Indigo

Indigo
Chapter 118 | Ignored Threats


__ADS_3

Seorang gadis yang memiliki rambut hitam legam serta panjang sepunggung tergerai terlihat halus, sedang berjalan terburu-buru meskipun pandangannya tak melihat ke depan, namun melihat pada layar ponsel Android Vivo yang ia pegang. Sampai akhirnya dengan tak sengaja, gadis berkulit putih itu menubruk tubuh seseorang yang melintas di depannya.


Brugh !


“Auw!” rintih gadis itu seraya memegang kakinya yang mana lututnya membentur keras di lantai koridor rumah sakit, sedangkan ponselnya terseret jauh saat ia terjatuh.


“Heh! Lo itu jalan pake mata, dong!” bentak seorang perempuan yang seumurannya dengan berkacak pinggang tanpa membantu orang yang tertabrak tubuhnya.


Gadis itu yang ternyata adalah Freya Septiara Anesha, menarik wajah cantik jelitanya ke atas untuk menatap orang yang mengomeli dirinya dengan nada menyentak. “I-iya, maafin aku karena sudah nggak lihat jalan-”


Bibir Freya terbungkam seketika saat menatap wajah gadis berwajah sinis itu yang pernah ia lihat sebelumnya. ‘Dia ini bukannya yang waktu dinasehati sama Angga dulu, kan sama satu temennya ...?’


Flashback On


“Hah?! Heh cowok tampan! Kamu punya dua gebetan?! Curang banget!!”


“Heh! Mulut lo belum pernah di jotos sama anak Boxing, ya?! Ngasal kalau ngomong!”


“Eh udah Va, jangan marah-marah. Gak enak di lihatin orang-orang.”


“Maaf ya, tolong jangan salah paham dulu. Kami bertiga hanya sahabat kok, cowok yang kamu maksud ini bukan punya gebetan.”


“Halah! Gak usah sok lembut, deh lo! Oh iya kok lu berdua bisa cantik begitu, sih?!”


“Cih, Operasi plastik kali.”


“Apa lo bilang?! Operasi plastik?! Heh, kami berdua gak buat masalah sama lo berdua, yak! Mau hah mulut kalian gue jahit?!”


“Maaf, sebaiknya kalau jadi perempuan tolong dijaga sikapnya. Apa kalian tidak sadar atas omongan kalian barusan tidak mencontohkan perilaku perempuan yang formal? Kalian juga tidak malu tingkah cara bicara kalian dilihat semua orang di sini? Dimana harga diri kalian berdua? Dan lagi, kalau kalian tidak mempunyai bukti yang kuat soal kedua sahabatku, tidak usah menuduh yang enggak-enggak. Jadi sekarang kalian pulang lah dan belajar tata krama yang baik dan sopan agar kedepannya kalian tidak lagi memalukan seperti ini.”


“Dasar cowok jahat!”


^^^{Dialog Berada Di Chapter 63}^^^


Flashback Off


‘Haduh, gawat nih. Kenapa aku harus bertemu dengan mereka berdua? Mana aku punya firasat gak enak, lagi. Duh ... Kira-kira aku bakal diapain sama mereka, yaaa? Tatapan dua cewek yang ada di hadapanku ini begitu sinis, masa aku lawan?’ batin Freya takut sampai tak berani menatap Terra dan Shiren.


“Heh! Elo cewek muka plastik waktu dulu itu, kan?! Wah! Gak nyangka banget ketemu lagi!” kaget Terra.


“Woi! Gara-gara elo, temen gue gagal dapetin cowok ganteng itu! Dan gara-gara sahabat lo itu, Terra sampe hampir nangis karena omongan pedes dia!”


Freya mendongakkan kepalanya kencang dengan menatap berang Shiren. “Kamu sudah gila, ya?! Kenapa jadi aku dan sahabatku yang kamu salahin?! Itu kan kesalahan Terra sendiri yang sudah terlalu berlebihan sama sahabatku, bahkan sikapnya yang membuat sahabat cowokku gak suka! Jadi pantas, dong temanmu mendapatkan lontaran kata seperti itu waktu satu bulan lalu.”


“Oh my gosh, wajah-wajah kalem gini yang terkesan udik ... rupanya bisa berkata nada tinggi, ya? Kenapa?! Emangnya gue gak pantes miliki dia?!”


