
Kedua mata Reyhan mengernyit dalam mata yang masih terpejam sekaligus dirinya menggerakkan kepalanya yang rasanya amat begitu sakit berdenyut akibat sebelumnya terbentur di atas bebatuan nang tertancap di tanah bawah jurang. Perlahan pula, Reyhan membuka matanya lemah dengan mata sayu miliknya.
Reyhan menyipitkan kedua mata sipitnya saat buram pandangannya melihat beberapa warna merah yang saling berjejeran di tiang gantungan model horizontal. Dua matanya kemudian mencuat dengan wajah Syok-nya saat blur pandangan punyanya telah menjelas seperti semula.
Dilihatnya ada beberapa potongan badan manusia yang saling berjejeran dengan banyaknya lumuran darah hingga dikepung banyak hewan kecil terbang alias lalat. Saking terkejut setengah matinya, napas milik Reyhan layaknya tersengal-sengal seperti usai berlari kencang dikejar oleh hantu.
Keringat dingin mengucur dari kening hingga merembes ke pelipis matanya dengan posisi dirinya terbaring di tempat permukaan yang keras. Bertepatan waktu memfokuskan pada satu titik pandangan mengerikan di depan mata, datanglah seorang lelaki berpakaian hitam, mengenakan sebuah masker kain warna hitam, beserta menggenggam pisau dengan silikon silver di gagangnya.
Langkah kaki sepatu itu membuat kedua bola mata Reyhan saling melirik karena penasaran siapakah yang menghampirinya. Reyhan seketika menelan salivanya susah payah di saat menatap tangan kanan pemuda itu yang menggenggam pisau.
Lelaki asing itu menghentikan langkahnya saat bertemu pandangan mata cokelat hazel milik korban targetnya yang waktu itu dibawa bersama kedua rekannya lalu dimasukkan ke dalam markas lingkup dengan cahaya temaram tersebut.
Pemuda itu lantas langsung mengharapkan tubuhnya ke arah Reyhan yang masih terbaring lalu membungkukkan badannya untuk menatap Reyhan dengan tatapan mengintimidasi. “Lo sudah sadar? Sebelumnya lo pasti sudah tahu, gue siapa.”
Mata Reyhan terbelalak lagi saat tersirat di benaknya tentang sosok lelaki yang ada di sebelahnya ini.
...Hahahaha! Target spesial yang gue dapatkan kali ini adalah elo. Dan lo gak akan bisa melarikan diri dari sini, Sobat !...
Ya! Reyhan ingat sekali sosok lelaki yang mengancamnya dengan senjata mesin besar alias gergaji mesin waktu itu. Seorang pemuda yang ia anggap sebagai psikopat malam hari.
Sayangnya si Reyhan tak bisa bercakap apa-apa karena saat ini kondisi mulutnya sedang dibekap erat oleh lakban hitam yang menempel. Pemuda tersebut yang melihat mangsanya tidak mampu berbuat apa-apa untuk melawannya, tertawa renyah dengan menggelengkan kepalanya.
“Lo mau apa sekarang, hah? Gak ada yang bisa lo lakukan untuk melawan bahkan keluar untuk melarikan diri dari tempat ini. Karena, gue sudah menjerat diri lo dengan rekan-rekan gue buat menjadikan sebagai mangsa kami, hahahaha!”
“Oh iya, gue sebelumnya juga pernah lihat elo di belakang villa Ghosmara. Lo pastinya nggak mungkin gak melihat gue di sana, karena saat itu lo lihat diri gue yang terus memantau elo.”
‘Jadi nama villa yang kami tempati, villa Ghosmara? Tapi sial! Bagaimana caranya gue terlepas dari cowok brengsek ini?! Gue sudah jauh terperangkap di sini dan gak ada satupun yang bisa menolong gue. Apa ini udah dari takdir gue?’
