
Pemuda berjulukan watak Friendly itu mendorong pintu untuk membuka dari salah satu pintu yang berjenis dua daun tersebut. Bersama wajah menahan rasa sakit, Reyhan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya.
“Assalammualaikum, Reyhan pulang ...”
Dari ruang dapur, Jihan yang tengah sedang memasak sesuatu di depan kompor listrik menoleh ke arah ruang utama dengan senyuman hangatnya yang merekah di wajah cantiknya. “Waalaikumsalam, Rey. Lemes banget suaranya? Capek, ya?”
Putranya tak menjawab dari pertanyaan lemah lembut wanita paruh baya tersebut yang tangannya sibuk mengaduk-aduk kuah sup yang ada di dalam panci aluminium. Sampai detik kemudian, mata Jihan terbelalak melihat anak semata wayangnya yang beliau cintai. “Lho! Sayang?! Kamu kenapa jalannya hingga pincang begitu?!”
Jihan segera menghentikan masaknya sementara tanpa mematikan kompor listriknya. Beliau berlari-lari kecil menghampiri Reyhan yang kini anaknya mendudukkan pantatnya di atas kursi sofa panjang. Jihan pun juga kemudian ikut duduk tepat di sebelah Reyhan yang sekarang ini memejamkan matanya sekaligus menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dikarenakan apa yang Reyhan rasakan, punggung miliknya begitu sakit ngilu.
Jihan menyentuh bahu kanan anaknya dengan wajah sedikit cemas. “Nak, kamu kenapa? Pulang-pulang kok langsung begini ...?”
“Reyhan habis kecelakaan, Ma.”
“Innalillahi! Lah, kok bisa sih, Reyhan?!” kejut Jihan tak menyangka sampai reflek memukul bahu anaknya tapi secara pelan.
Reyhan menghembuskan napasnya lelah dicampur rasa sakit di bagian tubuhnya. “Ya bisa lah, Ma. Reyhan sudah hati-hati riting motor eh malah ditabrak duluan dari belakang. Yasudah auto nasib kelempar dari motor.”
Jihan mengusap-usap bahu anaknya yang tengah masih beliau pegang, mendesis pula saat mendengar cerita Reyhan mengenai anaknya yang kecelakaan itu. “Hih, Astaghfirullah! Tapi sekarang kamu nggak kenapa-napa kan, Nak??”
“Yang namanya kecelakaan pasti bukan nggak kenapa-napa, Ma. Tapi kenapa-napa. Nih buktinya, badan Reyhan sakit-sakit semua,” komentar Reyhan tanpa menatap mata Jihan melainkan masih memejamkan kedua matanya untuk meredakan rasa sakit yang ia alami.
“Habisnya kamu hobi banget kecelakaan! Udah ketiga kalinya ini kamu kayak gitu lagi, lho!” kesal sang ibu yang sebenarnya khawatir pada anak satu-satunya yang beliau miliki bersama suami.
“Astaga! Mamanya Reyhan yang cantik seperti Bidadari Surga, itu bukan hobi tapi musibah. Lagian gak ada tuh di daftar kalau kecelakaan itu adalah hobi,” protes bawel anak putranya.
Jihan menghela napasnya panjang lalu kedua tangannya mulai melingkar ke pinggang Reyhan untuk memeluk sayang anak semata wayangnya. “Yasudah, lah. Yang penting Reyhan nggak parah lebih dari itu akibat kecelakaannya, kamu itu udah sering buat mama sama papa mau jantungan, loh.”
“Maaf, Mama ...” ucap lembut Reyhan dengan senyum seraya membalas dekapan sang ibunya yang begitu menyayanginya apalagi selalu menaruh rasa perhatian di hatinya.
“Iya, Sayang ...” jawab Jihan kemudian mengecup keningnya Reyhan.
“Seneng deh kalau dipeluk sama Mama,” jujur Reyhan dengan senyum sumringah bahagia.
“Kenapa, tuh?” tanya Jihan usai terkekeh mendengar ungkapan jujur dari sang putranya yang telah dewasa tersebut.
“Iya. Soalnya kalau dipeluk sama Mama, rasanya Reyhan kayak lagi di dalem sauna.”