PLAK !


Kepala Freya tertoleh kencang ke samping saat mendapatkan sebuah tamparan keras yang terasa panas dari tangan Terra yang usai mengungkapkan kata tersebut. Namun bukannya menangis atau nyalinya menjadi ciut, gadis Nirmala itu malah justru marah karena perilaku Terra yang bermain tangan dengannya.


“Dasar perempuan aneh,” gumam Freya.


Woi, dua cewek cabe-cabean!! Habis ngapain lo berdua, hah?!


Freya tidak memedulikan teriakan suara lelaki yang mempunyai nada Tenor dari kejauhan, ia masih mengusap-usap pipinya yang memerah akibat ditampar. Terra dan juga Shiren menoleh ke belakang dan sedikit terkejut melihat pemuda berbadan tinggi 180 sentimeter yang tengah menatap tajam mereka berdua.


“Lo berdua pergi detik ini juga buat jauhin dia, atau gue panggil satpam untuk ngusir kalian keluar dari rumah sakit Wijaya?!” tuding pemuda itu dengan penekanan nada hingga rahangnya mengeras.


Dua gadis sama-sama watak genit itu langsung pergi berlari menjauh dari Freya bahkan lelaki tersebut yang menjadi pahlawan kesiangan untuk perempuan tersebut yang masih terduduk di lantas bersama mengusap-usap pipinya. Pemuda yang sedang meredam emosinya menatap punggung mereka berdua yang akan tak terlihat lagi di depan pandangannya.


“Mau bully orang? Gue sentak lo pada! Kurang ajar banget dah, minta di tabok sama sendal bau tai cicak, emang!” Kemudian pemuda itu menatap Freya. “Itu cewek nggak kenapa-napa, kan?! Kayaknya kesakitan bener.”


Freya mendengar suara langkah kaki sepatu yang mendekatinya lalu ia juga merasakan bahwa lelaki yang telah menolongnya berjongkok di sebelahnya. Sementara pemuda itu menerbitkan senyuman ramahnya untuk menanyakan keadaannya seraya mengulurkan tangannya kecil.


“Hei, kamu nggak kenapa-napa? Tenang, mereka udah pergi, kok. Jadi sekarang kamu aman.“


Freya langsung menoleh dan memberikan senyuman manisnya pada pemuda itu yang nadanya terdengar lembut. “Makasih ya, udah nolongin- lho kamu, Reyhan?!”


“Lah, Freya?! Alamak! Aku nggak tau kalau tadi itu kamu yang di bully sama mereka berdua! Yasudah sini-sini, aku bantu kamu berdiri. Bisa berdiri, kan?” ucap kaget Reyhan diakhiri pertanyaan ringan.

__ADS_1


Sambil menerima bentangan tangan Reyhan, Freya menganggukkan kepalanya pelan. “Bisa, kok.”


Setelah membantunya Freya berdiri, Reyhan berjalan tiga langkah untuk mengambil ponsel sahabat cantik polosnya yang sempat ia lirik sebelum ia menghampiri gadis tersebut. Reyhan membolak-balik HP Freya memastikan bagian handphone punyanya sang sahabat tidak rusak atau retak.


“Untung HP kamu nggak masalah, nih.” Reyhan memberikan ponsel itu pada Freya dan langsung diterima olehnya.


“Kamu kenapa ke sini? Bukannya harusnya kamu jalan sama pacarmu itu?” tanya Reyhan mengerutkan jidatnya.


“Tujuan aku dateng ke sini mau jenguk Angga. Ehm, kamu pasti tau kan Angga dirawat lantai berapa sama kamar nomernya?! Anterin aku ke sana, Rey!”


Reyhan tersentak kaget sampai menaikkan kedua alisnya cepat. Tak menyangka Freya yang selalu lebih memilih kencan bersama Gerald, kini datang ingin menjenguk kondisi Angga yang setengah parah. Karena Freya sudah tak sabar ingin melihat keadaan sahabat kecilnya, gadis itu pada akhirnya menarik kencang lengan tangan Reyhan yang satunya memegang pop mie kuah soto nang masih mengepul dalam tutupan dari cup wadah mie tersebut.


“Oke-oke! Jangan terburu-buru, aku bakal anterin kamu ke kamar rawatnya Angga. Jangan tarik-tarik tanganku gini, nanti pop mienya Jova bisa tumpah, aku juga yang nanti kena omelan bon cabenya!” ujar Reyhan lumayan merengek atas tarikan dari Freya yang berwajah penuh bimbang.


