Indigo

Indigo
Chapter 136 | New Student


__ADS_3

Hari keesokannya. Sudah tentu pasti meski masih pagi bel belum dibunyikan, ruang kelas XI IPA 2 begitu ramai, berisik macam pasar hari Minggu. Angga yang tengah sibuk membaca rangkuman materi di buku paket salah satu mata pelajaran yang ada di depannya, sampai menutup telinga kirinya. Karena jujur saja, ia merasa terusik oleh kebisingan ini.


Sampai tiba-tiba, Joshua yang telah membersihkan kedua lensa kacamatanya pakai kain kecil khusus kacamata miliknya, berdiri dari bangku kursi. “Nanti sore mau belajar bareng-bareng, nggak? Ini, kan kurang dua belas lagi kita semua bakal melaksanakan kegiatan Ujian untuk ketentuan naik tingkat kelas berikutnya. Jadi gak salah, kan kalau kita semua belajar bersama-sama demi kelancaran Ujian. Bagaimana? Ada yang setuju?”


Sayangnya hanya ada beberapa anggota kelasnya yang setuju akan tawaran baiknya Joshua sang ketua kelas. Jadi tak semua teman-temannya menerima tawarannya. Karena ada yang alasan sibuk berat, acara keluarga, dan segala alasan lainnya.


“Gue selalu setuju sama tawaran best lo, Jo. Kayaknya itu terbaik banget kalau kita belajar bareng-bareng. Soalnya kalau gue belajar sendiri, gak ada yang nyantol ke otak apalagi kalau urusannya sampai Fisika sama Matimatian,” ucap Reyhan.


“Matematika, bego!” sarkas Jevran.


Joshua hanya tertawa pelan dengan menggelengkan kepalanya pada tingkah omongannya wakil kelasnya yang kini cengengesan kepada Jevran. Dan kini saatnya Joshua menoleh ke arah Angga yang diam menutup telinganya seraya bola matanya membaca rangkuman materi buku paket Biologinya.


Joshua kemudian dengan senyum ramahnya, menghampiri seorang wakil PMR tersebut lalu berhenti setelah berada di sampingnya. “Angga. Lihat-lihat lo cuman diem aja. Elo nanti sore mau ikut belajar bareng-bareng gak sama kami?”


Angga hanya menganggukkan kepalanya tanpa ada kata yang terucap dari mulutnya untuk menjawab Joshua. Memang ini sudah kebiasaannya seorang Anggara Vincent Kavindra bila dengan temannya, menjawab dengan sebatas gerakan tubuh. Itu sudah lebih cukup menurutnya.


“Wah, bagus! Gue kira elo diam karena gak mau.” Joshua memutar tubuhnya ke belakang untuk menatap keseluruhan temannya yang mau menerima tawaran soal belajar. “Guys. Berhubung karena di rumah gue nanti dipake buat acara arisan, jadi kita semua belajarnya di rumahnya Angga saja, oke?”


Angga menutup buku paketnya lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap dingin Joshua. Selalu dingin begitupun datar. “Kenapa harus rumah gue yang digunakan untuk belajar bersama?”


Joshua merangkul Angga lalu menepuk pundak kirinya dengan senyum penuh rasa pertemanan. “Nggak masalah, kan? Rumah lo cukup oke buat kita belajar bareng-bareng untuk demi pelaksanaan Ujian yang segera datang.”


“Hm. Ya, gak masalah. Mau datang jam berapa? Pulang sekolah langsung?” tanya Angga.


“Kalau soal itu gampang, biar gue aja yang ngatur sebagai ketua kelas. Gue nanti juga perlu lihat sikon, kalau misalnya nanti sore turun hujan, berarti kita tunda sampai besok. Waspada saja, sih soalnya di bulan ini suka sering musim dingin alias hujan.”


Angga berdeham seraya menganggukkan kepalanya pelan paham pada maksud dari Joshua yang menjelaskan. “Guys, sebagai wakil kelas yang baik hati seperti pangeran malaikat tampan di alam Surga, kayaknya mendingan pulang sekolah kita semua balik ke rumah masing-masing dulu, deh buat ganti pakaian atau sekalian mandi kalau perlu. Apalagi, kan jadwal mata pelajaran Ujian besok Senin satu minggu ke depan bukan yang kita bawa saat ini.”


“Nanti kalau malah langsung ke rumahnya Angga dengan posisi kondisi masih make seragam, entar yang ada ciwi-ciwi auto kipasan terus pada bilang gini 'Ah gerah! Ah gerah! Gak ada AC atau kipas angin, apa?' Angga juga yang jadi kena korban omelan, kan kasian tuh jadinya cowok satu.”


“REY!!!” pekik sengit Jova, Lala, Rena, Zara.


Reyhan langsung mengambil buku paket Biologi miliknya Angga untuk menutupi seluruh mukanya. “Ampun, Bu edan- eh, Bu jago maksudnya!”


