
Jevran menoleh ke arah Angga yang masih menatap bawah ruangan dari atas. “Jangan bilang elo ke sini karena ingin mencari jalan keluar dari jebakan ini yang untuk kita semua?”
“Jika itu bisa dibilang iya, tetapi ada yang lain kenapa gue ke sini,” jawab Angga tanpa menoleh.
Reyhan yang masih berada di sampingnya Angga, menyusutkan jidatnya bingung. “Apaan?”
“Gue-”
“Itu artinya saatnya kita turun ke bawah untuk mencari celah jalan terbaik buat keluar dari villa angker ini!” desak Aji memotong ucapan Angga yang belum selesai.
Benar saja, Aji kini bertekad menurunkan kaki kanannya dan mulai menginjak beberapa undakan anak tangga yang terbuat dari kayu kokoh untuk menuruninya dan akan menelisik setiap ruangan yang nampak gelap dari atas tersebut.
“Aji, tapi-”
“Lo yang pertama menemukan lubang jalan ini, kan? Mending kita coba turun dan mencari jalan keluar. Kalau kita mendekam di sini terus tanpa berinisiatif untuk keluar dari tempat jebakan ini, bagaimana dengan nasibnya Kenzo yang belum kita temukan?” Angga menghela napasnya saat perkataanya itu dipotong lagi dan ini giliran Jevran yang memotong.
Mungkin tidak ada salahnya juga kalau mereka berdelapan masuk ke bawah ruangan gelap tersebut, dan kini Angga menoleh menatap Freya dengan senyumannya. “Yuk, turun.”
Freya hanya mengangguk dengan mengulum senyuman lalu mulai turun perlahan walau dibawah sangatlah gelap baginya. Sebenarnya takut, tetapi gadis lugu nan cantik ini berusaha mengalahkan rasa ketakutannya di hati. Setelah Freya menuruni undakan anak tangga, sekarang bergantian Jova.
Sekarang telah ada enam remaja yang sudah berada dibawah tangga, kurang Angga dan Reyhan yang masih ada di atas. “Lo gak mau turun?”
“Hah? Gue? Elo dulu aja, dah. Gue yang terakhir saja, hehehe!”
Angga menghela napasnya pelan. “Lo dulu saja yang turun, biarkan gue yang terakhir. Pelan-pelan saja turunnya, nggak usah tergesa-gesa.”
Reyhan mendengus dengan senyum kecut. “Iye-iye! Nih, gue turun.”
Angga memperhatikan sahabat Friendly-nya turun menginjak beberapa undakan anak tangga kayu yang ada dibawah sana. Tetapi baru beberapa detik untuk menuruni tangga, terdengar suara jatuh dan pekikan Reyhan yang lumayan keras.
“Rey?! Aduh!” Angga kemudian menepuk keningnya agak keras lalu segera turun dari tangga dengan mode cepatnya.
Setelah menginjak tanah yang telah diamplas oleh semen hingga membuat jalan itu menjadi permukaan yang halus, Angga menggelengkan kepalanya saat melihat Reyhan mengusap-usap pantatnya yang terasa ngilu akibat jatuh dari undakan tangga kelima.
“Sakit banget, Mpan!” rengek Reyhan minta dibantu oleh Angga seraya membentangkan tangan kirinya.
“Mpan?” tanya Angga dengan memiringkan kepalanya.
“Tampan, non peka!” Setelah mendengar sentakan suara dari Reyhan, Angga mendengus lalu tangannya mulai menarik tangan kiri sahabatnya untuk membantunya bangkit berdiri.
“Baru saja gue suruh pelan-pelan dari atas, malah sudah ceroboh duluan!” protes Angga.
“Jangan omelin gue, dong! Noh, salahin sama tangganya yang licin hingga buat gue jatuh dengan kurang estetik!” sebal Reyhan sambil menuding tangga tempat ia terpeleset hingga terjun jatuh ke bawah.
Angga langsung mendorong kencang muka tampang kesal sahabatnya. “Banyak alasan! Itu emang dasarnya lo teledor!”
“Sialan! Awas saja nanti kalau muka gue rusak, gue suruh ganti rugi pake muka lo!” jengkel Reyhan dengan memegang wajahnya.
