Indigo

Indigo
Chapter 106 | Past Background [Anggara]


__ADS_3

Reyhan membuka pintu ruang UKS setelah balik dari kelas XI IPA 2 dan menyusuri lorong-lorong kelas yang telah sepi-kosong. Pemuda humoris yang posisinya sedang membawa tas punggung hitam sahabatnya, tangan satunya mendorong pintu untuk menutup kembali pintu UKS.


Reyhan melangkah memarani Angga yang juga belum kunjung bangun dari ketidaksadaran dirinya. Reyhan meletakkan tas punggungnya Angga dengan keadaan ia tegakkan lalu lelaki itu menghembuskan napasnya pelan, bahkan setelahnya Reyhan lenggokkan kepalanya untuk menengok jam dinding yang terpajang di atas tembok. Sebentar lagi jam pukul 16.00 dan sahabatnya masih saja seperti ini.


Reyhan melepaskan tangannya dari ujung atas tas hitam Angga lalu tangan itu membentang untuk menyentuh bahu kiri lemas sahabatnya dengan tampang lara. “Ngga, ayo sadar. Lo mau pulang apa enggak, sih? Udah berjam-jam gue nungguin elo siuman, tapi lo masih juga belum bangun-bangun.”


“Alamak (Astaga), malah kebelet kencing, gue!” Reyhan melempar tas hitam Angga ke ranjang kasur lainnya dengan reflek kemudian berlari ke toilet yang ada di dalam ruangan ini.


2 menit Reyhan di dalam toilet kecil, diluar tepatnya di atas ranjang kasur UKS, pemuda Indigo tampan tersebut akhirnya membuka matanya dengan gerakan lemah. Sepertinya oksigennya yang di dalam tubuh turun, kini sekarang kembali naik membuat kesadarannya kembali datang. Akan namun, suara dengungan di kedua telinga Angga masih terdengar. Pandangannya pula masih buram hingga ia tak tahu ia ada dimana.


Yang Angga rasakan, ia terbaring di tempat yang nyaman untuk tubuhnya. Sampai secara samar-samar Angga mendengar suara salah satu pintu dibuka dan langkah sepatu seseorang yang menghampirinya. Itu adalah Reyhan, pemuda humoris tersebut mengucek-kucek dua matanya agar apa yang ia lihat sekarang, salah.


Namun rupanya memang tidak salah, sahabatnya telah siuman balik membuat Reyhan begitu bernapas lega dan bahagia melihat Angga sudah sadarkan diri meski posisi pandangan mata serta kepala hadap depan. Lelaki itu duduk di kursi seraya menatap muka pucat sahabatnya.


“Alhamdulillah. Lega banget hati gue ngeliat elo sadar, Ngga. Niatnya tadi gue mau nyamperin pak kepsek buat minta tolong karena lo sedari tadi nggak siuman-siuman. Gimana? Lo udah rasa agak mendingan atau belum? Masih pusing? Sakit kepala? Mual? Nyeri otot? Atau lainnya??”


Angga cukup memutar bola matanya lemah untuk menatap satu orang yang tengah menginterogasi dirinya, tanpa menanggapi pertanyaan pemuda tersebut yang tak lain ialah Reyhan sahabat SMP-nya yang dulu bersekolah di SMP Erlangga kota Jakarta.


Reyhan meringis dengan cengengesan melihat tampang wajah datar dan dingin dari Angga. ‘Gue yang tanya sama lo, kenapa lo cuman natap gue dengan mulut bungkam?’


Reyhan pun yang tak ingin di tengah-tengah situasi kesenyapan, mulai mengubah topik lainnya. “Tadi kata bang Johan sama pak Harden, lo Demam. Hehehe, mungkin kebanyakan pikiran kali, ye?”


Angga tetap sengap bisu.


Sungguh, Reyhan tidak suka dengan keadaan Angga yang seperti ini. Tetapi ia harus menghadapi sahabatnya yang kondisinya sedang begitu, atau mungkin mencoba untuk memberikan sekedar hiburan. Reyhan berdiri dari kursi lalu membentangkan kedua tangannya buat membantu Angga bangkit duduk dengan perlahan-lahan.


