
Bisingnya para kendaraan yang berlalu lalang membelah jalan aspal kota apalagi di pagi terik hari Sabtu ini. Seseorang gadis cantik yang tak lain adalah Freya dan Jova, tengah duduk di halte bis depan gang komplek Permata yang di sebrang jalan.
Freya mengayun-ayunkan kedua kakinya yang bersepatu warna putih polos. Sedangkan kalau Jova lagi merapikan rambutnya yang ia kuncir satu, dilanjutkan setelah itu Jova memakai topi ungu violet kesayangannya.
Freya melirik Jova dalam keadaan mulut diam tak berbicara, melihat sahabat tomboy-nya itu mengambil gaya pose wajah untuk selfie di dalam kamera handphone dirinya tersebut. Jova mengangkat tangan kanan jari simbol peace dengan mulut yang memanyun serta kepala yang ia miringkan sedikit.
Ckrik !
Freya menepuk jidatnya yang mendengar suara Jova yang memekik seru bersama raut wajah gembiranya. “Cakep bener gue hari ini! Oke, saatnya posting di Instagram!”
Freya menghela napasnya sebentar sebelum mengomentari sahabatnya. “Va, kamu itu setiap hari posting-posting. Emangnya kamu gak bosen kegiatan kamu setiap hari yang di sosmed?”
“Oh, tentu aja ... gak! Coba deh lihat nih.” Jova memperlihatkan jumlah pengikut di akunnya tersebut pada Freya. “Banyak banget, kan! Followers aku makin hari makin bertambah. Mungkin karena Jovata Zea Felcia ini terlalu cantik sampai banyak yang ngikutin. Secantik bak seorang dewi kayangan!”
“Haduh, mulai lagi deh kepedean-nya kumat!” Freya menatap arah depan yaitu gang komplek rumahnya ia dan juga sahabat lelaki TK-nya. Gadis itu berdeham lalu menanyai Jova tanpa menoleh ke arah gadis tomboy itu yang asyik memposting hasil selfie-nya.
“Jova, Angga kok belum dateng, ya? Mana mataharinya udah naik, lagi.”
“Halah, paling itu anak sibuk ngobrol sama Takeshi kucing Anggora item kesayangannya. Angga kan Indigo, barangkali ngerti bahasa meong-meongnya.”
“Ih, dasar aneh, kamu! Ehm, apa Angga nggak jadi pergi sama kita berdua, kali ya??”
“Nah, kan jadi mumet sendiri! Tadi ngapain gak sekalian bareng si Angga? Kan aku bisa nunggu kalian di sini,” protes Jova yang berkutat membalas ruang komentar manis dari salah satu pengikut akunnya.
Freya mendengus dengan memonyongkan bibirnya. “Tadi tuh pengennya bareng biar sekalian, tapi kata Angga suruh aku duluan ke halte.”
“Lagi ngapain cowok itu pas nyuruh kamu pergi ke halte duluan baru dia?” Freya langsung menjawab pertanyaan Jova. “Nyuci motor.”
“Mak Jang, buset! Rajin asli bener dah itu cowok sahabat cilik mu! Aku boro-boro cuci motor, orang motor Honda ku masih kinclong kayak muka pemiliknya yang super cantik ini, heheheheh!”
Freya melongo tak menduga atas ucapan Jova yang cepat seperti kereta Express, gadis itu menolehkan kepalanya ke sahabat tomboy-nya yang bola mata coklat terangnya sibuk fokus kepada semua komentar para pengikut akun Instagram-nya. “Jova, kamu sadar nggak? Emangnya mukamu sama kayak motor Vario kamu?! Unik banget, hahahaha!!”
Jova terperanjat kaget karena baru menyadari perkataannya tadi usai di buras-kan pada Freya yang sekarang tengah asyik menertawakannya. “Eh- gak gitu maksud aku tuh!”
