Indigo

Indigo
Chapter 158 | Delivering Into the Immortal Realms


__ADS_3

Di luar gua tepatnya di pemandangan yang terbilang dunia astral, Reyhan tetap masih saja menatap tajam psikopat pria itu yang menatapnya dengan super sadis bersama keinginan nafsunya untuk menganiaya dua korbannya yang berumur lebih muda dibanding ia.


Reyhan memaling wajahnya ke kolam lumpur mendidih itu, sementara Jova tetap setia di belakang punggung kokoh sahabat lelakinya yang saat ini memang sedang melindunginya ketat dari psikopat yang tengah menyampirkan kapak senjatanya di atas bahu kanannya bersama wajah penuh ekspresi raut arogan.


‘Enggak. Gue gak boleh diam saja di sini, gue dan Jova nggak boleh terjebak di tatapan psikopat itu. Gue harus mencari cara bagaimana kami bisa kabur darinya,’ batin Reyhan dengan kepala dingin.


Tatkala detik berikutnya, kedua mata sipit lelaki itu yang mengenakan hoodie-nya lumayan melebar saat teringat akan sesuatu. ‘Oh, iya! Gue kan nyimpen pistol yang tadi gue temukan di tempat haram itu. Mungkin gue bisa memanfaatkan senjata yang gue gembol di kantong buat menyerang dia. Hhh, tolong maafkan hambamu ini Ya Allah, karena harus membunuh orang lagi demi keselamatan jiwa.’


“Rey ... kita berdua harus gimana? Ya kali masa nyemplung diri ke dalem kolam lumpur yang ada di belakang tubuhku? Kan sama aja kita saling bunuh diri.”


Reyhan menoleh ke arah Jova yang masih bertempat di belakang punggung miliknya bersama wajah dinginnya. “Kita pasti bisa bebas, tapi dengan caraku yang ilegal dan sadis.”


Mata gadis Tomboy itu membulat setelah mendengar jawaban dingin Reyhan macam jadi cosplay suara sahabat lelaki satunya yang entah sekarang berada dimana. ‘Mampus, ini anak pasti mau bunuh orang lagi kayak tadi.’


“Hahaha! Lihatlah apa yang gue dengar barusan. Lo ingin membunuh gue dengan cara ilegal dan sadis, bukan? Apakah lo gak salah berucap?”


Reyhan menaikkan satu alis cokelat tebalnya yang ada di atas mata bersama tampang remeh sambil mengeluarkan pistolnya dari kantong saku bajunya. “Lo gak tahu saja gue bawa senjata apa.”


Reyhan menodongkan pisau itu tepat bersasaran di arah kening psikopat tersebut yang memiliki kepada berambut cepak. “Ada kata-kata terakhir yang ingin lo ucapkan sebelum berakhir di dunia?”


Jova meneguk ludahnya kasar dengan kening mengeluarkan keringat dingin menatap kesaksian ini sebentar lagi akan dimulai pada adegan yang akan Reyhan awali untuk menyerang psikopat tersebut.


“Haaah! Banyak bacot, lo!!” Psikopat itu yang tidak mau mendengar pertanyaan omong kosongnya Reyhan yang ia anggap sok berani, langsung melemparkan kapaknya melesat cepat melayang ke arah lelaki Friendly tersebut. Pasti senjata itu akan menancap di salah satu anggota tubuh Reyhan, pikir sang pria psikopat.


“Reyhan, elak!” teriak Jova dari belakang buat memperingati sahabatnya yang dilemparkan sebuah kapak yang lumayan berlumuran darah.


Reyhan dengan hebat dan tangkas, langsung menangkap kapak itu dari gagangnya lalu tersenyum miring iblis. “Great job, Bro.”


‘Bagaimana bisa dia tahu taktik gue yang gue sasarkan untuknya? Sial, kerja gue gagal total !’ rampus pria itu secara relung hati.


“Itu berarti lo bodoh dan termasuk golongan orang psikopat yang palsu, buktinya elo gak terlalu pintar bermain taktik untuk memanipulasi domisilinya. Jadi, terimalah kekalahan dan takdir lo detik ini juga!”


“Hahaha! Lo mau apa, hah sekarang?” tanya pria itu tetap berani tak ada rasa takut sedikitpun pada senjata yang ditodongkan oleh Reyhan.


“Bajingan! Banyak bacot lo, Keparat!!”


DOR !!!


