Indigo

Indigo
Chapter 135 | It's Time to be Exposed


__ADS_3

Berjalan menyusuri tempat dengan di imbuh senandung nada lagu, itulah Reyhan Lintang Ellvano. Saat ini Reyhan tengah melangkah menuju ke ruang perawatannya Angga bersama senyuman lebarnya yang merekah di wajah menawannya. Namun tiba-tiba Reyhan menghentikan senandung kecilnya waktu teringat akan memori sesuatu.


‘Duh! Bisa kacau jika gue gak segera dateng cepet-cepet ke Angga! Nanti kalau ada orang tengik masuk ke dalem kamar rawat sahabat gue kayak si fuckboy Gerald, gimana?! Apalagi kan tuh cowok bangsat masih nyimpen dendam besar sama Angga.’


Reyhan lekas mempercepatkan langkah besarnya untuk segera tiba di ruang perawatan sahabat Introvert-nya yang bernomor 111 di lorong lantai 4 ini. “Anak ganteng ...”


Reyhan sontak langsung menyetop langkah kakinya dengan kedua mata tak berkedip. “Eh, asik ada yang manggil gue 'anak ganteng'- tapi kok dari suaranya kayak cowok, ya?”


Reyhan kemudian menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Kini kedua mata lelaki humoris itu melotot terkejut melihat apa yang ia lihat ini. Sosok gaib yang mana mengenakan kain kafan putih nang membaluti macam bentuk guling. “O-ocong?!”


“Rupanya kamu bisa melihat Papa, Nak. Ayo ikut bersama Papa,” ajak makhluk halus Pocong tersebut dengan suara yang amat menyeramkan.


“P-papa?! Enak aja ngajak-ngajak anak orang! Heh, Pocong kesasar! Sejak kapan gue punya ayah setan gerangan tua kayak elo, hah?! Denger, ye .. bokap gue itu manusia bukan demit Pocong kek lu!” bentak kesal Reyhan pada hantu Pocong pria tersebut walau hatinya amat ketakutan melihat rupa wajahnya yang gosong serta kedua bola matanya nang saling bergelantungan dari luar rongganya.


“Itu model matanya edisi terlama, ya? Persis kayak Arseno Keindre,” celoteh Reyhan dengan kondisi muka berwarna pucat.


Pocong itu memiringkan kepalanya yang terbungkus kain kafan putih lusuh. “Arseno Keindre?”


“Iya! Anak lu mungkin!” Reyhan lalu menelan ludahnya susah payah dengan jantung berdebar-debar kencang. “Pergi sono! Jangan ganggu gue yang hanya sebatas manusia yang masih ingin menikmati indahnya dunia!”


Makhluk Pocong itu menggeram marah pada sentakan suara Reyhan yang mengusirnya. “Kamu berani mengusir Papa?! Kamu harus ikut Papa, titik!”


“Ogah! Huwaaaa, Anggaraaaa!! Tolooooong!!!”


Reyhan berteriak keras karena ketakutan hingga menggelegar sepenjuru lorong sambil berlari sekencang menghindari hantu pria tradisional tersebut dengan keringat dingin masih setia mengucur merembes dari kening ke surai rambut cokelatnya. Sementara makhluk Pocong pria tersebut menghilang kilat sampai menyisakan debu asap, dikarenakan sebenarnya sosok itu hanya menakuti Reyhan saja tanpa ada niatan apapun lagi selain itu.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam ruang perawatan, pemuda Indigo tampan tersebut tengah duduk di atas ranjang pasien dengan menikmati tontonan film Horor Indo yang sudah dipertengahan alur cerita. Angga mendengarkan sound suara film yang ada di ponselnya, melalui headset hitamnya. Hal tersebut menambah nuansa mencekam nan menyeramkan.


Bola mata Angga fokus pada film tersebut yang nampak gelap karena posisinya sang tokoh utama terjebak di suatu ruangan lingkup begitupun juga sempit. Namun di situ Angga telah merasakan feeling kuat bahwa setelah ini akan ada jumpscare hantu yang membuat jantungnya hampir copot dari organ tempatnya.


Bertepatan si jumpscare dari arwah mengerikan muncul untuk mengagetkan sang lelaki pemain utama begitupun Angga yang menontonnya, pintu kamar rawat dibuka kencang oleh Reyhan hingga membuat karena pemuda Introvert itu tersentak kejut bukan main, ponsel beserta headset yang ia pasang di kedua telinga jatuh keras di lantai.


Pletak !


Angga menatap kondisi handphone dan alat pendengar musik tersebut sekilas, lalu mendengus menatap tajam sahabatnya. “Woi! Elo mau jenguk, atau mau ngerampok, sih?! Bisa gak bukanya santai saja?!”


