
Reyhan menelan ludahnya dengan susah payah saat pandangannya terpaku sudah oleh tatapan sadis Aditama dan Arkie yang tangan dan pakaian mereka banyak bercak darah Arseno. Tanpa berlama di situ, Reyhan segera berlari kencang menghindari mereka bermaksud menyelamatkan diri.
“Heh, mau lari kemana lo??!!” tuding Arkie.
“Jangan kabur lo!!” sarkas Aditama dengan mata melotot kemudian mengejar langkah Reyhan bersama Arkie sang temannya.
“Hosh hosh hosh hosh!!” Sejauh ini Reyhan masih berlari marathon untuk mengelak dari mereka yang sudah membunuh Arseno dan membuang pemuda itu ke dalam jurang gelap tersebut.
Saking panik dan takutnya karena tidak ingin bernasib seperti Arseno, Reyhan sampai lupa arah untuk menuju pulang ke rumah apalagi di jalan pintas itu tak ada penerangan cahaya lampu untuk menyinari JL Jiaulingga Mawar sedikitpun, membuat tempat angker tersebut bernuansa alam mencekam.
Arkie yang gregetan pada Reyhan, segera melayangkan pisau karatnya yang berlumuran darah hingga menghunus dan menusuk ke salah satu anggota tubuh milik Reyhan.
Jleb !
“Argh!” Reyhan terjatuh ke depan seketika dan dengan merintih kesakitan, lelaki yang tak bersalah itu mengecek belakang kaki kirinya. Reyhan meringis saat melihat kakinya tertancap suatu benda tajam yang membuat kakinya mengeluarkan darah segar.
Bersama nyali beraninya, Reyhan menggenggam ujung bawah pisau tajam tersebut sekaligus menarik napasnya dengan tajam lalu langsung mencabutnya dari kakinya. Hal itu Reyhan tak akan merasakan kesakitan saat melepas pisau tersebut dari kakinya jika menahan napas dalam-dalam.
Reyhan kemudian membuang pisau itu jauh-jauh darinya sembari menghembuskan napasnya keluar, di situlah Reyhan mulai merasakan perihnya luka kakinya yang darah miliknya tak henti-hentinya mengalir bahkan kedua telapak Reyhan menyeka luka dalam tersebut.
Celana panjang punya Reyhan bagian kiri menjadi berdarah karena Arkie yang tadi sudah melemparkan pisau karatnya arah Reyhan hingga menghunus ke kakinya. Reyhan kesukaran untuk berdiri dan melanjutkan langkah larinya, lari pun pasti ia pincang-pincang karena kaki kirinya terluka.
Tanpa Reyhan ketahui, Arkie dan Aditama telah berada di dekatnya. “Sekarang lo mau kemana? Elo juga mau bernasib malang kayak cowok gak tau diuntung kayak Arseno itu?!”
Suara nge-bass Aditama membuat Reyhan terkaget spontan sampai menyeret mundur pantatnya, bahkan reflek juga dirinya melepaskan kedua telapak tangannya dari kakinya yang terluka dalam. Otomatis darah tersebut bebas kembali merembes keluar karena dibiarkan. Reyhan menatap Aditama dan Arkie secara bergiliran dengan wajah raut ketakutannya.
Arkie membungkukkan badannya lalu tangannya menarik baju oblong Reyhan dengan mata jahatnya. “Lo mau nyusul Arseno ke alam baka?”
Reyhan berusaha menunjukkan muka beraninya dan menaikkan nyalinya. “Makasih tawarannya, tapi gue gak sudi, orang biadab!”
Arkie menggeram amarah karena sudah diberikan nada tinggi serta ucapan cemooh dari Reyhan. Bahkan wajah ketakutan dari pemuda itu memudar dan menjadi tampang muka berang. Arkie mencengkram rahang milik Reyhan bersama sepasang tangannya yang berotot. “Waduh, nyali lo kuat banget sama gue, ya? Bahkan lo pasti udah tau kalau kami berdua adalah pembunuh!!”
BUGH !!!
Arkie menonjok hidung mancung Reyhan hingga kedua lubang hidung Reyhan mengeluarkan darah hingga sampai mengenai kedua bibirnya ditambah kepalanya ditendang kencang oleh Aditama ke samping membuat Reyhan yang posisinya duduk jadi terbaring di aspal. Mereka setelah itu karena merasa belum puas bermain fisik, kedua pria tersebut mulai membogem mentah tubuh Reyhan secara rata keseluruhan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Tubuh Reyhan menegang kuat dalam keadaan dirinya masih belum sadarkan diri bahkan masker oksigen itu belum terlepas dari wajahnya. Keringat mulai mengucur membasahi keningnya, seolah seperti mengejang sebentar.
