Indigo

Indigo
Chapter 172 | Resentment


__ADS_3

Keenam remaja yang masih di dalam mobil Xenia abu-abu, tersadar dari pingsannya. Diluar tepatnya di depan mobil nampak berasap karena hantamannya di tembok tersebut sangatlah keras. Tetapi beruntung sekali mereka tidak mengidap luka yang serius akibat dari kecelakaan tunggal itu.


“Auw, kepalaku sakit ...” rengek Freya sambil memegang kepalanya yang telah terbentur depan kursi nang diduduki oleh lelakinya.


Jova yang merintih kesakitan, menolehkan kepalanya ke arah sahabat lugunya yang mengeluh pada kepalanya nang terbentur itu. Gadis Tomboy tersebut meraih tubuh mungilnya Freya untuk memastikan kondisinya.


“Freya?! Kamu nggak apa-apa, kan? Mana lukanya?!” cemas Jova seraya melihat seluruh tubuh sahabatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Freya menggelengkan kepalanya. “Gak ada luka sama sekali, kok ... kepalaku tadi cuma terbentur di badan kursi ini saja.”


Jova menghembuskan napasnya lega lalu menatap teman-temannya satu persatu yang juga merintih kesakitan pada tubuhnya nang terkena benturan sesuatu. “Guys! Kalian okay? Ada yang terluka, gak?!”


“Sans, gue nggak terluka. Hanya saja, ini tangan gue agak kejepit sisi kursi kemudi Reyhan doang. Untung gak ada cedera atau patah tulang,” ungkap Rena.


“Ssssh! Truk Sialan, emang! Napa juga, sih itu dua mobil menghadang jalan mobilnya Reyhan?! Kan kita berdelapan jadi kena musibah kecelakaan! Untung ae gak terlalu parah,” protes Lala menggerutu.


Aji mendesis dengan mengusap tepi kepalanya yang terasa begitu pusing usai kepala miliknya terbentur pada badan kursi yang diduduki oleh Freya. “Duh, Ngga! Lo asal banting-banting stir, sih! Pusing banget nih sekarang pala gue!”


Pandangan Jevran terlihat menunduk dengan menahan rasa sakitnya pada salah satu tulang bahunya. “Enak banget, tuh si Kenzo. Nggak dapetin musibah seperti kita berdelapan. Paling udah bablas sampe ke kota Jakarta. By the way, lo berdua yang duduk di depan sendiri, nggak kenapa-napa, kan?”


Tak ada jawaban dari Angga dan Reyhan. Freya melepaskan tangannya yang memegang kepalanya lalu mulai menatap kekasihnya dan juga sahabatnya. Tetapi apa yang ia tatap, kursi mereka berdua kosong.


“Huhu! Angga sama Reyhan mana?! Kok mereka di situ gak ada?!” panik kejut Freya karena kursi yang kedua pemuda itu duduki benar-benar kosong.


“Allahu Akbar! Hilang lagi mereka berdua?! Mampus, dah!” gegau Aji setelah bola matanya menatap kursi kedua teman uniknya.


Freya yang dilanda rasa panik, langsung membuka pintu mobil untuk mencari keberadaan Angga dan Reyhan melalui matanya. Setelah keluar pun, sosok mereka berdua tetap tidak terlihat.


Tak hanya Freya saja yang keluar dari mobil, tetapi juga dengan sahabatnya serta keempat temannya. “Mereka gak ada di sekitar sini! Mereka gak ada di sekitar sini!”


“Frey! Kamu tenang dulu. Jangan panik begini,” ujar Jova setengah memeluk tubuh mungil Freya.


“A-aku harus menelpon di antara salah satu dari mereka berdua! Kita gak bisa diam seperti ini tanpa mengetahui dan mencarinya!” tegas Freya seraya merogoh kantong saku celana jeans panjang warna biru dongker punyanya di bagian belakang.


Saat sedang melakukan hubungan telepon WhatsApp untuk Angga. Suara dering ponsel terdengar meski lirih di bagasi mobil, Freya berdecak kecewa karena sudah dipastikan kekasihnya tidak membawa ponselnya dan posisi handphone miliknya berada di dalam tasnya. Tak ingin membuang banyak waktu, Freya beralih ke kontak Reyhan dan mulai memencet simbol gambar telepon untuk menghubunginya segera.


Tak butuh menunggu lama, sambungan teleponnya dengan telepon Reyhan tersambung.


“Reyhan?! Alhamdulillah, akhirnya kamu angkat juga telpon-ku! Kamu ada dimana, sih?! Oh iya! Angga sama kamu, kah?!”


Hai, Sayang ... sudah lama aku tidak mendengar suara indahmu yang gemulai


Mata Freya terbelalak dengan cukup lebar. ’S-suara ini bukan suaranya Reyhan. Suara cowok lain yang terdengar familiar di telingaku.’


