Indigo

Indigo
Chapter 61 | Giving a Motivation


__ADS_3

Angin terus saja berhembusan meniup rambut hitam Angga yang pemuda tersebut tengah berdiri di atas Rooftop sekolah. Memandangi pemandangan kota Jakarta dan langit-langit biru di atas, Angga terlihat menghela napasnya dengan memejamkan matanya. Berusaha merilekskan pikiran sejenak dari kondisi Reyhan yang masih sama. Tak tahu lagi bagaimana caranya untuk menghibur hilangkan Depresi sahabatnya, maka dari itu Angga berusaha tetap mencari caranya. Untuk sekedar menjenguk, itu tak ada apa-apanya dikarenakan sepanjang jam ia menjenguk di kamar rawat sahabatnya, Angga seperti berada di wilayah kuburan. Angga memang suka tempat yang penuh ketenangan tapi tidak seperti itu apalagi melihat Reyhan yang penuh banyak membisu dan bermuka datar, bahkan terkadang ia ngelamun.


Angga menundukkan kepalanya dengan kedua tangan menyangga di atas pagar besi pembatas Rooftop. Angga sungguh tidak menginginkan Reyhan yang seperti sekarang ini, tetapi mau bagaimana lagi?


“Cowok ganteng.”


Suara seorang gadis memanggilnya dengan sebutan 'cowok ganteng' membuat Angga yang menenangkan pikiran hatinya, mendongakkan kepala dan membuka mata. Pemuda itu menoleh kepalanya ke samping kiri dengan sedikit menyerong-kan badannya juga ke kiri.


“Hihihihihi!” Suara yang melengking menyeramkan masuk ke telinga Angga. Wajah yang menakutkan dengan mata khas-khas hantu seperti di film Horor, bahkan pakaiannya lusuh tak pantas dipakai.


Angga hanya menatap jengah pada gadis hantu itu yang mencoba menakut-nakuti pemuda yang memiliki indera keenam tersebut. Tak ada sedikitpun Angga menunjukkan ekspresi ketakutan di wajahnya.


“Kok nggak takut, sih?!” kesal hantu gadis itu.


“Kenapa? Gak usah sok nakut-nakuti aku, karena aku gak ada takut sama wujud sosok dirimu,” jawab Angga dengan nada dinginnya.


“Pemberani juga ini cowok. Yah, gak terkenal dong aku sebagai Arwah yang hebat meneror manusia!” kecewa sosok tersebut dengan berkacak pinggang.


“Heh, kembaliin wujud mu yang kayak biasanya. Bosen aku ngeliat itu muka hancur seperti kepingan pecahan teko kaca!” sindir Angga.


Senja mendengus sebal pada sindiran Angga yang mengenai dirinya, hanya satu jentikan jari itu berhasil membuat gadis Arwah tersebut wujudnya berubah seperti biasanya yang Angga kenal.


“Nyebelin banget, deh! Padahal seluruh wujud ku berubah total, tapi kenapa kamu bisa ngenalin aku?! Kan aku mau lihat seperti apa kalau kamu lagi ketakutan lihat sosok serem ku.”


“Baca auramu! Ngapain di sini?! Kamu langgar omonganku, ya?! Sudah aku bilangin jangan ke sekolahan ku!”


“Ngegas cepet tua, noh! Emangnya kenapa sih aku gak boleh buntuti kamu ke sekolah? Aku bosen tau setiap hari duduk di kamarnya kamu! Lagian nih ya, sosok Arwah yang kayak aku mana mungkin buat keonaran di SMA elit ini, aku bisa jaga tingkah, kok.”


“Hm.” Angga berdeham kemudian balik lagi menghadap depan untuk menatap pemandangan kota.


“Lama-lama aku cekokin mulutmu pake micin yang pedes level seratus, nih!”


“Terserah.”


“His!” Senja lalu mengerucutkan bibirnya dengan perasaan sebal pada satu manusia ini yang penuh dengan kata-kata singkat dan cuek padanya.


“Angga, mau ikut aku, gak?” tanya Senja.


“Kemana?”


“Ke tempat dimensi alam Arwah dan Roh. Siapa tau kamu dapet temen gak kasat mata selain aku dan Cahya, apalagi kan kamu cowok Indigo. Pasti pernah dong masuk ke dimensi lain ke alam-alam gaib gitu.”


