Indigo

Indigo
Chapter 80 | Disturbed Psychic


__ADS_3

Hari ke berikutnya ialah hari Minggu, dimana Reyhan masih belum ada tanda-tanda untuk segera sadar. Hingga beberapa temannya dan ketiga sahabatnya yang menatap dirinya sambil menunggu siuman lelaki wajah pucat tersebut menjadi takut pada kondisi Reyhan.


Berdiri tanpa membuka suara. Namun muka para mereka kompak menunjukkan raut sendunya, sampai Aji yang diam mulai mengeluarkan sebuah suaranya. “I-ini Reyhan nggak bakalan Koma lagi, kan? Satu hari gak bangun pikiran gue melayang kemana-mana.”


Rangga menolehkan kepalanya ke arah Aji yang suaranya lesu pelan. “Hei, gak mungkin sampe terjadi lagi. Kalau memang Koma, seharusnya Reyhan dibawa ke ruang ICU bukan kamar rawat inap.”


Aji hanya menghela napasnya tanpa menjawab tuturan kata Rangga, kemudian si Rangga beralih menatap Angga. “Ngga, Reyhan pasti akan baik-baik aja kan? Yakin gak ada-”


“Kata dokter Reyhan baik-baik saja. Gak ada luka atau cedera yang serius, memang hanya kesadarannya yang belum kembali.”


“Eum, tapi muka Reyhan pucat lemas gitu, Ngga. Aku gak mau kalau sahabat kita ada apa-apa selain ini,” ucap Freya lirih dengan perasaan getir.


“Aku pun juga ...” celetuk Jova.


Angga menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya keluar dari mulut. “Sebenarnya kemarin dokter sudah bilang kalau antara dua atau tiga hari Reyhan nggak sadar-sadar, terpaksa dia dibawa ke ruang perawatan Intensif.”


DEG !


Yang mendengar ujaran Angga langsung cepat melimbai kepalanya masing-masing dengan wajah gegau. “Y-yang bener lo, Ngga?! Haduh lah gue mohon jangan sampai terjadi huhu! Gue gak rela si Reyhan dimasukin ke ruang bau obat-obatan itu lagi! Gawat dah gawat! Ini pasti detik-detik Reyhan mau Koma balik!”


“W-woi! Santai aja napa sih, Ji?! Jangan panik gitu lah!”


“Heh Vran, gak ikhlas gue kalau temen kita kayak gitu lagi! Udah cukup satu kali Reyhan Koma! Itupun bangunnya empat bulan kemudian!”


Aji dengan panik berlari mendekati ranjang pasien Reyhan lalu yang membuat teman-temannya terperangah adalah dimana Aji mengguncang-guncang kedua bahu milik Reyhan secara kencang. “Rey Banguuuunn!! Please gue mohon lo jangan sampai masuk ke sana lagi yayayaya?!”


“Cah kentir iki ! Anak wong digonjang-ganjing koyo ngono piye jane ki?! (Anak gila ini! Anak orang diguncang-guncang seperti itu gimana sih ini?!)” Setelah mengutarakan kata tersebut, Ryan berlari dan menghentikan kelakuan Aji pada Reyhan yang tetap belum merespon meskipun tubuhnya digoyang-goyang hebat.


“Woi ! Uwes to, Ji ! Kowe ki ra ndelok Reyhan gek kondisine semaput?! Ora pareng koyo ngono (Woi! Sudah toh, Ji! Kamu ini tidak melihat Reyhan lagi kondisinya pingsan?! Tidak perlu seperti itu)”


Ryan yang menarik badan Aji untuk melepaskan Reyhan, langsung di semprot oleh temannya yang telah menghentikan aksinya. “Elo ngomong apaan sih?! Gak mudeng gue!”


“Alah terserah! Intinya lo jangan gituin si Reyhan, apa lo nggak lihat temen kita keadaannya lagi pingsan?! Nanti tiba-tiba kalau cara lo seperti itu, yang ada dalam pingsannya, jantung Reyhan berhenti!”


“Lo bangunin pake cara apapun, gak ada yang mempan! Dia itu lagi pingsan, bukan tidur!” damprat Ryan dengan mata melotot.


“Terus, sadarnya kapan?! Orang ini udah satu hari! Gak mikir ya lo?!”


“Lah, kok malah jadi berantem begini, dah?” gumam Andra yang sedari tadi cuma diam.


