
Freya dengan segera langsung meraih tombol merah yang ada di atas kepala Angga untuk memanggil dokter. Setelah memencetnya bersama tergesa-gesa bahkan gadis tersebut sampai mencet bel tombol dua kali. Setelah memanggil petugas medis, Freya menatap sahabat kecilnya lagi penuh serius, bahkan terdapat derai linangan air mata yang mengalir di kedua pipinya Freya.
Saat ini, mulut Angga yang sudah lama bungkam kini terbuka tipis walau matanya belum sama sekali terbuka untuk memandang tempat. Tak berapa menit kemudian, sang dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruang rawat pemuda Indigo tersebut.
Freya langsung memutar tubuhnya ke belakang untuk menatap dokter Atmaja yang telah tiba. “Dok! Tadi sahabat saya tiba-tiba memanggil nama saya, apakah mungkin Anggara telah kembali sadar, Dok?!”
“Sebentar ya, Nak. Biarkan Dokter memeriksa Anggara terlebih dahulu untuk melihat kondisinya sekarang dan juga angka saturasi oksigennya.”
Freya manggut-manggut antusias. “B-baik, Dokter!”
Freya melangkahkan kedua kaki mulusnya buat mundur, membiarkan Angga diperiksa oleh beliau. Namun meski demikian, gadis cantik berambut hitam legam panjang tergerai tersebut, menggigit bagian jari lentik telunjuknya dengan perasaan getir dan bahagia mengaduk mencampur jadi satu.
Dokter Atmaja nampak fokus menyoroti kedua mata Angga secara bergantian dengan menggunakan cahaya senter kecil medisnya, kemudian beralih mendeteksi irama detak jantung lelaki tampan itu memakai alat yang selalu beliau lingkarkan di leher bak sebuah kalung, ialah stetoskop. Namun setelah itu, ada yang membuat Freya penasaran apa yang sekarang dokter Atmaja lakukan hingga gadis tersebut mencoba mengintip.
Dokter Atmaja terlihat menjepitkan jari telunjuk tangan kanan lemas Angga dengan pakai suatu alat berukuran kecil. Yang Freya lihat samar-samar, di dalam alat terkesan canggih itu terdapat muncul sebuah angka berwarna merah. Nang jelasnya, Freya bingung serta tidak mengerti fungsi kegunaan alat tersebut.
Setelah sang dokter mengecek sebuah angka merah yang tertera jelas di pulse oximeter alat untuk mengukur kadar oksigen saturasi dalam tubuhnya, salah satu perawat yang ikut menengok angka tersebut, mengarah ke Angga lalu mencabut masker oksigen yang terpasang di wajah pucat-nya.
Tanpa sadar, Freya menarik kedua sudut bibirnya ke atas untuk membentuk sebuah senyuman. Hatinya begitu lega saat alat bantu pernapasan sahabat lelaki kecilnya dilepas oleh perawat, sedangkan dokter Atmaja lantas itu melonggarkan pulse oximeter miliknya dari jari telunjuk Angga buat melepaskannya, kemudian beliau kembali mengantongi alat kecil tersebut ke dalam kantong saku jas putihnya.
Dokter Atmaja setelah itu, memutar tubuhnya ke belakang dan mendatangi gadis tersebut yang nampak sangat dekat dengan Angga bahkan telah sedari tadi menunggu beliau memeriksa kondisinya. Sementara mata Freya tak berpaling dari muka Angga yang mana mata lelaki itu masih terpejam damai. Tetapi detik kemudian, Freya yang merasa dihampiri langsung beralih menoleh.”
“Eh, Dokter? B-bagaimana, Dok?! Apakah dugaan saya benar bahwa Anggara telah kembali sadarkan diri?” tanya Freya membutuhkan jawaban dari beliau yang sekarang berhadapan dengannya.
Dokter Atmaja tersenyum lembut agar gadis tersebut sedikit tenang. “Setelah Dokter melakukan pengecekan saturasi oksigen yang ada di dalam tubuh pasien, Alhamdulillah angkanya telah meningkat menjadi sembilan puluh persen. Dan apa yang kamu duga tadi mengenai Anggara, benar ... kesadarannya Anggara telah kembali lagi.”
Mulut Freya menganga bahagia dengan mata terbelalak lebar terkejut mendengar apa yang dokter Atmaja sampaikan untuk memberi tahu kondisi Angga yang telah membaik. Gadis itu menutup mulutnya bersama kedua telapak tangannya seraya air matanya kembali menumpuk di pelupuk-pelupuk matanya.