“Ya, memang pernah tapi sekali doang waktu aku masih SD habis itu udah gak lagi.”


“Kenapa? Kan seru.”


“Males. Enakan rebahan di rumah.”


“Huh, dasar cowok rumahan!”


“Gak peduli.”


Seorang petugas kebersihan sekolah atau dikenal Cleaning Service membuka pintu Rooftop untuk mengambil ember beserta alat pel yang ada di dalam ember dekat tembok pintu samping. Akan namun beliau yang berumur 43 tahun melihat dan mendengar salah satu siswa sedang berbicara sendiri, kepalanya menghadap ke kiri seolah-olah tengah mengobrol dengan seseorang di sampingnya akan namun pria itu tak melihat wujudnya.


“Angga, kamu ngapain bicara sendiri di sana??” tanya pria Cleaning Service.


Angga dengan kaget dan gelagapan langsung menghadap ke belakang. Menatap beliau yang terlihat memegang ember abu-abu yang di dalamnya ada sebuah alat pel. ‘Mati gue, pasti pak Tomi dari tadi dengerin dan lihat gue ngobrol sendiri! Ck, sial.’


“Ngga? Kok malah diem?”


“Eh, s-saya cuman latihan pidato untuk presentasi nanti di depan kelas kok, Pak!”


Pak Tomi percaya. “Oalah lagi latihan pidato, tapi kok kamu cuma sendiri latihannya? Nggak sama temen-temennya?”


“Tidak Pak, saya butuh suasana tenang untuk memudahkan saya hapal dengan teks pidato nanti. Jadinya saya nggak bawa teman ke sini.”


Pak Tomi tersenyum mengangguk. “Oalah gitu, toh. Yasudah kalau begitu, Bapak pergi bersih-bersih dulu ya, Ngga. Semangat latihan pidatonya!”


“Iya Pak, terimakasih.”


Pak Tomi tersenyum lebar lalu berbalik badan pergi bersih-bersih sebagai petugas kebersihan di SMA Internasional ini. Angga menyandarkan punggungnya reflek dengan menghembuskan napasnya lega seraya menyentuh dadanya. Sementara Senja cekikikan melihat kegugupan Angga yang terlihat konyol tersebut, Angga melirik sinis Arwah gadis itu yang malah menertawakan dirinya.


“Sudah ketawanya?” tanya Angga bersama muka datar andalannya.


Senja yang menatap wajah Angga yang menyebalkan itu langsung menghentikan cekikikan-nya. “Udah! Untung aja kamu gak langsung di bilang siswa gila, gimana kalau iya? Auto Koprol deh aku, hahahahaha!!”


Angga menarik napasnya dan membuangnya kasar. “Terusin aja ketawanya, aku mau balik ke kelas.”


Angga benar-benar berdiri tegak dan melangkah meninggalkan Senja, gadis Arwah itu melongo sekaligus mengerutkan jidatnya. Senja melipat kedua tangannya di dada. “Terus aku sama siapa kalau kamu malah balik ke kelas?! Aku ikut kamu ke kelas, ya!”


“Gak!”


“Susul aja si Cahya, dia kan di alam Arwah dan Roh. Pergi aja sana. Jangan mengusik aku disaat aku masih di sekolah!” Dengan judesnya pemuda Indigo itu melanjutkan langkahnya yang terhenti, berjalan masuk ke lorong sekolah yang tertuju tangga turun untuk ke bawah.


“Cowok menyebalkan! Oke, fokus-fokus belajarnya! Jangan ngelamun pula daripada situ disambet nona Kunti genit yang mau ajak nikah kamu, hahahaha!”


Angga menoleh ke belakang dengan tatapan tajam. “Setan sialan!”


Senja menjulurkan lidahnya sementara tangan kanannya ada di atas kepala sekaligus dua jari tangan kanannya yang membentuk peace ia gerakkan bersama kedua bola mata ia juling-kan bermaksud meledek Angga. Setelah itu gadis Arwah tersebut menghilang dalam sekejap mata.


Swingh !


