Indigo

Indigo
Chapter 119 | Personal Matters


__ADS_3

Di ruang makan dalam rumah tingkat dua, Jova tampak tengah sedikit mengerucutkan bibirnya dan itu tak ketahui oleh keluarganya yang tengah menikmati hidangan sarapannya masing-masing. Ya, meskipun setengah hati Jova bahagia melihat Freya telah sadar akan perlakuan sikapnya terhadap Angga masa itu, namun di sisi hati lain, gadis berambut coklat yang terurai panjang tersebut masih menyimpan amarah emosi untuk kekasihnya Freya.


‘Akhirnya lo sadar juga. Gak sia-sia kemaren gue sama si Reyhan mengatakan panjang lebar itu buat diri elo. Gue emang gak nyuruh lo putus sih sama Gerald, tapi gue harapnya elo sama dia putus hubungan. Karena apa? Dia cukup bahaya untuk lo, Frey. Lagian toh, elo juga nggak akan percaya kalau si Gerald itu lelaki paling busuk di kota Jakarta,’ cerocos Jova dalam batin dengan wajah tampang kesal.


“Sayang, kok gak di makan mie gorengnya? Nanti keburu dingin malah jadi gak enak, lho,” celetuk Echa membuat anaknya rada tersentak kaget.


“E-eh?! Iya, Ma! Iya! Ini Jova juga lagi mau makan, kok.” Gadis tersebut langsung memutar perlahan garpu itu untuk menggulung mie gorengnya buat ia lahap ke mulut.


Agatha yang usai mengunyah ayam goreng, menatap ke arah Jova. “Kamu ini kenapa, sih? Pagi-pagi udah cemberut begitu. Tuh, cantiknya udah di telen sama adikmu.”


“Papa! Nova kan cowok! Yakali cantiknya Kakak, Nova telen? Najis!” semprot Nova kembali memakan telur dadarnya yang ada di atas mie gorengnya.


“Kalau najis, gak usah deket-deket! Sama gak usah minta jajan ke Kakak! Mantep, kan?!” kesal Jova bersama nada bentakan.


“Kili nijis, gik isih dikit-dikit. Simi gik isih minti jijin ki kikik. Mintip, kin? Huh! Gak usah ngegas juga kali, Kak! Heran deh Nova, Kakak dari sore kemarin mukanya ngambek mulu kayak gak pernah disumpelin sama tikus bangkai yang mati di air paret komplek.”


Mata Jova berubah melotot kuat dengan menatap adik laki-lakinya yang masih bersekolah di SMP Erlangga. “Belom pernah Kakak tampol mukamu pake roti rasa kaos kaki?! Itu muncung bisa dikontrol gak, seh?!”


Nova beralih menatap Echa dan Agatha secara bergantian. “Mama, Papa? Kak Jova lagi palang merah, kah? Kok galak amat kayak induk singa yang kehilangan anak-anaknya karena diculik??”


Dada Jova naik-turun dengan mendengus beberapa kali, apalagi dirinya terus kesal karena melihat tampang wajah nyeleneh dari adik satu-satunya itu. “Kamu tuh pantes diculik sama orang gak dikenal! Biar kapok!”


“Idih! Paling cuman diculik doang,” remeh Nova.


“Oh, gak sampai di situ saja, Sayangku ... habis kamu diculik sama mereka, kamu bakal dibunuh secara kejem, abis itu organ tubuhmu diambil sama mereka yang udah nyulik kamu. Mulai dari ambil sepasang bola mata, jantung, limpa, paru-paru dan lain-lainnya untuk mereka jual di pasar gelap.” Jova mengutarakan tuturan kata tersebut bersama muka raut sadisnya dengan senyum evil.


Nova yang mendengarkan secara seksama serta serius, sampai berakhir menelan ludahnya karena takut sendiri mendengarnya dari suara ucapan sang kakak usilnya, bahkan mata laki-laki berumur 14 tahun itu berkaca-kaca. “Huwaaa! Mama! Papa! Lihat nih, Kak Jova nyoba nakut-nakutin anak ragil kalian!”