“Enak saja! Operasi plastik sekalian!”
Freya yang tengah menempelkan kedua tangannya di dadanya dengan wajah setengah takutnya, memutar tubuhnya ke belakang karena mendengar suara perang mulut dari antara Angga dan Reyhan. Mulut Freya yang tadi bungkam kini menganga saat melihat kedua pemuda jangkung berwajah sempurna itu tengah saling menatap tajam seperti ingin bertarung pagi.
“Astaga, kok mereka malah debat?” gumam Freya lalu berlari-lari kecil untuk melerai kekasihnya dan juga sahabatnya.
Freya berhenti berlari kecil setelah berdiri di tengah-tengah kedua pemuda berpostur tubuh adiluhung 180 sentimeter itu, kemudian merentangkan sepasang tangannya ke samping untuk mendorong badan Angga dan badan Reyhan secara bersamaan.
“Aduh, kalian ini! Bukannya mencari jalan keluar dari sini kok malah berantem, sih? Sudah, dong!” tegas Freya menatap tajam sahabat lelakinya dan pujaan hatinya yang kini sekarang terdiam seketika.
“Maaf,” ucap kedua lelaki itu kompak.
__ADS_1
“Kok lu niruin omongan gue, sih?!” Reyhan tidak terima.
Angga memilih melengos meninggalkan Reyhan. “Terserah! Capek gue debat sama lo.”
Reyhan menatap sahabatnya yang pergi meninggalkannya, dan barusan memang terlihat Angga telah memungkasi perdebatan mereka berdua agar tidak terulang lagi. Sebenarnya Angga pula tidak sadar kalau dirinya mengeluarkan perdebatan mulut dengan Reyhan.
“Anggara Vincent Kavindra!! Gue gak dibantu? Tega bener lo sama sahabat sendiri,” rengek Reyhan dengan memasang wajah melas.
Sementara Freya yang ada di sebelahnya Reyhan, hanya menutup mulutnya untuk menahan tawanya karena mendengar rengekan sahabat lelakinya yang seperti anak kecil nang tidak dituruti apa yang ia mau. Sedangkan Angga yang sudah menjauh, menghempaskan napasnya kencang lalu menarik napasnya panjang kemudian membuangnya perlahan. Dirinya sepertinya harus kembali menetapkan sabarnya di hati atas tingkahnya Reyhan.
Angga balik badan lalu menghampiri Reyhan yang nampak tertatih memegang perut bagian kirinya nang terasa perih dan juga nyeri. Setelah itu, Angga mengangkat tangan kanan sahabatnya ke tengkuknya untuk memapahnya berjalan perlahan.
“Yang Ikhlas ya, Ngga.” Akhirnya Freya tertawa cekikikan menatap wajah tampan kekasihnya yang nampak jengah terhadap Reyhan.
“Iya, ini aku Ikhlas ...”
BRAK !!!
Cekrek !
Freya yang terperanjat kaget dan spontan langsung memeluk tubuh Angga dari samping. “Itu suara apa, Ngga?!”
Angga begitupun Reyhan menoleh bersamaan ke belakang tepatnya ke atas. Rupanya suara bantingan itu terdengar dari pintu lingkaran kayu yang sekarang tertutup dengan sendirinya terlebih kompak dikunci dari luar. Hal itu membuat Reyhan mengerutkan keningnya dengan raut curiga.
“Kok nutup sendiri? Apa memang ditutup sama seseorang?” tanya Reyhan pada diri sendiri dengan masih menatap intens pintu atas tangga.
“Sudah nggak ada yang beres,” lirih Angga menatap tajam pintu kayu berbentuk lingkaran itu.
Freya yang membenamkan wajah cantiknya di pinggang Angga, memundurkan kepalanya lalu mendongak menatap pacarnya. “Apa yang sudah nggak beres, Ngga?”
“Sudah. Lebih baik kita menyusul yang lainnya, kita sudah tertinggal jauh dari mereka berlima.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Jevran yang menjadi pemimpin jalan di depan berhenti sejenak untuk membungkukkan badannya dan memegang kedua lulutnya yang terasa pegal, sementara Aji yang ada di belakangnya, memiringkan badan miliknya.
