Indigo

Indigo
Chapter 84 | Morning Caution


__ADS_3

Di suatu ruangan khusus membaca buku yaitu perpustakaan di dalam bangunan SMA Galaxy Admara. Nampak kesemuanya yang membaca buku sebagian ada yang sedikit merumpi menatap Angga nang suka sering bungkam mulut. Mereka yang duduk di sekitarnya Angga memandangi muka lelaki pendiam itu yang tidak ada ekspresi apapun sementara fokusnya Angga berada di sebuah buku novel yang sedang ia baca.


“Tumben lo mau kumpul-kumpul bareng di perpus?” tanya Reyhan menggeser tempat agar bahunya menyenggol pundak kiri Angga, bahkan pemuda friendly itu menampilkan senyuman nakalnya.


“Gue gak akan mau di sini kalau bukan lo yang maksa,” tanggap dingin Angga.


Reyhan menghela napasnya panjang yang sementara teman-temannya menatap Angga dengan wajah biasanya ialah muka lara. Sampai sekarang mereka yang bukan sahabatnya Angga tak tahu apa yang terjadi di latar belakangnya Angga, tapi ada sebagian yang mengira karena sifat dari lahirnya.


Angga melirik tajam Reyhan. “Geser, sempit!”


Reyhan memanyunkan bibirnya mendengar suara lantang Angga yang menyuruh dirinya bergeser tempat seperti semula. Namun bukannya menuruti titah Angga, Reyhan malah justru memeluk tubuh Angga dari samping dengan wajah gaya alay-nya.


“Ya ampun Abangku Sayang, jadi orang jangan garang-garang kayak Kraken, napa?”


Angga tahu sikap Reyhan yang memeluknya sedang menunjukkan sikap berlebihannya alias lebay. Merasa risih dan geli pada ucapan sang sahabat, Angga balik melemparkan sebuah kata penuturan yang membuat Reyhan langsung menyingkir dari pemuda itu.


“Gue bantai, lo! Lepas gak?!”


“Anjay, sadis amat ini sobat Kunyuk Sutres satu ...” ujar Aji menggelengkan kepalanya dengan suara mendesis.


“Makhluk mitologi lo bawa-bawa,” celetuk timpal Jevran yang menutup buku novel miliknya.


“Eh anak bunda Kirara! Diem dah lo, gak usah banyak nyocot!” seru Reyhan dengan menatap sebal tetangga sebrang rumahnya.


“Iya anak mama Jihan.”


Reyhan menuding Jevran dengan jari telunjuk tangan kanannya. Sepertinya mereka berdua akan berperang mulut di dalam ruang perpustakaan yang sudah diberikan peraturan untuk tidak diperkenankan bising. “Woi! Malah nyerang balik!”


“Apa lo? Nggak terima, hah? Lagian itu makhluk mitos pake acara lo sebutin segala.”


“Bilang apa lo barusan? Makhluk mitos?? Oi! Itu makhluk hewan raksasa gurita laut yang nyata, bego! Semua makhluk yang freak pasti lo kasih nama mitos! Untung aja temen-temen lo di sini gak ada yang lo kasih mitos.”


Rangga yang mendengar adu mulut Reyhan dan Jevran langsung mengetuk-ketuk meja dengan jari-jemari tangan kirinya. “Woi itu dua tetangga komplek Kristal! Ribut ae kayak singa sama harimau yang rebutan jadi raja Rimba di hutan bebas.”


“Heh! Lo juga tetangga kami!” kompak Reyhan dan Jevran serentak sambil menoleh ke arah Rangga bersama tatapan kesal.


“Gini dah biar puas. Gue kasih lo berdua benda tajam kek golok dan parang biar sekalian bunuh-bunuhan aja! Di sini tuh nggak boleh berisik, anjir.”


Reyhan begitupun Jevran seketika diam menghentikan perang mulutnya saat mendengar ucapan Kenzo yang mengerikan. Dengan tampang sengit mereka berdua duduk anteng tanpa mengeluarkan suara lagi. Hingga pada tibanya Raka mengajukan beberapa pertanyaan kepada Angga.