“Lo mesti menduganya elo bakal bisa kembali lagi ke bangunan villa Ghosmara karena ditemukan oleh teman-teman lo. Gak! Lo tetap di sini bersama kami untuk menjadikan kegembiraan kami!” Dengan langsung, pemuda berjiwa psikopat itu melepas pisaunya hingga jatuh ke lantai lalu segera mencengkram leher Reyhan bersama kedua tangannya.
Reyhan ingin menghentikan aksi kekejaman lelaki tersebut namun malangnya, kedua pergelangan tangan dirinya ditautkan oleh ikatan tali yang sangat kuat dan begitupula kencang. Di sisi lain, Reyhan mengerang kencang dengan sulit mendapatkan oksigen ke dalam tubuh karena cekikan itu sangatlah hebat yang diberikan pemuda bermasker tersebut.
Kedua kaki Reyhan yang tidak juga dibelenggu seperti kedua tangannya, ia hentak-hentakkan untuk melampiaskan rasa kesakitannya yang makin merajalela akibat ulah sang pembunuh. Membuat sepasang telinga pemuda berpakaian serba hitam itu merasa terusik karena hentakan kaki kerasnya dari korbannya yang ia siksa mati-matian sebelum menganiayanya bersama dua koleganya.
“Oh, gak bisa diam, ya?!” Pemuda tersebut dengan mendengus berkali-kali dengan tampang jengkelnya, mengeluarkan sebuah pistol hitam dari belakang kantong jeans hitamnya lalu memperlihatkan senjata kecilnya kepada Reyhan. “Lo tau ini buat apa, kan?”
Reyhan yang sangat mengerti, menggelengkan kepalanya kuat dengan dalam hati memohon ampun untuk jangan melakukan tindakan mengerikan seperti itu.
Sang berjiwa psikopat itu mendekatkan bibirnya yang tertutupi oleh maskernya di telinga kanan Reyhan. “I hate rejection.”
Ia menjauhkan bibir bermasker itu dengan sekaligus memundurkan tangannya yang di genggamannya masih terdapat sebuah pistol. Dengan jari kelingking dari tangan kirinya, pemuda bermata sorot sadis tersebut perlahan menyingkap baju kuning olive milik Reyhan sampai batasan ulu hatinya lalu segera menempelkan lubang keluarnya peluru dari pistol tersebut di perut bagian kirinya sang korban.
Reyhan terus saja mengerang ketakutan bila pembunuh tersebut melukainya dengan senjata berbahaya itu. Namun erangan permintaan korban tidak mau dituruti olehnya, hingga pada akhirnya lelaki bermasker hitam itu menekan pelatuk pistolnya dengan tertawa bahagia.
“Mmmmmmppphh!!!”
DOR !!!
Kepala Reyhan spontan terangkat ke atas lalu kembali seperti semula saat peluru pistol berbahaya tersebut menembus ke dalam perutnya hingga menimbulkan luka di luarnya bahkan darahnya perlahan keluar untuk mengalir. Pada akhirnya karena terlalu menyakitkan baginya, mata pemuda yang telah menjadi korban itu berubah terpejam tenang.
Lelaki jiwa psikopat itu segera melepaskan tangan kanannya yang menyergap leher Reyhan setelah mengetahui korban targetnya telah hilang kesadaran. Otomatis usai dilepas, kepala milik Reyhan terkulai lemah menghadap ke kanan.
Sungguh amat sungguh, pemuda berpakaian hitam itu kini suasana hatinya dihancurkan oleh Reyhan dalam sekejap. Sakit jiwa memang, baru saja tertawa kini malah misuh-misuh tak karuan hingga menendang dada bidang Reyhan untuk sebagai lampiasan kekesalannya. Lalu dirinya tanpa memasukkan terlebih dahulu senjata kecilnya ke tempat seharusnya, berbalik badan meninggalkan korbannya yang kembali lemah tidak berdaya usai dicekik kuat begitupun ditembak rela.