Dengan secepat halilintar, peluru pistol yang mana telah Reyhan tarik pelatuk senjatanya dengan benar melintang ke arah psikopat itu yang tak dapat mengelaknya karena tidak sempat. Melihat dahinya tertembus oleh peluru yang bisa merenggut jiwa bila sampai mengenai pembuluh darah di dalam tubuh, Jova langsung menekuk kedua kakinya untuk sedikit berjongkok karena tidak sudi menatap kesadisan yang telah Reyhan perbuat demi kebaikan tentunya.


Reyhan menurunkan tangannya yang masih memegang pistol dan memirsa pria bertubuh atletis itu yang mana kening sentralnya telah mengeluarkan banyaknya darah dari dalam lukanya yang telah berlubang parah karena kerja tamaknya Reyhan.


Bahkan sekarang raga pria itu tergelimpang lemah di atas tanah dengan kondisi nyawa telah melayang dan tidak akan pernah lagi kembali masuk ke dalam raganya yang tak memiliki jiwa tersebut. Keadaan dua matanya terbuka nyaris macam melotot, itulah yang membuat Jova semakin bergidik ngeri.


“Banyak mulut, sih. Mati, kan lo akhirnya? Rasakan apa yang sudah lo terima hari ini!”


Jova menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya bersama detak jantung berpacu kencang. ‘S-sangar, anjay ... Ternyata gak di game doang itu cowok bisa melakukannya, tapi di dunia nyata juga bisa sadis kayak nih contoh. Berarti kesimpulannya, gue punya cowok sahabat yang sadis, dong?’


Reyhan memutar tubuhnya ke belakang sembari memasukkan senjatanya kembali di dalam kantong baju hoodie kuning olive miliknya. “Maaf, ya? Aku bakal sadis kalau hanya sama penjahat doang. Gak juga sama orang baik, I promise to you.”


Jova yang sedari tadi tidak menunjukkan sumringahnya, kini sekarang dengan perlahan bibir tipisnya menarik sebuah senyuman simpul kepada Reyhan yang wajahnya setengah memelas, tak hanya senyum saja tetapi juga menganggukkan kepalanya diyakini percaya pada sahabatnya.


“I will accept your promise.”


Reyhan tersenyum ramah pada Jova seraya mengusap-usap pucuk kepalanya. “Thank you.”


Reyhan kemudian menghela napasnya panjang dengan melepaskan tangannya dari ujung kepala sahabatnya lalu mulai kembali mengedarkan pandangannya setempat untuk mencari celah melewati kolam lumpur mematikan itu.


Jova ikut mencari dengan pandangan matanya bersama bibir yang ia katupkan, sampai tiba-tiba gadis tersebut menangkap para bebatuan yang peletakkannya berbaris secara bentuk vertikal. Tempat itu adalah tempat dimana Angga melalui untuk melintasi atas permukaan kolam air danau yang mengepul tersebut bersama Freya.


Jova segera menarik-narik pelan lengan baju sahabat lelakinya yang tengah sibuk mencari cara, membuat Reyhan tanpa sebal menoleh ke arah gadis itu dengan sedikit menunduk disebabkan dirinya lebih tinggi daripada Jova yang hanya tinggi mencapai sebatas 164 sentimeter.


“Rey. Itu ada kayak batu-batu gitu di sana, kayaknya kita bisa melewatinya deh dengan menginjak para bebatuan yang modelnya berbaris itu,” ucap pendapat Jova sambil menuding.


Reyhan menggelengkan kepalanya tidak setuju atas dari pendapatnya sang sahabat perempuan. “Percuma kalau kita ke sana, gak ada jalan untuk kita menuju ke kesempatan itu.”


Kedua pundak Jova saling merosot dengan tampang mukanya yang tak berseri atas kebenarannya Reyhan. “Iya juga, sih ... terus pakai cara apa, dong? Nggak mungkin kita kembali ke dalem gua. Entar yang ada kita dikejar psikopat lainnya kayak maling.”


“Sebentar. Kayaknya aku punya ide sesuatu, deh,” ujar Reyhan yakin setelah memasukkan setengah kayu panjangnya ke dalam kolam lumpur.


“Ide apaan, tuh? Berguna, gak?” tanya Jova seraya mengerutkan keningnya pada pengucapannya Reyhan.


“Mestinya berguna, dong.”