Freya yang menyimak sampai cekikikan dengan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku mereka termasuk Reyhan yang kini malah tertawa bersama wajah tanpa Dosa, padahal ketiga gadis tersebut tengah mendelik tajam pada lelaki humoris rese tersebut hingga bola matanya nyaris lepas dari tempat rongganya. Namun di ruang kelas, mereka yang mendengar pendapatannya Reyhan sangat setuju bahkan ada yang mengacungkan jari jempolnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Rumah Anggara - Pukul Jam 16.45 PM


Beruntung saja sore ini mereka semua tak terhalang ke rumahnya Angga. Kini sang tuan rumah dan beberapa remaja yang ada di ruang utama, tengah beraktivitas belajar secara bersama-sama dengan salah satu buku paket yang mereka bawa masing-masing. Hingga 10 menit kemudian, Lala menyenderkan punggungnya di bagian kursi sofa, sementara gadis tersebut posisinya duduk di karpet halus yang telah Angga sediakan sebelum para temannya datang ke rumahnya.


“Jo, kita ngapain juga belajar hari ini? Orang masih ada waktu dua belas hari lagi untuk melaksanakan Ujian satu minggu besok,” protes Lala yang kepalanya nampak pusing karena otaknya terus berkutat tentang rumus-rumus Matematika.


“Lah, ini bocah malah komplain sama pak ketua! Tau gitu mending gak usah ikut belajar bareng, lu!” sebal Jova yang posisinya duduk bersimpuh di atas kursi sofa sahabat lelaki pendiamnya sembari menghapal rumus-rumus mata pelajaran Matematika yang ada di dalam buku catatannya walau otaknya telah lelah karena terus berpikir.


Joshua menoleh ke arah Lala yang sedang memejamkan kedua matanya karena kepalanya sungguh pusing karena dari tadi menghapal para rumus segudang dari mata pelajaran tersebut. “Apa segala ideku ini buat kita semua salah ya, La?”


“Enggak kok, Jo. Ini mah ide terbaik kamu. Eh, tapi lebih baik kita semua istirahat dulu aja, deh. Jujur aja, capek banget ya cuman hapalin rumus Matematika ini doang,” ujar Freya lemah lembut.


Semuanya menganggukkan kepala kecuali Reyhan yang lelaki humoris itu sedang enakan berbaring tidur nyenyak di atas kursi sofa panjang dengan posisi muka ia tutupi oleh buku paketnya yang keadaannya terbuka. Jelas itu membuat Angga yang melihatnya, menggelengkan kepalanya.


“Kalian mau makan apa?” tanya Angga usai menatap sahabatnya.


Aji melebarkan kedua matanya dengan senyuman bahagia seraya meletakkan buku paket setengah tebalnya di karpet halus. “Wah! Elo mau melayani kami dengan menawari makanan nih, Ngga?!”


“Cepetan! Sebelum gue berubah pikiran,“ sembur Angga.


Aji meneguk ludahnya sendiri setelah mendengar suara sentakan Angga. “Ini Tuan rumah galak amat, dah? Hmm... enaknya sih kalau sore gini makan yang nikmat-nikmat. Indomie goreng!”


“Indomie rebus saja, Ngga!” sanggah Raka.


“Goreng aja napa, sih? Boros air!” sarkas Aji menatap sebal Raka.


“Indomie goreng, please !”


“Enggak, Ajinomoto! Indomie rebus, titik gak pake koma!”


Angga yang melihat perdebatan antara Aji dan Raka sampai menggapai pangkal hidungnya untuk ia pijat. Ia begitu pusing mendengar keributan kedua temannya. “Adu panco!”


Raka dan Aji menoleh ke Angga secara bersamaan, Aji nampak setuju tak juga dengan Raka yang menolak suruhannya Angga. “Aduh! Jangan dong, Ngga! Udah pasti si Aji yang menang, tangan gue kan kayak kayu ranting.”


Aji beralih bergantian menoleh ke arah Raka lalu menaikkan turunkan kedua alisnya bersama seringai lebarnya di bibir. “Ngaku juga lo, ya? Ayo cepetan kita main adu panco. Sudah tentu pasti akhirnya gue yang menang, hahaha.”


“Sombong amat, lu!” Raka kemudian menelan salivanya lalu mulai bermain adu panco untuk memutuskan lebih makan Indomie goreng atau rebus. Suruhan Angga memang pantas buat menyudahi perdebatan kedua temannya yang tak ada hentinya tadi itu.


Sementara yang lainnya bersorak-sorak di saat lengan Raka dan Aji saling adu kekuatan serta dorong-mendorong. Mereka terus melakukan permainan itu sampai tangan siapa yang roboh ke alas karpet halus milik Angga. Namun pada ujungnya setelah menggunakan tenaganya masing-masing, Aji-lah pemenangnya. Teman-temannya menghadiahkan lelaki tersebut dengan riuh tepuk tangan meriah kecuali Angga, Kenzo, dan Reyhan.


“Terimakasih semuanya! Terimakasih!” tanggap Aji dengan tertawa bahagia dan bangga.


“Eh? Kok lu gak kasih gue tepuk tangan kek mereka?” tanya Aji menatap Raka penuh dengan wajah raut jahilnya.


“Sakit tangan gue, dongo! Itu tenaga tangan lo dahsyat banget! Untung ini tangan kagak patah seperti hati gue yang lagi patah!” omel Raka sambil memijat tangan kanannya yang terasa kebas.


“Kenapa patah hati? Putus cinta, lo?” tanya Andra lalu tertawa dengan kepala menggeleng beberapa kali.


“Pacar aja gak punya, mana bisa putus karena cinta?! Situ kalau punya otak, digunain. Kagak didiemin kayak otak manusia yang beku!” sarkas Raka jengkel pada pertanyaan konyol Andra.


