
Gadis Tomboy yang tidak lain adalah si Jova, baru saja di di dalam ruang kelasnya yang terlihat sepi dan banyak yang belum datang kecuali dirinya nang telah sampai. Jova meletakkan tas ransel ungunya di kursi secara tak santai, lalu mendudukkan pantatnya kencang di atas bangku kursinya.
Nampak gadis tersebut tengah tak bersemangat di hari Senin pagi ini. Meski cuacanya tak terlihat mendung, namun sekarang mata Jova sangat kantuk dan ingin segera tidur. Kedua tangannya saling bertumpuk di atas meja, lalu kepalanya ia letakkan di atas lengan tangannya yang sebagai bantal. Tak peduli nanti ia dilihat banyak siswa-siswi yang berdatangan masuk ke dalam kelas, yang penting sekarang ia mau memejamkan matanya untuk kembali tidur dengan lelap serta nyenyak.
Di sisi lain, Reyhan yang sedang melangkah penuh raut wajah semangat akan menuju ke dalam kelas XI IPA 2, sedang bersenandung macam biasanya. Karena itu adalah hobinya. Setelah masuk ke dalam kelasnya, pandangan lelaki humoris berambut cokelat dengan gaya style keren itu terbentur pada salah satu sahabatnya yang enakan tidur di bangkunya.
Reyhan berhenti bersenandung lalu melangkah menginjak lantai kelas untuk menghampiri Jova yang tengah tidur pulas. Hal itu, Reyhan menggelengkan kepalanya dengan berdecak berkali-kali. “Aduhai ... enak banget boboknya?”
Reyhan melepaskan tas punggungnya segera lalu dengan sengaja ia melemparkan tas ransel abu-abunya ke bangku kursinya yang ada di belakang bangku sahabat gadis Tomboy-nya. Meskipun terdengar sangat keras lemparan Reyhan yang kini tasnya mendarat di kursinya, Jova masih saja setia bersama mimpinya yang ia jumpai.
“Buset?! Ini anak tidur apa lagi pingsan, sih?! Padahal sekeras itu suaranya, tapi ini cewek gak bangun-bangun.”
Reyhan mendekatkan wajahnya di muka damainya Jova yang gadis itu nampak pulas tidurnya, tangan Reyhan melambai-lambai depan muka sahabatnya. “Halo, Neng? Neng? Beh, lagian tumben ini cewek datengnya awal amat.”
Reyhan menjauhkan mukanya dari Jova lalu menegakkan badannya yang posisi ia tengah berdiri di sebelah bangku gadis berambut cokelat pirang panjang tanpa memiliki poni tersebut. Pemuda itu nampak tengah memikir cara membangunkan Jova dari tidur lelapnya.
“Enaknya ini bocah diapain, ya?”
Tatkala setelah mempunyai ide bagusnya, Reyhan menjetikkan jarinya. “Aha! Gue punya ide yang sangat cemerlang, hehehehe!”
Reyhan kemudian melangkah mendekati tasnya yang ada di kursi bangkunya, lalu tangannya membuka resleting tas ranselnya untuk mengeluarkan sesuatu yang ampun membangunkan Jova dari tidur lelapnya. Usai apa yang Reyhan dapatkan, dengan senyuman jahilnya, lelaki Friendly tersebut menatap satu buah yang ia pegang sekarang.
“Karena nanti ada praktek membuat aneka makanan seger, mending buah lemon ini gue jadiin bahan hiburan buat gue. Kayaknya bakal seru, nih kalau Jova gue kerjain sama ini buah lemon, hahaha!”
Reyhan mengambil pisau buah dari plastik biru lepau memotong buah lemon itu untuk Jova yang sibuk dengan mimpi indahnya. Setelah mengiris satu potong lemon, Reyhan meletakkan pelan pisaunya di atas mejanya kemudian jarinya ia tekan di atas buah masam tersebut hingga keluar sedikit airnya.
Tanpa meletakkan buah yang telah ia iris, Reyhan berbalik badan menghampiri Jova. Di situ dengan sifat watak nakalnya, Reyhan memberikan polesan air dari buah lemon tersebut di bibir bawah-atasnya Jova. Reyhan melakukan kejahilan itu secara lembut dan tak kasar sedikitpun.
“Tinggal tunggu aja hasilnya kayak gimana,” ucap Reyhan bermonolog dengan cekikikan.
