
Pelaksanaan Upacara bendera tepatnya di hari Senin, Angga yang berdiri di paling belakang dari antara para barisan-barisan seluruh siswa-siswi SMA Galaxy Admara, sebagai petugas PMR, mendongakkan kepalanya ke atas. Nampak langit di sana begitu cerah disertakan terik matahari, namun di sisi lain, tubuh raga pemuda tampan tersebut agak sempoyongan.
Padahal saja, waktu ia hendak berangkat ke sekolah, kondisi tubuhnya yang sedang Drop lumayan berkurang, tetapi entah mengapa Angga merasakan keadaan tubuhnya yang sama di waktu minggu lalu. Johan sang kakak kelasnya Angga sekaligus bagian ketua PMR, melirik wakilnya yang nampak sedang tidak baik-baik saja.
“Ngga, lo nggak kenapa-napa?” tanya pelan Johan seraya mencondongkan badannya ke depan sementara mukanya menatap intens wajah Angga yang kembali pucat.
Angga mengerjapkan matanya beberapa kali yang pandangannya rada memburam. Sementara di depan sana, pak Harden sedang memberikan sebuah amanat untuk para seluruh murid-muridnya melalui mikrofon agar semuanya yang ada di lapangan khusus Upacara terdengar jelas penyampaian dari beliau.
“A-akh ...” Angga merintih kesakitan dengan sambil memegang dadanya. Napasnya yang ia rasakan sangat sesak hingga membuat lelaki Indigo tersebut membungkukkan badannya, sementara salah satu tangannya menyentuh lutut kanannya.
Johan terkesiap melihat kondisi Angga sekarang, kemudian pemuda berusia 18 tahun itu mendekati wakilnya dengan menyentuh bahunya. “Eh, Ngga! Lo kenapa?!”
Disaat mendengar napas Angga yang terputus-putus, bahkan pemuda dari siswa bangku kelas XI IPA 2 itu tak sanggup mengeluarkan suaranya karena terhambat oleh sesak napasnya, Johan panik tak karuan dan menolehkan kepalanya untuk meminta bantuan para anggota PMR-nya begitupun semua OSIS-OSIS yang berdiri diam di samping kanan sana.
‘Tahan, Angga! Tahan! Jangan sampai lo khawatirkan mereka karena mengenai soal kondisi lo yang sekarang ini,’ batin Angga keras dengan terus menahan sakit di dadanya bahkan kepalanya.
Sesak napasnya, membuat bibir pucat Angga bergetar, keringatnya dari kening merembes ke pelipis matanya. Angga tetap berupaya menahan tubuhnya untuk tidak tumbang jatuh bahkan memaksakan dirinya untuk konstan sadar. Sedangkan secara samar-samar Angga menangkap suara Johan yang memanggil-manggil para petugas PMR ialah anggotanya sekaligus OSIS-OSIS yang berdiri diam dan tenang di barisan samping kanan.
Tetapi akan namun sayangnya, saat ini Angga sangat sulit memperoleh oksigennya kembali untuk masuk ke dalam tubuh. Raganya mulai melemas lepau kesekian kali, pandangannya makin memburam tidak jelas bahkan ditambah telinga Angga berdenging.
Grep !
Johan langsung menangkap tubuh Angga yang nyaris jatuh ke lantai lapangan Upacara. “Mampus, pingsan lagi ini anak!”
Johan yang badannya terbungkuk kencang karena harus memikul beban tubuh Angga, menarik wajah raut paniknya ke arah para guru-guru yang berada di depan jauh sana. “PAK, BU! ANGGARA PINGSAN!!!”
Salah satu petugas OSIS yang duduk di bangku kelas sebelahnya kelas Johan, berjongkok mengamati Angga yang matanya terpejam tenang lalu menatap temannya. “Eh woi! Anggara kenapa pingsan, Cuy?!”
“Bego! Dari tadi gue minta tolong buat bawa Angga ke ruang UKS, malah pada bengong kayak sapi ompong! Telat kan, jadinya! Udah ayo gotong Angga ke ruang UKS segera! Sampe mimisan, tau si dia!” semprot kesal Johan seraya mengangkat tubuh lemah tak berdaya adik kelas wakil PMR-nya itu.
Reyhan yang mendengar suara keributan dari barisan paling belakang tempat dimana para OSIS dan PMR berdiri, sontak langsung menolehkan kepalanya ke belakang. Reyhan terperanjat kaget saat ada beberapa petugas OSIS serta beberapa petugas PMR tengah mengangkat tubuh Angga yang lemah untuk dibopong ke ruang UKS.