Angga mendengus sebal lalu berbalik badan ke depan dan melangkah meninggalkan Rooftop yang selalu terkenal sepi tak ada penghuni yang menempati Rooftoop meskipun sejenak waktu untuk menaikkan suasana hati moodnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Lorong Sekolah Lantai 3


Freya di dorong ke tembok oleh Youra kemudian gadis bengis itu menghimpit tubuh Freya yang tergambar jelas raut wajahnya sedang ketakutan berhadapan dengan Youra Adrienne Arabella siswi kelas XI IPS 2


“M-mau kamu apasih?” tanya Freya dengan suara bergetar.


“Mau gue? Gue pengen ngasih pelajaran buat cewek cupu gak guna kayak lo! Gara-gara lo, cinta gue dan Alex renggang!! Itu semua salah elo!” Youra meraung marah dengan menarik kerah seragam Freya ke atas.


“K-kenapa kamu malah nyalahin aku?! Bukankah itu kesalahanmu sendiri bermain kasar sama aku waktu itu?!” bentak Freya berusaha berani.


“Oooohh, sekarang berani banget ya bentak-bentak gue? Lo belum kapok gue hajar sampai lo masuk ke rumah sakit?!” ucapnya mendelik pada Freya.


“Buat apa aku takut sama orang cewek yang kayak kamu? Emangnya kalau aku takut, kamu mau apa??!!”


Youra menggertakkan giginya dengan suara mengerang kesal pada ucapan Freya yang semakin mendamprat, bahkan wajah Freya yang ketakutan bersilih ganti menjadi muka kekesalan terhadap Youra yang setiap hari suka mengganggunya, tepatnya mencari masalah baru pada gadis polos tersebut. Youra yang sangat emosi melepaskan satu tangan kirinya dari kerah seragam Freya untuk hendak menamparnya, Freya yang tak bisa apa-apa karena tubuhnya dihimpit Youra hanya mampu memejamkan matanya kuat.

__ADS_1


Saat melayangkan tamparan kencangnya ke pipi gadis lugu itu, lengan Youra di cekal oleh seorang siswa yang menatap dingin padanya. Tinggi Youra yang hanya 164 sentimeter sedangkan pemuda berwajah dingin tersebut 180 sentimeter harus mendongak ke atas siapakah yang mencekal kuat tangannya.


“...” Youra terdiam saat tahu siapa siswa itu.


Freya yang merasa dirinya belum ditampar, membuka kedua matanya. Seperti ada satu orang lagi di sebelahnya, gadis itu menoleh dan agak menarik wajahnya ke atas siapa ia.


“Angga?!”


“Nampar Freya, gue gak segan-segan ngelaporin lo ke kepala sekolah.” Angga kemudian menghempaskan tangan Youra begitu saja, sementara itu Youra merasa ketakutan menatap tajam matanya Angga.


“Brengsek,” gumam Youra melepaskan tangan satunya dari pakaian Freya dan memundurkan langkahnya untuk membebaskan gadis itu lalu melengos pergi begitu saja dengan perasaan hati kesal gagal memberi pelajaran Freya yang habis itu Youra menggiring Freya ke gudang sekolah nang kumuh jarang dipakai. Ya, siasat jahat Youra digagalkan oleh Angga.


Angga terus menatap kepergian Youra yang lama-lama tak terlihat karena berbelok arah. Pemuda itu menghembuskan napasnya kasar kemudian menghadapkan tubuhnya lalu menatap intens kepada sahabat kecilnya.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Angga dengan memegang kedua bahu kecil Freya.


“Nggak apa-apa kok, Ngga. Makasih ya kamu udah nolongin aku ...” lirihnya pada kalimat terakhir.


“Oke. Kamu kenapa jalan sendiri? Youra pastinya gak akan pernah puas buat ngelakuin sesuatu sama kamu. Sudah tau begitu, jalan sama Jova atau temen lain.”


“Maaf, aku tuh mau nyariin kamu. Soalnya kamu ditunggu sama temen-temen kita di perpus, yaudah yuk daripada lama-lama di sini mending kita langsung aja ke perpustakaan.”


“Males, mau balik ke kelas.” Angga melepaskan kedua tangannya dari dua bahu Freya.


“Ayolah!”