“Lo kenapa, dah?” tanya Aji setelah ikut berhenti.
“Capek gue, Njir! Jalan terus gak tahu arah kemana lagi, jalan tapi gak juga menemukan jalan keluar.” Jevran mengernyitkan keningnya saat sadar bahwa hanya ada keempat temannya, dan ia merasa ada yang kurang serta hilang.
“Lho! Reyhan, Angga, sama Freya dimana?! Kok gak ada di sini? Ketinggalan apa, ya?” kejut Jevran sambil menegakkan badannya.
“Hah?! Ketinggalan ...” Jova menoleh ke belakang dan benar, ketiga sahabatnya tidak ada seperti menghilang.
“Hayo lo, Va! Dimana coba tuh tiga sahabat elo? Jangan bilang diterkam sama hewan buas di sini,” ucap Rena.
Jova menoleh ke arah temannya dengan tampang kesal. “Jangan nakutin gue gitu, dong! Paling mereka memang tertinggal jauh. Sebentar, gue mau nyusul mereka dulu. Lainnya yang di sini tetep stay di tempat, oke? Awas saja ninggalin. Gue santet kalian semua pada!”
“Anjir! Anak Dukun kali, ya? Main santet-santet orang. Musyrik atuh, woi!” pekik Lala pada Jova yang temannya telah pergi menjauh mencari keberadaan sahabat-sahabatnya yang belum muncul.
Disepanjang perjalanan untuk menyusul ketiga sahabat SMP-nya, Jova terus menggerutu tanpa ada rasa takut walau di lorong gelap seperti ini. Hingga dirinya mendapatkan kelegaan hati saat melihat sahabat-sahabatnya sedang melangkah dan di situ Jova melihat salah satu sahabatnya dipapah.
“Freya! Angga! Reyhan! Buset, dah! Kirain hilang diterkam binatang predator!” teriak Jova dari jarak kejauhan lalu berlari menghampiri ketiga sahabatnya.
“Hah? Diterkam binatang predator? Yang benar saja dong, Va. Ini di ruangan, bukan di gua. Astaga ...” ujar Freya seraya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum nyengir.
Jova cengengesan lalu pandangannya beralih ke arah Reyhan yang sedang dipapah oleh Angga. “Kunyuk Sutres?! Kamu gak kenapa-napa? Kok cengar-cengir begitu? What happened, Boy?”
“Jadi sahabat gak pernah peka. Kamu gak lihat, apa aku habis jatuh dari tangga?! Sakit tau! Bukannya dibantuin malah diketawain!” omel Reyhan.
__ADS_1
Jova memanyunkan bibirnya. “Aku gak menertawakan kamu, tuh. Mungkin mereka berempat yang ada di sana ... hehehe sorry, aku gak tau kalau kamu habis jatuh. Habisnya jatuhnya pelan, sih.”
“Pelan palamu peyang! Itu yang punya kuping bisa denger kalau jatuhku keras banget, you know?!” damprat Reyhan sementara Angga hanya diam menghela napasnya.
Jova memasukkan jari telunjuknya di lubang telinganya dan sedikit mengoreknya. “Aku gak denger, Reyhan. Sumpah, kamu-nya aja tuh yang lebay kayak anak layangan.”
“Parah! Itu kesimpulannya berarti kamu cewek budeg!” buras Reyhan dengan menekankan nadanya bersama kedua mata yang rada melebar.
“Heh, sudah-sudah! Ribut, saja!” lerai Angga.
Freya menyenggol lengan Angga dengan senyuman miringnya. “Emangnya gak kayak kamu sama Reyhan yang tadi debat? Kalau gak aku lerai ... makin berabe kalian berdua. Bisa sampai Subuh mungkin adu mulut kalian itu.”
Angga menoleh ke gadisnya. “Gak begitu juga, Freya. Iya-iya maafkan aku. Yasudah, mending kita berempat susul yang lain, mereka pasti menunggu kita datang ke sana.”
Kemudian Angga menatap kedua sahabat sejoli tersebut yang sedang saling mengejek. “Kalian berdua jangan bertengkar lagi, mengerti?”
Reyhan dan Jova menghela napasnya. “Iya-iya, nggak bertengkar lagi.”