“Angga-” Baru saja akan hendak berlari ikut mereka yang membawa sahabat terbaiknya ke ruang UKS, lengan tangan Reyhan lebih dicekal duluan oleh Jevran sang tetangganya yang tinggal di komplek Kristal.
“Nanti aja, Rey!” cegah Jevran untuk agar Reyhan tetap di lapangan Upacara.
“Tapi sahabat gue lebih penting!” sentak Reyhan dengan wajah panik bercampur kesal pada Jevran yang menahan lengan tangannya.
“Iya, gue tau. Nanti kalau udah selesai, lo baru nyamperin. Sekarang biarin mereka yang ngurusin kondisinya Angga,” jawab Jevran berusaha menenangkan tetangganya.
Sementara Jova yang mengenakan topi upacara seperti siswa-siswi lainnya, mematung tanpa pandangannya terlepas dari Angga. Gadis tersebut dengan wajah setengah paniknya, memperhatikan salah satu guru ialah wali kelasnya, ikut membantu murid-muridnya yang menggotong raga sahabat pendiam-nya yang kini tengah posisinya sedang tak sadarkan diri karena kekurangan oksigen dalam tubuhnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
07.45 AM
DRAP DRAP DRAP DRAP !!!
Setelah beberapa menit kegiatan Upacara selesai, kini Reyhan tengah berlari kilat ke suatu ruang UKS sembari melepaskan topi upacaranya tanpa pergi ke kelas dulu untuk meletakkan bendanya tersebut. Hingga saking tergesa-gesa, lelaki humoris itu menabrak tubuh salah satu siswa yang tingginya sama seperti dirinya.
“Mata lo buta??!!” bentak si ketua OSIS ialah Alexander yang terkena tabrak Reyhan.
Reyhan yang sedang tidak sudi mencari masalah pada musuh bebuyutannya itu yang dari kelas X, langsung menepi tubuh Alex dengan kasar. “Minggir!”
Alex menatap Reyhan yang kembali berlari bersama nada menggeram. Karena pemuda kelas XI IPS 2 tak ingin juga membuat masalah baru atau keonaran, Alex pergi meninggalkan ruang UKS untuk memanggil kepala sekolah tentang mengenai keadaan Angga yang sedang ditangani beberapa petugas PMR termasuk juga ketuanya.
Di sisi lain, Reyhan berhenti berlari saat melihat kepungan para mereka yang mengerubungi sahabatnya nang terbaring lemah di ranjang kasur. Nampak Johan tengah mengukur tekanan darah Angga menggunakan suatu alat khusus, yaitu Tensimeter digital. Sementara Flo Grensia Faramarra sang ketua OSIS yang hampir jenjang kelulusan, sibuk membersihkan darah hidung adik kelasnya yang mana mukanya begitu pucat.
Johan melepaskan bagian kain Tensimeter itu dari tangan kanan Angga setelah mengetahui ukuran tekanan darah siswa bangku kelas XI IPA 2 tersebut. Sementara dua anggota PMR-nya Johan, sedang melebarkan sebuah selimut tipis untuk menyelimuti tubuh Angga sampai batasan ulu hatinya.
Johan menutup tangan kanan wakil PMR-nya kembali dengan seragam putih dalam jas almamater miliknya, tak lupa habis itu mengunci balik kancing seragam putih lengan putih Angga bagian pergelangan tangannya begitupun setelahnya, seragam putih yang terlihat di tangan Angga, Johan tutup bersama jas almamater Angga yang tadi sang ketua PMR gulung ke atas buat mengukur tekanan darahnya Angga.
__ADS_1
Johan menatap nanar Angga yang pakaiannya telah dilonggarkan oleh salah satu anggota PMR-nya yang mana kancing jas almamater rapinya bagian badan, dibuka hingga memperlihatkan seragam rompi adik kelasnya. Johan mulai risau pada Angga yang dari hela napasnya terlihat lebih pendek, bahkan sudah lebih dari 5 menit wakil PMR-nya tersebut belum kunjung sadarkan diri meski sempat diberikan minyak angin di dekat lubang hidungnya untuk membantu meningkatkan kesadarannya kembali.
“Johan, gue tinggal bentar, ya?” pamit Flo sang pacarnya dan langsung diberi jawaban Johan dengan sebuah anggukan kepala.
Saat Flo hendak pergi meninggalkan ruang UKS yang sebentar lagi beberapa OSIS dan petugas PMR ikut meninggalkan ruangan tersebut buat membiarkan Angga beristirahat dalam baring lemah tidak berdayanya, Flo hampir saja tertabrak seorang siswi yang larinya terburu-buru.
