Indigo

Indigo
Chapter 151 | Underground Stairs


__ADS_3

Langkah kaki panjangnya telah Reyhan gunakan untuk menyusuri setiap jalan yang sunyi dan gelap, ada rasa tubuh meremang jika dirinya berani menoleh ke kanan, ke kiri, atau ke belakang. Bersama keringat dingin ia lewati jalan yang tidak ada pembelokan sama sekali.


Hingga beberapa kilometer kemudian, Reyhan menghentikan langkahnya seketika saat mendengar suara desau dari suara sesosok wanita di sekitarnya. Lagi-lagi lelaki berambut cokelat tersebut, menyentuh tengkuknya yang terasa dingin. Dirinya mengedarkan pandangannya mencari sendang suara yang membuat ia merinding kembali.


Kini wajah Reyhan terpaku pada arah depannya, napasnya terputus-putus, kedua telapak tangannya yang berkeringat saling mengepal karena takut, posisi bibir tipisnya terbungkam rapat tak juga dengan kedua matanya yang tetap terbuka untuk melihat sekitar depan.


Reyhan merasakan, ada seseorang yang sedang menghampirinya dari ujung jauh sana tepatnya berada di depan. Reyhan menelan ludahnya bersama muka yang menjadi pucat drastis saat bola matanya melihat ada beberapa helaian rambut berwarna putih, ingin melangkah mundur untuk kabur dan menghindar namun sayangnya selain wajahnya yang terpaku, rupanya kedua kakinya pun juga sama.


“Sumpah ... perasaan gue gak enak,” gumam Reyhan dengan hati diliputi rasa ketakutan hebat karena ia merasakan keberadaan energi negatif yang tengah mendekatinya.


Napas Reyhan tercekat lagi saat matanya telah menatap kehadiran wanita hantu Prancis tersebut yang melayang dengan senyum menyeringai nang membuat jiwa milik Reyhan gentar seketika. Detak jantungnya serasa ingin berhenti saja di tempat ini, keringat dingin terus mengucur deras membasahi pelipis-pelipis matanya.


“Masa belum berakhir, Reyhan! Karena kau yang pertama kali melihat sosok rupa wajah cantikku, mau kah kau menjadi bagian kebahagiaanku?”


“Pergi lo dari sini, Brengsek!!! Gue gak ada urusan bahkan masalah apapun dengan lo!! Satu lagi, gue sama sekali nggak membuat kesalahan kecil ataupun fatal sedikitpun kepada lo!!”


“Cih! Kau ini manusia lemah, buat apa kau sok membentak dan berani menggertak diriku?”


Grep !!


Hantu tersebut dengan kasar tanpa permisi, langsung mencekik leher Reyhan amat kuat. Begitulah kalau sesosok arwah pemilik energi negatif, tentu pastinya akan menyakiti manusia yang sama sekali bersalah.


“Anjing! L-lepasin gue- akh!!”


“Hihihihihi! Tinggalkanlah duniamu dan ayo ikutlah ke alam baka bersamaku!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“T-tolong! Gue mohon jangan bawa gue ke sana! Gue masih ingin hidup di duniaaaa!!!” teriak Reyhan kesakitan dalam baring lemahnya di atas kasur kamarnya sambil mencekik lehernya sendiri hingga memerah yang padahal di alam mimpinya ia sedang berusaha melepaskan kedua tangan putih pucat pasi dari arwah wanita Prancis tersebut.


Keenam remaja yang menanti kesadaran lelaki Friendly tersebut mendadak panik melihat Reyhan yang berteriak kesakitan padahal sebelumnya nampak tenang, sementara Angga yang tidak mungkin membiarkan sahabatnya tersiksa di alam mimpi buruknya dimana beberapa detik lagi roh milik Reyhan dibawa ke alam baka bersama hantu wanita energi negatif tersebut, segera menggenggam erat salah satu lengan tangan sahabatnya dengan menatap fokus wajahnya.


Fungsi itu adalah untuk menghilangkan atau menarik roh sahabatnya kembali ke dunia nyata. Dan benar, sekarang kedua mata Reyhan terbuka cepat bersama napas tersengal-sengal, dirinya spontan bangun dalam posisi duduk dan mulai menatap sekelilingnya dengan muka pucat-nya.


“Gue masih ada di dunia?! Belum di alam baka?!”


“Emangnya lo sudah mati, Rey? Lo ngomong apaan, sih? Ya jelaslah! Elo masih berada di dunia, bukan di alam baka tempatnya syaiton,” ujar Jevran.


Reyhan beralih menolehkan kepalanya cepat buat menatap sang sahabat Indigo. “Anggara!”


Angga menggelengkan kepalanya dengan senyum hambar. “Tenang, lo hanya mimpi. Gue tahu lo akan dibawa hantu wanita itu ke alam baka untuk selamanya, tapi semua itu hanya akan menjadi sebuah kebalikannya.”