Sayangku yang Cantik, kenapa kamu diam saja? Kamu pasti tahu dong aku siapa. Aku adalah mantanmu yang kamu buang dari pikiran, dan menganggapku sampah. Bukan begitu?


“M-mantan?! Kamu Gerald, kan?! Jawab aku!”


Jova, Rena, Lala, Aji, dan Jevran yang diam menatap Freya langsung melebarkan matanya karena terkejut jika yang gadis itu telepon bukanlah Reyhan, tetapi justru Gerald yang memegang ponselnya Reyhan.


Duh, senangnya kamu masih ingat aku. Iya, aku Gerald. Bagaimana kabarmu, Sayang? Pasti sengsara, ya mencintai Angga yang sakit jiwa itu?


“Jaga mulutmu, Gerald!! Sekarang kamu harus jawab pertanyaanku, dimana kamu taruh Angga dan Reyhan?! Aku gak butuh basa-basi dari mulut busukmu itu!!!”


Keenam remaja itu yang bersama Freya, semakin terperangah pada ungkapan kasar dari gadis cantik tersebut untuk Gerald yang sekarang tertawa mendengar suara amarahnya Freya nang menggebu.


Wow, wow ... santai dulu, dong. Tidak perlu ngegas begitu, Freya. Em, sekarang Angga dan Reyhan bersama aku di suatu tempat. Kamu ingin ke sana untuk menjenguk mereka berdua? Yoi. Karena aku cowok yang baik hati untukmu, aku akan kirimkan foto tempatnya sekaligus share lock lokasi agar kamu dapat menemukan mereka dengan mudah. Aku tunggu, ya? Rasa rinduku padamu begitu berat, muah


“Dasar cowok-”


Belum selesai melampiaskan murkanya pada Gerald melalui mulut, sambungan telepon sudah diputus oleh lelaki bengis beraura hitam tersebut. Hal itu membuat Freya menghempaskan napasnya kasar dengan raut wajah penuh kebencian.


Tring !


Tring !


Tring !


Freya menengok layar ponsel di kontak WhatsApp Reyhan yang terdapat satu pesan kiriman berupa tulisan, foto gambar, dan kotak lokasi tempat dimana sahabat lelakinya serta kekasihnya diculik.


“Kalian berdua tenang saja! Kami semua akan segera datang untuk menyelamatkan diri kalian berdua!!” Freya langsung berlari masuk ke dalam gang hutan tanpa memedulikan sekitarnya yang menatap gadis itu nang bertindak secepat mungkin.


“Freya! Tunggu kami!!!” teriak Jova keras seraya ikut berlari secara kilat untuk mengejar Freya yang makin menjauh langkahnya.


Sementara keempat remaja itu yang diam beku, menggerakkan langkah kencangnya untuk menyusul kedua gadis cantik tersebut yang telah masuk ke dalam gang hutan nang tercantum hutan terlarang.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Gerald mematikan layar ponsel Reyhan lalu membuangnya begitu saja ke semacam bak berisi air yang kotor dan penuh lumut. Reyhan yang menyaksikan itu serta segala omongan nang keluar dari mulutnya untuk Freya, begitu muak.


Gerald kemudian melangkah mendekatinya kembali. “Marah banget kelihatannya lo, Bro? Benci? Benci tinggal benci saja. Gue gak peduli, hahahaha!”


“Bangsat!!! Apa maksud lo, hah?! Gue kira lo sudah pergi dari kehidupan Freya dan Angga! Tapi ternyata ...”


“Ternyata apa? Ya, gue kembali. Karena dendam kesumat yang ada di hati gue belum sirna. Lo pasti tahu, lah siapa dalangnya yang membuat gue menyimpan dendam? Ya, Angga sahabat lo yang gak tahu diuntung dan gak punya harga diri itu!”


Reyhan tersenyum dengan tidak simetris. “Apa? Dengan semua kejadian masa lalu yang dialami Angga, yang membuat Angga terluka ... itu semua karena penyebabnya Angga?! Otak lo elo taruh mana?! Dasar Gila! Padahal lo yang menaruh luka dalam di hati sahabat gue! Tapi bisa-bisanya semua salahnya Angga! Lo kalau mau ngomong, akan lebih baik mikir dulu!!!”


Gerald menghempaskan napasnya acuh tak acuh seraya memalingkan wajahnya sesaat lalu menatap Reyhan kembali dengan berjalan beberapa langkah untuk menarik ujung hoodie yang Reyhan kenakan.


“Angga ... yang sudah buat sahabat gue mati!! Lo pikir hanya dia saja yang terluka? Gue jauh lebih terluka karena kehilangan sahabat yang gue sayangi!”