“Ya ampun! Kaget bener, gue! Jangan lari-lari layak gitu dong, Dek.” Flo menegur adik kelasnya yang tak lain adalah Jovata Zea Felcia.
“Maafin Jova, Kak! Untung aja gak sampe nubruk!”
Flo mengamati wajah Jova yang seperti mencari seseorang di dalam sana yang sekarang posisinya, jalannya ditutupi oleh tubuh siswi ketua OSIS tersebut. “Nyari Angga? Tuh lagi terbaring di sana, si Reyhan juga ada di dalem. Kalau mau nyamperin, tinggal nyamperin aja nggak apa-apa. Kakak pergi dulu, ya? Oh iya hampir lupa, sebentar lagi pak kepsek datang ke UKS sama Alexander buat lihat keadaannya sahabat lo yang agak urgent.”
Kedua Mata Jova mendadak terbelalak kaget dengan detak jantung berdegup kencang. “Agak urgent gimana, Kak?!”
“Lo mending lihat aja sendiri kondisinya si Angga, lemah bener terus kayak ada yang nggak beres. Tapi lo jangan khawatir, semoga aja dia gak kenapa-napa. Cuman pingsan doang seenggaknya kita semua lumayan lega lah, ya?”
“Sudah ya, Va? Kakak pergi dulu, ada tugas urusan yang perlu Kakak kerjain abis ini.”
“Iya, Kak Flo.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Kini yang berada di dalam ruang UKS ada beberapa anggota siswa-siswi dari kelas XI IPA 2, satu ketua OSIS-Alex, ketua PMR-Johan, beserta tiga guru yakni pak Harry, pak Harden, dan terakhir pak Robby sang guru mata pelajaran PJOK.
Namun alangkah kagetnya saat saling diam senyap seraya menanti kesadaran dari Angga, mereka melihat kedua mata pemuda Indigo itu terbuka dengan sangat lemah. Semua yang mengetahuinya begitu senang karena akhirnya Angga kembali siuman. Tetapi seperti ada yang aneh dan janggal di keadaan Angga, pandangan mata lelaki tampan tersebut tampak kosong.
Reyhan yang telah mendekati sahabatnya, mulai mengajak bicara meskipun sebenarnya ia merasakan firasat tidak beres kepada Angga. “Ngga, lo dengar suara gue?”
Tak ada jawaban dari Angga sama sekalipun, namun detik kemudian detak jantung mereka yang menemani pemuda itu di ruang UKS, nyaris berhenti disaat tubuh Angga yang diam, menjadi bergetar hebat. Mata Angga masih terbuka namun saat ini tubuhnya tak bisa diam pedengan Kejang.
Di situ karena saking panik tak karuan dan tidak mampu berbuat apa-apa untuk sahabatnya, Reyhan mengeluarkan air mata transparannya yang berhasil lolos dari pelupuk matanya. Saat hendak ingin memegang lengan tangan Angga, tubuh Angga yang Kejang itu berhenti dengan sendirinya, sementara kedua matanya yang tadi buka, kini balik memejam tenang.
“Ngga! NGGA!!!” teriak Reyhan dengan menggoyang-goyangkan kuat tubuh lemahnya Angga.
Pak Robby yang selalu ambil tindakan cepat segera berlari ke arah muridnya yang keadaannya butuh pertolongan medis. “Ini Anggara pingsan lagi, Pak! Sudah lebih baik sekarang Angga di bawa ke rumah sakit saja!”
Suara tegas pak Robby, langsung ditatap seluruh muridnya termasuk Reyhan dan Jova yang menampilkan wajah nanar dengan hati risau nang belum pudar. Alex yang tepat ada di sebelah kirinya Angga, tengah menggenggam sebuah ponsel IPhone-nya dengan mata menatap sungguh-sungguh pak Robby.
“Pak, haruskah saya menghubungi ambulan ke sekolah untuk melarikan Angga segera ke rumah sakit Wijaya?”
“Tidak perlu, Alex! Antara sekolah kita dan RS Wijaya jarak lokasinya dekat. Biar Bapak saja yang membawa Anggara ke rumah sakit,” ujar beliau seraya melepaskan selang oksigen dari dua lubang hidung Angga lalu tangkas mengangkat tubuh lemah sang murid untuk membopongnya ke mobil Sedannya yang terletak di parkiran pojok kiri.
Alex menurunkan ponselnya ke bawah lalu menganggukkan kepalanya bersama wajah stay datar. “Baiklah, Pak.”