Jova dalam tidurnya mengecap bibirnya dengan reflek mengeluarkan lidahnya sedikit, tetapi karena ada rasa sesuatu yang Jova pernah rasakan, sontak gadis tersebut membuka matanya cepat bersama tangannya mengelap bibirnya yang agak berair. “Bwah, kecut banget! Apaan sih, ini?!”
Jova langsung menolehkan kepalanya pada satu siswa ialah Reyhan sang sahabatnya. “Woi! Bibirku kamu kasih ketekmu, ya?! Asem banget, Cuy!”
“Dasar mulut lato-lato! Heh! Jangan sembarangan, dong kalau ngomong! Mana ada bibirmu aku kasih ketekku! Noh, di tanganku ada buah lemon.”
Jova beralih menatap buah yang berwarna kuning segar tersebut lalu mengalihkan pandangannya dari buah masam itu ke Reyhan yang telah rese padanya. “Sahabat Dajjal! Kamu gak bisa, apa? Biarin aku bobok dengan tenang?! Ngantuk banget, tau!”
Reyhan meletakkan buah melonnya di atas meja bangkunya kemudian menoleh memirsa Jova yang kini reaksinya mengambil protes secara gratis. “Halah, itu mah kamu-nya aja yang emang dasar kebo! Kalau tidur, mending sekalian di ruang UKS!”
Jova bangkit dari kursinya dengan tampang murka beserta jiwanya yang emosi terhadap Reyhan, terlebihnya gadis tersebut tengah sedang mengalami datang bulan. Jadinya ia mampu naik darah akibat ulah sahabat humorisnya. Sementara, Reyhan meneguk ludahnya saat mendengar Jova mendengus yang mana dadanya naik-turun mode cepat.
“Ampun ... maaf, Eneng jagooo!!!” pekik Reyhan di kalimat terakhir lalu berlari kabur dari Jova. Tak ayal pula si Jova segera mengejar Reyhan yang larinya begitu sangat kilat bak macam petir.
Kedua sahabat itu di dalam kelas yang masih terdapat mereka berdua yang datang, saling bermain kejar-kejaran seperti anak kecil. Jova juga tak ada habis-habisnya mengumpat dengan kata-kata toksiknya pada Reyhan yang ia kejar tersebut, sedangkan Reyhan yang dikatakan seperti itu hanya bisa meminta ampun kepada Jova sang sahabatnya yang tengah PMS.
Reyhan menolehkan kepalanya ke belakang. “Udah dong, Bleng ngejarnya! Nanti tenagaku buat olahraga bisa hilang karena gara-gara kamu!”
“Bodo amat! Siapa yang peduli- eh! Kunyuk, awas di depanmu!!” pekik Jova memperingati Reyhan.
BUG !!!
BRUGH !
Reyhan terjatuh di lantai dengan sangat keras usai menubruk tubuh seseorang yang ada di depannya, akibat tabrakannya yang tak disengaja olehnya, siswa nang terkena tubrukan tubuhnya pula juga ikut terjatuh keras di lantai. Reyhan mengusap-usap pantatnya dengan mendesis kesakitan, sementara siswa yang telah ia tabrak tengah berusaha bangkit dari terbaring-nya di lantai dingin kelas.
Freya yang ada di sebelah siswa tersebut yang kini posisinya jatuh terbaring di lantai, lekas cepat jongkok untuk membantunya bangun. “Angga! Kamu nggak kenapa-napa?! Aduh, sini pelan-pelan!”
Ya, yang Reyhan tabrak tadi adalah Angga sahabat Introvert-nya. Hal itu membuat Reyhan yang menyadarinya, melongok dan merasa takut karena pastinya Angga akan meledak-ledak untuk memarahinya sekaligus menasehatinya.
Setelah membangkitkan Angga dalam posisi duduk, Freya memegang kepala sahabat kecilnya lalu menoleh menatap tajam Reyhan yang nyengir kuda. “Reyhan! Kamu mah yang hati-hati, dong! Untung kondisi kepalanya Angga masih aman-aman aja.”
Freya melepaskan kedua tangannya dari kepala Angga, sementara lelaki tampan berambut hitam dengan gaya style kece menatap Reyhan dan Jova secara bergiliran. “Kalian berdua! Apa kalian nggak bisa dewasa sedikit, masalah sepele aja dibuat ribut kayak perdebatan anak kecil. Kalian ini sudah bukan lagi anak TK atau SD, tapi SMA!”