Seraya menutup pintu dengan gerakan tangan gemetar, sementara tangan satunya memegang dadanya yang detak jantungnya berdegup kencang tak karuan. Apalagi sesudah itu, Reyhan perlu mengatur napasnya untuk menjawab sentakan dari suara nada Bariton milik Angga.


Di atas ranjang pasien yang posisi dirinya duduk tanpa menyadarkan punggungnya, menyusutkan keningnya memandang wajah Reyhan yang amat ketakutan. “Habis lihat setan, ya? Muka lo pucet banget.”


Reyhan menghembuskan napasnya kasar setelah dirasanya detak jantung serta aturan napas kembali normal. Pemuda Friendly itu menegakkan badannya yang sebelumnya bungkuk, menatap Angga yang berada di sana. “B-bener! Tadi gue lihat sosok pria yang bentuk wujudnya kayak guling. Asli, serem banget, Coy!”


“Yang lo maksud sosoknya itu, Pocong?” tanya Angga memastikan ungkapan bimbang Reyhan yang jiwanya begitu penakut tersebut.


Reyhan menganggukkan kepalanya cepat sembari melangkah mendekati Angga sang sahabatnya. Setelah itu ia berhenti karena telah berada di dekat samping kanannya Angga. “Sumpah! Masa gue disuruh ikut samanya?! Yakali gue nurutin setan gak ada otak itu. Gue masih manusia, anying.”


Reyhan yang sadar ponsel serta headset miliknya Angga jatuh tergeletak di lantai, segera memungutnya lalu memberikannya pada sahabatnya. Angga menerimanya dengan masih menatap Reyhan yang ekspresi ketakutannya itu belum menghilang. “Berarti kalau misalnya lo sudah jadi arwah, lo bakal mau ikut bersama Pocong yang lo lihat tadi?”


Reyhan melotot tajam pada Angga yang sepertinya sedang asal bicara dan bertanya tentang kalimat itu. “Enak aja! Ya enggak, lah! Mau gue jadi arwah sekalipun, gue gak bakal mau ikut sama Pocong gerangan tua itu. Nanti kalau ujung-ujungnya arwah gue dibawa ke hutan buat jadi anak buahnya Dukun, gimana?”


Angga langsung menjitak kepala sahabatnya. “Terlalu banyak menonton film genre Horor ya jadi seperti itu! Mana mungkin itu terjadi?”


“Anjir! Sakit lho, Ngga!” protes Reyhan dengan mengusap-usap kepalanya yang telah dijitak keras oleh Angga.


“Lo kenapa tumben datangnya awal? Ini masih jam delapan pagi,” ujar Angga membiarkan sahabatnya yang masih meringis kesakitan.


“Gue tau! Gue sengaja dateng pagi buta gini supaya lo terselamatkan dari orang jahat kayak si Gerald mantan Freya yang goblok mencintai itu!” sungut Reyhan.


“Lo aneh. Gak mungkin dia sampai datang ke sini, terlebihnya Gerald nggak tau kalau gue dirawat lagi di rumah sakit Wijaya,” jawab Angga.


“Iya juga, sih. Lo ada benernya- argh! Tapi bodo amat, lah! Gue udah trauma lo dilukai Gerald yang mengenai fisik elo!”


Angga hanya menghela napasnya pelan lalu kembali diam tak berkata apapun lagi selain itu. Hingga tibalah seorang arwah pemuda yang nongol langsung di depannya dua manusia tersebut. Reyhan yang tak sengaja menoleh, langsung memekik kencang kemudian memeluk tubuh Angga.


“Huhu! Arseno! Lo ngapain, sih di dunia?! Bukannya lo sekarang harusnya di alam Surga?! Tapi kenapa dateng kemari lagi segala?! Lo masih dendam ma gue dan pengen neror manusia gak bersalah ini?! Huhuhu! Gue afraid, Nggaaaa!!!” Reyhan makin mempererat pelukannya di tubuh raga sahabatnya.


“Arseno, Arseno. Mata lo yang Arseno! Gue Cahya, geblek! Cahya Araav Jonathan!” sebal Cahya yang disebut dengan nama Arseno karena mukanya sama-sama mengerikan dan kulitnya berwarna putih pucat pasi.


Tubuhnya yang terus digencet oleh Reyhan, membuat Angga membuka mulutnya. “R-rey! Gue gak bisa nafas ...!”


Reyhan yang mendengar nada Angga nang seperti menekan karena dirinya terlalu erat mendekap tubuh sahabatnya, ia langsung mengurai pelukannya. “Sori, Bro!”


Kemudian lelaki jiwa penakut itu menolehkan kepalanya cepat ke arah Cahya. “Oh! Setan demit yang mainnya kurang ajar itu sama gue, ya?! Abisnya jas almamater sekolah SMA lo yang lo pakai, sama persis kayak Arseno!”


