Indigo

Indigo
Chapter 175 | Deepest Regret


__ADS_3

Gadis Nirmala cantik itu membuka matanya dengan lemah setelah mengalami hilang kesadaran akibat Syok mendengar pujaan hatinya balik menyambangi Koma. Di dalam keadaannya yang terbaring lemas di atas ranjang pasien, hidungnya terpasang alat oksigen yakni Nasal Kanul.


Pandangan yang tadi blur, kini mulai menjelas sedikit demi sedikit. Mata sayunya menyapu seluruh sekitar untuk mencari tahu ia sedang berada dimana. Tubuhnya begitu lemas hingga gadis itu tidak mampu menggerakkannya.


“Freya?! Hiks, kamu sudah sadar!” pekik bahagia Jova lalu memeluk raga sahabatnya yang pakaiannya telah diganti dengan baju pasien berwarna biru yang memiliki lengan panjang.


Freya mengarahkan posisi kepalanya untuk menatap lemah wajah cantik Jova yang dari mukanya masih terlihat sangat sembab. “Aku dimana ...?”


Jova yang telah melepaskan dekapannya dari tubuh sahabat lugunya, menarik ingusnya. “Kamu sekarang ada di kamar rawat. Pasti masih lemes banget, ya? Jangan banyak gerak dulu.”


Mendengar kata 'Kamar rawat' Freya langsung teringat akan sesuatu hingga gadis itu bangkit bangun dengan mata melebar. “Angga! Hiks, Angga mana?!”


“Tenanglah, Sayang! Kondisi Angga masih dalam Koma di ruang ICU,” ungkap Rani sang ibunya Freya sembari memeluk putrinya.


Freya kembali menangis tergugu. “Hiks, Huhuhu! Anggaaaa! Kenapa dia harus mengalami Koma lagi, Ma?! Gerald jahat, Ma! Gerald jahat! Huwaaaa!!!”


Rena, Lala, Jevran, dan Aji yang 10 menit tadi telah tiba di RS Medistra Kusuma, menatap miris Freya yang terus menangis kencang di pelukannya sang ibu. Mereka berempat masih tidak menyangka usai mendengar kabar buruk Angga serta Reyhan. Bahkan suasana menyedihkan di dalam ruangan ini, membuat bulir air mata mereka ingin lolos turun ke pipinya.


Freya melepaskan pelukannya dari tubuh hangat Rani lalu beringsut memeluk Andrana dengan erat di samping kirinya. “Tante, hiks! Maafin Freya, ini semua salahnya Freya, Tan!!”


Andrana yang terkejut mendengar gadis itu meminta maaf padanya, ikut mendekap tubuhnya lalu mengelus lembut belakang kepala Freya. “Sayang, kamu tidak memiliki salah apapun dengan Tante!”


Freya menggelengkan kepalanya kuat pada wajahnya yang ia benamkan di dada sang ibunya Angga. “Ini salahnya Freya, Tante! Freya yang sudah membuat mental dan fisik Angga terluka! Enggak seharusnya Freya dulu mencintai Gerald yang benci dan dendam banget sama Angga! Andai Freya tahu semua watak buruk Gerald terhadap Angga, Freya tidak akan sudi menjadi pacarnya!”


“Andai juga Freya tidak memperkenalkan Angga ke Gerald saat di taman alun-alun Jakarta, Gerald gak akan tahu keberadaannya Angga sekarang yang telah beranjak dewasa!”


“Freya sudah membikin hati Angga terluka karena mengingat masa lalu kelamnya! Freya emang Bodoh, Freya emang tidak bisa menjaga perasaannya Angga! Maafkan Freya, Tante! Maafkan Freyaaaa!!!”


Andrana melepaskan kedua tangan Freya lalu menatap lekat mata indahnya dengan air mata bercucuran. “Freya, ini bukan salah kamu, Nak! Kamu bukan dari bagian melukai hati Angga! Tante tahu, kamu sayang sekali dengan anaknya Tante, mencintai seseorang itu adalah wajar. Kamu jangan berkata lagi bahwa kamu bodoh dan tidak bisa menjaga perasaannya Angga ...”


