Indigo

Indigo
Chapter 111 | Deep Emotions


__ADS_3

Kini sekarang Angga telah dipindahkan ke salah satu kamar ruang perawatan yang bertembok serba putih beserta angin AC untuk menyejukkan ruangan tersebut. Beberapa perawat lelaki di sana tengah bertugas masing-masing mengurusi sang pasien, mulai dari menggantungkan kantong cairan infus, memberikan selimut tebal, terakhir memasangkan sebuah alat oksigen pada wajah pucat Angga yang mana akan menutupi hidung sekaligus mulutnya.


Salah satu perawat nampak tengah mencatat sesuatu di tempat alatnya dengan fokus dan serius. Setelah semuanya telah tuntas, dokter Atmaja mengomando halus pada seluruh perawat yang ada di ruang kamar rawat untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Reyhan memperhatikan kepergian beberapa perawat itu yang melangkah keluar dari ruang perawatan sahabatnya sampai benar-benar tak terlihat lagi. Dokter Atmaja beralih menatap Angga yang dari keadaannya masih sungguh-sungguh lemah sampai harus membutuhkan bantuan alat oksigen.


“Dok, sebenarnya apa yang terjadi dengan murid saya sehingga murid saya ini di diagnosis Hipoksia? Sebelumnya Anggara terlihat sehat-sehat saja tanpa mengalami suatu gangguan penyebab yang mendapatkan seperti ini.”


Dokter Atmaja yang posisinya berdiri berhadapan oleh pak Robby, menghela napasnya sejenak. “Ini di sebabkan karena Anggara kekurangan oksigen atau tidak cukupnya oksigen dalam jaringan untuk mempertahankan fungsi tubuh milik pasien.”


Reyhan yang keadaan kepalanya menoleh ke samping, menjadi mengalih ke arah dokter Atmaja pada tuturannya beliau menjelaskan tentang keadaannya Angga. Pak Robby mendengarkan hal tersebut dengan seksama, sementara Reyhan nampak sedang mencerna maksud penjelasan dari dokter Atmaja.


“Saat ini Anggara sementara harus membutuhkan bantuan oksigen untuk meningkatkan kadar oksigen yang sedang rendah. Dan, beruntung saja pasien cepat-cepat di bawa ke rumah sakit, kalau tidak ... hal itu akan merusak organ tubuh serta mampu membuat Anggara kehilangan nyawa jika tak segera ditangani.”


DEG !


Semacam jantungnya seperti disambar oleh petir, Reyhan dan pak Robby yang mendengar penjelasan detail dari dokter Atmaja, sangat terperangah. Namun di sisi lain hati, mereka amat lega karena itu sama sekali tidak terjadi dengan Angga yang mendatangkan sebuah duka.


Reyhan meneguk salivanya. “Terimakasih atas penjelasannya dokter yang telah beliau berikan. Tetapi, kapan Anggara akan sadar kembali? Apakah cukup lama, Dok?”


Dokter Atmaja melemparkan senyuman lembut agar Reyhan sedikit tenang dan lega. “Jika kadar oksigen dalam tubuh Anggara telah menaik serta membaik tanpa ada gejala apapun lagi, sahabatmu pastinya akan kembali sadarkan diri. Tidak perlu dirisaukan lagi ya, Nak? Begitupun juga dengan Bapak?”


“Iya, Dok. Iya, terimakasih!” ucap pak Robby seraya sedikit membungkukkan badannya dengan senyum semu lega.


“Terimakasih kembali, Pak. Kalau begitu, saya izin pamit, ya? Assalammualaikum.”


“Waalaikumsalam. Baik, Dokter.”


Usai menjawab salam dari dokter Atmaja sebelum meninggalkan ruang kamar rawat Angga, beliau kini melangkah pergi keluar ruangan. Sementara meskipun napas Reyhan lega karena mendengar bahwa Angga mesti akan baik-baik saja dan tidak ada sesuatu terjadi lagi yang membahayakan sahabatnya, namun di hatinya menyimpan rasa emosi amarah terdalam lepau Gerald. Reyhan sangat yakin, Angga menjadi seperti ini karena ulah bengisnya pemuda bermata hijau tersebut.