Agatha hanya menepuk keningnya karena beliau sangat tobat melihat perlakuan anak pertamanya yang sangat nakal pada anak terakhirnya, sedangkan Echa mengucapkan istighfar dua kali sebelum melerai para anaknya.


“Jova, Nova! Kalian ini, ya ... masih pagi jangan ribut, kenapa? Tuh lihat saja, papa kalian sampe Stress mendengar perdebatan kalian ini. Jova, kamu juga nggak boleh ngomong begitu sama adiknya, kan jadi takut.”


“Lho? Emangnya apa salahnya Jova, Ma? Orang emang bener, kan kalau ada hal kebejatan macam yang Jova deskripsikan buat si Nova anak bandel? Banyak, kali yang mengedarkan rumor begituan di berita televisi. Nova-nya aja yang penakut sama cengeng!”


“Eh, enggak! Nova tuh cowok yang gentleman sama macho, tau!”


“Buset?! Pede amat, lu? Masih gentleman sama macho si bang Angga, dong. Kamu kan gentleman, macho yang palsu!”


“Apaan, dah! Bang Angga kan udah dewasa! Jadi harus begitu, lah! Lah kan Nova sudah remaja, jadinya adikmu ini pengen banget jadi seperti jiwanya babang Angga yang keren!”


“Ngarep!”


Kedua orang tuanya mereka sekarang cuma menggelengkan kepalanya pasrah dengan sikap anak-anaknya yang setiap hari sering perang mulut, sama persis seperti anak gadisnya yang melakukan aksi perdebatan adu mulut bersama Reyhan. Wanita dan pria paruh baya tersebut lebih memilih untuk meneruskan sarapannya hingga tandas.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Terdapat seseorang dua pemuda yang sama-sama berusia 17 tahun tengah menikmati udara pagi keliling komplek menggunakan sepedanya mereka. Mereka adalah Reyhan dan Jevran sang tetangga terbaiknya. Meskipun terlihat menikmati seraya mengayuh sepeda, pandangan Reyhan tak fokus di depan. Ralat, ia malah ngelamun.


Jevran yang mengayuh sepeda merahnya sejajar dengan sepedanya Reyhan, menyadari bahwa tetangganya tersebut pandangannya kosong. Dengan itu, Jevran melakukan sesuatu untuk membuyarkan lamunan Reyhan detik ini juga.


Ting ting !


Jevran sengaja membunyikan bel lonceng di bagian atas stang sepedanya. Dan yang benar saja, perbuatan yang Jevran lakukan, berjaya membuat Reyhan terkejut alias lamunannya hilang seketika.


“Eh anjir buset!! Bener-bener ya, lo! Bisa kagak sih jangan ngagetin gue, nanti kalau gue jantungan gimana?!” protes Reyhan sebal tanpa menghentikan kedua kakinya yang sibuk mengayuh sepedanya.

__ADS_1


“Jangan protes sama gue, dong! Gue tuh ngebantu elo supaya lo bisa hilang yang lo bengongin. Sadar, Bro! Elo tuh kondisinya lagi jalanin sepeda, nanti ujung-ujungnya kalau terus ngelamun, yang ada muka sok ganteng lo itu nyebur di empang pojok sono!”


“Sok jadi pahlawan, lo! Iya-iya, maaf!”


“Iye, nggak apa-apa. Mending kita mampir di warungnya pak Dodi dulu, yok! Haus banget sama laper banget nih, gue. Cuaca paginya juga makin panas gara-gara terik matahari.”


“Oke, ayo.”


Kemudian kedua lelaki itu mengayuh sepedanya sampai tiba di parkiran khusus sepeda di sebelah warungnya pak Dodi. Terlihat warung yang lumayan besar dan luas tersebut nampak sepi tak ada satupun pembeli. Usai memarkirkan sepeda, Jevran dan Reyhan turun dari sepedanya lalu melangkah jalan ke arah kursi meja yang terletak di depan mata mereka.


Saat Reyhan duduk, Jevran menatap tetangganya hendak menawari sesuatu padanya. “Lo mau minum yang seger-seger, kagak? Sama pop mie-”


“Pop mie goreng Samyang!”