“Padahal kemarin kondisi Anggara begitu lemah, dan sekarang hari ini, syukurlah keadaan pasien telah membaik. Dokter rasa, ini adalah sebuah Mukjizat yang Allah berikan untuk Anggara.”
Freya mengangguk dengan melepaskan masing-masing telapak tangannya lalu tersenyum lebar pada dokter Atmaja yang melontarkan penuturan kata lembut tersebut. Hati sang dokter juga ikut senang dan juga lega dikarenakan kondisi keadaan lemah pasiennya telah stabil.
“Tetapi jika Dokter sarankan, lebih baik Anggara memperbanyak istirahat total untuk masa proses pemilihan untuk pasien, ya? Kondisinya memang telah kondusif, namun sebaiknya Anggara disarankan apa yang Dokter sarankan barusan. Dan kalau bisa, Anggara jangan terlalu banyak pikiran apalagi diusahakan jangan sampai Stress. Karena kalau terjadi, itu mampu mempengaruhi fase penyembuhan keadaannya.”
“Oh, baik, Dokter! Saran yang beliau berikan pada saya, mudah saya pahami dan saya ingati. Terimakasih sekali, Dok atas sarannya. Saya tentu akan memastikan Anggara supaya tidak mengalami Stress dan terlalu banyak pikiran.”
Dokter Atmaja tersenyum ramah dengan menganggukkan kepalanya tenang. “Sama-sama, Nak. Jika begitu, Dokter dan suster pamit keluar, ya? Assalammualaikum.”
“Baik, Dokter. Waalaikumsalam.”
Dokter Atmaja melemparkan senyuman ramahnya lagi kemudian menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap para perawat satu persatu lalu menggerakkan kepalanya dengan sebuah angguk untuk memberi kode buat mengikuti beliau keluar dari ruangan bersama senyuman yang selalu tertancap di aura wajahnya.
Cklek !
Setelah memperhatikan kepergian beliau dan beberapa perawat meninggalkan ruang rawat no 111, kini sekarang pintu ruangan telah ditutup rapat oleh salah satu perawat. Lantas, Freya mulai melangkahkan kakinya perlahan untuk mendekati Angga yang matanya masih tertutup, sementara lelaki itu telah terlepas dari alat bantu pernapasan.
Gadis tersebut rada mencondongkan kepalanya ke bawah dan mulai hendak mengeluarkan suara lengkingnya untuk memanggil nama pemuda tampan itu, “Angga ...”
Dengan satu sebutan satu nama, dengan lemah mata Angga terbuka perlahan-lahan. Sekarang Freya dapat lagi melihat mata iris warna abu-abu autentik menawannya sang sahabat kecilnya. Pandangan buram itu berangsur tidak lama, kemudian Angga bersama lemah pula menolehkan kepalanya untuk mencari sosok sendang suara perempuan yang memanggil namanya.
__ADS_1
Angga bertatapan pada Freya yang tersenyum cantik haru yang mana mata lelaki bertubuh postur semampai tersebut belum sepenuhnya terbuka, melainkan setengah. “Freya ...? Itu kamu ...?”
Grep !
Dua kali Angga telah memanggil namanya dan inilah ketiga kalinya pemuda itu menyebut nama panggilan Freya, kini membuat gadis tersebut memeluk tubuh Angga kembali dengan isakan tangis. “Hiks! Iya, Ngga. Ini aku, hiks! Aku seneng banget kamu udah bangun lagi!”
“Selama ini aku khawatir banget sama kamu karena kondisi kamu yang dibilang buruk waktu kemarin, bahkan dokter sampe ngomong kalau tujuh hari besok kamu belum sadar, hari Senin minggu depan kamu bakal dipindah ke ruang perawatan yang sama persis waktu kamu dulu Koma, hiks! Tapi Alhamdulillah, semuanya nggak kejadian.”
Angga yang diam mendengar ucapan panjang lebar dari Freya bahkan disertai tangisannya yang masih mendekap tubuhnya, kepalanya bergerak perlahan untuk menghadap ke depan semula dan tangan kanannya yang ada di atas selimut tebal, ia angkat lemah lepau buat membelai-belai lembut belakang kepala gadis cantik sahabat kecilnya tersebut.
