelengan lemah saja, tak mengeluarkan suara bukan karena enggan tetapi faktor sakit dadanya membuat suara Angga terasa seperti terhambat alias tidak bisa di keluarkan.
Sebenarnya masih samar-samar suara Jova ditangkap oleh indera pendengaran Angga, tetapi karena kelebihannya itulah yang bisa Angga prediksi kalau tersebut adalah suara Jova. Sesakit-sakitnya, selemah-lemahnya Angga akan namun kelebihan indera keenamnya tetap menyala untuk manusia ini.
Tak ingin ketiga sahabatnya menghawatirkan wajah resah dan pucat-nya, Angga memilih menyerong badannya membelakangi Reyhan, Freya, beserta Jova juga. Ya, meskipun untuk digerakkan masih terasa lemas.
Freya yang ingin memberi protes omelan Angga menjadi terkurung. Gadis itu lebih baik mengertikan kondisi sahabat kecilnya daripada mengasih omelan protes gratis untuk lelaki tampan tersebut. Reyhan dan Jova yang melihat punggung Angga tak mempunyai kalimat buat berkata apapun padanya.
“Gak masalah gue dikacangin Angga, yang penting gue gak dijadiin kacang. Cowok ganteng kayak gue gini masa diubah jadi kacang. Beh gak level.”
“Dasar cowok kepedean! Emangnya sejak kapan kamu ganteng?” tanya Jova.
“Sejak lahir, lah.”
“Idih! Kebiasaan, pede gak mandang tempat! Lagian Masih gantengan kacang daripada kamu!”
“Anjir, bisa aja hancurin harga diri dan martabak orang.”
“Martabat, Nyuk! Mar-ta-bat!”
Tangan kiri Angga tak terlepas dari dadanya. Sakit, layaknya ditikam oleh benda tajam yang menancap di dadanya. Mata Angga terbuka pelan namun tidak sepenuhnya, hanya setengah.
Risiko dan konsekuensinya Angga terima sampai kapanpun. Tak peduli pada kelamnya kehidupan dirinya yang berkaitan pada Indigo-nya, tetap ia miliki serta tidak mungkin Angga berniat menghilangkan kelebihannya yang telah Angga pertuankan selama bertahun-tahun. Ia tidak ingin ada penyesalan maksimum jika dirinya benar-benar bertekad menarik mata batin miliknya. Selamanya, Indigo itu Angga konstan genggam di dalam jiwa seutuhnya.
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››