“Apa yang lo maksud?! Gue gak ngerti!”


“Saat waktu lo sudah tidak sadarkan diri, arwah negatif yang telah menyerang lo sekarang sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi ke dunia. Gue sudah melemparkannya ke alam baka, khusus dan sesuai auranya yang dia miliki.”


“Lo mengusirnya?! Lalu ... kenapa gue mimpi buruk seperti itu dan bertemu hantu wanita itu?! Bukannya apa yang lo katakan satu menit lalu, mimpi gue hanya akan menjadi sebuah kebalikannya?!”


Angga tersenyum dengan tangan menyentuh atas pundak kanan Reyhan bersama rasa persahabatan. “Memang iya. Alasan kenapa lo mimpi itu, karena posisi elo sedang diserang rasa ketakutan. Percaya sama gue, semua itu nggak akan terjadi.”


Reyhan menghembuskan napasnya lirih sekaligus memejamkan matanya lalu menundukkan kepala sambil mengangguk. “Oke ...”


“Rey, masih ada yang sakit, gak?” tanya Jova agak risau seraya menatap sahabat lelakinya.


Reyhan mendongakkan kepalanya ke arah Jova lalu tersenyum sambil memukul-mukul pelan tengkuknya pakai kepalan telapak tangannya. “Sedikit pusing, sih. Tapi it's okay saja, aku nggak apa-apa, kok.”


“Tumben akur, biasanya aja apa-apa langsung berantem gak jelas sama kurang kerjaan. Ada apa gerangan?” tanya Rena tersenyum sinis.


“Ngerasa tersindir,” ungkap kompak Jova dan Reyhan sambil menatap tajam Rena yang sekarang tawa cekikikan.


Freya tertawa kecil. “Malah bagus dong, Ren jika Jova dan Reyhan akur. Itu baru sahabat yang oke, kalau berantem kan malah terkesan jadi saling ada permusuhan di antara mereka berdua.”


“Kadang juga melerai perdebatan mereka setiap hari membuat kepalaku sama Angga pusing, apalagi menjadi penengah untuk mereka butuh tenaga dan hati yang sabar. Iya kan, Ngga?”


“Ya, itu selalu terjadi.”


Jova dan Reyhan yang mendengarkan semua itu, hanya bisa menghela napasnya. Sadar pula kalau mereka berdua telah salah karena suka berdebat yang tidak berfaedah dan mengandung kepentingan. Malahan justru seperti pertengkaran kanak-kanak.


“Woi, Angga! Gue salut sama kehebatan lo tadi saat mengusir itu setan malapetaka dari dunia. Lo juga hebat melempar dia ke alam baka, gue kalau ada di posisi elo pasti sudah kalah dan raga gue gak mungkin bernyawa lagi,” celoteh Aji.


“Iya, Ngga! Gak seperti mantan busuknya Freya itu!” ucap Jevran membuat Angga langsung melepaskan tangannya dari atas bahu Reyhan lalu menoleh ke belakang dengan menatap tajam Jevran.


“Vran! Kenapa lo menyebut cowok itu?! Lo gak sadar di situ ada Freya yang dengar ucapan lo?!” kesal Angga tak sampai rahangnya mengeras.


Angga melirikkan bola matanya untuk melihat kekasihnya yang diam. Lihatlah, Freya nampak bisu dengan tampang wajah dinginnya, mungkin karena gadis cantik tersebut sudah tidak sudi memedulikan mantannya yang keji terhadap Angga.


“Eh! Maaf, Bro! Gue keceplosan! Habisnya gue sengit bener itu sama Gerald! Manusia kok tapi wataknya kayak iblis!” umpat jengkel Jevran.


“Gue juga sama sengitnya kayak Jevran, Ngga! Gue sebagai teman kelas lo gak menerima diri lo disakiti Gerald ampe nyaris mau mati di rumah sakit!” timpal Aji yang dari sorot matanya menampilkan kekesalan yang sesuai di hatinya.


“Cih, cowok bajingan itu! Kalau gak ada hukum, udah gue penggal itu kepalanya dan habis itu kepala mantannya Freya gue kasihkan ke buaya!” sadis Jova yang hatinya mulai berkecamuk emosi.


“Heran aja, sih! Segitu posesifnya Gerald sama Freya waktu masih pacaran! Mana posesifnya hanya untuk Angga doang, lagi! Gue yakin sembilan puluh sembilan persen, dulunya Gerald ngancem sesuatu sama Freya tentang Angga!” damprat Lala.


“Nanggung amat cuman sembilan puluh sembilan persen? Naikin lagi, lah biar jadi seratus persen!” protes Rena.


Freya spontan duduk tegak dengan kedua mata indahnya terbelalak ke Lala. “Kok, kamu tahu kalau dulu Gerald mengancam aku soal Angga?!”