Freya lantas itu segera melepaskan tangannya dari lengan sahabat lelaki Friendly-nya kemudian menganggukkan kepalanya dengan wajah melas dicampur hati khawatir. Secara jalan beriringan, mereka berdua melangkah menuju dalam lobby rumah sakit untuk menuju ke sebuah salah satu lift.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di luar ruangan kamar rawat no 111, Jova yang tengah menyenderkan punggungnya di tembok cat putih sebelah pintu dua daun ruang perawatan sahabat Introvert-nya, pada akhirnya menepuk jidatnya kencang sambil berdecak kesal dengan dirinya sendiri.


“Bego! Bego bener gue tadi! Emang iya kata Angga dulu, panik gak bisa membuahkan suatu hasil, alias hanya membuang waktu!” gerutu Jova.


“Duh ... Sekarang keadaan Angga di dalem sana udah gimana, ya?! Mana dari tadi dokternya yang nangani Angga belum keluar-keluar, lagi! Apa jangan-jangan kondisi Angga jadi lebih parah gara-gara gue kelamaan mencet tombol merahnya?!”


“Ah! Enggak-enggak! Please Va, calm down, okay? Elo kagak boleh ambil negatif thinking !”


Sampai tiba-tiba pintu ruang rawat dibuka cepat oleh satu perawat lalu perawat tersebut yang gadis Tomboy itu lihat, ia nampak berlari tergesa-gesa tidak tahu hendak pergi ke arah mana.


“Susternya kenapa, tuh?! Kok larinya ngibrit banget?!”


Jova tatkala itu meraup wajahnya gusar dengan mengeluarkan rengekan nada, “Kamu emang cowok nyebelin, Ngga! Gak ada abisnya dirimu buat orang ketakutan kek aku gini! Lagian itu suster napa pake acara lari-lari kayak di kejar banteng, sih?! Kan gue jadi berdebar-debar, aaaa ...!!”


Jova membuka wajahnya dari kedua telapak tangannya yang saling menutupi saat dirinya mendengar suara langkah seseorang yang berlari ke arahnya dengan sepatunya masing-masing. Gadis itu menoleh melintang ke arah kiri lalu melongok tak percaya seorang gadis yang ada di sebelah sahabat humorisnya yang tak lain adalah Reyhan sampai Jova reflek melepaskan topinya.


“Nona Sableng? Lah, kok kamu malah di luar??” tanya Reyhan bingung.


“Eh bentar! Kamu habis nangis, ya?! Keliatan dari matamu yang agak merah. Habis diputusin mantan?”


Mata Reyhan melotot gegau. “K-kejang lagi?! Aduh, parah-parah! Kok bisa, sih?!”


“Mana aku tau! Pas aku lagi ngurusin perutku yang laper, secara spontan Angga balik kejang! Mana mukanya jauh tambah pucet kayak calon Jenazah mau dimakamin!”


“Mulutmu!” sebal Reyhan pada Jova yang suka asal bicara, namun mau bagaimana lagi? Sahabat perempuannya itu sedang panik bahkan terdapat ada seraut wajah cemas tak karuan.


Freya tak dapat berkata apa-apa setelah mendengar penuturan ujar dari Jova, dan sekarang gadis lugu tersebut menoleh menatap pintu depan ruang rawat yang masih tertutup. Detak jantung Freya berdegup sangat cepat bahkan dirinya sampai menggigit bawah bibirnya seraya memainkan jari-jemari lentik tangannya.


Ketiga remaja itu tersentak kaget melihat kedatangan perawat tersebut yang sempat keluar entah ambil apa, berlari kembali masuk ke dalam ruang perawatan. Freya yang penasaran kondisi Angga, sayangnya pintu itu telah ditutup rapat oleh perawat.


“Frey, aku gak salah lihat? Ngeliat kamu yang tumben ke rumah sakit? Bukannya hari ini harusnya kamu jalan sama Gerald, ya?” sewot Jova.