Reyhan lagi-lagi membentuk senyumannya menjadi smirk dengan menoleh ke belakang untuk menatap pria psikopat yang sudah tidak bernyawa lagi tersebut. Tentunya Reyhan mendapatkan sebuah ide genius yang pastinya dengan cara kebengisan, dan Jova tidak tahu ide apa yang akan dirinya peragakan. Terlebih sang gadis bernama elok yaitu Jovata Zea felcia tak mempunyai kelebihan seperti membaca pikiran.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam bangunan tepatnya adalah lorong yang berpuaka, Freya menggenggam telapak tangan Angga. Terasa hangat? Ya, benar. Bahkan sekarang ini lelakinya tetap memejamkan matanya karena rasa sakitnya belum mereda. Entah mungkin ada sesuatu yang menyiksa diri Angga atau entah kenapa yang bisa membuat ia seperti sekarang.


‘Tangannya anget banget. Aku ingin mencari tahu kenapa Angga bisa jadi seperti ini, eh apa karena dia mendapatkan hal gaib yang mendatanginya, ya? Secara, Angga kan cowok Indigo. Pasti banyak sosok yang mengincar karena auranya.’


Mulut pucat Angga yang sebelumnya bungkam kini terbuka usai mendengar suara hati Freya berucap. “Aku gak kenapa-napa ...”


Freya yang masih memeluk tubuh lemahnya, segera mendongak ke atas untuk menatap mata sayu lelaki tampan itu. “Jangan mencoba buat bohong sama aku, Ngga! Aku tahu kamu sedang gak baik-baik saja. Kamu jangan sok kuat bila memang sudah nggak kuat menahan rasa sakit kamu, meski aku bukan anak Indigo sepertimu tapi aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan saat ini.”


Angga membungkamkan bibirnya dan memilih diam. Tidak bisa di herankan lagi, meski tak memiliki kekuatan seperti dirinya yang Angga punyai serta ia genggam di jiwa, tetapi Freya sangat begitu hebat dalam menajamkan peka terhadap sekitarnya.


Freya perlahan melonggarkan kedua tangannya yang mendekap tubuh kekasihnya lalu mengusap lembut pipi kiri Angga yang betul-betul terasa hangat apalagi kondisinya berwarna kulit putih bercampur pucat. “Tubuhmu hangat banget lho, apa ini pertanda akan terkena gejala kambuh lagi?”


“Aku belum merasakannya ...” lengai Angga tetap mata terpejam.


“Serius?”

__ADS_1


Angga hanya memberikan respon pada Freya dengan sebuah anggukan kepala lemahnya saja tanpa mengeluarkan suaranya. Suara nada Bariton milik Angga pula yang dari mulut nyaris tak terdengar jika lelaki tampan itu berbicara di saat yang sekarang. Mungkin akan terdengar bila sang penangkap suara ada di dekat sisinya. Kemudian setelah itu, Angga membuka matanya dan mulai menatap mata indahnya Freya yang mana bibir tipisnya membentuk senyum sendu.


“Ayo kita pergi dari sini ... tempat ini sangat bahaya untuk kita yang sebatas manusia, tidak seperti mereka yang sudah lama mati di dalam bangunan ini,” ajak Angga.


Freya mengernyitkan keningnya sedikit dengan masih tetap senyum. “Kamu tahu darimana kalau mereka di dalam bangunan ini sudah lama mati? Kamu bisa menghitung kapan terakhir mereka hidup?”


Angga hanya diam walau pandangannya tetap tertuju pada Freya non berpaling, sampai hingga Freya langsung kembali peka dan tentunya pasti tebakannya kali ini benar. “Oh aku tahu! Kamu mesti udah menerawang segala yang terjadi di bangunan berhantu ini, kan? Ayolah, kamu tuh lagi sakit kurang bertenaga. Hindari dulu tugasmu untuk menerawang melalui mata batin, oke?”


“Kalau itu aku gak sengaja menerawang. Itu secara tiba-tiba yang muncul dibenak otakku yang langsung transfer ke mata batinku. Tapi kalau dari tebakan darimu, memang ada betulnya.”


Angga tersenyum lemah. “Beruntung sekali, ya aku mempunyai pacar super peka yang seperti kamu.”


Freya membentuk senyuman biasanya menjadi lebar mendengar penuturan lirihnya Angga padanya. “Di saat aku yang berkondisi seperti ini, tapi di sini kepekaan kamu malah justru tajam.”


Freya dengan tetap senyum yang ia patri, merangkul lengan tangan kanan Angga pakai dua tangannya dan kepalanya ia sandarkan aleman di bahu kekasihnya. “Tapi aku banyak kurangnya dari itu. Aku nggak seperti kamu yang mampu membaca pikiran, mengerti bahasa hewan, melihat hantu, berinteraksi untuk berkomunikasi sama arwah, bahkan mengusirnya sekalipun. Kamu tetap yang nomor satu di antara banyak cowok.”