“Ya tahu, lah! Cowok bejat yang bentuk-bentuk kayak cowok brengsek itu, pasti aku tahu akan ngelakuin seperti itu ke kamu!”


Freya terdiam dalam sekejap, sementara Angga yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan rentetan setiap beberapa remaja yang emosi, menoleh menatap kekasihnya. “Gerald pernah mengancam kamu, ya? Kalau aku boleh tahu, ancaman apa yang keluar dari mulutnya untuk kamu? Sebagai pacar, aku harus tahu semuanya.”


“Weh, Ngga. Ngapain lo tanya begitu sama Freya? Emangnya lo gak tahu apa-apa tentang itu? Elo kan, adalah anak Indihome- eh Indigo.”


“Tidak semuanya gue ketahui, Ji. Ada kalanya gue nggak mengetahui apa yang pernah terjadi. Dan mungkin di saat waktu itu kondisi gue lemah,” jelas Angga.


Freya menarik napasnya panjang-panjang lalu menghembuskan keluar dari mulut, matanya menatap mata abu-abu menawan autentik milik kekasihnya bersama raut wajah gundahnya.


“Dulu saat aku sudah mengetahui bahwa kamu masuk rumah sakit dari kabarnya ayahku, aku meminta Gerald untuk mengantarkanku ke rumah sakit Wijaya. Tetapi jawaban yang aku dapatkan, begitu menyakitkan buatku mungkin juga buatmu, dan diakhir puncak Gerald mengancam aku secara memilih dari dua antara.”


“Ehm ... dua antara itu kalau nggak salah tidak menjumpai kamu dan hubunganku sama Gerald masih berlanjut atau menjumpai kamu tetapi aku sama Gerald putus hubungan dari pacaran. Begitu, Ngga ceritanya ...”


“Anjing! Goblok! Bangsat! Bisa-bisanya dia nyuruh Freya memilih salah satu dari dua antara pilihan berat kayak gitu! Punya otak apa enggak, sih?!” murka Reyhan dengan menekankan nadanya hingga rahangnya mengeras.


“Bodohnya aku, malah memilih yang pertama. Maafkan aku ya, Angga ...” ucap Freya dengan menundukkan kepalanya karena merasa amat menyesal.


Angga tersenyum. “Iya, nggak apa-apa. Lagian semuanya telah berlalu, dan terimakasih ya kamu sudah mau menceritakan semuanya padaku serta berkata jujur padaku.”


Kepala Freya manggut-manggut lemah. “Iya ...”


“Angga? Tentang bentrokan elo dan Gerald, apakah semua itu ada hubungannya dengan latar belakang lo? Sebelumnya gue minta maaf, Ngga. Gue sebenarnya ingin tahu apakah lo memiliki masa lalu yang berkaitan dengan Gerald, karena yang gue rasakan ada suatu dendam besar di hati mantannya Freya, Ngga. Kalau lo mau, cerita saja sama kami.”


Angga diam bisu beberapa saat lalu menoleh menatap dingin Jevran yang jiwanya telah penasaran ada apa dengan masa lalunya. “Maaf, gue gak bisa. Kalau gitu gue mau pamit keluar, kepala gue tiba-tiba terasa sakit.”


Angga benar-benar bangkit dari duduknya di pinggir kasur kemudian menatap Reyhan sebelum ia melangkah pergi. Terlihat jelas wajah Angga sangat letih akibat menerjang arwah wanita Prancis tersebut dengan sebuah tenaga maksimalnya.

__ADS_1


“Kenapa, Ngga?” tanya Reyhan.


“Kalau lo mau menyampaikan sesuatu sama gue, jabarkan saja di WA. Gue pasti akan membalas,” ujar Angga lalu melenggang pergi dengan jalan lumayan sempoyongan bahkan tangan kirinya sampai memegang bagian kepalanya.


Reyhan hanya diam menatap punggung sahabatnya yang meninggalkan kamarnya, tak hanya ia saja yang menatap namun juga semuanya nang ada di dalam kamar 002. Ada seraut wajah lara di antara mereka bertujuh terhadap Angga yang di dendam kesumat oleh Gerald.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Angga menutup pintu kamarnya dan mulai kembali melanjutkan langkahnya, tetapi tiba-tiba kepalanya terasa pusing berputar-putar bahkan pandangannya memburam. Sungguh, ini pasti karena dirinya terlalu letih hingga keadaannya menjadi seperti ini sekarang.


Angga tetap melangkah dan menguatkan dirinya hingga tiba di ranjang tidurnya. Di situ, lelaki tampan berkulit putih tersebut langsung ambruk berbaring di atas kasur dikarenakan sudah tidak kuat menahannya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Reyhan membungkamkan bibirnya dengan pandangan mata menatap ambang pintu kamarnya, wajahnya terlihat menampilkan sedih atas perginya Angga yang secara tiba-tiba. Mana mungkin sahabatnya mau menceritakan tentang masa lalunya kepada orang lain? Terlebih itu berkaitan soal Gerald.