Kedua orangtuanya dan satu sahabatnya yang menyaksikan tubuh spontan Reyhan dibuat kaget bingung ada apa dengannya. Bersama wajah lumayan paniknya, mereka bertiga kompakan bersamaan menyentuh anggota tubuh lelaki tersebut yang mana Farhan menyentuh bahu putranya, Jihan menyentuh lengan tangan kanan dingin Reyhan, terakhir Angga menyentuh kaki sahabat ramahnya yang tertutup oleh selimut tebal biru tua.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Terlihat muka Reyhan penuh dengan lebam parah begitupun luar matanya, mulutnya mengeluarkan darah karena beberapa kali perutnya di hentakkan keras oleh kaki mereka berdua bergantian. Dan sekarang baju bagian belakang yang dikenakan Reyhan digeret Aditama nang membuat tubuhnya ikut terseret.
“Lo ... mau bawa gue kemana ...?” tanya Reyhan dengan nada lirih lemah dengan kedua mata nyaris menutup.
Aditama tak menjawab pertanyaan Reyhan, pria itu terus saja menggeret tubuh Reyhan sementara jalan aspal bersimbah darah lurus karena luka kaki Reyhan yang masih mengeluarkan darah dengan derasnya.
Ternyata Aditama membawa tubuh Reyhan ke ujung jurang dimana mereka berdua membuang jasad Arseno ke dalam sana. Namun Reyhan sudah tidak bisa berkutik bahkan meronta. Aditama membangunkan Reyhan paksa dan hendak mendorongnya ke dalam jurang 30 meter tersebut, dirinya tak ada mampu tenaga karena luka besarnya bahkan darah yang terus keluar tersebut tanpa henti.
__ADS_1
“Hahahaha, akhirnya kami menangkap target kedua untuk kami musnahkan nyawanya! Selamat tinggal bajingan.”
Aditama mendorong tubuh Reyhan hingga terjun ke bawah jurang tersebut, di waktu tubuhnya mendarat ke tanah permukaan kasar, sanggup Reyhan lihat senyuman dua pria itu yang terukir karena sudah mendapatkan hiburan malam spesial.
Reyhan merasakan tubuhnya telah menghantam atas tanah keras yang hampir mampu membuat dirinya mati otak. Dengan tubuh yang lemas tak bisa digerakkan layaknya lumpuh, Reyhan mencium bau bangkai busuk yang ada di sebelahnya ia terbaring.
Napas Reyhan mendadak terhambat saat tatapannya terbentur pada jasad Arseno yang kondisinya tewas mengenaskan apalagi raganya dikepung banyak lalat yang berterbangan di atas Arseno nang telah dibunuh secara kejam oleh Aditama serta Arkie, sedangkan kepala Arseno telah bocor karena terhantam badan motornya yang rusak tergeletak di bawah Arseno.
Sungguh malam kegelapan peristiwa kejadian yang berlumuran traumatis.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di atas ranjang pasien, Reyhan menolehkan kepalanya ke kanan kiri secara cepat bersama napas tak beraturan di keadaan posisi mata yang masih terpejam. Selang menit kemudian saat kedua orangtuanya dan sahabatnya berusaha menyadarkannya, Reyhan langsung membuka matanya dengan lebar.
Kepala yang menghadap lurus kembali, keringat yang membasahi lehernya, bahkan muka pucat-nya seketika disambut terenyuh hati oleh Jihan, Angga, dan Farhan karena dirinya yang telah siuman.
Mata Reyhan terbelalak lebar, kemudian bola matanya menoleh ke mereka bertiga. Namun apa yang dirinya lihat malahan sosok Aditama, Arkie, dan arwahnya Arseno. Sontak Reyhan syok sampai spontan melepaskan masker oksigennya lalu bangkit duduk. “Woi pergi kalian!! Jangan bunuh gue huhuhu!!”
Mata Angga mencuat kaget pada ketakutan Reyhan yang tiba-tiba bahkan tubuhnya bergetar hebat, wajahnya ia tutup oleh kedua lengan tangannya. “Gak ada yang bunuh elo, Rey!”
Angga mulai menenangkan Reyhan yang baru saja sadar dari pingsannya. Sahabatnya itu memegang atas bahu Reyhan begitupun tangan satunya mengusap punggungnya agar segera tenang. Farhan dan Jihan merasa bingung tak tahu apa yang terjadi dengan putranya, namun mereka berdua membiarkan Angga memberikan penenangan untuk anaknya.
