
Trauma dan takut menelusuri jalan kota, Reyhan memutuskan melewati Jl Jiaulingga Mawar yang mana itu adalah jalan pintas cepat menuju ke sekolah.
Pemuda itu lagi-lagi mengantuk diperjalanan, motornya oleng-oleng karena efek dari kantuknya. Jalan tersebut amat-amat sangat sepi padahal masih pagi seharusnya banyak yang melewati jalan pintas itu. Tetapi kemungkinan besar banyak pengendara yang takut melewatinya pada jalan rawan kecelakaan.
Beberapa kilometer perjalanan telah Reyhan tempuh, tetapi Reyhan sedikit menyipitkan matanya melihat dua pria berbadan kekar menghalangi jalannya dikarenakan kedua pria itu berdiri di tengah-tengah jalan aspal. Reyhan berdecak sebal menatap pria-pria itu dari kejauhan.
'Siapa sih mereka? Ngadang-ngadang jalan aja. Mau di tabrak apa gimana itu orang !'
Tin !
Tin !
Reyhan mengklakson motornya dengan geram, karena dua pria itu bukannya malah menyingkir ke samping jalan tetapi malah berunding dengan menatap Reyhan sinis. Reyhan yang tak mau berbuat masalah hanya untuk meladeni pria-pria berbadan kekar itu kembali menjalankan motornya dan membelokkan stang motornya ke arah kiri untuk menghindar dua orang tersebut. Tetapi, dengan tidak mempunyai perasaan sekali, disaat Reyhan tengah melewati dua pria tersebut salah satu pria itu menendang sisi motor Reyhan hingga mengakibatkan motor Reyhan oleng jatuh ke samping bersama Reyhan.
GUBRAK !!
Reyhan memejamkan matanya kuat karena badannya terhantam keras di aspal, dengan menguatkan diri Reyhan bangkit dan menarik kakinya yang sedikit terjepit oleh motornya. Seraya menahan badannya yang serasa remuk, Reyhan berdiri dan menatap muka pada satu pria yang menendang motornya sampai pemuda SMA itu terjatuh di aspal.
"Heh!! Maksud lo apaan hah?! Lo siapa seenak-enaknya nendang motor orang sampe jatoh??!!"
"Heh, lo-nya aja yang seenaknya ngelewatin gue sama temen gue! Emangnya lo lewat sini gratis? Gak!! Harus bayar!"
Reyhan mengerutkan keningnya. "Bayar? Emangnya lo siapa di sini, hah? Ada peraturannya di jalan ini siapapun yang ngelewatin kawasan ini harus bayar? Lo gak usah malak, bajingan!!"
"Bro, coba lo liat orang ini .. berani banget sama kita ternyata. Dia gak tau kita berdua ini siapa."
Salah satu pria berkulit hitam maju ke hadapan Reyhan kemudian menengadah tangannya pada Reyhan.
"Bayar dua puluh juta, baru itu lo bisa bebas dari gue dan Aditama!"
"Heh goblok! Lo kalau mau minta uang segitu, mending nyolong aja di Bank .. lo pikir gue ini apaan hah?! Dan lo gak berhak meminta gue dengan uang sebanyak itu. Asalkan lo tau saja, gue bukan keluarga lo, bukan teman lo, bukan sahabat, lo! Cih, mending gue pergi aja dari sini, gagas bajingan-bajingan tukang matre cuman bikin gue telat doang."
Reyhan berbalik badan dan hendak menaiki motornya, namun lehernya telah di rengkuh pria bernama Aditama terlebih dahulu.
"Santai sekali lo ngomongnya, bahkan lo aja gak tau kami ini siapa. Kalau lo mau tau kita ini siapa, selain kami malak kami juga seseorang pembunuhan di kawasan jalan ini!"
Reyhan menepis kencang tangan Aditama dan berbalik badan menghadap Aditama. "Oh ya? Lalu? Apa gue harus peduli apa yang lo barusan bilang? Tentu saja jelas enggak!!"
Pria kulit hitam yang bernama Arkie menyingkap pakaian bagian lengan-lengan tangannya seperti ingin menghajar Reyhan habis-habisan. Arkie maju lalu menarik ke atas kerah seragam dalam Reyhan.
"Kenapa? Lo pengen dibunuh juga sama kami berdua?! Dengan senang hati gue dan temen gue membunuh lo! Karna itu hobi kami!"
"Gitu ya? Selain hobi itu apaan?" tanya Reyhan dengan sok polos.
"Sialan!! Lo bikin gue muak!!"
Aditama mempersiapkan bogeman mentahnya ke arah wajah Reyhan, kepalan tangan pria itu melayang ke Reyhan namun dengan bijaknya Reyhan hanya telengkan kepalanya ke samping untuk mengelak serangan Aditama dan tangan Reyhan langsung memelintir tangan Aditama yang gagal membogem muka tampan Reyhan. Meskipun kekar, sekali ulu hatinya di tendang oleh Reyhan dengan lutut kakinya Aditama langsung jatuh merintih kesakitan.
Kini bergiliran Arkie yang siap memukul kepala Reyhan dari belakang, akan tetapi Reyhan nampak peka dan auto balik badan menghadap Arkie dengan menangkis pakai tangannya hal itu yang terkena pukulan keras hanya lengan tangan Reyhan. Reyhan mengibas-kibaskan tangannya dari bawah yang usai terkena pukulan kuat dari bogeman mentah Arkie.
"Brengsek!" umpat Reyhan kemudian pemuda tersebut menendang wajah Arkie dengan menggunakan telapak kakinya yang bersepatu.
BUGH !!!
Arkie terjatuh keras yang sementara tulang hidungnya patah karena tendangan kuat dari Reyhan Lintang Ellvano. Reyhan menatap penuh amarah Aditama dan Arkie satu persatu, hingga pada setelah itu Reyhan menyunggingkan bibir senyuman smirk.
"Badan kekar doang, tapi tenaganya lemah!!" hina Reyhan dengan mata melotot.
"Gue mau lo berdua ngaku sekarang juga! Apa lo pada yang membunuh Arseno Keindre?!"
Aditama dan Arkie menaikkan satu alisnya dengan saling melemparkan pandangannya, mereka tersenyum menyeringai dengan menggelengkan kepalanya membuat Reyhan semakin amat murka di hadapannya dua pria biadab tersebut.
"Jawab!!! Muka-muka lo sudah aura pelaku pembunuhan yang menewaskan cowok itu! Kalau lo dua nggak ngaku, gue- argh!"
Reyhan terjatuh dengan memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit dan keliyengan secara tiba-tiba. Aditama dan Arkie malah mempunyai kesempatan terbaik untuk membalas perbuatan Reyhan terhadap mereka berdua, dua pria itu bangkit berdiri dan mendekati Reyhan yang tangannya menopang aspal dan terlihat tertatih-tatih.
"Hahahahahaha! Makanya jadi orang nggak usah sok hebat. Ngerti gak?!"
BUGH !
"AAKKH!!!"
Aditama menendang perut Reyhan hingga Reyhan terbaring di aspal, Reyhan berusaha hendak bangkit namun kepalanya sudah di tendang duluan oleh Arkie dengan sangat keras.
DUAKH !!!