Freya dengan wajah semangat menarik tangan Angga pergi dari tempat lorong sepi tersebut. Gadis itu terus menarik pemuda tampan tersebut sampai tiba di ruang perpustakaan, tempat dimana beberapa siswa dan siswi suka membaca buku apalagi sang pecinta novel.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Ruang Perpustakaan


Terdapat banyak siswa dan siswi duduk di kursi meja khusus membaca buku rada dekat di jendela yang terbuka dengan lebar, otomatis udara angin sejuk masuk dan membuat ruang membaca tersebut menjadi nyaman dan segar. Sedangkan pak Arya yang umurnya masih muda ialah 30 tahun sibuk dengan game di ponselnya karena tidak ada kerjaan yang harus beliau kerjakan seperti membersihkan ruangan atau menaruh buku-buku novel di rak-rak buku.


“Ji, lo napa dah kok keliatan lesu begitu? Lo berdua juga.” Raka yang menyadari muka ketiga temannya itu tak menunjukkan semangat ialah Aji, Jevran, dan Rangga penasaran apa yang terjadi dengan teman-temannya.


“Gue bingung banget cara Reyhan kembali seperti yang kita semua kenal dulu,” jawab Aji dengan menundukkan kepalanya.


Rangga menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Huh, segala cara udah kita usahain buat hibur si Reyhan yang masih di rawat dalem rumah sakit Wijaya. Tapi akhirnya kami bertiga tau ...”


“Tau apa?” kompak penasaran Raka, Andra, Ryan, Joshua, Kenzo, Lala, Zara, Rena, dan Jova.


“Semuanya gak mempan untuk Reyhan. Hhhh ...” sambung Jevran dengan lantas itu ia menutupi mukanya menggunakan kedua telapak kedua tangan yang sementara siku dua tangannya menyangga atas meja.


Joshua yang merasa begitu iba dengan tetangganya Reyhan langsung mengusap-usap punggungnya. “Sabar, Vran. Mungkin Reyhan butuh waktu buat nerima semuanya. Yang penting lo bertiga udah berusaha yang terbaik buat Reyhan.”


Aji dan Rangga hanya mengangguk lemah menjawab penuturan dari ketua kelasnya yang sangat pengertian. Mendengar soal Reyhan, Jova ikut menunduk membayangkan kejadian itu lagi disaat mana ia berbuat kesalahan terhadap Reyhan hingga sahabat lelakinya hilang kesadaran, baru pertama kali ini Jova diperlakukan kasar oleh Reyhan yang sebelumnya tidak pernah sama sekali. Gadis tomboy itu bisa membedakan yang seperti apa berdebat, yang seperti apa bertengkar. Jelas-jelasnya waktu itu adalah pertengkaran antara Jova dan Reyhan.


“Va, jangan sedih gini dong. Gue gak mau kalau lo sedih-sedih terus begini?” ucap Lala dengan nada gelayut manja.


Lala kemudian memeluk temannya itu untuk jangan bersedih mulu dengan sikap berbeda dari Reyhan, dilanjutkan Rena ikut memeluk Jova dari samping sedangkan Zara yang duduk berhadapan kepada Jova kedua tangannya mengulur dan dua-dua jari telunjuknya di tangan masing-masing menarik sudut-sudut bibir Jova untuk menariknya agar membentuk sunggingan senyum.


“Senyum dong ah, jangan cemberut gitu. Mana nih seorang cewek cantik yang namanya Jovata Zea Felcia yang setiap hari kalau di sekolah suka membawa pancaran senyuman dan keceriaan?”


Jova tahu maksud dari Zara, teman Jova satu ini ingin menghibur Jova dari sedihnya. Tentunya Zara Syalitta Lupita, Serena Ara Claretta, dan Lala Monica Evryda tak ingin Jova terlarut dalam kesedihannya. Sedangkan para teman lelakinya banyak menghela napas tanpa ada canda tawa di antara mereka, sekalipun di hari Jumat ini tidak ada.


“Ji, Ga, Vran. Disaat kalian jenguk Reyhan kemarin hari Minggu, kalian gak diapa-apain sama si Reyhan, kan??”