“Hahaha! Ya ampun, kamu bisa saja.”
“Hehehehe!”
Reyhan mempererat pelukannya Jihan dengan senyuman bahagia yang tak pudar. Lelaki humoris tersebut memang seperti itu jika sudah berada di dekatnya sang ibu, apalagi perilakunya sangat manja macam anak kecil bila bersama Jihan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Komplek Permata - Rumah Anggara
Lelaki tampan pemilik kekuatan Indigo itu tengah menutup matanya sembari menghembuskan napasnya dari hidung. Jari-jemari masing-masing tangannya saling bertautan di atas kedua paha kakinya Angga. Di pinggir kasur kamarnya, Angga terus mencoba mengingat-ingat sosok Daniel pada sebelumnya ia bertemu.
“Daniel Yudistira Andranata?”
Setelah bertanya pada diri sendiri, Angga merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk nan nyamannya. Dan Angga langsung teringat kembali pada ucapannya Senja waktu hantu gadis itu posisinya melayang di atas langit. Apakah benar, Daniel itu adalah merupakan sosok roh yang menjadi temannya saat jiwanya ia terpisah dari raganya? Itu yang Angga pertanyakan berulang-ulang dalam relung hati.
“Sudahlah, Ngga. Jangan diingat-ingat mulu. Nanti cedera di kepalamu bisa kambuh lagi sakitnya,” ujar suruh Senja.
Hal tersebut membuat Angga tersentak kaget nyaris detak jantungnya berhenti akibat munculnya Senja secara tiba-tiba di atas muka tampannya meskipun yang terlihat adalah wajah menawan posisi terbaliknya arwah perempuan itu. “Kamu lagi?!”
“Hehehe! Kaget, ya?” tanya Senja terkekeh.
“Udah tau kenapa nanya?! Ngapain juga kamu di situ?!” garang Angga kesal kehadiran Senja.
Senja mengerucutkan bibirnya dengan mata berkedip-kedip seperti tengah dimarahi oleh sang kakak. “Galak banget sih, Angga ganteng ...?”
“Jangan bilang aku 'ganteng'! Telinga kamu budeg, ya?!” sarkas Angga.
Senja mendengus. “Ih! Kok malah tambah galak?! Lagian, kan kamu emang ganteng! Masa dipuji ganteng kamu-nya marah? Harusnya hatimu berbunga-bunga, dong.”
“Maaf, aku gak haus pujian. Kalau kamu mau memuji fisik orang, mending sama Reyhan yang tadi sama aku. Dia paling suka kalau yang namanya dipuji-puji.”
“Idih! Kenapa kamu sewot, dah? Oh iya, ya. Reyhan Lintang Ellvano sahabatmu yang dulu pernah kamu ceritain, kan? Wah ternyata dia lumayan cakep, ya hihi! Mana dia keliatannya soft boy banget, lagi!”
“Terus?”
“Aku mau ke rumahnya! Daripada di sini, bawaannya kesel mulu ngadepin cowok kulkas seribu pintu kayak kamu, bye !” sebal Senja kemudian pergi meninggalkan Angga dalam hitungan detik.
Angga menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya keluar. Lebih baik daripada bersikeras mengingat sosok lelaki macam Daniel begitupun Yuda bahkan meladeni. sikapnya makhluk gaib tersebut, dirinya beranjak dari kasur kemudian duduk di kursi meja belajarnya untuk mengerjakan dua tugas PR yaitu dari mata pelajaran Matematika dan Fisika.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Hari keesokannya, Reyhan yang telah memasuki bangunan sekolah terus saja mengeluh sakit pada kakinya yang masih terasa ngilu akibat kecelakaan yang tak disengaja oleh Yuda sang sahabatnya Daniel. Ingin marah sepertinya sudah tidak ada guna dan fungsinya, terlebihnya kejadian itu telah berlalu sudah.
“Gilak! Mana kelas gue jauh banget lagi dari sini. Belum lagi gue harus naikin dua tangga buat sampe ke kelas Fisika dua. Kampret, kampret!”
Sampai tiba-tiba tangannya yang sedang memegang kaki kanannya bagian paha, dilepaskan oleh seseorang. “Eh-eh! Siapa ini, woi?!”