Angga menaikkan satu alisnya. “Masa? Lalu sahabatmu Reyhan nomer berapa kalau aku nomer satu?”


Freya melepaskan salah satu tangannya dari lengan Angga lalu menempelkan jari telunjuk dari tangan tersebut di pipi mulusnya bersama menaikkan kedua bola matanya ke atas. “Kalau Reyhan tuh, nomer dua.”


Freya kembali menatap hangat kekasihnya yang tetap menatap mata indah artistiknya. “Hampir satu pangkat, kan denganmu? Hehe!”


“Kamu asal ngomong atau memang dari hasil penelitian tentang aku sama Reyhan?” tanya Angga yang sebetulnya tahu.


“Ih, asal ngomong darimana?! Ini atas dari penilaianku berdasarkan menyimak sifat unik kalian berdua sejak dahulu.”


Angga mengelus-elus pipi mungil gadisnya lalu beralih mencubit kecil karena gemas. “Jangan cemberut begitu, aku kan bercanda. Lagian, aku sudah tahu kalau kamu bakal menjawab seperti itu.”


“Sudah aku duga kamu bakal ngomong gitu.”


Angga cuma tersenyum saja seraya melepaskan telapak tangannya dari pipi putih halus Freya yang sama sekali tanpa ada jerawat, terkecuali gadisnya yang masih merangkul lengan tangannya dengan sayang seperti hatinya yang mencintai dirinya seutuhnya.


Hingga tiba-tiba pandangan mata Angga yang terlihat masih ruyup, tertuju pada arah samping tempat lorong yang gelap meski difasilitasi satu cahaya lampu di atas dinding. Cara Angga lihat yang terkesan aneh, membuat Freya menatap kekasihnya curiga dengan memicingkan kedua matanya.


“Angga lihat apa? Kok cara menatapnya kayak gitu? Di sana ada sesuatu, ya?” tanya Freya sambil menatap arah yang sedang ditinjau Angga intens.


Lelaki tampan itu mengepalkan satu telapak tangannya dengan mulai menghembuskan napasnya. Hawa energi negatif semakin dekat menuju ke arahnya begitupun juga bersama Freya. seperti yang dinyatakan, keadaan raganya nang lemah membuat Angga tidak sanggup menghadapi sosok makhluk astral yang memiliki aura hitam.


“Ada sesosok yang sedang menuju ke kita berdua. Energi negatifnya sangat begitu kuat hingga aku sendiri kurang sanggup jika harus menghadapinya untuk sekarang di kondisiku yang seperti ini,” jelas Angga.


“S-siapa, Ngga? Jangan bilang yang kamu maksud barusan adalah makhluk gaib yang menghuni bangunan besar terbengkalai ini?!” bimbang Freya.


Angga yang hendak menjawabnya, tertahan saat keberadaan jarak bau aroma energi negatif itu telah ada di dekatnya. Ya, tepatnya sosok anak kecil perempuan berusia 5 tahun dengan berwajah menyeramkan dimana kedua matanya saling melotot seakan keluar dari rongganya, pangkal hidungnya robek hingga terlihat tulangnya, memiliki sunggingan senyuman sampai mencapai kedua telinga, terakhir bawah mulut dekat bibirnya berlumuran banyak darah yang bau amis menyengat ke indera penciuman kedua remaja manusia itu.


Freya langsung menyembunyikan wajah cantiknya di bahu kanan Angga dengan tubuh bergetar karena takut melihat kehadiran sang arwah anak kecil perempuan yang berwujud mengerikan.


“Kakak ... tolong bebaskan pergelangan kakiku dari borgol besi ini, hihihihihi!”


“Huwaaaa!! Bisa nggak jangan keluarin suara 'hihihi' nya?! Suara kamu terdengar menyeramkan sekali, Dik!” takut Freya semakin mempererat rangkulannya di lengan hangat kekasih Indigo-nya.


“Kakak gak mau! Mukamu serem banget! Kalau mau, kamu minta ajak saja dengan pacarnya Kakak!”


Angga tersentak kaget setelah mendengar penuturan nada takut kekasihnya. “Kenapa jadi aku?”


“Haduh, turuti saja apa yang dia mau, Ngga! Barangkali setelah itu dia gak mengganggu kita berdua lagi,” suruh Freya yang sebetulnya tidak memaksa.