“Jangan marahin aku dong, Ngga! Reyhan dulu yang mulai!” kesal Jova menuding Reyhan yang sudah bangkit berdiri.
“Eh! Kok aku, sih?! Kan kamu yang main ngejar-ngejar aku sampe nabrak Angga!”
“Tapi kan semua dari kesalahan awal, kan kamu! Aku lagi enakan tidur tapi kamu malah ganggu aku pake lemon punyamu itu!”
“Pokoknya kamu yang salah!” sarkas Reyhan tak mau mengalah.
“Nggak bisa, lah! Kamu duluan yang bikin aku emosi! Aku tuh lagi palang merah ya, Rey! Tapi kamu malah cari gara-gara sama aku!”
“Ya, maaf! Aku kan gak tau kalau kamu lagi dapet! Ngomong kek dari tadi, biar gak jadi kayak gini!”
Angga yang sudah kembali berdiri dengan sedikit dibantu oleh Freya, menghempaskan napasnya kasar bersama wajah tampang dinginnya. “Ck, sudah-sudah! Tolong cukup! Bisa, kah nggak perlu sampai bertengkar?! Sahabat seperti apa kalau kesehariannya selalu berantem kayak gitu?!”
Kedua sahabatnya yang suka perang mulut tersebut terdiam bungkam pada pungkasan kata Angga yang memakai nada tinggi. Hal itu membuat beberapa sahabatnya tak berani mengeluarkan tutur-tuturan apapun, seolah kekuatan Indigo Angga membuat aura lelaki tersebut menjadi mencolok terkesan tegas dan tidak mau dibantah.
Beberapa detik kemudian usai melangkah dan meletakkan tas ransel hitamnya di kursi bangku, Angga menghembuskan napasnya pelan untuk membuang rasa murka kesalnya terhadap perdebatan Reyhan dan Jova yang selalu terjadi setiap hari.
“Maafin gue kalau gue tadi membentak kalian berdua. Gue begitu tadi, karena hanya nggak ingin kalian berdebat terus-menerus yang bakal berubah menjadi cekcok antar satu sama lain.”
__ADS_1
“Dan satu lagi, gue begitu karena gue masih ada rasa hati peduli terhadap kalian berdua,” lanjut Angga.
“Kalian boleh bercanda atau meledek, tetapi jangan berlebihan. Ngerti? Apalagi contohnya kayak yang tadi,” tambah Angga seraya memirsa wajah kedua sahabatnya satu persatu dengan muka tegasnya.
“Gue bisa tau mana bercanda yang terlalu dan mana bercanda yang invalid.”
Reyhan dan Jova saling menundukkan kepalanya lalu menganggukkan kepalanya. Kesalahan mereka berdua tersebut seperti ditegur oleh sang kakak saudara kandungnya. Sementara Freya tertegun pada Angga yang sikapnya selain dingin dan cuek rupanya juga memiliki watak yang sangat tegas.
Freya mengedikkan bahunya ngeri dengan meringis karena rupanya kalau Angga sudah tandang untuk melerai kebiasaan Jova dan Reyhan, begitu membuat bulu kuduk tubuh meremang.
‘Hih, Angga serem banget ...’
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Jam istirahat yang telah tiba, memang sudah dari kesenangan semua para siswa dan siswi untuk melepaskan penat dari segala materi bimbingan belajar yang dibimbing oleh gurunya masing-masing. Dan kini di dalam kantin yang terbilang begitu luas, beberapa siswa-siswi dari bangku kelas XI IPA 2, tengah sedang menikmati hidangan makanan mereka tersendiri yang telah mereka pesan tanpa pakai traktir-traktiran.
Freya yang ingin mengambil satu tahu bakso nang masih hangat tersebut di nampan wadah kotak yang ada di hadapannya itu. Namun, gadis tersebut terhenti untuk mengambil, saat teman-temannya banyak berebutan memungut lauk makanan menggiurkan itu. Sampai pada akhirnya, sang gadis lugu melongo karena tahu baksonya telah habis bahkan wadah tersebut sudah kosong.