Seketika Reyhan mendengar suara Angga, dirinya menyingkirkan kedua lengan tangannya dari mukanya lalu menatap sahabatnya dengan ekspresi panik beratnya. “Hik! Ngga itu mereka itu! Dua pria itu yang udah bunuh hantu itu, Anggaaaa!!!”
Dengan rasa takut dan panik yang menyatu akibat penglihatan dari mimpi buruknya, Reyhan memeluk tubuh sahabatnya dengan erat bersama tubuh yang masih bergetar, detak jantung batas dari normal, serta keringat dingin. Ini pertama kalinya Angga melihat Reyhan seperti sekarang, tetapi sebenarnya Angga sudah tahu apa yang tadi dimimpikan oleh sahabatnya hingga ketakutan dahsyat.
Angga membalas pelukan dari Reyhan lalu menepuk-nepuk punggungnya untuk mengasih ketenangan lebih dalam, karena yang namanya Reyhan panik ataupun mengalami ketakutan pasti tak karuan jadinya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Hari Minggu - Pukul 09.00
Reyhan yang posisinya tengah duduk tanpa bersandar, nampak sedang ngelamun bersama wajah sendunya bahkan rambut coklatnya yang acak-acakan berantakan, membuat Angga yang duduk di kursi sebelah ranjang pasiennya mendengus dengan menghentikan aktivitasnya mengelupas kulit jeruk yang dirinya pegang.
“Mau sampai kapan lo kayak gini? Udah hampir seminggu lo begitu terus,” ujar Angga berhasil membuyar lamunan sahabatnya.
“Ih ngagetin aja lo! Mungkin sampe ajal menjemput,” jawab Reyhan kembali menghadap depan apalagi kepalanya menunduk ke bawah sementara itu tangannya memainkan selimutnya.
Angga mengusap pelan mukanya pada tanggapan respon Reyhan yang tak ada ekspresi wajahnya, yang padahal tadinya ada. “Yasudah, nih lo makan dulu buah jeruknya.”
“Sori Bro, gue kagak laper.”
“Heh! Lo itu butuh Vitamin!” semprot Angga pada sahabatnya yang menolak makan buah.
Reyhan tersentak kaget pada nada menjulang tinggi dari Angga, bahkan pemuda itu menolehkan kepalanya ke arah sahabatnya sambil menampilkan raut wajah sebal. “Gak usah ngegas kayak knalpot motor, napa! Yaudah mana buahnya!”
Dengan tak santai, Reyhan membentang tangan kanannya dalam posisi telapak tangannya menengadah agar Angga menaruh satu potongan buah jeruknya di atas telapak tangan miliknya. Kemudian Reyhan mulai memasukkan buah jeruknya yang diberikan oleh sang sahabat ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya.
“Wow, manis.”
“Wiw, minis,” cibir Angga dengan memajukan bibir bawahnya pada ekspresi muka Reyhan yang suka pada rasa buah jeruknya.
__ADS_1
Reyhan balik menatap Angga yang sudah pintar mencibir perkataannya. “Jir! Gue jadiin mulut lo cabean baru tau rasa lo ya!”
“Cabean?! Lo pikir gue apaan, Nyuk?!”
“Elo? Anak pungut!”
Mata Angga membelalak lalu menghela napasnya dengan panjang. Sepertinya tak ada untungnya dirinya memperpanjang perdebatan antara ia dan juga Reyhan sahabat rese-nya yang sering tidak mau mengalah. “Males gue debat sama lo.”
“Mana gue? Gue jauh lebih males debat ocehan burung Beo kek elo!! Dasar perusuh!” ejek Reyhan.
Ingin rasanya Angga menimpuk wajah Reyhan menggunakan bantal kursi sofa, akan tetapi kalau ia benar-benar melakukan niatnya yang tentunya pasti mereka berdua jadi saling lempar-lemparan bantal. Namanya pula Reyhan Lintang Ellvano, pasti lelaki itu tak menerimanya bahkan menyerang balik perbuatan sahabat pendiamnya.
Angga cukup menghembuskan napasnya dan tak melakukan apa yang sebenarnya ia inginkan, sementara Reyhan nampak memijit tengkuknya bersama jari-jari tangannya dengan mengeluh bahkan sesekali mendesis bersama mata yang Reyhan sipitkan. “Lo kenapa?”