Cahya bersedekap di dada dengan menampilkan wajah santainya. “Jawabannya kenapa jas almamater gue sama seperti Arseno, karena kami berdua ini merupakan siswa yang satu sekolah di SMA Harapan.”


“What?! J-jadi itu sama aja kalian dulunya saling berteman!“ kejut Reyhan karena tidak tahu kalau Arseno bersekolah yang sama dengan Cahya.


“Yup. Tapi gue dan Arseno bukan satu kelas dengan jurusan yang sama, tapi beda kelas yang jelas. Cuman satu yang seiras. Bersekolah di satu bangunan SMA yang sepadan,” jelas Cahya.


Bibir Reyhan nyengir yang terdapat warna bibirnya masih pucat akibat melihat makhluk pria berkain kafan putih lusuh tersebut itu tadi. “Bagaimana bisa? Lo aja mati karena ulahnya si Arseno. Ya, gue tau sih dia itu waktu itu masih dendam besar karena dulunya dia mati karena dibunuh sama mereka secara brutal.”


“Yaaa, sebenernya bukan temen juga, sih. Kami berdua waktu masih jadi manusia, gak terlalu dekat. Apalagi kan gue sama Arseno itu beda kelas meskipun tingkatan jenjangnya sama yaitu kelas sebelas. Oh iya, kalau lo mau tau Arseno itu siswa apa di SMA Harapan .. dia salah satu anak anggota OSIS dan juga kebanggaan semua guru yang ada di sana. Untuk sifat, gue akui Arseno memang baik meskipun ada sisi kayak Angga. Cuek, hahaha!”


Angga hanya berdeham saja, sementara Reyhan nampak terpukau pada ceritanya Cahya tentang Arseno. “Wow. Keren juga ya, si dia. Ternyata dia dulu juga kebanggaan semua guru di sekolah kalian itu. Gue yakin, mereka sedih banget dan gak nyangka murid kesayangannya yang menjadi sebagai anggota OSIS tewas di insiden malapetaka itu.”


Cahya menganggukkan kepalanya dengan agak berwajah sendu. “Begitulah. Tapi, ini gue juga udah mati gara-gara dia. Mungkin karena dia terlarut dalam emosi yang dendam, gue yang jadi korban jiwa saat itu. Apalagi akibat ulah mereka yang membunuh anak OSIS itu, aura yang ada di dalam arwah Arseno menjadi negatif.”


“Tapi waktu di alam sadar gue, Arseno meminta maaf segala kesalahan fatalnya sama gue, kok. Dia mengakui kalau selama ini dia sudah salah, meneror, dan segalanya yang membuat diri gue celaka. Sebelum Arseno benar-benar pergi dan gak akan kembali, dia berterimakasih sama gue dan juga Angga yang telah membantu membuka kunci untuk dirinya ke alam sesungguhnya,” ujar panjang lebar Reyhan dengan senyum simpel.


“Oh, yang itu? Gue mah sudah tau, Bro. Dulu Angga pernah cerita tentang ini ke gue,” respon Cahya ramah setelah beberapa menit lalu mengubah wujud aslinya menjadi non menyeramkan.


Mulut Reyhan menganga. “Si Angga ceritain tentang itu sama elo, Ya?”


Cahya mengeluarkan suara tawa pelannya. “Kalau gue gak paksa, Angga sahabat Indigo lo mana mungkin mau ceritain yang sebenarnya. Tapi untung aja gue punya jurus andalan, jurus pemaksaan.”


Angga yang mendengarkannya bersama tampang muka dinginnya, memutar bola matanya malas ke sembarang arah. Tetapi selang detik selanjutnya, Angga membalikkan kedua bola mata ke Reyhan dan ke Cahya secara bergantian. “Sudah. Jangan membahas tentang Arseno lagi, dia telah meninggal dan sekarang dia juga sudah tenang di alam abadinya. Jika kalian terus membicarakan soal dia apalagi tentang kesedihannya yang jiwanya melarat itu, Arseno yang ada di alam sana hatinya bakal bisa tidak tentram dan cabuh.”


Reyhan dan pemuda arwah tersebut cengengesan membuat Angga menggelengkan kepalanya, kemudian setelah itu lelaki tampan pemilik mata batin menoleh ke arah sahabatnya. “Yang lo lihat tadi, makhluk Pocongnya aura miliknya negatif atau positif?”


Reyhan menghembuskan napasnya lembut dari mulut. “Alhamdulillah, positif. Tapi tetep aja gue takut sampe ini muka jadi pucet! Udah, lah gue mau ke wastafel dulu buat cuci muka ganteng gue.”

