Indigo

Indigo
Chapter 92 | Stop Looking Away For a While


__ADS_3

Para sahabat lelaki Indigo itu melongo lebar dengan mata yang terbelalak sempurna. Seperti Freya yang sangat kaget pada sahabat kecilnya nang tumbang terbaring di atas sofanya bahkan matanya terpejam, membuat kedua mata gadis lugu tersebut mencuat tajam. Sementara kertas yang tengah dipegang oleh Angga terjatuh ke lantai saat pegangan tangan pemuda itu mulai melemas.


Freya yang ada di paling kanan sendiri, bergegas berlari menghampiri Angga dan langsung telapak tangannya menepuk-nepuk pipi sahabat lelakinya dengan memanggilnya bersama nada panik. “Ngga?! Ngga?! Kamu kenapa, Ngga!??”


Tak ada respon apapun bahkan matanya juga tak segera membuka, di sisi lain pula seluruh wajah Angga termasuk bibirnya berubah menjadi pucat secara tiba-tiba yang membuat ketiga sahabatnya kebingungan sekali. Pada akhirnya setelah satu pemuda dan satu gadis yang sering melakukan perang mulut terdiam melongo, mereka langsung ikut berpindah posisi untuk membangunkan Angga dari pandangan yang telah gelap dan sama sekali tidak ada pergerakan dari tubuhnya.


“Bro! Parah, lo kenapa lagi, sih?! Jangan buat kami takut balik dong, woy!” panik Reyhan seraya mengguncang-guncang badan Angga.


Keluarlah pikiran negatif Jova usai menatap kertas surat Emily yang tergeletak di lantai bawah kursi sofa. “Guys, jangan-jangan arwah cewek toilet perempuan di sekolah kita itu ... mengangkat nyawanya Angga?!”


Freya menoleh gesit Jova dengan menggertakkan giginya bersama mata mendelik tajamnya. “Kamu bicara apa sih, Va?! Angga tuh cuman pingsan!”


“Tau tuh! Orang dia masih bernafas!” tukas Reyhan juga mendelik tajam pada sang sahabat gadis tomboy.


“Memperkeruh suasana aja!” damprat nada tinggi antara Freya dan Reyhan untuk Jova karena telah over thinking kepada Angga yang saat ini memang kondisinya sedang tidak sadarkan diri lepau sekian kalinya.


Jova menatap kedua sahabatnya bergiliran kemudian bahu-bahunya merosot ke bawah dengan bibir bawah yang ia majukan. “Huhu, sori.”


Freya tidak ada berhenti-hentinya menggoyang-goyangkan lengan tangan Angga untuk menyadarkan kembali dari pingsannya setelah sahabat kecilnya berusaha memutar waktu bersama penglihatan mata batinnya ke insiden yang terjadi pada 5 bulan lalu. Namun kalau keadaannya sudah terlihat lemah seperti ini, Angga sulit untuk disadarkan.


“Duh Rey, kita bertiga harus gimana?! Mana Angga nggak sadar-sadar, lagi!”


“Calm down, lebih baik yang kita lakuin sekarang buat Angga posisinya terlentang dulu aja. Ya?”


Freya maupun Jova mengangguk bersama dan kini Reyhan mengangkat kepala serta badan Angga perlahan untuk ia ubah posisinya menjadi terlentang dengan tetap di kursi sofa panjang. Freya membantu Reyhan mengangkat kedua kaki Angga, sementara Jova beranjak dari duduknya dan membaringkan bantal sofa di pojok kanan kursi empuk tersebut.


Reyhan meletakkan kepala sahabatnya melalui dengan hati-hati di atas bantal sofa sesudah Jova membaringkan bantal nyaman itu. Di sisi lain, Freya terlihat sedang melepaskan sepasang sepatu hitam bertali milik Angga yang pemuda tersebut kenakan. Setelah itu, Freya bangkit dari jongkok-nya lalu duduk di samping telapak kaki Angga bersama wajah gundahnya.