Reyhan menggeram berang. “Asalkan lo tahu! Sahabat lo mati bukan karena ulah Angga, tetapi makhluk itu yang membunuhnya! Lo gak bisa asal ambil kesimpulan yang belum tentu benar dan tanpa bukti! Kalaupun ada CCTV di sekolah itu, lo dan lainnya akan paham jika Angga sama sekali tidak bersalah!!!”


Gerald tertawa kencang dengan membuang mukanya karena menganggap bahwa perkataan Reyhan adalah perkataan yang bodoh. “Lo percaya? Astaga! Yang bener saja. Lo berkawan dengan Angga, lama-lama juga bikin lo gak waras!! Lo yakin ada takhayul-takhayul begitu? MITOS!!!”


Ingin sekali Reyhan menghabisi Gerald karena emosi yang tak terkontrol, tetapi masalahnya tubuhnya dikunci oleh beberapa tali yang mengikatnya. Hal itu membuat Reyhan tidak sanggup untuk bergerak sedikitpun kecuali kepalanya.


“Uhuk ...”


“Angga?” panggil Reyhan lengai saat melihat kesadaran dari sahabatnya mulai naik.


Angga sedikit merintih waktu merasakan kepalanya kembali terasa sakit dan kini ditambah dadanya yang rasanya seperti ditancap oleh puluhan pisau. Gerald tersenyum smirk lalu melepaskan kedua tangannya dari baju Reyhan, setelahnya segera menghampiri Angga. Seorang musuh yang dirinya incar-incar untuk mengakhiri hidupnya secara perlahan.


Gerald membungkukkan badannya dengan wajah santai, lalu mencengkram kedua rahang pipi Angga lalu mengangkat kepalanya yang posisinya tertunduk. Baru di situlah, Angga membuka matanya yang sayu. Buram tersebut menghilang setelah 10 detik berlalu.


“Halo, Cupu. Masih ingat gue?”


Mata abu-abu autentik milik Angga, terpaku pada tatapan tajam dan aura negatif dari Gerald. Tentu saja ia mengingat sosok rupanya, seorang yang pernah ada di masa lalunya kini datang kembali. Mulut Angga terbungkam dan tak bisa terbuka, seolah digembok.


‘Gerald? Ternyata firasat gue tidak meleset. Orang ini yang akan membuat nyawa gue melayang. Tapi, kenapa Reyhan ikut terlibat ke sini? Ini gak bisa dibiarkan.’


“Setelah sekian lama gue tidak berjumpa dengan lo, kini sekarang gue kembali berjumpa dengan kondisi lo yang sedang sangat lemah! Permainan fisik ini akan terasa seru dan menyenangkan, hahaha! Gue gak sabar banget melampiaskan dendam gue ke elo. Oh iya, bagaimana siksaan batin yang telah gue dan Emlano buat? Pasti nikmat, kan?”


“Apa maksud lo?” tanya Angga akhirnya dengan nada dingin beserta wajah datar.


“Hahahaha! Dasar Indigo tidak becus! Elo, kan anak indera keenam. Harusnya dari dulu tahu, dong gue dan rekan gue mempermainkan fisik mental lo secara ... tidak kasat mata!”


Angga menekan seluruh giginya dengan rahang yang mulai mengeras. “Jadi, kalian pelakunya?”

__ADS_1


“Tunggu, omong kosong apaan ini? Lo lagi membohongi nurani hati lo sendiri, kah? Bukannya elo nggak percaya soal-soal takhayul begitu? Tapi kenapa elo malah bilang seperti itu? Emang cap orang tergolong non sinkron,” cemooh Reyhan.


Gerald menoleh cepat ke arah Reyhan lalu melepaskan cengkramannya dari rahang pipi Angga untuk mendatangi Reyhan yang nyalinya sangat berani menghadapi orang bengis seperti Gerald.


“Lo tadi bilang apa? Gue kurang denger.”


“Cap orang tergolong non sinkron, Bolot!”


Gerald tersenyum dengan hati marah kemudian tak segan-segan menendang wajah Reyhan hingga hidungnya mengeluarkan darah segar dari sana. Tak hanya itu saja, Gerald pula menendang kursi sahabatnya Angga hingga jatuh terjungkal ke samping.


“Argh!” Reyhan memejamkan matanya erat saat kepalanya terbentur keras di lantai semen yang amat dingin.


“Nyali lo ada berapa? Meskipun lo memiliki aura yang sadis hingga membuat gue enggan melawan lo, jangan lo kira gue akan diam. Gue nggak bakal melepas atas pendirian gue. Kalau lo sudah begini, lo bisa apa? Nyerang? Terlambat!!!”


Gerald menendang dada bidang Reyhan dengan sangat kencang hingga lelaki itu berteriak kesakitan. Tulang dadanya serasa ingin patah, bahkan depakan yang Gerald berikan untuknya membuat dadanya terasa sesak tatkala.


