Indigo

Indigo
Chapter 190 | Last Love


__ADS_3

Hari semakin berganti. Di pagi hari yang ditemani oleh sinar matahari nang menyilaukan kota Jakarta, Freya tengah sibuk memandang layar laptopnya dengan tampang serius. Hingga bibir manis gadis itu perlahan membentuk menjadi sebuah senyuman yang selama ini telah lenyap karena kekasihnya.


“Oh! Jadi ini, ya caranya?! Siap! Bakal aku lakukan sekarang juga!” semangat antusias Freya.


Gadis pemilik postur tubuh tinggi yang mencapai 164 sentimeter, menatap ponsel Androidnya yang dibaliknya dilindungi oleh casing berwarna pink bubble gum dan headset putihnya. Hanya sekilas lalu lekas beranjak berdiri dari kursi.


Freya mengambil kardigan cokelat tortilla dari gantungan pakaian lalu mengenakannya dengan senang hati, setelah itu ia memakai tas selempang ciamiknya yang memiliki merk. Tak lupa sebelum pergi dari rumah, gadis itu memberikan polesan bibirnya dengan lip balm agar tak kering.


Freya kemudian menutup laptopnya yang ada di atas meja belajarnya bersama muka cerianya tanpa pencet tombol mode off terlebih dahulu untuk mematikan laptop kesayangannya.


“Aku akan tetap membuatmu menjadi transenden!”


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di dalam bangunan RS Medistra Kusuma kota Bogor, Freya melangkah dengan penuh hati gembira usai mengetahui suatu cara untuk memulihkan kesadarannya Angga dari Koma. Walau setengah yakin, tetapi tidak ada salahnya untuk Freya mencobanya buat pertama kalinya.


Gadis itu kebetulan bertemu pada dokter Ello beserta beberapa perawat yang keluar dari ruang ICU-nya Angga, lalu Freya segera berlari menghampiri dokter pria itu yang dari raut mukanya tanpa ada senyuman nang tertancap di ekspresinya.


“Permisi, Dokter!”


Dokter Ello yang selesai menutup pintu, menolehkan kepalanya ke arah Freya. “Iya, Nak? Ada perlu apa?”


“Apakah Dokter baru saja selesai memberikan pemeriksaan pada Anggara?” tanya Freya.


“Iya, betul. Kamu ingin masuk ke dalam ruang ICU pasien untuk menjenguknya?” Sekarang dokter Ello yang bertanya bersama nada halusnya.


Freya mengangguk cepat. “Iya, Dok! Tapi sebelum itu, apakah saya boleh meminta izin kepada Dokter?”


Dokter Ello tersenyum. “Izin apa?”


“Izin membawa ponsel dan alat pendengar musik ini ke dalam ruang ICU-nya Anggara. Kemungkinan jika saya memberikan sebuah lagu kesukaannya melalui telinganya Anggara, dia bisa secepatnya sadar dari Koma. Apakah boleh, Dok? Hanya sekali ini saja,” pinta Freya.


Beliau semakin melebarkan senyuman bibirnya. “Apa yang ingin kamu lakukan untuk kesembuhannya Anggara, kemungkinan besar bisa membantu, semoga saja ... kamu boleh mencobanya. Tapi tolong ingat batas waktu menjenguknya, ya?”


“Iya, Dok! Terimakasih!” riang Freya tetap menggunakan etika sopannya dengan membungkukkan badan.


“Sama-sama,” responnya dengan tak memudarkan senyuman aura nyamannya.


Para perawat yang ada di belakang tubuh sang dokter, hatinya begitu terenyuh melihat antusiasme Freya yang memang mencolok sekali kesetiaannya terhadap Angga. Tak hanya perawat saja, tetapi dokter Ello sekalipun.


“Jika begitu, kami pamit dulu, ya? Assalamualaikum.”