Lantas membenarkan posisi baring Angga yang telah menjadi terlentang, Reyhan kemudian jongkok di depan sahabatnya yang terbaring lemah. Lelaki friendly tersebut menghembuskan napasnya karena lagi-lagi ia harus melihat Angga yang kondisinya kembali seperti ini. Sejujurnya, Reyhan ingin sekali sang sahabat bisa sehat macam dulu. Kalau bukan karena peristiwa membahayakan itu yang membuat Angga Koma selama 2 bulan, ia tak mungkin bisa mengalami sakit seperti ini. Bahkan untuk menerawang jauh, Angga malah justru gagal.


Jova berinisiatif memungut kertas surat berwarna coklat Emily di lantai, lalu kembali ke tempat dimana ia jongkok di sebelah Reyhan yang sekarang lelaki itu tengah diam tak berbicara apapun. “Rey, apa ini gara-gara Angga menerawang soal surat Emily? Aku mengira sahabat kita ini bakal berhasil total, tapi nyatanya gagal apalagi Angga jadi korban kecil.”


Reyhan menolehkan kepalanya ke kertas surat tersebut yang dipegang Jova. “Bisa jadi karena itu penyebabnya. Angga gunainnya pakai penglihatan, artinya berarti mampu menuju ke saraf otaknya dan memengaruhi kepalanya yang cidera. Kalau bisa dibilang, cideranya kambuh.”


“Angga pasti ngerasain dong kalau dianya kambuh. Kenapa gak gegas minum obatnya?” tanya Jova setelah menghela napas.


“Aku yakin kejadian itu mendadak. Jadi, pas Angga mulai memasuki dimensi masa lampau, cedera kepalanya langsung balik kambuh. Berarti ini ceritanya Angga udah gak mampu lagi buat menerawang sejauh itu apalagi insiden ngeri yang terjadi sama Emily pada ...” Reyhan nampak tengah menghitung angka bulan pada kasus kematian siswi tersebut. “Lima bulan yang lalu.”


“Huh, gimana kita ngomongnya nanti sama om Agra dan tante Andrana? Mesti orangtuanya Angga bakal interogasi kita dengan jumlah banyak mengenai kondisi Angga ini. Bahkan pasti mereka lagi sedang perjalanan menuju ke komplek dari acara kondangan rumah teman karibnya tante Andrana,” ujar Freya lesu.


“Sudahlah Frey, pasrah saja kalau nanti kita kena marah sama orangtuanya Angga. Eh tapi nggak mungkin juga kali, ya? Ini kan bukan kesalahan kita bertiga ...” respon Jova tak kalah lesu.


Reyhan menengadah satu telapak tangannya ke arah Jova. “Va, sini coba ku pinjem kertasnya.”


Tanpa bertanya, Jova pun menyerahkan kertas surat Emily tersebut yang banyak sekali tulisan tangan sebagai kenangan terakhir untuk Kyra. Di sebelah Angga terbaring lemah bersama mata yang terpejam tenang, Reyhan memulai mencoba melakukan aksi penglihatan seperti sahabat Indigo-nya. Kebetulan pasca Koma, dirinya telah sanggup melihat makhluk tak kasat mata antara positif maupun negatif, bahkan pemuda ramah itu mampu merasakan keberadaan aura.


Reyhan menggenggam kertas itu dengan kedua tangan, dan matanya mulai ia tutup perlahan buat ia terawang tentang persoalan surat tersebut. 5 menit Reyhan menanti sebuah bayangan penglihatan muncul, tetapi hasilnya tak ada apa-apa melainkan semuanya hitam gelap. Reyhan pun membuka matanya kembali dengan raut muka kecewa karena ia tak bisa seperti Angga yang keadaannya belum sadarkan diri masih kondisi nang sama.


“Anjir, gue nggak bisa lihat apa-apa untuk melihat masa silam yang terjadi pada lima bulan lalu.”


Freya yang tengah sedikit memijat kaki Angga agar peredaran darahnya lancar, menatap Reyhan. “Sudah, Rey. Kalau memang nggak mampu, gak perlu kamu paksain.”


Reyhan beralih menatap wajah pucat Angga dengan tatapan nanar. “Niatnya aku mau bantuin Angga buat menerawang kejadian Emily sebelum dia meninggal karena bunuh diri. Yah, ternyata aku gak sehebat kelebihannya Angga yang udah melekat di jiwanya.”