Jova yang selesai membalas komentar kini mulai membuka kamera editor efek. Hanya mengatasi kebosanannya saja sambil memandang jalan padat melalui kamera Instagram ponsel Androidnya. Sampai tiba-tiba ada seorang pemuda tampan yang tengah melepas helmnya usai sampai di tujuannya. Dan kedua gadis itu tak tahu kalau Angga sedang berjalan menghampiri dua sahabat perempuannya.
Jova mengalihkan kameranya ke samping kiri, dan tepatlah itu tatapan kameranya bertemu sosok Angga yang melangkah mendekatinya. Jova seketika dengan tingkah jahilnya mencari efek kameranya yang bergambar dua daun telinga anjing beserta hidungnya pula. Jova langsung menekan tombol potret tanpa ada suara 'ckrik' dikarenakan pintarnya gadis itu HP-nya di silent agar Angga tak tak dengar kalau dirinya dipotret sahabatnya yang tingkah tersebut 99 persen sepadan dengan Reyhan.
Angga rada merapatkan bibir tipisnya dengan raut wajah tahu apa yang dilakukan Jova barusan padanya, dari raut muka sahabatnya sudah Angga dapat tebak. Lelaki berkulit putih tersebut mempercepat langkah kakinya sebelum Jova memposting fotonya di akun sosial medianya.
Satu tangan Angga berhasil merebut ponsel Jova yang membuat Jova langsung saja tersentak kaget pada Angga yang tiba-tiba tanpa izin merebut ponsel Androidnya itu. Jova dengan wajah kesal segera beranjak dari kursi halte bis dan dari belakang bersama cepatnya meraih tangan sahabat lelakinya yang handphone miliknya di pegang oleh Angga.
“Huaa HP gue di maling sama copet! Jangan dihapus fotonyaaaa!!”
“Gak mau!” Dengan tegas suara, Angga mengangkat kedua tangannya setinggi-tingginya agar Jova tak sanggup menggapai tangan sahabatnya yang panjang tersebut, apalagi tinggi badannya Jova yang hanya 164 sentimeter.
Cerdiknya Angga, lelaki itu langsung cepat kembali ke menu utama dan memencet galeri HP Jova untuk menghapus permanen foto tersebut agar foto hasil kamera editor itu menghilang selamanya dan tidak bisa dipulihkan.
“Anggaaaaa!!” rengek Jova berusaha terus menggapai ponselnya yang masih ada di tangan lelaki berparas wajah tampan dan mempunyai dua bola mata yang sama-sama berwarna abu-abu tulen tersebut.
Freya yang tetap duduk manis hanya cekikan dengan mulut ia tutupi bersama kedua telapak tangannya, melihat tingkah Jova yang merengek pada Angga nang Angga sendiri tak memperdulikan suara nada rengekan Jova.
“Nih, HP-nya.”
Jova langsung merebut kasar ponselnya dari tangan Angga. Gadis tersebut menatap nanar layar ponselnya yang foto keisengannya telah hilang gara-gara sahabatnya. Dengan muka sebalnya, satu tangannya Jova tarik ke belakang dan ia layangkan ke depan untuk memukul Angga, namun naasnya tangan kulit halus Jova dicekal Angga pelan.
“Perempuan nggak boleh main tangan.” Angga menasihati Jova seraya melepaskan tangkapan tangan lengan Jova.
“Sejak kapan anak Introvert pinter nasehatin lawan bicaranya? Huh!” Jova mendengus balik badan dan melangkah ke kursi halte dengan sambil menghentakkan kedua kakinya.
Jova mendudukkan pantatnya dengan tak santai, sementara topinya ia lepas. Kedua pipinya menggembung karena hatinya sungguh sebal aktivitas hiburannya di hempaskan Angga begitu saja. Sedangkan Freya menyingkirkan sepasang telapak tangannya dari mulut dan menatap Jova dengan bibir nyengir.
“Mangkanya jadi sahabat jangan suka iseng, kena batunya kan tuh, hahaha!!”