Andrana tersenyum lalu menyeka air mata Freya yang terlanjur melumuri kedua pipinya. “Sudah ya, Sayang? Jangan menangis lagi ...”


“Hiks! Tapi gara-gara itu, Angga mengorbankan diri untuk menyelamatkan Freya dari aniaya yang diperbuat oleh Gerald, Tante! Akibat terkena pukulan keras itu ... Angga menjadi Koma! Gak seharusnya Angga ambil tekad tinggi untuk menyelamatkan Freya di masa yang genting seperti tadi sore!”


Freya beralih menoleh dan menatap Jihan yang mukanya sangat murung bersama hatinya nang terpuruk mengenai kondisi Angga yang Koma terutama anak semata wayangnya yang berkondisi Kritis di ruang ICU.


“Tante, sepertinya Freya tidak hanya salah kepada Angga, tetapi juga Reyhan! Walau sebenarnya Reyhan tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Gerald di masa lalunya, namun karena sahabat Freya tidak terima akan perilakunya Gerald terhadap Angga, Reyhan menjadi ikut campur tangan. Akibat semua itu yang terjadi, anaknya Tante Jihan dan om Farhan terlibat di kasus kriminal itu hingga mengalami Kritis. Hiks, maafkan Freya. Semakin hari Freya menjadi serba salah begini ...”


Jihan menyentuh lembut pipi Freya yang telah banjir air mata lalu menggelengkan kepalanya dengan memberikan ukiran senyum. “Jangan salahkan dirimu, semua bukan salahnya Freya. Ini merupakan musibah, bukan dari kesalahan kamu yang membuat Reyhan Kritis dan Angga Koma ... sudah, ya? Jangan nangis lagi. Hilangkan semua pikiran buruk kamu bahwa itu kesalahanmu yang padahal tidak.”


Di kalimat terakhir, Jihan mendekap hangat tubuh lemas Freya sesekali mengusap punggungnya untuk meredakan tangisannya yang masih terdengar.


“Apa yang Angga lakukan untuk kamu, sudah terbaik karena telah menyelamatkanmu dari adegan aniaya itu. Angga pasti tidak ingin kehilangan kamu, maka dari itu Angga memilih mengorbankan raganya daripada harus melihat kamu terluka. Om dan tante, benar-benar menyesal karena sudah meninggalkan Angga dalam waktu yang sangat lama, kami akui kurang becus melindungi anaknya sendiri ...”


Setelah mengutarakan kalimat lebar panjang yang keluar dari mulut, Agra menundukkan kepalanya lemah dengan meneteskan air matanya. Isakan tangis pria paruh baya itu terdengar meski lirih.


“Agra ...” Farhan yang berada didekatnya sang sahabat, lekas memeluknya dimana hati Agra kini sangat begitu terpuruk mengenai kondisi parah anak putra semata wayangnya yang satu-satunya beliau miliki.


Dekapan Farhan dibalas oleh Agra dengan air mata terus mengalir, hati itu masih terdapat penyesalan yang luar biasa. Beliau merasa bodoh serta tidak becus melindungi dan menjaga Angga hanya karena perihal tugas dinas di luar kota bersama istrinya.


Lucas yang melihat kedua pria itu saling melungsur, berjalan pelan untuk menghampiri mereka lalu kedua tangannya menepuk lambat salah satu bahu dari Agra dan Farhan. “Kalian yang tabah hati, ya? Kami Doakan semoga anak kalian segera melampaui masa-masa kondisi terburuknya.”


Farhan dan Agra saling melepaskan pelukannya lalu mengangguk pada Lucas sang ayahnya Freya serta mengamini dengan melemparkan senyumannya. Sementara, Andrana bersama tulusnya menghapus sisa-sisa air mata kekasih anak lelakinya.


