
Angga termenung di jalan kota yang posisi dirinya sedang mengendarai motornya untuk melaju menuju ke komplek rumahnya. Di dalam kaca helm, wajah Angga nampak begitu suram bahkan tidak tahu ia merasakan dadanya sesak, apalagi Angga tak bisa memprediksi ia kenapa. Tetapi yang jelas jalan kehidupannya di bulan ini dilumuri banyak kehancuran di hatinya. Angga memang sosok yang kuat, namun kalau sudah bergantungan dengan masa lalunya, ia mampu menjadi sosok yang berbeda yaitu lemah.
Flashback On
Anggara Vincent Kavindra, ya? Hahaha, gue nggak nyangka kita bertemu lagi pas SMA. Gue tau lo gak ingat muka gue, tapi nama gue masih lo ingat.”
“Apa lo ingat disaat kita masih SD dulu? Tentunya lo mesti ingat, kan hahaha! Siswa yang terkenal sakit jiwa di sekolah Bakti Siswa itu dan juga terkenal pembunuh.”
“Dilihat-lihat, lo sekarang lumayan berbeda ya daripada sebelumnya. Good looking, tapi sayang ... penampilan lo masih cupu!”
“Kenapa lo diem? Lo ternyata masih sama ya seperti dulu SD, tukang bisu! Oh, apa lo takut sama gue?”
“Gue gak takut sama lo! Dan cukup lo hina-hina gue dengan mulut gak bermutu dari lo itu!”
“Lo sudah berani main bentak gue?! Apa lo lupa dimana saat waktu masa itu, lo membunuh sahabat gue Zhendy?! Gue kehilangan dia karena elo, bedebah!!”
Flashback Off
Angga mengeratkan kedua stang motornya bersama telapak tangannya. Kehadiran Gerald melenyapkan semuanya. Tetapi, Angga tidak takut sama sekali ancaman Gerald tadi bahwa ia akan membuat hidupnya hancur sehancur-nya apa yang Gerald lakukan dan yang Gerald mau.
Fokus Angga dalam mengendarai motornya hanya tersisa 20 persen, itupun pikiran Angga setengah kosong. Hingga pada akhirnya tanpa sadar, ada sebuah motor Honda Megapro berwarna biru yang sedari tadi mengikuti motornya yang sedang Angga kendarai. Sampai tibanya, motor Megapro tersebut yang ditumpangi dua lelaki berambut seperti anak punk dengan warna ungu serta satunya berwarna merah, menyalip motor Angga di sampingnya. Meski hilang fokus, tetapi indera Indigo Angga tetap menyala dan merasa curiga beserta mempunyai firasat buruk terhadap dua orang yang berada di atas motor Honda besar tersebut.
Baru saja akan menarik gas motornya pada stang untuk menghindari kedua pemuda mencurigakan tersebut, dengan teganya sang pengendara motor Megapro yang mana memiliki rambut model punk semir warna ungu, menendang badan motor Vario hitam Angga dengan kuat hingga membuat keseimbangan Angga pada motornya hilang.
BRAKH !!!
Motor Angga terjatuh di aspal dengan sangat keras sementara Angga melompat gesit dari motornya dan itu bukannya tidak apa-apa, dirinya malah terjatuh kuat pula hingga tubuhnya terguling kencang ke depan sampai kepalanya yang terlindungi oleh helmnya membentur trotoar nang ada di jalan tapak pinggir jalan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Freya yang selesai berdebat kecil dengan Rani sang ibunya di dalam telepon sampai tertawa-tawa, kini gadis itu layar ponselnya ia matikan lalu berbalik badan untuk menghampiri pacarnya beserta sahabatnya. Namun saat kembali, Freya tak melihat Angga di situ bahkan di sekitar taman alun-alun yang jalannya melingkar dengan luasnya.
“Gerald, kok cuman sendiri di sini? Lah Angga, kemana? Kamu tau?” tanya Freya menatap pacarnya lalu bola matanya bergerak mencari keberadaan sosok sahabat kecilnya.
Kekasihnya yang mengenakan kalung perak di lehernya, mulai memutar tubuhnya menghadap Freya yang bola matanya masih mencari-cari Angga yang sama sekali sekarang tak terlihat di matanya. “Nggak tau, orang nggak waras seperti itu ngapain kamu pedulikan.”
“Hah? Kamu ngatain sahabatku apa tadi?”
“Eh maksudku mungkin dia ada kepentingan, mangkanya pergi apalagi gak beri tau kamu.”