Jova menatap Freya dengan tatapan tajamnya seperti pisau menikam manusia. “Gak usah ketawa! Di sini nggak ada yang lucu!”
Jova kemudian memalingkan wajahnya dari Freya ke pandangan depan menghadap gang komplek Permata. Angga yang lihat kekesalan Jova kepadanya langsung mendekatinya. “Maaf ya, lain kali kalau mau foto orang, izin dulu.”
“Gak mesti semuanya izin tuh! Kamu cowok nyebelin sedunia pokoknya! Kesel! Kesel!”
Angga menaikkan satu alisnya. “Lebih nyebelin aku atau Reyhan?”
“Eeee ... Reyhan, sih!”
Freya terkekeh geli lalu beralih menatap Angga yang tengah menatap Jova. “Akhirnya kamu dateng juga, Ngga. Kirain kamu malah gak jadi.”
“Maaf udah buat kalian lama nunggu.” Freya mengangguk seraya berdiri. “Yasudah yuk! Kita ke rumah sakitnya Reyhan!”
Semangatnya Freya membuat Angga mengukirkan senyuman simpelnya beserta mengangguk setuju. Jova yang tanpa di ajak Freya, langsung berdiri meninggalkan mereka berdua ke parkiran kecil di sebelah halte tempat menunggu bis tak lupa menginjak sepatu Angga kencang sekaligus menyabit punggung Angga menggunakan topinya.
“Aduh!”
Angga langsung mengangkat satu kakinya yang telah di injak oleh Jova, bahkan lelaki itu meringis mendesis seraya memegang kaki kanannya dengan kedua tangan punyanya membuat Freya yang meratapinya, memicing kedua mata sipitnya menyaksikan nasib Angga yang di serang Jova.
“Eh Jova awas tiang listrik!!” pekik kompak sepasang sahabat kecil memperingati gadis tomboy tersebut yang berjalan tanpa melihat depannya.
TUNG !
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
RS Wijaya - Kamar rawat No 114
“Haaaahh ...” Reyhan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang pasien lalu memejamkan matanya sembari menghembuskan napasnya lewat hidung yang mulutnya sudah ia bungkam.
__ADS_1
Flashback On
“Oma meninggal semenjak kamu masih Koma, Nak. Satu bulan yang lalu oma sudah pergi meninggalkan kita bertiga.”
“Waktu itu oma memang sehat-sehat saja, tapi saat oma tahu kamu mengalami kecelakaan dan membuat kamu Kritis dan Koma, hal itu terjadi dimulai oma yang mulai sakit-sakitan. Tapi terlebihnya bukan salah kamu kok, Rey. Memang ini sudah jalan takdirnya oma.”
Reyhan tak bisa menjawab apa-apa dari mulai ucapan Jihan dan Farhan barusan, ia menjadi berpikir kalau semua ini adalah kesalahannya.
Flashback Off
Tangan kanan Reyhan terangkat dan mulai bertengger di atas kening sentralnya. “Gue harus ikhlas, gue harus ikhlas.”
Rasa kehilangannya masih membuat wajah Reyhan muram. Bagaimana tidak? Satu hari melepaskan kepergian sang nenek meskipun beliau telah lama meninggal dunia, Reyhan belum sepenuhnya ikhlas.
“Reyhan Lintang Ellvano! Hai selamat pagi hahaha!!!”
Suara pekikan ceria dengan gerakan lincahnya tentu saja Reyhan tahu itu siapa, Jova. Reyhan membuka matanya dan menatap gadis sahabatnya yang menyapanya riang. Reyhan hanya membalasnya bersama lemparan senyuman kemudian menurunkan tangannya yang ada di atas kening lalu menengok HP-nya.
“Bagus deh dibales pake senyuman doang, daripada kek dulu. Datar sama dingin kayak gak menghargai orang nyapa,” gumam Jova.
Jova memicingkan kedua matanya melihat muka sahabatnya yang tak sepadan dengan cuaca pagi hari yang terik matahari. Suram. “Gue nggak mau Reyhan kayak gini lagi. Gue harus hibur dia.”