“Sayang, sudah ya jangan nangis lagi? Itu lebih dari cukup kamu berusaha menyelamatkan Angga. Tante sangat berterimakasih padamu karena kamu telah sukarelawan mendonorkan darah untuk Angga. Kamu adalah anak yang baik.”


Freya hanya menganggukkan kepalanya laun dengan berupaya menahan tangisannya yang mau keluar dari matanya. “Sama-sama, Tante ...”


Andrana tersenyum lebar dengan muka sembabnya lalu segera mendekap tubuh mungil gadis cantik itu sambil mencium pucuk kepala Freya bersama rasa sayangnya.


Tok..


Tok..


Semuanya menoleh ke pintu kamar rawat yang tertutup, terdengar suara ketukan dari luar membuat Jova bangkit dari duduknya lalu hendak melangkah membukakan pintu.


“Biar Jova saja, Om yang buka.” Lucas yang akan mendekati pintu, mengurungkan niatnya saat sahabat dari anak putrinya yang menganjurkannya.

__ADS_1


Cklek !


Jova tersentak melihat keluarga kecilnya hadir dihadapannya, hal itu membuat gadis Tomboy tersebut kembali mengeluarkan air matanya yang telah tertuang banyak.


“Hiks! Mama! Papa!” Jova langsung mendekap tubuh kedua orangtuanya sekaligus dengan air mata yang tetap berurai membasahi kedua pipi mulusnya.


Novaro yang berada di sampingnya Agatha hanya diam dengan air linang jatuh dari salah satu matanya. Lelaki remaja yang masih berusia 14 tahun yaitu adik kandungnya Jova, sama-sama terpuruk seperti lainnya mengenai keadaan buruk antara Reyhan dan juga Angga.


“Harusnya hari ini hari bahagia karena bisa pulang dari kota Bandung, tapi semuanya menjadi hancur karena mereka yang menganiaya Reyhan dan Angga, hiks! Hiks! Mereka berdua harus mendapatkan hukuman yang setimpal agar kapok!” raung Jova dengan terus menangis tersedu-sedu.


“Sayang, Sayang! Sudah jangan nangis seperti ini, kita Doakan yang terbaik untuk Angga dan Reyhan, ya?!” ungkap gubris Echa sembari membalas pelukan anak putrinya.


Jova melepaskan pelukannya dari tubuh sang ibu dan ayahnya lalu menghapuskan air matanya dengan hati yang pedih. “Pak Agra, Pak Farhan, Bu Andrana, Bu Jihan, kami sekeluarga turut prihatin atas yang menimpa Angga dan Reyhan hingga dirawat dalam ruang intensif.”


“Terimakasih, Pak Agatha.” Kedua orang tua Angga beserta kedua orang tua Reyhan merespon dengan senyumannya kendati wajah para beliau nampak suram dan menyedihkan.


20 menit melakukan obrolan ringan untuk menghilangkan rasa kesedihan sejenak waktu, Jova mendekap tubuh lemas Freya yang posisinya duduk di atas ranjang pasien bersama senyuman cantiknya.


“Aku pulang dulu, ya? Soalnya ini juga sudah menjelang malem. Besok pagi aku bakal dateng ke sini buat menemani kamu, oh ya jangan lupa makan sama minum obat, ya? Biar sahabatku yang unyuk-unyuk ini cepet sembuh terus bisa keluar dari rumah sakit.”


Freya segera membalas pagutan lembut dari Jova yang mendekap sayang. “Iya, kamu hati-hati dijalan. Besok aku tunggu kamu ya di sini. Makasih ...”


“Iya, Cantik. Sama-sama.” Kemudian Jova melepaskan pelukannya dari tubuh sahabat polosnya lalu meninggalkannya untuk pergi pulang bersama keluarganya.


“Pak, Bu kami pamit dulu, ya? Assalamualaikum semuanya.”


Mereka semuanya yang ada di dalam kamar rawat, menjawab salam lembut senyum dari Agatha yang akan meninggalkan RS Medistra Kusuma bersama keluarga kecilnya. Saat melangkah keluar dari ruang rawat, Jova memutar tubuhnya setengah ke belakang untuk melambaikan tangannya pada Freya.