Angga menghela napasnya panjang tanpa berniat menatap arwah gadis kecil perempuan itu yang masih saja menunggu terima kepastian dari antara mereka berdua. Bahkan makhluk astral berusia 5 tahun dengan gaun lusuh compang-camping tersebut, tetap tersenyum menyeringai pada dua manusia yang memiliki aura bagus atau positif.


“Yasudah, kamu tunggu di sini sebentar. Biarkan aku mengajak arwah itu untuk berkomunikasi denganku.” Angga menyingkirkan lembut kedua tangan Freya yang merangkul di lengannya lalu bangkit berdiri meskipun kepalanya masih terasa pusing dan dadanya masih terasa sesak.


‘Sepertinya ini satu jalan cara agar arwah anak kecil itu bisa tenang dan tidak lagi mengganggu atau meneror manusia yang menempati wilayah ini,’ kata Angga dalam lubuk hati sembari melangkah mendekati hantu berenergi negatif tersebut.


Freya menarik kedua kakinya ke depan hingga menjadi menekuk seraya memposisikan kedua tangannya di dadanya. Gadis itu menggenggam salah satu telapak tangannya pakai tangan kanannya, selama arwah bawah umur tersebut belum pergi detak jantungnya akan terus berdegup kencang. Bahkan saking takutnya, Freya memilih memejamkan matanya erat sambil menunduk di samping.


Freya tentu dan pastinya hanya akan memilih mendengar seluruh beberapa komunikasi kekasihnya serta juga arwah gadis anak kecil yang wujudnya begitu menyeramkan. Sementara, Angga berjongkok perlahan di hadapannya hantu itu dan berusaha menatap mata pancaran sorot negatif tersebut.


‘Hantu ini mempunyai dendam yang besar kepada siapa saja yang tidak ingin atau enggan memenuhi segala permintaannya yang keluar dari mulutnya. Menatap mata negatif ini, gue memang kurang kuat tetapi gue harus bertahan sebentar hingga semuanya berlalu.’


“Apakah tujuan kamu hanya ingin meminta pertolongan pada manusia yang menempati bangunan wilayah ini?” tanya Angga memastikan.


Arwah kecil itu mengangguk dengan masih senyum menyeringai, tetapi tak ada sedikitpun yang membuat jiwa Angga ketakutan. Kemudian, pemuda Indigo berupa tampan tersebut, menundukkan kepalanya untuk melihat salah satu pergelangan kaki pucat pasi serta busuk itu yang ada di makhluk gaib pemilik energi aura negatif.


Terlihat kakinya itu dibelenggu oleh rantai yang telah dikunci bersama clink ball atau bola denting besi nang ada di belakang kaki arwah gadis kecil pembawa dendam besar yang membara. Angga menghela napasnya panjang setelah menatap benda tersebut yang melingkar erat di pergelangannya, bahkan parahnya sampai membusuk.


Tanpa masuk ke dimensi masa lalu pada kejadian dimana arwah anak kecil ini belum mengalami kematian hingga menjadi hantu bergentayangan untuk meneror para manusia, Angga sudah mendapatkan kisah-kisah tragis sosok itu di dalam benak otaknya yang telah tersimpan langsung usai menatap benda bola besi sekaligus rantainya.


‘Kasihan sekali di masa hidupnya. Mengapa umurnya yang masih sangat kecil ini harus mengalami penderitaan karena disiksa oleh ibu kandungnya sendiri?’


“Sakit, Kak ... ibu jahat sekali padaku saat aku masih hidup. Ibu menyakitiku dengan segala macam apa yang sudah ibu lakukan padaku. Mulai menendang, menampar, memukul, bahkan mengurung aku di dalam gudang rumah sakit hingga aku berakhir mati.”


‘Kenapa harus mengurungnya di rumah sakit? Eh tunggu! Maksudnya yang dia bilang barusan itu, ini bangunan rumah sakit?!’ kejut batin Freya sambil menutup mulutnya.


Angga mengulas senyuman tipis di bibir pucatnya seraya tetap menatap mata menyeramkan dari hantu anak kecil perempuan berusia 5 tahun itu. “Iya ... Kakak sudah tahu semuanya apa yang menimpa dirimu semasa kamu masih hidup. Tapi apakah Kakak boleh bertanya denganmu? Kenapa kamu menjadi dendam kepada semua manusia? Bahkan manusia yang tidak bersalah, kamu sakiti dengan cara astral yang sudah kamu miliki.”


“Itu semua karena ibuku, Kak! Ibu yang telah membuat arwahku menjadi seperti ini. Gara-gara ibu, aku menjadi hobi meneror manusia-manusia bahkan suka sering dendam. Tapi, Kakak tenang saja. Ibu sudah mati juga sepertiku karena aku yang bunuh!”