Angga yang duduk di sebelah Freya, melirik menengok sahabat kecilnya nang bermuka raut kecewa karena tahu baksonya telah habis diambil banyak siswa-siswi lain. Tanpa basa-basi, Angga mengambil tahu bakso yang ada di atas mangkuk baksonya lalu meletakkan di mangkuknya Freya untuk memberikannya non berkata-kata.
Freya yang menatap nanar mangkuknya yang berisi mie ayam bakso, langsung menolehkan kepalanya ke arah Angga yang ada di sebelahnya. Freya hanya melemparkan tatapannya dengan kedua mata indahnya berkedip-kedip. Angga yang menatap wajah cantik Freya macam boneka itu, menganggukkan kepalanya bersama ukiran senyum.
“Kok kamu ngasih tahu bakso punyamu ke aku? Berarti kamu nggak bisa makan tahu baksonya, dong kalau tahu baksonya aja kamu beri ke aku.”
“Gak apa-apa, di makan saja. Aku tau kamu pengen tahu baksonya, jadinya aku kasih tahu baksoku buat kamu.”
Rangga yang akan melahap mienya nang telah tercampur saus dan sambal menggunakan sumpit yang ia pakai, menatap setengah kembarannya dengan heran. “Lah? Kok elo bisa tau? Wah, jangan-jangan lo punya mata batin, ye?”
“Gak.”
Rangga menghela napasnya pasrah setelah mendengar tanggapan Angga yang benar-benar singkat hanya satu kata jawaban saja, apalagi dari nada sudah terdengar dingin. Sementara Freya yang tepat di sampingnya Angga, sedikit bingung pada jalan hatinya sang sahabat kecil. Kalau bersama orang terdekatnya yang paling Angga akrab, sikap lelaki tampan tersebut akan menjadi bersikap hangat, namun pada sebaliknya jika bersama orang biasa atau tak dekat contohnya seorang teman, sikapnya Angga akan berubah jadi dingin.
Namun demikian, Freya memakluminya saja. Mungkin bisa jadi karena akibat masa lalu, Angga sama sekali tidak mau terbuka kecuali dengan orang-orang terdekatnya yang begitu ia sayangi. Sepertinya begitu.
Reyhan yang melihat watak beku sahabat Introvert-nya bahkan sekarang ini muka Angga terlihat jelas datarnya, tangannya mulai mengambil tahu baksonya dari atas mie dalam mangkuk. “Angga, gue kenyang.”
“Maksudnya?” tanya Angga menaikkan bola matanya ke atas yang posisi Reyhan berada di kursi hadapannya.
“Iya. Gue udah habisin tiga tahu bakso sebelum pesanan bakso kita semua dianter ke sini sama pedagang. Jadinya, tahu baksonya buat elo aja.” Reyhan membentangkan tangannya untuk menyodorkan tahu baksonya yang masih hangat ke Angga.
Angga mengangkat tangannya lalu menerima pemberian dari sahabatnya. Pemuda tampan tersebut lumayan menarik kedua sudut bibirnya hingga terbentuklah senyuman tipis. “Thanks.”
“Yoi. Eh? Ajinomoto?!” panggil Reyhan usai memberikan tahu baksonya tersebut pada Angga.
“Kimia ada tugas gak, sih yang harus dibuat dari rumah?” tanya Reyhan deg-degan kalau rupanya sungguh ada PR tugas dari bu Sonya yang beliau berikan.
“Jyah! Mana gue tau! Gue, kan domba.”
Reyhan menjadi keki dan kesal pada jawabannya Aji yang acuh tak acuh lalu kembali memakan baksonya. “Anjir! Gue sumpahin juga lo jadi domba beneran!”
“Gak boleh nyumpahin orang, Rey.” Joshua selaku ketua kelas menegur penuturan kata Reyhan yang bagian wakil kelas di kelas XI IPA 2.
“Maap, Pak ketua! Spontan aje gue ngomong gitu sama itu si bumbu masakan Masako Ajinomoto. Lagian, nanya serius, sana malah jawab yang somprat seenak bokong!”
“Reyhan Kunyuk Sutres! Bisa gak, sih kalau nyocot yang sewajarnya aja?! Ku hantam juga kepalamu pake kursiku!” garang Jova dengan mata melotot pada sahabat humorisnya.