Reyhan mengambil satu kursi yang ada di samping kursi sofa biru gelap, lalu ia ia letakkan di tepat sisi ranjang pasien Angga. Reyhan kemudian duduk di situ, sementara tas punggung abu-abu mudanya ia taruh di atas kedua paha kakinya.


Pak Robby menaikkan kedua sudut bibirnya dengan wajah gundah, setelah itu membentangkan satu tangannya untuk mengusap-usap bahu kiri muridnya yang di tengah kesedihan mengenai keadaan Angga. “Sabar ya, Nak ... Angga pasti akan lekas siuman, kok. Dan kamu juga sudah nggak perlu khawatir sama kondisi Angga saat ini. Oke?”


Reyhan menyerong badannya menghadap pak Robby yang ada di belakangnya. “Baik, Pak. Saya sangat berterimakasih kepada Pak Rob, karena berkat Bapak ... Angga masih dapat tertolong. Saya memang tidak rela kalau kehilangan salah satu sahabat saya.”


“Iya, Bapak mengerti.” Setelahnya, pak Robby menengok jarum jam pendek di jam dinding tepatnya di atas tembok atas televisi pajang, kemudian beliau menatap murid yang terkenal friendly dan populer di sekolah elite tersebut.


“Oh iya, Rey. Maaf ya, Bapak tidak bisa lama-lama di rumah sakit, Pak Robby harus kembali ke sekolah untuk membimbing pelajaran Olahraga pada semua siswa dan siswi kelas sebelas IPA dua. Bapak tinggal kamu sendirian di sini, tidak apa-apa?”


Reyhan mengangguk tersenyum. “Tidak apa-apa bagi saya, Pak. Sebelum itu, saya berterimakasih sekali lagi karena sudah membawa Angga ke rumah sakit. Dan Pak Rob hati-hati di jalan, ya.”


“Sama-sama, Reyhan. Iya, Bapak pasti akan berhati-hati di jalan, kok. Bapak pergi dulu, ya? Assalamualaikum.”


Reyhan menjawab salam dari gurunya dengan murah senyum khasnya, kemudian memperhatikan pak Robby yang memiliki badan tubuh Atletik nang kakinya melangkah keluar dari ruang kamar rawat Angga. Dan sekarang, tinggal lah Reyhan seorang di dalam ruang perawatan yang senyap. Pemuda berambut coklat dengan style gaya rambut keren tersebut tetap bersama sang sahabat yang tengah tumbang di ranjang pasien untuk menemaninya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


15.26 PM


Sudah berjam-jaman Reyhan menemani Angga yang masih belum sadarkan diri, namun di situ Reyhan tak merasakan jenuh tetapi kepiluan yang ia dapatkan. Pemuda tersebut bersama wajah muramnya, menatap wajah pucat sahabatnya yang mana terlihat dinding masker oksigen itu mengembun setiap Angga menghembuskan napasnya. Sementara hela napas dari dada, nampak sangat lemah pendek. Itu artinya kadar oksigen dalam tubuhnya belum terkumpul sepenuhnya alias masih rendah.


Damainya mata Angga yang terpejam, membuat kedua tangan Reyhan saling mengulur untuk mengangkat tangan kanan sahabatnya sekaligus menggenggamnya. Genggaman tangannya itu, ia tempelkan di keningnya bersama air mata yang kembali merembes membasahi kedua pipi.


Reyhan menggertakkan giginya dalam posisi terisak-isak. Jiwanya begitu murka besar dicampur emosi yang mendalam, ingin rasanya Reyhan membantai Gerald hingga mati karena sudah membuat Angga tergelimpang Drop di rumah sakit. Reyhan membungkamkan mulutnya dengan menelan ludahnya sendiri.


“Dia manusia atau setan sih, sebenarnya?! Kenapa cowok itu bisa bikin Angga masuk rumah sakit buat kesekian kalinya? Bahkan membuat Angga terkena Hipoksia!” geram Reyhan bermonolog.


“Ternyata lo belum merasa jera dengan segala pelajaran yang gue berikan buat elo, tunggu saja saat kita bertemu. Gue akan buat lo menderita sampai lo bener-bener kapok mengusik kehidupannya Angga!!”


Cklek !


“Assalamualaikum, Bro Reyhan.” Salam ucapan bersamaan dari Aji dan Jevran membuat Reyhan tersentak kaget.