“Cih! Perusak suasana hati saja! Awas saja kalau lo kembali bangun, gue habisin nyawa lo tanpa ampun! Hahahaha!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
20.00 PM
Air mata Freya sedari tadi tetap berderai melumuri kedua pipi putihnya melihat kekasih tampannya kembali pingsan bahkan sampai sekarang pun belum kunjung siuman. Tubuhnya lemas, wajahnya tambah pucat dibanding tadinya. Kedua tangannya Freya saling bergerak untuk memijat lengan tangan kiri Angga dengan terus berkata memintanya bangun bersama nada paraunya yang keluar dari mulut.
Sementara Aji dan Jevran tengah meratapi kegagalannya bersama dikarenakan mereka sama sekali tidak menemukan sosoknya Reyhan. Sudah dari pagi hingga sore tetapi nihil. Bahkan mereka berdua kompak menyusuri panjangnya jalan hutan demi teman satunya itu, dan beruntungnya kedua pemuda tersebut pintar dalam menghapal jalan untuk kembali ke dalam villa yang bernama Ghosmara.
“Tadi kamu ngapain sih sebelum aku mengantarkan sarapan untukmu? Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa jangan-jangan HP-mu yang posisinya berlayar fotonya Reyhan, karena kamu saat itu sedang fokus menerawang dimana keberadaan sahabat kita, ya?”
“Kamu itu keras kepala banget jadi cowok!” kesal Freya merengek lalu menempelkan telapak tangan Angga di pipi halus kanannya.
“Kalau gak keras, bukan kepala itu namanya tapi balon,” celetuk protes Lala.
Jova menoleh ke arah Lala lalu menatapnya tajam. Heh! St! Gak tau apa si Freya lagi sedih, kunci bentar itu mulutnya.” Kemudian Jova mulai menyentuh bahu kecil bagian kiri Freya lalu tersenyum pada sahabat lugunya. “Sudah, jangan nangis gini ... Angga pasti akan bangun, kok.”
Freya melepaskan telapak tangan kekasihnya dari pipinya lalu menoleh ke belakang untuk menatap mata cokelat hazel milik Jova. “Ini masalah urgent, tau gak?! Angga, Reyhan, Kenzo! Mereka sama-sama buruk!”
Aji menggaruk kepalanya dengan senyum hambar. “Tapi kan Angga masih terlihat di mata kita semua, Frey. Gak kayak Reyhan sama Kenzo yang hilang secara misterius.”
Freya beralih menolehkan kepalanya ke arah Aji dengan muka sebalnya bersama bekas air matanya yang masih nampak jelas. “Diem ih, kamu! Kamu sama sekali gak ngerti perasaanku sekarang!”
Aji terperanjat kaget pada Freya yang mengeluarkan kata-kata nada tinggi untuknya. Rupanya perempuan lemah lembut dan kalem ini juga bisa marah, itulah bagi si Aji yang terperangah. Sementara Jevran meletakkan lengan tangannya santai di atas pundak kanan Aji dengan senyum miring.
“Enak banget ya, Ji? Tadi pagi dimarahin Jova, sekarang malam ini dimarahin Freya. Jangan-jangan habis ini lo diamuk Rena dan Lala sekaligus, hahaha!”
“Lo diem daripada gue obeng tuh lidah!” ancam sadis Aji sambil mendelik tajam pada Jevran yang telah berhasil membuat dirinya kesal nyaris keluar jiwa emosi.
__ADS_1
Kedua mata Angga tetap masih terpejam, bahkan terlihat enggan untuk kembali terbuka dan melihat banyak orang yang menantikan kesadarannya. Bibir pucat-nya bungkam, wajah tampannya pula nampak jelas lemasnya untuk saat ini hingga sekarang.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Reyhan kembali membuka matanya setelah beberapa jam hilang kesadaran akibat sang pembunuh yang menjadikan ia sebagai targetnya. Tetapi saat pandangan buram itu telah menghilang, Reyhan mengernyitkan keningnya karena semua tempat dalam ruangan tersebut terbalik. Namun saat Reyhan sadari, bukan ruangan itu yang terbalik tetapi posisi kepalanya dibawah sementara kedua kakinya di atas bersama ikatan tali yang membelenggunya hal itu telah disimpulkan tubuh dirinya yang terbalik.