Jova yang mendengar celoteh nada lunglai Reyhan langsung mengusap-usap lembut punggung sahabatnya untuk banyak bersabar. Hingga dari luar terdengar jelas gerbang rumah Angga dibuka lebar oleh seseorang kemudian setelah itu terdengar pula suara mesin mobil berjalan ke garasi.


“Gawat, pasti itu om Agra sama tante Andrana! Kita nanti bakal ngomong apaan, nih?!” panik Jova diliputi perasaan hati takut.


“Jangan panik, Va. Lebih baik daripada mempertambah masalah, kita bicara seadanya saja. Kalau kita ngomong cerita ngarang, pasti mama dan ayahnya Angga tau karena mereka juga mempunyai suatu kelebihan seperti yang sahabat kita punya,” saran Freya.


Cklek !


“Assalamualaikum ...”


Klap !

__ADS_1


“W-waalaikumsalam ... Tante,” jawab salam ketiga remaja tersebut kompak dengan detak jantung berdegup cepat.


Andrana menoleh ke arah ketiga sahabatnya dengan tersenyum, tapi alangkah terkejutnya wanita paruh baya yang membawa tas kecilnya tersebut bola matanya langsung kontak cepat ke anak semata wayangnya yang nampak terlentang lemah di kursi sofa dengan wajah pucat-nya.


“Lho, Angga?! Kamu kenapa, Nak?!” Dengan reflek spontan Andrana menjatuhkan tas kecilnya di lantai begitu saja kemudian berlari mendatangi Angga bersama ekspresi super paniknya.


Mata sang ibu terbelalak lebar saat berada di dekat anaknya. Andrana menangkup kedua pipi Angga dengan memanggil-manggilnya melalui nada getarnya. Nihil, anak putranya tidak merespon Andrana sama sekali bahkan matanya masih tertutup. “Sayang, kamu kenapa sih, Nak?! Mukamu pucat sekali dibanding sebelumnya!”


Dengan raut khawatirnya, wanita paruh baya itu beralih menoleh menatap Reyhan tanpa melepaskan kedua telapak tangannya dari pipi-pipinya Angga. “Nak Reyhan, apa yang terjadi dengan Angga?! Ada apa sebenarnya tadi?! Ayo jawab Tante, Nak!”


Reyhan yang tengah jongkok di sebelah Andrana mulai meneguk ludahnya dan akan berbicara dengan sejujurnya sesuai kejadian yang Angga alami. “T-tante tolong jangan terlalu panik begitu, ya? Biarin Reyhan yang bakal jelasin semuanya. Jadi, tadi Angga ngelakuin aksi terawangannya untuk melihat masa silam pada lima bulan yang lalu. Angga ada rencana untuk menyelesaikan salah satu masalah yang ada di sekolah, Tan. Tapi usaha yang Angga lakuin berubah kacau, dan pada ujungnya ... cedera kepala Angga kambuh kembali, Tante.”


“Itu faktor dari Angga yang mencoba melakukan penglihatan melalui mata batinnya,” sambung Reyhan menjelaskan.


“MasyaAllah?! Ck, jadi begitu?!” Andrana melepaskan kedua telapak tangannya dari pipi sang anak, lalu salah satu tangan jarinya memijit pelipisnya. “Aduh, seharusnya Angga nggak boleh melakukan penglihatan sembarangan seperti itu, cederanya belum sepenuhnya pulih. Astaghfirullah Ngga, kenapa kamu berbuat yang jelas terlarang itu, Nak?”


“Terlarang gimana maksud Tante??“ tanya Freya yang sedari tadi diam menyimak Reyhan memberikan penjelasan jujur pada Andrana.


Andrana menyingkirkan jari tangannya dari pelipisnya lalu beralih lagi menatap sahabat kecil anaknya yang sangat butuh jawaban darinya. Namun baru saja akan menanggapinya, Agra membuka pintu rumah usai berada di dalam mobil. Sang ayah juga ikut kaget melihat putra yang ia sayangi terbaring lemah di atas kursi sofa.


“Ayah?!”


“Nah! Sudah betul, kan firasat Ayah! Pasti ada sesuatu terjadi sama Angga!” Agra menutup pintu lalu melangkah cepat memarani mereka berlima.