“Baik, Dok. Waalaikumsalam,” respon salam Freya sebelum tim medis meninggalkannya dari luar ruangan intensif mata cahayanya.


Kini usai dokter Ello dan beberapa perawat yang selalu bersamanya untuk saling membantu dan bertenaga telah pergi ke suatu tempat, Freya mulai pergi ke ruang sempit lepau mengenakan gaun baju hijau penjenguk pasien dengan sesuai prosedur. Tak lupa setelah tuntas, gadis berwajah cantik langsai itu mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum memasuki ruang ICU Angga untuk mematuhi peraturan yang ada.


Baru saja membuka pintu, Freya langsung disambut oleh hawa ruangan yang dingin. Bahkan setelah gadis itu melangkah memasuki ruang ICU Angga, hatinya kembali dibuat tegang saat mendengar suara mesin monitor pendeteksi jantung yang selalu berbunyi hingga 2 bulan ini.


2 bulan?! Ya, Angga telah terbaring Koma sampai menginjak 2 bulan lamanya. Akan tetapi kondisinya tetap tidak ada perkembangannya, seolah pemuda itu stuck dalam kondisi kronisnya.


Dilihat secara seksama, wajah tampan milik Angga semakin pucat. Mata yang senantiasa terpejam itu nampak damai, seperti tidak ingin terbuka. Pasangan-pasangan alat medis tersebut tetap melekat di raganya yang sedang sangat lemah, termasuk Ventilatornya sekalipun yang berada di dalam mulutnya.


Freya berjalan perlahan lalu menarik kursi dengan gerakan lambat untuk mendudukinya di sisi ranjang pasien pujaan hatinya. Diam-bisu, tak ada respon sebenarnya masih bisa membuat gadis itu resah.


“Hai, Angga ... aku datang lagi, nih untuk kamu. Hehe, pasti kamu bahagia, kan aku kembali ke sini buat menjenguk kondisimu?” Sudah tentu pastinya sapaan manis Freya tak berpengaruh pada lelaki itu.


Freya tetap tersenyum lalu menghembuskan napasnya, tangannya mulai membuka resleting dari tas selempangnya untuk mengeluarkan ponselnya beserta alat pendengar musik atau headset. Kemudian gadis itu beralih balik menatap muka pucat pasi Angga.


“Ngga, kamu tahu gak aku mau ngapain? Coba kamu lihat aku bawa apa. Aku ingin membangunkan kamu pakai lagu favoritmu, meski aku gak tahu apakah cara ini ampuh tetapi sepertinya akan bagusnya dicoba, kan?”


Angga tetap bergeming pada celoteh yang telah keluar dari mulutnya Freya, bahkan setiap gadis itu mengobrol pada pacarnya, selalu dijawab oleh suara mesin detektor jantung dan napas Angga yang masih berhembus walau amat lambat.


“Gak apa-apa, kok kalau gak bisa jawab. Intinya aku mau berusaha keras untuk mengembalikan kesadaran kamu kembali. Oke! Mari kita nyalakan musiknya,” seru Freya usai menancapkan kabel headset-nya pada ujung bawah ponselnya.


Freya mulai memasang headset-nya di telinga kanannya lalu kabel alat pendengar musik satunya ia pasang ke telinganya Angga. Nada lagu itu mulai terdengar indah di telinga sepasang kekasih itu walau baru first choir.


Kepala yang terasa berat itu, Freya letakkan di dada bidang Angga sebagai bantal paling nyamannya. Tangan kanan yang diam itu, terulur untuk menggapai kepala lelakinya lalu mengusapnya sayang sembari menikmati musik lagu Barat yang pernah dirilis pada tahun 2000


♫ An empty street, an empty house


A hole inside my heart


I'm all alone, the rooms are getting smaller


I wonder how, I wonder why


I wonder where they are


The days we had, the songs we sang together


Oh, yeah ♫


Lagu yang menyatu dengan sound musik indah itu, membuat Freya bernyanyi penuh bersama penghayatan untuk Angga. Sebetulnya, gadis itu sangat jarang mengeluarkan nada suaranya untuk bernyanyi karena pernah mengalami insecure. Tapi banyak orang berkata, kalau suara dari nyanyinya terdengar merdu dan konvensional termasuk apa yang dibilang oleh orangtuanya, para sahabatnya, dan terakhir kekasih yang ia cintainya ini.