Tapi detik kemudian saat Reyhan hendak duduk kembali, Angga menyentuh bagian keningnya dengan satu tangannya bersama mata yang ia tutup. “Eh kenapa, Ngga?? Kepala lo pusing? Atau sakit kepala? Kalau sakit kepala gue ambilin obatnya dulu di tas elo!”


“Gue hanya pusing saja ...”


‘Eh, ngomong juga dia akhirnya,’ batin Reyhan senang meski tak terlihat dari sunggingan bibirnya.


Reyhan memutar balik tubuhnya menghadap Angga yang tadinya ingin mengambil tas hitam sahabatnya yang ada di belakangnya. “Oh cuman pusing, yasudah agar lebih baik, lo minum air putih, nih.”


Reyhan menggapai gelas yang berisi air putih penuh lalu pemuda itu sodorkan pada Angga yang tengah masih menyentuh keningnya. “Ayo di minum dulu air putihnya, biar lo membaik.”


Angga menerimanya dengan tangan lemasnya, membuat Reyhan getir jika gelas itu jatuh dan airnya tumpah. “Bisa nggak pegang gelasnya?? Atau mau gue bantu lo minumnya??”


“Nggak perlu ...”


Reyhan diam bungkam dan melihat Angga yang mulai meneguk air putih tersebut dengan perlahan. Setelah usai itu, Angga menyerahkan gelas tersebut yang air putih tinggal setengah. Sesudah meletakkannya kembali di atas meja nakas, Reyhan duduk santai bersama Angga yang sedang memejamkan matanya supaya pusingnya mereda.


Reyhan menilik jam dinding kemudian menoleh ke arah sahabatnya. “Sepuluh menit lagi kita pulang, ya?”


Angga hanya memberikan anggukan kepalanya saja, membuat Reyhan sedikit bingung pada sikap sahabat Introvert-nya. ‘Angga ini kadang keras kepala, kadang penurut. Sebenernya jalan otaknya ini anak gimana, dah?’


Angga yang tentu jelas mendengar batin hati Reyhan tak kuat atau enggan menjawab sahabatnya yang bertanya dalam hatinya itu. Saat ini Angga masih merasakan tidak enak badan bahkan tubuhnya yang ia rasakan sangat lemas. Reyhan amat miris sampai lumayan mendesis menatap muka pucat-nya Angga yang mempengaruhi Demam-nya. Apalagi jika Reyhan mampu ramal, tubuh Angga tidak akan seimbang kalau berdiri. Ia butuh dipapah agar menyinkronkan keseimbangan tubuh optimalnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Kini setelah 10 menit di dalam ruang UKS, kaki kedua pemuda itu tengah berjalan seiringan. Meski salah satu lelaki tersebut terlihat tidak sanggup berjalan terlalu lama apalagi perutnya begitu kram bahkan kepalanya masih terasa pusing keliyengan.


“Pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru.” Reyhan yang sedang merangkul Angga untuk memapah sahabatnya, berusaha menyamakan langkah Angga yang nampak sangat lambat.


Sampai tiba-tiba mereka berdua bertemu mang Asep yang bertugas sebagai satpam penjaga gerbang sekolah sekaligus mengurusi keadaan setiap ruangan di dalam bangunan ini saat jam pelajaran sekolah telah usai. Mang Asep yang membawa beberapa kunci yang ditempat gantungan, menghampiri kedua siswa tersebut.


“Eh cowok-cowok cakep, kok belum pulang? Eh! Itu si Angga kenapa mukanya pucet bener kayak mayat?!”


Reyhan menegakkan badannya dengan tetap tangan merangkul Angga di tengkuknya. “Sakit, Mang. Udah berjam-jam dia di ruangan UKS. Mamang sendiri mau ngapain? Oh, mau bertugas ngunci setiap pintu di dalem sekolah ini, ya?”


“Tuh, tau. Eh tapi kamu baik-baik aja toh, Ngga? Itu kayaknya lemes banget, deh. Tau begini kenapa berangkat sekolah, tadi? Toh jadi memperburuk kondisimu aja,” tegur mang Asep.


“Biasalah, Mang. Dari lahir keras kepala banget. Kemarin disuruh jangan berangkat tetep berangkat, jadi gini deh endingnya. Yaudah ya, Mang? Saya sama Angga mau balik pulang.”