Saat sedang mengangkat tubuh milik Angga, pak Robby menyempatkan diri untuk menolehkan kepalanya ke arah Reyhan yang diam bungkam. “Rey, kamu lebih baik ikut Bapak ke rumah sakit sekarang, ambil juga tasmu di kelas.”
Reyhan manggut-manggut patuh. “Ya, Pak!”
“Pak Rob! Pak Rob! Tasnya Angga biar tetap di kelas saja, nanti pas pulang sekolah biar saya dan Jevran yang mengantarkan tas sahabatnya Reyhan ke rumah sakit. Biar gak ada beban benda.”
“Idih-idih, sok perhatian amat, lu?” sahut Andra melirik Aji.
“Mingkem, lu Bambang Kulit Pisang!” sembur Aji mendelik jengkel pada Andra teman satunya itu.
“Oke, Aji!” tanggap pak Robby.
“Pak Robby! Saya juga ikut Bapak sama Reyhan!” pekik Jova yang mengangkat tangannya.
“Tidak bisa, Va. Kamu tetap di sekolah dan mengikuti pelajaran, ya? Biarkan Bapak serta Reyhan yang ke rumah sakit untuk Angga.”
“Yah, kok gitu sih, Pak? Angga kan prioritasnya saya juga, Pak Rob! Please ya, Pak? Izinkan saya buat ikut beliau dan Reyhan Ellvano!”
__ADS_1
Lala yang ada di sampingnya Jova sang teman akrabnya, perlahan menurunkan tangan Jova. “Udahlah, Va. Kita di sini berdoa aja ...”
“Ho'oh. Doa, Doa. Sahabat lo di bawa ke sana pasti bakal dilakukan terbaik dengan dokter. Nggak perlu khawatir, sudah ... tenang, Sis, tenang.” Rena mengelus-elus punggung Jova agar temannya sedikit tenang dan landa kecemasan itu supaya menghilang.
Reyhan yang ingin pergi melangkah keluar dari ruang UKS untuk mengambil tas ransel abu-abunya di dalam kelasnya, terhenti saat bahu atasnya ditepuk oleh Alex. Otomatis, Reyhan menoleh kepalanya ke belakang dengan kening berkerut.
“Semoga Angga di sana nggak terjadi apa-apa.”
Reyhan tersentak kaget dalam hati, namun tak ayal dirinya menganggukkan kepalanya tanpa berkomentar apapun yang keluar dari mulutnya tersebut. Alex segera melepaskan telapak tangannya dari pundaknya Reyhan dan membiarkan Reyhan lanjut melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
Cklek !
Reyhan melimbai kepalanya dengan lumayan menyongsong badannya usai membuka pintu. “Jangan terlalu khawatir, nanti aku kabarin soal kondisinya Angga. Oke, Va?”
Jova memajukan bibir bawahnya dengan samar-samar menganggukkan kepalanya. Johan yang berada di salah satu ranjang kasur UKS yang kosong tak ada nang menempatinya, menghampiri adik kelas perempuannya. “Tuh, denger. Gak perlu terlalu bimbang, mending kamu dan yang lain ganti baju olahraga deh sana, sambil nunggu pak Robby balik lagi ke sekolahan pas selesai bawa Angga ke rumah sakit.”
Reyhan tersenyum tipis kemudian mulai pergi meninggalkan mereka begitupun sekaligus ruang UKS, sementara sang beliau telah membopong tubuh lemah Angga untuk membawanya ke parkiran. Sedangkan seperti siswa-siswi dari bangku kelas XI IPA 2 memutuskan melangkahkan kakinya masing-masing keluar ruangan lepau mengganti seragamnya ke pakaian olahraga.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
RS Wijaya - Luar Ruangan IGD
Setelah Angga dimasukkan ke ruangan Instalasi Gawat Darurat bersama beberapa perawat dan salah satu dokter pria, Reyhan perlahan duduk merosot jongkok di lantai lalu kedua tangannya saling memeluk dua kakinya yang lelaki itu tekuk. Perasaan hatinya begitu gusar. Pikirannya terbagi dua, antara sahabatnya baik-baik saja dan dokter akan menyampaikan kabar buruk setelahnya. Ya, pikiran positif beserta negatif.
Reyhan sangat takut sahabatnya itu terjadi apa-apa, ia tak bisa mengontrol detak jantungnya untuk kembali ke normal semula. Pemuda tersebut meneguk ludahnya, pandangan wajahnya nanar menatap lantai putih rumah sakit.