Rangga, Jevran, dan Aji saling melemparkan pandangan masing-masing dengan ekspresi lunglai, hingga pada akhirnya Aji yang menjawab pertanyaan Jova, “Aku digebuk Reyhan pake bantal sampe jatuh, gak hanya itu aku sama mereka berdua diamuk sama sahabatmu. Ya, begitulah. Kami bertiga cuman bisa pasrah dengan sikap barunya Reyhan.”


“Gak usah ngajak gue canda dulu, Ndra. Gue lagi nggak pengen bercanda,” ungkap Aji.


Andra langsung terdiam pada ucapan Aji yang tak seperti biasanya, pemuda itu memilih diam tak lagi mengajak bercanda pada temannya itu untuk sementara.


“Prihatin banget gue sama keadaan Reyhan yang setiap emosi pasti langsung lemes. Ya, mungkin itu semua kesalahan gue, Aji, dan juga Jevran. Oh iya Va, kalau aku boleh tau .. si Angga sahabat kalian bertiga yang setia, kah?”


Jova menoleh ke arah Rangga dengan tersenyum pilu. “Kamu bener, Angga tuh sahabat cowok kami yang setia. Meskipun sikapnya Angga memang cuek, tetapi dia penuh peduli, pengertian, begitupun setia sama sahabat-sahabatnya apalagi dengan orangtuanya.”


“Memangnya kenapa, Ga?” tanya Jova.


“Lihat gesitnya nolong Reyhan dengan tangkas. Kemarin pas selesai ngamuk, Reyhan tiba-tiba mau ambruk dan pas banget di sampingnya persis ada Angga, langsung di tangkep deh. Setelah itu, entah kenapa tiba-tiba Reyhan ngeluarin cairan darah dari hidungnya. Saat itu juga aku, Aji, dan Jevran panik bahkan aku sempet negatif thinking sama sahabatmu itu kalau dia punya suatu penyakit. Ternyata karena dia terlalu depresi dan pusing yang berlebihan. Aku tau itu setelah dijelasin sama Angga.”


“Astagfirullah! Reyhan berdarah lagi?! T-tapi kalian jujur aja deh sama aku! Reyhan habis itu gak pingsan, kan?!”


“Tenang, Va. Reyhan baik-baik aja kok. Waktu itu dia langsung tidur pas sudah dibaringkan sama Angga. Takjub bener aku sama sahabatmu itu, cuek-cuek, ketus-ketus, dingin-dingin tapi rupanya Angga punya sisi perhatiannya bahkan kepeduliannya,” tutur Aji dengan senyum simpel.


“Ya, itulah Angga. Tapi aku Alhamdulillah banget, Reyhan nggak kenapa-napa. Selama Reyhan masih seperti itu, buat tawa-tawa aja aku berat banget. Ngaku nih aku, diriku pengen lihat Reyhan yang dulu, aku gak suka Reyhan yang sekarang. Banyak diem, omongannya dingin. Keramahannya kayak udah di telen bumi.”


Mendengar curahan hati Jova yang menunduk membuat kesemua temannya turut sedih sepadan dengan hati gadis tomboy tersebut. Lala yang tadi melepas pelukannya dari tubuh Jova kini merangkul lembut sebagai teman sejatinya.


“Sudah ya, Va. Lo yang banyak sabar. Gue yakin sifat barunya Reyhan gak akan bertahan lama kok. Reyhan kayak gitu karena gak nyangka dulu pertama. Gue gak mau temen gue sedih terus begini, ayo dong senyum,” pinta Lala.


“Hai semuanya.”


Semuanya menoleh yang duduk di kursi meja khusus membaca buku, dilihatnya ternyata itu adalah Freya yang menyapa ramah mereka sedangkan di sebelahnya Freya ada Angga yang wajahnya datar. Mereka yang menatap kedatangan Angga begitupun Freya tersenyum senang.


“Eh Freya udah dateng, sini duduk.” Zara menepuk-nepuk kursi kosong yang ada di sampingnya agar gadis polos temannya segera duduk di dekatnya.


Freya mengangguk tersenyum manis kemudian berjalan lalu menarik kursi kosong yang ada di sampingnya Zara, lantas itu Freya duduk manis di sisinya Zara. Sementara Angga hanya diam berdiri tanpa ada niatan duduk.