“Lu sama aja ngatain gue Koma, Rakato!” kesal Andra tak terima dengan menggebuk kepala Raka menggunakan kotak alat tulisnya.


Angga menghempaskan napasnya kasar, lalu menatap kedua temannya yang tak lain adalah Raka serta Aji. “Deal, ya? Perkara makanan saja dibuat ribut. Dasar anak PAUD.”


“What the why?! Akh! Sialan lo, Anggara!” kejut kesal kedua temannya menatap sebal Angga yang sudah melangkahkan kakinya ke ruang dapur untuk memasak mie Indomie goreng instan.


Beberapa remaja temannya Angga tersebut yang gaya posisi duduknya banyak nang berbeda, menertawakan kencang seraya menuding Raka dan Aji yang masih menatap dongkol Angga yang memiliki postur tubuh adiluhung 180 sentimeter, jelas tentunya kecuali Kenzo yang hanya sebatas menggelengkan kepalanya saja.


Mendengar suara tawa kencang para remaja itu, hal tersebut Reyhan langsung terbangun dari tidurnya lalu kini posisinya dalam duduk. “Kenapa, woi?! Ada tsunami isi ikan hiu, kah?!”


Jevran berhenti tertawa lalu menggerakkan kepalanya menoleh ke belakang. “Eh, udah bangun, lo? Ketinggalan info dah, lu! Mangkanya kerjaannya tuh jangan tidur mulu!”


“Yeee! Tidur, kan bagus buat kesehatan tubuh. Gue tuh capek banget, ngerti? Belajar bermenit-menit bikin otak puyeng, mana ngebahasnya Matematika!”


“Yaelah baru juga beberapa menit belajar, elu udah ngeluh aja kayak lagi dijemur di Padang Mahsyar! Belum sampe berjam-jam,” protes komentar Jevran menghadapi tetangganya itu.


“Belajar apaan sampe berjam-jam, hah?! Belajar ngitung sekumpulan rakyat semut yang di kebun binatang?” Reyhan sewot dengan kondisi rambutnya yang teracak-acak tidak rapi.


“Ya ampun, Rey. Lo itu kalau ngomong suka ada-ada aja. Emangnya ada, ya sekumpulan rakyat semut jadi wisatanya kebun binatang? Setau gue gak ada, tuh.” Joshua menimpali.


“Kayak gak kenal Reyhan wakil kelas lo aja, Jo. Reyhan kan emang cowok rata-rata aneh dan tergolong orang Stress. Gue aja heran, kenapa gue bisa ditemuin temen sesat kek Reyhan Lintang Ellvano yang sifatnya gesrek ini,” cemooh Ryan untuk Reyhan yang kini tengah sibuk merapikan rambutnya.


“Heh, Ryan Abyaz Kadaluwarsa! Coba lo ulangi lagi omongan lo barusan, gue tuli!”


“Gandawasa, Rey. Bukan Kadaluwarsa,” ucap Freya membenarkan perkataan emosional sahabatnya.


“Ah itu deh pokoknya namanya! Gak urusan aku mau Gandawasa atau Kadaluwarsa, otak sama mukanya aja udah Kadaluwarsa!”


“Daripada emosi gitu, mending lo tidur balik sana. Tidurnya kalau perlu sampe empat bulan sekalian,” ujar Angga bernada dingin yang sedari tadi berhenti berjalan dan kepalanya posisi menghadap ke belakang beberapa derajat.

__ADS_1


“Anjir! Sahabat sialan lo, Ngga! Mustahil gue bisa tidur sampe berbulan-bulan! Tidur apa Koma itu kalau dibilang?!” sentak berang Reyhan sementara Angga tak menjawab melainkan kembali melangkah ke ruang dapur yang bersih dan rapi itu.


Freya yang sedang tertawa cekikikan pelan dengan menutup mulutnya pakai dua telapak tangan sembari menutup matanya, sekarang membuka matanya lalu menoleh ke arah kekasihnya yang telah berhenti di dalam ruang dapur. “Angga, aku ikut bantuin kamu masak, dong!”


Angga yang hendak berjongkok untuk mengambil Indomie kemasan di lemari bawah nang ukurannya kecil, melimbai kepalanya dan menatap Freya yang keadaannya sedang duduk manis di alas karpet. “Nggak usah, kamu duduk cantik saja di sana.”


Freya memanyunkan bibirnya setelah ditolak oleh lelakinya meskipun nadanya terdengar lembut dan menggoda pada nada Baritonnya. Sedangkan Aji menegakkan badannya. “Angga! Masa dibantuin sama pacarnya sendiri kagak mau, sih?! Hahaha!”


“Hm'em. Nggak apa-apa, lah kalau Freya bantuin elo masak. Elo kan kagak boleh capek-capek, entar itu sakit kepalanya bisa kambuh, lho- eh emangnya mau masak apaan, sih?” tanya Reyhan kemudian pada kalimat terakhir.


“Mie goreng instan, Nyuk.” Jova menanggapi Reyhan yang posisi buku paketnya terbuka nang berada di atas kepala gadis Tomboy tersebut.


Angga yang ada di sana, menghela napasnya pelan lalu menganggukkan kepalanya. “Yasudah, sini ayo.”