Jova berjalan mendekati Reyhan di sebelah kanan, lalu celingak-celinguk apa yang sedang Reyhan lakukan. “Dengerin lagu, ya?! Bagi denger dong!”
Dengan tingkah barbar-nya, Jova dengan gesit melepas headset Reyhan dari telinga pemuda berambut coklat tersebut hingga sang pemilik alat untuk mendengarkan musik itu sampai berdecak sebal atas kelakuan sahabatnya yang suka ngasal.
Jova kemudian memasang headset Reyhan di sepasang telinganya dan mendengarkan musik itu dengan seksama. Hingga satu komplain dari Jova keluar dari mulutnya. “Lagunya terlalu slow, bikin ngantuk.”
Reyhan menolehkan kepalanya ke arah Jova yang melepaskan headset punyanya. “Lagunya gak bikin menghipnotis orang, kok. Cocok aja gitu pakai lagu itu kalau pagi-pagi jam segini.”
Jova terkekeh seraya mengembalikan headset Reyhan. “Iya sih, hehehe. Tapi aku lebih suka lagu rock biar semangat jalanin aktivitas pagi.”
“Bisa broken, gendang telingaku.”
Jova tertawa mendengar penuturan lontar jawaban Reyhan membuat Reyhan menautkan kedua alisnya. Apa yang lucu?
Hingga tiba-tiba pintu kamar rawat yang telah Jova tutup tadi sebelum dirinya menyapa Reyhan, dibuka oleh satu orang dan satu orang masuk ke dalam kamar rawat no 114. Jova melambaikan kedua tangannya. “Wei kalian berdua! Lama banget dah, nungguin lho!”
“Maaf, dong. Ngantrinya lama banget, mungkin makanan yang di sana auto laris manis, deh hehehe. Oh hai Reyhan, kamu sudah sarapan?”
“Belum,” singkat Reyhan menjawab Freya.
“Yaelah irit banget sih tanggapannya?! Jangan dibandingin omongan itu air ama listrik yang harus hemat!” ucap Jova dengan merangkul Reyhan kuat sehingga yang dirangkul merasakan sakit dibagian lehernya, dikarenakan lipatan tangan sahabatnya merengkuh leher depan pemuda tersebut.
“A-akh! Woi sakit!”
“Ups, sori!” Jova langsung melepaskan rangkulannya yang nyaris sama seperti mencekik leher sahabatnya.
“Wahahahaha!! Ya ampun, Reyhan .. Reyhan. Baper banget sih jadi cowok!” Jova dengan kedua tangan nakalnya mengacak-acak rambut Reyhan kemudian memutar-mutarkan kepala sahabatnya bersama tawa renyahnya.
“Eh Va! Jangan digituin kepalanya si Reyhan! Kamu pikir kepala sahabat kita adonan kue, apa? Sampe diputer-puter gitu!”
“Lho, aku tuh lagi benerin kepalanya Reyhan, Frey. Barangkali saraf otaknya mogok.”
“Matamu! Mending itu mulut di hairdryer dulu deh! Kalau ngomong suka gak pernah di ayak!” semprot Reyhan tidak terima.
Angga yang hanya diam menonton percakapan konyol antara Jova dan Reyhan, sampai menepuk keningnya melihat tingkah dua sahabatnya yang sepertinya otak mereka telah gesrek.
“Rey, lo beneran belum sarapan, kan?” Angga membuka suara.
Reyhan yang menatap nyalang Jova seketika berubah balik seperti tatapan biasanya lalu beralih menatap Angga. “Belum, dari tadi belum sarapan.”
“Oke kalau gitu. Ayo kita sarapan bareng-bareng.”
“Tunggu bentar, sarapan bareng-bareng? Lah kalian bertiga belum sarapan juga?”
“Iya, Rey. Kami bertiga sudah sepakat gak sarapan, hehehe biar bisa sarapan bareng kamu yang masih di rumah sakit.”