Baru saja akan menanggapi ucapan Gerald, sepasang kekasih tersebut mendengar gosip-gosip tentang Gerald yang mendorong bahkan menghujat-hujat sahabat kecilnya Freya. Meski mereka tak tahu siapa nama orang yang Gerald perlakukan tidak baik seperti tadi itu.
“Kasian banget, ya cowok yang tadi. Udah ganteng tapi malah dikasih hinaan gak bermutu sama cowok yang pakai kalung sama gelang itu. Mana cowok yang rambutnya kayak Korea-Jepang itu sekarang udah pergi, lagi. Pasti diusir atau nggak dia yang nggak tahan sama perilaku bejatnya.”
“Kalau dilihat cowoknya tadi yang tingginya kayak tiang itu, orangnya sabar dan suka mengalah, deh. Ih pengen gue punya cowok kayak dia, gak kayak doi gue yang sekarang jadi mantan,” respon perempuan yang rambutnya di kuncir dua pada temannya.
“Sumpah aura cowok yang tadi tuh, terpancar banget kegantengannya. Andai gue punya pacar seganteng, dia ... bakal gue peluk-peluk kayak dekap guling.”
Freya mengerutkan keningnya pada ujaran-ujaran kedua gadis seumurannya itu apalagi ucapan yang pertama. ‘Cowok yang rambutnya seperti Korea-Jepang? Itu bukannya Angga, ya? Terus kok katanya di dorong sama cowok yang pake kalung dan gelang?? Masa ... Gerald yang udah hujat-hujat sama dorong sahabatku? Apa mungkin benar?’
Freya menatap serius Gerald yang hanya diam meski hatinya sangat memuncak emosi karena gara-gara Angga ia menjadi bahan gosip tidak baik menurutnya. “Rald, kamu ngapain Angga tadi? Apa jangan-jangan yang buat Angga pergi dari taman alun-alun, kamu?”
Gerald tersentak kaget lalu dengan spontan mengelus-elus lembut pipi putih Freya dengan tersenyum. “Enggak, Sayang. Aku nggak ngelakuin itu sama Angga, dianya aja yang langsung pergi. Aku nggak sejahat itu, kali. Masa kamu langsung percaya sih sama omongan-omongan mereka? Kamu percaya dua perempuan itu, atau pacarmu ini?”
Freya mengalihkan muka cantik jelitanya dari Gerald lalu menatap kedua perempuan tersebut yang masih bermain gosip dengan kini sekarang berbisik-bisik. ‘Kebanyakan gosipan nggak benar dan nggak ada fakta buktinya. Kayaknya aku udah salah, nuduh Gerald.’
Freya berbalik menatap Gerald kembali, menatap mata hijaunya. “Aku percaya sama kamu kok, Rald. Maaf ya, tadi aku sempet menuduh kamu.”
__ADS_1
“Nggak masalah, Sayang. Yasudah yuk, kita pergi ke tempat lain, di sini banyak gosip. Aku benci dengernya cuman ngerusak telinga.”
Freya tertawa lalu menganggukkan kepalanya. Gerald kemudian menggandeng tangan kekasihnya untuk mengajak pergi dari taman alun-alun. Sementara diperjalanan menuju parkiran yang lumayan agak jauh dari mereka melangkah, Freya menyempatkan diri untuk membuka ponselnya dan mengecek apakah ada yang mengirim sebuah pesan chat padanya
Freya mencondongkan kepalanya ke depan layar HP-nya karena melihat ada yang mengirim chat padanya dari pukul 10.20 sedangkan jam pukul saat ini telah menunjukkan pukul 10.49
‘Eh, Angga ngirim chat sama aku?’
Freya dengan jiwa penasarannya Angga mengirim pesan apa untuknya, mulai memencet kontaknya Angga yang di paling atas buat membukanya penuh agar Freya tahu apa yang Angga katakan di aplikasi Chatting tersebut.
...----------------...
...ANGGARA KAVINDRA...
[Anggara Kavindra]
Freya, aku ada urusan mendadak. Jadinya maafin aku ya karena ninggalin kamu begitu saja di sana sama kekasihmu Gerald
...----------------...
Freya tak ada niat untuk membalas kiriman chat dari Angga sahabat kecil tampannya, gadis tersebut hanya read saja dengan isi kepala dipenuhi banyak pertanyaan pada Angga yang tiba-tiba pergi. Urusan mendadak apa? Sedangkan kedua orangtuanya masih berada di kota Semarang karena tugas Dinasnya di kantor dan baru kembali ke kota Jakarta beberapa bulan ke depan. Apakah opa serta omanya Angga datang ke rumahnya, itu yang Freya pertanyakan dalam batin hatinya.