“Asyik!“ pekik Freya seraya beranjak berdiri dan berlari-lari kecil menghampiri Angga penuh dengan semangat hati.


“Eh, Bro Anggara! Emangnya elo punya berapa stok Indomie gorengnya?! Ini ada tiga belas anak, lho!” teriak Jevran pada teman Introvert-nya.


“Gak usah pake teriak! Gue di dapur punya satu kotak kardus Indomie goreng instan. Kalian yang ada di ruang utama nggak perlu bingung dan khawatir.”


“Mantap, Ngga! Buat yang enak-enak, ya sama Freya kekasih lo yang setia itu, hehehe!” ungkap senang Raka.


“Hm.” Ya, begitulah respon dinginnya Angga pada temannya.


Kini sekarang sepasang pacar tersebut mulai melakukan aktivitas masaknya di ruang dapur bersama-sama. Hingga beberapa menit kemudian, Angga yang telah membuka pintu kulkasnya terdiam sejenak saat melihat hanya ada sisa lima telur ayam saja di tempat khusus dalam kulkas. Kurang delapan butir telur lagi yang harus Angga hidangkan untuk beberapa teman lainnya.


“Reyhan,” panggil Angga setelah menolehkan kepalanya melintang ke arah sahabatnya yang sibuk cerita cerewet pada kesemua temannya begitupun satu sahabat perempuannya.


“Ya?!” jawab Reyhan semangat dengan mata terbelalak menatap Angga yang tangannya sudah membuka pintu kulkas di ruang dapur.


“Gue boleh minta tolong belikan telur ayam setengah kilo di warung?”


“Akhirnya usai sekian lama, lo minta pertolongan orang lain juga! Boleh, dong. Dengan senang hati! Pake duitnya siapa?”


“Pake duitnya Arseno! Duit gue, lah! Gitu aja ditanya.”


“Anjir! Kenapa Arseno yang lo bawa-bawa, dah?!” kaget Reyhan sedangkan para remaja lainnya yang ada di ruang utamanya menertawakannya kecuali Kenzo yang hanya menampilkan senyum mesem.


“Gak usah ngetawain gue, lu pada! Kagak ada yang lucu, kali!” sewot Reyhan kemudian turun dari kursi sofa panjang untuk memarani Angga yang berada di depan lemari pendingin.


Sedangkan Angga di sana merogoh saku celana panjang mocca-nya untuk mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna ungu ialah 10.000 rupiah lalu tangan kanannya mengulur untuk memberikannya pada Reyhan yang telah berdiri di hadapannya. “Karena di warung harganya tiga belas ribu, berarti nanti sisa kembalian uangnya buat lo.”


Kedua mata Reyhan berbinar-binar menatap sahabatnya yang begitu baik hati padanya. “Hah?! Seriusan, nih?! Lo lagi gak ngeprank gue, kan?!”


Angga mendengus lalu menoyor kepala Reyhan. “Sudah, sana!”


Reyhan cengengesan dengan mengusap-usap kepalanya yang habis ditoyor oleh sang sahabat, lalu balik badan dengan memamerkan dua lembar uang tersebut pada seluruh temannya yang tampangnya syirik. “GUYS!!! Kelen denger, kan tadi Angga bilang apa sama gue??!! 'Nanti sisa kembalian uangnya buat lo' gilak, malaikat Surga banget, gilak!”


“Gak usah lo ulangi itu kalimat yang ada di cingcong lo! Kami udah denger, sengklek!” kesal Raka.


“Beruntung lo punya sahabat sebaik itu kayak Angga,” ucap Kenzo yang jarang bicara.


Reyhan tersenyum lebar ramah dengan mengacungkan jari jempol yang ada di tangan kirinya sebagai tanggapan positif untuk Kenzo. Sedangkan Jova yang sedang memasukkan alat tulisnya ke kotak tempatnya, menoleh ke arah sahabat pemuda Friendly-nya yang sudah membuka pintu rumahnya Angga.


“Reyhan! Aku ikut kamu!” teriak Jova menghentikan langkah kaki Reyhan kemudian gadis tersebut dengan gesit dan lincah menurunkan kedua kakinya tanpa melihat apa yang ada di bawahnya.


“Akh saket! Woi, Va! Lihat-lihat, dong kalau mau turun, ini yang dibawah lo ada kepala orang!” protes Lala menaikkan oktaf nada tingginya dengan meringis kesakitan seraya memegang belakang kepalanya yang terkena hantaman kedua kaki temannya yang tak memakai alas sepatu.


“Ups, sori amat, La! Gue gak tau kalau lo ada dibawah gue, hehehe!” ucap Jova setelah melompat dari kursi sofa. Mantan Karate tingkahnya seperti itu mungkin, ya?


“Sora-sori! Sora-sori! Untung gue gak ngalamin gegar otak langsung! Kalau iya, emangnya lu mau segera tanggung jawab, hm?!”


“Parah! Enteng banget lo ngomongnya tanpa ada beban!” geram Lala seraya ancang-ancang melemparkan kotak alat tulisnya yang terbuat dari kain ke arah Jova.


Andra melegakan tenggorokannya lalu menatap Jova dan Reyhan yang hendak pergi bersama. “Cieee, ngapain tuh Jova ikut lo, Rey? Pasti ada apa-apanya, nih. Barangkali kalian berdua dijalan langsung jadian kayak Angga sama Freya yang dulu cuman sebatas sahabat malah sekarang jadi sepasang doi.”