“Apaan, sih?! Dari tadi aku mulu yang kamu marahin, lagian kalau kamu emang tekad hantam kepalaku pake kursi, yang ada balik Koma lagi, aku. Emangnya situ mau bertanggung jawab?”
Angga yang merasa kesal pada buras omongannya Reyhan kepada Jova sekenanya, salah satu kakinya langsung menendang kencang kaki sahabatnya. “Akh! Sakit lho, Cuy! Mana tendangnya pas di tulang kering, lagi! Emang sobat gak ada akhlak!”
“Lo kalau sekali lagi ngomong gitu, gue bedal!”
“Idih? Calonnya psikopat lo, Ngga?? Sadis banget, lu mau bedal sahabat sendiri! Kasian ama Freya kalau lo sifatnya kayak psikopat. Nanti lo malah di kick dari persahabatan sama Freya si cewek muka manis itu.”
Freya mengerutkan keningnya. “Reyhan, aku mau tanya deh sama kamu. Kenapa aku sering dibilang 'muka manis'? Emangnya di seluruh wajahku ada gulanya? Mangkanya dibilang manis.”
“Betul, Frey! Mukamu, kan cantik, imut, menggemaskan. Apalagi manisnya wajahmu udah persis semanis gulali yang aku beli di taman alun-alun kota Jakarta,” celetuk Lala.
“Ho'oh! Saking manisnya mukamu kek gulali yang dikatain Lala, kamu jadi perebutan banyak kaum Adam di sekolah elit ini,” sambar Zara.
“There's one more ! Selain itu, aura mukamu kayak boneka-boneka luar negeri yang dijual di aplikasi olshop (Online shop). Bahkan aku yang temen baikmu ini aja, iri sama wajah cantikmu itu. Kok bisa sih kamu lahir di negara Indonesia? Nggak lahir di negara Jepang atau Korea aja?” celoteh Rena yang memuji kecantikan Freya.
Bukannya tersenyum karena mendapatkan pujian dari ketiga teman perempuannya, Freya malah menampilkan wajah raut bingungnya. Bahkan sekarang gadis Nirmala itu menolehkan kepalanya ke arah Angga yang sibuk mengaduk-aduk mienya. “Angga, kamu ngerti nggak apa yang dimaksud Lala, Rena, sama Zara? Kok aku gak paham, ya?”
Angga hanya mendengus saja tanpa merespon pertanyaan nada lemah lembut dari Freya. Kemudian Freya menolehkan kepalanya untuk bertanya pada Rena, “Ren, masa aku disamain sama boneka? Boneka, kan benda mati. Sedangkan aku benda hidup.”
“Hah?? Kamu benda nih, Frey?” tanya Jova seraya menggigit tahu baksonya.
“Eh- maksudku manusia hidup! Terus, kalau mukaku kayak manisan gulali, berarti harusnya semua wajah aku dipenuhi banyak semut dong, La.”
“Oh, iya. Kenapa aku jadi perebutan banyak siswa-siswa di sini? Sedangkan aku cuman rakyat biasa di kota ini. Bukan aktor selebritis yang banyak banget nge-fans, minta foto bersama, dan minta tanda tangan. Terus terang aja, aku bingung sama kalian terutama kamu, Zar.”
“Sudah, sih. Ngapain kamu ladenin semua omongan dari mereka bertiga? Biarin aja, mereka itu tergolong orang sinting,” ujar Angga seraya menyentuh pucuk kepala gadis polos sahabat kecilnya tersebut.
__ADS_1
“ANGGARA!!!” pekik Zara, Rena, Lala sebal.
“Apa?” santai Angga menjawab membuat hati ketiga perempuan remaja itu makin kesal kepada lelaki tampan tersebut yang bawaannya tetap tenang.
“Nyebelin banget, sih ini bocah!” tukas Rena.
“Eh, Freya. Tumben amat kamu tadi masuk kelasnya bareng sama Angga? Apalagi kamu juga tumben tadi dateng awal seperti dulu lagi. Berangkatnya gak sama Gerald?” tanya Jova penasaran.
Mendengar nama lelaki cabul itu yang sekarang telah menjadi mantannya Freya, gadis lugu tersebut mendengus dengan wajah tampang murka sekaligus tangannya menggebrak meja samping mangkuk miliknya. “Gak usah nyebut nama dia kenapa, sih?!”