Kini terdengar suara amarah dari gadis kecil hantu itu karena pertanyaan Angga, bukan marah pada manusia tampan Indigo tersebut melainkan adalah sosok ibunya yang telah meninggal dunia karena perbuatan ulah kejam dirinya sendiri.


Senyum Angga menjadi pilu. “Kenapa kamu malah justru membunuhnya? Padahal beliau adalah ibu kandungmu sendiri. Ibumu yang sudah melahirkan kamu ke dunia. Sebegitu, kah kamu dendam besar padanya?”


Hantu kecil itu mengeluarkan air mata darahnya dengan sekaligus suara isakannya. Suara yang membuat bulu kuduk menaik bak hewan landak bila didengar oleh manusia yang jiwanya penakut, contohnya adalah Freya yang menjadi pendengar baik setiap obrolan komunikasi dari arwah tersebut dan juga Angga.


Angga mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata darah gadis kecil arwah itu tanpa merasa jijik, mendengar keluh kesahnya membuat hati Angga yang dingin menjadi tersentuh dan merasa iba serta prihatin.

__ADS_1


“Jangan menangis ... yasudah, sekarang apa yang kamu inginkan dari Kakak? Kakak akan memenuhi permintaanmu.”


Hantu itu yang tadinya menunduk karena hatinya terasa tercabik-cabik karena mengingat masa saat dirinya masih mempunyai raga, kini menjadi mendongak ke arah Angga dan menatap manusia berhati malaikat tersebut. Angga mampu merasakannya bahwa sekarang makhluk gaib yang ia hadapi dengan besar hati, senang sekali mendengar ucapannya yang membuat hati gadis kecil arwah itu berbunga-bunga.


“Serius, Kak?! Kakak tidak sedang membohongi aku, kan?!” pekik hantu itu.


Angga tersenyum dengan menganggukkan kepala. “Tidak. Kakak tidak sedang membohongimu, jadi apa yang kamu minta dari Kakak?”


Yang benar saja, arwah gadis anak kecil itu dengan antusias mengangkat kaki kirinya yang dibelenggu oleh rantai sandera. “Kakak bisa melepaskan benda yang membuat sakit ini dari kakiku? Aku sangat tersiksa, Kak karena dipasang benda menyakitkan yang Kakak lihat.”


“Kakak bisa,” responnya dengan senyum kaku.


‘Bagaimana gue sanggup melepaskan benda macam penjara seperti ini? Gue harus menggunakan alat apa untuk mencabutnya dari kaki arwah anak kecil ini?’


“Kakak gak usah bingung. Kakak tinggal tempelkan kedua atau salah satu dari telapak tangan Kakak di benda yang terpasang di kakiku ini. Pasti bisa lepas dengan sendirinya, kok.”


“Oh, begitu? Itu hal yang mudah bagi Kakak. Baiklah, Kakak akan melakukannya sekarang juga.” Angga mulai menempelkan kedua telapak tangannya di sisi-sisi pergelangan kaki makhluk tersebut.


‘Angga, lo pasti bisa membuat arwah anak kecil ini yang negatif menjadi positif. Dia hanya sebatas dendam pada ibu kandungnya dan juga para manusia yang tidak mau menuruti permintaan hantu ini. Elo harus bisa meyakinkan usaha lo ini, meskipun tenaga lo sekarang sedang lemah tetapi lo harus sanggup mengantarkan dia ke tempat yang dipenuhi kebahagiaan niscaya abadi.’


Di sisi lain, Freya mengepalkan kedua telapak tangannya di depan dadanya sambil menatap Angga bimbang dimana wajahnya kian semakin pucat karena sedang menggunakan seluruh tenaga kekuatannya yang kekasihnya campakkan.


‘Angga, kamu tetap baik-baik saja kan di situ? Mukamu semakin pucat, lho. Aku takut ...’


Angga membuka kedua matanya setelah ia pejamkan untuk mengeluarkan tenaganya. Meskipun terlihat mudah dilakukan, tetapi sama saja maknanya yaitu ia harus mencampakkan seluruh kekuatannya buat membantu gadis kecil arwah tersebut.


Angga melepaskan kedua telapak tangannya dari kaki makhluk itu bersama hati lega di saat rantai besi yang membelenggu tersebut memudar lalu menghilang bersama bola denting. Angga merasa senang karena usaha yang ia kerjakan secara singkat, berjaya dengan harum.