Ia juga baru tersadar bahwa saat ini ia sedang bertelanjang dada, sementara baju hoodie-nya sedang dipakai salah satu rekan pemuda yang membuat dirinya pingsan untuk mengelap darah segar manusia di meja office hingga baunya mampu menusuk di penciuman indera milik Reyhan yang mulutnya masih dibekap oleh lakban.
Reyhan mencoba mengangkat kepalanya untuk melihat kondisi kedua kakinya yang di atas. Yang benar saja, dua pergelangan kakinya terikat tali sekaligus dengan sangat kencang agar membuat Reyhan kesukaran melepas diri.
Krieeeeettt !
Suara decitan pintu terdengar sekali di sepasang telinga Reyhan yang seperti patung karena tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa Reyhan lihat, pemuda berpakaian serba hitam berjalan masuk ke dalam ruangan lingkup tersebut bersama golok gobang yang ia genggam di tangan kirinya.
“Lo sudah siap? Karena korban malam kita sudah bangun, dan kita sudah bersepakat untuk bergembira bersama menganiaya mangsa kita ini,” ucap pemuda yang menggenggam golok gobang.
Temannya yang sudah selesai membersihkan meja dari cairan merah pekat pakai bajunya Reyhan, menoleh ke arahnya dengan tersenyum miring tanpa mengenakan masker kain yang menutupi hidung dan mulutnya. “Gue selalu siap kapanpun. Kita tunggu lainnya buat membawakan wadah untuk memasukkan beberapa organ tubuh milik korban spesial malam kita.”
“Yap, setelah itu besok pagi kita jual. Pasti kita akan menjadi tajir karena pasti harganya tidak cuma-cuma bila semua organ tubuhnya dijual di pasar gelap, hahaha!”
DEG !
Mata Reyhan mencuat dengan detak jantung berdebar sangat kencang. ‘Semua organ tubuh gue bakal dijual? Pasar Ilegal yang seperti tersiar di berita?! Gak! Gue gak ingin mati! Siapapun saja yang datang selain mereka, tolongin dan selamatkan gue.’
“Ayo dimulai. Gue sudah bawa tempat wadahnya buat menyimpan beberapa organ tubuh cowok itu, mumpung dia sudah sadar. Jadi kita ada kesempatan emas mendengar suara teriakan kesakitannya yang merdu, hahahaha!”
“Mmmpph! Mmmpph!”
Lelaki tersebut yang sedang tertawa tanpa melepaskan senjatanya untuk membelah dada Reyhan, berhenti lalu menoleh menatap sang targetnya. “Lo ngomong apa, sih? Bisu, kah?”
‘Bisu apaan, Goblok?!’ murka Reyhan dalam hati dengan terus meronta-ronta agar tali yang mengikat kedua tangannya nang ada dibawah kepalanya terlepas.
Fino sang pemuda yang membawa golok, mulai memperkenalkan mata gobang tajam tersebut di kulit perut putih milik Reyhan lalu mendekatkannya menuju kulit dada bidang sang target. “Sangat menarik jika dibelah ke sini hingga ke sini. Santai, gue begini juga karena ingin mengeluarkan peluru yang ada di dalam perut lo, tetapi habis itu tanpa ada satu detik lo akan cepat pindah alam.”
Reyhan kini malah tidak takut melainkan sangat marah besar, walau rasa amarah hati tidak mempengaruhi Fino untuk akan melakukan aksi sadisnya terhadap Reyhan. Bahkan saking sengitnya, kedua alis cokelat tebalnya Reyhan saling bertautan.