Reyhan langsung menyeka membersihkan air matanya yang membanjiri kedua pipinya dengan satu tangannya, kemudian ia menurunkan tangannya Angga lalu melepaskannya saat telah ia letakkan tangan sang sahabat di atas selimut tebal. Pemuda itu menyerong tubuhnya untuk menoleh ke belakang pada sapaan salam dari kedua temannya.


“Waalaikumsalam. Kalian berdua udah dateng?”


“Udah, lah. Nih buktinya kami udah nyampe di kamar rawat sahabat lo. Oh iya, tasnya Angga gue taruh di sofa, ye?” respon Aji seraya melangkah mendekati kursi sofa panjang biru dongker untuk meletakkan tas hitamnya Angga.


Pandangan Jevran membentur ke wajah pucat Angga yang layaknya seperti mayat, bersama terapi oksigen menyatakan bahwa keadaan teman pendiamnya itu sedang kurang baik-baik saja. Saat tetangganya Reyhan menghampiri Angga yang terbaring lemah tak berdaya di ranjang pasien, Jevran melihat hela napas dada temannya yang begitu pendek bahkan juga lambat.


Jevran dengan raut laranya, menoleh menatap wajah Reyhan yang nampak sembab karena usai menangis. “Rey, kata dokter ... Angga kenapa?”


Reyhan memejamkan matanya sejenak untuk menghela napasnya. Pemuda itu membuka matanya kembali tanpa menoleh ke arah Jevran sama sekali. “Dokter bilang, saat dokter ngelakuin observasi buat Angga, Angga dapet dua diagnosa sekaligus. Epilepsi dan Hipoksia.”


Aji yang selesai meletakkan tas punggung Angga, balik badan ke belakang melangkah memarani Reyhan dengan tampang terkejutnya. “Epilepsi dan Hipoksia?? Kok kedengerannya, dari dua semuanya itu ngeri-ngeri, ya?!”


“Reyhan, kalau nggak salah ... Hipoksia itu kondisi yang mana kadar oksigen di dalem jaringan menurun, ya?” tanya Jevran sayup-sayup pernah mendengar soal tentang Hipoksia.


Reyhan puncaknya menatap Jevran. “Bener. Lo tau?”


Jevran menganggukkan kepalanya dengan senyum simpel. “Iya, gue tau. Karena abang sepupu gue juga pernah ngalamin hal seperti itu. Gejalanya tuh berat-berat dan ada yang bahayain juga sih, Rey. Apalagi abang sepupu gue yang dari kota Bandung itu pernah sampe masuk rumah sakit berkali-kali. Karena Hipoksia.”

__ADS_1


“Iya. Gejalanya emang berat-berat. Pertama ada gejala sesak nafas, tubuh lemes, sukar ngomong. Ya, itu yang gue tau dari internet tentang kedokteran medis,” sahut Reyhan.


“Oh iya, Bro! Hipoksia itu adalah tidak adanya cukup oksigen dalam jaringan untuk mempertahankan fungsi tubuh. Ini gue baru tau di aplikasi mbah Google.”


Reyhan berdeham. “Gejala-gejala dari sakit itu, sama persis dialami Angga akhir-akhir ini. Begonya gue, gue kurang cukup ngeh kalau Angga terkena Hipoksia!”


Puk


Puk


Puk


Jevran menepuk-nepuk pundak kiri Reyhan yang merasa tetangganya itu telah bodoh dan kurang mampu menjaga kondisi keadaannya Angga. “Tapi Angga akan baik-baik saja, kan?”


“Kata beliau Angga akan baik-baik saja dan bakal sadar kalau kadar oksigen dalam tubuhnya yang menurun kembali naik. Butuh berapa lama itu, menunggu naiknya?”


“Gue lega, lho. Denger kalau kondisi Angga bakal oke-oke aja. Udah, Rey. Mending nggak perlu cemas keadaannya Angga sekarang. Lagipula sahabat lo yang satu ini kan tangguh dan kuat.”


“Iya, emang bener. Ini berkatnya pak Rob yang segera bawa Angga ke rumah sakit, kalau kagak ... Angga bakal bisa mati hari ini.”


“Uhuk-uhuk!” Saking kagetnya mendengar, Aji sampai tersedak oleh minuman soda fanta merahnya. “Mati?! Kok bisa, Nyuk?!!”