“Angga, sinilah Ngga. Masa berdiri aja di situ? Gak pegel emangnya? Hahaha, ayo duduk sini.” Suara titahan Joshua membuat Angga menghela napasnya dan berjalan ke kursi kosong yang ada di dekatnya antara kedelapan teman sesama jenisnya.


Ryan merangkul Angga. “Darimana aja sih, lo?”


“Rooftop.”


“Ngapain, dah?” tanya Raka.


“Biasa.”


“Oh, lagi pengen adem pikiran?” Kini Andra yang bertanya.


“Ya.” Angga kemudian balik bertanya. “Kalian ngumpul di sini kenapa? Baca buku bareng?”


“Gak, sih. Cuman ngademin hati sama mendinginkan kepala. Ruwet banget otak gue kayak kabel charger HP kakak gue,” ungkap Rangga.


“Otak lo kan emang suka ruwet, gak taunya nanti malah jadi mogok itu jalan otaknya.”


“Anjir! Dasar sialan lo, Ka!” geram Rangga.


Angga menghela napasnya kembali, mulai membayangkan Reyhan yang suka menempat diri di ruangan perpustakaan tersebut. Membaca buku novel genre kesukaannya bersama ketiga sahabatnya bahkan teman-teman terbaiknya. Jika seperti ini memang rasanya ada siswa yang kurang.

__ADS_1


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Parkiran SMA Galaxy Admara


Angga terlihat telah menunggang motor Honda Vario hitamnya dan akan menyalakan mesin motornya untuk pergi menuju ke Komplek rumahnya, namun saat akan menyalakan mesin HP Angga yang ada di saku celana seramnya bergetar, yang artinya ada telepon yang menghubunginya.


Dengan segera Angga merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel Androidnya lalu melihat layar ponselnya yang tertera profil kontaknya Jihan. Angga menggesek layarnya ke atas untuk mengangkatnya.


...----------------...


...TANTE JIHAN...


^^^Halo Tante, Assalamualaikum^^^


Waalaikumsalam, Angga. Nak, kamu sudah pulang? Maksud Tante kamu mau pulang ke rumah?


^^^Ini Angga lagi di parkiran sekolah, Tan. Memangnya ada apa Tante? Tante mau minta tolong sama Angga?^^^


Betul Nak, saat ini Tante dan om Farhan sedang di rumah nenek kakeknya Reyhan karena ada urusan mendadak, jadinya Reyhan terpaksa Tante sama om tinggal di rumah sakit. Nah, apakah Tante boleh minta tolong sama Angga?


^^^Boleh kok Tan, mau minta tolong apa?^^^


Tolong jagain dan temenin Reyhan sebentar kira-kira bisa nggak, Nak? Kalau nggak bisa tidak masalah kok. Nanti Tante dan om langsung balik ke rumah sakit


^^^Oh, bisa kok Tan. Bisa. Sekarang ini juga Angga bakal dateng ke rumah sakit buat jaga dan temenin Reyhan^^^


Eh, gakpapa nih Ngga? Memangnya kamu nggak capek? Hehehehe


^^^Enggak kok Tante^^^


Oh yasudah deh kalau begitu. Makasih banget ya Angga. Pasti Tante dan om balik cepet kok


^^^Sebisa Tante dan om aja mau balik jam berapa, kalau bisanya malem Gak masalah juga kok, Angga masih bisa di rumah sakit sampai kalian balik^^^


Ya ampun Ngga, gak mungkin dong Tante sama om baliknya malam. Kasian kamu nanti kalau pulang ke rumahnya malem-malem, nanti bisa sakit


^^^Angga sudah terbiasa, Tan^^^


Hehehe, pokoknya nanti Tante dan om balik cepet kok. Yasudah ya Angga, Tante tutup telponnya. Sekali lagi makasih banget ya, Nak


^^^Iya Tante, sama-sama^^^


...----------------...


Setelah mengucapkan salam untuk mengakhiri telepon, Jihan menutup teleponnya dahulu. Angga memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana SMA-nya kemudian segera mengenakan helmnya lalu menyalakan mesin motornya meninggalkan parkiran sekolah elite yang telah sepi.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


RS Wijaya Kamar Rawat No 114


Reyhan yang tengah baring di ranjang pasien mulai menolehkan kepalanya ke kanan yang langsung tertuju suatu benda di atas meja nakas. Pisau.