Jova menolehkan kepalanya kencang hingga rambutnya terhempas kuat ke belakang sampai mengenai muka Reyhan. “Apa cie-cie?! Aku tuh ikut sama Reyhan karena aku mau beli jajan snack di warungnya pak Romi! Jangan nethink (Negatif thinking), ya?! Tujuh turunan, tujuh tanjakan aku amit-amit jadi pacarnya Reyhan!”


“Idih! Aku juga amit-amit, kali jadi jodohmu!” kesal Reyhan menjawab meski yang seharusnya merespon bukan ia tetapi Andra.


Reyhan dengan sebal bersama tampang sinisnya mulai memutar tubuhnya dan segera melangkah meninggalkan sahabat gadis Tomboy-nya. Namun karena matanya tak tahu berada dimana pada akhirnya Reyhan menabrak pintu sebelah yang posisinya tertutup dan jarang dibuka kecuali ada acara keluarga besar yang datang ke rumahnya Angga.


“Aduhhh ...! Ini pintu gimana, sih?! Udah tau mau lewat malah halangi jalan orang!” pekik jengkel Reyhan dengan memukul pintu tersebut yang telah ia tabrak.


“Astaga, Reyhan. Kamu sendirinya aja yang salah, ngapain pintunya yang kamu marahin, coba?” ungkap Freya yang berada di depan kompor listrik.


Angga menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Reyhan yang kesehariannya suka mengada-ada, termasuk Kenzo yang sama seperti Angga menggelengkan kepala. Sedangkan teman-temannya yang duduk di alas karpet halus kembali menertawakan Reyhan dengan sangat meriah bahkan sampai bertepuk tangan bahagia.


Tanpa berkomentar pedas, Reyhan langsung pergi begitu saja keluar rumah bersama Jova yang mengikutinya dari belakang. Sementara Aji menoleh menatap Angga yang melihat kepergian kedua sahabatnya yang tingkahnya selalu petakilan. “Angga! Gue iri banget, lho sama sahabat lo! Elo kalau sama sobatnya sendiri suka dermawan, tapi giliran sama temen doang sikap lo mendadak jadi pelit minta ampun!”


“Masalah buat lo?” tanya Angga dingin lalu memutar tubuhnya dan melangkah ke kursi meja makan kemudian membuka ponselnya seraya menunggu kedua sahabatnya datang kembali ke rumah. Aji yang mendapatkan jawaban itu, hanya menghela napasnya pasrah Pasrah saja mempunyai teman yang sifatnya tidak pernah berubah.


Freya yang melihat Angga sedang duduk di kursi meja makan, tersenyum lalu menghampiri sang kekasih. Gadis polos itu menarik kursi sebelah untuk duduk di sampingnya Angga. Kemudian, Freya menatap lekat pacarnya yang diam bisu mengamati layar ponselnya. “Ngga, emangnya kamu gak bisa terbuka sama Aji dan teman-temanmu yang lain?”


Angga menggelengkan kepalanya pelan. “Gak bisa.”


Freya tersenyum manis pada Angga lalu menggenggam lengan tangan kirinya yang menyangga handphone-nya. “Kenapa gak dicoba dulu? Mereka padahal baik banget sama kamu, mereka juga gak pernah menyakiti kamu sedikitpun. Ya, hanya sekedar meledek doang, sih. Tapi nggak lebih juga, kok. Mereka banyaknya malah bercanda. Asyik, gak tuh punya teman ramah kayak mereka?”


“Biasa.”


Freya mengubahkan senyumannya menjadi lara. “Angga, kita sudah kelas sebelas, lho. Masa kamu masih saja belum berubah? Yakin dan percaya saja, mereka gak sama seperti anak-anak yang mengkhianati kamu semasa SD dulu. Bukannya kamu telah move on dari masa lalu kelam yang menimpa dirimu?”


Angga menghembuskan napasnya lambat dengan memejamkan matanya sebentar. “Aku memang sudah move on dari masa lalu yang mengganggu kehidupanku bahkan jiwaku saat itu. Tetapi untuk soal berteman dan terbuka sama mereka, sulit. Apalagi akibat masa lampau itu membuat aku suka pilah-pilih teman berdasarkan melihat aura sifat. Gak seperti di saat aku awal berkenalan denganmu.”


Freya mengusap-usap lembut lengan kulit mulusnya Angga dengan penuh kasih sayang. “Aku harap, kamu bisa terbuka. Aku juga gak memaksa pacarku sendiri buat terbuka sama orang lain yang auranya profitabel.”


Angga menundukkan kepalanya dengan wajah tampang raut sedihnya dengan menghela napasnya panjang. Sedangkan kesemua teman-temannya mereka berdua menatap bingung sepasang kekasih tersebut.


“Angga sama Freya kenapa? Kok ekspresi wajahnya sedih begitu? Ada apa, ya?” tanya Zara penasaran.


“Mungkin mereka lagi menceritakan kisah gundahnya tersendiri, kali. Biarin aja, deh. Kita yang sebagai temannya gak usah pake acara kepo-kepo segala. Bisa jadi itu cerita pribadinya mereka,” ucap Rena dengan menatap Freya dan Angga yang ada di ruang dapur.