“Gue. Kenapa?”
Rupanya Angga lah yang melepaskan tangan Reyhan dari pegangannya untuk menyangga kakinya yang sakit. Kemudian pemuda Introvert tersebut merangkul-kan tangan Reyhan ke tengkuknya. “Oalah! Bro, Bro! Lama-lama lo persis kek Jelangkung, ye datang gak diundang! Pulang gak dianter!”
“Masih mending gue boneka alat ritualnya, lah lo malah justru setannya.” Angga menjawab dingin omelan sahabatnya yang setengah kaget akibat kedatangannya seperti makhluk astral.
Reyhan menolehkan kepalanya ke arah Angga kembali dengan tatapan sengit. “Heh! Enak aja kalau lo nge-lambe! Malah Justru itu elo yang setannya!”
“Kok gitu?” tanya Angga bingung.
“Iya, dong! Dateng gak diantar, pulang gak diundang! Berarti sama aja itu dedemit!”
“Cara peletakkan kalimat lo kebalik!” damprat Angga kesal pada Reyhan yang membentak dirinya.
“Alah! Sama aja intinya,” tanggap Reyhan tidak mau disalahkan.
“Terserah!”
Dalam suatu keheningan yang tercipta untuk melangkah menuju ke kelasnya yang jaraknya masih sangat jauh, Angga membuka obrolan pada sahabatnya yang cengar-cengir kesakitan. “Lo kenapa gak absen sekolah aja?”
“Napa emang? Berasa kalau gue udah ngerepotin elo, ya?” sewot Reyhan.
“Ck, bukan gitu! Maksud gue kenapa lo gak absen sekolah? Lagipula kondisi lo aja masih miris, nanti kalau lo tambah kenapa-napa, males juga gue anterin diri lo ke ruang UKS.”
“Sobat minus akhlak lo, sumpret! Cuman sakit gini doang gue masih bisa aktivitas buat ke sekolah, lah! Gue ini cowok strong, ye!”
__ADS_1
Angga mengarahkan kedua bola matanya untuk melirik ke arah sahabatnya yang tengah ia papah. “Yakin lo strong? Sakit kaki begitu aja udah cengar-cengir kayak setan Gundul Pringis yang nongol di atas pohon duren.”
“What?!” Reyhan reflek bernada suara cempreng atas ucapan Angga yang terkesan menyebalkan. Kemudian lelaki bermata cokelat terang itu macam mata orang Barat, mendengus jengkel.
“Oh! Ternyata udah pinter mancing emosi orang, ye! Heh! Sadar diri deh, lu! Jangan sok-sokan ngomong kek begitu kalau dulunya aja lo juga begitu pas kecelakaan motor!”
“Emang iya, sih. Tapi kan kalau soal sakit itu masih bisa gue tahan. Nggak kayak elo, sakit dikit ngeluhnya berjuta-juta kali. Cowok ringkih ...” lirih Angga di kata kalimat terakhir.
Mata Reyhan auto melotot pada Angga seketika. “Argh! Lo barusan bilang apa?! Jangan pikir dengan suara lo pelan kayak kelinci mamalia, gue gak bisa denger, ye! Cowok gesrek!”
“Gak usah marah, gue cuman bercanda.”
“Bercanda apaan kalau tampang mukanya aja masih judes kayak gitu, hah?!” sanggah Reyhan.
“Muka gue, kan emang begini!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah menempuh perjalanan menuju ke kelas XI IPA 2 yang berada di lantai dua, Angga beserta sahabatnya yang masih ia papah, mereka berdua tiba di dalam kelas yang begitu berisik akan riuh senda tawa para siswa-siswi.
“Anjir, perasaan kok tambah ngilu aja sih ini kaki?” keluh Reyhan dengan meringis kesakitan.
“Tahan dulu bentar, sebentar lagi lo sampe di bangku. Jalannya gak usah buru-buru, pelan-pelan aja biar kondisi kaki lo aman,” ucap Angga.