♫ And oh, my love


I'm holding on forever


Reaching for the love that seems so far ♫


♫ So, I say a little prayer


And hope my dreams will take me there

__ADS_1


Where the skies are blue


To see you once again, my love


Overseas, from coast to coast


To find a place I love the most


Where the fields are green


To see you once again


My love ♫


“My Love, lagu band-nya Westlife. Aku tahu banget kalau ini adalah lagu yang paling kamu sangat sukai. Bahkan saking gemarnya, kamu sampai mencatat semua chords gitar pada lagu populer ini, hihi!”


Freya terkekeh geli waktu otak memorinya terputar ke kisah masa lampau tempat dimana ia dan Angga masih bersekolah SMP kelas IX


Flashback On


Freya yang mengulum permen tusuk rasa vanila, melepaskannya dari mulut sambil mencondongkan badan untuk memperhatikan Angga yang tengah sibuk mencatat chords gitar pada salah satu lagu Barat.


“Aku heran, deh. Demen banget kamu sampai mencatat semua kunci gitar itu di buku?”


Angga menghentikan aktivitas menyalin, lalu menghela napas dan menatap wajah cantik sahabat kecilnya yang duduk di lantai bersamanya. “Emangnya kenapa? Kamu mau bantu aku mencatat chords gitar ini di buku? Kalau mau, ambil saja tempat kotak pensilku. Ada bolpoin di dalam sana.”


“Enggak, ah! Aku lagi gak mood nulis gara-gara tadi di sekolah banyak nyatet rumus-rumus Matematika yang ada di papan tulis. Kenapa, sih makin hari tuh tugas kita diperbanyak kayak para ikan dalam kolam?” keluh Freya.


“Namanya juga kita sudah kelas sembilan, jadi wajar kalau kita semua dikasih tugas segudang untuk menyongsong ke pendidikan sekolah selanjutnya di SMA nanti. Jangan mengeluh seperti itu, kurang satu bulan lagi kita ada Ujian. Bangkitkan semangatmu demi nilai terbaik yang bakal dimasukkan ke rapot.”


Freya mencibir Angga, “Dih. Sok memotivasi.”


“Gak terima? Yasudah aku diam saja, kalau semua semangatku untuk kamu gak ada fungsinya,” jawab Angga lalu kembali mencatat.


“Ih! Kok gitu, sih?! Orang aku cuma bercanda, kamu malah bawa serius! Jadi sahabat gak pernah ada serunya, heran!” kesal Freya setelah menarik baju oblong lengan pendek lelaki remaja tampan itu.


“Yasudah, kalau aku gak ada serunya. Mending pulang saja, gih. Daripada di sini malah suntuk, kan karena sifatku padamu. Silahkan.”


Freya menggelengkan kepalanya. “Enggak! Aku gak mau pulang, di rumah gak ada siapa-siapa kecuali Meiko. Masa aku ngobrol sama hewan, kan kayak orang gila.”


“Emang kamu kayak orang gila, baru nyadar?” ejek Angga dengan menahan tawanya.


“Jahat, lih! Aku aduin mama sama ayahmu, baru tahu rasa !”


Angga tersenyum tipis usai mendengar protesnya Freya. “Enggak-enggak, aku bercanda. Jangan dimasukkan ke hati, kamu masih gadis berakal sehat, kok. Semua orang yang aku akrabi Alhamdulillah waras, mungkin beda jika anak-anak yang di SMP Dewantara.”