Kepala Reyhan jauh lebih sakit dibanding tadi, perutnya yang di tendang tadi tersebut oleh Aditama membuat sekujur tubuh Reyhan seakan-akan lemas begitu saja. Kini dua pria itu sukses berjaya menghajar Reyhan habis-habisan sampai mereka puas.
BUGH BUAGH BUGH BUAGH BUGH !!!
Setelah mereka merasa puas, mereka menghentikan keasyikan mereka terhadap Reyhan yang telah tak berdaya di aspal. Wajah Reyhan penuh dengan lebam, seragamnya menjadi kotor karena tendangan-tendangan dua pria tersebut yang mengenakan sepatu sport-nya.
"Huk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Aditama menarik rambut Reyhan kuat hingga kepala Reyhan terangkat kencang, pria itu menatap tajam namun bahagia yang tergambar di raut ekspresi wajahnya.
"Nggak usah lo tanya siapa pelaku yang membunuh Arseno Keindre, karena lo pastinya sudah tau siapa pelakunya!"
Aditama melepaskan rambutnya Reyhan begitu saja, kemudian untuk satu kali puas lagi Arkie menendang ulu hati Reyhan dengan amat kuat.
BUGH !!!
"Mati saja lo di situ!!"
Setelah Arkie mengucapkan nada damprat-nya, ia dan Aditama pergi meninggalkan Reyhan sendirian di sana pada kondisi terbaring tak berdaya di jalan aspal. Dua pria itu meninggalkan Reyhan dan berlalu juga meninggalkan Jl Jiaulingga Mawar menggunakan satu motor Sportbike merahnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
"Oi! Rajin banget lo Ngga, pagi-pagi gini lo udah asyik belajar materi Kimia."
Angga menolehkan kepalanya malas ke Andra. "Gue lagi ngejar materi yang gue ketinggalan banyak," ucapnya sembari kembali membaca materi Bab Kimia pada buku paketnya.
"Wah murid teladan bener lo Ngga, bagusnya jadi anggota OSIS ini mah hahahaha!"
"Gak. Gue mau jadi siswa biasa aja, gini-gini gue udah bersyukur jadi mahasiswa di sini daripada jadi gelandangan."
Andra terdiam dengan menggelengkan kepalanya pada suara nada Angga yang ketus serta dingin. Andra menyenggol lengan Angga dengan penuh sumringah di bibirnya.
"Iye-iye Ngga. Lu kan anak paling cerdas di sini, salut gue sama lu."
"Nggak usah berlebihan, udah sana kerjain itu PR lo yang belum kelar."
"Yeh kok ngusir sih?! Yaudah, semangat belajarnya Bro hehehehehe!"
"Hmmm."
Andra dengan cengar-cengir kembali ke bangkunya dan langsung meneruskan PR Kimia-nya yang belum tuntas, sedangkan Freya dan Jova yang baru saja balik dari taman untuk duduk menikmati suasana pagi sejuk menghampiri Angga yang lagi sibuk membaca materi-materi pelajaran Kimia di buku paketnya, bahkan Angga sampai mencatat kalimat-kalimat penting dari buku paketnya di buku tulis khusus untuk catatan.
"Angga, Reyhan belum dateng juga?" tanya Jova berdiri di samping Angga.
"Belum. Mungkin bentar lagi," jawab Angga sembari fokus pada catatannya yang sedang ia tulis.
"Eh Ngga, tapi kan lima menit lagi bel masuk .. masa Reyhan juga belum dateng? Apa Reyhan nggak masuk kali ya," timpal Freya.
Angga terhenti menulis, dan akan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas punggungnya. Pemuda itu hendak menelpon sahabatnya yang satunya, sang sahabat yang belum juga sama sekali datang.
"Sebentar, coba aku telpon Reyhan."
Namun baru saja ingin memencet kontak Reyhan di aplikasi WhatsApp, Reyhan malah sudah datang ke kelas dalam kondisi tak karuan. Dimana seragam rompinya penuh dengan kotoran debu, langkah kakinya nampak pincang, wajahnya penuh dengan lebam di sekitar pipi-pipinya. Reyhan terdengar mendesis sembari menyentuh pipinya di bagian yang luka lebam. Pemuda yang nampak habis tawuran duduk di bangkunya begitu saja tanpa menyapa kesemuanya yang ada di dalam kelas termasuk sahabat-sahabatnya.
"Ya ampun Reyhan! Wajahmu kenapa bisa seperti itu?!" kejut Freya dengan mata terbelalak.
Jova langsung insting menduganya Reyhan usai tawuran di luar sana. "Astaga, pasti kamu tonjok-tonjokan sama orang lain kan?! Alex, kan?!"
"Sssssshhh ... ngawur!" respon Reyhan.
"Lo kenapa bisa seperti itu? Gak mungkin gak habis berkelahi, pasti lo habis ngelakuin itu kan," tebak Angga.
"Iya. Pagi kemarin udah sial, tadi juga sial. Gue tadi ngelewatin jalan pintas Jiaulingga Mawar tempatnya rawan kecelakaan itu. Di sana tiba-tiba gue diperlakukan seenaknya sama dua pria badan kekar. Ssssshh anjir!"
"Hah, diperlakukan seenaknya gimana Rey?" tanya Freya mulai takut.
"Mereka berdua memintaku untuk membayar dua puluh juta setiap melintasi jalan itu, mana ada aku punya uang sebanyak itu. Mereka pikir aku anak Bank, apa?!"
"Lalu habis itu?" minta terus Angga.
"Karna gue gak mau menuruti keinginan mereka, akhirnya gue malah di ajak tawuran .. meskipun gue berhasil lolos dari mereka karna gue duluan yang hajar mereka tapi akhirnya gue yang malah kena hajar tawuran kayak begini. Ssssshh, untung gue masih diberikan kesempatan untuk hidup .. kalau gak, berarti yang kalian hampiri bukan raga gue tapi arwah gue."
"Duh Rey, jangan ngomong gitu ah. Alhamdulillah kamu masih baik-baik saja. Tapi kayaknya kamu kesakitan begitu, mau diobati di ruang UKS?"
"Nggak usah Frey, aku masih oke. Cuman, kepalaku yang sekarang pusing bener gara-gara kepalaku juga ditendang habis-habisan sampe mereka itu puas."
"Astaghfirullah! Parah banget!" pekik Freya dengan menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Jujur bener, lo."
"Apaan sih lo Ngga! Jujur salah gak jujur salah. Mau lo apasih?!"
"Bercanda, jangan di bawa serius!"
"Waduh gawat nih, kepalamu perlu di ronsen dulu siapa tau tempurung kepalamu retak."
"Ya Allah ..." lirih Reyhan.
"Ih udah dibilang beberapa kali sampe mulutku capek! Ucapan itu doa! Ucapan itu doa!!"
Freya memukul-mukul gemas namun kesal pundak Jova dengan nada mengernyit sebal sedangkan Jova meminta ampun dengan terkekeh pada sahabat polosnya yang memukulinya. Angga memegang pundak Reyhan dengan membungkukkan badannya lalu berbicara pada Reyhan bersama nada lirihnya.
"Mau ke UKS? Kalau mau, gue anter sekarang sebelum bel masuk."