Sedikit demi sedikit Angga menerbitkan senyuman aura tampannya yang terpancar dari wajahnya, dengan sekaligus menutup matanya. 7 hari tidak sadarkan diri, memang membuat sekujur tubuh lelaki Indigo tersebut terasa agak kaku, nyaris seperti bangun dari pasca Koma. Kendatipun 3 hari lalu Angga sempat sadar karena Gerald yang sengaja maniak ingin menamatkan nyawa hidupnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Angga membuka matanya saat ia merasakan ada hembusan angin lewat yang menerpa wajah tenang tampannya. Pemuda itu memicingkan kedua mata sipitnya waktu ia melihat langit gelap malam yang disertai banyaknya pepohonan besar yang berada di sekelilingnya. Angga juga merasa bahwa tubuhnya sedang berbaring di atas tanah.
Perlahan lelaki Indigo tersebut bangkit bangun dan duduk sejenak untuk mengedarkan pandangannya setempat. Tempat yang sunyi, angker, bahkan siapapun yang berada di tempat itu akan merinding dan ingin meninggalkan nuansa alam mencekam ini.
“Kenapa gue bisa ada di sini?” Angga bertanya pada diri sendiri lalu beranjak berdiri, namun saat sudah berdiri tegak, kepalanya terasa begitu pusing hingga lelaki itu menyentuh pangkal hidungnya dengan memejamkan matanya.
“Anggara, akhirnya kami menemukan dirimu.”
Deg, tubuh Angga mematung seketika saat mendengar suara beberapa sosok orang yang mengucapkan kalimat secara kekompakan di belakang Angga dengan jarak yang lumayan jauh. Angga melepaskan tangannya dari pangkal hidung, kemudian ia meneguk salivanya susah payah seraya memutar tubuhnya ke belakang.
Mata Angga mencuat melotot terkesiap dengan darah yang berdesir cepat, melihat sekelompok remaja antara lelaki dan perempuan yang menatap Angga bersama sorot mata iblisnya, sementara di tangannya mereka masing-masing menggenggam sebuah jenis-jenis benda tajam yang berbahaya.
“Kami tidak sabar untuk bermain,” ucap mereka sambil mengangkat benda tajamnya dengan tertawa kencang.
Angga menggelengkan kepalanya agak kuat dengan sambil berjalan mundur menghindari mereka perlahan. Kedua tangannya saling ia angkat ke depan hadapan mereka. “Jangan mendekat! Jangan melangkah!”
Sekelompok remaja seusia Angga tersebut saling melempar benda-benda tajamnya ke arah Angga dengan tenaga kuat dan kencang, tetapi dengan hebatnya pemuda Indigo itu langsung tiarap untuk melindungi diri agar supaya para senjata tajam milik mereka tak mengenai dirinya.
Sudah terlempar jauh semua benda tajam mereka ke pojok hutan di sana, dan kesempatan Angga, lekas berdiri cepat lalu berlari marathon lepau mangkir dari mereka yang masih tersenyum menyeringai bak hantu menyeramkan. Angga jelas sekali ingat mereka semuanya, mereka adalah sosok yang muncul di delusi halusinasi dirinya nang muncul secara tiba-tiba. Mereka terkesan meneror Angga hingga berhasil membuat lelaki pemilik indera keenam yang ia kuasai sejak kecil tersebut, Stress, Depresi berat, beserta jiwanya terganggu.
“Huahahahaha! Jangan lari kamu dasar cowok pembunuh!!” teriak mereka sambil menggerakkan kakinya cepat untuk mengejar diri Angga yang telah menjauh dari sekelompok remaja tersebut.
Dari kejauhan telinga Angga dapat menangkap suara ucapan mereka yang mengatakan dirinya pembunuh untuk kesekian kali. Maka dari itu, Angga semakin menambah kecepatan laju lari kilatnya hingga maksimal penuh tanpa memedulikan jalan arahnya yang membuat ia makin tersesat di hutan ini. Suara-suara burung Gagak di atas pohon berkumandang membuat hutan tersebut terkesan menyeramkan dan menggentarkan, namun nyali Angga tetap berani non menciut.
Beribu-ribu langkah telah Angga gunakan untuk kabur menghindari sekelompok remaja itu yang masih saja mengejar dirinya secara brutal, tawa mereka tidak berhenti membuat kedua telinga Angga terasa pengang serta sakit. Pemuda Indigo tersebut mencoba menolehkan kepalanya ke belakang berharap mereka sekarang tidak lagi mengejar langkah besarnya dengan sembari terus berlari tanpa ada rasa lelah sedikitpun.