“Hahahaha! Gak boleh gitu, Ngga. Entar kalau ada yang dengar gimana? Apa gak langsung di demo atau digrebek, tuh sama mereka kamu-nya?”


Freya tersenyum lebar lalu kembali melihat lembaran buku yang di sana terdapat tulisan-tulisan nang telah Angga salin. Gadis itu terkagum menatap tulisan tangan sahabat TK-nya yang amat rapi dan sangat nyaman bila dibaca.


“Keren, ya! Tulisanmu bisa serapi itu. Jujur, aku malah jadi insecure karena tulisan tanganku gak sebagus tulisan tanganmu,” lesu Freya.


“Astaga, Freya ... masa kamu insecure sama cowok? Tetap bagaimanapun, tulisan tanganmu masih bagus. Buktinya saat aku mengoreksi PR di buku LKS-mu, nyaman bacanya apalagi bisa dibaca dengan jelas.”


Freya melibatkan kedua tangannya di dada dengan memanyunkan bibirnya. “Tapi, aku agak gak terima. Seharusnya itu tulisan cowok harus jelek, biar cewek jadi juaranya soal menulis pake tangan, hehehe !”


“Bisa tidak, sehari ini saja jangan bikin aku gemas ke kamu? Aku lagi fokus mencatat seluruh chords gitar ini ke dalam buku, lho.”


“Maaf,” ucap Freya dengan cengengesan.


Saat sedang memperhatikan Angga yang sibuk berkutat menulis dengan tenang, Freya tak sengaja melihat headset warna hitam yang saling terpasang di sepasang telinga miliknya Angga.


“Kamu lagi dengerin lagu apa? Aku juga mau denger,” pinta Freya.


“Lagu Barat. Menurutku musiknya juga terasa enak kalau didengar pas sore gini, mungkin kamu suka.” Angga merespon sambil melepaskan salah satu headset-nya dari telinga kanan lalu menyingkap helai rambut hitam Freya untuk memasangkan alat pendengar musik itu ke telinga kanan gadis cantik tersebut.


Waktu mendengarkan musik yang diberikan oleh Angga melalui headset, mata manik indah Freya melebar dengan hati bungah sekalipun.


“Lagu zaman kapan, nih?! Bagus banget!” pekik Freya dengan menatap wajah tampan sempurnanya Angga.


Angga menaikkan kedua alis tebal hitamnya dengan bibir senyum. “Kamu suka dengan lagunya?”


“Pake banget! Nama judul lagu ini apa, Ngga?!” seru Freya ingin tahu.


“Nama judul lagunya adalah My Love dan vokalisnya Westlife yang terbentuk suatu band. Kamu pasti telah banyak mendengar rumor tentang band ini, kan di sekolah kita?”


Freya mengangguk antusias dengan tersenyum lebar bersama mata membelalak. “Iya! Banyak yang bilang kalau lagu Barat dari band ... band apa tadi? Oh Westlife lagi populer pada masanya sampai sekarang. Kata mereka, sih semua lagunya impresif !”


Angga hanya tersenyum saja mendengar suara nada semangatnya dari Freya. Bahkan gadis itu tak ingin melepaskan headset hitamnya untuk menyudahi mendengarkan musik yang mampu menenangkan hati.


“Ngga! Kamu bisa, kan Bluetooth lagu itu ke HP-ku?! Aku pengen punya dan setiap hari dengerin! Kayaknya bisa membuat hatiku nyaman, deh.”


“Oke. Mana sini HP kamu? Bakal aku Bluetooth sekarang.”


Freya dengan cepat beralih menyerong badannya ke samping untuk mengambil handphone-nya. Namun setelah ia cari, rupanya ponselnya tak ada di rumahnya Angga. Dan gadis itu tatkala teringat bahwa ponsel Androidnya tidak ia bawa semenjak bertemu pada Angga di rumah sang sahabat kecilnya.


“Eh, iya! HP-ku masih di rumah! Lupa kalau lagi aku cas di kamar. Apa aku ambil dulu kali, ya?”