“Ayo minta maaf dulu,” suruh Angga.
Jova langsung mengangkat tangan kiri Reyhan untuk menjabatnya sebagai permintaan maaf namun dengan cara yang kasar serta meremat telapak tangan sahabat lelakinya bersama senyuman devil. “Maafin aku, ya.”
“Akh! Woi! Yang ngira-ngira dong kalau mau minta maaf, permintaan maaf yang paksa itu namanya! Lepas gak?! Sakit!” protes Reyhan lalu menepis lengan sahabat perempuannya yang masih tersenyum sinis.
“Don't worry, my best friend. Biar cepat sembuh.”
“Biar cepat sembuh matamu!!”
Angga dan Freya kompak menepuk keningnya dengan memejamkan matanya masing-masing Seraya menggelengkan kepalanya tobat merasakan memiliki dua sahabat yang tidak ada hentinya bertingkah urakan seperti itu. Ini saatnya mereka berempat melangkah mendatangi keempat temannya yang sudah menanti kehadiran mereka.
Setelah tiba, seperti Aji, Jevran, Rena, dan juga Lala mengomeli keempat remaja itu karena dari mereka telah lama menunggunya. Kemudian, mereka berdelapan mulai kembali melanjutkan perjalanannya secara berbaris karena kalau bisa disebut lorong ini lumayan sempit.
Dinding tembok yang berwarna hitam itu membuat terkesan tempat ini menyeramkan layaknya bak seperti ada sebuah mistik-mistik di dalamnya. Kedelapan remaja tersebut berhenti lagi saat menatap jalan buntu yang menghalangi perjalanan mereka semuanya nang sedang mencari suatu jalan untuk keluar.
“Sial! Jalan buntu rupanya!” umpat Jevran menendang tembok hitam yang ada di depannya.
Angga menundukkan kepalanya saat merasakan ada hawa aneh yang ingin muncul ke ia dan lainnya. Lelaki pemilik indera keenam itu menggelengkan kepalanya yang tiba-tiba kepalanya terasa sakit begitupun pandangannya yang bermasalah. Angga langsung cepat menopang dinding hitam yang ada di sampingnya saat dirasanya tubuhnya ingin limbung.
“Angga? Kamu gak kenapa-napa? Mukamu kok pucat? Sakit lagi, ya?” tanya khawatir Freya.
Angga tak menjawab kekasihnya yang merisaukan keadaannya saat ini. Dadanya kembali diserang seperti setelah ia terbangun dari tidurnya di dalam kamarnya. Reyhan yang sudah terlepas dari bantuan sahabatnya, ikut menoleh ke arah Angga serta Jova dan begitupun lainnya yang sebelumnya menatap tembok hitam nang menjadi jalan buntu.
Kalian semua tidak akan sanggup untuk keluar dari sini! Kalian telah terperangkap di tempat ini, hahaha !
Reyhan mendongakkan kepalanya kencang ke atas bersama tampang muka berang. “Siapa lo, hah?!”
Freya yang mendengar suara pria yang membuat jiwanya gentar, langsung bersembunyi dibalik tubuh Angga yang mulai melemas. Kedua telapak tangannya di jari-jari lentiknya mencengkram erat jaket jeans abu-abu yang dikenakan kekasihnya.
Bersiap-siaplah kalian semua...
“Bersiap-siap untuk apa?! Siapa sih, lo?! Tunjukkan wujud lo sekarang juga kalau berani! Kami gak takut sama lo, ya!” sangkak Jova.
“Guys-guys!! Ini yang dibawah kaki kita cahaya apaan?!” panik Lala saat menatap cahaya oranye kemerahan dibawah tapak sepatu ia dan juga para teman-temannya.
“Kita semua sudah terlambat ...” kelesa Angga berucap.
Ketujuh remaja tersebut menatap Angga tidak mengerti mengapa lelaki tampan itu mengatakan kalimat yang dirinya utarakan untuk mereka. Hingga tanpa mereka semua sadari, raga milik mereka memudar seolah menghilang secara perlahan dan di situlah kedelapan remaja tersebut merasakan tubuhnya diseret...
Ke dunia lain yang tak mereka tahu.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››