__ADS_1


“Idih! Masih gantengan sahabat lo, kali. Muka elo mah pas-pasan!“ ledek Cahya setelah itu diiringi tawa kencang menatap Reyhan yang pergi ke wastafel depan kamar mandi.


Reyhan memutar tubuhnya cepat dengan menuding Cahya bersama raut sebalnya. “Oke muka gue pas-pasan! Dibanding elo yang mukanya pucet kayak semen!”


“Eh?! Wuanjir ini manusia satu! Awas saja lo, ya! Nanti malam gue teror diri lo habis-habisan kayak Arseno masa dulu. Biar lo kembali ngerasain betapa keras dan sengsaranya di teror setan!”


“Berani berbuat macem-macem dengan Reyhan, gue akan singkirkan elo dari pertemanan! Dan kalau memang lo bertekad begitu sama sahabat gue, jangan harap gue gampang memaafkan diri lo!” ucap sarkas Angga dengan memberikan tatapan horor-nya pada Cahya.


Cahya meneguk ludahnya dengan mendelik pada manusia Indigo itu yang kalau marah begitu menyeramkan. “Ampun! Jangan dong, Ngga! Gue gak punya temen lagi selain sahabat kecil gue!”


Reyhan yang sedang membuka kran air untuk segera membasuh mukanya, tengah menyunggingkan senyuman miringnya karena Cahya telah mendapat ancaman dari suaranya Angga. Angga jelas tidak menerima kalau dirinya diteror kembali oleh hantu untuk sekian kali, namun sebenarnya si Cahya setengah bercanda, setengah serius.


“Hahahaha! Mampus! Auto skakmat, lo!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Beberapa Minggu Kemudian


Seperti biasa, beberapa siswa-siswi dari bangku kelas XI IPA 2 bersinggah menempati ruang perpustakaan di saat jam istirahat sedang berlangsung. Dan masih ada banyak menit lagi untuk mereka menikmati harinya dengan membaca sebuah buku novel yang ada dihadapannya mereka masing-masing.


“Anjir! Parah banget sampe ketabrak truk segala itu si cowok tokoh pendukungnya. Hih, rasanya ketabrak truk gimana, ya? Kok gue malah jadi ngeri-ngeri sendiri,” celoteh Aji.


“Rasanya kayak mau diujung kematian,” celetuk Reyhan yang matanya fokus pada buku novel genre Thriller yang pernah direkomendasikan oleh pak Arya sang guru penjaga perpustakaan.


Andra mengerutkan keningnya dengan menatap Reyhan bersama raut bingung. “Lah, kok lo bisa tau? Emangnya pernah ngerasain ketabrak itu mobil segede gaban?”


Reyhan mendengus lalu memijat kening bagian sentralnya, kemudian mendongakkan kepalanya ke arah Andra yang duduk di hadapannya. “Eh, lo habis kebentur apaan sih sampe bisa Amnesia gini? Gue kan dulu pernah ketabrak truk di waktu enam bulan yang lalu!”


Andra langsung menepuk keningnya kencang. “Oh iya, deng! Gue lupa kalau lo pernah jadi korban kecelakaan mobil truk.”


“Dasar cowok pikun!”


“Enggak lo aja yang pikun!” balas Andra untuk Reyhan yang menatapnya sebal.


Kemudian Reyhan memutuskan kembali membaca buku novelnya yang ia sukai daripada harus berdebat dengan temannya tersebut. Sementara Jevran yang sangat ingin tahu sesuatu, memberikan tatapannya pada tetangganya yang berambut cokelat itu. “Rey. Gue mau tanya boleh?”


“Boleh. Nanya apaan, emang? Jangan soal tugas materi mata pelajaran, ye. Otak gue soalnya cetek bener,” jawab Reyhan dengan pandangan menghadap pada buku novel.


“Kalau ingat aja, sih. Waktu lo masuk ruang ICU gara-gara kecelakaan truk itu, elo ngomong apa saja sama Angga sebelum lo Koma?” tanya Jevran hati-hati.


Bibir Reyhan bungkam lalu beralih menarik wajahnya untuk menatap tetangganya. “Waktu masuk ruang ICU? Parah, itu obrolan yang udah lama banget, lho. Tapi it's okay, gue puter otak ke masa lampau dulu.”


“Widih, udah kayak pakai travelling time aja,” timpal Aji yang akan menyandarkan punggungnya karena merasakan pegal.


Angga yang menyimak para suara mereka hanya menggelengkan kepalanya lirih meski mata pandangannya berada di hadapan buku novelnya yang tengah dirinya baca. Sampai detik kemudian, Reyhan menjentikkan jarinya setelah mengingat-ingat percakapan ia dan Angga selama 10 menit.