Angga menepuk keningnya pelan lalu terkekeh lirih, pemuda itu menurunkan tangannya dari dahi yang tertutupi oleh rambutnya lalu kembali menatap wajah cantiknya Freya.


“Gak usah ambil ke rumah. Tadi kamu katanya capek? Begini saja, setelah aku selesai menyalin semua chords gitar ini di buku catatanku, aku akan mengirimkan audio lagu itu ke via WhatsApp kontakmu, bagaimana? Malah gak ribet, kan.”


“Ih, nanti kalau kamu kirim lagunya ke WhatsApp-ku yang ada judul lagunya bukan tulisan lagi, tapi berupa angka-angka gitu!” Freya menolak.

__ADS_1


“Gampang, tinggal kamu ganti saja angka itu menjadi sebuah nama judul lagu yang aku kasih tahu tadi sama nama band grup vokalisnya. HP kamu, kan canggih. Jadinya kamu bisa mengubah judul angka yang tertera itu melalui album lagumu.”


Freya menepuk tangannya. “Oh, bener juga! Haha, pintar kamu, Ngga !”


“Siapa dulu?” tanya Angga sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Freya dengan bibir sumringahnya.


“Anggara Vincent Kavindra, dong!” sahut Freya ceria lalu tertawa.


Pemuda tampan itu ikut tertawa meski pelan dengan menggelengkan kepala. Bahkan suasana di luar teras rumah menjadi sangat kondusif karena tak ada kebisuan dan canggung di antara mereka berdua.


Flashback Off


Freya tersenyum mengingat memori indah itu waktu ia dan kekasihnya masih berumur 15 tahun. Benar, lagu yang sedang ia dengarkan bersama Angga memang terasa menenangkan atau menyejukkan suasana hati.


“Ternyata ada banyak sekali, ya tentang masa lalu kita berdua? Indah, berwarna dan sebagainya. Kapan lagi aku bisa tertawa-tertawa sama kamu seperti dulu? Aku rindu ...”


Freya berusaha tetap menancapkan senyumannya di wajah saat Angga hanya diam tak merespon celotehnya sedari tadi. Matanya senantiasa tertutup dengan damai, warna mukanya memang putih tetapi sangat pucat bak mayat walau lelaki tampan itu masih bernapas.


Dari dalam jendela kaca pembatas ruang ICU, terlihat Agra diluar, bangkit dari kursi panjangnya lalu meregangkan ototnya yang terasa kaku usai bangun dari tidurnya. Sementara Andrana masih setia dengan alam mimpinya. Baru saja menoleh ke arah jendela untuk melihat kondisi lemah putranya, pria paruh baya itu dikejutkan oleh Freya yang telah hadir di ruangan rawat intensifnya Angga.


Agra menggaruk tengkuknya dengan menatap gadis kekasih dari putranya yang sedang berkomunikasi pada Angga bersama posisi kepalanya diletakkan di atas dada anaknya. Mungkin akibat terlalu lelap dibawah tidurnya, beliau sampai tidak tahu jika Freya datang apalagi hingga masuk ke dalam ruang ICU-nya Angga.


Di sisi lain, Freya konstan setia membelai kepala pujaan hatinya sembari menatapnya teduh. “Semoga dengan aku memberikan musik lagu ini ke kamu untuk menyembuhkan Koma-mu, kamu bisa secepatnya sadar ya, Ngga?”


“Aku sayang kamu.”


Usai mengungkapkan kalimat manis itu dengan lembut untuk Angga, Freya meraih tangan kanan kekasihnya dan mengangkatnya lalu lekas memberikan sebuah ciuman bibirnya di telapak tangan lemahnya Angga. Gadis cantik itu yang sangat amat cinta dengan lelaki Indigo tersebut, mulai memejamkan matanya sambil menikmati musik Barat yang masih berlangsung itu hingga waktu untuk menjenguk terbatas.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Waktu saat itu, Freya hanya ditatap oleh Agra dari luar jendela kaca pembatas ruangan ICU, tetapi kini ditambah ditinjau dengan Andrana, Reyhan, Jova, Lucas, dan juga Rani tepat di hari berikutnya ialah Minggu.