“Heh kalian berdua! Kalian ini kenapa sih malah jadi berantem kayak gitu?! Ini tuh kamar rawat, bukan hutan yang banyak memperkeruh suasana!” tukas Jova kesal.


Aji dan Ryan terdiam seribu kata karena ucapan Jova yang bernada tinggi. Suasana di kamar rawat menjadi berubah sunyi. Lagi-lagi Angga menarik napasnya dengan panjang lalu menghembuskannya, melihat wajah tak karuan dari Aji dibanding Ryan membuat Angga tak tinggal bisu.


“Panik juga nggak ada pengaruhnya buat Reyhan, Ji. Gue tau lo gak mau Reyhan seperti itu, tapi seenggaknya kepanikan itu nggak melebihi batas. Dukungan sebuah Doa sudah cukup terbaik untuk Reyhan.”


“Iya. Gue minta maaf kesalahan gue tadi sama Reyhan ...”


“Ngga, kira-kira lo bisa nggak menerawang-menerawang gitu soal kesadarannya Reyhan? Barangkali keren dikit lah hehehe, anak Indigo. Biasanya Indigo bisa lho ngelakuin spektakuler kayak gitu.”


Bola mata Angga melirik ke arah Andra. “Gue bukan anak Indigo, jadi soal terawang-terawang seperti itu gue nggak mungkin bisa. Gue manusia biasa bukan manusia yang punya kelebihan begitu.”


Jova merapatkan bibirnya sementara Freya menutup mulutnya karena semua perkataan Angga berbohong. Yang sebenarnya lelaki tersebut bisa menerawang kecuali masalah kesadaran seperti Reyhan contohnya. Bola mata Angga berbalik ke semula kembali yaitu menatap salah satu sahabatnya yang belum kunjung sadarkan diri.


Hela napas keluar dari mulut Angga. Mereka berusaha mencairkan suasana agar menjadi lebih kondusif yang sempat hilang berubah tegang akibat insiden kecil tadi. Ya, setidaknya tak ada lagi perdebatan atau pertengkaran di antara mereka semua supaya tak menganggu Reyhan meskipun pemuda tersebut oksigen dalam tubuhnya belum menaik.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...

__ADS_1


Sore Hari


Kini sekarang yang menemani Reyhan adalah Jihan, posisi keadaan wanita paruh baya sang ibu lelaki itu yang sangat begitu menyayanginya tengah tidur pulas dengan satu tangan memeluk tubuh Reyhan, sementara kepalanya beliau letakkan di atas perut anaknya.


Jika Farhan sedang tidak ada di ruang rawat untuk menemani anaknya bersama sang istri, tetapi melainkan di rumah karena beliau kedatangan tamu teman kerja kantornya yang sudah lama tak berkunjung ke rumahnya.


Namun suara pintu kamar rawat yang dibuka mampu membangunkan Jihan dari tidurnya, kepalanya beliau angkat perlahan lalu mengucek matanya kemudian menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Begitu tahu yang datang adalah dokter Awam beserta beberapa perawat lelaki, sang ibu Reyhan langsung menegakkan badannya dan menyapanya dengan sopan bersama senyumannya.


“Sore Dokter, sore Suster ...”


“Sore juga Ibu,” respon dokter Awam dengan senyum ramah membuat orang yang melihatnya nyaman.


Dokter Awam melangkahkan kakinya mendekati sang pasien yang ia tangani waktu jumat malam. Dengan matanya yang tak menggunakan kacamata, dokter pria tersebut menatap intens wajah Reyhan yang begitu pucat apalagi keadaannya yang tetap saja belum sadarkan diri semenjak 1 hari kemarin.


“Apakah Reyhan juga belum siuman, Bu?” tanya dokter Awam sambil menoleh ke arah Jihan yang ada di belakangnya.


Jihan menggeleng lemah. “Belum, Dokter. Tanda-tanda kesadarannya juga belum ada. Saya menjadi sangat khawatir terhadap Reyhan, karena sudah dari kemarin anak saya belum siuman.”


Jihan menatap dokter Awam dengan wajah sendunya. “Dok, apakah benar, Reyhan akan baik-baik saja??”