Setelah sekeluarga harmonis itu tak terlihat lagi di mata mereka yang berada di dalam kamar rawat, Jevran menegakkan badannya lalu memberanikan diri untuk menghampiri Farhan yang melipatkan kedua tangannya.


“Om Farhan?”


Farhan menolehkan kepalanya ke arah tetangga anak putranya dengan menaikkan kedua alisnya. “Eh! Kenapa, Vran? Kok mukamu kayak takut gitu lihat Om?”


“Itu, anu ...” Jevran mengeluarkan kunci mobil Xenia abu-abunya milik Reyhan beserta keluarga temannya dari saku kantong celana panjang lalu menyerahkan kunci tersebut pada Farhan.


“Lah? Kok bisa?!” kejut Farhan sembari menyongsong badannya menghadap Jevran.


Jevran mendesis dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Kami satu mobil tadi siang ngalamin kecelakaan tunggal, Om.”


“Hah?! Kalian tadi siang mengalami kecelakaan tunggal?! Ya ampun, parah sekali!” kaget Jihan tak menyangka.


“Em ... ngomong-ngomong soal kami yang mendapatkan musibah kecelakaan tunggal itu, sudah menjadi pertanda jika Angga dan Reyhan dalam bahaya di suatu markas dalam hutan. Ya ... begitulah, Om, Tante.” Aji menimpali.


Farhan menghela napasnya panjang dengan menutup matanya selama 5 detik setelahnya membukanya kembali. “Yasudah. Tapi mesin mobilnya masih bisa menyala?”


“Masih bisa dong, Om. Buktinya kami bisa ke rumah sakit pakai mobilnya Om, masa kami kami bisa ke sini-nya menggunakan roket? Kan, aneh.”


Farhan terkekeh pelan pada penuturan salah satu remaja perempuan yang bernama Lala Monica Evryda. “Oke-oke. Begini saja, karena ini sebentar lagi malem, Om antar kalian semua untuk pulang, ya? Nanti biar sekalian Om servis mobilnya setelah antar kalian berempat. Bagaimana? Mau?”


“Ih! Om baik banget kayak Reyhan. Mau dong, Om! Siapa sih yang bakal menolak tawaran ini? Malah bagus, irit duit karena gak ngeluarin ongkos!” riang Lala sampai dicubit pinggangnya oleh Rena.


“Heh! Otak lo dimana? Bisa aja kalau ngomong, orangtuanya Reyhan lho, itu!” sebal Rena.


“Hehehehe, maap!”


“Sudah, tidak apa-apa. Om juga senang kalau mengantarkan kalian semua pulang ke rumah. Yasudah, yuk kita keluar. Pasti orang tua kalian berempat sudah kangen banget di rumah,” ajak Farhan dengan senyuman ramahnya.


“Makasih banyak ya, Om. Tapi kalau Aji boleh jujur, mobilnya yang kami berdelapan tumpangi, tadi mogok sekitar kurang lebih sepuluh menit. Aji dan Jevran juga sempat mengecek dalam kap mobil barangkali kabel-kabelnya bermasalah gara-gara kecelakaan yang kami alami. Maaf ya, Om Farhan ...”


“Oalah begitu? Halah, nggak apa-apa. Emang berarti harus di servis biar bisa waras lagi kayak semula.”


“Om suka ngelawak, ya kayak Reyhan Lintang Ellvano. Bikin hati kami agak terhibur,” ujar Rena sambil mengulum senyumannya.


“Iya, dong. Kan, Om ayahnya Reyhan. Hehe, yasudah ayo keluar. Entar malah kemaleman, lagi di sini. Gak jadi pulang-pulang. Oh iya, Mama temani Reyhan di ruang ICU, ya? Papa mau pergi dulu buat antar teman-temannya Reyhan sekaligus servis mobil.”


Jihan menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis. “Iya, Pa. Setelah ini Mama akan turun ke lantai empat untuk menemani Reyhan di ruangan sana.”