Reyhan menaikkan alisnya yang pemuda Friendly itu telah menuntaskan makan-nya di jam istirahat ini. “Kamu kenapa marah gitu, dah? Emangnya apa salahnya kalau Jova nyebut nama pacarmu? Kamu lagi ada masalah, kah sama Gerald?”
Muka Freya berubah menjadi cemberut dengan bercampur hati berangsang. “Soal itu biar Angga yang jawab!”
“Kok aku?”
“Aku males banget jawabnya, Ngga! Bukan males jawab Reyhan, tapi kalau udah mendasar ke cowok itu, aku gak mau peduli lagi!”
Jevran tersentak kaget lalu menatap wajah Angga. “Ngga, emangnya itu ada kaitannya sama elo? Freya kenapa, sih? Sebenernya apa yang udah terjadi? Secara, apa yang gue lihat si Freya kayak udah bau-bau putus sama Gerald.”
Angga menarik napasnya panjang-panjang lalu membuangnya keluar dari mulut, sejenak pemuda tampan tersebut memejamkan matanya. Pikirannya bingung, cerita atau tidak. Bahkan, dirinya tidak mau rumor fakta ini menjadi tersebar kemana-mana selain kelasnya dan terjadilah sebuah gosip-gosip tentang Freya begitupun bejatnya Gerald.
“Rey.”
Reyhan yang fokus pandangannya ke Angga nang belum sama sekali menjawab pertanyaan Jevran sang tetangganya di komplek Kristal alias diam, ia mengalihkan pandangannya dari Angga ke sumber asal suara yang memanggilnya. Cukup Reyhan menolehkan kepalanya ke samping kanan, betapa kagetnya rupanya yang memanggil dirinya adalah Alex.
Seketika raut wajah Reyhan menjadi dingin menatap kedatangan Alex yang kini sedang menatapnya. “Mau apa lo dateng ke sini, hah? Lo mau nyari gara-gara lagi sama gue?!”
Angga membuka matanya cepat saat mendengar suara nada Reyhan yang meninggi itu. Matanya langsung terbentur pada sosok jangkungnya Alex yang sedang berada di sebelahnya Reyhan. Reyhan pun dengan tampang sengitnya melihat musuh bebuyutannya, segera beranjak dari kursinya lalu berhadapan pada Alex bersama tatapan tajamnya.
“Gawat, guys. Sebentar lagi tragedi berdarah antara mereka akan dimulai di sini ...” gumam Raka.
“Udah, itu gampang. Nanti kalau mereka melakukan aksi baku hantam, tinggal lerai aja,” tutur Jevran.
“Jangan gue yang lerai! Nanti kalau gue yang jadi penengah, gue mesti bakal kena tonjokan mereka atau salah satu dari mereka,” takut Andra.
“Cowok cemen, lo!” damprat Ryan sambil menyiku kencang lengan Andra yang duduk di sampingnya.
“Enggak, bukan. Gue nggak pengen nyari gara-gara sama lo lagi,” ujar Alex tanpa menaikkan oktaf nada.
“Terus apa?!” Nampaknya Reyhan masih terlalu emosi dengan Alex, walau nadanya Alex terdengar biasa saja.
Mereka yang ada di sekelompok Reyhan, diam membisu dan memperhatikan dirinya serta Alex. Termasuk Angga yang berusaha membaca hati dan pikiran pemuda itu yang dari anaknya pak Ansel sang pemilik sekolah SMA Galaxy Admara. Di sisi lain, Alex menghembuskan napasnya lalu menatap Reyhan yang sebelumnya menunduk.
“Kedatangan gue ke sini menghampiri lo, karena gue ingin meminta maaf atas kesalahan gue terhadap lo.”
Reyhan menaikkan kedua alisnya dengan mengukirkan senyuman miringnya. “Serius pengen minta maaf?” Kemudian lelaki humoris tersebut bersedekap dada. “Kesambet demit apaan, lo tiba-tiba ingin meminta maaf sama gue?”
Alex membungkamkan bibirnya lalu berpaling sebentar dari Reyhan, kemudian menatapnya kembali. “Gue minta maaf karena dulu sudah bertindak buruk dengan lo. Gue akui, kalau gue salah selama ini. Dan untuk ketidaksengajaan elo sama Youra sebelum lo mengalami Koma, gue juga minta maaf karena telah menuduh lo dan membuat lo gak berdaya di kantin ini.”