“Angga, gue mau tanya penting sama lo. Lo kenapa suka sering diem gini, Ngga? Bahkan kalau kami perhatikan, lo tertutup banget orangnya. Itu karena sifat lo dari lahir atau gara-gara masalah? Kayak masa lalu waktu kecil?”


“Misalnya seperti hal yang mana bikin lo sakit hati mungkin sampe lo bisa kayak gini. Oh atau karena perkara soal pembullyan yang di SD Bakti Siswa?! Karena permasalahan konflik itu beredar ke berita-berita sosial media internet dan TV.”


“Elo dulu bersekolah di situ, Ngga? Banyak banget bilang kalau di sekolah itu sebelumnya punya satu siswa yang di anggap sakit jiwa karena bisa lihat-lihat suatu sosok yang gak kasat mata gitu, sampai viral woi di berita waktu itu.”


Angga memejamkan matanya, kedua telapak tangannya saling mengepal di mana tangannya tersebut tengah memegang buku novel yang sedang Angga baca. Ia tak menyangka permasalahan yang membuat pemuda itu trauma ekstrim sampai menyebar ke seluruh berita televisi bahkan viral di sosial media.


Tanpa sadar Angga mengeluarkan air matanya dalam mata yang ia pejamkan. Sampai tiba-tiba...


BRAK !


Ketiga sahabatnya dan seluruh teman-temannya terkejut pada Angga yang menggebrak meja. Angga kemudian menutup buku novelnya dan pergi lari meninggalkan ruang perpustakaan bersama langkah kaki panjang besarnya.


“Eh wey Angga! Lo mau pergi kemana?!” teriak Reyhan yang sedangkan Angga telah tak ada di dalam ruang perpustakaan.


Reyhan yang sudah terlihat sangat sehat dari semenjak kemarin-kemarin, segera bangkit dari kursi tak lupa mengembalikan buku novel yang Angga baca tadi ke rak buku khusus genre Horor. Reyhan berlari mengejar sahabatnya. Freya dan Jova yang melongo menatap kepergian Reyhan menjauh dari ruang perpustakaan, dua gadis cantik tersebut ikut mengejar Reyhan begitupun serta Angga yang tak tahu pergi ke arah mana.


“A-aduh! Angga kenapa, ya?! Kok tiba-tiba aja langsung kabur dari perpus?! Apa gue salah sama dia tadi soal masalah pembullyan sekolah SD itu yang beredar di berita?” tanya Raka dengan hati ketar-ketir.


“Gue nyusul mereka aja dah!” Raka yang hendak berdiri, tangannya langsung dicekal oleh sang ketua kelas XI IPA 2. “Udah! Lebih baik lo di sini aja sama kami, biar itu jadi urusan pembicaraan pribadi mereka berempat.”


Raka menghela napasnya dengan lesu kemudian kembali duduk. Lala yang celingak-celinguk melihat luar ruangan seketika menjadi penasaran apa yang terjadi dengan Angga. “Masa Angga pernah dibully? Dih, cowok ganteng cool kayak dia nggak mungkin yang namanya kena korban pembullyan, apalagi itu cowok macho. Gak percaya gue, deh.”


Rena ikut menimpali ungkapan Lala, “Angga kan cowok pemberani dan tangguh, mustahil kalau pernah jadi korban bully masa SD dianya dulu- eits bentar! Eh La, kok perasaan gue denger lu penasaran sama Angga, yak? Hayo, jangan bilang lo naksir sama cowok tiang itu, lagi!”


“Apaan sih lo, Ren?! Gak jelas tau!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Galaxy Admara - Kelas XI IPA 2


Seluruh di tangan kanan Angga bergetar saat sang empu membaca tulisan berita tentang masalah perkara itu yang terjadi di SD Bakti Siswa sekolahnya dulu, tempat dimana dirinya bersekolah di sekolah dasar berjulukan 'Tekanan Lahir Batin'. Angga yang sudah tidak kuat membacanya karena itu membuat otaknya kembali terputar ke masa lalu kelamnya, langsung meletakkan ponselnya di atas meja bangkunya dengan tidak santai. Angga menenggelamkan wajah tampannya di atas tumpukan kedua tangannya.