Freya hanya diam bisu tak ingin menjawab pertanyaan sahabatnya yang terdengar memakai nada sewot. Freya menghembuskan napasnya dengan pandangan mata menatap nanar pintu ruang rawat no 111. Saat ini yang ada di kepalanya, dipenuhi banyak pertanyaan mengenai keadaan sahabat kecilnya yang sekarang. Mengalami kejang? Membuat gadis polos itu berubah mengambil over thinking terhadap Angga.


Setelah beberapa menit mereka menunggu dari luar ruangan, dokter Atmaja akhirnya keluar dengan wajah gundah yang tertancap jelas di muka beliau. Ketiga sahabatnya Angga yang setia menanti kemunculan sang dokter pria tersebut, tergesa-gesa menghampirinya.


“K-kejadian ini terulang untuk kesekian kalinya kan, Dok?! Saya sudah tahu itu. Tetapi, bagaimana dengan keadaan sahabat kami sekarang?! Apakah telah baik-baik saja? Atau malah sebaliknya?!”


Dokter Atmaja menghembuskan napasnya pelan lalu menatap lara Reyhan yang bertanya pada kondisi Angga pada beliau. “Keadaan Anggara saat Dokter tangani tadi, menjadi semakin lemah. Bahkan Dokter menemukan sebuah memar parah di bagian tubuh pasien, dan itu ... membuat Anggara mengalami cedera perut.”


“A-apa yang Dokter katakan barusan?!” Pertanyaan Reyhan langsung direspon dokter Atmaja seraya mengajaknya masuk ke dalam ruangan. “Mari Dokter tunjukkan.”


Dengan ragu-ragu, Reyhan dan para sahabat perempuannya mengangguk kecil lalu melangkah masuk ke dalam yang mana di sana masih ada beberapa perawat di dekat ranjang pasien. Tiga remaja yang disuruh beliau untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar rawat, terperangah bersama mata saling mendelik saat melihat kondisi memar bagian perut Angga yang terlihat cukup parah, ungu kebiruan.


Freya yang tak tega melihat memar mengerikan yang dialami Angga menurutnya, langsung menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sementara Jova hanya menutup mulutnya bersama satu tangan, terakhir si Reyhan melongo sambil mengerutkan keningnya, namun di hatinya tengah memendam amarah emosinya.


“Dokter sebelumnya tidak sempat mengecek bahwa Anggara mendapatkan hal macam ini. Bisa jadi kemungkinan apa yang pasien alami, membuat kondisinya menjadi jauh lebih lemah dibanding kemarin, hhh ...”


“Dok, tapi Anggara masih bisa untuk kembali sadar, kan?!” timpal Freya dengan menangis usai melepaskan kedua telapak tangannya dari wajah.


“Itu pasti, Nak. Berdoa saja, ya? Yang lebih utama mengenai keadaan Anggara yang semakin lemah ini, faktor dari saturasi oksigen yang sangat rendah, bahkan nyawa Anggara nyaris tak tertolong karena kekurangan banyak oksigen di tubuh. Untuk itu, kalian tenang saja. Dokter akan selalu mengecek angka saturasi oksigen milik Anggara setiap Dokter melakukan pemeriksaan terhadap pasien.”

__ADS_1


“Mohon jangan terlalu dikhawatirkan, ya? InsyaAllah jika kadar oksigen Anggara telah kembali normal seperti sediakala, kondisi sahabat kalian akan membaik daripada yang sekarang,” tambah tutur dokter Atmaja lembut buat menenangkan hati para penunggu beliau yang di luar tadi.


“Yasudah, kalau begitu Dokter dan suster-suster yang ada di sini, pamit, ya? Assalammualaikum,” salam hangat beliau menatap mereka bertiga secara bergantian sebelum pergi meninggalkan ruang perawatan.


Setelah membalas ucapan salam dari beliau dan salah satu perawat yang telah mengunci beberapa kancing di baju pasien biru muda pemuda tampan Indigo tersebut kembali, mereka pergi melangkah keluar meninggalkan kamar rawat. Dan kini tersisa ketiga remaja sahabatnya Angga.


Isakan tangis dari suara Freya yang lirih, gadis Nirmala itu langsung berlari dan menghambur mendekap tubuh Angga yang terbujur lemas di ranjang pasien. Tangisan Freya semakin menjadi-jadi bahkan sampai tersedu-sedu, membuat Jova serta Reyhan saling melemparkan pandangan satu sama lain.