“Lo ingat waktu lo menyerang gue hingga gue tidak berdaya? Ya! Lo harus mendapatkan balasan dari gue yang setimpal apa yang gue rasakan!” Gerald kembali menendang dada Reyhan dengan penuh tenaga maksimal sesuai pada mood hatinya yang hancur.


“Hentikan!!! Jangan sakiti Reyhan! Lo gak ada hak apapun untuk menyakiti sahabat gue yang tidak bersalah! Jangan libatkan dia ke masalah ini! Reyhan gak tahu apa-apa!” tegas Angga marah setelah melihat sahabatnya terkapar di lantai.


Gerald memutar posisi kursi yang diduduki Reyhan menjadi terlentang lalu kaki kirinya menginjak dada Reyhan dengan wajah emosi. “Lo harus menyaksikan bagaimana gue menyiksa Reyhan, sahabat terbaik lo! Mungkin yang akan gue lakukan ini bakal bisa membuat Reyhan kehabisan nafas lalu mati, sebelum nyawa lo benar-benar tamat di tangan gue!”


“Dan lo juga harus merasakan, seperti apa sakitnya kehilangan sahabat yang disayangi! Sahabat gue mati, gue gak akan terima sedikitpun!!!”


“Tapi bukan berarti lo dendam besar sama gue, lo melampiaskan semua itu ke Reyhan!!!”


Cih, mau jadi pahlawan kesiangan, lo? Kalau dia mati ya biarkan dia mati. Toh, gak pantes dia hidup lama-lama. Bahkan sahabat lo sudah merusak semua rencana ketaksaan gue untuk diri lo


Angga menghadapkan kepalanya ke depan. Di sana terlihat gelap walau ada seseorang yang sedang melangkah menuju ke arahnya. Reyhan nang berada di atas lantai bersama belenggunya, berusaha membuka matanya yang terasa begitu berat.


Angga dan Reyhan terkesiap kompak melihat seorang pemuda bertubuh tinggi yang sedang memegang sebotol arak lalu meminumnya dengan nikmat. Ya, itu adalah Emiliano Baskatar Leonard. Si lelaki dari kompanyon Gerald, sekaligus teman akrabnya sesudah Gerald putus hubungan dari cinta Freya.


Napas Angga langsung tercekat saat menatap mata aura Emlano. Entah mengapa sekarang ia bisa menyurvei aura yang ada di dalam jiwa lelaki rekannya Gerald.


‘Dia juga memiliki kelebihan seperti gue. Tetapi Indigo yang dia punyai adalah Indigo negatif, pantas saja.’


“Haha. Lo pasti langsung cepat mengetahui aura gue seperti apa? Negatif? Hitam? Betul, sekali! Dan ... sebelumnya gue sengaja membatasi aura gue dari mata batin yang lo kuasai sejak kecil. Jadi, gue bisa lebih leluasa untuk membuat lo menderita saat di jebakan di Bandung itu. Bijak, kan gue?”


“Mengapa lo melakukan itu semua ke gue?! Gue salah apa?!” murka Angga dengan mata tajamnya.


“Salah apa? Ya, lo tanya sendiri saja sama Gerald. Ada banyak kesalahan besar yang belum lo tebus sampai saat ini! Dan ... gue sangat kecewa karena semua rencana gue untuk menghilangkan kekuatan Indigo yang lo genggam di jiwa itu gagal total karena Reyhan!”


Emlano menghempaskan napasnya. “Padahal gue sudah mencari sebuah tempat yang sangat cocok untuk melenyapkan kekuatan Indigo lo. Tapi, gue agak salut, sih sama lo. Selama di rintangan itu, lo bisa bertahan sampai sekarang. Ternyata benar apa yang dikatakan Teivel dan Rain, nyawa lo sama sekali tidak bisa diremehkan.”


‘Baik, sekarang gue sudah tahu. Karena Emlano memiliki kekuatan Indigo yang beraura negatif dan hitam, itu artinya dia melakukan sebuah ritual persembahan yang dikuasainya. Dan pasti ... Emlano dan Gerald sekalipun, meninjau keadaan gue di masa kejadian tragedi gaib itu. Kenapa lo begitu bodoh, Ngga? Seharusnya dari awal lo bisa mencegahnya! Memang gue akui, kekuatan gue tidak sekuat apa yang mereka kira. Tetap gimanapun, kekuatan Indigo yang lebih kuat adalah ayah dan opa, bukan diri gue.’


“Kenapa lo diam saja? Terkejut?” tanya Emlano kemudian beralih menatap Reyhan yang telah tidak berdaya dihadapan Gerald.