‘Kenapa Angga aneh ya, hari ini?’
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Angga memegang kaki kanannya dengan rintihan yang keluar dari mulutnya meski sangat pelan, kepala pemuda tersebut sedikit menoleh ke arah pengendara motor Megapro matic yang telah menjatuhkan motornya beserta ia yang sampai membuat dirinya terbaring di jalan tapak sebelahan trotoar yang usai helmnya membentur di trotoar tersebut. Mereka tersenyum iblis karena berhasil buat Angga terjatuh seperti ini.
“Siapa mereka?”
“Ya Allah, Nak! Kamu tidak apa-apa?! Ayo sini pelan-pelan bangunnya,” ucap tulus pria paruh baya tersebut yang sigap membantu Angga.
Sedangkan lelaki dewasa yang berumur 25 tahun tengah mendirikan motor Angga yang usai tergeletak di jalan aspal. Bahkan kini Angga dikepung banyak orang mulai dari yang remaja, dewasa, hingga tua. Angga kemudian melepaskan helm dari kepalanya dengan wajah ekspresi menahan rasa sakit yang dirinya terima.
Seketika saat pemuda yang berkaus coklat oblong lengan pendek dengan dilapisi jaket hitam blangko, para remaja perempuan yang melihat Angga langsung terpesona dan terpana-pana akan ketampanan rupa wajah milik Angga yang sempurna apalagi gaya style rambutnya nang layaknya seperti lelaki Jepang-Korea.
“Wah, anjay! Ganteng banget cowok yang kecelakaan ituuu!! Rambutnya udah mirip bintang film drakor apalagi mukanya, gilaaaa!!” girang heboh salah satu gadis yang rambutnya digulung dengan indah rapinya.
“Mulai kumat lagi hebohnya kalau ngeliat cogan, eh ingat jangan suka dulu sama cowok kulit putih itu, nanti kalau ternyata dia udah punya pacar, nggak ada kesempatan buat elo. Gak mungkin dah cowok setampan dia belum punya pasangan, pasti sudah,” tegur perempuan dengan penampilan feminim bersama gamis hijabnya.
“Gue pun jadi selingkuhannya juga nggak apa-apa, kok. Masa bodoh gue dengan ucapan lo, sumpah dia membuat gue tergila-gila. Ayo jadi pacar gue, handsome.”
“Cewek nggak ngotaks! Emang sarap, lo! Yakali lo mau jadi selingkuhannya, Dosanya nggak terhitung, bego!” sarkas jengkel temannya yang memiliki gaya rambut panjang bergelombang lalu menoyor kepala sang teman yang berbicara seenaknya karena telah terhipnotis pada paras rupawan wajah tampan pemuda yang ia pandang.
“Walah, Mas! Tadi siapa coba yang udah bikin Mas kecelakaan, tega bener! Eh tapi, Mas-nya nggak ada yang luka-luka? Cedera gitu misalnya?” tanya pria tambun tersebut yang mengecek kondisi Angga.
Angga menggelengkan kepalanya. “Saya masih baik-baik saja, Paman. Terimakasih telah membantu saya.”
Gadis yang rambutnya digulung itu semakin terpesona karena sikapnya Angga yang menanggapi pria gemuk tersebut. “Aduh apa kurangnya cowok itu? Udah sopan, ditambah suaranya bariton. Merdu bener, ahahahay!”
“Lu pikir dia lagi nyanyi?!” Temannya itu menggelengkan kepalanya melihat watak heboh gadis tersebut makin kumat merajalela.
Angga kemudian dengan perlahan mulai bangkit diri meskipun kaki kanannya terasa amat sakit bila digerakkan. Pria berbadan gempal baik hati dan pria paruh baya yang paling pertama membantu Angga, bersamaan bangun dari jongkok-nya lalu membantu pemuda umur 17 tahun itu agar tak kesulitan untuk berdiri.
“Nak, kamu yakin masih bisa mengendarai motormu? Keadaanmu sedikit tidak memungkinkan, lho. Bagaimana kalau saya antar kamu ke rumah sakit, untuk diperiksa kakinya yang sakit. Saya takutnya kalau di bagian kakimu mengalami cidera akibat kecelakaan tadi.”