Reyhan cukup menggelengkan saya bermaksud 'tidak mau' bahkan kini Reyhan kembali membenamkan wajahnya di atas tumpukan kedua lengannya, Angga yang baru mengeluarkan kata-katanya Reyhan memotong ucapannya Angga dengan cara mengangkat tangannya ke arah Angga kemudian sedikit mengepalkan telapak tangannya lalu menurunkan tangannya ia letakkan di atas meja bangkunya.
Angga menghela napasnya dengan panjang begitupun dengan Freya terkecuali Jova yang menekuk wajahnya raut sedih.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di jam kedua pembelajaran yaitu mapel (Mata pelajaran) Fisika. Angga yang setiap menit menoleh ke arah Reyhan kini menoleh lagi di pertengahan bu Aera mengajar, nampak Reyhan tengah ngelamun.
"St! Rey! Rey!" bisik Angga.
Bu Aera yang tengah membuka-buka lembaran buku paket miliknya ke Bab materi baru, langsung cepat pandangannya mengarah ke Angga.
"Ehem! Ada apa Angga?"
Angga langsung menoleh ke depan dengan mata rada terbelalak. "T-tidak Bu, tidak ada apa-apa."
"Hmm oke. Oke baiklah anak-anak sekarang kita sudah menuju ke Bab materi yang baru, dan sekarang Ibu mau kalian semua buka halaman seratus tujuh puluh lima dan simaklah pada kolom di bawah tugas kognitif."
"Lho, Bu! Kan baru halaman seratus enam puluh enam .. masa halamannya udah main di acak-acak aja sih, Bu!" protes Lala.
"Lho, suka-suka saya dong! Saya yang mengajar, kamu yang memasukan ilmu mu ke otak dari saya! Seenaknya saja kamu protes-protes, jaga sopan mu!"
"Ya bu! Ya bu!" Lala mendengus sebal pada guru ter-killer tersebut lalu mulai menyimak buku paketnya.
'Ya Allah rek .. rek, galak'e setengah modar (Galaknya setengah mati),' batin Ryan ngeri.
Reyhan memejamkan matanya pada kepalanya yang cenat-cenut, apalagi Reyhan menundukkan kepalanya. Dalam seperti itu, Reyhan terbesit oleh ucapan Aditama yang menggebuk Reyhan habis-habisan bersama Arkie.
Flashback On
"Nggak usah lo tanya siapa pelaku yang membunuh Arseno Keindre, karena lo pastinya sudah tau siapa pelakunya!"
Flashback Off
"Reyhan coba sekarang kamu baca pada paragraf pertama sampai akhir dalam kolom di halaman buku paket mu," titah suruh bu Aera.
"..."
"Reyhan, coba sekarang kamu baca pada paragraf pertama sampai akhir dalam kolom di halaman buku paket mu!" ulang bu Aera dengan nada tegas.
"..."
"Reyhan Ellvano! Kamu dengar saya atau tidak?!"
"..."
Reyhan sama sekali tidak menjawab tegasnya bu Aera yang sekarang beliau menjadi marah kepada satu muridnya tersebut. Angga menggertakkan giginya dikarenakan beliau benar-benar menjadi sangat marah pada sahabatnya yang tak merespon. Angga yang hendak mengulurkan tangannya untuk membuyarkan lamunan Reyhan...
TAK !!!
Bu Aera melempar kuat penghapus khusus papan tulis putih ke arah kepala Reyhan hingga muridnya dikenakan lemparan penghapus itu langsung mengeluh dan mengaduh-aduh.
"A-aduh sakit Bu!"
"Salah kamu sendiri malah ngelamun tidak mendengarkan suruhan saya!! Coba saja, apa yang saya suruh pada kamu??!!"
"Eeee ..." Reyhan mulai melihat-lihat halaman buku paketnya yang ada di hadapannya. "M-maaf Bu, s-saya tidak tahu-"
BRAKK !!!
Bu Aera menggebrak meja guru. "TUH KAN! KAMU SAJA TIDAK MEMBUKA HALAMAN YANG SAYA SURUH! KAMU NIAT SEKOLAH ATAU TIDAK SIH REYHAN??!!!"
Reyhan menundukkan kepalanya takut. "Mohon maafkan saya Bu, saya janji tidak akan mengulangi lagi-"
"MAJU KE DEPAN SEKARANG DAN JUGA BAWA PENGHAPUS ITU YANG SAYA LEMPARKAN KAMU TADI!!! CEPAT!!!"
"B-baik Bu!"
Reyhan bergegas berdiri dan melangkah cepat sembari membawa penghapus tersebut, meskipun satu kakinya pincang tetapi ia berusaha tetap berjalan seperti biasa. Beliau yang memakai rok span pendek serta baju jas guru rapinya, berkacak pinggang dengan melotot tajam Reyhan.
Reyhan dengan lambat memberikan penghapus tersebut ke bu Aera yang masih memelototi dirinya hingga Reyhan menundukkan kepala tak berani menatap bu Aera sama sekali.
"Mikirin apa kamu tadi?! Sehingga kamu sampai tidak mendengar suruhan dari saya?! Otak kamu ada dimana Rey, kamu itu sedang berada di ruang kelas di sini fokusmu ke pembelajaran bukan memikir yang lain! Paham?!"
"P-paham, Bu. Tolong maafkan saya, saya benar-benar mengaku salah .. saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Sungguh, Bu."
"Akhir-akhir ini kamu sering tidak fokus belajar, apa kamu ada masalah?" tanya bu Aera melunak.
"Tidak sama sekali, Bu. Saya tidak mempunyai masalah apapun. Tapi, apakah Ibu mau memaafkan kesalahan saya? Sekali lagi saya mohon maaf pada Ibu karena telah tidak mendengarkan Ibu."
__ADS_1
"Saya terima permintaan maaf kamu, tolong jangan kamu ulangi lagi. Ibu ingin kamu yang seperti dulu, Rey. Kamu biasanya selalu memperhatikan saya dan guru-guru lainnya disaat sedang menerangkan."
Bu Aera mendekatkan wajah awet mudanya, beliau baru sadar di wajah bagian pipi Reyhan banyak luka lebam beserta rompi seragam Reyhan kotor dan lusuh.
"Eh! Itu kenapa pipimu banyak lebam begitu?! Itu kenapa juga seragam kamu kotor banget kayak anak gembel?! Ayo jujur pada saya! Kamu habis main tawuran kan di luar!!"
Reyhan mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah bu Aera yang tadinya meredam amarahnya kini malah mengeluarkan amarah ditambah mencak-mencak membuat Reyhan terkejut takut setengah mati sementara murid-muridnya beliau yang lain diam hening.
"T-tidak seperti itu, Bu! S-saya bisa jelaskan soal ini-"
"Apa yang mau kamu jelaskan, hah?! Sudah jelas-jelasnya kamu habis tawuran kok! Apa namanya bukan tawuran kalau mukamu lebam begitu?! Kasih jawaban ke saya!!"
"Bu, biarkan saya jelaskan saja. Seperti kata-kata yang Reyhan ucapkan tadi sebelum bel masuk .. Reyhan bukan main tawuran tetapi di hajar habis-habisan oleh dua pria saat Reyhan melintasi jalan Jiaulingga Mawar," jelas Angga dengan berdiri dari kursinya.