Tangan kanan Reyhan terangkat lalu mengulurkannya ke meja nakas untuk mengambil pisau tersebut yang tergeletak di sana. Usai berjaya mengambil benda tajam berbahaya itu kalau terkena kulit, Pisau yang telah ada di genggaman telapak tangan kanan Reyhan pemuda itu dekatkan ke wajahnya yang begitu pucat. Reyhan menatap lekat mata pisau tersebut dengan genggaman kuat di tangannya yang gemetaran itu dikarenakan sebenarnya tenaga tangannya belum mampu untuk memegang benda apapun akibat ia terbaring Koma empat bulan yang membuat tangan Reyhan kaku dan anggota tubuh lainnya.


Di sisi lain, Angga yang telah menempuh perjalanan ke RS Wijaya dan memarkirkan motornya sekarang pemuda jiwa pemberani itu tengah melewati lobby rumah sakit tersebut. Angga kemudian menekan tombol yang ada di dekat lift agar lift itu terbuka lebar dengan otomatisnya, usai Angga memasuki dalam lift tangannya menekan tombol menutup lift sekaligus mencet tombol angka 4 untuk menuju ke lantai 4 dimana kamar rawat sahabatnya berada di sana. Tak menunggu lama kemudian, lift terbuka sesuai pada tujuan Angga.


Sementara di kamar rawat, Reyhan mengepalkan telapak tangan kanannya untuk melakukan aksi mengerikannya. Dengan air mata berderai, dalam baringnya mata pisau itu ia arahkan ke pergelangan nadi tangan kirinya. Pemuda itu bersiap menutup riwayatnya setelah urat nadinya terputus oleh sayatan pisau yang ia torehkan nanti. Kini sisi pisau tersebut telah Reyhan tempelkan di pergelangan tangannya tepat nadinya yang masih berdenyut, hanya perlu ia tekan sekaligus ia sayat panjang pergelangan tangannya.


“Selamat tinggal dunia.”


Cklek !


Angga membuka pintu kamar rawat. Mata pemuda Indigo itu mencuat, pada sahabatnya yang akan mengakhiri hidupnya, dengan cepat Angga berlari menghentikan aksi Reyhan.


“REYHAN JANGAN!!!”


Angga merebut pisau itu yang masih di genggam oleh Reyhan, tak peduli jikalau mata pisau itu berhasil menyayat kulit tangan Angga. Reyhan yang tetap ingin menutup riwayatnya, merebut juga pisau itu hingga terjadi saling tarik menarik pisau tajam itu. Tapi, karena tenaga Angga jauh lebih kuat dibanding Reyhan akhirnya pisau itu berhasil Angga rebut dan Angga jatuhkan kencang benda membahayakan itu ke lantai dengan amarah.


Napas Angga naik turun dengan menatap pisau yang telah tergeletak usai Angga jatuhkan begitu saja di lantai. Ia tak menyangka Reyhan akan melakukan yang membuat dirinya mati. Sementara Reyhan meremat selimutnya yang ia kenakan dengan kedua telapak tangannya, suara yang mengernyit dikarenakan depresinya semakin menjadi-jadi.


Angga menolehkan kepalanya cepat ke Reyhan dengan bola mata mencuat tajam, dirinya yang karena marah pada perilaku Reyhan langsung mencengkram kerah baju pasien biru sahabatnya dan ia tarik ke atas membuat Reyhan terangkat ke posisi duduk.


“Apa lo udah gak waras? LO UDAH GAK WARAS, HAH??!!”


Reyhan hanya diam tak menjawab Angga yang begitu sangat marah padanya. Angga menelan ludahnya sementara rahangnya mulai mengeras. “Dimana akal sehat lo?! Apa ini caranya biar lo gak kayak gini?!”


“JAWAB REY!!!”


“DENGAN GUE MATI, GUE GAK AKAN MEREPOTKAN LO SEMUA HANYA KARENA KEADAAN BURUK GUE, ANGGA!!!”


Angga menggelengkan kepalanya dengan air mata mulai menetes. “Apa lo gak sadar apa yang lo lakuin tadi? MEMANGNYA DENGAN LO BUNUH DIRI, SEMUANYA AKAN BAIK-BAIK SAJA??!! ENGGAK REY!! ENGGAK!!!”