“Mantap, gue udah inget! Jadi waktu di ruangan bau obat-obatan itu, gue ngomong sama Angga soal-”


Dengan cepat, Angga menyiku kencang lengan Reyhan yang berada di atas meja tepatnya dekat di buku novel sahabatnya. “Gak usah diceritain. Ngilu gue dengernya.”


Reyhan memegang lengannya yang telah disenggol kasar oleh Angga sang sahabat. Matanya melotot sempurna untuk Angga. “Sakit! Kenapa sih, lo?!”


Plak !


“Reyhan! Kepalanya Angga jangan dipukul! Kamu tau kan kalau kepala Angga masih mengalami cidera dan belum pulih total?!” berang Freya.


“Rasain tuh, Rey! Kena amuk pacarnya Angga, kan?! Situ suka gak ati-ati kalau mukul! Untung itu bocah nggak kenapa-napa,” komentar Jova.


Reyhan meringis takut pada amarah sahabat perempuan lucunya yang menatapnya sengit. “Maaf, Frey, sumpah reflek!” Lelaki humoris itu yang merasa bersalah langsung beralih menatap Angga kemudian mengusap-usap belakang kepala sahabatnya. “Aduh, sakit banget kah, Ngga?! Sumpah maafin tangan gue yang nakal, ye! Gak gue ulangi lagi, dah!”


Angga melepaskan tangan Reyhan dari kepalanya. “Gue nggak apa-apa. Wajar lo kesel, sampai mukul orang.”


Reyhan nyengir getir usai Angga melepaskan tangannya dan kembali membaca bukunya. Pukulan itu belum seberapa bagi Angga, maka dari itu dirinya merasakan pukulan Reyhan biasa saja. “Ini semua salah elo!”


“Lah? Kok gue sih, Rey? Kan gue cuman nanya tentang itu saja. Apa salah?” tanya Jevran setelah dikatakan oleh Reyhan sang tetangga.


“Ck! Udahlah! Intinya gue saat itu minta maaf sama Angga karena dulunya pernah menyembunyikan kejadian dimana gue selalu diteror sama Arseno. Detail?” Kini Reyhan yang gantian bertanya pada Jevran tanpa wajah murka melainkan lunak.


Jevran menganggukkan kepalanya dengan senyum. “Detail, kok. Thanks, ye udah mau jawab.”


“No problem, Bung.”


Beberapa menit kemudian, Joshua yang tengah sibuk meneliti sesuatu pada tulisan nang dikirimkan oleh wali kelasnya di dalam ruang grup aplikasi WhatsApp-nya. Memanggil semua temannya yang diam membaca buku. “Guys, kalian sudah baca yang dikirimkan pak Harry, belum tentang soal jadwal Ujian yang akan dilaksanakan satu minggu lagi?”


“Angga, lo sudah lihat dan baca jadwal informasi yang telah dikirimkan oleh beliau?” tanya Joshua dengan ramahnya pada sang teman pendiam.


“Sudah dari tadi.”


“Wah, hahaha! Emang gak bisa di herankan lagi, elo orangnya selalu gercep!” puji Joshua jangan lupakan senyuman lebarnya di bibir.


“Hm.”


‘Haduh ... sabar, sabar. Punya temen kayak Angga gini emang harus selalu ekstra sabar kali, ya? Tapi gue masih penasaran apa yang membuat Angga jadi kayak gini? Dari lahir emang sudah begitu, kah karena keturunan dari kedua atau salah satu dari kedua orangtuanya? Atau ada masalah pribadi yang buat temen pendiam gue ini memiliki watak begitu? Dingin bener orangnya kayak dua ribu pintu kulkas,’ batin Joshua panjang dengan masih menatap wajah dingin dan datarnya Angga yang tengah membaca buku novelnya.


Angga beralih menatap Joshua sekilas lalu dengan cueknya membaca buku novelnya kembali. Joshua yang diberikan tatapan non hangat itu, hanya membentuk bibir nyengir saja. “Rey? Lo sudah baca jadwal informasi yang dikirimkan beliau.”


Wakil kelasnya yang sebelumnya asyik membaca buku novel Thriller, kini menatap Joshua dengan senyuman ramahnya. “Belum, sih. Gue lagi enakan baca buku. Nanti kalau udah bel, dijalan ke kelas gue bakal baca informasi jadwal yang beliau kasih.”


“Sip!”


Reyhan yang hendak akan membaca bukunya lagi yang mana cerita alur tersebut begitu menegangkan, bola matanya terpusat pada Rangga yang termenung memikirkan sesuatu bahkan posisi pandangannya berada di langit-langit dinding. “Ga? Lo napa diem gitu? Lo lagi mikirin apaan, Cuy?”