“Iya. Hati-hati di jalan, ya. Bawa motornya jangan pake acara ngebut-ngebut, nanti kena musibah kecelakaan.”


“Iya deh, Mamang. Siap itu, mah!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...

__ADS_1


Galaxy Admara - Parkiran


Angga yang tengah duduk lemas di trotoar menatap sahabatnya yang sedang memundurkan motor Vario silver-nya usai mengenakan helmnya. Pemuda Indigo itu menghela napasnya karena ia merasa sudah sangat merasakan merepotkan sahabatnya. Hari ini Angga memang tidak menggunakan motornya dikarenakan kemarin ia lupa mengisi bahan bakar kendaraannya di SPBU atau biasa disebut pom bensin.


“Kenapa lo nggak biarin gue naik bis aja?” tanya Angga tiba-tiba membuat Reyhan menurunkan alat standar motornya kemudian memutar tubuhnya dan mendekati sahabatnya.


“Dengan kondisi lo yang masih lemah gini, dan lo memaksakan diri buat jalan beberapa kilometer buat menuju ke halte, emangnya lo kuat? Enggak, kan? Mangkanya gue mutusin untuk anterin elo ke rumah. Ayo sini berdiri.”


Reyhan mengulurkan tangannya pada Angga untuk membangkitkan sahabatnya berdiri. “Sssshh, tangan lo panas banget, anjir! Habis ini jangan ngelakuin aktivitas-aktivitas yang berat, ye?”


Angga hanya berdeham pasrah untuk menuruti perkataan Reyhan. Setelah membangkitkan Angga berdiri, dengan hati tulusnya Reyhan merangkul-kan tangan pemuda Indigo tersebut ke tengkuknya lalu kemudian mulai kembali memapahnya hati-hati ke arah motor Honda Vario matic miliknya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Suara kebisingan motor Honda yang mengusik telinga seorang gadis yang ada di atas kamar, membuat dirinya menghentikan ketikan tangannya di keyboard laptopnya yang tengah menulis sebuah naskah narasi novelnya. Ya, itu adalah Freya. Gadis cantik yang tadi tidak hadir di sekolah, karena alasannya sedang tak ingin bertemu dengan ketiga sahabatnya yang membuat hatinya kecewa atas perilaku mereka pada kekasihnya.


Kepala Freya lenggak-lenggok mencari tahu siapa yang mengusik dirinya yang sedang melakukan hobinya. Karena tak terlihat, gadis itu berdecak sebal dan beranjak dari kursinya lalu sedikit mengintip di balkon kamarnya.


“Oh, ternyata motornya Reyhan. Dan Itu, Angga kok dipapah begitu samanya? Eh, kenapa aku peduli? Dia kan juga gak peduli sama aku, sahabat TK-nya sendiri. Huh!”


Freya dengan sebal, mulai berbalik badan ke belakang untuk mengacuhkan keadaan Angga yang sedang kurang baik-baik saja. Gadis itu kembali duduk di kursi meja belajarnya lalu kemudian tangan jari lentiknya balik mengetik-ketik buat menuangkan ide imajinasinya ke naskah agar menjadi sebuah alur cerita yang menarik.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Rumah Angga


Setelah mengantarkan Angga ke dalam kamarnya, kini Reyhan dan sahabatnya tengah berada di pinggir kasur. Pemuda humoris tersebut sedikit melirik Angga yang pandangannya menunduk ke bawah bersama mulut bungkamnya. Otak Reyhan terputar ke waktu kemarin dimana Gerald sang pacarnya Freya mengatakan bahwa Angga seorang pembunuh. Apakah benar?


Sebetulnya, Reyhan ingin mendengar semua latar belakang Angga yang aslinya tanpa ada rahasia-rahasia lagi yang dipendam oleh Angga. Namun, Reyhan merasa begitu ragu jika menyuruh sahabatnya bercerita tentang masa lalu kelamnya Angga sesungguhnya. Tetapi batin hatinya terus mendorong Reyhan untuk meminta Angga menceritakan masa lampau-nya.


Reyhan menarik napasnya dengan dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia menerima resikonya kalau dirinya dilontarkan kata sesuatu pada sahabatnya. “Angga?”