Seperti siswa-siswa lain ialah Jevran sang tetangganya Reyhan, Aji, Andra, Raka, Ryan, Joshua sang ketua kelas, Rangga dan Kenzo menoleh ke arah Angga begitupun Reyhan yang barusan hadir. Mereka kedelapan pemuda tersebut begitu terkejut pada Reyhan yang sedang dipapah oleh Angga ke bangkunya.
“Ngga?! Reyhan kenapa?! Kok sampe lo tuntun gitu jalannya??” tanya Joshua panik seraya berlari menghampiri kedua lelaki unik itu.
Angga menghela napasnya dengan memutar bola matanya malas dari Joshua. “Kemarin sore Reyhan kecelakaan.”
Setelah itu, Angga dengan hati-hati mendudukkan sahabatnya di kursi lalu melepaskan tangannya Reyhan dari tengkuknya. Di situlah, mereka yang terkesiap mendengarnya, mendatangi Reyhan secara mengelilingi. Sementara pemuda tampan Indigo tersebut berjalan ke kursi bangkunya untuk meletakkan ransel hitamnya.
“Gimana ceritanya kok lo bisa kecelakaan lagi?!” ungkap panik Jevran ingin tahu karena pasalnya, kemarin lelaki tetangganya Reyhan tersebut sama sekali tidak mengetahuinya bahwa tetangga dekatnya kemarin mengalami sebuah insiden kecelakaan.
Jova yang tengah asyik mengobrol dengan sekelompok siswa-siswi lain termasuk Freya, menolehkan kepalanya ke belakang dengan mulut lumayan menganga dan tak ayal pula gadis Tomboy tersebut balik badan melangkah menghampiri kepungan dari siswa-siswa. Sesampainya di belakang punggung Andra dan Raka yang menutupi sosok sahabat lelaki Friendly serta rese-nya, kedua tangan Jova saling membelah jalan yang otomatis itu kedua pemuda tersebut tergeser hampir oleng jatuh ke samping.
Raka dan Andra yang mendapatkan perilaku macam itu dari Jova, hanya mendengus sebal tanpa mengambil protes gratis apapun yang keluar dari mulutnya mereka. Jova kini berada di depannya Reyhan persis. “Siapa yang kecelakaan??”
“Aku.”
“Apa?! Yang bener?!”
Reyhan langsung mengusap seluruh wajahnya. “Ludahmu muncrat ke mukaku, woi!”
Kedua mata gadis cantik polos sang sahabat kecilnya Angga, terbelalak sempurna. “K-kamu kemarin kecelakaan?! Kok bisa, Rey?!”
“Huh, ceritanya panjang dan yang jelas pastinya bukan aku yang salah tapi pengendaranya yang sesuka hati kalau nyetir,” tanggap Reyhan.
“Kecelakaan apaan, Rey?! Truk lagi?!”
Reyhan menatap tajam Aji dengan bibir nyengir jengkel yang memperlihatkan gigi putih setengahnya. “Bego! Kalau gue kecelakaan truk atau ditabrak truk, gue gak mungkin bisa masuk sekolah!”
“Lah, kenapa?” tanya Raka dengan kening berkerut.
“Anying! Pake ditanya, lagi! Pasti ya gue luka parah, lah! Mobil truk, kan segede gaban. Lagipula kalau itu memang terulang lagi buat kesekian Kali gue bisa masuk rumah sakit atau modar.”
“Akh! Lo kenapa sih, Ngga?! Sakit tau kepala gue lo toyor gitu!” protes Reyhan dengan mengusap-usap pucuk kepalanya.
Reyhan hanya cengengesan dengan sekaligus kedua telapak tangannya saling mendempet bergaya memohon pada Angga yang matanya masih melotot tajam. Karena memang dari dasarnya, Angga tidak suka sahabatnya berbicara yang tak sepantasnya.
Reyhan kemudian menyandarkan punggungnya yang terasa pegal karena sedari tadi ia jalan bersama Angga, posisinya bungkuk badan akibat ngilu sakitnya dari kakinya. “Kemarin sore waktu mau pulang sekolah, gue ditabrak sama motor yang melaju dari arah berlawanan. Sebetulnya gue udah bener ambil riting motor untuk membelok, tapi secara tiba-tiba aja gue ditabrak dari belakang.”