Gadis cantik itu di dalam ruangan rawat kekasihnya yang berbau obat-obatan, menoleh dan memperhatikan setiap gerakan grafik zigzag pada layar monitor pendeteksi jantung. Bibirnya perlahan merapat bersama hati pilunya menatap layar medis tersebut untuk meninjau keaktifan dari detak jantungnya Angga dan lain-lainnya.


Jujur, Freya terlalu lama memperkuat rasa sabarnya di hati untuk menunggu kondisi stabilnya Angga. Walau sebenarnya terbilang mustahil, itulah yang dikatakan oleh dokter. Freya tidak tahu sampai kapan lelakinya terus terbaring lemah di ruangan ketat ini.


Freya menghela napasnya dengan panjang lalu beringsut menolehkan kepalanya ke depan dan menatap wajah tampan pucat yang tertera di mukanya Angga. Meskipun begitu, aura spektakulernya tetap tak musnah.


...Jika aku pergi... tolong Ikhlaskan aku, ya......


...Berbahagialah tanpa aku di sisimu dan carilah penggantiku untuk menjadi jodohmu kelak. Ku mohon jangan tangisi kepergianku saat nanti......


Mengingat perkataan Angga antara di nyata dan mimpi, membuat air mata Freya kembali berlinang lalu lekas cepat memeluk raga kekasihnya yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Ia masih tak bisa membayangkan bagaimana jika Angga meninggalkannya untuk selamanya. Benar, mengubah takdir adalah sangat mustahil.


“Dengarkan aku, Ngga ... jangan pernah kamu mencoba untuk tinggalkan aku di dunia. Tolong bahagialah sejenak bersama kami hingga akhir waktu nanti sebelum kamu berpulang saat ajal telah menjemputmu. Aku benar-benar gak mau kehilangan kamu, lelaki yang aku miliki sekarang ini hanya kamu. Aku gak akan tega pindah hati ke cowok lain walau kondisimu masih parah seperti ini.”


Freya meraba pipi dingin semu Angga lalu mengelus lembut dengan telapak tangan mulusnya. “Aku tahu kamu pasti sudah sangat lelah karena menghadapi itu semua. Kamu boleh, kok istirahat panjang di sini. Tapi jangan pergi, ya? Aku berjanji akan terus setia menunggu kamu sampai bangun dari Koma. Mau berapa lama kamu tidur, aku tetap ada di hatimu.”


“Aku mengatakan ini, karena kamu adalah cinta terakhirku, Anggara ...”


Freya mengurai pelukannya dari tubuh kekasihnya lalu menarik ingusnya seraya membersihkan air matanya yang telah membanjiri kedua pipinya. Bola mata gadis itu terpusat pada orangtuanya nang saling menganggukkan kepala dengan lemparan senyuman hangatnya.


Freya tentu peka apa yang dimaksud Rani dan Lucas untuknya. Ia balik menoleh ke arah Angga sembari bangkit dari kursinya, menggenggam telapak tangan kanan pujaan hatinya bersama berupaya tersenyum walau kalbunya tengah diserang rasa kepedihan yang mendalam.


“Aku pulang dulu, ya? Jika besok ada kesempatan luang lagi untukku, aku akan datang ke sini buat kamu.”


Freya menggeser kakinya selangkah ke samping lalu menurunkan kepalanya untuk menempelkan bibir manisnya ke kening Angga dan mengecupnya dengan penuh rasa kasih sayang beserta cintanya. Hal itu berhasil membuat kedua sahabatnya yang berada di luar ruangan, terkejut. Tak hanya mereka saja, tetapi juga kedua orangtuanya dan kedua orangtuanya Angga.