"Betul Ibu, Reyhan tidak fokus pada pembelajaran hari ini kemungkinan besar karena kepala Reyhan sangat sakit. Makanya itu Reyhan daritadi tidak mendengarkan Bu Aera," tambah Freya menjelaskan.
Dengan sedikit menggebrak mejanya, Jova ikut berdiri seperti Angga dan Freya. "Nah iya Bu! Tadinya saja ada pria-pria itu malak minta uang dua puluh juta sama Reyhan lho Bu. Mana mungkin Reyhan kasih, boro-boro kasih bawa uang segepok itu saja gak pernah. Nih ya Bu, untung saja Reyhan masih hidup pas di gebuk brutal sama orang-orang maksiat itu! Kalau enggak, sekolah ini gak ada apa-apanya Bu tanya Reyhan! Apalagi susah nyari orang langka seperti Reyhan Lintang Ellvano!"
Kesemua teman-temannya Jova dan sahabat-sahabatnya melongo ada pengucapan Jova yang begitu panjang tersebut termasuk Reyhan yang kaget pada semua segala kata-kata Jova yang membela Reyhan. Tepatnya membela kebenaran dan apa adanya, Reyhan kembali menundukkan kepalanya bersama berbicara dalam relung hati berkata 'terimakasih' itu yang Reyhan ucapkan dalam hatinya.
Bu Aera menggaruk kening tengahnya sementara satu tangannya bertolak pinggang, beliau nampak tak bisa berkata-kata pada ucapan kesemua sahabat Reyhan yang masih berdiri dari kursinya masing-masing. Sedangkan murid-murid selain ketiga sahabatnya Reyhan hanya terpukau pada semua perkataan antara Angga, Freya, juga terlebihnya Jova.
"Ya oke-oke kalau begitu. Baik maafkan saya Reyhan, Ibu telah menuduh kamu yang tidak-tidak. Ehm, tapi apa kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat begitu pucat."
Reyhan kembali mendongakkan kepala dan menatap bu Aera. "Tenang saja Bu, saya masih kuat."
"Baiklah kalau begitu, tapi kalau memang tidak kuat .. langsung ke UKS saja untuk beristirahat di sana. Mengerti, Rey?"
"Mengerti Bu, terimakasih," ucap Reyhan sopan dengan membungkukkan badannya.
Bu Aera tersenyum mengangguk dan mempersilahkan Reyhan untuk kembali ke bangkunya. Reyhan melangkah dengan lumayan sempoyongan dan kedua mata yang amat sayu lemas membuat beliau khawatir pada muridnya itu. Meskipun bu Aera terpopuler dan terkenal guru paling Killer, tetapi beliau mempunyai sisi belas kasihan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
KRIIIIIIIIINGG !!!
Sebagian para siswa dan siswi keluar dari kelas untuk segera pergi ke kantin mengobati rasa lapar di perutnya.
Angga beranjak dari kursi bangkunya untuk menghampiri Reyhan yang masih lemas.
"Rey, gimana? Masih sakit?" risau Angga.
"Gue nggak apa-apa Ngga. Oh iya untuk yang tadi, makasih ya guys .. kalian bertiga udah jelasin ke bu Aera yang sebenernya terjadi. Makasih banget pokoknya."
"Sama-sama, Nyuk. Tenang aja dah, ada kami yang menolong kamu kok hehehehe, dan kamu pasti terbebas dari beban!" ucap Jova.
Reyhan tersenyum biasa. "Tapi tidak semua, kan beban ku terbebas?"
"Hah? Eh maksud kamu gimana Rey? Kenapa kamu ngomong begitu?" tanya Freya bingung.
"Ehm nggak ada apa-apa hehehehe, aku tadi ngelantur. Kalau gitu gue ke kantin duluan ya Ngga."
"Eh jangan, lo itu masih sakit lemes! Udah sini, lo mau nitip apa sama gue? Biar gue yang ke kantin buat beliin elo."
"Widih baik banget sih lo Ngga, sebaik pangeran malaikat hahaha! Tapi makasih ye Ngga, gue aja yang ke kantin."
"Reyhan, tapi kamu pasti gak mampu buat jalan ke kantin. Apalagi kantin itu jauh dari kelas."
"Halah cuman jalan turun tangga doang, lewatin beberapa lorong juga sampe kok Frey."
"Ih ngeyel banget kamu Nyuk! Nanti kalau kenapa-napa di jalan gimana?!"
"Sans, Bleng."
Reyhan mengangkat jari jempol tangannya ke arah Jova kemudian beranjak dari kursinya segera. Angga yang siap-siap menahan tubuh Reyhan kalau oleng langsung ditepis Reyhan pelan.
"Nggak usah khawatir gitu kali, Bro."
"Rey, tapi habis di kantin langsung balik ke kelas ya."
"Siap Ngga hehehehe."
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Usai tiba di kantin tiba-tiba perut Reyhan terasa amat kram hingga ia yang fokus jalan dengan rada pincang mengatup bibirnya sekaligus memegang perutnya.
"Eh Bang, Abang sakit perut?" tanya Rendy kelas X IPA 4.
Reyhan menegakkan badannya untuk menjawab adik kelasnya yaitu Rendy Rio Alviano, namun karena tak tahu dan tidak sengaja menyenggol badan Youra hingga terjatuh ke lantai bersama mangkuk baksonya yang tumpah berserakan.
"Auw tangan gueeee!" keluh Youra yang tangannya terkena kuah panas bakso.
Reyhan terkejut dan menoleh ke belakang yang terdapat Youra jatuh terduduk dengan bakso yang tumpah berserakan.
"Anjir! Sorry gue gak sengaja!"
"Cowok sialan!! Ganti rugi bakso gue!!"
Datanglah kekasihnya Youra yaitu Alex yang berlari menghampiri sang pacarnya. Alex kaget melihat tangan kekasihnya tersebut merah melepuh karena terkena kuah bakso yang masih panas bahkan baksonya yang telah Youra pesan jatuh berserakan di lantai.
"Youra! Kamu gakpapa?!" Alex berjongkok segera membantu Youra berdiri.
"Siapa yang buat kamu jatuh hah?!" tanya Alex dengan nada amarah.
"Honey, siapa lagi kalau bukan musuh brengsek kamu yang ada di belakangmu!"
Alex usai membantu Youra berdiri dan Youra meniup tangannya yang telah melepuh itu. Setelah Alex menoleh ke belakang Alex menjadi begitu emosi rupanya yang telah menjatuhkan kekasih tercintanya tersebut.
"Jadi Elo bangs*t!!!"
"Gue gak sengaja!!" bentak Reyhan.
"Halah banyak alasan!!!"
BUGH !!!
Alex menonjok kencang perut Reyhan hingga musuh bebuyutannya tersebut terpental ke tembok belakangnya persis. Reyhan terjatuh terbaring begitu saja dengan merintih kesakitan hebat di perutnya yang ditonjok oleh Alex.
"Bang!! Jangan Bang!!" teriak Rendy agar kakak kelasnya berhenti memukul Reyhan.
"Lo gak usah ikut campur, bocah!!!" Alex mendorong Rendy mundur untuk menjauh darinya dan Reyhan.
'Eh anjir gue bukan bocah woy !!' batin Rendy tak terima.
Alex kembali menoleh ke arah Reyhan yang belum bangkit tetapi masih terbaring di lantai. Napas Alex naik turun cepat dengan kedua telapak tangan meremat kuat.