“Tubuh gue sakit-sakit semua, kayaknya sih ini gara-gara gue mimpi buruk itu. Roh gue yang dihajar habis-habisan ampe babak belur kek preman, kenapa raga gue yang bermasalah? Gak adil!” protes Reyhan beralih memijat tangan kanannya pakai tangan kiri.
Angga yang sebelumnya sibuk mengotak-atik buah jeruk yang ia pegang, kini menatap Reyhan kembali. “Itu sering terjadi, eh tapi bukannya mimpi itu waktu hari Senin kemarin? Berarti sampai hari Minggu ini lo masih ngerasa sakit?”
“Ho'oh, huhuhu sakit bener!” rengek Reyhan tetap terus memijat anggota tangannya.
“Lo mah mana tau gue mimpi apaan kemaren itu, serem banget asli! Bisa buat gue trauma kalau mimpi itu diputer lagi.”
“Gue tau semuanya apa yang terjadi di mimpi lo itu, yang jelas dan pastinya, lo dikasih insiden peristiwa dimana arwah itu sewaktu masih manusia dibunuh sama dua pria yang lo mimpikan. Maaf, mimpi kayak gitu emang sudah beresiko kecuali kalau lo cuman dikasih penglihatan terawangan doang. Lo mesti gak bakalan terlibat.”
Reyhan memanyunkan bibirnya sambil perlahan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang pasien yang ada bantalnya. “Tega bener lo, Ngga. Masa gue baru diberi tau soal itu ...”
“Lo harus siap mental kalau terjadi lagi. Kejadian itu pasti bakal datang secara tiba-tiba, dan lo harus bisa belajar seperti gue.”
Reyhan mengangguk lesu. “InsyaAllah gue siap dan bisa kayak elo. Thanks ya, Ngga.”
Angga menganggukkan kepalanya dengan tersenyum sebagai respon terimakasih dari Reyhan. Lelaki friendly tersebut menarik wajahnya ke atas dan melihat langit-langit dinding dengan menghembuskan napasnya. “Ngga, setelah gue diberikan mimpi buruk itu, ada niat gue buat menuntaskan semuanya dari kematian Arseno. Gue pengen hantu itu tenang di atas sana, gue yakin dia hanya dendam besar sama dua pria brengsek itu.”
“Lo harus sehat dulu, lo nggak mungkin mampu gunain tenaga kalau keadaan lo masih lemah begini. Gue tau niat lo baik buat dia untuk membuka kunci agar Arseno bisa tenang di alam sana, tapi lebih baik lo pentingkan kesehatan elo, urusan itu bisa lo pikirkan belakangan. Oke?”
Reyhan mengubah mukanya menjadi sangat lesu dan pasrah pada perkataan Angga yang sering saja tepat buatnya. Ia mengembalikan posisi kepalanya menjadi hadap TV pajang. “Oke ...”
“Oh iya, Ngga. Soal kemaren hari Senin sore, gue minta maaf banget ya, Ngga. Lebay banget, kan?”
“Wajar. Lo dasarnya kalau panik apalagi takut suka begitu, gak usah ngerasa gak enak, gue juga udah sahabatan sama lo dari lama.”
“Kayak baru kenal aja,” tambah Angga dengan muka cuek datarnya.
Ucapan tambahan dari Angga membuat Reyhan menghela napasnya. Mendengar suara dingin dari sahabatnya layaknya terasa ruangan tersebut menjadi berubah dingin seperti di freezer, namun hanya sejenak saja dikarenakan pastinya Reyhan buat ulah sesuatu pada Angga yang mana mengubah sahabatnya banyak mengoceh ataupun mengomel-ngomel karena tingkahnya.
Kini Reyhan memejamkan matanya dengan melipat kedua tangannya di dada, membayangkan kejadian peristiwa mengerikan itu dari mimpi buruknya. Bagi Reyhan mimpi yang dirinya alami bukan hanya sekedar mimpi, namun adalah suatu insiden masa silam beberapa bulan yang lalu. Kendati demikian, Reyhan rada ragu pada mimpinya, tetapi lelaki yang telah memiliki aura baru itu sangat yakin kalau Aditama dan Arkie nang sudah menyiksa sadis Arseno hingga berakhir menamatkan jiwa nyawanya secara kejamnya.
Misteri kematian Arseno hampir terungkap, meski Reyhan harus memutar otak terlebih dahulu yang mana kejadian dirinya dicegat dan diberikan bogeman mentah beberapa kali sampai babak belur serta kedua yakni mimpinya pada saat Senin kemarin.
Akankah jikalau Reyhan menggabungkan kedua insiden tersebut dalam pikiran benak otaknya ia menemukan fakta kebenaran yang orisinal?
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1