Alex membentangkan salah satu tangannya ialah tangan bagian kanan ke Reyhan. “Gue ingin, kita berdua damai. Gue sudah nggak mau bermusuhan lagi dengan lo, Rey. Gue pengen kita berteman.”
Reyhan hanya menurunkan kedua bola matanya untuk menatap tangan Alex yang telah terulur ke arahnya. Perlahan usai itu, kepala Reyhan menoleh melintang ke arah Angga. Bisa lelaki Friendly itu lihat kalau diri Angga sahabatnya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya samar.
Merasa Reyhan tidak mau menerima permintaan maafnya, Alex segera menurunkan tangannya dengan wajah gundah serta menyesal. “Kalau lo gak mau terima dari maafnya gue, oke nggak apa-apa. Gue juga gak maksa. Mungkin kesalahan fatal gue selama ini sudah melewati batas, hingga elo sulit menerima permintaan maaf gue.”
“Jika begitu, gue pergi ...” Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Alex melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Reyhan dengan secara lesu.
Reyhan melepaskan lipatan kedua tangannya dari dada dan memposisikan pada semula, lalu menghembuskan napasnya pelan. Pemuda berambut bermata cokelat menawan tersebut memutar tubuhnya ke belakang.
“Lex, tunggu.”
Alex menghentikan langkahnya kemudian menolehkan kepalanya ke belakang dengan raut muka penuh penyesalan. Anak dari Ansel sang pemilik bangunan sekolah internasional ini yang paling terkenal di kota Jakarta, menatap Reyhan, begitupun juga Reyhan yang masih berdiri di sana.
“Gue mau memaafkan kesalahan lo.”
Kedua mata Alex melotot sempurna karena saking terkejutnya tak menyangka pada ucapannya Reyhan yang dari nada masih terdengar dingin. “S-serius?!”
Reyhan mendengus. “Buat apa juga gue bercanda tentang perihal ini? Iya, gue maafkan kesalahan lo terhadap gue waktu dulu. Sepertinya gak perlu lebih diperpanjang lagi soal masalah-masalah sepele yang membuat gue dan elo baku hantam di sekolah ini. Lagian, kalau kita tetep saja berperilaku egois .. bisa-bisa image bangunan sekolah milik bokap lo, jadi turun dan terkenal buruk.”
Reyhan menghela napasnya untuk melanjutkan penuturan katanya, “Dan semua peristiwa kejadian itu sudah merupakan masa lalu. Jadi baiknya gak perlu diungkit.”
Alex menundukkan kepalanya lalu menganggukkan kepalanya dengan hati penuh rasa bersalah. Jelasnya yang lebih meninggikan egonya adalah dirinya sendiri, bukan Reyhan. Tanpa sadar, lelaki tersebut dihampiri oleh Reyhan.
“Sudahlah. Mulai sekarang kita berdamai dan menjadi teman,” ujar Reyhan dengan menepuk bahu kokoh kanan Alex.
Alex mendongakkan kepalanya dengan mengukirkan senyuman lebarnya meski terlihat ada seraut pilu. Kemudian pemuda yang setinggi Reyhan, memeluk musuhnya yang kini telah menjadi seorang teman. “Thanks, Rey! Makasih karena elo udah mau menerima permintaan maaf gue dan juga mau menjadi temen gue.”
Reyhan tersenyum lalu membalas pelukannya Alex, kemudian setelah itu ia menepuk-nepuk punggung siswa dari bangku kelas XI IPS 2 tersebut. “Doesn't matter, kawan.”
Semua yang ada di dalam kantin memandangi sosok Reyhan dan Alex dengan penuh hati terenyuh melihat mereka yang telah saling berdamai. Termasuk lelaki pemilik kekuatan indera keenam ialah Angga yang tersenyum sumringah karena menatap kedua pemuda remaja tersebut yang sudah rukun satu sama lain.
Alex maupun Reyhan, pula telah melenyapkan ciptaan rasa permusuhan yang merekat di dalam hatinya. Sudah saatnya mereka saling melupakan tragedi berdarah itu yang mereka lakukan masa dahulu. Dan mereka berdua akan bersama-sama membangun rasa pertemanan mulai dari sekarang yang setelah sekian lamanya mereka bermusuhan semenjak masih kelas junior atau kelas X serta berumur 16 tahun.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››