‘Dia hanya ambil alasan saja atau benar-benar sakit kepala, ya? Payah! Gara-gara ini lemah gue, gue jadi gagal baca pikirannya Angga.’


Freya yang sedari tadi duduk diam manis di pinggir kasur sahabat lelakinya, kini bangkit. “Guys, aku mau nyusul Angga dulu, ya? Nanti aku balik lagi, kok.”


“Oke, siap. Itu keliatannya pacarmu lagi gak baik-baik aja, deh. Jalannya tadi pas mau keluar dari kamar udah sempoyongan mau jatuh,” respon Jova.


“Kalau Angga kenapa-napa tolong kasih tahu kami semua ya, Frey?” pinta Reyhan lembut.


Freya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu melangkah pergi dari kamar 002 untuk segera menyusul kekasihnya yang nampaknya kondisinya memang kurang baik-baik saja. Terdengar juga tadi saat gadis cantik itu masih duduk, Angga menutup pintu kamar utamanya.


Setelah di depan pintu kamar Angga yang nampaknya di dalam ruangan amat senyap, dengan perlahan Freya memutar handle pintu bulat aluminium ke kiri untuk membukanya. Terlihat jelas, Angga sedang berbaring di atas kasur bersama matanya yang menutup damai.


Freya kembali menutup pintu kamar pujaan hatinya setelah berada di dalam ruangan. Gadis itu lalu memutar tubuhnya ke belakang untuk menghampiri Angga yang sepertinya tidak menyadari kedatangan Freya yang sudah masuk ke dalam kamar miliknya.


Freya menatap wajah pemuda tampan itu beberapa saat, lantas segera beralih melangkah ke tas hitam besar milik Angga yang terletak di atas meja kecil samping lemari pakaian, dirinya dengan peka langsung membuka resleting tas kekasihnya untuk mengeluarkan strip obat yang selalu Angga bawa kemanapun ia pergi sebagai jaga-jaga bila rasa sakit kepala itu kembali kambuh.


“Eh iya gelas air putihnya,” gumam Freya lalu balik melanjutkan langkahnya memutar ke belakang dan menaruh bungkusan obat pil Angga di atas meja nakas, usai itu si gadis manis tersebut berjalan keluar dari kamar 001 untuk mengambil air putih di ruang dapur bawah tangga.


Setelah kembali ke dalam kamar kekasihnya sambil membawa gelas berisi air putih jernih dari galon Aqua yang ada di dalam dispenser, Freya mengambil bungkusan obat pereda sakit tersebut lalu melangkah menghampiri Angga dan duduk di sebelahnya.


Tangannya yang kosong, Freya gunakan untuk mengelus-elus bahu kiri pujaan hatinya hingga tadinya mata Angga terpejam kini terbuka perlahan. “Bangun dulu yuk, Ngga ...”


Angga yang menatap Freya tanpa senyum, menuruti keinginan kekasihnya dan mulai bangkit bangun berpindah menjadi posisi duduk dengan dibantu kekasihnya. “Kok kamu di sini?”


Freya terkekeh pelan. “Kenapa memangnya? Gak boleh nih, aku di sini sama kamu? Itu muka kamu udah pucat, masa nggak langsung minum obatnya?”


Angga menggaruk tengkuknya yang hangat dengan wajah tampan lemasnya. “Aku tadi sudah gak kuat berdiri, bahkan untuk ambil obatnya ... aku sudah nggak mampu.”


“Begitu, ya ...? Untung saja nggak sampai pingsan kamu-nya. Eh, tapi kalau memang iya sih gak apa-apa, paling pingsannya cuman sekitar beberapa menit doang,” kelakar Freya.


Bibir Angga nyengir dengan bola mata melirik kekasihnya yang sedang merobek bagian strip obatnya untuk mengeluarkan satu pil buatnya. “Oh, berarti ini maksudnya kamu suka nih kalau aku pingsan?”


Freya tersentak kaget lalu menoleh cepat ke arah Angga yang berkata seenak kening. “Ih, Angga! Kok ngomong gitu, sih?! Aku kan hanya bercanda doang, mana suka aku lihat kamu pingsan? Dimana-mana tuh ya normalnya kalau melihat orang gak sadarkan diri pasti sedih atau enggak panik, bukan bahagia!”


“Marah, dia ...”


“Habisnya kamu nyebelin! Yasudah, lebih baik obatnya langsung kamu minum daripada nanti sakit kepalamu tambah parah. Mau aku suapin?”


Angga menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis. “Gak usah, biar aku sendiri.”