“Lihat, Fin. Dia keliatan emosi banget sama lo. Padahal emosi pun gak akan bisa membantu dia untuk selamat dari kita semua, hahahaha!”
Setelah mengutarakan kalimat tersebut, Bondan sang pemuda yang tadi membersihkan darah manusia pakai baju hoodie kuning milik Reyhan, langsung menendang kencang dada bidang sang korban dengan telapak kakinya yang bersepatu. Reyhan hanya mampu memejamkan matanya kuat dengan merasakan bagian dadanya yang terasa sakit.
Kori sang lelaki psikopat yang tadi membawakan wadah plastik ke dalam ruangan ini, kini ia berjongkok untuk meletakkan wadah kotaknya di sebelahnya Fino yang tengah duduk posisi berlutut di hadapannya mata cokelat hazel menawannya Reyhan yang terlihat sayu.
Fino sekarang menggenggam gagang golok senjata untuk membunuh Reyhan dengan kedua telapak tangannya. Reyhan berkali-kali sudah menggelengkan kepalanya begitupun kini usai matanya ia buka kembali. Reyhan hanya bisa mengerang sakit saat perut bagian bawahnya ditusuk paksa Fino dengan golok kesayangannya lalu setelah itu ia menyayat perut korbannya hingga sampai tiba batasan dadanya.
Darahnya mengalir mengucur deras membasahi seluruh wajahnya Reyhan saat tubuhnya berhasil dibelah oleh Fino bersama tawanya begitupun rekan-rekan anak buahnya tersebut. Darahnya yang terlalu banyak keluar dari tubuhnya membuat hingga Reyhan merasakan tubuhnya begitu amat lemas hingga kedua matanya terpejam damai. Setelah mengetahui sang target mereka bertiga telah tidak bernyawa, Fino mulai mengambil beberapa organ tubuh Reyhan yang sekiranya jika dijual harganya amat mahal di pasar Ilegal.
“Hahahaha! Kita akan kaya raya!!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
“Angga! Angga! Bangun, Ngga!!”
Keenam remaja tersebut terus saja membangunkan pemuda tampan Indigo tersebut yang kepalanya saling menoleh ke kanan dan ke kiri secara bergiliran dengan gerakan sangat cepat. Air matanya juga tetap mengalir membasahi kedua pipi putihnya. Hingga ia berhenti menoleh-noleh lalu membuka matanya cepat.
“REYHAN!!!”
Napasnya Angga sekarang benar-benar terputus-putus, detak jantungnya yang masih berbunyi amat berdegup-degup kencang batas dari normal. Dengan segera, Angga langsung gesit turun dari kasurnya lalu tangan kanannya mengambil sepasang sepatu putih merk Adidas miliknya yang di dalamnya terdapat kaos kaki hitamnya.
“Anggara! Kamu mau kema-”
BRAK !!!
Belum selesai Freya berucap panik pada sang pacar, tetapi Angga sudah lebih dulu membanting pintu kamar nomor 001 dari luar. Angga dengan tergesa-gesa turun dari undakan tangga lalu berlari terbirit-birit ke pintu utama kemudian memutar kunci pintu hitamnya untuk membukanya.
Usai menutup pintu villa, angin terasa dingin saat saling berhembus menerpa kulit Angga yang seperti menusuk. Angga malam ini tidak ingin membuang banyak waktu, ia harus segera menyelamatkan nyawa Reyhan sesegera mungkin.
Angga telah keluar dari lingkungan villa, dan sekarang ia tengah berhadapan depan jalan hutan arah kiri yang sangat gelap dan ada perbedaan hawa aura di sana. Angga menepiskan pikiran negatifnya lalu menatap jalan panjang itu dengan mata tajam abu-abu autentiknya.
“Gue akan terima konsekuensinya!”
