
1 Bulan Kemudian
Terdapat keempat remaja sahabat yang tengah menikmati hari liburnya di rumah seseorang, ialah pemuda Indigo tersebut. Hari Sabtu panas ini cocok sekali meminum minuman segar macam sirup melon Marjan yang seperti diminum mereka berempat.
Reyhan meletakkan gelas es sirup melon-nya di atas meja, lalu mulai menyadarkan punggungnya santai dengan menghembuskan napas dengan muka tampang bahagianya di libur Sabtu ini. Meskipun cuaca begitu panas diluar, namun suasana hatinya tak bisa dikalahkan cuaca tersebut, dikarenakan sangat senang berada di dekat para sahabatnya.
Reyhan kemudian menoleh ke arah Jova yang sedang duduk di tepat sampingnya. Nampak jelas gadis berambut coklat agak terang itu balik menyantap pop mie kuah rasa pedas dower. Membuat Angga yang mencium aroma itu, menjadi menyengat hidungnya. Bahkan pemuda tampan mengenakan baju oblong lengan pendek berwarna caramel tersebut, tak mempunyai keberanian untuk mencoba rasa pop mie yang sedang di makan sahabat perempuannya.
“Jova, aku buatin juga dong pop mie yang kayak punyamu itu,” pinta Reyhan.
“Buat aja sendiri! Kamu pikir aku pembantumu, apa? Jangan ganggu makan siangku, napa?”
Reyhan mendengus lalu menghela napasnya karena watak Jova yang membuat dirinya hanya mampu pasrah saja. Sepertinya lelaki friendly itu sedang tak ingin mengajak perang mulut bersama Jova. Reyhan setelah itu mengangkat tangan kirinya kemudian ia tengger-kan di atas bahu Angga.
“Angga?”
“Hm?” jawab Angga seraya pandangannya fokus menatap layar ponselnya yang dirinya mainkan.
“Ehmm, gue mau tanya dong soal Indigo yang ada di dalam diri lo.”
“Yang apa?” tanya Angga tanpa melimbai kepalanya ke arah sahabat humorisnya.
“Gue pengen tau sesuatu yang pernah lo perlihatkan pada kami semua. Tentang lo yang mampu menyalurkan penglihatan elo ke memori otak orang lain, caranya gimana sih? Kok lo bisa melakukan kayak gitu? Iya, gue percaya lo Indigo, bukan Paranormal, tapi seenggaknya gue harus tau gimana caranya, hehehe! Kalau gitu, lo bisa ajarin gue?!”
Angga menekan tombol untuk mematikan layar HP-nya lalu pandangannya beralih menghadap depan. “Maaf Rey, tapi gue nggak bisa ngajarin lo tentang itu. Gue bisa melakukan penyaluran ke memori otak orang lain karena opa gue yang mengajari gue dari SMP. Tapi kalau elo mau, lo bisa minta ajarin dengan beliau saat dateng ke rumah.”
“Eh gak usah! Nanti malah dikira ngerepotin sama sok pengen tau, lagi. Tapi kayaknya seru banget ya, Ngga punya penglihatan untuk melihat masa depan apalagi masa lalu, ditambah lo pandai memasukkan alur penglihatan lo ke memori otak orang lain.”
“Terdengar seru, ya? Itu kalau penglihatannya tentang keindahan, emangnya lo mau dikasih penglihatan yang tentang keburukan? Contohnya peristiwa tragedi kecelakaan beruntun yang ada di bulan lalu?” tanya Angga.
“Parah! Enggak, lah! Kalau pun lo nawar gue buat memberikan penglihatan mendadak lo itu ke memori otak gue, pastinya gue tolak langsung,” respon Reyhan dengan suara nada takut.
Angga yang mendengar nada ketakutan dari sahabatnya mampu terkekeh dengan menggelengkan kepalanya, sudah tentu Reyhan pasti tidak mau kalau diberikan penglihatan tentang kejadian tragedi yang mengundang duka tersebut. Sampai tiba-tiba Jova menyongsong badannya menghadap ke arah Angga yang ada di sebelah Reyhan duduk, sementara Freya berada di paling kanan.