“Heh, lo?! Akibat dari lo yang menggagalkan semua rencana spektakuler gue, kesimpulannya elo menjadi bagian urusannya gue!” Emlano melangkah melewati Gerald lalu melepaskan semua tali yang mengikat anggota tubuh Reyhan dengan kasar.


BUGH !!!


Mata Angga mencuat saat pipi Reyhan mendapatkan bogeman mentah dari telapak tangan Emlano. Setelah memukulnya, pemuda koleganya Gerald menarik rambut Reyhan ke atas lalu membenturkan kepalanya di tembok.


“Kalau gue sampai memberi pelajaran seperti ini ke elo, pasti lo sudah tahu dimana letak kesalahan lo sama gue,” ucap Emlano.


“Gue gak salah! Apa yang gue lakukan sudah terbaik untuk Angga. Sahabat gue adalah prioritas gue!” jawab Reyhan lantang dengan wajah setengah marah, meski kedua matanya nyaris menutup.


Emlano menganggukkan kepalanya dengan senyum iblis. Ya, sesuai dengan aura warna Indigo-nya. “Ya, Angga memang prioritas elo. Tapi, lo sudah merusak dan menghancur semua strategi rencana gue yang seratus persen hampir berhasil! Emang manusia tidak tahu diuntung!”


“A-akh!” Leher Reyhan ditarik kuat ke atas oleh salah satu tangan Emlano hingga tubuhnya terpaksa berdiri bersama pemuda itu yang bangkit dari jongkoknya.


Reyhan berusaha melepaskan tangan Emlano dari lehernya, tetapi tenaganya sudah sebanding seperti tenaga setan yang memiliki energi negatif. Setelah itu, Emlano melemparkan raga Reyhan begitu saja ke depan hanya pakai satu tangannya.


BRUGH !!!


Reyhan mengerang sakit dimana tangan kirinya terkilir karena tertindih oleh badannya sendiri. Lehernya nampak memerah akibat cekikannya tadi, belum lagi rasa sakit hebat di dadanya karena beberapa kali ditendang oleh Gerald.


Angga menggelengkan kepalanya kuat waktu Emlano mengangkat kursi tempat dimana tubuh sahabatnya disekap. Sudah Angga pastikan, Emlano akan membanting kursi itu ke raga Reyhan.


“Emlano, Jangan!!!”


Gerald terkekeh lalu berjalan menghampiri musuh bebuyutannya untuk melepaskan semua tali-tali itu yang menjerat tubuh lemahnya Angga. “Lo pasti suka, kan?”


DUAKH !!!


Kaki Angga yang sudah terbebas dari belenggu tali itu, ia gunakan segera untuk menendang muka Gerald hingga pemuda tersebut jatuh terjungkal ke belakang sampai mencium lantai semen.


“Shits! Kurang ajar, lo!!!” geram Gerald memegang pangkal hidungnya yang tulangnya hampir patah karena tendangan kakinya Angga. Ya, meskipun terlihat lemah tetapi jangan diragukan tenaganya.


Gerald bangkit berdiri segera saat Angga telah berlari dan menahan tangan Emlano yang ingin membanting kursi kayu tersebut ke Reyhan yang ada dibawahnya.


“Hahaha! Lo mau ngapain? Mau jadi pahlawan kesiangan buat Reyhan? Gak akan bisa!!” sangkak Gerald seraya merengkuh leher Angga dan menarik badannya mundur.


“Lepaskan gue, Brengsek!!!” rampang Angga.


“Iya, Brengsek. Gue akan melepaskan diri lo jika dendam gue sudah terbalaskan dengan sempurna, sekarang lo menjadi urusan gue. Dan Reyhan, menjadi urusannya Emlano untuk menghabisinya, hahahahaha!”


“Rasakan pembalasan gue!” Emlano membanting kursi itu di tepat atas Reyhan dengan sangat keras begitupun dengan sangat kuat.


BUAGKH !!!


Kepala Reyhan kini begitu pening, bahkan rasa pusing itu membuat semua pandangannya menjadi buram. Suara teriakan Angga dengan nada amarah, juga menjadi mengecil alias samar-samar. Gerald tetap bersikukuh mengunci leher Angga meski lelaki tampan itu sudah berusaha mencari celah untuk bebas dari celakan tenaga besarnya.


Di sana terdapat luka lecet yang timbul di pelipis mata Reyhan akibat hantaman kursi dari Emlano. Kemudian pemuda pemilik indera keenam sekaligus pemilik aura negatif itu, mengambil sesuatu di pelosok ruangan temaram. Emosi Angga semakin memuncak, ia ingin membalas perbuatan Emlano dikarenakan telah membuat sahabatnya tak berdaya dengan mata sipit sayu-nya. Reyhan susah bergerak, akibat bantingan benda yang terbuat dari kayu itu, membikin ia sulit menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Bergerak sedikit, raganya akan terasa sakit dan ngilu.