Freya menganggukkan kepalanya dengan ikut senyum namun lebar seraya menyerahkan obat pil putih kecil itu ke tangan kanan kekasihnya. Bisa Freya lihat Angga memasukkan obatnya ke dalam mulut lalu segera Freya berikan gelas air putih yang gadis cantik nan jelita tersebut pegang ke Angga.


Setelah meneguk air putihnya untuk mendorong obatnya masuk ke dalam tubuh, Angga menyerahkan gelasnya yang telah kosong tandas. “Makasih, ya?”


“Nanti saja, ada kamu. Masa aku tinggal tidur?”


Freya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum menatap wajah teduh kekasihnya walau nampak pucat. Mereka berdua diam di kamar, sampai akhirnya Angga membuka suaranya, “Freya, sekali lagi aku minta maaf, ya? Maaf karena aku sudah sering merepotkanmu tentang aku yang sakit seperti ini. Sebenarnya aku nggak mau sampai kayak gini, tapi mau bagaimana kalau ini sudah dari takdir?”


“Heh, ssstt! Kamu sudah berapa kali minta maaf sama aku soal itu? Aku gak masalah kok. Diriku malah senang merawatmu sekalipun kamu nggak menolak bantuanku.”


Angga hanya diam berpaling dari Freya untuk menghadapkan mukanya ke depan yang tepatnya di sana ada lemari pakaian nang kosong, sementara gadisnya mulai menyandarkan samping kepalanya di pundak bagian kiri Angga seraya mengusap-usap sayang lengan tangannya.


“Kamu pasti akan sembuh, Ngga. Entah itu kapan, tapi aku yakin banget suatu ketika ucapanku ini bakal terkabulkan. Yang tetap sabar saja, oke?”


Angga tersenyum lembut atas perkataan kekasihnya yang begitu mencintai dan menyayangi dirinya, hingga lelaki tampan tersebut ikut menyandarkan kepalanya yaitu di kepala Freya.


“Aku pasti akan tetap sabar. Terimakasih ya, Sayang.”


“Iya, Sayangku ...”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Reyhan yang masih berada di atas kasur, hendak bergerak turun untuk menghampiri kedua sahabatnya yang ada di dalam kamar 001, namun di situ tudung hoodie kuning olive miliknya langsung ditarik oleh Jevran yang melihat tetangganya ingin pergi.


“Heh! Lo mau kemana?! Lagi sakit, banyak gaya!” omel Jevran sementara yang lain menertawakan Reyhan karena melihat lelaki berambut cokelat dengan style keren itu menggembungkan kedua pipinya sebal.


“Mau nyamperin Angga sama Freya, lah! Gitu aja masa ditanya?! Kayak anak TK!” protes Reyhan sambil menampik tangan Jevran yang masih memegang tudung dari gabungan bajunya.


“Mana gue tahu lo mau ke sana buat mereka berdua?! Sudahlah, lo di sini aja sama kami. Lagian kondisi lo masih nggak memungkinkan untuk jalan, lagipula kalau elo bener-bener ke sana, yang ada lo jadi obat nyamuk! Ngerti gak, lo?”


“Ya-ya, ngerti!”


Aji yang mendengar semua penuturan Jevran ini, menatap temannya sinis dengan melipatkan kedua tangannya di dada. “Ternyata okay juga ngelihat situasi orang.”


“Ya, dong! Meski otak gue ini kurang peka, tapi gue pinter!” bangga Jevran.


Reyhan berdecak dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu kemudian tangannya menjitak kepala Jevran bersama senyuman miring. “Anjay, pede amat, lu! Muka pas-pasan kayak triplek aja bangganya satu dewa!”


Jevran merapatkan bibirnya saat merasakan ngilu di kepalanya karena ulah tetangga jahilnya itu. “Sakit, woi!” Selanjutnya usai mengusap kepalanya, Jevran mendorong wajah Reyhan kencang. “Fine, yang mukanya ganteng!!”


Lala melongo atas hinaan Reyhan tadi untuk Jevran. “Muka pas-pasan kayak triplek? Lah, rata dong berarti mukanya si Jevran?”


“Beuh, lagi lemah kayak gitu tapi itu bocah rupanya masih bisa nakalin tetangganya. Padahal tadi dia dibanting kenceng ke tembok sama setan negatif,” gumam Jova.


“Dilempar, kali yang bener!” protes Reyhan membenarkan kata sahabat perempuannya yang bersuara kemam tetapi dirinya masih mampu mendengarnya.


“Ih! Dilempar sama dibanting apa bedanya? Sama, dong!” tukas Jova tidak mau kalah.


“Heh, dibanting tuh mesti kasarnya dijatuhkan ke bawah! Kalau dilempar itu bisa ke atas, samping kanan atau kiri! Gak ada bawahnya! Gitu aja masa dikasih paham? Sini aku praktekan.”


Jova langsung memeluk tubuh dirinya sendiri kompak dengan memundurkan badannya walau ia jauh dari Reyhan berada. “Jangan, dong! Nanti aku bisa mati kalau kamu banting. Sama Angga saja mending, kan seiras-seiras cowok.”