"Mau apa lo hah? LO SENGAJA KAN BUAT YOURA TERLUKA!!!"
"DASAR BAJINGAN!!!"
Alex menendang beberapa kali pinggang Reyhan dengan sangat keras penuh dendam. Reyhan hanya bisa pasrah karena ia tak sanggup untuk menyerang Alex.
"INI BUAT LO YANG SOK HEBAT DI SEKOLAH MILIK PAPA GUE!!!"
DUAGH !!!
"INI BUAT LO YANG SOK POPULER DI SMA GALAXY ADMARA!!!"
DUGH !!!
Alex menghentakkan kakinya di antara ulu hati dan dadanya Reyhan dengan amat kuat membuat dada Reyhan terasa terhimpit.
"Aaaaaaakkkhh!!!"
Kedua tangan Reyhan berusaha melepaskan kaki kirinya dari hentakan di dadanya serta ulu hatinya dengan sekuat tenaga yang ia punya.
"Ugh! Argh!!"
Rendy yang tak bisa diam saja seperti ini pada Reyhan yang hampir penghujung sekarat, siswa kelas X tersebut berlari kencang mencari pertolongan dari Angga yang berada di kelas. Rendy berlari sekencang-kencangnya mungkin dan menaiki tangga untuk menuju ke ruang kelas lainnya dan di situ Rendy bertemu Aji yang sedang menyeduh minuman kemasan memakai sedotan, Rendy berhenti berlari dan menghampiri Aji.
"Bang Aji!!"
"Dy? Eh buset lo kenapa keringetan begitu?!" tanya Aji.
"Habis lari lah aku, Bang! Eh Bang .. Abang tau Bang Angga nggak??!!"
"Oh Angga di kelas, napa nyari Angga??"
"Udah dah Bang! Nanti juga Abang tau sendiri! Makasih ya Bang!!"
Rendy kembali berlari kencang mendatangi kelas XI IPA 2, Aji hanya menatap kepergian kilat Rendy yang ngibrit.
"Bocah ngapa, yak?" tanya Aji dengan bermonolog.
Usai tiba di ambang pintu kelas XI IPA 2, tanpa permisi terlebih dahulu siswa X itu berlari menghampiri Angga yang tengah duduk diam di kursi bangkunya.
"Abang Angga!!!"
Angga yang sedang duduk bersandar langsung duduk pada kedatangan Rendy tiba-tiba apalagi berteriak memanggilnya.
"Kenapa Dy?! Dateng-dateng bukannya permisi dulu malah asal teriak."
"Duh Bang!! Urgent Bang urgent banget!!!"
"Urgent kenapa?!"
"Halah itu lho Bang! Abang Reyhan!!!"
"Iya! Kenapa Reyhan?!"
"Bang Reyhan lagi dihajar brutal sama Bang Alex di kantin, Bang!!! Cepetan Bang keburu Bang Reyhan bablas mati!!"
Angga tanpa menjawab langsung berlari kencang meninggalkan Rendy dan kelasnya yang hening tak ada siapapun selain Angga dan Rendy. Meskipun Angga tak diperkenankan untuk berlari karena itu berpengaruh pada cedera kepalanya, Angga tak memedulikannya. Dengan cepatnya Angga menuruni tangga kemudian memaksimalkan tenaga larinya hingga sampai di sebuah kantin yang banyak kerumunan di sana.
Di sisi lain, Alex memberikan bogeman mentah kepalan tangannya ke wajah Reyhan hingga menimbulkan sudut bibir Reyhan berdarah. Tak terlepasnya juga Alex pada kakinya yang menetap di ulu hati, dada Reyhan. Sementara itu, mata Reyhan sudah meredup akan menutup karena seluruh tubuhnya sendinya serasa remuk begitupun kepalanya yang ingin pecah akibat ulah kejamnya Alex.
Angga langsung menerobos kencang para kerumunan siswa dan siswi kemudian dengan rasa tak terimanya, Angga menarik kerah belakang seragam Alex lalu mendorongnya kuat hingga pemuda tersebut tersungkur ke belakang.
BRUGH !!!
Mata Angga mencuat tajam sangat tajam dengan mata melotot, sungguh tidak menerima sahabatnya dilukai hingga seperti sekarang. Alex berdecih sinis kehadiran Angga yang ia anggap pahlawan kesiangan. Alex beranjak berdiri dan menatap murka Reyhan dengan menunjuknya.
"Urusan kita belum selesai!!"
Alex melengos meninggalkan kantin dengan menarik lengan tangan Youra yang tak melepuh. Angga terus menatap tajam dingin pada Alex yang punggungnya semakin tak terlihat karena menjauh dari kantin.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Angga menoleh cepat pada Reyhan yang terbatuk-batuk dengan memegang dadanya yang sesak. Angga berjongkok di hadapan Reyhan yang terbaring di lantai. Bertepatan itu pak Harden, bu Aera, pak Arya, pak Harry, bu Sonya datang ke dalam kantin dan berlari menghampiri Angga dan Reyhan.
Angga berinisiatif mengangkat kepala Reyhan perlahan untuk membantunya bangun, namun gawatnya mata Reyhan terlanjur menutup tak sadarkan diri. Mata Angga terbelalak dengan menepuk-nepuk pipi Reyhan bergantian.
"Rey?! Rey?! Bangun Rey!!" Angga menggoyang-goyangkan tubuh Reyhan yang sudah tak ada pergerakan.
Johan yang baru saja balik dari ruang UKS untuk membersihkannya, terkejut setelah berjalan menghampiri kerumunan para siswa dan siswi serta lima guru di sana.
"Eh Ya Allah! Ngga ini Reyhan kenapa kok bisa pingsan gini?!"
"Astaga Johan, kamu ini habis darimana sih?!"
"Maaf Bu Aera, saya habis saja selesai bersihkan ruang UKS. Reyhan dibawa ke ruang UKS saja Pak, Bu! Reyhan sebaiknya diobati dulu di pembaringan kasur UKS."
"Duh parah! Di hajar sama Alex pasti nih anak!" gerutu Johan gusar.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Setelah Reyhan di angkat oleh pak Harden, pak Harry, dan pak Arya ke ruang UKS kini Reyhan dibaringkan di kasur ranjang dalam UKS. Seluruh anggota PMR juga berada di dalam ruang UKS. Ketua PMR dan wakil PMR yaitu Johan serta Angga melebarkan selimut lalu mulai menyelimuti tubuh Reyhan pada selimut putih tersebut hingga sampai batasan ulu hati.
"Alex. Alexander Rosefel, huh itu adalah anak pemegang SMA Internasional ini sementara itu teman saya masih merantau di negara Inggris," ucap pak Harden dengan memijit keningnya.
"Memang begitu ya Pak, dan saya heran mengapa dari kelas sepuluh Reyhan dan Alex tidak pernah saling damai. Jika itu tak dihentikan maka ada konflik permasalahan di sekolah ini," sambung pak Harry.
"Bisa mungkin saja, itu adalah masalah pribadi antara Reyhan dan Alex, Pak. Untuk mencegahnya itu sudah sulit bagi saya karena Alex siswa yang tak bisa di atur sama sekali, dia ada kemauannya sendiri dan semaunya, kalau Reyhan masih bisa karena siswa ini begitu penurut aturan SMA ini bahkan meskipun Reyhan siswa yang rese dan siswa penggoda tetapi Reyhan termasuk siswa memenuhi tata tertib di lingkungan sekolah ini."