Mata Jevran terbelalak lebar. “P-pop mie goreng Samyang?! Eh itu pedes banget lho! Nanti kalau lambung lo kenapa-kenapa, bisa bahaya berakhir masuk IGD!”


“Sans, lah! Gue ini cowok yang kuat banget yang namanya makan pedes, lo pikir gue ini sama kayak Angga yang anti banget sama makan-makan yang super pedes?”


“I-iya juga, sih. Yaudah lah terserah lo, minumnya?” tanya Jevran kemudian, sembari tangannya menerima uang kertas dua lembar warna ungu dari tetangganya.


“Teh botol pucuk harum- oh sama cemilan jajanan keripik yang gue suka, lo tau, kan?”


“Hm'em! Gue tau, kok. Yasudah gue ke sana dulu,” ucap Jevran seraya meninggalkan Reyhan, yang berupaya mengalihkan rasa murkanya hari ini dengan seseorang, ialah Gerald.


Tanpa sadar, kedua telapak tangan Reyhan yang ada di atas meja, mengepal kuat sementara raut mukanya menjadi dingin dengan menyimpan jiwa emosi yang nyaris saja meluap untuk ia lampiaskan ke siapa saja. Namun, beruntung saja hal tersebut masih kuat ia kontrol. Betapa murkanya lelaki itu pada seseorang yang membuat raga Angga tak berdaya hingga berhari-hari belum sadarkan diri. Ditambah sebuah cedera lumayan parah di bagian luar perutnya sampai memar.


Reyhan sedikit lega sebetulnya karena cedera perut yang dialami oleh Angga, tak hingga melukai organ dalamnya. Yang jelasnya paling utama dari penyebab keadaan sahabatnya semakin lemah, faktor kadar oksigennya yang begitu rendah. Andaikan saja, di dalam RS Wijaya difasilitasi dengan sebuah CCTV tepatnya di setiap ruang perawatan, agar Reyhan tahu siapa pelakunya yang membuat sahabatnya seperti itu.


‘Sebenernya, siapa pelakunya yang buat Angga kayak gitu? Bahkan seseorang itu pengen bunuh sahabat gue, tapi gak kesampaian. Apa jangan-jangan pelakunya-’


Reyhan menarik wajahnya menatap Jevran yang telah kembali. “Eh, elo? Kok cepet amat?”


“Namanya juga pak Dodi si duda karena ditinggal meninggal sama Almarhumah istrinya, cuman soal bikinin dua pop mie mah udah pro banget. Jadinya sat-set, cepet siap.” Jevran menjawab pertanyaan Reyhan yang bingung sambil duduk di kursi panjang nang terbuat dari kayu jati dan dicat warna krem.


Reyhan memberikan senyuman tipis dengan anggukan kecil, kemudian pemuda itu menarik pop mie Samyang pedasnya untuk lebih dekat dengannya yang sedia buat ia makan, sedangkan Jevran memperhatikan ekspresi beda Reyhan seraya mengaduk-aduk pop mie kuah pedas dower miliknya menggunakan garpu plastik.


“Rey? Muka lo gitu amat, harusnya sedih ini malah dingin bener kayak es batu. Lo lagi marahan sama siapa?” tanya Jevran penasaran.


“Nggak ada,” jawab Reyhan singkat dengan memakan mienya.


Kedua bola mata Jevran mengalih ke sembarang arah seperti tengah mengingatkan sesuatu yang sempat hilang di benaknya. Dan akhirnya pemuda itu langsung teringat setelah beberapa detik mengingat. Jevran kembali menatap tetangganya yang sibuk dengan makanan instannya.


“Rey, gue boleh tanya soal tentang pacarnya Freya yang waktu di depan gerbang sekolah kita?”


“Tanya aja.” Jevran membungkamkan mulutnya sejenak lalu mulai bertanya yang mana dalam jiwanya itu sudah sangat penasaran tentang Gerald.


“Kenapa hari Senin kemarin si Gerald kayak seolah-olah ngelarang Freya buat jenguk Angga? Apalagi dari tampang muka songong-nya itu udah keliatan bener kalau dia benci sama sahabat cowok pendiem elo itu. Apa mereka mempunyai suatu masalah yang membuat mereka berdua bentrok?”