Jevran melipat kedua tangannya di dada dengan disertakan menghembuskan napasnya. “Itu udah pasti. Kalau gak lekas ditangani oleh medis, teman kita ini bisa meninggal. Karena emang dari dasarnya, Hipoksia itu bahaya banget kalau disepelekan.”


“Maka dari itu Angga butuh sekali pertolongan medis termasuk bantuan alat oksigen yang sekarang dipakainya. Kalau nggak ada bantuan sama sekalipun buat si Angga, di dalem keadaan pingsannya, Angga bakal kesulitan untuk bernafas dan kalau itu dibiarkan, mestinya bakal terjadi kematian yang akan menjemput dirinya Angga,” tambah Jevran.


“Stop, Vran. Jangan ngomongin itu, gue miris apalagi takut dengerinnya ...” pungkas Reyhan.


“Sorry, Rey. Gue cuman bermaksud jelasin tentang itu sama si Aji yang otaknya suka dangkal kayak air kobokan di parit.”


“Lo bilang apa, barusan?! Mau gue guyur lo pake soda?!” tukas Aji tidak terima dikatakan seperti itu oleh Jevran Adifian Luji.


“Mantap! Soda Gembira boleh juga tuh, nanti biar gue seumur hidup gembira tanpa ada kesedihan, hahaha!”


“Enak banget soda Gembira. Karena gue temen lo yang paling baik sedunia, jadinya gue bakal kasih elo minuman soda sad boy.”


“Titisan Tuyul, lo! Awas ya lo kalau minta tolong sama gue, gak akan mau gue bantu!” kesal Jevran dengan hati tersinggung.


“Baperan amat lo jadi cowok, Jangan-jangan lo lelaki blesteran perempuan, lagi?” timpal Reyhan berusaha menaikkan suasana hati.


Aji yang mendengar buras cakapan Reyhan pada Jevran, langsung tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya karena kram akibat tawanya kencang serta renyah. Jevran mendengus, lalu dengan sengaja pemuda tersebut menyenggol kencang bahu Aji hingga Aji jatuh di lantai sangat keras.


Brugh !


“Ogah! Lo kan udah gerang, bangun sendiri, lah! Temen kok manjanya kayak cewek!”


Tangan Aji yang masih mengulur, ditangkap oleh Reyhan. “Udah sini gue bantu.”


Reyhan menarik tangan temannya itu dalam posisinya masih duduk di kursi sedangkan tubuhnya serong ke samping. Aji melongok tak percaya pada sikap mulianya si Reyhan. “Tumben otak lo waras, Rey? Otak lo yang kemaren mana?”


Mata Reyhan mendelik dengan mulai mewujudkan ekspresi muka sebal. Lagi berupaya merendam emosi dari dalam jiwa karena perilakunya orang masa lalunya Angga, tetapi Aji bisa-bisanya mengatakan seperti itu dengan seenak lutut. “Oh! Jadi selama ini otak gue gak waras? Gak punya kabel di otak? Iya?!”


Reyhan dengan tangan satunya, mendorong kencang wajah konyolnya Aji. Otomatis Aji yang setengah bangkit berdiri karena dibantu pemuda friendly itu, pantatnya kembali mencium lantai dingin dengan jauh lebih begitu keras.


Brugh !!


Jevran melihat adegan tragedi nasib yang dialami Aji barusan, sampai mengeluarkan suara bisik 'Uh' sementara Reyhan menatap tajam Aji dengan wajah tampannya yang menekuk karena jengkel dan keki pada penuturan kata Aji tadi padanya. Lelaki tersebut yang terduduk di lantai, kini sedang mengusap-usap pantatnya seraya mendesis macam ular.


“Sungguh adegan nasib yang manis,” sindir Jevran dengan tampang muka meledek temannya.


“Adegan nasib yang pahit, baru iye!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Setelah satu jam kedua temannya Reyhan berada di dalam ruang kamar rawat Angga, kini sekarang mereka telah pulang ke rumahnya masing-masing dikarenakan hari semakin sore. Di luar sana tepatnya di atas langit, tibanya senja membuat warna langit tersebut menjadi jingga setelah langit biru.