Angga mendongakkan kepalanya lalu menoleh ke arah Reyhan yang memanggilnya. “Ya?”


Reyhan memejamkan matanya sejenak untuk merilekskan pikirannya lalu membukanya kembali. “Apa lo mau membuka rahasia masa lampau lo yang sebenarnya? Gue ingin mendengar semuanya, dari semua perkataan Gerald, gue justru malah gak percaya kalau lo dulu ... seorang pembunuh.”


Reyhan mengangguk antusias. “Iya! Gue pengen denger semuanya yang terjadi di masa lalu elo! Bolehkah?”


Angga menutup kedua matanya dengan mengatupkan bibirnya seraya menganggukkan kepala. “Mungkin, ini adalah waktu yang tepat bagi gue menceritakannya ke elo ...”


Sungguh tak di sangka oleh Reyhan, rupanya selama ini dugaan lelaki friendly itu salah. Angga yang sudah lama memendam rahasianya kini akan membongkarnya. Kendati Angga terlihat sedang mempersiapkan diri untuk bercerita tentang masa lampau pahitnya yang mana peristiwa dirinya dikatakan seorang pembunuh karena diduga telah membunuh Zhendy.


Flashback On To The Past


Angga yang masih berumur 12 tahun tengah duduk di lantai kotor belakang sekolahnya. Dirinya meratapi nasib pada penderitaannya yang disiksa dalam SD Bakti Siswa yang ia juluki sebagai sekolah Api Neraka. Wajahnya nampak tertera pucat-nya ditambah seragam putihnya yang lusuh karena usai diberikan gebukan brutal dari seseorang yang satu kelas dengannya.


Hingga laki-laki berkulit putih dan memiliki postur tubuh yang tingginya 155 sentimeter itu mendengar suara derapan langkah kaki sepatu satu orang nang mengarah ke arahnya dari belakang samping ia termenung di sandaran tembok cat yang telah pudar beserta rapuh.


BUGH !!!


“AKH!!”


Angga terdorong ke samping hingga tubuhnya terbaring sementara satu tangannya memegang pinggangnya yang sudah ditendang oleh seseorang di sebelahnya. Dengan mendesis kesakitan, Angga mendongakkan kepalanya ke arah orang tersebut.


“Zhendy?!” Angga kemudian terkejut saat melihat Zhendy yang menggenggam sebuah senjata tajam ialah pisau di tangannya, membuat laki-laki itu memundurkan pantatnya usai bangun duduk. “Zhen, kenapa kamu bawa pisau?! Apa yang ingin kamu lakukan denganku lagi?!”


Zhendy tertawa iblis. “Hahahaha! Menurutmu? Harusnya kamu mati saja, daripada semakin memperburuk nama baik sekolah ini, dasar manusia sakit jiwa!!!”


Angga semakin memundurkan pantatnya dengan wajah ketakutan pada pisau itu kalau menghujam salah satu anggota tubuhnya yang membuat nyawanya melayang. “Tolong jangan bunuh aku! Aku nggak ada salah apa-apa dengan kalian semua!”


“Sudah kubilang jika kamu dan lainnya tidak suka dengan keberadaan ku di sini, jauhi sajalah! Tidak perlu sampai membunuhku, kan?!” ucap Angga dengan nada membentak.


“Menjauhi nggak cukup bagi kami, dan aku ingin kamu mati siang ini juga! Aku juga heran kenapa kepala sekolah bisa menerima siswa gak waras sepertimu! Kehadiranmu di SD Bakti Siswa membuat image Gerald anjlok, bahkan prestasi terbaiknya di sekolah ini hilang karena dirimu!!”


“Bukankah itu kesalahan sahabatmu sendiri yang suka mencari gara-gara orang?! Dia pantas mendapatkan karma seperti itu. Lalu dengan Gerald yang berubah seperti itu, kamu seenaknya nyalahin orang kayak aku!”


Zhendy tersenyum miring. “Sekarang kamu sudah berani, ya? Kamu lihat pisau tajam ini, jika aku menusuk pisau ini ke daerah alat vital di dalam tubuhmu, kamu akan cepat pindah ke alam lain.”