Dokter Awam menghela napasnya berat. “Sebetulnya iya, Bu. Waktu pasien dibawa ke sini dan kami yang menanganinya, Reyhan hanya mengalami benturan kecil saja. Kalau semisalnya terjadi benturan sangat keras, bisa jadi kemungkinan besar anak Ibu akan mengalami gegar otak.”


“G-gegar otak, Dok?!” tanya Jihan kaget dengan memastikan ucapan beliau benar atau salah.


“Betul Ibu, tetapi beruntung saja hal itu tidak terjadi dengan Reyhan. Tapi Bu, ada yang perlu saya sampaikan di sini. Agak berat, ya Ibu ...”


Jihan menelan ludahnya lalu tersenyum kecut. “Ehm apa yang ingin Dokter sampaikan kepada saya? Jelaskan saja Dok, agar saya tahu apa yang terjadi dengan Reyhan anak saya.”


“Melihat kondisi Reyhan setelah saya mendiagnosa, ternyata Reyhan terdapat masalah di psikisnya, atau bisa disebut psikis pasien terganggu. Hal ini bisa terjadi pada Reyhan hingga membuat anak Ibu menjadi seperti ini. Stress, Depresi, atau lainnya yang bergantungan di dalam masalahnya.”


Jihan menutup mulutnya dengan kedua tangannya tanpa sadar bulir air mata menetes. Meskipun beliau tahu Reyhan pernah mengalami Depresi berat, tetapi Jihan tidak mengetahuinya bahwa mental psikis anaknya terganggu oleh perkara.


“Oalah, Anemia. Apakah sebelumnya Reyhan pernah dibawa ke rumah sakit ini?”


“Iya Dokter, sudah berkali-kali.”


“Baiklah Bu, apa Depresi yang dialami Reyhan terjadi semenjak dini?” Dokter Awam memberikan pertanyaan berikutnya pada Jihan.


“Tidak juga, Dok. Waktu kecil Reyhan tidak pernah mengalami Depresi sekalipun, namun disaat SMA inilah Reyhan sering mengalami Depresi karena masalah yang tertentu.”


Dokter Awam mengangguk dengan senyum. “Lebih baik kita tunggu saja ya, Bu kesadaran dari Reyhan. Kalau memang dalam waktu jangka hari ini Reyhan tak segera siuman, besok pagi kami terpaksa membawa Reyhan ke ruang perawatan Intensif untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di sana.”


Sementara satu perawat nampak selesai mengukur suhu tubuh Reyhan dengan menggunakan alat Termometer, perawat lelaki tersebut berjalan ke arah dokter Awam yang tengah melakukan pembicaraan pada salah satu wali pasien. Setelah berada di sampingnya, perawat itu memperlihatkan angka suhu dalam alat kesehatan tersebut.


“Suhu tubuh pasien tiga puluh sembilan koma delapan derajat Celcius, Dok.”


‘Astagfirullah, tinggi sekali ...’ batin Jihan tak menduga suhu tubuh anaknya setinggi itu dibanding kemarin saat di rumah yang hanya 37,8 derajat Celcius.


Dokter Awam yang melihatnya dengan intens sampai menggelengkan kepalanya. Jihan yang awalnya menghadap ke arah beliau kini memutarkan seluruh tubuhnya ke hadapan Reyhan yang terbaring lemah di ranjang pasien. Jihan menggenggam telapak tangan putranya dari bawah dan mengharapkan Reyhan segera sadar dari pingsannya yang hampir dua hari.


Linangan air mata terus saja bebas mengalir membasahi wajah cantiknya seraya menatap lekat muka pucat anaknya, sedikit mengatupkan kedua bibirnya agar air mata tak berhasil masuk ke dalam mulut sang ibu.


Selang menit kemudian, Jihan merasakan jari-jemari dari tangan lemas Reyhan bergerak seolah ingin menggenggam telapak tangan lembut wanita paruh itu. Ya, Jihan dengan hal itu langsung melihat pergerakan jari anaknya kemudian beralih menatap wajah Reyhan.


Bibir pucat kering milik Reyhan yang semu terbuka membuat mata Jihan terbelalak dengan sunggingan senyum haru. Rupanya Reyhan tidak jadi dibawa ke ruang perawatan Intensif yang mana dirinya akan di rawat ketat dalam sana, dikarenakan sedikit demi sedikit mata Reyhan yang lama tertutup kembali terbuka.