Reyhan yang punggungnya terasa pegal karena terus duduk tegak, mulai menyandarkan punggung miliknya di sandaran kursi empuk nyaman. Ingin memejamkan matanya sejenak untuk menepiskan penat, tiba-tiba Reyhan dicekam oleh suara deringan ringtone dari ponselnya. Reyhan lekas membuka ranselnya untuk mengeluarkan HP Androidnya yang berjenis Oppo keluaran tahun 2020


Reyhan auto mendekatkan layar HP-nya di wajah dengan mata terbelalak. “Mampus, gue! Jova?! Pikun, lupa ngabarin deh, gue!”


Reyhan segera menggesek tombol hijau ke atas pada layar ponsel untuk mengangkat teleponnya Jova dengan meneguk ludahnya seraya nyengir.


...----------------...


...NONA SABLENG SEJAGAT RAYA...


Assalamualaikum! Reyhan! Ih kamu gimana, sih?! Orang aku dari tadi nungguin juga! Nyatanya nggak ada kabar apapun soal Angga!


^^^Iya-iya! Aku minta maaf! Maklum lah, aku kan cowok sahabatmu yang pelupa. Lagi Stress nih, aku! Malah dikasih bentakan free^^^


Eh? Stress kenapa?? Coba jelasin!


^^^Gak usah ngegas juga kali, Bleng! Aku Stress karena mikirin soal tentang kondisinya si Angga. Angga tuh-^^^

__ADS_1


Angga kenapa??!! Kok sampe bikin kamu Stress?! Eh, dari awal lahir kan kamu emang udah tergolong orang Stress


^^^Sialan! Woi! Aku belum selesai ngomong, malah udah di potong!^^^


Hehehehe! Iya deh, iya. Terusin-terusin


^^^Huh ... Angga tuh katanya dokter mempunyai dua diagnosa setelah beliau melakukan observasi pada Angga di dalem ruangan IGD. Dua diagnosa itu antara Epilepsi dan Hipoksia. Nah, yang bikin aku Stress sampe sekarang, Angga yang kena Hipoksia, Epilepsi sih udah biasa dan masih bisa ditangani oleh dokter^^^


Oh my gosh! Epilepsi sama Hipoksia?! Angga di diagnosa dua sakit yang dia alami itu?! Terus, yang aku mau tanya sama kamu tuh ... bukannya penderita Hipoksia itu karena disebabkan Anemia, ya? Angga kan nggak punya penyakit Anemia darah rendah gitu kayak kamu


^^^Emang iya sih kamu bener. Aku juga bingung aja gitu, kenapa Angga bisa menderita Hipoksia. kalau kamu mau tau kondisinya Angga sekarang di rumah sakit, dia masih belum sadarkan diri^^^


^^^Sementara itu, sampai saat ini Angga butuh bantuan alat oksigen buat menaikkan kadar oksigennya dalem tubuh yang masih rendah. Dan untuk sadarnya, kamu gak usah bimbang ... kalau Angga sudah membaik alias kadar oksigennya sudah tercukupi semula, sahabat kita bakal siuman balik, kok. Jangan tanya kapan sadarnya, ya? Aku pun nggak tau soalnya. Apalagi dokter suruh menunggu saja kesadarannya si Angga, meski beliau akan melakukan pemeriksaan buat Angga di ruang perawatan^^^


Thanks penjelasan detailnya. Tapi Angga dirawat di ruangan apa? Bukan yang ruangan bau obat-obatan itu, kan?!


^^^Sans. Kamar rawat pasien inap biasa, kok. Kenapa? Kamu mau ke sini buat jenguk si Angga?^^^


Pengennya begitu, ingin jenguk si cowok Beruang Kutub Utara, tapi aku malah ada acara keluarga, Rey. Nih lagi diperjalanan ke rumah oma sama opaku


^^^Yaudah sih, nggak apa-apa. Kan besok juga bisa kalau pas pulang sekolah. Ini kondisinya Angga dibilang bakal baik-baik aja kok, Va^^^


^^^Lagian, habis ini aku mau pulang ke rumah^^^


Okelah. Eh tapi, aku kudu kasih tau sama Freya deh. Freya kan tadi nggak masuk sekolah, nggak tau napa


^^^Bagus, tuh. Yaudah gih, kasih tau dulu. Kasian juga nanti kalau si Freya nggak kamu kasih info^^^


Sip. Yasudah ya, Nyuk. Aku tutup telponnya, ya? Kamu yang hati-hati di jalan nanti, biasanya cowok bawa motornya suka ngebut-ngebut


^^^Santai, Neng. Aku ini udah pro banget kalau soal bawa my motor kesayangan, bakal selamat aman sampe rumah, dah^^^


Yoi. Bye, Kunyuk Sutres!