Reyhan tersenyum mendengar respon Freya yang nadanya lembut, kemudian lelaki itu menoleh ke arah Angga lagi yang meletakkan kantong plastik putih bening di atas ranjang pasiennya tepat di sebelah kakinya. “Lo bawa sarapan apa, Ngga?”
“Bubur ayam, gue tadi sama Freya beli di pinggir rumah sakit. Mending kita makan buburnya, keburu dingin nanti jadinya gak enak.”
Angga mulai mengeluarkan empat kotak bubur ayam lalu membagikannya untuk para sahabatnya satu persatu. Di sinilah pagi ini suasana terasa kondusif karena mereka berempat mengisi suasana ruang rawat penuh gelak tawa sebagai imbuhannya dan juga sekaligus menghibur Reyhan yang telah ditinggal pergi oleh sang neneknya. Senda gurau itu rupanya mampu membuat kesedihan Reyhan menghilang secara perlahan-lahan. Ya, bagi lelaki ramah tersebut tiga sahabatnya lah begitu hebat jika memberikan hiburan terampuh untuknya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
“Rey?” panggil Angga yang ada di sebelah kirinya Reyhan. Nampak Reyhan tengah asyik membaca buku novelnya dari pemberian Aji.
“Apa, Sayang?” jawab Reyhan dengan nada bergelayut manja seraya menatap Angga penuh arti.
Tidak jadi bertanya soal tentang buku novel yang dibaca oleh Reyhan, malah justru Angga menjadi sebal karena akan tanggapan sahabatnya yang begitu bergidik geli. Pemuda yang juga memegang buku novel, tanpa basa-basi Angga langsung menimpuk muka Reyhan dengan bukunya.
“Gue masih cowok normal!”
Bug !
Reyhan menggerutu sebal karena wajah gantengnya ditimpuk buku Angga dengan pakai tenaga. Lelaki friendly tersebut mengusap-usap wajahnya dan menatap Angga bersama wajah kesalnya. “Woi! Sakit, bego! Kenapa gak sekalian tampar ini pipi?!”
Reyhan menunjuk pipi kirinya dengan memakai jari telunjuknya. Angga yang melihat reaksi Reyhan, mengerut kening sekaligus mendengus. “Cowok kok nampar. Gue bukan cowok bencong ya, yang apa-apa suka nampar!”
“Lu gak sadar? Selama ini, kan lo cowok banci. Tapi lo yang gak peka terhadap diri lo sendiri!”
Angga mengeluarkan suara mengernyit dengan menghadap Reyhan dan memberi ancaman kepalan tangan yang ia dekatkan ke wajah nyeleneh sahabat super rese Kunyuk-nya. Mereka yang melihat tingkah Angga dan Reyhan tertawa. Mereka itu adalah Freya, Jova, Jihan, serta Farhan.
__ADS_1
Pagi ini tepatnya hari Minggu penuh dengan suasana hangat tanpa ada ketegangan sedikitpun. Dan tiba-tiba saat melanjutkan senda guraunya, seorang pria berpakaian jas putih rapi dan mengenakan kacamata membuka pintu kamar rawat dan lalu memasukinya dengan wajah senyuman ramahnya.
Kedua orangtuanya Reyhan beranjak berdiri dan menyapanya seorang beliau dokter Samuel. Mereka semua yang ada di kamar rawat menatap dokter Sam. “Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Apakah saya menganggu waktu Ibu Bapak dan semuanya?”
“Oh tidak ada, Dok. Sama sekali tidak mengganggu,” jawab Farhan dengan senyuman sopan.
“Maaf, apa ada perlu yang Dokter tanyakan atau menyampaikan sesuatu?” tanya Jihan yang berdiri di samping suaminya.
Dokter Sam semakin berjalan memasuki ruangan dengan wajah sumringahnya. Beliau berhenti melangkah disaat ada di hadapan dekat kedua orang tua Reyhan yang bertanya-tanya dalam hati. Bahkan Angga, Freya, Jova, begitupun Reyhan terdiam dan fokus pandangan menatap dokter Sam.