Freya yang sedari tadi matanya terbuka dan posisinya menatap nanar lantai dingin, melindungi wajah cantiknya pakai lengan tangannya waktu ada sesuatu yang muncul dan memancar. “Eh, cahaya apaan, nih?”


Dengan mata yang keadaan menyipit, karena tidak mampu membukanya sepenuhnya diakibatkan sinar cahaya putih benderang itu, Freya sedikit menurunkan lengan tangannya dari muka. Gadis Nirmala tersebut sangat terkejut apa yang dirinya lihat secara depan mata.


“Kenapa seluruh tubuh anak kecil itu bercahaya?” gumam Freya tidak mengerti apa yang telah Angga lakukan pada arwah tersebut hingga menjadi bersinar.


Lihatlah, wajah yang tadi menyeramkan bak horor, pakaian gaun lusuh nan compang-camping, dan kulitnya yang putih pucat pasi, kini menjadi jauh kata buruk melainkan sempurna. Sekarang cahaya yang membuat mata Freya menyusut, menjadi tak secerah tadi alias hanya setengah dimana sinar indah tersebut ada pada di arwahnya saja.


Freya meletakkan tangannya di atas paha dengan mulut menganga lebar. Rupanya wujud asli dari hantu tersebut begitu cantik dan memiliki senyuman manis yang berseri. Hal itu membuat Freya si lugu merasa terpikat serta kagum akan indahnya makhluk gaib itu yang sedang tersenyum positif pada Angga nang telah menolongnya.


Melihat aura indah serta cahaya dari sekujur jiwa yang Angga hadapi, hanya dirinya respon dengan senyum menawannya saja. Di dalam relung hati, ia merasa sangat berjaya karena sudah membuat hantu anak kecil perempuan itu menjadi mempunyai aura dan energi yang positif kebalikan dari negatifnya.


Kini sekarang gadis arwah kecil cantik itu nampak sumringah melihat kakinya yang telah terlepas dari benda menyakitkan tersebut yang merupakan astral sepertinya. Kemudian sosok itu, menarik wajah terangnya melintang ke arah Angga untuk menatapnya bahagia.


“Terimakasih, Kak! Aku sudah tidak merasakan kesakitan lagi!” pekik gembira hantu itu sambil berjingkrak-jingkrak lalu memeluk erat tubuh manusia remaja lelaki tampan pemilik indera keenam tersebut.


Freya yang melihat adegan itu sampai melongo tidak percaya ada hantu seperti itu di nyata, biasanya ia melihatnya di film-film genre Horor bersama Angga, di kota Jakarta tentunya.


‘Ya ampun, ternyata ada juga ya arwah yang menggemaskan begitu. Kelihatannya auranya sudah baik gak seperti tadi. Angga memang cowok yang hebat, aku beruntung memilikinya,’ tutur Freya lembut dari dalam lubuk hati.


Angga yang dipagut erat dan nyaman oleh makhluk gaib tersebut, membalasnya dengan pelukannya. Setelah berapa lama detik saling mendekap, mereka berdua melepaskannya. Sementara Freya tetap melongo karena melihat adegan tegang ini yang menjadi hangat berkat kekasihnya.


“Kamu Cantik dan juga anak perempuan yang baik. Jangan dendam lagi, ya? Hatimu pantas menjadi suci untuk selamanya. Sekarang, kamu bisa merasakan keindahan dan kenyamanan di alam sana yang sedang menanti malaikat sempurna sepertimu.”


Hati Freya begitu sangat tersentuh atas ucapan lemah lembut dari Angga untuk gadis kecil arwah itu, apalagi di perkataan tersebut, lelakinya menyentuh pipi sang sosok hantu malaikat cantik bersama senyuman hangatnya.


“Kakak Tampan dan juga baik hati dengan orang lain yang meminta pertolongan, Kakak beda dari yang lainnya. Makasih ya, Kak! Karena Kakak, hatiku bisa menjadi tenang. Untuk ibu, akan aku sirnakan semuanya dari pikiranku.”


Arwah bawah umur itu yang lebih jauh pendek daripada Angga dan Freya, kembali memeluk manusia yang ada dihadapannya. Ia merasa beruntung dan tidak silap meminta pertolongan padanya.


Freya beralih menempelkan tiga jari dari tangan kanannya di bibir tipisnya dengan senyuman manisnya. Lagi-lagi hatinya amat tersentuh, memang adegan yang sangat dirinya harapkan, apalagi melihat Angga yang sifatnya sedang ramah meski bersama makhluk astral.