Keadaan kelas terlihat sepi tak ada orang selain Angga di dalam sana, dikarenakan ini masih jam istirahat. Kini Reyhan, Freya, dan Jova telah tiba menginjak kelas mereka. Kontak mata ketiga remaja berwajah paras sempurna tersebut langsung terpusat pada Angga yang membenamkan mukanya di bangkunya.

__ADS_1


Reyhan melangkah mendekati sahabat Introvert-nya kemudian usai ada di samping kirinya, Reyhan menyentuh pelan punggung Angga dengan muka sedihnya meskipun lelaki itu mengukirkan senyumannya. “Ngga ...”


Tak ada respon dari Angga sama sekali, bahkan tak ada gerakan tubuh sebagai jawabannya. Freya yang sudah duduk di kursi bangkunya, gadis itu memutar tubuhnya ke belakang bangku sahabat kecilnya kemudian mengelus-elus lengan tangan kirinya yang ada di bawah tangan kanannya.


“Angga, Raka nggak bermaksud seperti itu, kok. Maafin Raka ya, Ngga? Aku tau mungkin segala omongan Raka tadi di perpustakaan buat kamu terungkit masa lalu-mu ...”


Sedangkan Jova yang diam tak tahu harus berbuat apa pada Angga agar tak seperti itu, gadis tersebut menilik layar ponsel Angga yang tertera banyak tulisan dengan background putih blangko. Jova yang menduga itu adalah sebuah bacaan berita, langsung mengambil handphone sahabatnya dan mulai membacanya karena rasa penasaran di jiwanya meninggi.


‘Oh jadi berita ini beneran ada? Tanya Reyhan ah coba, dia kan paling aktif kalau soal berita-berita gitu.’


Sahabat friendly-nya yang sedang berusaha menenangkan pikirannya Angga dengan menepuk-nepuk punggungnya, Jova tarik tangan satunya agar agak menjauh dari tempat Angga duduk. Reyhan mengerutkan keningnya dan menaikkan dagunya bertanya ada apa. Sesudahnya, Jova memperlihatkan layar HP milik Angga.


“Berita ini sungguh beneran nyata? Tadi aku baca, emang kasus itu terjadi di SD Bakti Siswa sekolahnya Angga dulu. Kalau menurutmu aja nih Rey, emangnya sahabat kita satu itu pernah masuk berita sini, ya?”


Reyhan membaca berita tersebut dengan intens lalu menatap mata gadis sahabatnya. “Aku kurang tau, jujur aja aku baru tau tentang berita yang beredar itu. Udahlah Va, lagian juga itu berita yang lawas. Ngapain dibicarain?”


“Ih tapi meskipun begitu, tetap aja dong Angga masih inget. Aku yakin banget mereka-mereka itu yang sudah buat Angga trauma, dan tertutup banget kayak gini. Kita bertiga harus bagaimana dong sama Angga? Biar dianya juga bisa membuang masa lalunya itu dari benaknya.”


“Bukan membuang tapi terbuang. Ada satu caranya supaya Angga mampu ngelupain masa lalu bejatnya itu.”


“Hah ... apa, Rey?! Cepetan kasih tau!” seru Jova dengan mata berbinar.


“Angga harus Amnesia dulu, itu satu-satunya cara paling manjur menghilangkan memori kisah masa lalu gelapnya.”


Mata yang berbinar itu berubah cepat menjadi bola matanya yang mencuat karena terkejut atas jawaban Reyhan yang pemuda tersebut lontarkan. Karena kesal, Jova tak segan-segan mencubit kuat pinggang sahabatnya dengan geram.


“Argh!” Reyhan spontan jongkok dengan memegang pinggangnya yang sudah dicubit dengan kedua tangannya. Reyhan mendongakkan kepalanya ke atas untuk menatap Jova setajam-tajamnya bersama perkataan umpatan.


“Cewek sumpret! Bisa jadi gagal ginjal, nih aku lama-lama. Keras banget sih kamu nyubit-nya! Adududuh!”


“Hm! Mangkanya kalau ngomong lain kali disterilkan dulu! Kalau Angga Amnesia, gimana masa kininya? Dan pastinya dia gak inget kita semua lagi dong, otak kok gak pernah dibuat jalan yang bener! Payah!”