“Angga, kamu mau nyobain pop mie-ku? Mantapnya luar biasa,” tawar Jova dengan menyodorkan cup pop mie ekstra pedasnya itu pada Angga.
Angga nyengir. “Nggak usah, kamu makan aja. Aku gak doyan makan pedes, apalagi kalau warnanya sampai merah banget gitu. Bisa mendidih perutku.”
“Hahahaha! Iya deh, iya. Bisa dimengerti, eh Freya! Itu pop mie ayam bawangnya jangan kamu diemin terus di meja, perasaan dari tadi kamu main HP mulu, deh. Lagi nge-chat siapa, sih? Kok kamu kayak senengnya minta ampun?”
Freya menolehkan kepalanya ke Jova dengan senyuman sumringah bahagia seperti usai kejatuhan permata dan berlian. “Aku lagi saling kirim chat sama kekasih pertamaku.”
“Huk! Uhuk uhuk uhuk!!” Jova tersedak oleh mie pedasnya hingga terbatuk-batuk saking kaget tak karuan. Gadis itu kemudian meletakkan pop mienya lalu cepat-cepat menegak es sirup melonnya.
BRUUUUSSHH !!!
Kini malah Reyhan yang kaget hingga menyemburkan minumannya sampai mengenai muka tampannya Angga. Angga memejamkan matanya bersama raut jengkelnya pada Reyhan yang asal menyembur sirup melonnya kendatipun tak disengaja olehnya.
“Pinter lo, Rey! Pinter!!”
“Ups! Hehehe, sori Ngga. Gue bener-bener gak sengaja, yah luntur deh gantengnya elo, hahaha!”
Angga menatap sinis Reyhan lalu tangannya meraba-raba untuk meraih kotak tisu lalu mencabut satu lembar tisu kering untuk membersihkan wajahnya yang basah. Dalam lubuk hatinya, Angga sungguh tak menyangka ini bahwa sahabat kecilnya yang begitu polos kini rupanya telah memiliki pacar, bahkan Freya sendiri tak pernah memberi tahu sebelumnya kalau ia memiliki sang kekasih.
__ADS_1
Angga yang telah selesai membersihkan wajahnya hingga kering dari basah, menolehkan kepalanya pada Freya yang kembali sibuk berkutat dengan aplikasi WhatsApp-nya. “Freya, kamu beneran sudah mempunyai pacar?”
Freya menatap wajah sahabatnya dengan menampilkan senyuman manisnya. “Iya, Angga. Aku beneran sudah punya pacar.”
Angga memiringkan kepalanya dengan mengerutkan keningnya. “Kok kamu nggak pernah ngasih tau aku? Hayo, sudah berani main rahasia-rahasia sama aku, ya kamu?”
“Hehehehe, maaf! Sebenarnya aku pengen ngasih tau kamu, Jova, dan Reyhan ... tapi aku malu buat memberi tahu kalian semua. Tapi yang penting kalian bertiga udah tau, kan kalau aku sudah ada yang punya, hihihi!”
Angga mengembalikan posisi kepalanya lalu tersenyum lebar sembari mengusap-usap pucuk kepala Freya dengan lembut. “Wah, berarti sahabatku udah nggak polos lagi, dong? Sudah dewasa, nih.”
“Ih! Aku emang sudah dewasa, tau!” Freya dengan kesal, mencubit pinggang Angga gemas.
“Hahahaha! Aduh iya ampun-ampun!” Angga yang meminta ampun bersama tawanya pada Freya, gadis tersebut melepaskannya dengan bibir manyunnya.
Angga mendesis dengan mengelus-elus pinggangnya sementara Jova menatap intens kepada Freya yang gadis cantik tersebut hendak berkutat kembali pada ponselnya. “Kalian berpacaran dari kapan?”
“Baru bulan ini, kok. Kalau bulan yang lalu kami berdua masih PDKT (Pendekatan). Kalau kalian ingin tahu ceritanya bagaimana, aku bertemu dengan pacarku waktu aku jalan keliling di alun-alun kota Jakarta ini. Entah mengapa memandang dia pertama kali, aku kayak tertarik gitu sampai gak tau kenapa aku degdegan banget lihat matanya bahkan dia sendiri juga seperti suka sama aku. Nah mulai dari pendekatan itu, kami saling menyukai hingga berpacaran sampai saat ini.”