^^^Idih! Iye, Bye too Nona Sableng!^^^


...----------------...


Reyhan menggelengkan kepalanya dengan senyum mesem pada sahabatnya yang sering disebut anak remaja tomboy tersebut. Setelah Jova mengakhiri telepon dari sebrang sana, Reyhan mematikan layar ponselnya lalu ia masukkan kembali ke dalam tas punggung abu-abu mudanya. Di dalam kamar rawat, lelaki itu menunggu sampai 10 menit baru kemudian pergi meninggalkan Angga sendirian dengan hatinya yang ragu.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Jova di dalam mobilnya bersama keluarga kecilnya, sedang tengah mencari kontak WhatsApp milik Freya untuk menghubunginya kali ini. Setelah berhasil menemukannya, Jova langsung memencet tombol simbol telepon di samping foto profil kontak sahabat lugunya. Hingga telepon pun tersambung.


...----------------...


...FREYA BESTIE IMUTKU...


^^^Assalamualaikum! Akhirnya diangkat juga teleponnya!^^^


Waalaikumsalam, Jova. Hehehe, ini bukan Freya, tapi mamanya Freya


^^^Lah? Waduh, maaf Tante! Kirain yang angkat teleponnya si Freya, soalnya yang Jova telepon ini kontaknya Freya, hehehe^^^


Iya, Nak. Tante yang angkat teleponnya, karena si Freya lagi tidur lelap. Kemarin pas pekan lalu, Freya kehujanan sama pacarnya yang namanya Gerald. Jadinya si Freya masuk angin, deh. Jova mau tanya kenapa Freya tadi nggak masuk sekolah, ya?


^^^Hehehe, tau aja si Tante. Iya, Tante. Ehm, sebenarnya Jova gak cuman tanya, tapi juga pengen beri info ke Freya kalau si Angga masuk rumah sakit, Tan^^^


Hah?! Astagfirullah! Kok bisa, Sayang?! Ceritanya bagaimana Angga bisa masuk rumah sakit?! Ya ampun, Tante gak nyangka banget, lho!


^^^Pas tadi di sekolah, Angga pingsan, Tan. Nah, pas di bawa ke rumah sakit sama salah satu guru mapel Olahraga sama Reyhan, Angga di sana di diagnosa Epilepsi dan Hipoksia. Jova sebenarnya baru tau saat dikasih tau sama Reyhan lewat telfon, Tan^^^


Innalillahi Ya Allah! Tante jadi khawatir sama keadaannya Angga, Nak. Tapi, Angga di sana baik-baik saja, kan?!


^^^Akan begitu, Tante. Tapi saat ini, katanya Reyhan Angga belum kunjung siuman, perlu butuh kadar oksigen yang cukup dalam tubuh, untuk mengembalikan kesadarannya Angga kembali^^^


Oalah, begitu? Haduh, Tante sampe degdegan denger semua infomasinya dari Jova. Yasudah, nanti Tante segera beri tahu soal keadaannya Angga sama Freya, ya? Tante yakin banget, anaknya Tante bakal kaget dan sedih, denger sahabat kecilnya masuk rumah sakit lagi


^^^Iya, Tante Rani. Kalau begitu, Jova tutup dulu telponnya, ya? Soalnya bentar lagi Jova sampai di rumahnya oma sama opa Jova, terlebihnya kami punya acara keluarga besar di sana^^^


Iya-iya, Nak. Terimakasih ya semua infonya dari kamu...


^^^Iya, Tante. Sama-sama, Assalamualaikum^^^


Waalaikumsalam, Nak...


...----------------...


Jova memutuskan panggilannya di telfon Rani yang sedang menggenggam ponselnya Freya. Jova menyadarkan punggungnya di sandaran kursi mobil, dengan jiwa seperti Reyhan. Emosi mendalam.


Bagaimana tidak emosi, kalau kekasihnya Freya itu telah membuat Freya masuk angin karena kehujanan saat jalan bersamanya? Jelas saja membuat Jova tak bisa menerimanya. Terlebihnya, Jova sudah tahu bahwa Gerald adalah sosok lelaki penghancur kehidupan orang.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2