Tak berapa lama detik kemudian, Emlano datang pada Reyhan dengan membawa sebuah dua alat yang lumayan tak asing dari penglihatannya Angga. Sebuah spuit dan botol obat kaca yang biasa untuk injeksi. Terdapat di dalam botol kecil itu ada suatu cairan hitam entah apa kegunaan fungsinya tersebut.


‘Cairan hitam di botol itu? Kenapa setelah gue melihat alat itu, gue malah teringat akan sesuatu?’


Seketika otak Angga terputar ke mimpi masa lampaunya yang pernah ia kunjungi.


Flashback On


Di dalam suatu ruangan, Angga terbaring di semacam meja Operasi. Ruangan tersebut nampak agak gelap karena cahaya pada bohlam lampu redup.


Singkat pada ingatannya, Angga melihat salah satu pemuda yang memegang alat suntikan beserta botol kaca kecil dengan berisi cairan hitam di dalamnya. Dengan senyuman bahagianya, lelaki itu menusukkan ujung jarum suntik tersebut ke tutupan botol yang biasa buat injeksi pasien di rumah sakit.


Tak berapa lama kemudian, spuit yang cairan hitamnya telah disedot ke dalam alat suntikan itu, seorang yang berada di alam mimpinya, mulai menusukkan jarum suntik tersebut ke lengan tangan putih milik Angga lalu segera menekan ujung spuit untuk memasukkan cairan obat hitam itu ke dalam tubuhnya.


Efek samping dari cairan obat yang terlihat asing itu, membuat Angga langsung memuntahkan darahnya dari dalam mulut hingga sedikit muncrat mengenai wajah tampannya.


^^^{Narasi Berada di Chapter 37}^^^


Flashback Off


Angga menggelengkan kepalanya sesaat lalu meneguk ludahnya dengan susah payah. Rasa takut terhadap Reyhan mulai timbul dan menggerogoti hatinya. Sedangkan cairan hitam yang ada di dalam mobil kaca dengan ukuran sangat kecil itu, sudah menyurut karena disedot oleh Emlano pakai spuit.


‘Bisa jadi obat cairan yang berwarna hitam itu adalah mengandung suatu zat kimia berbahaya. Bila cairan itu dimasukkan ke tubuh Reyhan, nyawanya akan menjadi taruhannya !’

__ADS_1


Emlano yang bisa mendengar suara hatinya Angga, tersenyum sinis seraya menatapnya tajam. “Lo lihat saja apa yang akan terjadi pada Reyhan selanjutnya setelah gue menyuntikkan jarum ini ke tubuhnya. Akan ada efek dan sensasi yang luar biasa.”


Mata Angga memerah dan terasa perih karena air transparan matanya akan turun jatuh lolos dari pelupuknya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya kuat. “Jangan! Gue mohon jangan lakukan itu! Dia sahabat gue!! Tolong jangan bunuh Reyhan!!!”


“Permohonan tidak diterima,” santai tutur Emlano dengan menyentil sebanyak tiga kali pada ujung jarum suntikan yang ia pegang.


“Jangan lukai Anggara ...” lemah nada Reyhan sebelum belakang lehernya ditusuk oleh jarum dari spuit lalu ditekan ujung bawah alatnya untuk memasukkan dan menyalurkan cairan hitam itu ke seluruh dalam tubuhnya.


“Reyhaaaaaaaan!!!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Kota Jakarta


Jihan yang sibuk menyirami tanaman bunga di pekarangan rumahnya dengan bersenandung kecil, tiba-tiba terhenti. Entah mengapa hatinya merasa tidak enak, sementara Farhan duduk di lantai teras menemani istri tercintanya yang berambut pendek sembari meminum kopinya di sore menjelang datangnya senja hari.


“Uh! Wuenak tenan kopi buatan istri tercintaku ini. Sore-sore begini enaknya ngopi,” ucap Farhan bermonolog lalu terkekeh geli.


Sampai akhirnya Farhan yang wajahnya mirip dengan anak putranya, menatap punggung Jihan dimana wanita paruh baya berusia 40-an tahun itu terlihat terdiam membeku dihadapan beberapa tanaman bunga yang telah beliau siram.


“Ma, sudah selesai nyiram bunganya? Kok diam begitu? Awas, lho nanti airnya boros. Kalau memang sudah tuntas, kran-nya dimatikan saja, Ma!” teriak Farhan dari belakang.


Jihan terbuyar dari lamunannya berkat suara suaminya yang berada di teras rumah. Dan beliau langsung segera mematikan kran air lalu melingkarkan selang penyiram tanamannya kemudian beliau pasangkan di sebuah paku yang tertancap di dinding pekarangan rumah.


Jihan balik badan untuk menghampiri Farhan yang menyeduh kopi panasnya di cangkir mug. Raut wajahnya tergambar risau membuat sang suami menautkan kedua alis tebal cokelatnya.