Reyhan menurunkan garpu plastik beningnya dari mulut dengan terdiam pada pertanyaan tetangganya tersebut. Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk menceritakan tentang Gerald yang membenci sahabatnya sekaligus dendam maksimum pada Angga. Reyhan menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.


“Maaf, Vran. Bukannya gue nggak mau ngejelasin atau nyeritain apa yang lo pertanyakan ke gue, tapi masalahnya itu adalah suatu perkara pribadi mereka berdua. Dan gue gak bisa asal cerita ke elo soal antara Angga sama Gerald yang membuat saling bentrok tanpa seizin sahabat gue sendiri.”


Jevran nyengir. “Oalah, ini perkara yang pribadi? Hingga lo sampe nggak mampu untuk ceritain semua tentang mereka berdua yang buat bentrok gitu? Hmmm ... yasudah, lah kalau emang begitu. Jujur aja dah, gue sebenernya udah gak bisa nurunin jiwa penasarannya gue, hahahaha!”


“Maafin gue banget ya, Vran. Gue memang nggak bisa kalau gak ada izin dari Angga dahulu, apalagi itu juga masalahnya dia. Lo tau, kan kalau sahabat gue satu yang itu paling ogah diketahui latar belakangnya? Jadinya gue gak bisa ngelakuin itu, meski lo bukan temen mulut ember.”

__ADS_1


“Iye, lagian gue hanya taunya latar depannya Angga doang. Emang betul kali ya kata abang sepupu gue yang tinggal di kota Bandung, kalau tidak semua orang ingin diketahui tentang latar belakangnya. Dan gue paham kok, apa yang lo maksud tadi. Masalah pribadi, itu artinya gak seharusnya diceritakan kecuali dapet izin.”


Reyhan tersenyum lumayan lebar. “Makasih ya, Vran. Lo udah mau pahami dan ngertiin maksud dari gue. Elo itu emang temen super kepo, tapi gak tukang pemaksaan. Bejo bener gue punya tetangga the best kayak lo gini.”


“Anjir, hahahaha! Oke-oke, sama-sama. Oh iya, BTW soal keadaan Angga sekarang gimana? Udah ada perkembangan belum? Kemarin Sabtu elo sama Jova ke rumah sakit, kan?”


Reyhan yang ingat tentang kondisi parah Angga, seketika raut mukanya berubah menjadi gundah bahkan kepalanya menunduk dengan memejamkan mata. “Huh ... keadaan Angga sekarang malah semakin bertambah lemah, apalagi kemarin pagi dia sempet mengalami kejang.”


Jevran amat terkesiap bukan main sampai tersedak oleh kuah pedas mienya. “Uhuk-uhuk-uhuk! Huaaahh!! Tenggorokan gue panas banget, sumpah tolong!”


Jevran berteriak sampai mencari-cari botol minuman dinginnya. Reyhan yang ikut kaget karena tetangganya tersedak hingga terbatuk-batuk seraya memegang leher bagian depan. Pemuda humoris itu tanpa lama-lama langsung cepat membuka tutupan botol teh pucuk harum dinginnya lalu segera memberikannya pada Jevran.


“Minum nih, minum! Sori bener, Bro!” Sodoran dari Reyhan tersebut langsung di terima Jevran dengan secara tak santai.


Nampak kini Jevran meneguk teh botol dingin milik Reyhan dengan ngebut hingga tersisa setengah. “Huah! Parah sih ini!”


“Udah mendingan?”


“Rey! Semakin lemah gimana maksudnya?! Yang bener aja lo ngomongnya, dong! Sampe kaget bener gue, nih nyampe kesedak segala!” protes Jevran meminta penjelasan asli detail tanpa menggubris pertanyaan Reyhan barusan.


“Gak perlu ngegas juga, napa?! Y-ya, itu kan dari omongan dokter Atmaja yang menyampaikan tentang kondisi terkini Angga pada kami. Gue sama yang lain juga nggak nyangka kalau keadaannya makin jauh buruk dibanding waktu kemarin. Gue mikirin Angga kapan bangunnya sampe pusing.”