“Gilak, apa?! Masa Angga aku banting? Kamu pikir aku sama kayak Gerald mantan primitifnya Freya?!”


“Sapa tahu saja di lain sisi hatimu jahat seperti Gerald, hehehehe!” Benar-benar, si Jova memang sengaja memancing emosi Reyhan untuk kesekian kalinya yang pernah dirinya lakukan meski lain topik.


“Are you crazy?! Argh, Damn girl !” umpat Reyhan.


Jova hanya mengejek dengan menjulurkan lidahnya dan menaikkan kedua pupil matanya, membuat Reyhan mendesis jengkel menatap tajam sang sahabat Tomboy-nya. Sementara si Aji langsung memegang kedua bahu temannya yang mulai emosi tinggi terhadap Jova dari belakang punggung lemas Reyhan.

__ADS_1


“Wei-wei! Santuy, Bro! Santuy, oke? Gue seneng banget akhirnya bisa denger lo banyak ngomel gini, tapi elo jangan kasarin cewek walau itu hanya di mulut doang.”


Reyhan melirik ke kiri untuk menatap keki Aji. “Dapet kata-kata itu dari Angga, kan?”


“Idih! Mana ada? Enggak, lah! Boro-boro dapet, ngasih pesan untuk temennya aja gak pernah! Jangan sotoy, lo jadi orang!”


“Eh, Aji? Memangnya kamu paham dari bahasa Inggrisnya Reyhan artinya apaan?” tanya Rena.


“Eeee ... ya enggak, sih. Begitu syulit untuk dimengerti. Kasih tahu dong, Rey ...” pinta Aji dengan wajah memelas.


“Ogah, males!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Aku tahu kau pasti menolak keras, aku tahu kau posisi keadaan ini sedang dilumuri rasa takut yang hebat. Tenang saja, aku tak akan mencoba mencabut nyawamu. Aku hanya akan merebut energi Indigo milikmu. Kau harus menerima takdir ini dengan lapang dada, karena ini sudah waktunya kau ucapkan selamat tinggal pada energi yang telah kau kuasai, pertuankan selama bertahun-tahun dahulu.”


“Tidak! Jangan lo coba-coba untuk mengambil semua yang gue miliki sejak dini! Lo sama sekali nggak berhak merebut kelebihan yang telah gue kuasai!”


“Semuanya sudah terlambat. Dan kau termasuk gagal untuk menjaga kelebihan Indigo-mu yang sudah lama kau genggam di dalam jiwamu. Maaf kata, aku tak akan mau menuruti segala apa ucapan yang keluar dari mulutmu itu. Ritual ini harus selesai dengan mulus tanpa penyesalan di hati.”


Kedua mata Angga terbelalak dengan napas tersengal-sengal. Dirinya yang masih berbaring segera mengambil posisi lain yaitu duduk, keningnya berkeringat begitupun pelipis matanya. Angga menghembuskan napasnya kasar dengan menggelengkan kepalanya karena tidak menyangka mimpi buruk tersebut diulang kembali ke memori alam bawah sadarnya.


Angga menyingkap rambut hitamnya ke belakang dengan masih napas tidak beraturan. “Kenapa mimpi itu terulang kembali? Sebenarnya apa maksud dari mimpi buruk yang mendatangi gue itu?”


Tiba-tiba saja saat selesai bermonolog, dadanya terasa amat nyeri hingga Angga harus memegangnya dengan sedikit mengeluarkan suara kesakitan dari mulutnya. Lelaki itu berubah mengerang karena entah mengapa rasa sakit tersebut menambah.


Ya, sebetulnya ini bukan pertama kalinya Angga mengalami kesakitan yang dirinya idap tetapi sudah telah berkali-kali ia mengalami nasib yang sama. Waktu Angga sedang memejamkan matanya tenang untuk meredakan nyeri yang ada di dalam dadanya, lelaki tampan tersebut menangkap suara aneh dan janggal yang terdengar dari bawah lantai kamarnya.


Sontak, dengan perlahan Angga membuka kedua matanya kembali lalu menatap lantai tanpa motif itu. Suaranya semakin terdengar walau hanya samar-samar, bukan Anggara Vincent Kavindra namanya kalau tidak mengecek suara aneh tersebut. Angga lekas menapakkan kaki putih bersihnya tanpa alas satupun di atas lantai yang dingin, kemudian berjongkok mengamati suara menyeramkan dari bawah lantai tersebut.


Angga menatapnya dengan sorot mata intens lalu mengulurkan tangan kanannya dan menempelkan telapak tangan di atas lantai yang ada dibawah tubuh tingginya. Bersama kekuatannya, Angga menutup matanya untuk menerawang ada apa dibawah lantai kamarnya.