“Terus?!” tanya Freya semakin penasaran pada cerita dari sang sahabat pemudanya.
“Gara-gara ditabrak sama pengendara sialan itu, gue kepental dari motor. Untung aja motor gue gak kenapa-napa, dan untung aja gue masih diberikan keselamatan atas kecelakaan itu. Sempet berpikiran negatif, sih 'gue masih bisa bangkit atau kagak' begitu.”
“Yang salah sebenernya elo atau pengendara itu yang udah main asal tabrak lo?” Joshua bertanya.
“Dia! Udah tau lagi emosi akibat masalah keluarga, malah bawa motor. Mana pake kelajuan maksimal, lagi! Kan gue yang jadi korbannya. Udah salah, tapi dia nggak mau minta maaf, malah asal main pergi gitu aja gak mau tanggung jawab.”
“Tapi, yasudah lah. Gue gak mau ungkit kejadian itu lagi, males juga bahas cowok kutu kupret yang kemaren nabrak gue! Udah dia yang salah, malah gue yang dimarah-marahin habis-habisan!”
“Yang penting luka lo nggak terlalu parah dari kecelakaan motor kemarin,” ujar Angga menepuk bahu Reyhan dengan memberi tatapan lunaknya.
Reyhan menganggukkan kepalanya dengan tersenyum ramah pada Angga. “Thanks lho, Bro kemarin lo udah bantuin gue.”
Angga tersenyum tipis. “Sebagai sahabat.”
Jova reflek memundurkan kepalanya. “Bentar-bentar! Emangnya kamu juga terlibat dari kecelakaan yang dialami Reyhan, Ngga?”
Lelaki Introvert itu menggelengkan kepalanya pelan. “Aku nggak terlibat atas dari kecelakaan itu, tapi aku saksinya.”
Jova membuka mulutnya membentuk huruf O memberi tanda maksud mengerti apa yang digubris oleh Angga termasuk Freya yang diam menyimak. Sementara si Rena menghembuskan napasnya lega. “Kirain kamu kecelakaan truk lagi, Rey.”
“Dasar calon pacarnya Aji!” sarkas Reyhan.
“A-apa?! Calon pacarnya Aji?! Idih ...” Kemudian Rena melirik ke arah Aji yang ada di depannya. Pemuda yang berambut agak model gaya ikal itu hanya mengangkat kedua bahunya saat Aji menatap gadis berambut pendek keriting warna oranye rada kecokelatan.
Aji lalu mengepalkan telapak tangannya ke depan arahnya Reyhan bersiap ingin menonjok muka temannya. “Lama-lama gue tampol juga nih pake sepatu gue!”
“Yaelah sepatu murahan doang!” olok Reyhan yang sebenarnya lelaki itu hanya bergurau saja.
Sedangkan Rena memalingkan mukanya dari Aji dengan kedua pipi bersemu merah tomat bersama senyuman tersipu malu. Sementara Angga melepaskan tangannya dari bahunya Reyhan lalu melangkah meninggalkan kepungan tersebut untuk duduk di kursi bangkunya karena sebentar lagi bel akan dibunyikan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Kini mata pelajaran Fisika yang dibimbing oleh guru killer telah sedang berlangsung. Bu Aera di depan papan tulis tengah menjelaskan beberapa materi penting yang harus dimengerti oleh semua muridnya dalam sebuah buku paket tebalnya. Sementara Reyhan yang sangat bosan dan malas mengikuti bimbingan belajar dari guru wanita itu yang merupakan musuhnya, menguap dan langsung menutup mulutnya dengan tangan.
“Oke. Jika telah mengerti pada materi yang saya jelaskan, silahkan Reyhan jawab satu soal ini yang ada di dalam kolom rangkuman pada halaman dua ratus dua puluh sembilan. Jangan kamu pikir saya tidak tahu ya kalau kamu sedari tadi ngantuk! Kamu malas ya dengan mata pelajaran saya?!”
Reyhan menatap sinis bu Aera. “Kamu nanyeak jawaban satu soal ini yang ada di dalam kolom rangkuman pada halaman dua ratus dua puluh sembilan berapa?”