“Gue tanya aja, ah!” putus Raka dengan cepat beranjak dari karpet, namun segera ditahan oleh Aji seketika.


“Jangan! Lo jangan gegabah, gitu! Lo sama aja mencampuri urusannya mereka berdua. Udah, lo mending diam aja di sini sama kami.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Setelah Reyhan dan Jova kembali ke rumah Angga dengan bawaan plastik masing-masing, kini makanan yang dimasak oleh Angga dan Freya pun telah jadi. Dimana sekarang para remaja siap melahap mie goreng tersebut yang aromanya begitu menggiurkan serta menggugah selera. Bertepatan saat mereka mengangkat garpu, di luar sana turunlah air hujan yang amat deras.


“Bagus! Pinter! Hujan aja, hujan! Kalau perlu ampe malem! Gak ada belas kasian dikit pun sama manusia, dasar!” omel Aji memarahi hujan yang berasal dari Anugerah Tuhan.


Reyhan yang ingin memasukkan mie ke dalam mulut bersama ujung atas garpu, terhenti saat mendengar protes sebal temannya. “Udah edan ya, lo? Itu hujan ngapain lo marahin segala? Mau lo marahin sampe kepala lo meledak kayak gunung berapi meletus, gak bakal dah itu hujan berhenti.”


Jova yang tengah meniup mie instannya nang masih mengepul di dalam sendok, menatap keki Reyhan. “Gak usah sok-sokan, kamu! Waktu dulu aja kamu pernah ngomelin hujan yang gak punya salah. Sadar diri, Coy!”


“Udah sadar, aku pas kamu ingetin!” sambar Reyhan kemudian melahap mienya yang telah ia gulung-gulung pakai alat makan yaitu garpu aluminium.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Angga yang berada di alas karpet halusnya bersama teman-teman lainnya begitupun kekasihnya tengah merenungkan sesuatu. Hingga pada akhirnya lelaki tampan itu menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya keluar. “Tentang gue yang Indigo, gue harap kalian bertujuh yang ada di sini gak bilang ke siapa-siapa. Iya, gue percaya kalian bisa menutup mulut atau menjaga rahasia, tapi apa salahnya gue memperingati?”


Aji mengacungkan jari jempolnya pada Angga dengan senyuman lebarnya. “Itu pasti, Ngga! Gue sudah meramal lo akan bakal bilang seperti ini sama kami. Lo santai saja dan tenang, kami bertujuh gak akan mungkin menceritakan soal kelebihan lo ke siapa-siapa. Untuk anak kelas kita yang belum tahu tentang identitas asli elo, gue dan lainnya juga gak bakal mengasih tahu.”


Jevran, Raka, Joshua, Ryan, Kenzo, Andra, Rena, Lala, dan Zara menganggukkan kepalanya kompak dengan senyumannya mereka masing-masing kepada Angga. Namun seluruh ucapannya Aji membuat pemuda Indigo itu terdiam bisu, menatap teman-temannya yang menatapnya.


“Elo percaya, kan sama kami semua?” tanya Jevran lirih karena ia tahu bahwa Angga tidak semudah itu mempercayai ucapan orang lain kecuali orang yang Angga sangat sayangi.


2 menit Angga sengap, akhirnya lelaki tampan tersebut membuka balik mulut dan mengeluarkan suaranya. “Gue percaya. Aura kalian sudah terlihat di mata gue, dan makasih, ya kalian mau memahami diri gue. Kemungkinan besar kalian teman gue yang beruntung mampu gue percayai dengan pancaran aura cerah yang ada di dalam diri kalian masing-masing.”


Ketujuh temannya membelalakkan matanya senang setelah mendengar penuturan Angga yang nadanya sudah tak lagi dingin seperti sebelumnya. Tak para temannya saja yang senang mendengarnya, namun pula juga kedua sahabatnya dan sang kekasih. Bahkan yang membuat ketujuh remaja tersebut waktu melihat Angga mengukirkan senyuman tipisnya yang jarang di lihat oleh tujuh temannya.


“Thank you banget, Angga! Aku gak nyangka kamu bakal bilang seperti itu tadi. Malahan aku kira kamu akan menjawab berkata sebaliknya,” ungkap Rena.


“Apakah karena dampak dari aku yang terlalu tertutup sama kamu dan lainnya?” tanya Angga menatap gadis berambut pendek dengan model keriting itu.


“Betul, sih. Tapi nih, Ngga. Gue boleh minta satu keinginan, gak sama lo? Ehm ... apa lo bisa hati lo jangan tertutup alias terbuka sama kami? Jujur aja, gue pengen elo berubah. Meski awal kenalan, elo orangnya emang begitu, tapi jika dirasa lebih baiknya hati lo terbuka bukan tertutup dan menjauh dari orang lain kecuali orang-orang yang selalu ada di dekatnya elo,” pinta Aji menatap Angga takut.


Angga mengalihkan pandangannya untuk berpaling dari tatapannya Aji, senyumannya pun ia hilangkan seketika. “Kalau soal itu, akan gue pertimbangkan matang-matang.”


‘Kenapa harus matang-matang? Apa Angga mempunyai trauma akan sesuatu. Tapi apaan?’ batin Jevran.


Aji mengulum senyumannya lalu menganggukkan kepalanya pelan. “Oke. Mungkin, lo butuh waktu untuk terbuka hati dengan kami.”