Akan namun sialnya dan sayangnya, kaki Angga yang bersepatu tergelincir kencang di atas tanah nang becek sekaligus licin tersebut. Karena di tepat depannya ada sebuah jurang apalagi Angga tak mampu menyeimbangkan tubuhnya, naas. Angga terperosok jatuh terjun ke jurang gelap sedalam 50 meter.
“Waaaaa!!!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Seakan-akan jantung milik Angga ingin jatuh dari tempat organnya, hal itu membuat dirinya terbangun dari mimpinya sampai bangkit posisi duduk. Saat ini, napasnya begitu tak beraturan alias tersengal-sengal, suaranya pun sampai keluar berbunyi mendesau. Lelaki tersebut kemudian memegang dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.
Seorang gadis yang tak lain adalah Freya, terkejut melihat Angga yang telah bangun dari tidurnya hingga menjadi seperti apa nang gadis cantik tersebut lihat. Freya yang tangannya sedang sibuk hendak merapikan meja nakas, segera berlari menghampiri sahabat kecilnya.
__ADS_1
“Ngga?! Kamu kenapa?! Bangun-bangun kok langsung begitu??” Pertanyaan Freya pada Angga sama sekali tak digubris oleh pemuda tersebut.
Freya terdiam sebentar untuk berpikir ada apa dengan sahabat kecil Indigo-nya itu. “Oh, kamu pasti habis mimpi buruk, ya?”
Angga hanya mengangguk samar-samar tanpa melihat ke arah Freya yang sedang menatap wajahnya nang sangat pucat. Freya kemudian berjalan mengarah ke meja nakas untuk mencabut selembar tisu kering dari kotak benda tersebut, lalu kembali memarani Angga.
“Kamu sampai keringetan gini, mimpinya pasti ngeri banget ya yang kamu datengin?” celoteh pendek gadis Nirmala tersebut sambil mengelap keringatnya Angga yang ada di kening kiri hingga rahang pipi.
Tanpa sengaja, kedua bola mata Angga saling memusat melintang ke depan tembok. Deg! Detak jantung pemuda itu nyaris berhenti saat matanya terbentur pada sekelompok sosok remaja yang mengejarnya brutal tadi di dunia mimpinya. Dengan segera, Angga menundukkan kepalanya bersama mata yang ia pejamkan kuat rapat.
Freya menyingkirkan tisu yang ia gunakan untuk membersihkan kening Angga yang berkeringat dengan kedua alisnya bertautan. “Angga? Kamu kenapa lagi? Kok kamu nunduk begitu? Ada siapa?”
Freya menolehkan kepalanya ke depan tepat dimana tadi bola mata sahabat kecilnya mengarah. Gadis tersebut hanya mengerutkan keningnya bingung, karena dirinya tak melihat siapapun di sana. Lantas, Freya balik menatap Angga seraya mengusap-usap lemah lembut lengan tangan kanan putih lelaki tersebut yang berada di dekatnya.
“Kamu melihat mereka yang nggak terlihat, ya?”
Lagi-lagi pertanyaan Freya tak direspon olehnya hingga gadis itu cuma mampu menghela napasnya pasrah. Apalagi ia tahu sangat sifatnya Angga ini begitu tertutup. Secara jiwanya seperti diancam, Angga mendengar suara bisikan para mereka yang tak lain menguntaikan sebuah kalimat tentang dirinya yang pembunuh bagi mereka semuanya yang ada di hadapannya.
Freya lumayan menundukkan kepalanya waktu dirinya melihat telapak tangan kanan Angga sedikit demi sedikit mengepal hingga mencengkram atas selimut tebalnya yang Angga kenakan. Freya pula dapat mendengar kalau napas sahabat kecil lelaki tampannya ini sangat tak beraturan. Garis cantik tersebut mencoba menggenggam telapak tangan kanan sahabatnya lalu jari jempolnya itu ia gerak-gerakkan untuk mengelus bagian telapak tangan Angga yang telah mengepal kuat.
Angga perlahan membuka matanya yang posisi kepalanya masih menunduk ke bawah, alangkah Syok-nya dengan detak jantung berdebar-debar kencang, ia melihat sebuah kepala salah satu remaja yang menerornya nang ada di tepat bawahnya. Hal itu karena begitu terkesiap, tubuh Angga mendadak melemas dan limbung ambruk ke belakang.