Angga membuka matanya sambil mengernyitkan keningnya. “Kenapa gue merasakan suara ini bukan berasal dari bawah lantai? Tapi bawah tanah. Guncangan apa setelah ini?”


Untuk memastikan kebenaran kekuatan terawangan miliknya, Angga beranjak berdiri dan mulai mengambil sepasang sepatu putihnya yang di dalamnya adalah sebuah kaos kaki hitamnya. Tentu saja dirinya akan keluar dari kamar lepau mencari kepastian apa yang Angga rasakan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Saat tengah menuruni undakan anak tangga, Angga mendapati sosok temannya, sahabat perempuannya, dan kekasihnya berdiri di depan pintu villa utama sementara si Reyhan sedang duduk bersandar di sofa panjang berwarna hitam.


“Kalian sedang apa di sana?” Suara Bariton dari nada mulut Angga, membuat keenam remaja menoleh ke arah Angga yang tengah berdiri diam di bagian undakan tangga.


“Lo sudah bangun, Ngga? Pintu villa ini masih saja terkunci. Gue dan Jevran sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membukanya dengan cara ampuh kami, tapi tetep saja hasilnya nihil.”


Angga terdiam sejenak menatap pintu villa tersebut yang menyimpan keganjilan. Memang mereka semua telah dijebak oleh seseorang yang belum mereka ketahui termasuk Angga yang merupakan anak Indigo keturunan dari kedua orangtuanya.


Angga memutuskan untuk mengacuhkannya saja lalu kembali menuruni tangga dan berjalan menyusuri ruangan villa buat menuju ke tempat sesuatu. Reyhan yang memperhatikan sahabat Introvert-nya, menegakkan badannya.


“Angga! Lo mau kemana?” Sayangnya pertanyaan Reyhan tidak digubris oleh sang sahabat, malah justru semakin melangkah jauh darinya.


‘Mau kemana sama ngapain cowok itu? Pasti ada sesuatu yang dia ingin tahu. Lebih baik gue ikutin dia saja.’


Reyhan beranjak dari kursi sofa perlahan lalu mengikuti langkah Angga yang semakin menjauh di bangunan villa Ghosmara luas ini. Meski luka perutnya masih membuat Reyhan tertatih, namun tidak ayal pula dirinya tetap bersikeras untuk membuntuti sahabatnya.


Setelah berapa langkah tempuh menyusuri lorong villa ini, Reyhan melihat Angga berbelok arah ke suatu ruangan yang tertutup dengan pintu jati berwarna cokelat almond. ‘Itu bocah mau ngapain, sih? Bikin gue penasaran aja.’


Angga membuka pintu itu yang tanpa dikunci lalu langsung memasukinya. Reyhan menggelengkan kepalanya dan memilih kembali mengikutinya tanpa bersuara walau hatinya terus mendumel melulu. Reyhan meneguk salivanya kasar saat dirinya menelisik setiap ruangan gelap yang banyak barang-barang kotor berdebu tak terpakai beserta kotak-kotak kardus yang saling bertumpukan di tengah ruangan maupun dipojok-pojok ruangan.


Sampai tiba-tiba Reyhan melihat seekor tikus hitam wirok besar yang berjalan cepat dengan suara decitan nang membuat manusia lelaki itu bergidik geli, sampai Reyhan memeluk tembok gudang. “Kyaaaaa! Ada tikuuuss!! Hih, jijik banget gue sumpah!”


Angga terperanjat kaget sampai reflek menyoroti cahaya blitz ponselnya ke Reyhan yang posisinya takut sambil memeluk tembok gudang. “Rey?! Ngapain sih lo ke sini?”


“Huh! Elo yang kenapa ke sini?! Kurang kerjaan banget, dah sampe masuk gudang segala! Gak lihat, apa ada tikus wirok item?!” sebal Reyhan sambil melepaskan pelukannya dari tembok datar dan dingin seperti bentuk wajah sahabatnya.


“Gue nggak lihat,” jawab Angga lalu mengarahkan cahaya ponselnya dari Reyhan ke kardus-kardus ukuran sedang yang bertumpukan untuk hendak Angga singkirkan dari atas karpet merah maroon lingkaran.


Reyhan mendengus kemudian melangkah mendekati Angga. “Lo ngapain ke sini? Aneh bener. Mau ngepet, ya?”


“Sembarangan kalau ngomong! Mending lo diam saja di situ!” semprot Angga kesal sambil meletakkan ponselnya di lantai yang terbuat dari kayu sama halnya seperti lantai loteng lalu mulai menyingkirkan beberapa kotak kardus.


“Mau gue bantuin, gak?” tanya Reyhan menawari.


“Gak usah, lo lagi sakit.”


Reyhan menghela napasnya lalu mengangguk saja, dan memilih memperhatikan sahabatnya bekerja. Lelaki Friendly itu mengerutkan dahinya saat menatap karpet lingkaran merah tua setelah Angga menyingkirkan kardus-kardus ke samping berjarak dua langkah saja.