Satu kelas para siswa dan siswi menepuk jidatnya kecuali bu Aera yang matanya telah melotot seram seperti ingin menerkam muridnya yang telah kurang ajar padanya. Reyhan yang tersadar akan ucapan lantang refleknya, menutup mulutnya. Sontak langsung dengan perlahan, Reyhan menolehkan kepalanya ke samping untuk menatap Angga.
Angga menanggapinya dengan menggesekkan kening sentralnya yang tertutupi oleh rambut hitamnya dengan tampang jengkelnya. Reyhan meneguk ludahnya bersama jantung berdegup kencang, bahkan seketika kelas menjadi hening bak seperti di hutan belantara yang sangat angker.
“Kena sindrom dari TikTok, kamu Rey?! Sudah berani kamu berkata seperti itu pada saya!”
“Ampun, Bu! Nggak sengaja ...” rengek Reyhan menatap melas bu Aera agar beliau menerima keampunan murid satunya itu.
“Nggak ada kata ampun bagi saya! Sekarang kamu maju ke depan kelas tanpa lama!”
__ADS_1
“Ya ampun, Bu! Jangan hukum saya, dong! Saya kan nggak sengaja bilang gitu, secara spontan doang, kok huhu!” Muridnya itu begitu sangat takut dan tak ingin diberikan hukuman olehnya untuk kesekian kali bahkan menerima malu.
“MAJO!!!” bentak bu Aera yang sudah tidak mau menerima bantahan.
Reyhan pada akhirnya bangkit dari kursi lalu melangkah dengan kaki pincangnya, bahkan hal itu sama sekali tidak dipedulikan oleh bu Aera. “Saya disuruh apa, Bu?? Jangan yang berat-berat, yaa?!”
Bu Aera melipatkan kedua tangannya di dada dengan menatap tajam Reyhan. “Kamu nanyeak, saya suruh apa? Sekarang, angkat satu kakimu, julurkan lidahmu ke depan, dan jewer masing-masing telingamu!”
Reyhan melongok tak percaya. “Yang bener aja sih, Bu?! Malu dong saya kalau dihukum yang jelek gitu!”
Bu Aera kini menggenggam penggaris panjang yang terbuat dari kayu lalu mengetuk-ketuk alat itu pada salah satu kakinya Reyhan. “Ayo-ayo cepet diangkat! Saya hari ini lagi datang bulan, Rey! Jadi jangan bikin emosi saya lebih memuncak!!”
“Bu, mohon maaf. Tetapi Reyhan-”
“Stop ! Jangan mencoba untuk membela sahabatmu, Angga! Daripada saya juga hukum kamu ke depan kelas seperti Reyhan!” sarkas bu Aera yang menyentak Angga.
Angga di bangkunya hanya menghela napasnya panjang dan kembali diam tak bersuara. Lantas, menatap Reyhan dengan bibir nyengir. Sedangkan salah satu siswa angkat tangan untuk mengajukan keinginan pada bu Aera yang sibuk mengomeli Reyhan yang mukanya menekuk.
“Bu! Reyhan boleh izin saya foto, nggak?! Biar habis itu saya kirim ke grup wali kelas sama sosmed Facebook supaya jumlah followers saya makin bertambah!”
Reyhan yang tak terima itu terjadi, langsung menuding kencang dengan tampang muka sengitnya. “Heh! Jangan macem-macem ya, lo!! Daripada gue sikat abis-abisan!”
Kini sekarang setelah mendapatkan komando suara keras dari bu Aera untuk kesekian kali, dengan hati pasrah Reyhan melakukannya serta melaksanakan hukumannya. Dan di dalam kelas, banyak sekali dari beberapa siswa-siswi yang tertawa cekikan bahagia melihat penderitaan Reyhan yang diberikan oleh beliau.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
KRIIIIIIIINGG !!!
Brugh !
Reyhan langsung jatuh ambruk di lantai usai mendengar suara bel yang dibunyikan tanda saatnya untuk istirahat. Dirinya begitu letih karena 3 jam melaksanakan hukumannya, bahkan kakinya malah jauh tambah sakit dibanding sebelumnya.
“Aduh! Ibu tega banget sih, untung saya nggak nyampe pingsan!” protes Reyhan.