Angga kemudian kembali berlari kencang untuk melewati jalan hutan gelap menggentarkan tersebut. Pada di mimpinya tadi, Angga diperlihatkan arah titik lokasi untuk menuju ke sebuah markas lingkup yang ada di pertengahan hutan Bandung ini.
DOR !!!
Angga menghentikan laju larinya saat mendengar suara tembakan pistol dari arah kanan tepatnya tepi jurang dimana sahabatnya terjatuh akibat ancaman intimidasi sang psikopat tersebut. Dengan jiwa beraninya, Angga menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan pandangan matanya bertemu seorang pemuda bermasker hitam yaitu Fino.
“Sial,” gumam Angga saat Fino mendekati dirinya dengan genggaman pistolnya yang telah ia gunakan untuk menembak atas langit.
“Berani-beraninya lo masuk ke dalam wilayah kami? Lo mau mencari mati seperti cowok gak berguna yang telah kami jadikan korban sebagai mangsa kami?”
Angga diam membisu tak ingin menjawab pertanyaan sombong dari Fino, namun bola matanya terbentur pada senjata pemuda tersebut. Dengan cepatnya, kaki kanan Angga menendang lengan tangan Fino hingga pistolnya terlempar jauh ke belakang. Tak sampai situ saja, Angga kemudian langsung mengangkat tubuh Fino lalu membantingnya keras di tanah.
BRUGH !!!
__ADS_1
“Akh!! Bajingan, lo!”
DUAGH !
Dikarenakan Angga terlalu fokus pada satu pandangan yaitu Fino, Angga sampai tidak melihat situasi lainnya hingga dari belakang tengkuknya dipukul sangat kuat dengan Bondan membuat lelaki tampan tersebut jatuh limbung di tanah dan hilang akan kesadaran dirinya, lagi.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Lenguhan terdengar dari suara Angga yang mulutnya dibekap oleh lakban, perlahan pemuda tampan itu membuka matanya dan mengerjapkan beberapa kali agar buram tak jelas pandangannya menghilang. Kepalanya terasa pusing saat tengkuknya telah dipukul oleh sesuatu yang jelasnya sangat keras.
Tunggu. Apakah ada ruangan yang modelnya terbalik seperti apa yang Angga lihat? Tidak, bukan ruangan lingkup itu yang terbalik tetapi tubuhnya yang terbalik dimana posisi kepalanya dibawah sedangkan kedua kakinya yang dibelenggu oleh tali di atas seperti keadaan Reyhan yang ada di dalam mimpi buruknya.
Baru saja akan mengangkat kedua tangannya yang pergelangannya saling disatukan oleh tali kencang untuk melepaskannya dengan segala cara, bola mata Angga tidak sengaja melirik tumpahan darah segar manusia yang ada di atas meja office pojok ruangan lingkup tersebut. Itu artinya masa untuk membunuh Reyhan belum datang dan Angga harus cepat mengejar waktu sebelum semuanya menjadi pupus.
Meskipun kedua tangannya diikat kuat, tetapi Angga selalu memiliki akal cerdas untuk melepaskannya dengan idenya. Yaitu menggesek-gesekkan sisi kiri lakban supaya terkelupas dari bagian mulutnya. Yeah! Akhirnya berjaya dengan sangat lancar.
Lakban tersebut kini telah beralih menempel di bagian tali yang membelenggu kedua pergelangan tangan Angga, dan ini saatnya lelaki tampan tersebut lekas menggigit titik lolosnya untuk melepas tali tersebut dari sepasang tangannya. Sekarang tali yang terikat kencang di kedua tangan Angga telah melonggar hanya beberapa detik usai gigi dirinya bekerja untuk melepaskan tali tersebut.
Angga menggerak-gerakkan dua telapak tangannya hingga puncaknya tali tersebut yang diikat oleh Fino jatuh di lantai. Angga tersenyum lega, dan hanya kurang satu kerjaan lagi yang harus Angga lakukan untuk bisa terlepas dari perangkapan ruangan lingkup dengan cahaya lampu temaram ini.