“Angga, siapa yang udah buat kamu jadi kayak gini?! Hiks! Aku bodoh banget sampe nggak tau semuanya, hiks! Maafin aku ya, Ngga?! Maafin aku kalau menurut kamu aku kurang peduli terhadap kamu, hiks! Hiks!”


“Aku pengen kamu buka mata! Aku gak mau ngelihat kamu yang bikin cemas gini, hiks!” ungkap Freya seraya menggoyang-goyangkan bahu kiri Angga.


Meskipun Freya banyak menangis dan membuat bawah kelopak matanya bengkak, sama sekali tak ada respon dari Angga. Pemuda tampan itu masih terpejam mata, apalagi dari wajahnya nampak begitu pucat, menjadikan hati Freya makin bimbang tak karuan.


Freya kemudian tanpa melepaskan kedua tangannya dari tubuh Angga, menolehkan kepalanya kencang ke belakang menatap Jova sambil masih terus menangis. “Hiks! Kalau kamu mau tau kenapa aku dateng ke sini, aku cuman mau menjumpai Angga! Untuk Gerald, kamu gak usah khawatir ... aku sudah bilang kalau aku ada acara keluarga penting! Aku jujur, mengatakan kebohongan itu sama Gerald, agar aku bisa dateng ke sini buat Angga!”


“Kenapa begitu? Oh, aku tau. Tapi itu terserah kamu mau percaya apa enggak, gara-gara Gerald bermusuhan sama Angga sejak SD, kamu sengaja dijauhkan Gerald terhadap sahabat kecilmu. Bahkan, udah keliatan jelas, kalau pacarmu melarang kamu buat menemui Angga. Dan satu lagi yang aku tau sekali ... Gerald pastinya ngasih ancaman buat kamu, apalagi memberikan dua pilihan yang harus kamu jawab salah satu saja.”


“Kamu anak cewek Indigo, ya? Kok kamu bisa tau semuanya soal itu?” tanya Freya dengan nada lunglai.


Jova mendengus dengan melipat kedua tangan di dada. “Cuman asal nebak doang, sih. Soalnya cowok kayak gitu udah persis kek di film-film Indo yang sering aku tonton di TV. Kasian, ya jadi kamu yang polosnya kebangetan. Pasti kamu milihnya yang bukan mengenai Angga tapi Gerald!”


“Apa aku salah?” Freya bertanya dengan menatap melas sahabat Tomboy-nya yang agak marah padanya.


“Ya jelas salah, lah! Udah keliatan cowok penting yang ada di dalam hidupmu itu si Angga! Bukan Gerald. Harusnya dari dulu otakmu lebih luas dikit, pentingan sahabat atau pacar! Hilangin egomu!!”


“Baik! Aku ngaku kalau aku selama ini salah sama Angga, bagimu aku terlalu egois, iya kamu bener! Tapi sekarang gak lagi, Va! Aku jauh lebih mementingkan Angga daripada Gerald yang berperan sebagai pacarku!”


“Bagus deh kalau udah sadar! Kalau aku boleh jujur, aku gak suka sama kelakuannya Gerald si kekasihmu! Tapi aku gak akan mencoba pernah menghambat antara hubunganmu dengan dia.”


Reyhan yang sedari tadi cuma diam menyimak kedua sahabat perempuannya. Dan di situ Reyhan langsung menjadi pelerai mereka. “Udah-udah! Semuanya itu telah berlalu, dan kamu gak pantes terus marahin Freya kayak begini, Va! Stop, oke? Ini masih di dalem kamar rawatnya Angga, lho! Gak kasian apa sama sahabat kita yang lagi istirahat?”


Reyhan menoleh menatap Freya dengan tersenyum. “Freya, aku seneng karena secara hati kamu udah sadar atas semuanya yang dulu. Dan sekarang, kamu lebih memilih mementingkan diri Angga dibanding dia, itu yang tepat. Tapi, bukan berarti aku menyuruh kamu putus sama Gerald dengan cara halus, ya?”


Freya menunduk. “Aku ngerti ... tapi, sekarang aku malah justru merasa bersalah banget sama Angga apalagi sampe buat dia lemah kayak gini.”


“Eh jangan gitu! Bukan salah kamu, kok.” Reyhan berjalan ke depan untuk mendekati Freya lalu mengusap-usap lembut punggungnya. “Udah, jangan dibuat pikiran akan hal itu, ya? Angga begini karena dia sakit Hipoksia.”