__ADS_1


Keenam remaja tersebut mulai berpamitan pada ibunya Reyhan, kedua orangtuanya Freya dan juga kedua orangtuanya Angga untuk pergi pulang dari ruang sakit Medistra Kusuma bersama Farhan yang akan tulus mengantarkan mereka semua.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


RS Medistra Kusuma - Lorong Lantai 4


Jova, adik lelakinya, dan kedua orangtuanya berjalan seiringan dengan saling bungkam mulut membuat suasana di lorong tersebut menjadi sunyi. Sampai akhirnya Novaro celetuk suara memanggil kakak kandungnya.


“Kak Jova?”


“Hm? Napa?”


“Ini, kan lantai empat. Novaro boleh lihat kondisinya bang Reyhan sama bang Angga, gak yang dirawat dalem ruang ICU? Jenguknya di luar doang, kok habis itu kita berempat pulang ke kota Jakarta.”


“Ya, emang harus di luar. Memangnya kamu kalangan dari keluarganya mereka? Ruangan itu dijaga ketat banget, jadi nggak boleh sembarangan asal masuk kayak setan!”


Echa mendengus pelan dengan senyum pilu sambil mengusap ujung kepala anak putri sulungnya. “Nak, sama adiknya tidak boleh ketus gitu. Iya, Mama sama papa tahu kamu lagi bersedih dan marah sama mereka yang menganiaya kedua sahabatmu. Tetapi kamu jangan melampiaskan emosimu ke adikmu, kasihan Novaro yang tidak salah apa-apa.”


Jova mengangguk lesu. “Iya, Ma. Jova minta maaf, nggak bermaksud, kok ...”


“Iya, Sayang ...”


Mereka berempat masuk ke jalan pembelokan arah kiri untuk menengok kondisi buruknya antara Angga dan Reyhan yang dirawat dalam ruang ICU. Novaro membungkamkan bibirnya saat menatap salah satu dari sahabat kakak perempuannya yang amat memilukan. Terbaring lemah di ranjang pasien, beberapa alat medis terpasang di tubuhnya, kepalanya dibaluti oleh perban kasa, begitupun terdapat sebuah kantong darah yang tergantung di tiang infus.


“Ya Allah, Bang Angga ... kelihatannya parah banget sakitnya, jadi ikut patah hati.”


Jova menghela napasnya seraya menyeka air matanya yang hampir jatuh. “Kalau mau lihat abang Reyhan, tuh lihat saja di arah kirinya ruang bang Angga.”


Novaro mengikuti arah tangan Jova yang menuding ruang ICU lainnya nang terletak di arah kiri samping ruang ICU-nya Angga walau jaraknya lumayan jauh. “Lah, ruangannya bang Angga sama ruangannya bang Reyhan, jejeran?”


Sang kakak hanya mengangguk kepalanya tanpa berkata-kata lagi. Hatinya sangat tersayat-sayat karena keadaan kondisi kedua sahabatnya yang sama-sama mengalami keparahan. Novaro langsung beralih melangkahkan kakinya menuju ruang rawat intensif milik Reyhan.


Bibir Novaro perlahan melengkung ke bawah setelah bola matanya melihat raga Reyhan dari luar kaca pembatas ruang ICU. Ya, terbaring lemah tidak berdaya seperti Angga dengan beberapa alat medis fundamental yang terpasang di tubuh lemasnya. Sampai akhirnya, Novaro tak sengaja melihat suatu kantong berisi cairan kuning pudar di atas gantungan tiang infusnya di sisi ranjang pasien yang ditempati oleh Reyhan saat ini.


Novaro menghela napasnya dengan wajah gundah. “Di antara kondisinya bang Reyhan dan bang Angga, ternyata yang lebih parah, pacarnya kak Freya ...”


Echa dan Agatha juga bermuka ekspresi lara dengan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun yang keluar dari mulutnya. Jova hanya diam usai kembali menilik kedua sahabat lelakinya yang memiliki sifat unik tersendiri tersebut.