“Itu tergantung, geblek! Sementara atau permanen! Kalau sementara itu berarti suatu saat memori hilangnya Angga yang ada di otak bisa kembali, tapi sedangkan kalau permanen, selamanya pun gak akan balik memorinya! Ngerti kau, hah?!”


“Bodo amat!”


Reyhan mendengus seperti banteng yang melihat kain merah nang ada di depannya. Di sisi lain, Angga mengangkat kepalanya dengan gerakan lemas bahkan mukanya begitu suram. Tatapan mata Angga yang sayu terbentur pada pandangan mata Freya nang tengah menatapnya teduh, begitu lelaki itu menatapnya, Freya tersenyum meringis yang memperlihatkan deretan gigi rapi putihnya bagian atas.


“Sudah murungnya?” tanya Freya yang dibalas Angga memalingkan bola matanya dari tatapan sahabat kecilnya.


Freya yang sudah meletakkan kotak bekalnya di atas meja bangku Angga, kemudian satu tangannya membuka tutupan kotak bekalnya. Di dalamnya terdapat banyak jumlah biskuit coklat yang aromanya sangatlah membuat tergugah selera, namun Angga hanya menatapnya saja.


“Aku minta dong biskuit coklatnya, kayaknya enak banget tuh kalau di caplok.”


Freya menoleh ke arah Reyhan yang bersuara, tapi gadis itu kemudian melebarkan kedua matanya. “Eh kamu lagi sakit mules, Rey?! Kok kamu jongkok gitu??”


“Mules darimana? Orang aku habis diserang sama kepiting wujud manusia. Noh, yang ada di sebelahku,” ucap Reyhan nada melas.


“Bacot! Ku depak juga itu-mu!” ancam Jova sambil mengangkat satu kakinya.


Freya tak menghiraukan ucapan 'bacot' dari Jova, karena dari perkataannya sudah terdengar kalau itu adalah ungkapan kasar, dan mestinya kalau gadis polos tersebut menyebutnya Angga akan memberikan protes ataupun nasihat untuknya. Perempuan cantik berwajah kalem itu mendorong kotak bekalnya hingga menyentuh lengan-lengan tangan Angga yang masih ada di atas meja.


“Ini lezat banget loh, Ngga. Sayang bener kalau kamu nggak nyobainnya. Cobain dan rasain deh, pasti kamu bakal ketagihan.”


Angga cuma diam tanpa gerak untuk mengambil satu biskuit coklat yang Freya bawa dari rumah. Gadis itu yang melihat tampang datar Angga meskipun raut mukanya suram, menarik kedua sudut bibirnya menjadi senyuman lebar yang merekah di wajah cantik jelitanya.


“Ayo dong, Ngga. Masa kamu tega sih aku yang habisin semua biskuit ini? Gak muat di perut, jadi tolonglah bantuin abisin biskuit coklatnya. Oke-oke?”


Angga menghela napasnya dengan posisi mulut sedikit terbuka, mendengar rayuan dari sahabat kecilnya yang satu komplek apalagi tetangga dengannya, membuat Angga hanya bisa pasrah dan mulai mencomot satu biskuit coklat yang ada di dalam kotak bekal pink fanta Freya. Lelaki tampan berkulit putih tersebut lalu menggigit setengah biskuit bentuk lingkaran itu kemudian mengunyahnya.


“Gimana rasanya? Enak, nggak?” tanya Freya dengan suara lemah lembutnya.


Angga mengangguk jujur dengan sedikit mengukirkan senyuman tipisnya yang dirinya patri. Melihat ekspresi sahabat lelaki kecilnya yang suka pada kelezatan biskuit lingkaran coklat buatan Rani, Freya bertepuk tangan ria.


“Horeee! Yasudah nih, kamu habisin aja semua biskuitnya. Kata mama rasa coklat ini mampu bikin yang bad mood jadi good mood, lho. Nah mangkanya biskuit ini cocok buat kamu makan, siapa tahu pikiran beratmu jadi ringan dan rileks.”


“Makasih ya.”


“Woi-woi! Enak aja biskuitnya lo habisin semua! Bagi-bagi gue dong!”