Farhan memperhatikan langkah istri cantiknya sampai duduk di tepat sampingnya. “Mama kenapa? Kok wajahnya jadi begitu? Mama lagi kurang enak badan? Kalau iya, Papa antar ke kamar, yuk.”


Jihan menautkan jari-jemari seluruh sepasang tangannya dengan menggelengkan kepalanya pelan. Pandangan wanita paruh baya itu nampak kosong. “Pa?”


“Hm? Kenapa, Mama?” tanya lembut Farhan.


“Tadi saat Mama sedang menyirami tanaman kita yang ada di pekarangan rumah, tiba-tiba perasaan hati Mama tidak enak mengenai Reyhan.”


Jihan memejamkan matanya lalu merapatkan bibir tipisnya. “Sekarang, Mama khawatir sama kabar Reyhan di luar kota.”


Farhan meletakkan cangkir kopi di samping kirinya lalu menggeser tempatnya untuk lebih dekat di tubuh istrinya yang mencemaskan anaknya. “Ma, Reyhan, kan lagi liburan di kota Bandung sama sahabat-sahabatnya dan teman-temannya? Anak kita pasti lagi having fun di sana.”


Jihan menoleh ke arah Farhan yang nampaknya tidak terlalu mengkhawatirkan Reyhan lalu menyerong-kan badannya menghadap suaminya. “Iya kalau having fun. Tapi bagaimana kalau sebaliknya, Pa?! Firasat Mama lagi tidak enak, lho tentang Reyhan!”


Farhan menghela napasnya. “Ma ... yasudah, agar Mama tidak risau dengan kabar Reyhan di sana, Papa telpon Reyhan saja, ya? Bagaimana?”


Jihan mengangguk antusias dengan senyum. “Yasudah, Mama tunggu di sini dulu, ya? Papa ambil HP-nya dulu di ruang TV.”


“Cepat ya, Pa!”


“Iyaaa, Mama tenang saja.”


Tak berapa lama kemudian, Farhan keluar dari rumah sambil menggenggam ponselnya dan bersiap menelpon putra semata wayangnya. Beliau menyandarkan punggungnya di gagang tembok panjang depan teras rumah sambil membuka aplikasi WhatsApp untuk menghubungi kontak Reyhan.


“Sebentar ya, Ma? Ini Papa telpon dulu si Reyhan.”


Jihan lagi-lagi menganggukkan kepalanya dan memperhatikan semuanya yang mulai menempelkan layar handphone-nya di telinga kanannya sambil menunggu angkatan jawab Reyhan dari sebrang sana.


Sampai akhirnya saat tulisan itu berdering dibawah kontak profil kontak WhatsApp Reyhan, ada suara getaran satu kali dari berasal ponsel Farhan. Farhan yang mendapati respon seperti itu, langsung menengok layarnya.


“Lho? Kok, ditolak? Tidak biasanya Reyhan menolak panggilan telepon dariku. Ada apa dengan anakku di sana, ya?” gumam Farhan menatap nanar layar ponselnya.


“Gimana, Pa? Telponnya diangkat sama Reyhan, kan?” Pertanyaan Jihan dijawab Farhan dengan gelengan kepala bersama wajah sendu.


“Tadi pas Papa coba telfon Reyhan, panggilan Papa langsung ditolak. Aneh, kan? Tidak biasanya anak kita berani menolak panggilan telpon dari orangtuanya.”


“Duuuuh! Terus kita sekarang harus bagaimana, Pa?! Hati Mama semakin tidak enak, seperti ada suatu kejadian yang buruk menimpa Reyhan! Mama takut Reyhan kenapa-napa! Cukup terakhir anak kita mengalami insiden kecelakaan yang fatal itu. Jangan sampai terulang kembali, hiks!”


Farhan segera menghampiri Jihan yang air matanya telah lolos keluar dari pelupuknya, beliau duduk di sebelah sang istri kemudian menghapus linangan air matanya lalu memeluknya lembut dan sayang.


“Jangan khawatir seperti ini, Ma. Hilangkan dulu pikiran negatif yang ada dibenak Mama. Kita Doakan Reyhan, semoga anak putra kita baik-baik saja.”


“Hiks ...”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“UHUK!!!”


Reyhan memuntahkan banyak darah dari mulutnya hingga membasahi lantai semen dalam posisi tubuh lemahnya terlungkup.


“REYHAN!!! Argh, lepas!!!” Angga dengan sekuat tenaga, melepaskan lengan tangan Gerald yang masih setia merengkuh lehernya hingga akhirnya terlepas.