"Pak Arya, saya malahan belum pernah melihat Reyhan yang melanggar aturan sekolah di sini. Dan untuk Alexander, ck pastinya anak itu pertama buat ulah dulu dengan Reyhan hingga mereka menjadi saling baku hantam di sekolah ini," ujar bu Sonya.
"Soal Reyhan, saya menjadi terpikirkan pada yang tadi Bu .. akhir-akhir ini di kelas Reyhan sering tidak fokus dalam belajar, saya menjadi cemas kalau Reyhan memang punya masalah."
"Masalah apa, Bu Aera?" tanya bu Sonya.
"Bisa jadi masalah keluarga, eh tapi saya juga tidak yakin kalau Reyhan punya masalah keluarga. Anak yang ceria ini masa punya masalah, sepertinya tidak mungkin."
"Sudahlah Bu, lebih baik kita semua berdoa saja semoga Reyhan tidak terjadi apa-apa. Huh, murid kebanggaan seharusnya tidak diperlakukan seperti ini."
Bu Aera, pak Harry, pak Harden, dan pak Arya mengangguk setuju pada pengucapan dari sang beliau Sonya. Pak Harden kemudian berjalan menghampiri Angga yang diam menatap Reyhan yang belum kunjung sadar.
"Angga, Bapak dan Ibu guru pamit keluar dulu ya. Semoga Reyhan secepatnya sadar dari pingsannya."
"Baik Pak, terimakasih."
"Iya sama-sama, Nak."
Pak Harden berbalik badan dan mengajak para guru untuk keluar dari ruang UKS dan kembali ke kantor guru sementara pak Harden kembali ke kantor kepala sekolah untuk mengurusi berkas-berkas tertentu.
"Masyaallah Gusti waduh mampus gue!"
"Napa sih Kak, baru inget pacarnya ketinggalan di rel kereta?"
"Ini lagi nih cewek adik kelas sebelas gue yang bawaannya bikin kesel mulu .. enggak Dek, itu lho Kakak lupa ngerjain PR Biologi!"
"Heleh katanya akhlak yang mulia, lah kok ini malah akhlak yang sesat? PR kok bisa lupa. Padahal udah kelas dua belas bentar lagi lulus."
Nyinyiran siswi anggota PMR kelas XI membuat Johan hanya menghela napasnya panjang.
"Angga, gue tinggal ngerjain PR di kelas gakpapa kan ya? Apalagi bentar lagi mau bel nih, jadi sekalian kami mau balik ke kelas."
"Ya, Kak. Tinggal saja."
"Oke, duluan ya Ngga."
__ADS_1
Angga mengangguk senyum sementara Johan dan para anggota PMR lainnya keluar dari ruang UKS. Johan menutup pintu UKS-nya setelah berada di luar, Angga mengambil selembar tisu untuk membersihkan sudut bibir Reyhan yang berdarah.
BRAK !!!
"Angga! Reyhan kenapa bisa masuk UKS??!!"
Teriakan gadis itu tentu Angga kenal, siapa lagi kalau bukan Jovata Zea Felcia. Angga mendengus lambat dan menoleh ke Jova yang bersama Freya di belakangnya. Bahkan Jova membuka pintu UKS begitu sangat kencang membuat Angga tadi sedikit kaget.
Jova dan Freya berlari kecil menghampiri ranjang kasur UKS yang ditempati Reyhan, ada raut khawatir di kedua gadis tersebut apalagi menatap wajah Reyhan yang pucat tak sadarkan diri, sementara Angga masih mengobati luka goresan bawah telinga Reyhan dengan memakai kapas yang telah ada cairan alkohol di atas kapas tersebut.
"Angga, kenapa Reyhan bisa kayak gini?! Ceritanya bagaimana?!" bimbang Freya.
Angga menghempaskan napasnya kasar. "Dihajar Alexander!"
"Nah bener kan dugaanku! Cowok itu selalu aja buat masalah, gue yakin bener! Pasti tadi di kantin ada Youra jablay itu kan, Ngga?!"
"Hmm, iya."
"Hih! Pasti Youra nuduh Reyhan kalau Reyhan yang melukai Youra habis itu karna Alex gak terima Reyhan langsung di gebuk habis-habisan! Reyhan yang tadi di gebuk sama dua pria sekaligus malah tambah Alex, makin drop lah daya tahan tubuh si Reyhan!!"
"Ck sialan, gue pasti kasih pelajaran sama Youra-"
Freya dengan cekatan mencekal lengan Jova yang sahabatnya ingin melenggang pergi. "Jangan, Va. Kalau kamu macem-macem sama Youra kamu sama aja berurusan dengan Alex, apalagi sahabat-sahabatnya Youra .. Febrie, dan Claudie. Jangan ya Va, aku nggak mau kamu kena masalah sampe di giring ke ruang BK."
"Heh! Mana ada aku terima?! Alex aja udah buat Reyhan pingsan! Sebagai sahabatnya aku gak terima banget dong! Apalagi itu mulut comberan Youra yang tukang ngadu kesalahan!"
"Udah ya Va .. tahan amarahmu buat Reyhan, kalau nanti Reyhan sadar dan tahu kalau kamu terkena masalah besar di sekolah ini, Reyhan bakal marah dan kecewa sama kamu, Jova."
"Di SMA ini, kita harus mengikuti peraturan yang harus kita lakukan dan ada yang tidak boleh kita lakukan. Aku tau kamu marah banget sama Youra apalagi Alex, tapi lebih baik tahan aja Va. Apalagi kan Youra pacarnya Alex, kalau kamu berani menyakitinya Alex mudah banget keluarin kamu dari sekolah ini. Emangnya kamu mau?"
"Ya enggak sih. Hhhh, yaudah deh untuk sekarang ini aku tahan dulu .. tapi mau gimanapun itu aku tetap gak terima yak!"
Freya menganggukkan kepalanya lembut seraya mengusap-usap punggung Jova untuk meredakan emosinya yang meluap sementara itu Angga membuang satu kapas dan satu tisu ke tong sampah yang ada di dekat kasur UKS. Angga dengar semua apa yang dibicarakan oleh Jova dan Freya, tetapi pemuda itu hanya diam tak mau mencampuri pembicaraan mereka, Angga hanya fokus mengobati luka lecet Reyhan yang ada di bawah telinga tadi.
KRIIIIIIIIIINGG !!!
Bel masuk kelas telah berbunyi dengan sangat nyaring, Freya dan Jova memutuskan untuk segera pergi ke kelas begitupun juga dengan Angga yang beranjak dari kursi sisi ranjang kasur UKS Reyhan. Sebelum pergi, Angga menepuk pundak Reyhan beberapa kali dengan tersenyum tipis kemudian melenggang pergi meninggalkan Reyhan sendirian di ruang UKS.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di pertengahan pembelajaran dari seorang guru wali kelas ialah pak Harry. Semua siswa dan siswi di kelas sangat memperhatikan pak Harry yang membacakan rumus-rumus matematika secara lesan. Beliau nampak mendikte murid-muridnya sementara kesemua muridnya mencatat semua rumus-rumusnya dengan gerakan menulis cepat.
