Indigo

Indigo
Beginning


__ADS_3

"Mulai dan berakhir selalu terjadi beriringan, begitu terus hingga kau bosan. Namun kau tahu, tak ada yang bisa kau lakukan selain diam dan melihatnya terus bergulir."


***


Pagi, sekitar pukul enam lewat, Jean melangkah keluar kost, dengan membawa tas punggung biru tuanya, gadis yang menjalin satu rambutnya membuka gerbang.


Berjalan kaki dengan kepala menatap lurus, menyapa beberapa ibu-ibu yang kebetulan berada di luar rumah masing-masing.


Sebuah motor berhenti tepat di sampingnya, Jean otomatis berhenti melangkah.


Di sana, Krisna duduk di atas motor dengan jaket boomber biru tua, serasi dengan sweater yang hari ini Jean pakai.


"Ngapain lo di sini?" Jean mengerjap polos.


Krisna berdecak, "Yang kemarin minta dianter - jemput siapa? Giliran udah dijemput malah jalan duluan," cibir pemuda itu.


Jean meringis lalu tertawa malu, "Lupa, kebiasaan berangkat sendiri soalnya."


"Dasar jomblo. Yaudah sekarang naik, gue gak mau telat," Krisna berujar ketus.


Jean mengerucutkan bibirnya sebal, "Iya sabar kali."


***


Menatap gedung bertingkat Delta Internasional High School membuat sebuah pertanyaan timbul dalam pikiran Jean.


Maka, saat motor ninja Krisna terparkir rapi, Jean segera menyerahkannya helm, "Lo kelas 11 berapa dah? Kok gue baru liat."


Krisna menoleh lalu tertawa mengejek, "Kelas 11? Gue udah kelas 12 kali."


Mata gadis itu membulat, "Loh? Loh!? Kok masih jadi waketos?"


"Ya masihlah, tunggu pensi tahunan kelar baru ganti jabatan," Krisna melangkah melewati koridor lantai satu diikuti Jean.


Jean melangkah lambat-lambat, membiarkan Krisna berada jauh di depannya. Gadis itu enggan mengundang tanya dari siswi yang tengah mengikuti setiap langkah sang wakil ketua OSIS.


Barulah ketika Krisna menghilang dari jarak pandangnya, Jean berbelok menuju arah mading dengan tas masih bertengger di punggungnya.


Quotes of the day.

__ADS_1


Setiap langkah, selalu diiringi keinginan. Untuk cepat sampai tujuan, atau untuk cepat meninggalkan kenangan.


Namun yang hampir kau lupa, semua orang turut melangkah, bukan hanya kau sendirian. Jadi, ketika keinginanmu belum tercapai, jangan berhenti melangkah.


Mata Jean terpaku pada kertas di depannya, pikiran gadis itu melayang sambil kepalanya menunduk. Menatap sepasang sepatunya yang kini diam di tempat, sementara sepatu-sepatu lain tampak berjalan di sekelilingnya.


Menjauh, mendekat. Lalu kembali menjauh. Tak pernah berhenti.


Jean mendongak, tersenyum tipis sebelum memutar langkah menuju ke kelasnya di ujung koridor.


Untuk kesekian kali, gadis itu termotivasi oleh selembar kertas.


***


"SURGA MURID GUYS!"


Seisi kelas menyambut antusias pekikan Arjun--ketua kelas 10 IPS 4-yang langsung ngeloyor ke belakang kelas, menggusur Jean yang sadar sendiri kalau jam kosong, bangkunya akan dijadikan markas para siswa kelasnya.


Pindah ke bangku depan, gadis itu dihadapkan dengan geng gosip yang sedang merangkap menjadi salon dadakan dengan Vana yang dijadikan percobaan.


Pindah ke tengah-tengah kelas, Jean menatap lelah pada beberapa gadis kelasnya yang fokus terhadap handphone masing-masing sambil sesekali menjerit geregetan ketika seorang pemuda berkulit pucat terlihat menari.


+6287xxxx : Ke ruang musik sekarang, jamkos kan? Kita latihan.


Jean tersenyum miring, nomor depan +62 berarti orang yang men-chatnya adalah orang Indonesia.


Tapi, siapa?


Gadis itu mengendikkan bahu lalu memasukkan handphonenya lagi ke saku sambil berjalan keluar kelas.


Rupanya, surga murid bukan hanya terjadi di kelas Jean, melainkan satu sekolah.


Tiba di lantai satu, Jean berbelok ke arah deretan ruangan khusus ekskul, dimulai dari jurnalistik, pramuka, fotografi, mading, dan terakhir musik.


Tanpa mengetuk, Jean memasuki ruangan berukuran sedang yang sudah dihuni empat orang manusia. Tiga pemuda dan seekor perempuan--ralat, maksudnya 'seorang'.


"Et et, bentar," Jean segera menahan ketika melihat Nino ingin mengatakan sesuatu, "Gue mau nanya."


Semuanya diam, namun Jean tetap membuka suara.

__ADS_1


"Kenapa ada jamkos?"


"Guru rapat sama OSIS," jawab Aris singkat.


"Tadi siapa yang chat gue?"


Kaisha menunjuk Nino, pemuda itu unjuk tangan.


"Terakhir," Jean menatap Rega yang sudah siap di posisi dengan bass di tangannya, "Sejak kapan lo disini, perasaan tadi masih main UNO?"


"Sejak lo pindah-pindah duduk."


Jean mengangguk, "Terus, sekarang mau ngapain?"


---------


Chingu-deul annyeong!


How's your day?


Masih setia nunggu Jean dan kawan-kawan? Semoga deh hwhw.


Kim mau nanya nih :"


APA FIRST IMPRESSION KALIAN SAMA :


JEAN


KRISNA


REGA


KAISHA


NINO


ARIS


AUTHOR KIM

__ADS_1


#AuthorNumpangTenar


__ADS_2