“N-nak?! Kamu sudah sadar?!” Jihan sontak bangkit dari kursinya begitupun dokter Awam segera menghampiri sang pasien untuk memeriksanya apakah kesadarannya sudah kembali sepenuhnya ataukah belum.

__ADS_1


Tubuhnya sangat lemas apa yang lelaki itu rasakan begitupun di sisi lain ia juga merasakan bahwa detak jantungnya tengah diperiksa oleh sang dokter menggunakan Stetoskop yang selalu beliau lingkarkan di leher bak sebuah aksesoris kalung. Meskipun kesadarannya telah kembali semula, namun pandangan Reyhan masih blur hingga apa yang ia lihat hanya samar-samar seseorang mengenakan baju putih dan suara yang mampu mengusik di sepasang telinganya.


Merasa begitu berat untuk dibuka, Reyhan memutuskan untuk memejamkan matanya kembali. Dan suara kebisingan itu masih mengusik ke pendengarannya.


Jihan yang melihat dokter Awam selesai memeriksa Reyhan langsung melemparkan pertanyaan. “Bagaimana, Dok? Apakah semuanya baik-baik saja?”


“Alhamdulillah, iya Bu. Seperti apa yang tadi saya periksa pada kondisi pasien, kesadaran dan keadaan sudah mulai membaik. Oh iya, tetapi lebih baik saya sarankan Reyhan istirahat total di ranjang ya, Ibu. Tidak boleh banyak pikiran dan terakhir jangan sampai mengalami Stress. Apakah saran yang saya berikan pada Ibu bisa Ibu pahami?”


“Saya paham sekali, Dok. Terimakasih,” tanggap Jihan dengan membungkukkan badannya bersama senyuman bahagianya.


“Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya dan Suster izin pamit keluar, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, Dokter ...”


Dokter Awam tersenyum lebar begitupun para perawat yang murah senyum. Mereka berbalik badan meninggalkan kamar rawat Reyhan. Setelah salah satu perawat menutup pintu dari luar, Jihan memutar tubuhnya balik menghadap ke arah Reyhan yang Reyhan kembali memejamkan mata. Satu panggilan dan sentuhan lembut dari sang ibu saat mengusap lengan hangat Reyhan, membuat pemuda pucat tersebut yang tengah menutup matanya, membukanya dan mengarahkan bola matanya menatap Jihan.


Sementara pandangannya nampak sudah jelas seperti sediakala dan sekarang Reyhan menangkap tatapan wajah teduh Jihan yang usai memanggilnya secara lembut. Putranya hanya menarik kedua sudut bibirnya untuk memberikan senyuman lemahnya pada wanita paruh baya tersebut yang telah setia menunggu dirinya siuman.


Melihat tatapan mata yang Jihan rindukan, beliau langsung menghambur memeluk tubuh Reyhan dengan air mata mengalir. “Akhirnya kamu sadar juga, Nak. Mama senang sekali ...”


Gerakan kedua tangan lemas itu, perlahan Reyhan lingkarkan ke pinggang Jihan untuk membalas pelukan hangat mamanya masih dengan senyuman lemahnya begitupun mata terbuka setengah. Reyhan tak tahu apa yang terjadi tetapi yang jelas dirinya berada di rumah sakit akibat peristiwa yang mencelakainya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Pagi hari bersama teriknya matahari menandakan sebentar lagi jam 07.00 namun Angga merasakan firasat yang sangatlah amat buruk pada Reyhan yang masih membutuhkan perawatan di RS Wijaya, maka dari itu sebelum dirinya datang ke sekolah, lelaki Indigo tersebut mementingkan dahulu pada sahabatnya yang akan terjadi apa-apa sesuai bayangan yang menempel di otaknya.


Sayangnya Angga tak melihat Reyhan di sepenjuru ruangan kamar rawat sahabat friendly-nya, namun pendengaran tajam milik Angga mendengar suara tawa menyeramkan dari atas gedung RS Wijaya atau rooftop. Angga sempatkan mendongak kepalanya ke atas dinding lorong lantai 3 sebelum pemuda itu berlari kencang mengecek suara tawa yang dicampur suara minor serak seseorang.


Setibanya Angga menginjak lantai rooftop setelah mendobrak kuat pintu. Angga dikejutkan Reyhan yang berdiri di atas tembok rendah pembatas rooftop RS Wijaya. Kedua mata para pemuda itu saling bertatapan antara wajah keterkejutan dan senyuman yang menyeringai.