Rangga mengembalikan posisi kepalanya ke semula dan sekarang kepalanya menoleh ke Reyhan yang menanyai anak lahir dari kota Bogor tersebut. “Gue lagi mikirin soal Vila puncak hutan yang pernah kita datengin.”


‘Vila puncak hutan? Apakah mungkin vila yang terbengkalai dan menjadi target untuk kami dijebak?’ tanya Angga dalam hati.


“Oh. Vila puncak hutan yang ada di Bogor itu? Vila yang menjadi jebakan kita ber-sepuluh dan akhirnya Angga yang jadi korban?” tanya Raka.


“Yup,” tanggap cepat Rangga.


“Untung aja itu nomer udah gue blokir dan hapus dari kontak, kalau kagak ... bisa-bisa ada kejadian gak diinginkan lagi buat kesekian kali,” timpal Andra.


“Hmmm ... heran deh, gue. Kenapa, vila bagus dan megah itu bisa menjadi tempat penghuni wanita hantu dan anak lelakinya? Itu bangunan penginapan, kan gak terbengkalai kayak di film-film gitu,” ujar Lala bingung.

__ADS_1


“Bener juga sih apa yang lo kata, La. Tapi pasti hantu sialan pembawa malapetaka buat Angga itu memang udah merencanakan perbuatannya. Dan, yang buat gue terheran-heran kenapa arwah cowok itu malah mengincarnya si Angga? Oke, gue tau karena Angga memiliki jiwa yang pemberani tetapi ada hal lain selain itu,” ucap Zara.


Rena yang sadari tadi hanya diam menyimak seluruh pembicaraan Joshua sampai ke Zara, membelalakkan mata dengan posisi mulut menganga lebar. “Apa jangan-jangan hantu cowok yang bilang aura Angga luar biasa, karena Angga ... anak Indigo?! Secara, hantu arwah nyebelin itu gak langsung terang-terangan kalau manusia yang jadi incarannya itu memiliki kelebihan indera keenam.”


“Setan mana ada terang-terangan, pasti langsung ke intinya lah, Ren. Tapi kalau dipikir-pikir setelah kamu ngomong, kayaknya kamu bener deh,” tutur Aji.


“Bener gimana, Ji?” tanya Rena dengan menyusutkan kening.


“Kalau temen pendiam kita ini adalah anak Indigo. Ya, meski aku gak tau pasti kalau si Angga memang Indigo,” tanggap Aji.


“Gimana, ya? Soalnya arwah hantu itu kayak pengen banget memiliki aura energi yang ada di dalam dirinya Angga. Tanya orangnya pasti jawabnya setengah,” cakap Andra yang menutup buku novel miliknya.


“Angga. Lo jujur aja aja, deh. Apa bener lo itu anak Indigo? Pemilik mata batin indera keenam?” tanya Raka to the point tanpa memedulikan Angga yang terjebak oleh situasi kondisi.


“Kenapa lo berpikiran gue anak Indigo?” tanya Angga dingin namun hatinya sangat getir bila semuanya terbongkar.


“Sepemikiran aja. Gue juga rada bingung dan aneh aja sama itu percakapan dari hantu serem cowok yang ada di dalem vila, sebelum kami meninggalkannya untuk selamanya. Terlebihnya lagi, elo itu selalu aja tertutup, pendiam, apa-apa suka menyendiri di tempat sepi. Lo mau ke tempat rame kalau diajak sampe dipaksa-paksa ya, kan?”


Angga menghela napasnya panjang tanpa mata pandangan mengarah ke Raka, melainkan menunduk. “Gue bukan anak Indigo. Gue kayak gitu karena ini memang sudah dari kriteria gue yang asli.”


Reyhan menatap Angga sendu. ‘Gue tau kalau lo lagi bohong sama Raka, Ngga. Tapi gue di sini ngerti, elo nggak mau semua rahasia itu terbongkar ke mereka semua kecuali dua sahabat lo ini dan kekasih lo.’


“Jujur saja, Bro. Lo kalau misalnya jujur, kami nggak kenapa-napa, kok. Gue malah seneng kalau punya seorang temen Indigo, sudah berangan-angan dari dulu pengen punya temen yang punya jiwa spiritual dan supranatural, hahaha!” pinta Aji.


Angga hanya menghela napasnya kembali dengan mata terpejam untuk menenangkan diri. Sementara Jevran tersenyum tipis. “Ehm ... meski gue agak bingung tentang Indigo yang lebih mendalam, tapi kami bersyukur karena kemungkinan besar elo bisa mencegah kami dari marabahaya dan kejahatan yang melanda.”