Zhendy kembali melangkah mendekati Angga yang masih terduduk di lantai, sedangkan Zhendy akan melancarkan aksi psikopatnya seperti di film-film untuk membunuh salah satu anggota kelas VI

__ADS_1


Angga menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan memohon untuk tak melakukan hal kriminal itu terhadapnya. Namun di situ Angga memasang indera pada Indigo-nya yang mana ia kini merasakan ada sesosok aura negatif di tepat belakangnya.


Angga dengan tubuh bergetar menoleh ke belakang. Matanya terbelalak kaget saat dirinya melihat ada sesosok pria berwajah menyeramkan dengan tinggi mencapai pohon layaknya hampir seperti hantu Slenderman. Tidak hanya Angga saja yang dapat melihat makhluk gaib tak kasat mata itu, tetapi juga dengan Zhendy yang sekarang detak jantungnya berdebar-debar menatap sosok mengerikan itu di belakang tubuhnya Angga.


“Saya akan menolong-mu,” kata hantu pria berjas hitam tersebut pada Angga dengan suara lehai yang membuat tubuh meremang.


Sosok itu tanpa melangkah melayang menembus tubuh Angga ke depan lalu mendekati Zhendy dengan wajah amarah besarnya. Laki-laki yang tadinya hendak menamatkan jiwa anak Indigo tersebut, berlari ketakutan menghindari hantu itu.


“Kamu tidak bisa lari dari saya!”


Arwah itu menjulurkan tangannya dengan panjang untuk menggapai kerah belakang seragamnya Zhendy lalu setelah berhasil ditangkap, hantu tersebut tarik kencang lalu dirinya lempar tubuh Zhendy ke tembok dinding rapuh tak layak dipandang itu.


DUAKH !!!


Sahabatnya Gerald terjatuh di lantai dengan sangat keras sementara pisaunya terlepas dari genggaman tangan kanannya. Angga bangkit bangun dan berniat untuk menghentikan arwah tersebut yang telah meracau emosi pada Zhendy.


CRATT !


Angga terlambat, pisau yang dinaikkan hantu itu ke udara dan diturunkan cepat ke arah Zhendy menjadi menusuk di kening sentral laki-laki tersebut hingga darah yang di dalamnya muncrat keluar mengenai wajah tampan Angga begitupun seragam putih lusuhnya. Bola mata anak Indigo itu mencuat sempurna karena terkejut bukan main melihat Zhendy yang sekarang sekarat.


Angga dengan wajah murkanya menatap arwah pria itu di jarak jauh sebelahnya. Hantu itu tersebut tak menyerang manusia laki-laki pemilik indera keenam, melainkan menundukkan kepalanya lalu sosok itu mundur dengan mengambang kemudian menghilang secara perlahan.


Angga berlari menghampiri Zhendy dengan berjongkok. “Zhendy!!”


Tak ada jawaban dari Zhendy bahkan pergerakan tubuhnya juga sudah tidak ada. Bersama tangan gemetaran, Angga mulai mengecek pernapasan hidung Zhendy. Angga menelan ludahnya disaat laki-laki yang ingin melakukan tindakan bahaya itu terhadap Angga telah tak bernyawa lagi. Di belakang sekolah tersebut, Angga sangat bingung harus berbuat apa untuk meminta bantuan.


Sebelum Angga pergi meninggalkan Zhendy untuk meminta pertolongan buat jasad sahabat Zhendy untuk digotong ke rumah sakit, laki-laki berusia 12 tahun tersebut dengan nyali beraninya, memegang gagang pisau yang berwarna hitam tersebut untuk mencabut paksa senjata tajam itu dari kening Zhendy.


CAP !


Bertepatan Angga mencabut pisau tersebut yang telah berlumuran darah, datanglah Gerald, Rain, dan Teivel beserta beberapa petugas kebersihan sekolah. Gerald yang menenteng tas selempangnya melihat Angga yang menggenggam pisau terlebihnya melihat sahabatnya yang terkapar lemah di lantai kotor tersebut.


“ZHEEEEEENN!!!” teriak Gerald kencang seraya berlari menghampiri Zhendy yang kening tengahnya penuh darah hingga membasahi wajahnya, sementara keningnya itu berlubang karena akibat tusukan pisau yang tengah di genggam oleh Angga.