Reyhan melepas kemejanya yang ia kenakan karena merasakan sangat gerah, kemeja tersebut ia lipat setengah lalu dirinya taruh di atas paha kakinya. “Wah, kamu terlalu jujur, Freya. Geli bener aku sama ceritamu, hehehe! By the way, aku yakin pasti kamu bahagia banget sama pacarmu itu. Oh iya kalau aku boleh tau, nih ... nama pacarmu siapa, dah? Terus alamat rumahnya ada dimana?”
“Apaan sih ini Kunyuk satu? Kepo-nya kebangetan!” sewot Jova.
“Biarin, lah! Freya kan sahabatku juga, jadinya aku perlu tau siapa pacarnya yang sekarang Freya miliki. Itu si Angga aja cuman diam aja. Cemburu kan lo, Ngga?”
“Ngaco! Ngapain cemburu? Gue sama Freya cuman sebatas sahabat dari TK, kalau soal dia sama pacarnya, buat apa gue ngerasa cemburu?” Angga kemudian menoleh balik menatap Freya dengan menerbitkan senyuman menawannya. “Selamat ya, akhirnya kamu mendapatkan pasangan hidupmu. Aku turut seneng.”
“Makasih, Angga! Oh iya, besok aku ingin ngenalin kamu sama pacarku besok Minggu.”
Mata Angga membulat. “Eh, nggak usah.”
Angga menganggukkan kepalanya dengan memberikan senyuman lebarnya lagi. “Baguslah kalau pacarmu setia sama kamu. Aku harap, dia selalu memberikan terbaik padamu dan tidak pernah mencoba menyakitimu.”
Freya menarik kedua sudut bibirnya menjadi bentukan senyuman amat lebar, gadis itu mengangguk dengan mengamini ucapan dari Angga yang terlihat bahagia sekali karena gadis sahabat lugunya itu telah menemukan pasangan jodoh.
“Sumpah! Angga kalau senyumnya begini, ganteng banget. Bikin diriku terpana-pana,” ujar Jova seraya menangkup wajah sebelahnya dengan satu tangannya.
“Aku juga ganteng, kali!” sewot Reyhan tak ingin ketampanannya dikalahkan oleh Angga.
“Iya, lo emang ganteng. Kalau dilihat dari lubang sedotan, hahahaha!” ledek Angga dengan tertawa lepas.
“Sompret lu, Ngga!” geram Reyhan karena bisanya sahabat berjulukan Introvert-nya tersebut mampu tertawa lepas seperti ini bahkan telah hebat meledek orang.
Jova dan Freya yang mendengarnya juga menyusul tawanya Angga nang telah meledek Reyhan habis-habisan. Sedangkan si Reyhan yang ditertawakan bahkan diledek oleh sahabatnya, hanya menekuk mukanya bersama bersedekap di dada. Tetapi sebetulnya kalau di dalam relung hatinya, Reyhan senang sekali melihat sifat Angga yang seperti ini. Tak lagi menunjukkan sikap dinginnya, cueknya, bahkan lainnya yang membuat kesal.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
10.00 AM
Di pagi yang matahari telah naik dan begitu terik, namun di alun-alun terlihat ramai sekali banyak pengunjung datang karena ini adalah hari Minggu. Freya dan Angga yang sudah tiba di parkiran motor, mulai turun dari motornya tak lupa melepas helmnya dan melepas kunci motor mereka masing-masing. Freya dengan semangat menarik lengan tangan Angga yang dibungkus oleh jaket hitamnya yang sahabatnya kenakan.
Di dalam alun-alun, Freya memicingkan matanya untuk mencari keberadaan kekasihnya yang telah janjian buat bertemu di taman alun-alun. “Dimana, ya? Kok nggak kelihatan? Apa belum dateng- oh itu dia! Ayo, Ngga!”
“Astaga, pelan-pelan, Frey!” Angga kini hanya pasrah ditarik sahabat kecilnya macam sedang menarik sebuah gerobak.