“Cederanya Angga kambuh lagi, Yah. Anak kita sudah melakukan aktivitas terlarang yang sudah kita berdua sepakati untuk mengingat Angga menghindar sementara dari terawangan kekuatan Indigo-nya.”


Agra menghela napasnya dengan menepuk keningnya agak gusar. “Angga melakukan suatu penglihatan yang ingin Angga deteksi, kan?! Sudah Om duga dan insting Om nggak salah!”


“Jangan marahin kami bertiga ya, Om? Kami gak ada salah apa-apa sama Angga sampai anak Om bisa seperti ini. Kalau aktivitas atau perbuatan itu dilarang, pasti sudah dari tadi kami mencegah Angga, kok.” Jova memohon.


“Sudahlah ... itu bukan kesalahan kalian bertiga. Sebenarnya Om dan tante ingin memberitahu tentang cederanya Angga pada kalian. Tapi waktu sering nggak tepat, mungkin hari ini adalah waktu yang cocok untuk Om ceritakan. Tetapi kalian harus siap dengar dan hati, ya? Karena ini soal luka parahnya Angga waktu di rumah sakit Kusuma kota Bogor.”


Flashback On


“Ibu, Bapak ada yang ingin saya sampaikan mengenai kondisi cedera kepalanya Anggara. Setelah tadi siang saya melihat hasil tes dari CT scan kepala pasien, rupanya sedikit mengkhawatirkan dan perlu berhati-hati. Tempurung otak milik Anggara nyaris mengalami keretakan.”


DEG !


Wajah dokter Ello menjadi begitu lara. “Benturan hebat kepala yang secara berulang-ulang kali, membuat sedikit ada permasalahan di dalam kepala Anggara hingga mendapatkan cedera di sana. Alhamdulillah pasien tidak sampai mengalami pendarahan di kepalanya, kalau itu sampai terjadi ... hasilnya akan menjadi sangat fatal, Pak, Bu. Dan itu bakal semakin memperburuk kondisi Anggara bahkan ancaman jiwa.”


Kedua orang tua Angga saling meneteskan air matanya karena begitu syok mendengar ucapan dokter Ello. Rupanya peristiwa itu memang jelas sangatlah bahaya untuk anaknya yang sampai saat ini masih mengalami Komanya nang telah menginjak pertengahan bulan.


Flashback Off


Tubuh ketiga sahabat Angga menegang bersama mata tanpa kedip saat Agra menceritakannya semua. Sedangkan Andrana hanya diam meski air linangan-nya turun membasahi pipinya sementara kedua telapak tangannya saling menggenggam telapak tangan kiri anak lelakinya.


“Jadi ... itu sebabnya kenapa Tante Andrana bilang kegiatan Angga untuk menerawang itu aktivitas terlarang? Reyhan yang denger cerita om Agra, takut bener lho, Tan.”


“Kami nggak nyangka kalau kondisi Angga bisa separah daripada yang kami bertiga duga, Tante, Om. Kalau begini caranya, setiap Angga ingin menerawang jauh kami usahakan buat cegah si Angga!” ucap Jova.


“Sayang sekali, Nak Jova.” Andrana merespon Jova seraya salah satu tangannya beralih lepas dari telapak kiri Angga dan mengulur tangannya untuk mengelus-elus kepala pemuda tampan itu. “Angga orangnya begitu keras kepala, kadang kalau diluar anak Tante dan om sulit untuk diatur. Tetapi Angga memang suka membantu sebaliknya lagi Angga tidak suka dibantu.”


“Kalau dilihat keadaan Angga sekarang, Tante lumayan lega karena Angga hanya pingsan biasa. Nantinya juga pasti akan sadar, kok. Tante tahu sekali hasil penglihatannya yang gagal mempengaruhi cederanya yang sama sekali belum sembuh. Luka juga sebetulnya sudah tertutup, tetapi kalau kejadian peristiwa itu terulang kembali untuk kesekian kalinya, luka kepala Angga yang tertutup akan kembali terbuka dan hal itu membuat Angga menjadi dua antara.”


“Tante nggak ingin meneruskan, karena kalian bertiga sudah pastinya tahu.”