“Hipoksia itu bukan kanker kan, Rey?!”


“Hahaha, ya bukan, lah. Seorang cowok tangguh kayak Angga gak mungkin punya kanker. Udah, mending kamu duduk saja deh, pasti pegel banget kan itu kaki? Bentar, aku ambil kursinya dulu.”


Freya melepaskan kedua tangannya yang saling memeluk tubuh Angga, kemudian menganggukkan kepalanya lambat seraya mengelap sekaligus dua pipinya yang basah karena disebabkan oleh air matanya. Sementara Reyhan mengambilkan kursi untuk sahabat gadis polosnya, lelaki humoris itu lalu meletakkan kursi yang ia angkat, di lantai tepatnya sebelah ranjang pasien bagian kanan.


Perempuan cantik berpenampilan feminim nan anggun tersebut mendudukkan pantatnya di kursi. Sedangkan Reyhan yang ada di belakangnya, menepuk pundak sahabatnya tanpa kasar dengan tersenyum hangat dan ramah.


“Sudah, jangan nangis-nangis lagi. Nanti kalau kamu nangis mulu, entar yang ada cantikmu luntur, lho.”


“Aku nggak pake make up menor,” cicit Freya dengan nada parau.


“Hahaha! Iya-iya, deh. Keliatan kok dari sini. Eh tapi nanti kalau pacarmu curiga terus nyoba dateng ke sini, gimana? Kan bahaya banget buat kamu kalau Gerald sampe tau, lihat kamu ada di sini.”


Freya menarik cairan air bening yang keluar dari dua lubang hidupnya akibat menangis itu. “Aku gak peduli, yang penting aku bisa dateng ke sini untuk Angga. Maaf, ya kalau aku selama ini terlalu egois bagimu dan bagi Jova. Aku sadar kalau aku salah.”


Reyhan menganggukkan kepalanya pelan dengan kembali menerbitkan senyumannya. “Iya, udah aku maafin, begitupun sama Jova.”


“Lah? Perasaan aku belum ngomong soal terima permintaan maaf buat Freya, deh!” komentar Jova.


Reyhan menolehkan kepalanya kencang ke belakang secara beberapa derajat lalu memberikan tatapan tajam, seolah suatu kode isyarat buat gadis Tomboy tersebut hingga Jova balas dengan hela napas. Sementara si Freya menundukkan kepala usai kedua tangannya beralih menggenggam telapak tangan kanan lemasnya Angga.


Reyhan melepaskan salah satu tangannya yang menyentuh bahu Freya, lalu meninggalkan gadis Nirmala itu ke kursi sofa Dan Reyhan menarik lengan Jova untuk mengajaknya duduk bersamanya. Setelahnya, Reyhan menyodorkan pop mie kuah rasa soto. “Sesuai pesenan. Pop mie kuah pake bumbu pedes.”


“Iye, thank you.” Jova menerima pop mie kuah hangat itu yang dari aroma sedapnya sudah tercium di penciuman inderanya. “Untung aja pesananku gampang mudah kamu inget. Kalau kagak ... udah aku buang dirimu dari jendela ruang rawatnya cowok Kutub Utara.”


“Kejam! Ya pastinya gampang aku inget, lah. Cuman segitu doang mah kecil. Aku punya otak, kali! Jadi pesenan kamu yang kamu omongin ke aku, aku simpen di dalem otak.”


“Percaya!” ketus Jova sambil membuka tutupan dari cup mie kuah yang sekarang ia pegang, lalu mengambil garpu kecil plastik untuk siap ia lahap buat menghilangkan rasa lapar.


Freya bertekad? Ya, itu benar. Gadis itu memang dari awal sudah mempersiapkan rencananya untuk mengabaikan ancaman egois dari Gerald sang kekasihnya. Ia tak peduli jika dirinya sampai tertangkap basah oleh Gerald karena telah melanggar aturan pelanggarannya yang terkesan pemuda pemilik mata hijau tersebut mempunyai watak posesif. Gadis cantik tersebut menepiskan segala pikiran negatifnya dari benak kalau memang benar Gerald merasa curiga dan berniat mencari keberadaan ia sebenarnya. Freya yakin seratus persen, dirinya tak bakal tercyduk atau ketahuan tekadnya yang melangkaui etiket larangan pacarnya.

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2