Saat tahu bahwa sahabatnya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya, Gerald dengan tangisan derasnya memeluk Zhendy erat kemudian menoleh menatap Angga bersama mata mendelik. “Anak Iblis!!! Ini yang kamu lakukan agar hidupmu tentram?! IYA??!!”


“Rald!! Bukan aku yang membunuh Zhendy! Kamu salah paham!!!”


“Salah paham??!! Jelas-jelas di depan mata kami, kamu yang membunuh Zhendy sama pisau itu!! Mau mengelak apa lagi?!” tukas Teivel.


“Tapi bukan aku yang melakukannya!!! Ada sosok lain yang sudah membunuh Zhendy, bukan aku pelakunya!!”


“Pak, mending Angga dilaporkan ke kepala sekolah saja! Agar kepala sekolah lanjut memberi tahu ke pihak sekolah tentang kriminal Angga yang membunuh Zhendy!” tindak suruh Rain kepada salah satu petugas kebersihan.


“Ternyata selain tidak waras di sekolah ini, kamu diam-diam juga seorang pembunuh!! Saya akan ikut melaporkan tindakan aksimu tadi kepada beliau!!”


“Pak Danu, tolong percaya pada saya! Saya tidak melakukan tindakan kriminal itu terhadap Zhendy, tetapi hantu itu yang membunuhnya! Saya berani bersumpah!!”


“Kamu itu anaknya siapa, sih? Dukun, ya? Mana ada hantu? Hantu itu mitos, Angga!! Tidak ada di dunia fakta!!”


Gerald membaringkan jasad Zhendy lalu mendorong tubuh Angga kuat hingga kepala Angga membentur batu yang ada di tanah. Sedangkan kedua petugas kebersihan yang andil menghina laki-laki Indigo itu berlari untuk mendatangi sang kepala sekolah dan memberi tahu bahwa ada salah satu siswa yang telah berani melakukan tindakan kriminal di belakang sekolah hingga yang dibunuhnya sampai tewas. Padahal mereka semua hanya salah paham besar terhadap Angga tetapi mau bagaimana lagi? Hanya ada Angga di situ bersama Zhendy. Hal itu Angga yang menjadi dituduhkan.


Flashback Off The Past


Bersama air mata yang keluar dari pelupuk kelopak mata, Angga melanjutkan cerita itu pada Reyhan dengan mulut bergetar, “Setelah Zhendy dikuburkan secara layak, mulai dari situ gue sering dikatakan seorang pembunuh oleh semua warga sekolah Bakti Siswa.”


“Jujur saja, gue sebetulnya udah nggak tahan bersekolah di sana karena tuduhan-tuduhan itu. Tapi gue harus tetap bertahan hingga akhir kelulusan.”


“Itu terserah lo saja mau percaya atau tidak, seperti mereka. Gue udah menceritakan ke elo dengan jujur tanpa kebohongan.”


Reyhan yang ikut mengeluarkan air matanya menggelengkan kepalanya beberapa kali, sebenarnya pada saat Angga menceritakan masa lalunya, Reyhan membaca pikiran sahabatnya. Dan apa yang ia baca, Angga menceritakannya dengan sebuah kejujuran dan apa adanya.


“Enggak, Angga. Enggak. Gue tetap percaya sama lo, lo menceritakannya bukan ngarang tapi jujur. Sahabat gue ini bukan pembunuh, lo orang baik yang selalu diberikan perundingan tidak senonoh dari mereka semua. Gue percaya banget sama elo, Anggara.”


Angga mengeluarkan suara isakan tangis lirihnya dengan kepala menunduk bersama matanya ia pejamkan meski air mata miliknya tersebut yang jarang keluar, semakin mengalir membasahi pipinya. Reyhan yang tidak tega melihat kesedihan dan kepedihan sahabatnya yang Angga rasakan serta alami, mulai memeluk sang sahabat untuk memberikan ketenangan di kamarnya. Reyhan sesekali mengusap-usap punggung lemas Angga.


Meskipun bukan Reyhan yang mengalami hal kisah kejadian itu, akan namun Reyhan bisa merasakan betapa hebatnya penderitaan Angga di masa kecilnya dahulu. Tak hentinya Reyhan mengusap-usap punggung sahabatnya untuk memberikan nirwana jiwa, kendati air mata beningnya masih mengalir.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2