Kepala Angga saling menoleh ke kanan-kiri untuk mencari alat benda tajam seperti golok atau lainnya lepau melepas tali atas itu yang mengikat kuat kedua kakinya. Setelah sibuk mencari alat untuk mencabut tali rekat tersebut, mata Angga menangkap sebuah parang di sebelahnya walau jaraknya agak jauh dari ia berada.
Angga mulai sekuat tenaga mengayunkan tubuhnya yang bergelantungan untuk mendapatkan parang tersebut. Awalnya memang sulit menggapainya, namun karena usaha upaya dari Angga, lelaki hebat tersebut telah mencekal alat senjata tajam itu bagian gagang cokelatnya.
Angga kini sekarang sedang menepatkan arahnya untuk melepaskan tali tersebut yang ada di atas kedua kakinya. Angga mengangkat kepala, badan, dan kedua tangannya sekuat tenaga buat menggisil-gisil bagian tali tebing itu hingga sampai lima kali banyaknya.
BRUGH !!
“Akh!”
Angga terjatuh keras di lantai setelah tali tersebut terlepas dari kedua kakinya yang pergelangan kaki dirinya masih terbelenggu erat. Lekas gesit, Angga melepaskan talinya lalu membuangnya ke sembarang arah.
Angga perlahan bangkit berdiri dengan sedikit tertatih karena kepalanya yang masih terasa sakit usai mengalami pusing saat tubuhnya terbalik. Kepala Angga mendadak menoleh ke kiri dan matanya langsung terbelalak saat melihat Reyhan yang terbaring lemah pingsan di atas tempat permukaan non empuk bersama ikatan tali yang mengungkung kedua tangannya tepatnya di pergelangannya secara disatukan.
Angga berlari kecil lalu langsung mencabut lakban yang membekap di mulut sahabatnya, selepas itu dirinya beralih ke tangan Reyhan untuk melepaskan ikatan kedua tangannya dari tali kencang tersebut. Angga membuang dua benda yang merekat di tubuh Reyhan di lantai kemudian mendekatkan wajahnya di muka pucat sang sahabat, lantas segera menepuk-nepuk pipi kiri Reyhan buat membangunkan dari pingsannya.
“Reyhan? Rey? Ayo sadar.”
Merasa melihat sahabatnya tidak kunjung sadarkan diri setelah ia bangunkan dengan tepukan pelan tangannya di pipi Reyhan, Angga memilih untuk melangkah mendekati pintu kayu jati yang digembok. Untuk memastikan di luar pintu adalah jalan keluarnya, Angga membungkukkan badannya dan salah satu matanya mulai mengintip di celah-celah sisi pintu tua tersebut.
“Itu dia jalan keluarnya!”
Angga langsung ambil kapak yang tersandar di tembok samping meja office, lalu membacoknya gembok besi tersebut hingga rusak supaya dirinya bersama Reyhan berhasil keluar dari tempat beberapa pembunuhan tersebut.
Tak !
Gembok besi tersebut akhirnya rusak dan posisinya sekarang benda itu jatuh di lantai belakang pintu keluar. Angga meletakkan kapak yang sebagai bantuannya, lalu hendak mulai membuka pintu.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!”
Angga yang akan membuka pintunya tertunda saat mendengar suara Reyhan yang terbatuk-batuk keras. Tidak disangka oleh Angga saat menoleh, sahabatnya terbatuk dengan mengeluarkan cairan merah pekat dari dalam mulutnya.
Angga langsung cepat-cepat mengambil kain warna navy dari atas meja office lalu segera menghampiri Reyhan dan mengelap sisa darahnya yang nampak jelas dibawah bibirnya hingga bersih kembali. Bertepatan saat telah membersihkan darah sahabatnya, Reyhan membuka matanya dengan sangat lemah dan tatapan pertamanya bertemu sosok wajah Angga yang tersenyum padanya.