Kemudian gadis kecil arwah itu melepaskan dekapannya dari raga Angga lalu berjalan pelan menuju ke arah Freya bersama senyuman manis yang ia patri. Hantu itu menopang kedua lututnya di atas, setelahnya menatap Freya yang tersentak kaget karena dihampiri oleh makhluk gaib.


“Kakak Freya yang Cantik, maafkan aku ya karena sudah membuat Kakak takut karena rupa wajahku?”


Freya mengarahkan dua bola matanya ke arah Angga untuk mengirim suara hatinya ke hati kekasihnya agar mendengarnya. ‘Kok dia tahu namaku?! Kaget bener aku ...’


Angga tersenyum. “Jangan takut. Dia tahu namamu karena dia arwah, arwah mampu segalanya.”


Freya ber oh ria lalu kembali menoleh ke arah makhluk gaib bercahaya itu untuk menatapnya. “I-iya ... nggak apa-apa kok, Dik. Maaf, Kakak tadi nggak bisa bantu kamu, soalnya sudah takut duluan, hehehe.”


Arwah anak kecil perempuan tersebut menggelengkan kepalanya pelan. “Gakpapa, Kak. Wajar saja kalau Kakak takut karena wujudku yang sebelumnya. Aku juga sudah memaafkan ibu setelah ibu menyiksaku hingga meninggal, Ikhlas deh pokoknya.”


“Syukurlah akhirnya kamu bisa memaafkan segala semua kesalahan besarnya ibumu pada masa silam dahulu. Kamu emang anak yang dermawan,” ujar Freya lalu menyentuh pipi cahaya arwah itu walau ujungnya yang ia dapatkan hanya hembusan angin.


“Yah, nembus ...” kecewa Freya.


Kekecewaan Freya yang diterimanya, membuat Angga mendengus bersama senyumannya. Bagaimana mungkin gadis kekasihnya sanggup menyentuh makhluk gaib? Itu sangat mustahil kalau bukan seorang Indigo yang dikaruniai oleh Tuhan.


“Gak bisa menyentuh aku ya, Kak? Sayang banget ... berarti tadi yang sudah menolong aku adalah seorang manusia Indigo, dong.” Hantu itu menoleh ke belakang dan langsung ditanggapi oleh Angga dengan senyuman sambil mengangguk pelan.


“Gak kenapa-napa, Kakak lebih senang kalau akhirnya kamu bisa tenang di alam sana setelah ini. Istirahat dengan yang damai, ya? Hapuskan semua memori tentang keburukan ibumu.”


“Iya, Kakak Cantik!” jawabnya antusias.


Angga dan Freya mendongak ke atas dinding saat melihat ada sebuah lingkaran putih yang bersinar dengan indahnya sekaligus sorotan cahayanya yang menuju ke bawah dan menempel di atas lantai lorong. Apakah gadis kecil arwah itu telah dipanggil?


Tanpa menghampiri pancaran sorotan cahaya putih tersebut, jiwa arwah itu melangkah mundur secara mengambang. Dirinya melambaikan satu tangannya pada dua manusia pemilik aura menawan dan positif tersebut dengan senyuman terakhirnya sebelum menyinggahi alam abadinya untuk selamanya.


Bersamaan itu, Angga dan Freya berdiri menatap kepergian makhluk gaib yang telah memiliki aura dan energi positif tersebut walau selanjutnya mereka berdua tidak akan pernah lagi melihatnya.


“Selamat tinggal, Kakak! Eva pamit pergi, yaa! Dan untuk Kak Angga yang Tampan, Eva akan selalu mengingat jasa terbaiknya Kak Angga karena telah menolong Eva dari semua keburukan dan juga perangkapan itu yang telah musnah!”


Angga kembali tersenyum dengan kepala yang manggut-manggut bersama wajah teduhnya kendati terlihat pucat. Kedua mata sipitnya pula sayu karena kesakitan eksentrik yang tanpa sebab. Gadis kecil nang berusia 5 tahun yang bernama Eva tersebut nang telah di pancaran sorotan cahaya putih itu, lama kelamaan jiwanya memudar dan menghilang begitu juga cahaya dari alam abadi.

__ADS_1


Freya memang diam bungkam tetapi hatinya terus saja memujinya tentang kehebatan Angga yang amat begitu mahir dalam mengirimkan arwah tak bersalah itu ke alam abadi terlebih sebelum itu, pujaan hatinya telah membuka kunci untuk mengantarkan makhluk astral tersebut ke tempat sesungguhnya yang pantas menerima kebahagiaan.


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2