__ADS_1
Freya menghampiri pacarnya yang posisi keadaannya tengah berdiri dengan kepala menunduk karena sedang memainkan ponsel Androidnya, Angga melihat pemuda tersebut yang sepertinya seumuran ia 17 tahun dan tingginya sama, ialah 180 sentimeter, hanya saja kulitnya warna kuning langsat dengan rambut hitam style-nya.
“Gerald!” panggil Freya semangat melambaikan tangannya di atas sambil mendekati kekasihnya.
Lelaki yang bernama Gerald tersebut mendongakkan kepalanya dan tersenyum senang melihat kehadiran pacar cantiknya telah hadir di hadapannya. “Hai, Sayang ... aku kira kamu nggak jadi dateng. Eh, ini yang di samping, siapa-mu?”
“Oh iya lupa ngenalin! Nih, kenalin. Ini sahabat kecilku, namanya Anggara Vincent Kavindra.”
“Anggara Vincent Kavindra?” Gerald menaikkan satu alisnya dan mulai menarik senyuman miringnya.
Angga menatap Gerald yang bermata hijau layaknya seperti orang dari negara Eropa, kemudian pemuda tampan tersebut mulai mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan dengan pacar sahabat kecilnya sambil menampilkan senyuman bibir tipisnya. “Salam kenal.”
Gerald membalas uluran tangan kulit putih Angga untuk menjabatnya. “Salam kenal juga, nama gue Gerald Avaran Dedaka.”
Napas Angga seolah seperti tercekat, bahkan mulutnya seakan-akan digembok. Mendengar bahwa kekasih dari sahabat kecilnya bernama Gerald Avaran Dedaka, rupa wajahnya memang membuat pangling tetapi nama lengkapnya masih Angga ingat jelas di benak otak memorinya.
Hingga suara ringtone yang berasal dari ponsel Freya membuat kedua pemuda itu menoleh ke sumber suara. “Aduh siapa lagi yang telpon? Ehm, aku tinggal dulu sebentar, ya? Kalian berdua ngobrol-ngobrol dulu saja.”
Freya melangkah pergi meninggalkan pacarnya dan sahabatnya untuk mengangkat telepon dari seseorang. Sekarang, Gerald beralih menatap Angga dengan senyuman sinis yang terpajang di wajahnya. Lelaki pemilik kulit kuning langsat yang mengenakan aksesoris kalung peraknya, mulai melipat kedua tangannya di dada. Gerald tersenyum remeh pada Angga yang kepalanya menunduk.
“Anggara Vincent Kavindra, ya? Hahaha, gue nggak nyangka kita bertemu lagi pas SMA. Gue tau lo gak ingat muka gue, tapi nama gue masih lo ingat.”
Gerald berjalan dan mengelilingi Angga dengan masih memakai wajah sinis yang setia tertancap di mukanya tersebut. “Apa lo ingat disaat kita masih SD dulu? Tentunya lo mesti ingat, kan hahaha! Siswa yang terkenal sakit jiwa di sekolah Bakti Siswa itu dan juga terkenal pembunuh.”
Bibir Angga sedikit bergetar, rasa pedihnya hati dan sesaknya di dada bercampur menjadi satu. Bahkan pemuda tampan itu tak sama sekali bertatapan pada orang yang pernah ada di masa lalunya, yang mana dulunya suka sekali memberikan perundungan untuk Angga bahkan melukai fisiknya hingga dirinya merasakan amat tersiksa bersekolah di SD-nya yang penuh kejahatan di dalamnya.
Gerald berhenti memutari tubuh Angga yang berdiri macam patung. “Dilihat-lihat, lo sekarang lumayan berbeda ya daripada sebelumnya. Good looking, tapi sayang ... penampilan lo masih cupu!”
Gigi Angga menggertak giginya kuat di dalam mulutnya yang bungkam. Gerald menatap orang yang sangat ia benci dari dulu karena tidak suka serta iri pada prestasi besar yang Angga peroleh. “Kenapa lo diem? Lo ternyata masih sama ya seperti dulu SD, tukang bisu! Oh, apa lo takut sama gue?”