“Eh aku juga mau biskuit coklatnya!”


Reyhan yang jongkok, gesit berdiri dan menarik kursi bangkunya ke dekat meja bangkunya milik Angga begitupun Jova juga seperti apa yang Reyhan lakukan. Reyhan setelah itu merangkul sahabat pendiamnya dengan tatapan fokus melihat beberapa biskuit coklat yang masih banyak di kotak bekalnya Freya.


“Widih mantap ini mah! Aromanya khas masakan chef andalan yang profesional, Bro!” Rangkulan dan suara cerianya dari Reyhan bisa Angga baca bahwa sahabatnya itu tengah sedang berupaya menghiburnya dari ingatan masa lalunya.

__ADS_1


“Santai, kalian bakal kebagian kok biskuitnya. Bagaimana kalau sekarang kita makan bersama-sama saja? Mumpung bel masuknya masih lama. Sayang juga hihi kalau biskuit coklatnya tersisa nggak ada yang melahapnya.”


“Wah! Kamu mah emang baik pisan, Frey. Saatnya kita serbuu!”


Reyhan langsung menyambar dua biskuit coklat tersebut dari dalam kotak bekal lalu kemudian memasukinya ke dalam mulut dua biskuit sekaligus. Freya yang melihat aksi Reyhan makan terburu-buru saking laparnya segera memberi peringatan padanya. “Ya Allah Rey, makan-nya yang pelan-pelan. Nanti takutnya malah bisa jadi tersedak, lho.”


“Halah! Sudah biasa itu, Freya. Lagian cowok itu emang bandel kayak noda baju, nanti kalau kejadian baru tau rasa!” tukas Jova sambil menggigit biskuitnya.


“Opoon soh komo?! Orong logo mokon jogo! (Apaan sih kamu?! Orang lagi makan juga!)”


“Telen dulu baru ngomong!” damprat Angga sambil menjitak kepala Reyhan rada keras.


Freya dan serta Jova tertawa kompak, kemudian melanjutkan kegiatan makan cemilan sehatnya. Angga pula tidak protes tengkuknya terus dirangkul Reyhan dengan rasa persahabatan sejatinya. Hingga Jova yang sedari tadi tak melemparkan ucapan pada Angga kini dirinya baling-kan.


“Angga, soal tadi jangan kamu buat pikir, ya? Aku tau kok gimana perasaan hatimu pas di ruang perpustakaan. Dan aku harap kamu suatu ketika bisa melepaskan los dari semua hal suram itu. Tenang, Ngga ... sekarang duniamu bukan duniamu yang dulu, kami bertiga yang bersahabat denganmu akan selalu ada buatmu.”


“Betul Ngga, bermulai lah dengan dunia baru lo ini. Udah waktunya lo harus mencoba membuang masa lalu gak berguna itu dari memori otak lo, oke?”


“Ada yang perlu kamu ingat, Ngga. Di rumah, ada om Agra sama tante Andrana yang ngasih perhatian denganmu. Dan diluar, kami bertiga yang gak akan lepas mendampingi kamu buat terus semangat menjalani hari dan hidup. Ngasih hiburan itu juga pastinya. Iya kan, Va? Rey?”


“Yoi dong!” seru serentak mereka berdua secara bersamaan.


“Kamu itu ganteng, Ngga. Jadinya kalau kamu setiap hari always smiling di depan umum pasti aura tampanmu memancar sampai ke ujung dunia!”


“Jangan berlebihan, Va. Emangnya kamu pikir aku seorang malaikat yang bisa kayak gitu?”


“Oh ya ampun! Kamu itu manusia berhati malaikat! Disakiti, dilukai seperti apapun kamu masih mau memaafkan kesalahannya. Sama yang bikin aku terpukau, semasa kamu dihancurkan harga martabat di SD, kamu tetap bertahan sampai akhir kelulusan. Wow, kamu emang gak ada tandingnya deh sepertinya. Kebanyakan yang diperlakukan gak senonoh begitu, endingnya bakal bunuh diri.”


“Bunuh diri? Aku masih punya akal yang sehat. Apa istimewanya melakukan aksi bodoh itu? Ngelakuin hal yang nggak waras seperti itu, sama saja mendahului kodrat dari Allah. Malah justru menambah sebuah Dosa besar dan menjadi penghuni ahli Neraka.”