Sementara Freya sang kekasihnya Angga terus menatapnya dengan lekat. Gadis Nirmala tersebut bisa tahu dan peka bahwa saat ini lelakinya tengah mempertimbangkan akan menjawab jujur atau tetap berbohong. Reyhan yang ada di tepat sebelahnya Angga, menyentuh pelan lengan sahabatnya bersama campur senyuman lebarnya.


Angga yang disentuh oleh Reyhan, hanya menolehkan kepalanya lambat tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. ‘Jujur saja, gakpapa. Mereka orang yang baik, kok. Jadi mereka gak akan berbuat macem-macem sama lo kayak misalnya kuasa Indigo elo disalahgunakan oleh mereka.’


Angga menolehkan kepalanya kembali ke semula yaitu menunduk menghadap buku novel yang posisinya terbuka dan terdapat banyak tulisan alur cerita di dalam. Lelaki tampan itu, kemudian memejamkan matanya, mencerna batin ucapan Reyhan tadi untuknya. Memang sebenarnya, kesemua temannya Angga memiliki aura yang sangat baik, dan hebat menutup mulut atau rahasia.


Tetapi di sini Angga sedang mempertimbangkan mau tetap berbohong atau jujur sepenuhnya pada kesemua temannya yang setia menanti jawabannya yang keluar dari mulut. Seketika ada suatu naluri yang ada di dalam hatinya, ia mendongakkan kepalanya lurus ke depan lalu menegakkan badannya. Angga menarik napasnya panjang-panjang lalu menghembuskannya. Dirinya membuka kedua matanya sementara kesemua temannya menatap ia serius termasuk kedua sahabat dan sang kekasihnya.


“Ya. Gue adalah anak Indigo. Sudah puas kah, kalian?”


Para temannya membelalakkan kedua matanya dengan mulut menganga lebar. Bahkan ada beberapa temannya mengedipkan matanya saking terkejut serta nyaris tak percaya ungkapan jawaban apa yang keluar dari mulut Angga.


Angga menghembuskan napasnya. Dirinya merasa tak ada sesal di hatinya untuk berkata jujur pada mereka, sedangkan seperti Reyhan, Jova, dan Freya hanya mengulum senyuman menawannya.


“Wah! Sudah gue duga, dong! Lo emang anak Indigo!”


Angga menatap Aji datar. “Lo boleh menyebut gue 'anak Indigo' tapi jangan terlalu keras. Bagaimana kalau lainnya mendengar suara lo itu selain kita semua yang ada di dalam perpus?”


Aji langsung menutup mulutnya dengan cengengesan. “Eh, maaf-maaf! Saking semangat dan senengnya, soalnya.” Aji lalu melepaskan tangannya dari mulutnya. “B-berarti jika lo memiliki kelebihan luar biasa itu kayak di suatu film atau buku novel, elo sendiri bisa melihat masa lalu dan masa depan orang lain?”


Angga membungkamkan bibirnya kemudian menganggukkan kepalanya pelan tanpa ada senyuman yang terlihat. Temannya itu nampak bahagia dan seperti ingin menyuruh sesuatu padanya. “Wah, hebat! Coba lo bacain masa lalu gue. Cuman ngetes aja, lo emang Indigo atau bukan.”


“Oh! Lo meremehkan kemampuan yang ada di dalam diri sahabat gue?!” ucap Reyhan agak keras dengan menatap sinis Aji.


Aji menggelengkan kepalanya cepat. “Enggak! Bukan gitu, Bro. Lo jangan salah paham dulu, gue cuman mau ngetes kelebihannya Angga aja, kok. Sumpah, gue gak bermaksud buat remehin Angga.”


“Cukup,” pungkas Angga.


“Coba lo sekarang tatap mata gue sebentar, supaya gue bisa membaca masa lalu lo. Tapi kalau apa yang gue lihat dan baca salah, gue minta maaf,” sambung Angga yang dibalas anggukan Aji.


Mereka selain Aji nampak asyik mengamati Angga yang seperti sedang menerawang dan membaca masa lalu Aji. Entah masa lalu yang apa, intinya sedapat lelaki tampan Indigo itu saja. Beberapa detik Angga menerawang, kini posisi Angga menyandarkan punggungnya tanpa berpaling dari Aji.


“Kalau gue bacakan, yakin lo gak malu?” tanya Angga.


“Hah? Malu? Buat apaan gue malu segala? Gue cowok kali, buat apa malu?”


Aji sedikit kaget melihat Angga yang menarik sudut bibir bagian kirinya. “Oke. Dulu waktu masih SD, lo suka ngajak tawuran sama adik kelas dan kakak kelas, kan? Tawuran tanpa alasan sebab yang jelas.”


“Eh, anjir! Bener, Coy!”