“E-eh, Ngga??!!” Dengan sigap, tangan kiri Freya menopang bawah punggung Angga, sementara tangan satunya menangkap badan lelaki tersebut.
Raut Freya seketika menjadi panik tak karuan saat menatap mata Angga yang kembali terpejam tenang bersama mulut membungkam, dengan segera Freya menepuk-nepuk pipi kanan pucat sahabat kecilnya bersama detak jantung yang berpacu cepat karena melihat akan hal tersebut.
“Aduh, Angga! Baru aja kemarin kamu sadar, sekarang sore ini kamu pingsan lagi?! Bangun dong ayo, ih!” rengek Freya.
“Anggara ...?!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Kini sekarang di senja hari ini setelah Angga kembali diperiksa oleh dokter Atmaja yang mana pasiennya balik hilang kesadaran buat kesekian kalinya, Freya sedang tengah menjaga dan menemani diri Angga yang matanya belum kunjung buka. Sementara itu, sahabat kecilnya nampak terpasang oleh nasal kanul atau selang hidung.
Freya menghembuskan napasnya lembut dengan menggenggam telapak tangan kanan lemas Angga yang tangan sahabatnya itu dirinya angkat. Tersirat ucapan detail jelasnya sang dokter dari benak otaknya, adalah yang membuat Angga kembali hilang kesadaran akibat dari Syok nang memicu darah suplai ke otak menurun drastis.
Bahkan yang menjadi Freya terkejut bukan main dan sama sekali tak menduga akan ungkapan dokter Atmaja, bahwa Angga selama ini mengidap gangguan psikis mental beserta mengalami sebuah delusi, yaitu kesukaran untuk membedakan mana hal yang bersifat kenyataan dan mana yang merupakan imajinasi.
Sejujurnya, Freya tidak percaya kalau sahabat kecil lelaki terhebatnya ini memiliki gangguan mental. Bahkan Freya sempat berpikir beserta menebak, bahwa semuanya dari masa lalu kelamnya yang membuat pemuda tersebut dalam waktu singkat menjadi trauma. Apalagi kemungkinan saja sebuah Delusi yang diidap Angga dikarenakan kekuatan kuasa Indigo-nya.
“Gakpapa kok, Ngga. Meski kamu nggak pernah ngomong tentang ini ke aku, tapi aku yang melihat kamu begini lagi entah kapanpun ... gak bakal merasa malu. Kamu harus sembuh, yaa. Aku mau kamu yang sehat kayak dulu,” tutur lembut Freya sambil menempelkan telapak tangan Angga di pipi putih halusnya.
Freya tersenyum gundah dengan pandangan mata indahnya tak berpaling dari wajah tampannya lelaki tersebut yang kembali tumbang tergelimpang lemah di atas ranjang pasien.
“Rupanya begini ya rasanya mempunyai sahabat yang Indigo? Aku baru merasakannya sekarang, ternyata ngeri banget kalau sampai mimpi buruk secara berulang-ulang. Aku kagum bener sama kamu, Ngga. Walau kekuatan yang kamu genggam di jiwamu seutuhnya terkesan kayak membahayakan kondisi dan kehidupanmu di dunia, tapi kamu sama sekali nggak ada niatan untuk melepas mata batinmu.”
“Coba aja deh kalau orang lain, mungkin bakal nggak kuat deh mempertahankan kuasa indera keenamnya. Mungkin, hehehehe.”
“Meski kamu saat ini kelihatan lemah, tapi aku yakin banget kalau jiwamu itu gak lemah melainkan kuat. Buktinya mereka yang memperlakukanmu gak senonoh itu, kamu berhasil melewatinya dengan jalan prestasimu di sekolah itu yang terkenal buruk.”
__ADS_1
Freya di dalam kamar rawat Angga terus tetap menemaninya hingga waktunya habis untuk menjaga sahabat kecilnya. Gadis berparas ayu tersebut yang mengenakan seragam OSIS SMA-nya, telah berencana pergi pulang ke rumah jika sudah jam pukul 17.00 nanti. Semua yang Angga alami sudah Freya maklumi dan tak perlu gadis itu kagetkan ataupun herankan lagi. Beginilah risiko memiliki kekuatan Indigo apalagi yang tipenya adalah A, selaur tipe yang sangat berkelas dan juga tingkat unggul di antaranya.
Indigo To Be Continued ›››