Freya membuka matanya setelah mengecup keningnya sang pacar lalu mulai menegakkan badannya dengan tetap tersenyum hangat padanya.


“See you next time, my Dear.”


Freya melepaskan tangan Angga yang ia genggam sesudah meletakkannya kembali di atas selimut tebal yang dikenakan oleh kekasihnya. Gadis itu balik badan meninggalkan Angga untuk segera keluar dari ruangan disebabkan jam waktu menjenguk telah habis.


Setelah melepas baju hijaunya di suatu ruangan lingkup, Freya berjalan menghampiri kedua sahabat sejatinya, kedua orangtuanya Angga, beserta kedua orang tua miliknya.


“Freya Sayang, terimakasih ya kamu sudah banyak setia dengan Angga. Maaf kalau selama ini kondisi anak Tante dan om Agra membuat hatimu terluka,” ungkap Andrana.


Freya menggelengkan kepala dengan menerbitkan senyumannya. “Freya gak kesah kok, Tan. Mau Angga Koma panjang sampai kapan, Freya tetap mau menunggu Angga untuk sadar.”


“Walau dokter Ello sudah berkali-kali bilang kalau kesembuhan Koma Angga sangat kecil dan memiliki ketipisan di hidupnya, Freya bisa yakin kalau Angga sanggup bertahan melawan maut ini, Tante! Angga cowok yang kuat!” ulet Freya.


Kata-kata yang dilontarkan Freya, membuat hati Andrana tersentuh lalu mendekap tubuh mungil gadis itu. Sedangkan jika Agra, tersenyum haru seraya mengelus pucuk kepala Freya.


Reyhan dan Jova yang memandangi itu, hanya mampu menampilkan senyum penuhnya meskipun air mata mereka bergulir. Freya kemudian menyalami tangan orangtuanya Angga dan mencium punggung tangannya mereka untuk berpamit pulang ke kota Jakarta.


“Eh, Ma! Yah! Sebentar,” tukas Freya menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke belakang untuk menatap kedua sahabatnya.


“Kalian berdua gak pulang sekalian?” tanya Freya pada Jova dan juga Reyhan.


“Enggak, nanti saja kami pulangnya ke Jakarta. Mau di sini dulu bersama om Agra dan tante Andrana, nemenin.” Reyhan menanggapi.


“Hm'em. Kamu mending pulang duluan saja sama orangtuamu, nanti kami berdua bakal nyusul pulang. Hati-hati dijalan, yaa!” pekik Jova.


Freya menganggukkan kepalanya. “Kalau gitu aku duluan, ya? Dadah.”


Lambaian tangan pamitan dari Freya, dibalas oleh para sahabatnya dengan ikut melambaikan tangannya tak lupa bersama senyuman hangatnya yang mereka patri. Kini sekarang, gadis Nirmala tersebut kembali melangkah dengan kedua orangtuanya untuk meninggalkan lantai 4 sekaligus RS Medistra Kusuma.


Cinta terakhir? Ya, Angga adalah seorang sosok amor terakhirnya Freya. Yang artinya, gadis itu tak akan berpindah ke hati lain selain Angga yang telah menjadi sebagai kekasihnya, dikarenakan Angga lah yang paling mampu menyempurnakan kisah hidupnya bahkan sanggup memberikan warna syahda di dunia. Menakjubkan, bukan? Ia tetap konstan memperkuat batin dan sabarnya untuk menantikan Angga membuka mata kembali yang selama 2 bulan ini terpejam dengan tenang.


Relung kalbunya memang amatlah tersiksa dan bak seperti sedang dirajang-rajang oleh pisau astral. Tetapi setidaknya, Freya mau menunggu kesadarannya Angga yang entah ingin berapa lama pemuda tampannya akan terperangkap berterusan di tempat pembaringan lemahnya.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2