Mata Reyhan bukanlah mata Reyhan lagi. Angga sudah memprediksi bahwa tubuh raga sahabatnya sedang dirasuki oleh satu arwah yang pasti. Cuma terdapat sklera mata saja yang mana berwarna putih tanpa adanya bola mata, bahkan di genggaman tangannya ada sebuah pisau tajam yang Reyhan pegang.


Rahang Angga mengeras dengan menggertakkan giginya kuat. “Keluar lo dari raga sahabat gue!!”


“Hahahaha, kamu ingin aku keluar dari raga Reyhan? Jangan berharap. Detik ini juga sahabatmu akan mati! Jadi, ucapkan selamat tinggal pada Reyhan!”


Angga menggeleng kuat lalu berlari kencang menghampiri sahabatnya yang tengah dirasuki oleh Arseno, malangnya saat ingin menarik Reyhan dari sana, kulit lengan tangan Angga disayat lebar dan dalam oleh Reyhan hingga merobek jas almamater dan seragam putih panjangnya yang ada di dalam jas sekolahnya.


Darah segar mengalir deras keluar membuat Angga sedikit berteriak merintih pada lengannya yang telah disayat pisau tajam oleh Reyhan. Angga berusaha menyeka darah lengannya menggunakan telapak tangan kirinya agar darahnya tak terlalu bebas keluar yang membuat dirinya kehabisan darah.


Angga spontan jongkok di bawah Reyhan dengan tertatih-tatih, matanya terpejam kuat karena jujur ia tak bisa menahan luka dalam lengan tangannya yang darahnya masih bisa terus keluar hingga telapak tangan kanan Angga ikut berdarah.


“Kamu merasakan kesakitan yang luar biasa dan juga duka kematian dari sahabatmu.”


Seketika Angga auto membuka matanya cepat dan menarik wajahnya ke atas. Kedua bola matanya mencuat saat Reyhan menggorok lehernya menggunakan pisau bekas darahnya pemuda Indigo itu hingga darah sahabatnya bermuncratan kemana-mana apalagi darah Reyhan sampai mengenai seragam Angga yang pemiliknya mematung dengan pandangan mata tak terlepas pada sahabatnya.


Hingga tibanya tubuh Reyhan terhuyung ke belakang dan terjun ke bawah sana, dengan cekatan Angga berdiri dan tangkas menangkap tangan kanan Reyhan dengan tenaganya yang tersisa sedangkan darah lengan kanannya terus merembes keluar buat tubuh Angga menjadi sangat lemas dan tenaganya berkurang bahkan wajahnya memucat akibat darah yang banyak keluar tanpa henti-hentinya.


Angga berupaya payah mengangkat Reyhan dengan tenaga tangannya dibantu tangan satunya yang lengannya terluka parah karena goresan dalam. Akan tapi licinnya darah Angga membuat tangan Reyhan yang sang sahabat tangkap merosot. Satu senyuman terakhir dari Reyhan usai Arseno keluar dari tubuhnya.


“Gue akan tarik lo ke atas!!” tegas Angga tetap bersikeras menarik tubuh sahabatnya.


Tetapi apa yang Angga usahakan dengan keras, tangan Reyhan berhasil terlepas dari genggaman kedua tangan Angga. Angga sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong keselamatan nyawa sahabatnya, karena dirinya hanya bisa melihat Reyhan yang sudah tergeletak di aspal parkiran dengan kepala yang pecah bersimbah darah. Mata Reyhan juga menutup selamanya membuat air mata Angga yang jarang keluar mulai menetes jatuh ke bawah dengan baur hati penuh penyesalan tinggi...


Gagal dalam menyelamatkan jiwa Reyhan.


Tangan kiri Angga mengepal dengan tangisan deras kecewa pada dirinya sendiri yang telah bodoh dan gagal mengamankan nyawa jiwa Reyhan. Hingga Angga berteriak keras melampiaskan keamarahannya dan kekecewaannya dengan memukul atas tembok pembatas rooftop tempat dimana waktu tadi Reyhan injak. Menundukkan kepalanya sekaligus memejamkan matanya rapat sembari menangis terisak secara lirih bersama kecewa dan murka yang menyatu di hatinya.

__ADS_1


“Maafin gue Rey! Maafin gue!!”


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2