Dan tiba-tiba pak Harry berhenti dan menatap seluruh muridnya di dalam kelas. "Ini Bapak terus mendikte atau Bapak tulis di papan tulis?"
"PAPAN TULIS SAJA PAK!!!" serempak sebagian murid.
"Oh Bapak tuliskan di papan tulis saja?"
"Iya Pak! Pegel nih tangan saya karna harus cepet-cepet nulisnya kayak ditinggal pergi sama Doi," ucap lantang Aji.
"Heh! Dasar Edan lo, Ji." Jevran mengumpat kesal.
"Oke-oke tidak apa-apa Vran. Baik Bapak tulis di papan tulis saja, ya. Tapi kalian harus cepat menulis karena sebentar lagi akan bel ganti pembelajaran selanjutnya."
Kesemua murid mengiyakan pak Harry secara kompak dan mulai kembali mencatat yang beliau tulis di papan tulis. Namun beberapa saat kemudian, pak Harry berhenti menulis dan menoleh ke belakang menghadap Angga
"Anggara."
"Iya Pak, ada apa?" tanya Angga sopan.
"Sebaiknya kamu temani Reyhan di UKS, takutnya kalau terjadi apa-apa dikarenakan Reyhan sendirian di dalam sana. Selama Reyhan belum sadarkan diri, kamu jangan meninggalkan Reyhan. Mengerti Anggara?"
"Baik Pak, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya, silahkan."
Sedangkan seperti Jevran, Aji, Andra, Raka, Ryan menunduk bersama tak berani menatap Angga sedikitpun. Entah karena apa.
Angga meninggalkan kelas, berjalan menuruni tangga lalu menelusuri beberapa lorong hingga beberapa kilo tempuh Angga tiba di depan pintu UKS, Angga membuka pintu tersebut dengan amat perlahan lalu menutup kembali usai ia telah di dalam. Angga melangkah mendekati Reyhan dan kemudian duduk di kursi, Angga memperhatikan gerak hela napas dada sahabatnya yang lumayan lambat. Pemuda Indigo itu beralih menilik jam dinding atas tembok lalu berbalik ke depan menunduk dengan mengusap wajahnya kasar.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Nampak Angga cangklong tas pundaknya dan memangku tas pundaknya Reyhan. Tak hanya Angga saja, namun ada Freya, Jova, Jevran, Aji, Raka, Andra, Ryan menenteng tas pundaknya dengan posisi berdiri. Delapan remaja tersebut menunggu kesadaran Reyhan yang masih belum kembali, yang padahal sekarang waktunya jam pelajaran sekolah berakhir.
"Gue mau nanya, kenapa saat di kantin lo berlima diem aja? Bahkan untuk nolong Reyhan enggak, kalian cuman liatin doang, kan."
Aji, Jevran, Raka, Andra, dan Ryan saling menatap kaget pada Angga yang temannya ternyata tahu kalau di antara mereka berlima hanya menontonnya saja tanpa menolong Reyhan disaat di hajar oleh Alex di kantin.
"Maafin kami Ngga, tapi kalau udah urusannya Alex kami gak berani ikut campur tangan."
"Dasar pengecut!"
Kelima temannya dan kedua sahabatnya begitu amat terkejut mendengar ucapan Angga yang kasar, namun sadar Angga pemuda itu langsung menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Mending lo semua pulang, termasuk kamu berdua Freya, Jova."
"Terus lo gimana Ngga-"
"Gue tetep di sini nunggu Reyhan sadar," jawab Angga memotong kata Raka.
"Tapi nanti kamu pulang, kan Ngga?" tanya Freya.
"Iyalah, aku pasti pulang .. nggak mungkin aku di sini sampe malem. Sudah sana pulang, hati-hati di jalan, nggak usah pakai ngebut inget bahaya."
"Iya Angga, iyaaa .. calon pacarmu pasti selamat sampai rumah kok."
"Eh maksudmu apaan sih Va?! Angga itu kan cuman sahabat kecilku! Nggak lebih!"
Angga memutar bola mata sembarang arah. "Sudah sana pulang, biar aku yang nunggu Reyhan bangun."
"Iye-iye Nggaaa .. yaudah kalau gitu aku dan yang lain pulang ya. Kami harap nanti Reyhan sadar," harap Jova setelah berpamitan dengan Angga.
"Ngga, gue sama temen-temen pamit pulang ya."
"Hm."
Jevran menghembuskan napasnya pasrah disaat mendengar jawaban Angga dengan deheman. Tetangga Reyhan tersebut berjalan berbalik badan meninggalkan ruang UKS lebih dulu kemudian yang lainnya ikut keluar dari ruang UKS terkecuali Angga.
Beberapa menit telah berlalu, Angga tetap masih setia menunggu Reyhan bangun sadar. Badan Angga terlihat membungkuk selain itu kedua telapak Angga yang saling berdempetan nampak Angga tempelkan di antara kening, hidung, mulut sekaligus apalagi matanya ia pejamkan namun Angga tak tidur.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Angga langsung duduk tegak saat mendengar seorang yang batuk-batuk, tak lainnya Reyhan. Angga memajukan dirinya dari kursi. Angga menggenggam lengan tangan sahabatnya, menanti Reyhan membuka matanya usai terbatuk-batuk dalam mulut bungkam.
"Rey?! Lo udah sadar?!" senang Angga melihat Reyhan membuka matanya.
Mata sayu lemah tersebut bergerak menoleh ke arah Angga yang tersenyum bahagia. "Angga ..."
Nada suara Reyhan terdengar lemah nyaris tak terdengar di telinga Angga, namun Angga mudah menangkap suara sahabatnya yang telah siuman dari pingsannya berjam-jam.
Angga mengangguk tetap senyum. "Lo gimana keadaanya? Apa udah mendingan?"
Reyhan hanya diam tak menjawab Angga, Angga paham mengapa Reyhan begitu. Reyhan hendak bangun duduk, tetapi punggungnya langsung Angga topang untuk membantunya duduk perlahan.
"Akh!!"
"Pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru."
Angga meringis melihat Reyhan yang tertatih memegang perutnya yang amat kram akibat tonjokan brutal Alex tadi.
"Ini sudah jam pulang, tapi gue saranin lo istirahat sepuluh menit dulu di sini. Kondisi lo belum membaik, Rey."
"J-jam pulang ...?" tanya Reyhan dengan wajah menahan rasa sakit.
"Hm'em. Lo pingsan enam jam, tapi syukur lo pada akhirnya sadar juga."
"G-gue pingsan enam jam?!" kejut Reyhan.
"Iya, nggak usah kaget seperti itu. Udah mending lo baring balik aja .. nanti kalau sudah sepuluh menit kita pulang."
"Tunggu dulu, kayaknya baru sebentar kok tiba-tiba udah sore aja?!"
"Bagi lo sebentar, bagi gue lama. Udah jangan tanya-tanya lagi oke? Sekarang lo baringan aja dulu."
"Nggak deh, gue mau langsung pulang aja," tolak Reyhan.
"Ck, lo harus ngerti kondisi lo sekarang Rey. Lo masih lemah gini."
"Gue nggak lemah Ngga, gue kuat."