“Besok diulangi lagi! Biar besok saya hukum kamu buat ngepel lantai rooftop atas gedung sekolah!” respon bu Aera lalu melengos melenggang pergi meninggalkan Reyhan dan juga kelas XI IPA 2.
“Ogah! Itu mah kronis lagi!” tolak Reyhan kencang setelah beliau telah berbelok arah kiri.
“Penyakit, apa? Lo sebut kronis.” Reyhan menolehkan kepalanya lemas ke sendang suara. “Bodo amat lah, Ngga! Capek bener gue, mana kaki gue tambah ngilu banget, lagi gara-gara guru singa betina itu!”
Angga terkekeh. “Kayaknya jika dilihat lo kurang baik-baik aja. Mau gue anterin ke ruang UKS buat lo berbaring di sana?”
“Nggak perlu! Ayo ke kantin, gue laper sumpah!” tolak Reyhan pada Angga yang posisinya jongkok di sebelahnya.
“Tapi kantinnya jauh dari kelas kita, lo mending tetep di dalem kelas aja. Biar gue yang belikan makanan sama minuman yang lo mau.”
“Perhatian amat lo, Ngga?” celetuk Aji.
“Lo diem!”
“Ck, iye-iye!” sebal Aji memilih sengap daripada terkena amukan dari Angga yang kini sedang membantu Reyhan untuk bangkit berdiri.
Setelah kembali mendudukkan Reyhan di kursi bangku, pemuda humoris itu meletakkan kepalanya di atas meja dengan wajah sungguh letih. “Lo mau nitip apa?”
Reyhan menggerakkan bola matanya ke arah Angga yang bertanya padanya. “Bakso komplit dibungkus, sama Pop Ice rasa coklat.”
“Oke.” Lalu usai itu, Angga menengadah salah satu tangannya kepada Reyhan, membuat sahabatnya bingung Angga sedang apa. “Kenapa tangan lo begitu?”
Angga menghela napasnya pendek. “Uangnya? Hari ini gak ada traktir-traktiran, cepet mana?”
“Ck! Iya-iya. Bentar,” tanggap Reyhan seraya merogoh saku kantong celana seragamnya dan mengeluarkan selembaran uang berwarna hijau.
Reyhan menyerahkan uang kertas tersebut pada tangan kanan sahabatnya dengan gerakan lemas. Setelah menerimanya, Angga melangkah pergi meninggalkan ruang kelasnya. Sementara di sisi lain, sebagian banyak beberapa siswa-siswa kembali mengepung Reyhan.
“Enak gak, Rey hukumannya tadi?” tanya Andra dengan tatapan jahilnya.
“Enak pala lo peyang! Dari tadi gue nahan sakit sama malu tau, gak?! Mana hampir satu kelas bully gue, lagi! Apalah daya ...” respon buras Reyhan bernada lesu tepatnya pada kalimat terakhir.
“Hahahaha! Makan tuh batu! Salah sendiri siapa lo malah ngomong begitu sama bu Aera. Udah tau beliau lagi PMS, lo malah buat masalah baru,” sambar Raka.
“Mangkanya lain kali lo harus bisa menyesuaikan situasi kondisi. Agar lo gak dihukum begini lagi. Oh iya, kami yang di sini lega banget deh karena akhirnya lo sama Alex baikan.”
Reyhan menoleh memberikan tatapan lunak pada sang ketua kelas yang berkacamata tersebut. “Oh, yang itu? Gue juga lega sebenernya. Gak nyangka aja sih, di waktu akan mau Ujian si Alex meminta maaf atas kesalahannya selama ini pada gue. Gue juga Alhamdulillah banget karena di sekolah ini gak ada lagi musuh yang bikin jiwa dan hati gue kurang tenang.”
“Tapi kalau antara Angga dan Gerald gimana? Apa mereka masih bermusuhan?” tanya gamblang Ryan.
Reyhan seketika bungkam atas pertanyaan Ryan si remaja yang lahirnya dari kota Semarang itu. Sementara Angga yang berada di ambang pintu karena tengah membenarkan tali sepatunya, melirik dengan tampang wajah dinginnya.