“Kenapa?” Reyhan juga mengeluarkan air matanya dengan menatap Angga tajam. “SEHARUSNYA LO SENENG KALAU GUE MATI!! KARENA GAK AKAN ADA YANG BUAT DIRI LO MALU!! APA LO GAK PUNYA RASA MALU TENTANG GUE YANG SEKARANG LUMPUH, AKTIVITAS GAK NORMAL, NYUSAHIN ORANG??!! GUE PANTES MATI, NGGA!! GUE GAK PANTES BUAT HIDUP!!!”


Angga yang masih mencengkram kedua kerah baju Reyhan dengan masing-masing tangannya lagi-lagi menggelengkan kepalanya kuat, bahkan air mata yang turun mengalir perlahan ke pipinya kini membanjiri pipinya dengan deras karena perkataan Reyhan yang seolah-olah sahabatnya putus asa dan tak memiliki lagi kehidupan yang sahabatnya miliki.


Angga seketika langsung memeluk Reyhan erat dan berkata, “Apa yang lo katakan tadi gak pantes lo lontarkan! Keluarga lo, temen-temen lo, bahkan sahabat-sahabat lo terima lo apa adanya bahkan keadaan lo yang masih seperti ini tetep kami terima, Rey! Lo jangan bilang kalau lo gak pantes hidup! Lo pantas hidup, lo berharga buat kami semuanya!”


“Ada yang harus lo tau Rey, gue dan yang lain ingin lo gak terpuruk seperti ini! Kami ingin lo kembali seperti yang dulu, kami rindu tingkah lo yang kami kenal, Rey.”


“Gue sadar Ngga, gue ini orang yang pembawa sial! Seharusnya gue mati saja! Gak perlu lagi gue hidup!”


“Jangan Rey! Gue mohon jangan bilang seperti itu! Lo bukan pembawa sial, tapi lo pembawa semangat bagi kami yang kenal lo dari lama! Sekali lagi gue minta tolong sama lo Reyhan ... jangan pernah lo berkata yang gak pantes lo ucapin dan jangan pernah lagi lo lakuin yang buat hidup lo berakhir.”


“Kami ada untuk lo selamanya.”


Ucapan Angga yang terakhir berhasil membuat Reyhan yang menangis terisak, terenyuh apalagi sekarang sahabat Introvert-nya itu menepuk-nepuk punggungnya untuk mengembalikan semangat hidupnya dan motivasi yang Angga berikan untuknya. Reyhan merasakan itu.


Dalam dekapan sahabatnya, Reyhan menunduk dan kembali terisak. “Maafkan gue, Angga.”


“Sudah, nggak apa-apa, Reyhan.” Angga melepaskan pelukannya dari tubuh Reyhan kemudian mengangkat tangan kanannya yang sementara di telapaknya sudah mengepal. “Ayo, bangkitkan semangat lo!”


Reyhan terdiam dan matanya tak berpaling dari sahabatnya yang menatapnya serius. Reyhan tahu Angga sedang menunggu jawabannya.


“Semangat?”


Pertanyaan Angga yang membuat rasa Reyhan terpuruk selama berminggu-minggu lama kemudian jiwa semangat dirinya menaik. Reyhan perlahan menarik sunggingan senyumannya yang menghilang, dan menanggapi sahabatnya yang masih menunggu ungkapan jawaban darinya.


“Oke, semangat!”


Angga tersenyum lebar bahagia mendengar jawaban nada semangat Reyhan apalagi melihatnya Reyhan kembali tersenyum yang selama ini jarang Reyhan tampilkan beberapa minggu ini. Kini sekarang berkat motivasi hidup dari sahabatnya, Reyhan mampu mengukirkan senyumannya di wajah yang ia patri. Depresi yang lekat di jiwanya perlahan terlepas, sedih terpuruknya pada keadaan dirinya akhirnya sedikit demi sedikit memudar.

__ADS_1


Ya, Reyhan sungguh tidak menyesal dipertemukan seorang sahabat yang terbaik seperti Anggara Vincent Kavindra kendatipun jiwanya Introvert.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2