DEG !


Bola mata antara Freya, Jova, dan Reyhan saling mencuat karena terkejut pada ucapannya Angga. Mereka bertiga baru mengerti dan paham kalau bunuh diri itu rupanya ada hukumnya. Mulut Reyhan seketika terbungkam cepat dan layaknya bak tergembok oleh kunci.


‘Dosa besar? Penghuni ahli Neraka?! Astagfirullah, apa yang salah dengan gue waktu di rumah sakit?! Gue hampir saja melakukan aksi yang mengakhiri nyawa diri sendiri. Ampuni hamba-Mu ini Ya Allah ...’


‘Dan lagi-lagi seorang Anggara Vincent Kavindra berhasil menyelamatkan orang apalagi kayak gue yang ngelakuin hal sesat kek dulu.’


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Hari Kamis yang tiba. Pagi sebuah matahari menerobos memasuki kamar Angga yang mana pintu balkonnya sudah lelaki itu buka, hingga saat tengah mengangkat tas ranselnya, terdengar suara ringtone ponselnya yang bergetar. Angga segera memungut HP-nya di atas kasur Spring Bed-nya lalu menggesekkan layarnya pada tombol hijau untuk mengangkatnya.


...----------------...


...REYHAN...


Assalamualaikum Abang Ganteng!


^^^Waalaikumsalam. Napa pagi-pagi udah nelpon? Gue mau berangkat ke sekol-^^^


Ya taulah gue. Eh Bro, kita kan jarang tuh berangkat bareng ke sekolah, mending berangkat bareng yok hari ini!


^^^Boleh. Dimana?^^^


Nggak usah dimana-mana, gue sudah ada di depan rumah lo soalnya. Cepetan turun, nanti bisa telat ke sekolahnya! Bye, I'll wait!


...----------------...


Angga menghembuskan napasnya saat Reyhan memutuskan sambungan teleponnya, tanpa berlama-lama pemuda tersebut yang sudah siap-siap berangkat ke sekolah, langsung menenteng tasnya di bahu kanan dan melangkah menuju keluar kamar.


Setelah Angga berpamitan kepada Agra dan Andrana serta menyalami tangan kedua orangtuanya, lelaki itu membuka pintu rumahnya tak lupa menutupnya kembali.


Klap !


Dilihatnya usai Angga mengeluarkan motor Vario hitamnya dari terasnya, ia menatap Reyhan yang berada di atas motor kesayangannya dengan memakai jaket abu-abunya tanpa motif. “Yok, gas!”


Angga menganggukkan kepalanya sesudah mengenakan helmnya sebagai pengaman kepalanya. Kedua lelaki itu menyalakan mesin motor tersendiri-nya kemudian mulai melaju keluar meninggalkan gang komplek Permata. Di dalam perjalanan menuju ke sekolah, mereka berdua mengambil jalur arah jalan yang sama dimana tempat jalan pintas atau JL. Jiaulingga Mawar.


Alasannya satu mengapa tak melewati jalan kota, dikarenakan Angga dan Reyhan tak ingin terjebak sebuah macet di jalan padat tersebut yang mengakibatkan mereka terlambat datang ke sekolahnya.


Jalan yang mereka lintasi bersama nampak senyap sekali bahkan tak ada pengendara lain selain mereka. Hingga suatu kendala membuat dua sahabat tersebut mengerem motornya. Angga begitupun Reyhan mengernyitkan dahinya pada dua pria yang menghadang jalan mereka berdua. Tak bukan hanya itu saja yang buat kedua pemuda tersebut menghentikan motornya namun juga suatu tali panjang yang diikat di pohon besar yang saling bersebrangan.


Angga melepaskan pengait helmnya dan turun dari motornya juga dengan Reyhan yang mulai familiar pada dua pria tersebut. Hingga pada akhirnya dua pria yang berotot itu berbalik tubuh menghadap belakang. Reyhan dan Angga sangat terkejut bukan main saat melihat senjata tajam masing-masing dari mereka ialah pisau belati beserta kapak yang mereka genggam.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2