Reyhan memaksa dirinya untuk turun dari kasur ranjang, namun masih dua langkah kaki Reyhan yang tak mampu menopang tubuhnya pun terjatuh di lantai. Angga sigap berdiri menghampiri sahabatnya yang terjatuh di lantai.
"Dasar keras kepala! Dibilang juga apa, lo baringan aja di kasur .. nanti kalau sudah sepuluh menit kita baru pulang!"
"Halah, gak lo aja yang keras kepala! Sepadan lu sama gue, tau gak- ugh perut gue anjiiirr!!"
Angga menghembuskan napasnya kasar. "Iya gue ngaku! Tapi mau gimana sekarang?"
"Pulang! Titik gak pake koma!"
Angga memejamkan matanya kemudian membukanya untuk meladeni sahabatnya yang bersikeras untuk pulang ke rumah.
"Yaudah terserah lo. Sini gue bantu berdiri. Pelan-pelan saja."
Reyhan menganggukkan kepalanya menuruti Angga kali ini. Angga mengangkat tangan Reyhan untuk merangkulnya di tengkuknya, setelah itu Angga memegang pergelangan tangan Reyhan yang tangan sahabatnya telah Angga rangkul.
Dengan langkah perlahan, Angga memapah Reyhan berjalan keluar dari ruang UKS. Namun disaat setelah membuka pintu selebar-lebarnya Angga dan Reyhan kaget di depannya sudah ada beberapa siswi-siswi kelas X di depan mereka berdua.
"Kak Reyhan!! Kakak udah sadar??!!" heboh pekik salah satu siswi.
"Hehehehe udah dong Dik, ini buktinya Kakak udah buka mata nih," tanggap Reyhan ramah.
"Wah syukurlah, Kakak Selebriti ku baik-baik saja kyaaaa!!"
"Wah di bilang Selebriti nih, makin ganteng dong Kakak hehehehe!"
"Emang ganteng banget Kak Reyhan, apalagi Kak Angga seganteng artis Korea hihihi!" ucap siswi sebelahnya.
"Kalau Kak Reyhan bukan Korea tapi cowok artis Barat yeaaahh!!" heboh siswi lainnya.
"Waduh kece amat kalau Kakak kayak orang Barat .. apa karna Kakak suka bahasa Inggris kali yah, jadinya mukanya kayak orang Barat hehehehehe!"
"Uuuuuhhh I love you Kak Reyhan ku sayang!" ucap siswi di belakang sendiri dengan mengangkat tangan yang jari jempol dan jari telunjuknya saling menyilang menyimbolkan rasa suka pada Reyhan.
"Oooouuu I love you too Adik cantikku sayang!"
"Muah!" Reyhan melalukan gerakan gaya kiss bye pada adik-adik kelas perempuannya pada wajahnya yang tampan itu.
Para siswi-siswi yang sangat fans pada Reyhan berteriak terpana-pana pada tingkah Reyhan yang membuat klepek-klepek, meskipun wajah Reyhan nampak masih pucat tetapi ketampanan pemuda friendly-nya masih menang daripada pucatnya. Angga hampir saja stress-nya kumat oleh tingkah laku Reyhan yang membuat geleng-geleng kepala.
"Ehem! Maaf ya Dik, Kak Reyhan harus segera istirahat di rumah .. besok kalian bisa bertemu lagi sama Kak Reyhan."
"Oke Kak Angga ganteng!!"
Angga tersenyum kecut kemudian mengajak Reyhan untuk meninggalkan UKS begitupun para fans-fansnya Reyhan. Disaat sudah jauh sekali dari jaraknya siswi-siswi kelas X tersebut, mereka berteriak memanggil Reyhan dengan ria.
"Kak Reyhan!!!"
Reyhan berhenti melangkah begitupun juga dengan Angga, dua pemuda itu menoleh ke belakang bersamaan.
"I MISS YOUUUU !!!"
"I MISS YOU TOOOO !!!"
Reyhan berteriak sekuat suaranya sementara di sebelahnya menutup satu kupingnya takut gendang telinganya pecah akibat suara Reyhan yang bisa sekeras speaker salon.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di parkiran motor, Angga melepaskan tangan Reyhan yang ia rangkul di tengkuknya. Reyhan yang merintih kesakitan memegang perutnya, dilihat begini Angga tak mungkin membiarkan Reyhan pulang sendirian.
"Gue anter lo sampe depan rumah, ya."
"Repot-repot banget sih Ngga, jalur arah rumah lo dan gue kan jauh. Udah dah gue bisa pulang sendiri kok. Lo pulang aja ke rumah lo, gue pulang ke rumah gue."
"Yakin lo sanggup? Nanti kalau ada apa-apa gimana? Lo jangan buat gue takut lagi ya!"
"Woi, lo kan cowok pemberani .. harusnya jangan takut dong hehehehe. Udah dah tenang aja gue bisa pulang dengan selamat kok."
Angga diam dan tanpa sengaja melirik bagian motor Scooter Honda Vario silver Reyhan sedikit sedikit ada gesekan lecet di sisi moto sahabatnya.
"Itu motor lo kenapa bisa lecet seperti itu?" Angga menunjuk motor Reyhan di bagian tergores lecet.
"Oh itu, ya gara-gara salah satu manusia beringas yang nendang motor kesayangan gue sampe jatuh gak cuman motor gue doang tapi gue juga."
Namun tentang dua pria tadi pagi yaitu Aditama dan Arkie, Reyhan teringat kembali ucapan Aditama yang hampir mengenai soal kematian Arseno.
"Rey, meskipun gue tau ini berat lo jawab pertanyaan gue ini .. tapi gue mau lo jujur sama gue."
"Eh jujur soal apa, Ngga?
"Teror. Apa bener Arseno, Arseno Keindre berbuat sesuatu pada lo?"
Reyhan langsung memalingkan wajahnya dengan wajah gelagapan, namun Reyhan tidak bisa menyembunyikan kebingungan dari ekspresi wajahnya dari Angga. Angga mempunyai kelebihan ialah indera keenam, Angga jelas tentu tahu.
"Gak usah di bahas! Mending lebih baik kita cepet-cepet pulang sebelum maghrib dateng."
Reyhan cekatan menaiki motornya dan mulai menyalakan mesin motornya, Reyhan terburu-buru meninggalkan Angga yang masih berdiri di sisi motor Scooter Honda Vario hitamnya. Melihat Reyhan mengerem motornya di luar gerbang sekolah, Angga pun menyusul Reyhan dengan motornya. Setelah melaju ke luar gerbang, Angga menghentikan motornya dan menatap Reyhan.
"Rey lo kenapa tiba-tiba menghindar dari gue? Lo gak bisa sembunyikan rahasia lo dari gue begini, kalaupun benar kita bisa hadapi bersama."
"Gue gak di teror Ngga! Gue nggak kenapa-napa, lebih baik lo pulang aja."
"Rey-"
"Jumpa besok di sekolah."
Reyhan kembali melajukan motornya dengan kecepatan maksimal, sementara Angga hanya diam tak mungkin mengejar Reyhan. Angga menarik napasnya dalam kemudian membuangnya secara lamban. Angga memutuskan pulang saja ke komplek rumahnya. Di dalam perjalanan Angga terus memikir dan memikir cara untuk membentengi rencana siasat buruk dan jahat arwah negatif tersebut.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1