“Lo mau semedi, kah?” Pertanyaan konyol dari Reyhan membuat Angga mendengus lalu menatap tajam sahabat humorisnya itu.


“Lama-lama gue sentil mulut lo! Bisa gak usah ngaco nggak, sih?! Shut up, oke?”


Angga langsung menyingkap karpet merah tua itu dan melemparkannya ke samping kanan begitu saja. Tidak tahukah wahai lelaki Indigo Tampan? Debu karpet lingkaran tersebut berjaya menerpa wajah si gantengnya Reyhan.


“Huachin!!! Ah ...! Anjir ya lu, Ngga! Yang ngira-ngira aja dong kalau mau ngelempar. Udah tau berdebu!” protes omel Reyhan sembari mengusap-usap hidungnya yang gatal karena hendak ingin bersin lagi.


Angga tersenyum kecil. “Sengaja.”


“Sobat Sialan!” umpat Reyhan dari belakang sambil mengayunkan pukulan kepalannya ke belakang tanpa langsung menyerang Angga sebagai balasannya. Mana mungkin dirinya menyakiti sahabatnya sendiri? Ya, walau dulunya pernah di kejadian waktu di puncak hutan kota Bogor.


“Bujug! Ternyata kalian berdua di sini, toh?!” celetuk Aji menghampiri Angga dan Reyhan begitupun dengan lainnya yang ada di belakang punggungnya Aji.


“Tau, tuh! Kebiasaan, pergi gak ngajak-ngajak!” timpal Jova dengan bersedekap di dada.


Reyhan yang mendengar timpalan omelan dari Jova sang sahabat perempuannya, mencibirnya sebal karena tentang perdebatan mulut mereka kemarin belum usai sampai sekarang. Sementara gadis cantik kalem nan lembut yaitu Freya menggeser langkahnya dari belakang tubuh Jova untuk mendekati kekasihnya dan sahabat lelakinya.


“Kalian sedang apa di sini? Berani banget, ya padahal gudangnya gelap gini,” ujar Freya dengan tersenyum manis.


“Kan kami cowok jantan, Sis. Jadi cuman gudang gelap doang mah, not scared.” Reyhan tersenyum lebar dengan hati bangganya walau semua itu terbalik membuat Angga yang sibuk menatap bawahnya, memutar badannya ke belakang beberapa derajat.


“Yakin lo cowok jantan? Yakin not scared? Tikus hitam lewat saja lo menjerit kayak cewek sampai meluk tembok,” kata Angga.


“Hahahahahaha!!!” Aji, Freya, Jova, Lala, Rena, dan Jevran tertawa puas setelah mendengar ucapannya Angga yang memang sengaja ingin memalukan Reyhan untuk pertama kalinya hingga membuat sahabatnya menekuk wajah.


“Dasar Sahabat pembongkar aib! Sebel, gue!” Reyhan segera mendorong tubuh Angga yang ada di depannya namun hal itu tidak membuat sahabatnya tersungkur ke depan, malahan berjaya buat Angga tertawa pelan.


Angga kini beralih memutar badannya semula lalu mulai memegang gagang pintu kecil yang sudah berkarat, hal itu membuat kesemua yang menatap aktivitasnya Angga auto mengernyitkan keningnya masing-masing bahkan ada yang sampai saling melemparkan pandangan ke satu sama lain.


Angga membuka pintu lingkaran yang bergabung dengan model lantai tersebut secara mengangkatnya. Meskipun terbuat dari kayu dan itu adalah kayu jati, akan tetapi begitu berat seperti besi saat dirinya membuka menggunakan tenaga lebihnya.


Kesemua remaja yang ada di belakangnya Angga, mulai berjalan mendekati lubang dari dalam pintu yang telah Angga buka. Angga menatapnya biasa tak juga dengan ketujuh remaja tersebut yang melongo melihat gelapnya ruangan bawah tersebut. Bahkan ada pula takjubnya tujuh remaja itu karena ada sebuah tangga untuk turun ke bawah sana.


‘Ternyata benar terawangan gue tadi. Ada sebuah tangga bawah tanah di sini, haruskah kami pergi ke bawah sana untuk mencari sesuatu yang bisa diperoleh? Tapi bagaimana dengan suara aneh itu? Kenapa sekarang sudah tidak ada lagi sedikitpun suara itu terdengar?’


Sebetulnya dan sesungguhnya asli berasal darimana suara aneh serta janggal yang Angga dengar tadi di dalam kamarnya? Lalu apa yang akan terjadi pada mereka berdelapan jikalau turun dan menyusuri ruangan gelap tanpa adanya cahaya tersebut? Bahkan Kenzo yang menghilang secara misterius belum sanggup mereka temukan, dimana ia berada?


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2