Reyhan, Freya, dan Jova mengangguk tak bersemangat dengan muka amat sendunya. Andrana mengelap air matanya sedangkan suaminya nampak diam saja di belakang istrinya. Pria paruh baya tersebut dalam lubuk hatinya sangat tak menginginkan peristiwa yang menimpa Angga terputar kembali.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


17.00 PM


Nampak Jova dan Reyhan telah pergi pulang ke rumahnya masing-masing, namun sebelum mereka berdua meninggalkan komplek Permata, Reyhan datang ke rumahnya Kyra untuk mengembalikan surat kertas dari Almarhumah sahabat gadis berumur 16 tahun tersebut.


Di dalam rumah keluarga Angga, Freya masih berada di dekat sahabat kecilnya yang masih saja belum kunjung siuman. Namun meskipun begitu, perempuan cantik polos itu tetap setia menunggu kesadaran lelaki tampan tersebut. Sampai hingga Andrana yang selesai menyiapkan makan malam untuk nanti, menghampiri Freya yang pandangannya tak terlepas dari wajah tenang Angga.

__ADS_1


“Nak Freya, ini sudah menjelang Maghrib, lho. Kamu nggak mau pulang, Sayang?” tanya lembut Andrana.


“Mau nunggu Angga bangun dulu, baru nanti Freya pulang, Tante. Lagian rumahnya Freya hadap-hadapan kok sama rumah Angga.”


Andrana mengukir senyuman manisnya seraya tangannya membelai-belai halus pucak kepala Freya. “Tante, jujur saja Freya syok denger ceritanya om Agra soal tentang cedera kepalanya Angga. Dan yang paling Freya takuti perkataannya dokter Ello waktu di ruangan beliau kalau Angga ditimpa kejadian itu lagi dengan dahsyat ... hiks!”


Ingin melanjutkan ucapan yang ia untaikan pada Andrana, gadis itu sudah terisak duluan bersama air bening dari bawah kelopak matanya yang turun lancar untuk membasahi pipi kulit putih halus bersihnya, namun Freya bergegas menyekanya agar dirinya tak terlalu membuang air matanya dan membuat kedua matanya sembab.


“Cup-cup, jangan nangis, Sayang. Nanti cantiknya bisa hilang loh,” kata Andrana sembari mendekap tubuh mungil Freya.


“Engh ...”


Andrana dan Freya bersamaan menolehkan kepalanya pada sumber suara yang mengeluarkan lenguhan. Sang ibu Angga melepaskan pelukannya dari tubuh Freya, sementara gadis lugu tersebut langsung mengambil tangan kiri Angga untuk ia tarik ke atas bersama muka sumringah bahagianya. “Angga! Kamu udah sadar, iya Ngga?!”


Gadis berambut hitam legam halus dan lurus itu melihat bola mata sahabat lelakinya gerak-gerak di dalam kelopak matanya yang masih tertutup. Sampai pada akhirnya, mata Angga mengerjap beberapa kali lalu membukanya dengan lemah. Entah siapa yang ada di atasnya bahkan suaranya terdengar samar-samar di telinga pemuda tersebut yang oksigennya telah menaik.


“Angga, kamu sudah bisa dengar suaraku?” tanya Freya dengan suara nada lengkingnya. Lama-lama pun Angga mulai familiar pada suara khas tersebut bahkan aroma parfum harum yang mampu lelaki itu kenali siapa orang nang menatapnya ia dari atas.


“Freya ...”


Freya yang ditebak oleh Angga karena pandangannya masih blur, gadis polos tersebut mengangguk kepala dengan penuh semangat apalagi senyuman manisnya kembali tertancap di muka cantik jelitanya. Pada menit setelahnya, Angga sudah bisa melihat jelas siapa yang ada di sebelahnya saat ini. Ialah Andrana dan sahabat kecilnya nang setia menunggu ia kembali bangun dari ketidaksadaran dirinya.


“Aku seneng banget, kamu akhirnya sadar juga, Ngga setelah aku di sini menunggu kamu bangun selama dua jam. Ehm, gimana sama kepalamu? Masih sakit, gak? Atau malah pusing??”


Angga cukup menggeleng dengan senyuman tak berdayanya. Setelah itu, Freya perlahan membangkitkan Angga dari baringnya di kursi sofa menjadi posisi duduk. Lantas, Freya menegakkan bantal sofa empuk tersebut di pegangan kursi sofa bagian pojok lalu gadis manis itu menyuruh Angga untuk bersandaran di belakang bantal.