Hati hancur itu bercampur rasa hati emosi yang lalu mengaduk menjadi satu. Satu telapak tangan gadis Tomboy mengepal ringan dengan air mata lolos turun ke bawah untuk membasahi pipinya. Ya, setidaknya dua pelaku yakni Gerald dan Emlano telah dikurung dalam penjara kantor polisi. Biarkan mereka berdua mendapatkan hukuman yang berat karena sudah melakukan aksi kasus kriminalnya.


‘Get well soon, okay? Kalian adalah sahabat gue yang kuat. Gue yakin, kalian pasti akan mampu melewati ini semua.’


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Malam pukul jam 22.59, Freya masih terjaga dari tidurnya. Gadis berwajah cantik namun sembab itu akibat banyak menangis tadi sore, menatap kosong jendela kamar rawatnya yang gordennya belum ditutup.


Freya merapatkan bibirnya karena dirinya memiliki firasat bahwa sebentar lagi air matanya akan kembali merembes melumuri pipinya. Terlalu banyak ia menangis mengenai kondisi kekasihnya dan sahabat lelakinya sekaligus. Freya berusaha membendung bulir air matanya, namun pada nyatanya tidak bisa. Air transparan itu bebas begitu saja membasahi kedua pipinya.


Rasanya menyakitkan melihat keadaan mereka terutama Angga yang kembali mengalami Koma. Tidak menduga, kan? Freya kira ia dan lainnya bisa balik ke kota Jakarta dengan selamat, tapi takdir berkata sebaliknya.


“Freya, kok kamu belum tidur?” tanya lembut Rani pada putrinya yang berbaring di atas ranjang pasien sembari mengelus atas kepalanya.


“Freya gak bisa tidur, Ma. Freya sulit untuk tidur, hati anak Mama sekarang lagi tidak tenang karena kondisi Angga dan Reyhan,” jawab putrinya lalu menarik napasnya dengan panjang kemudian membuangnya lamban.


Rani tersenyum pilu sambil menghapuskan air mata anak gadisnya. “Sayang, dengarkan Mama. Kalau kamu terus sedih, menangisi Angga dan Reyhan akan kondisinya yang lagi parah, itu gak bakal membantu mereka untuk cepat sadar.”


Rani kemudian mendudukkan pantatnya di atas kursi lalu setengah mendekap tubuh lemah Freya. “Mama tahu saat ini kamu sedang terpuruk, tetapi apa gunanya kamu menangisi mereka berdua? Tidak ada manfaatnya, kan? Freya bisa membantu memulihkan kesadaran Angga dan Reyhan dengan Berdoa kepada Allah, kita tidak bisa menolong kondisi mereka selain Berdoa, Sayang.”


“Iya, Ma ... semoga ada keajaiban pemberian dari Allah untuk kesadaran dan kesembuhan mereka berdua.”


“Aamiin. Yasudah, sekarang Freya bobok, ya? Darah kamu tadi sudah diambil sama suster untuk menyumbangkan darahmu ke dalam tubuh Angga, jadi Freya harus memperbanyak istirahat. Mama temani kamu tidur, deh. Oke?”


Freya menatap Rani lalu mengangguk senyum. Kini sekarang, gadis cantik berwajah pucat itu menutup matanya berusaha untuk tidur dan menjumpai mimpi indah terbarunya. Sementara kepala sang ibu berada di atas dadanya dengan posisi mata telah terpejam ikut tidur bersamanya.


Mungkin apa yang dilontarkan oleh Rani pada Freya, benar. Tidak seharusnya ia menangisi kondisi teruknya antara Reyhan begitupun Angga. Tetapi meskipun begitu, rasa sakit di hatinya Freya sama sekali belum menghilang. Memori otaknya terus ingat pada tragedi yang mengancam nyawa kekasih tampannya di markas tersebut.


Semoga saja ada Mukjizat dari Tuhan untuk membangunkan mereka berdua dari ketidaksadarannya dan menafikan keadaan terparahnya yang mereka alami.

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2