Angga berlari kencang mendatangi sahabatnya lalu menjatuhkan kedua lututnya di atas lantai untuk membalikkan raga Reyhan ke posisi terlentang. Air mata Angga lolos turun membasahi pipinya saat menatap kedua mata sayu Reyhan menutup dengan tenang.


Angga beringsut duduk bersimpuh lalu mengangkat setengah tubuh lemas Reyhan ke pangkuannya kemudian menangkup pipi kirinya untuk menepuknya. “Rey! Bangun, Rey! Gue mohon, sadarlah! Jangan seperti ini!!!”


Angga memeluk tubuh sahabatnya dengan tangisan derasnya. Ia bisa merasakan hela napas Reyhan melemah karena cairan zat kimia bahaya itu yang sudah berada di dalam tubuhnya. Kedua tangan Angga bergetar, rahangnya mengeras bersama hati pedih dipadukan rasa amarah mendalam.


Gerald dan Emlano bersedekap angkuh di dadanya dengan menatap Angga yang terus menangisi kondisi Reyhan nang hampir diujung kematian. Pagutan sepasang tangan lelaki Indigo itu semakin erat di tubuh lemahnya Reyhan.


“Drama kuno! Rald, tugas gue sudah selesai menghabisi Reyhan. Dan sekarang, giliran lo untuk menamatkan nyawa Angga dengan sesuka hati lo. Gue akan menonton aksi seru ini yang akan lo lakukan,” ucap Emlano hendak balik badan.


Ya, mereka rupanya berbagi tugas untuk membantai seseorang yang mereka benci.


Napas Angga naik-turun dengan cepat, emosinya sungguh membuncah dan tidak tertahan kali ini. Ia segera membaringkan tubuh Reyhan di lantai lalu bangkit berdiri dan memutar tubuhnya singkat dengan kedua mata yang telah lumayan merah karena tangisannya nang sudah dari tadi tertahan sebelum benar-benar keluar karena kondisi sahabat yang ia sayangi.


“DRAMA??!! Lo bilang ini adalah drama?! Lo sudah membuat sahabat gue sekarat di sini!! Puas, kan sekarang lo berdua?! PUAS, KAN!!??”


“Apaan, sih lo? Gak jelas banget. Bagus, dong kalau Reyhan sekarat. Tinggal nunggu malaikat maut mencabut nyawanya,” jawab santai Emlano.


“JAGA MULUT BUSUK LO, BAJINGAN!!!” raung Angga dengan mata melotot langsai sambil menuding kencang Emlano.


“Hahahahaha! Luapkan saja emosi lo itu, gue mah kagak peduli.”


Setelah mengucapkan kata tenang itu, Emlano balik badan dan melangkah ke pelosok ruangan dan duduk di kursi besi lalu mengambil sebotol arak untuk meneguk minuman tersebut yang memiliki aneka rasa anggur.


“Seorang Anggara vincent Kavindra ternyata bisa menangis, ya? Kocak! Lagian sahabat yang kayak gitu ngapain lo tangisin. Gue malah bahagia, sih kalau Reyhan bakal benar-benar proses menuju ke kematian,” timpal Gerald membuat Angga menoleh ke arahnya.


Rahang Angga semakin mengeras, kedua telapak tangannya yang diam kini saling mengepal. Karena emosinya telah dibuat berapi-api oleh Gerald, Angga maju mendekatinya lalu menyergap ujung kaosnya kemudian ia dorong kencang sampai terpojok di tembok.


“Inikah yang lo maksud dendam kesumat?! Dendam hati yang sengaja di lampiaskan ke orang lain?! Lo boleh dendam sama gue, tapi jangan lo libatkan semuanya ke Reyhan!!!”


Gerald yang muak, langsung mendorong tubuh Angga hingga lelaki tampan itu menjauh dari jaraknya kemudian terjatuh tersungkur karena kurang mampu menjaga keseimbangannya. Tetapi, Angga balik bangkit berdiri meski tenaganya saat ini sudah lemah. Namun apapun yang terjadi, ia harus sanggup menerjang Gerald atau membuat dirinya terdiam seribu kata.


Gerald segera mengeluarkan pisau dengan ukuran sedang dari kantong saku celananya bagian belakang. Lelaki bermata hijau tulen seperti orang negara Eropa itu, nampak ingin melampiaskan semua dendam kesumatnya kepada Angga bersama senjata pisau yang ia genggam.


“Lo ingin membunuh gue?! Oke, silahkan! Itu, kan yang lo mau dari dulu tapi belum tercapai?! Gue bakal menerima semua perbuatan diri lo pada gue dengan lapang dada! Kemungkinan setelah elo membuat gue mati, dendam yang ada di hati lo dalam sekejap akan menghilang serta sirna. Bunuh gue sekarang juga jika itu membuat kehidupan lo kembali berwarna, bahagia, dan damai sejahtera!”


“...”


“KILL ME, GERALD!!!”


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2