Freya yang sedang duduk di kursinya dalam sekejap mata langsung risih dan tidak betah karena pastinya di antara banyak siswa tersebut akan membahas mantan sampahnya itu. “Huh, pasti banyak banget mereka mau bahas cowok biadab itu!”
Freya memutuskan beranjak dari bangku kursinya dan melangkah mendekati Angga. “Ngga! Aku ikut kamu, dong!”
Angga berdiri tegak lalu menolehkan kepalanya ke belakang dengan senyuman hangatnya. “Ayo.”
Dengan senyuman bahagia penuhnya, Freya berlari kecil menghampiri sahabat lelaki tampannya yang akan hendak melangkah pergi meninggalkan kelas. Sedangkan, Jova yang masih ada di dalam kelas, menatap kepergian sahabat gadis polosnya yang pergi bersama Angga. Begitu pekanya, ia sangat tahu mengapa tiba-tiba Freya ingin ikut pada Angga. Ya, Freya tidak sudi mendengar tentang sosok Gerald yang dulu ada di kehidupannya dan pernah mewarnai hatinya.
“Belum,” jawab Reyhan tiba-tiba untuk merespon pertanyaan Ryan yang medok tersebut.
“Sampai kapan mereka begitu? Dan akibat dari Freya putus sam Gerald, apa Freya tau kalau cowok itu lelaki busuk?” tanya Lala.
Reyhan menghempaskan napasnya kasar. “Aku juga nggak tau. Tapi kalian jangan salah kaprah, sejahat-jahatnya, seburuk-buruknya Gerald terhadap Angga, tapi Angga gak pernah sedikit atau sekalipun menganggap Gerald sebagai musuhnya.”
“Terus Angga anggep Gerald apaan, dong? Temen? Pastinya juga nggak mungkin lah, Rey.” Zara menimpali.
Reyhan mengedikkan kedua bahunya acuh tak acuh. “Gue tau kok yang buat Angga masuk rumah sakit siapa. Gerald Avaran Dedaka, kamu pasti gak lagi kaget, Va. Karena aku udah ngasih tau soal itu ke kamu waktu kemarinnya.”
Jova menganggukkan kepalanya. Sedangkan mata Aji begitu melotot tajam dan ingin rasanya menghajar Gerald hingga babak belur. “Goblok! Cowok brengsek! Jadi yang bikin Angga kayak gitu dan hampir mati, si mantannya Freya?! Kalau ketemu, bakal gue habisin dia!”
“Tunggu, tapi kenapa lo bisa tau kalau yang buat Angga parah seperti dulu sampe masuk rumah sakit, itu kelakuannya Gerald? Apa waktu itu lo pernah menjadi saksi matanya?” tanya bingung Jevran.
Reyhan tersenyum miring dengan menaikkan satu alisnya. “Itu rahasia, Bung.”
“Apapun itu, tapi sumpah! Gue hari ini bener-bener terpukau sama kehebatan dan luar biasanya Angga! Digituin sama Gerald, tapi Angga gak ada niatan buat anggap cowok itu sebagai musuh terdalamnya. Ah! Udah ganteng, penyabar ... gilak! Gue makin klepek-klepek dibuat sama cowok sahabat cool lo itu, Jovaaaa!!” heboh Rena kesenangan sampai berteriak-teriak.
“Buset anjir! Lebay amat dah, lu?” Jova menggelengkan kepalanya berkali-kali karena melihat tingkah laku temannya yang berlebihan alias alay.
Aji yang mendengar kehebohan Rena memuji kehebatan dan kelebihan jiwanya Angga, hanya menatapnya cemberut tanpa berkata-kata apapun. Itupun tampang wajahnya sama sekali tak diketahui seluruh temannya.
Memang benar. Meskipun Gerald bertindak jahat pula buruk yang ingin menghabisi nyawa Angga, namun Angga sama sekali tak menganggap sosok lelaki aura hitam itu adalah sebagai musuh atau musuh bebuyutan dari masa SD-nya dahulu. Cukup satu yang Angga hempaskan, masa lalu. Dengan masa lalu yang telah lenyap dari memori otaknya, semuanya akan terasa baik-baik saja dan tak lagi mengganggu ketentraman jiwanya begitupun kehidupannya selama di dunia.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1