Angga membalikkan pandangannya ke Aji lalu tersenyum kecut. “Thanks buat waktunya.”


‘Aik, tau banget Angga gue ngasih waktu buat mempertimbangkan antara terbuka atau tertutup hati? Eh- oh iya! Temen gue ini kan Indigo. Wah, mata batinnya tajem amat, ye. Buat membaca isi pikiran orang aja sanggup bener.’


“Anggara?” panggil Lala memecahkan kesunyian yang barusan tercipta dan terjadi usah Angga merespon ujarannya Aji.


“Iya, kenapa?” jawab Angga dengan menolehkan kepalanya ke gadis temannya itu yang memanggilnya.


“Aku kok gak liat Takeshi si kucing Anggora item punyamu, sih? Dia ada dimana?” tanya Lala basa-basi yang sebenarnya tengah menginginkan sesuatu dari Angga.


“Kenapa? Kamu mau nyuruh aku buat ambil kucingku untukmu?” tebak Angga pasti.


“Weh! Tebakan yang benar! Hehehe, iya. Bawa ke sini dong, Angga ganteng. Aku kangen bopong Takeshi. Yayaya?” pinta Lala dengan mengerlingkan mata.


Angga mendengus dengan tersenyum. “Oke, santai saja. Sebentar, aku ambilkan dulu di kamarku.”


Aji melongok dengan kening berkerut saat Angga beranjak berdiri dari duduknya di kursi sofa sampingnya Reyhan. “Lala! Duh, kamu jangan siksa aku, dong! Angga! Jangan diambilin itu kucing lo! Kan elo udah tau kalau gue tuh sama kucing takutnya setelah mate!”


“Sudah, terima saja nasib lo.” Angga menjawab teriak Aji yang ketakutan sembari menahan tawa.


“Markotop, sahabatku!” Kemudian Reyhan menoleh menatap Aji dengan tatapan nyeleneh. “Heh, nanti kalau Takeshi udah dateng .. menyingkir, dah. Noh, sono mending mojok diri di pojok pintu rumah daripada nyawa lo kagak aman karena gak ada yang mau melindungi elo.”


Aji mendengus sebal saat Reyhan menunjuk arah pintu rumah yang posisinya tertutup. “Kejem lo, Rey! Dingin, Bego! Nanti gue bisa masuk angin, elo yang repot ngurusin kawan lo ini!”


“Idih, gue gak mau tanggung jawab, ye. Asalkan lo tau aja, gue mah ogah ngurusin gerang temen laknat kayak elo,” tanggap Reyhan kemudian dibalas Aji tatapan sengitnya, sementara yang lain tertawa.


Dari atas tangga, Angga nampak tengah membopong kucing Anggora kesayangannya yang sedang dirinya dekap. Hewan berbulu hitam itu terlihat nyaman dan bahagia didekap oleh majikannya di dada.


“Ini kucingnya,” ucap Angga seraya menyerahkan Takeshi kepada Lala yang bahagia melihat mata belo menawannya kucing teman lelaki tampannya.


“Allahu Akbar, monster!” pekik Aji kaget melihat Angga yang telah tiba bersama kucing hitam kesayangannya yang Angga gendong.


Dengan senang hati Lala menerimanya lalu membopong tubuh beratnya si kucing jantan tersebut. “Huwaaaa ...! Makasih, Angga! Hih, gumuysh banget liat matanya, hihihi!”


“Hih! Udah kayak Kunti aja ketawanya!” protes Aji dengan menahan ketakutannya.


Takeshi nampak bersuara mendengkur bahagia di dekapannya teman tuan majikannya yang begitu sayang pada peliharaannya Angga tersebut. Hingga Takeshi menolehkan kepalanya pada Aji. “Ngeong!”


“Apa ngeong-ngeong, hah?! Mau gue bantai, lo?!” sebal Aji menatap tajam Takeshi dengan lupa kalau ada tuan pemiliknya di sebelahnya yang sedang berdiri.


“Ekhem!”


Aji auto langsung melimbai kepalanya cepat ke arah kiri. Dirinya meringis saat melihat Angga yang sedang menatapnya tajam usai dirinya mengatakan seperti itu pada Takeshi. “Becanda, kok. Abisnya lo ngapain nurutin si Lala, sih?! Sekali-kali, kek cewek gak usah diturutin, diturutin kebiasaannya jadi manja!”


“Girls, sepertinya Aji perlu kita gebuk rata nih secara masal,” buras Jova menatap pemuda tersebut dengan sorot mata sadis.”


Aji hanya nyengir kemudian memutuskan diri untuk menyingkir dari tempat itu. “Pindah! Pindah! Pindah!”


Angga yang posisinya masih berdiri tegap, agak tersentak melihat temannya yang berpindah ke pojok pintu rumahnya. Dan yang benar saja, Aji menuruti komando resenya Reyhan sang sahabat SMP-nya Angga yang dulu bersekolah di SMP Erlangga. Aji di sana duduk bersimpuh sembari memakan mienya tanpa ada rasa jiwanya yang dicekam oleh Takeshi. Padahal semuanya itu tak mungkin terjadi, apalagi kucingnya Angga tersebut bukanlah kucing jelmaannya monster melainkan hanya sebatas kucing hitam jenis Anggora sahaja.