“A-a-a-angga ...”
Hanya sebutan nama Angga saja yang berhasil Reyhan ucapkan walau terbata-bata dengan nada lemahnya. Hingga saat sedang tersenyum lemah pada sahabat Indigo-nya, kedua mata Reyhan yang terbuka kini kembali menutup tenang bersama bibir pucat yang ikut bungkam.
Senyuman Angga seketika menjadi hilang saat melihat sahabatnya yang hilang kembali tutup mata begitupun sudah tidak ada pergerakan tubuhnya lagi. Dengan rasa cemas di hati, Angga menangkup wajah sahabatnya dengan menatap matanya yang tertutup tersebut.
“Rey?! Reyhan?! Tolong jangan tutup mata! Ayo sadarlah kembali!”
“...”
Sekarang Angga telah benar-benar murka pada seseorang yang membuat Reyhan seperti ini, bahkan Angga melihat kemerahan di bagian leher depan sahabatnya seperti habis dicekik. Lelaki tampan tersebut yang tampang ekspresinya terlihat berang, melepaskan kedua telapak tangannya yang menangkup muka pucat Reyhan.
“Luka tembakan?!” Angga terkejut saat menatap luka perut bagian samping kiri Reyhan yang masih tetap mengeluarkan darah walau tak deras.
Rahang Angga mengeras lalu kedua tangannya saling menutup perut Reyhan dengan baju hoodie kuning olive yang dikenakan oleh sahabatnya. Angga kemudian langsung mengangkat kepala Reyhan perlahan-lahan setelah itu membangkitkan tubuhnya untuk mengeluarkannya dari ruangan tersebut bersamanya melalui pintu yang gemboknya telah Angga jebol.
Namun baru saja akan menggendong Reyhan ke belakang punggung kokohnya, Angga mendengar suara langkah kaki seseorang yang akan menuju ke sini. Tidak, Angga tak boleh panik sedikitpun ia harus tetap tenang dan memutuskan bersembunyi di dalam pintu ruangan sesuatu yang letaknya ada di samping tempat Reyhan tadi terbaring.
Angga terus menyeret tubuh Reyhan hingga berhasil masuk ke dalam ruangan yang amat sempit dan untung hanya muat cukup dua orang saja. Sangat pas tentunya untuk bagi Angga dan sahabatnya bersembunyi di ruangan tersebut. Setelah berjaya masuk, lelaki tampan jiwa pemberani itu langsung menutup pintu kayu dengan sangat rapat tanpa mengeluarkan atau menimbulkan suara.
Krieeeeettt !
Woi, Fino! Lo mau ngapain?!
Angga dapat mendengar suara lelaki dari jauh sedang mengobrol alias bertanya pada rekannya yang masuk ke dalam ruangan terkecuali Reyhan nang masih belum sadarkan diri.
“Gue mau ambil salah satu koleksi tengkorak manusia di dalem. Kenapa emang?”
Seakan-akan detak jantung Angga ingin berhenti setelah mendengar tanggapan suara Fino yang ingin mengambil salah satu dari koleksi tengkorak-tengkorak manusia. Sedangkan para tengkorak yang saling berderet-deret di rak ada di tepat belakangnya Angga begitupun sahabatnya yang sedang ia dekap dengan satu tangan. Sungguh, Angga terlalu terjebak di situasi menegangkan ini, ia pikir dirinya bisa keluar tanpa hambatan dari tempat tersebut bersama Reyhan namun ada saja masalahnya yang menahan terlebih dahulu.
__ADS_1
Lalu, bagaimana ini? Apakah Angga serta sahabatnya akan tertangkap basah oleh Fino selepas membuka pintu tersebut untuk mengambil salah satu dari beberapa koleksi tengkorak manusia?
INDIGO To Be Continued ›››