“Jadi begini, Pak Bu ... pagi ini saya ingin menyampaikan kabar baik untuk pasien Reyhan Lintang Ellvano.”
Ketiga remaja itu saling menatap dengan wajah tertegun, sementara Jihan memandang muka dokter Sam dengan mata berbinar. “Kabar baik apa, Dok?!”
Dokter tersebut semakin membentuk sunggingan bibir tersenyum bahagia. “Selamat ya, Bapak Ibu .. Reyhan besok sudah diperbolehkan pulang.”
Reyhan tersentak kaget dengan wajah gembiranya begitupun selain Reyhan yang mendengarkan kabar baik dari dokter Sam. Ketiga sahabatnya Reyhan langsung menoleh ke Reyhan bersama senyuman yang mereka patri. “I-ini sungguhan, Dok?! Saya mulai besok diperbolehkan pulang?!”
“Tepat sekali, Reyhan. Selamat ya, Nak. Akhirnya sekian dari berminggu-minggu kamu dirawat, Reyhan diperkenankan pulang besok pagi. Oh iya, apakah Dokter boleh bertanya sesuatu?”
“Silahkan, Dok.” Reyhan menjawab dengan senyuman bahagia.
“Bagaimana rasanya kamu dirawat di sini selama berminggu-minggu?” tanya dokter Sam dengan senyuman nyengir.
“Anu eeee ... sumpek, Dok.” Lirihnya Reyhan dengan kepala menunduk beserta menggaruk tengkuk membuat para penunggu jawaban Reyhan tertawa pelan.
“Hehehe, begitu ya, Reyhan? Baiklah.”
Reyhan mendongakkan kepalanya dan langsung memeluk Angga erat dengan pekikan bahagia karena pada puncaknya harapan dirinya terkabulkan. “Alhamdulillah, Nggaaaa!! Akhirnya sekian berabad-abad tahun, gue dibolehin pulang sama dokteeeeerr!!”
Angga terkejut setengah mati sahabatnya tiba-tiba memeluk dirinya begitu erat nan imbuhan perkataan Reyhan. “E-eh! Rey, ada dokter woi ...”
“Gue kagak peduli! Yang penting gue seneng banget hari ini Ngga, hahahahaha!!!”
Angga tersenyum rada kecut, tetapi pada kemudian Angga membalas pelukan sahabatnya yang begitu bahagia akan kabar baik tersebut dari dokter Sam. Mengusap-usap punggungnya dengan masih tersenyum. Namun bisa dilihat wajah Angga mengekspresikan tanda malu.
‘Eh? Ya ampun ternyata Angga bisa malu juga, ya. Hihihi,’ batin Freya dengan menutup mulutnya bersama kedua telapak tangannya dan sedikit cekikikan.
“Dok, untuk Terapi Reyhan ... apakah harus melakukan check up?” tanya Jihan pada beliau.
“Oh untuk itu, tidak perlu Bu. Karena Reyhan sudah sering melakukan Terapi semasa dirawat. Dan untuk penyembuhan kelumpuhan Reyhan, Reyhan hanya butuh mengonsumsi obat yang akan diberikan nanti sore. Dengan hal itu, jika Reyhan meminum obat secara rutin, Reyhan pasti akan sembuh, ya Bapak dan Ibu.”
“Oh jadi begitu, Dok? Baik terimakasih, Dokter.” Farhan berucap itu dengan sedikit membungkukkan badannya.
“Iya Dok, terimakasih.” Jihan menyambung kata.
Dokter Sam tersenyum. “Iya Pak, Bu. Sama-sama. Kalau begitu saya pamit, ya ...”
“Baik Dok, sekali lagi terimakasih!”
Dokter Sam terkekeh menoleh ke Reyhan yang telah melepaskan pelukan dari tubuh Angga. “Iya Reyhan, sama-sama. Dokter pamit dulu, ya. Assalamualaikum.”