Angga mendongakkan kepalanya dan menatap tajam pada Gerald yang telah meremehkan dirinya. “Gue gak takut sama lo! Dan cukup lo hina-hina gue dengan mulut gak bermutu dari lo itu!”
Gerald terkejut dengan mulut menganga, lelaki itu memalingkan wajahnya ke samping melihat lapangan luas sebentar dari Angga, lalu menoleh menatap Angga dengan ekspresi murka terhadap pemuda tampan tersebut. Giginya menggertak kemudian mendekati Angga.
“Lo sudah berani main bentak gue?! Apa lo lupa dimana saat waktu masa itu, lo membunuh sahabat gue Zhendy?! Gue kehilangan dia karena elo, bedebah!!”
Gerald menerjang Angga dengan mendorong tubuhnya hingga membuat pemuda tersebut jatuh tersungkur di jalan tapak karena dorongan Gerald memakai tenaga kuatnya bahkan rasa amarahnya yang menyatu tenaganya. Angga yang diperlakukan seperti itu hanya diam saja tanpa berniat untuk melawannya apalagi di keramaian banyak orang.
‘Lebih baik gue pergi, buat apa gue di sini kalau menjadi pusat perhatian orang-orang? Maaf, Freya.’
Angga segera bangkit dari jatuhnya karena oleh ulah Gerald, kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan lelaki tersebut yang tersenyum smirk. Tiga langkah Angga pergi menjauh, Gerald menggelengkan kepalanya dan mengubahnya menjadi senyum remeh.
“Lo tetap masih sama, Angga. Suka menghindar dari masalah yang belum lo tebus! Tapi lo jangan lega dan tenang dulu setelah lo nggak melihat gue lagi di depan mata, karena gue akan buat hidup lo menjadi hancur sehancur-nya yang gue lakukan, yang gue mau! Sebab diri lo sudah membunuh sahabat gue!”
Angga berusaha tak memedulikan ucapan sarkas dari Gerald bahkan menggubrisnya, ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Gerald dan juga Freya yang masih melakukan hubungan percakapan di telepon.
Di pertengahan melangkah dan telah menjauh dari Gerald, memori Angga tentang masa lalu kelamnya kembali lagi usai Angga lupakan selama ini. Akibat kehadiran Gerald di kehidupannya yang sempat Angga kira bahwa ia tak mungkin akan bertemu Gerald lagi untuk selama-lamanya, membuat hati Angga remuk seketika.
Angga tahu sekali dari dulu semenjak SD, Gerald tak menyukainya karena prestasi tingginya Angga mampu mengalahkan prestasinya, terlebihnya Angga dulu terkenal siswa cerdas di sekolah Bakti Siswa, namun lambat laun kemudian semuanya terhempas adanya Gerald menghancurkan prestasinya dengan Zhendy sahabatnya yang telah meninggal. Harga diri Angga diinjak-injak olehnya, dipermalukan dengan perundingan-perundingan yang ia lakukan bahkan seluruh warga sekolah kompak menganggap Angga sebagai siswa yang mempunyai jiwa sakit akibat semasa ia di sana selalu di teror-teror berbagai hantu yang bergentayangan.
Apa yang dilihat Gerald tentang kematian Zhendy semua salah paham kalau dirinya menuduh Angga bahwa pemuda itu yang membunuhnya. Tapi mau bagaimana lagi? Gerald terlanjur tak percaya pada Angga apalagi membencinya. Berbagai perkataan Angga untuk Gerald sudah tak ada artinya baginya.
Dan kini sekarang, ia dipertemukan lagi dengan sosok Gerald yang sebagai orang masa lalu suramnya. Kehidupan Angga yang berwarna karena motivasi-motivasi yang para sahabatnya berikan, kini bagaikan hitam putih saja. Andai waktu bisa diputar kembali, Angga pasti tidak ingin bersekolah di sana yang membuat sampai dewasa ini mengganggu kehidupannya bahkan buat hidupnya tak tenang karena bayangan-bayangan masa lalunya yang menempel rekat di otak memorinya.
__ADS_1
‘Gue begitu menyesal. Tapi yang namanya penyesalan selalu datang di akhir ...’
Indigo To Be Continued ›››