“Sebentar ya, Nak. Mama buatkan teh hangat dulu untukmu dan juga sahabat kecilmu,” tutur lemah lembut Andrana kemudian meninggalkan putranya yang baru saja sadar dari pingsannya dan juga Freya yang sudah menyandarkan punggung Angga.


Dari situlah muka Angga langsung menjadi linglung. Dirinya tak bisa mengingat apa yang telah terjadi dengannya apalagi terlebihnya itu, dari luar jendela hari menjadi gelap. “Yang lain kemana?”


“Sudah pada pulang, Ngga. Oh iya untuk surat kertasnya Emily itu, sudah dibalikin Reyhan ke rumahnya Kyra.” Freya kemudian menatap Angga dalam bersama muka sedihnya. “Buat sementara waktu, kamu jangan main penglihatan jauh dulu, ya? Bahaya juga untuk kesehatanmu, Ngga.”


Angga menanggapi Freya dengan menghela napas kemudian mengangguk mengerti dan menuruti ucapan sahabat kecilnya. Tetapi ada sesuatu yang menjadi pusat perhatian Angga. “Kamu, habis nangis, ya?”


“Hah?” Freya menyentuh mukanya. “Enggak, kok. Aku gak habis nangis.”


Angga nyengir. “Jangan bohongin aku, sudah kelihatan dari dua matamu. Kenapa nangis? Aku udah baik-baik aja, kok.”


Angga mengubah bibirnya menjadi senyum tipis meski masih tertera warna pucat bibir miliknya. “Aku tau kenapa kamu nangis, kamu dan yang lainnya tadi diceritakan sama ayahku soal cedera yang sampai sekarang aku alami, ya kan?”


“Darimana kamu tau semua? Bukannya tadi kamu masih pingsan??”


“Aku baca pikiranmu juga hatimu. Ya pastinya aku tau, dong.”


“Syok banget ya pas denger ceritanya beliau?” tambah Angga.


“Terus! Terus aja baca pikiranku sama hatiku! Indigo di lawan, mana bisa?!”


Mata Angga berkedip. “Kok jadi sewot? Emang begitu, kan kenyataannya?”


“Iya! Oh hm, besok kamu lebih baik istirahat aja ya di rumah? Jangan berangkat sekolah dulu sampai kamu benar-benar sembuh. Kondisi kamu kan lagi lemah, aku nggak mau kamu makin sakit di sekolah besok.”


Angga hanya diam tak menggubris ucapan Freya itu, tetapi di dalam hatinya ia mengiyakan gadis sahabat kecilnya. Bahkan rasa perhatiannya padanya begitu mencolok sekali. “Kamu terlalu mengkhawatirkan aku.”


Freya menipiskan bibirnya. “Aku hanya gak mau kamu kenapa-napa lagi, Angga. Lebih baik daripada terjadi sesuatu pada dirimu, mending besok kamu absen sekolah dulu saja, sampe kesehatanmu bener-bener pulih. Aku nggak suka kalau kamu memaksakan diri lho, Ngga. Apalagi kamu itu cowok keras kepala.”


Angga menaikkan satu alisnya. “Iya, kah? Aku juga nggak suka kalau kamu nangis. Dalam bentuk apapun. Perempuan cantik manis kayak kamu gak pantas untuk menangis.”


Freya melongo tak percaya pada ungkapan sahabat kecilnya yang dari cara bicaranya sudah sangat berbeda dibanding biasanya. ‘Ya ampun, ini sahabatku Anggara Vincent Kavindra, bukan sih?’


“Bukan Frey, aku bukan sahabatmu. Tapi jelmaan setan.”


Freya tersentak kaget lalu dengan kesal, memukul tangan kiri Angga agak kencang. Angga yang diberikan serangan kecil itu baginya, hanya terkekeh geli hingga menggelengkan kepalanya. Sementara Andrana dan Agra yang mendengarnya dari ruang dapur sampai tertawa pada jawaban konyol anak semata wayangnya. Mengamati muka Freya yang merenggut, Angga dengan lekas menepuk-nepuk ujung kepala sahabat kecil gadis lugunya.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2