Mereka semua menjawab salaman dokter Sam sebelum beliau pergi keluar dari kamar rawat. Usai dokter Sam keluar, Reyhan menyandarkan punggungnya dengan menghembuskan napasnya bersama senyuman gembiranya. “Akhirnya harapan gue terkabul! Alhamdulillah banget, lah hehehehe!”
Ketiga sahabat Reyhan dan kedua orangtuanya Reyhan memandang pemuda friendly itu dengan senyuman ikut turut bahagia. Tapi di 5 menit kemudian, Angga menyenggol lengan Reyhan.
“Rey?”
“Ha?” Reyhan yang pandangannya menghadap depan kini menatap Angga yang senyuman misteriusnya membuat Reyhan menaikkan satu alisnya.
“Siap-siap buat besok pagi, ya.”
“Maksudnya?” Reyhan tak mengerti maksud dari Angga yang senyuman itu nampak menyeringai.
“Iya, siap-siap besok pagi. Cabut jarum!” Angga kemudian memperagakan jarum infus yang dicabut, namun dirinya sengaja peragakan hal tersebut dengan kuat dalam mencabutnya. Meskipun hanya memakai tangan kosong saja.
Reyhan menelan salivanya susah payah. Sepertinya Reyhan lupa kalau besok ia harus menerima kesakitan saat jarum infusnya dicabut oleh perawat. Melihat Reyhan yang takut, bukannya menenangkannya tetapi malah justru Angga tertawa iblis, membuat lainnya menahan tawanya masing-masing.
Reyhan menunjuk muka Angga yang wajahnya tergambar jelas sedang menakuti sahabat. “W-wah! Bener-bener ya lu, Angga! Udah mahir nakutin orang!”
Angga tertawa dengan menggelengkan kepalanya mendengar omelan Reyhan. “Santai, sini gue kasih trik biar lo gak ngerasa sakit pas jarum infus lo dilepas sama suster.”
“Trik apaan, dah?!” Angga langsung menjawab pertanyaan Reyhan. “Lo cukup tahan nafas sampai jarum itu benar-benar udah dilepas dari tangan telapak lo. Gue jamin lo gak bakal kesakitan.”
Mata Reyhan berkaca-kaca mendengar trik yang Angga lontarkan. “Beneran gak sakit pas nafasnya di tahan?! Oke, besok gue coba trik dari lo. Tapi awas aja kalau ternyata gak berhasil!”
Angga mendengus dengan wajah yang balik menjadi datar. “Suka ngancem orang, lo buktiin aja pas besok hari Senin.”
Reyhan menganggukkan kepalanya. “Eh tapi waktu jarum infus lo dicabut, lo kok biasa aja? Oh lo juga tahan nafas, ya?”
“Enggak. Gue bisa tahan sakit, gak kayak lo. Apa-apa aduh-aduh.” Angga bersuara orang yang tengah mengaduh kesakitan.
“Anjir sialan! Udah tadi nakutin gue, sekarang malah ngeledek! Kesambet setan apaan, sih?!”
“Gak usah marah-marah, kali. Gue cuman bercanda.”
Reyhan mendengus sebal menatap wajah Angga yang menatap Reyhan jengah atas mulut yang suka ngawur kalau bertanya. Sedangkan Freya, Jova, Jihan, dan Farhan tertawa kompak karena tingkah cara bicara Angga yang berbeda.
Tetapi ya sudahlah, kemungkinan saja mood Angga sedang sangat baik sampai tingkah buras konyolnya mempan buat Reyhan tercengang. Sedikit demi sedikit di sela-sela kekesalannya terhadap Angga, Reyhan mengukirkan senyuman lebarnya, tak menyangka pada puncaknya harapan lelaki remaja tersebut bisa secepatnya tersampaikan.
Good bye Wijaya hospital. Itulah yang dilontarkan lelaki friendly tersebut melalui dalam lubuk hatinya.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1