Pak Robby yang memandang muridnya nang tengah dilanda rasa kecemasan, mendatanginya kemudian ikut jongkok. Beliau menatap Reyhan dari depan kemudian salah satu tangannya menyentuh bahu muridnya. “Kamu yang tenang dulu ya, Rey? Semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama Bapak.”
Tanpa menoleh melihat beliau yang memberikan nirwana jiwa padanya, Reyhan menganggukkan kepalanya lambat tidak dengan senyuman nang ia patri. Namun berselang menit kemudian, pintu ruang IGD dibuka oleh sang dokter dari dalam. Sontak saja, mereka berdua yang menunggu beliau langsung berdiri cepat dan menghampirinya.
“Dok, bagaimana dengan keadaan sahabat saya?! Sahabat saya baik-baik saja kan, Dokter?! Tidak ada terjadi sesuatu yang buruk, kan?!” tanya Reyhan bersama nada panik.
Dokter yang bernama Atmaja tersebut, melemparkan senyumannya. “Tolong tenang dulu, ya? Pasien baik-baik saja, hanya saja-”
“Hanya saja apa, Dok?! Mohon cepat katakan!!”
Pak Robby terperanjat kaget pada bentakan Reyhan pada dokter Atmaja, langsung mengusap-usap punggungnya untuk memberikan redakan panik muridnya terhadap Angga. Meskipun begitu, dokter Atmaja tetap tersenyum meski rada sendu.
“Pasien memiliki dua diagnosis, yaitu Epilepsi dan Hipoksia. Saat kami melakukan observasi pada pasien, pasien sempat mengalami tubuh gemetar yang hebat atau disebut lainnya adalah Kejang,” jelas dokter Atmaja menyampaikan kepada Reyhan begitupun pak Robby.
“K-kejang lagi, Dok?!” kejut Reyhan lantang.
Dokter Atmaja menolehkan kepalanya pada salah satu penunggu pasien yang beliau tangani tadi. “Kejang lagi? Apakah Anggara sebelumnya juga mengalami kejang?”
“Benar, Dok. Maka dari itu saya tidak segan-segan membawa murid saya ke rumah sakit, karena takutnya jika ada sesuatu yang buruk dan parah selain sakitnya.”
“T-tapi, Dok! Bagaimana bisa sahabat saya yang dokter tangani tadi bisa di diagnosis Hipoksia? Dokter tidak salah mengobservasi Angga kan, Dok??”
Dokter Atmaja menggelengkan kepalanya pada Reyhan yang raut wajahnya cemas dan terkejut mencampur menjadi satu. Reyhan begitu tidak menyangka sahabatnya di diagnosis Hipoksia, jelasnya Angga yang dirinya kenal selama ini, tidak memiliki suatu penyebab yang membuat Angga mengalami hal seperti nang disampaikan oleh dokter Atmaja.
“Tidak. Dokter nanti akan menjelaskan secara detail tentang keadaan Anggara saat Anggara di pindahkan ke ruang perawatan. Baik?”
Reyhan beserta gurunya pemuda humoris itu menganggukkan kepalanya mengerti. Tak berapa lama kemudian, terlihat beberapa perawat lelaki yang mengenakan seragam serba putih, tengah mendorong sebuah ranjang pasien dari dalam ruang IGD. Salah satu perawat, membuka pintu sebelah agar ranjang pasien tersebut muat untuk keluar.
Sang guru PJOK dan juga sang sahabatnya Angga, menatap pemuda tersebut yang terbaring lemah tak sadarkan diri di atas ranjang pasien. Sementara itu, lelaki tampan Indigo tersebut telah digantikan pakaian baju pasien warna dominan biru muda lengan pendek. Mulut Reyhan nampak bungkam dengan menatap sedih keadaan Angga yang terlihat sungguh lemah bahkan warna pucat muka dan bibirnya.
Di perjalanan menuju ke suatu lantai ruang kamar perawatan pasien, Reyhan dan pak Robby tak hanya mengikuti mereka saja, akan namun pula ikut mendorong ranjang pasien seperti beberapa perawat beserta dokter Atmaja. Ekspresi pilu pemuda friendly tersebut masih saja menancap di mukanya bersama menatap Angga yang belum kunjung sadarkan diri sedari tadi semenjak di ruang UKS sekolah SMA Galaxy Admara.
Indigo To Be Continued ›››
Note : Epilepsi adalah Kejang berulang pada sebagian atau tubuh akibat gangguan pada pola aktivitas listrik di otak
__ADS_1
Note : Hipoksia adalah kondisi rendahnya kadar oksigen di dalam sel-sel tubuh. Akibatnya, sel-sel di seluruh bagian tubuh tidak dapat berfungsi dengan normal
From_alodokter