“Kenapa makan-nya gak di ruang dapur saja? Lo bisa sakit kalau duduk di sana, apalagi ini masih hujan lebat,” ucap Angga yang peduli dengan teman satunya itu.


“Huhuhu! Gue disuruh sama Reyhan, Ngga. Yaudah gue yang sebagai temen terbaiknya, cuman bisa nurutin,” adu jawab Aji seraya bermuka memelas dengan menusuk telur setengah matang pakai garpu.


“Rey.” Angga menatap sahabatnya jengah karena kelakuannya yang menyuruh temannya sendiri duduk sendirian di pojok pintu rumah dalam posisi hujan tetap mengguyur dengan derasnya.


Reyhan yang dipanggil Angga dengan nada dinginnya, hanya bisa mengeluarkan cengengesannya dari mulut sembari mengangkat jari bentuk simbol peace pada sahabatnya agar tak ada pertengkaran atau perdebatan yang mendatang. Kini sekarang para remaja di dalam rumah, mulai melakukan aktivitas makan sorenya dengan di imbuh gelak tawa untuk menepiskan rasa kesunyian.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Keesokan harinya meski sore kemarin sampai tadi malam masih hujan lebat, kini di atas langit hanya terlihat penuh warna kelabu saja. Bahkan cuaca hari ini sangat begitu dingin hingga tak ayal siswa-siswi maupun para guru yang ada di dalam bangunan SMA Galaxy Admara mengenakan jaketnya.


KRIIIIIIIINNG !!!


Suara bel masuk kelas dibunyikan secara nyaring, itu artinya para siswa dan siswi harus segera masuk ke dalam ruang kelasnya masing-masing begitupun guru-guru yang menjalankan tugasnya sebagai pembimbing belajar untuk seluruh muridnya.


Dan setelah beberapa menit masuk kelas, bu Aera sang guru mata pelajaran Fisika yang sedang sibuk mengabsen semua muridnya secara lisan, dihentikan oleh suara ketukan pintu dua kali lalu suara pintu yang dibukakan dengan seseorang.


“Assalammualaikum, Bu Aera. Maaf mengganggu, hari ini kita semua kedatangan siswa murid baru.” Rupanya itu adalah pak Harry yang membukakan pintu, dan sekarang beliau menolehkan kepalanya ke samping dengan tersenyum ramah. “Ayo Nak, silahkan masuk.”


Mendadak kelas XI IPA 2 mendadak ramai macam ada aksi tawuran, bahkan ada beberapa siswi berdiri karena rasa ingin tahu siapa murid baru tersebut sangat menjulang tinggi. Setelah itu, siswa baru itu segera menginjak kelas dengan tampang percaya dirinya.


“Cakep, ya?” ucap bu Aera basa-basi pada siswa murid barunya tersebut yang kemudian beliau dibalas dengan senyuman anggukan sopan.


“Masih cakepan saya dong, Bu!” seloroh Reyhan.


“Sssstt! Tutup mulutmu!” tegas bu Aera dengan menempelkan sisi jari telunjuknya di depan bibir.


Pak Harry yang telah berada di sampingnya siswa berbadan semampai itu, mulai membentangkan tangan kanannya ke depan seraya menatap anak murid barunya. “Silahkan perkenalkan diri kamu.”


Siswa tersebut dengan murah senyuman dan sopan, menganggukkan kepalanya kemudian tubuhnya ia hadapkan ke depan lalu berdiri secara tegak, menatap para siswa-siswi yang akan menjadi teman barunya di kelas penuh solidaritas serta prestasi ini. Lelaki tersebut yang berambut hitam agak bergaya cepak, menghembuskan napasnya sesudahnya itu memberikan senyuman lebarnya pada yang ia tatap.


“Selamat pagi, semuanya. Mohon maaf sebelumnya karena saya telah menghambat waktu belajar kalian, perkenalkan nama saya adalah Emiliano Baskatar Leonard, kalian cukup panggil saya Emlano. Saya berasal dari SMA Terang Bangsa, dan semoga kita bisa berkawan dengan baik. Terimakasih.”


‘Perkenalan yang cukup singkat, nih. Orangnya juga keliatan baik dan sopan, cocok jadi temen,’ batin Reyhan dengan kepala mengangguk samar-samar.


“Baik, terimakasih Emlano. Semoga dengan kamu bersekolah di bangunan SMA Galaxy Admara ini, kamu merasa sangat betah belajar di sini. Silahkan kamu duduk di bangku belakang paling pojok yang berada di sana.”


“Baiklah, Bapak. Terimakasih,” sopan Emlano.


Emlano dengan senyuman ramahnya melangkah menuju bangku satu-satunya yang kosong tepat di belakangnya bangku Kenzo. Di situ, Angga yang memperhatikan siswa baru tersebut merasa aneh dan janggal dikarenakan Angga yang seorang lelaki Indigo tak sanggup membaca aura milik Emlano. Seolah aura untuk pemuda itu ditutup hingga Angga kesulitan membaca serta menerawangnya.


‘Aneh. Kenapa gue gak bisa membaca aura yang ada di dalam dirinya? Seakan seperti ditutup hingga gue nggak mampu memasuki mata batin gue untuk menyurvei auranya siswa baru itu yang bernama Emiliano Baskatar Leonard.’

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2