Jevran menggeleng-gelengkan kepalanya lambat dengan mulut yang ia bungkam. Setengah Syok mendengarnya serta tak menduga bahwa temannya jauh lebih parah daripada sebelumnya. Lebih baik Jevran tidak menambah interogasi tentang mengenai kondisi prihatinnya Angga. Lihatlah, dari wajah muram Reyhan sudah seiras macam orang yang tengah Stress.


Jevran membentangkan satu tangannya untuk menepuk pundaknya Reyhan buat memberikan semangat padanya dengan menampilkan sebuah ukiran senyuman rasa pertemanannya. Jevran peka dan tahu betul, bagaimana suasana perasaan hati tetangganya saat ini.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam ruang perawatan no 111 lantai 4 RS Wijaya, Freya telah sudah dari tadi datang untuk menemani Angga yang masih saja terbaring lemah tak sadarkan diri di atas ranjang pasien. Gadis berwajah cantik serta memiliki kulit putih bersih tersebut, memandangi muka tampan sahabat kecil lelakinya yang mana matanya itu terpejam damai.


Waktu kemarin hari dimana Angga mengalami tubuh yang bergemetaran hebat secara spontan dan tiba-tiba, kini sudah dipastikan oleh dokter Atmaja pasiennya tak lagi mengalami kejang dikarenakan beliau telah menyuntikkan obat anti kejang di bagian alat infus Angga untuk menyalurkan cairan obat ampuh tersebut ke seluruh tubuhnya.


“Angga, kamu udah tujuh hari ini nggak bangun-bangun, lho. Mau sampai kapan kamu gini terus? Minggu depan? Kalau minggu depan, berarti kamu nggak lagi dirawat di sini, tapi dirawat dalem ruang perawatan intensif. Aku mana rela kamu masuk sana lagi buat kedua kalinya ... bangun dong, Ngga. Padahal aku udah lama di sini lho buat nemenin kamu, masa masih di keadaan yang sama?”


Freya kembali mengangkat tangan kanan lemas Angga untuk menggenggam telapak tangan sahabat kecilnya pakai kedua tangannya sekaligus, kemudian bagian tangan milik gadis itu tempelkan di dagunya, sementara telapak tangan pemuda tampan tersebut yang bermuka pucat, berada di dalam genggaman dua telapak tangan Freya.


“Aku kangen kamu buka mata. Ini malah kenapa jadi serasa aku jagain kamu yang lagi Koma, ya? Padahal kamu cuman dinyatakan pingsan doang sama dokter. Tapi santai aja, aku nggak akan bakal jengah kok buat nemenin kamu yang lemah gini.”


Ternyata lelah juga mengobrol banyak kata dengan tanpa direspon olehnya, bahkan dirinya serasa sedang berbicara sendiri. Sudahlah, ia lebih mendingan memutuskan untuk menyudahi celotehnya pada Angga dan memilih buat memejamkan matanya karena sangat ngantuk akibat malamnya di rumah ia sama sekali susah tidur bak terkena Insomnia.


“Freya ...”


Freya mengerutkan keningnya hingga membuka kedua matanya yang belum melesat ke dunia alam mimpinya. Gadis cantik itu seperti mendengar suara lelaki yang memanggilnya dengan nada yang sangat lirih. Bahkan tatapan Freya berhenti di wajahnya Angga.


“Ang-ga?” panggil Freya dengan ragu-ragu kalau sahabat kecilnya lah yang memanggil namanya.


“Freya Septiara Anesha ...”


Freya terkejut bahagia sampai reflek beranjak berdiri dari kursinya yang ia duduki, melihat pergerakan bibir mulut pucat Angga bahkan suara lemahnya yang sudah lama tak terdengar di posisi dalam masker oksigen transparan meskipun mata lelaki Indigo tampan itu belum terbuka sama sekali hanya mulutnya saja yang bergerak untuk memanggil nama lengkapnya Freya.


“Ya Allah! Apakah ini adalah Mukjizat?!”


“Hiks, Anggara! Kamu telah siuman?!”


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2