Semuanya menatap Aji dengan tampang muka terkejutnya kecuali Angga yang menatap Aji kembali dingin serta datar. “Aji! Beneran apa yang Angga bilang barusan?!”


Aji menoleh ke Lala. “Hehehe! Iya, La. Dulu waktu SD aku emang suka main tawuran dengan adek kelas begitu juga kakak kelas. Mana itu yang aku ajak tawuran kakak kelas lima dan enam, pula.”


Reyhan tertawa dengan menggelengkan kepalanya. “Anjir! Gilak parah, lu! Kakak kelas tingkatan tinggi lho itu. Bisa-bisanya otak elo dulu cetek amat, kena hukum guru gak, tuh?”


Aji menghela napasnya. “Ho'oh. Dikasih hukuman berat, sih. Suruh ngepel lantai setiap halaman kelas, nyiramin semua tanaman yang ada di deket koridor sekolah, sama bersihin perpustakaan kecil. Pulang gue yang harusnya jam dua belas siang, malah jadi jam tiga sore. Habis, kan gue dimarahin mami dan papi gue.”


Beberapa temannya tertawa kecuali Angga dan Kenzo yang sama-sama kaku seperti patung. Itu bukan masa lalu kelam malahan, tetapi masa lalu yang penuh gokil serta lelucon nang menjadi nasib apesnya si Aji.


“Bukannya tadi lo bilangnya gak malu sama masa lalu konyol elo itu? Kenapa sekarang justru malu?” Angga bertanya pada Aji.


Aji mengernyitkan dahi. “Lah? Kok lo bisa tau kalau gue sekarang lagi malu? Tau darimana, Beku?”


Angga mendengus pelan. “Gue habis baca pikiran lo.”


Aji menepuk keningnya lumayan keras. “Oalah! Gue juga lupa kalau lo orang Indigo. Hehe, sori-sori. Ya, kalau itu sih gue tadi karena gengsi sama masa lalu memalukan itu. Tapi don't worry, gue gak seperti itu lagi, kok. Cara pemikiran gue waktu kecil, kan masih dangkal gak seperti sekarang. Cara pemikiran gue udah dewasa, jadi masalah sepele gitu kalau lagi kesel ... yah, mending dipendam aja walau tong sampah jadi korban karena dari depakan gue.”


“Iya kalau yang lo tendang tong sampah. Kalau kucing? Yang ada Dosa lo bertambah satu,” tukas Reyhan lalu kembali tertawa.


“Gak mungkin, lah kucing yang sampe gue tendang. Sama meong aja gue takutnya setengah mati,” ketus Aji jujur membuat Ryan melontarkan cemooh untuk temannya.


“Bencong tulen lu, Ji. Sama kucing doang, masa takut? Katanya jantan, kok kayak betina?”


“Emang bocah guguk lo, Yan! Heh, asalkan lo tau, ya! Gue takut karena bukan dari bulunya yang selembut badan ulat sutra, tapi kukunya itu, lho yang bikin gue merinding sekejap mata! Tampang rupanya sih menggemaskan, tapi kukunya mengerikan bak kuku jarinya psikopat Freddy Krueger.”


“Keseringan nonton film Thriller Barat 'A Nightmare on Elm Street', lo. Terforsir sama terbayang-bayang dah, tuh otak lo. Sampe kucing aja lo takuti padahal gemoy banget kayak Freya,” buras omong Reyhan.


“Ih! Reyhan, mah. Masa aku disamain sama kucing, sih? Katanya Angga aja perbedaan kucing sama manusia jauh banget bagaikan bumi dan langit.”


Angga menolehkan kepalanya ke samping menatap kekasihnya yang tengah mengomeli Reyhan sang sahabat humoris serta Friendly-nya. “Kenapa aku yang dibawa-bawa, sih?”


“Kan, memang begitu,” jawab Freya dengan memberikan tatapan hangatnya pada Angga kemudian mengeluarkan cengengesan suara mulut.


Wajah polos yang menggemaskan itu, membuat Angga terangsang meraih pucuk kepala pacarnya untuk mengusap-usapnya lembut dengan senyumannya. Hal itu para sahabatnya dan para temannya yang memperhatikan sepasang kekasih itu, seketika baper bukan main. Namun hati mereka juga terenyuh haru karena Angga dan Freya rupanya yang dulu hanya sebatas soulmate sahabat, sekarang berubah menjadi kekasih yang saling melengkapi.


Dan... Di dalam hati Angga, sungguh benar-benar tak ada rasa sesalan apapun yang meliputi hatinya terutama setelah mengatakan kejujurannya pada kesemua temannya bahwa dirinya adalah sosok manusia Indigo. Benar, aura para mereka tak ada yang mendominasi ketaksaan sekecil pun saja. Karena aura yang dimiliki mereka adalah profitabel.

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2