“Tidak perlu, Pak. Saya tidak ingin merepotkan Bapak, lagi pula kaki saya hanya terkilir saja,” tanggap Angga sopan dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
Seorang anak laki-laki yang berumur 12 tahun memungut helmnya Angga di bawah lalu anak tersebut melangkahkan kakinya mendekati pemuda SMA itu. “Kakak, ini helmnya tertinggal.”
Angga menoleh ke samping dengan kepala sedikit menunduk ke bawah yang anak laki-laki itu lebih pendek. Dengan murah senyumannya, Angga menerimanya dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Sementara lelaki dewasa yang tengah menyalakan mesin motor Vario Angga bersama kunci, untungnya mesin motornya tidak mati bahkan tidak bermasalah sedikitpun.
“Awet banget motornya, beruntung saja tidak ada yang rusak di bagian motormu. Hati-hati ya, naiknya juga mengendarainya,” tutur ramahnya lalu menyingkir dari motornya Angga.
Angga kemudian mengenakan helmnya di kepala tak lupa memasang pengait helm agar aman. Dengan langkah pincangnya, Angga mendekati motornya yang telah di standar-kan oleh lelaki dewasa tadi. Gadis yang rambutnya digulung tersebut sedih dan kecewa karena lelaki yang aura ketampanannya terpancar itu hendak pergi dari tempat ini.
“Alah, dia mau pergi!” Gadis tersebut bertekad untuk menghampiri Angga yang sudah menaiki motornya.
Namun ada temannya yang tadi menoyor kepalanya dan kini menarik kencang tangan temannya membuat gadis yang sudah terhipnotis pada ketampanan Angga langkahnya termundur-mundur. “Lo mau ngapain?! Di sini aja!”
“Gue pengen kenalan sama cowok ganteng itu, sama minta nomer kontak WhatsApp-nya!”
“Stress lo, ya! Buat apa lo sampe minta-minta nomer kontak WhatsApp dia segala?! Malu-maluin tau, gak?! Udah lo di sini aja sama kami berdua, mending lo urusin aja tuh si Aldi kelas sebelah. Dia kan crush yang lo harap-harap sampe terbawa mimpi.”
“Udah lain hati, gue!”
Gadis anggun feminim yang memakai gamis bersama hijab nang menutupi auratnya, hanya menepuk keningnya tanpa berkomentar apapun untuk meladeni temannya tersebut.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Terlihat Lucas sang ayah Freya tengah membenarkan mobilnya yang sedang bermasalah hingga pria paruh baya tersebut mengharuskan membuka kap mesin mobil untuk mengeceknya apakah ada yang rusak pada kabel-kabelnya nang saling tersambung. Di sisi lain, anak tetangga dari Agra dan Andrana telah pulang dan kini mematikan mesin motornya lalu turun dari kendaraan Honda matic miliknya.
Di depan gerbang hitam, Angga balik memegang kaki kanannya yang tiba-tiba terasa ngilu, padahal sama sekali tak ada luka parah di sana. Namun dirinya tetap berusaha untuk menahannya sebelum ia berhasil menggiring motornya masuk ke dalam teras rumah. Pemuda mandiri tersebut standar-kan motornya lalu mendekati gerbang dengan langkah kaki pincang.
“Angga?!”
Angga yang hendak membuka gerbangnya setengah, terhenti karena panggilan dari Lucas yang berlari di belakangnya. “Ngga, kenapa sama kakimu?! Kok jalannya pincang begitu??”
Angga nyengir dan bingung ia harus menjawab apa pada Lucas yang nampak khawatir dengan keadaannya sekarang. Tetapi ia tak punya pilihan lain selain menjawabnya apa adanya. “Angga, habis kecelakaan, Om.”
Mata Lucas terbelalak kaget jawaban dari Angga yang kini pemuda itu balik memegang kakinya nang rasanya tambah sakit karena terlalu lama berdiri. “Ya Allah Gusti! Kok bisa sih, Nak?! Kecelakaan dimana?!”
“Di jalan pembelokan tempat mau menuju ke halte dan komplek Permata, Om. Tapi Angga sudah nggak kenapa-napa, kok.”
“Nggak kenapa-napa gimana?! Kamu aja sampai kesakitan sambil pegang kaki begitu. Terus, Freya belum pulang? Kamu doang yang baru pulang??”
Angga tersenyum tipis. “Iya, Om. Freya masih ada di sana sama pacarnya. Angga pulang karena nggak ingin mengganggu waktu mereka berdua.”
Lucas berdecak lalu beliau mengangkat tangan kanannya Angga kemudian Lucas rangkul di tengkuknya untuk membantunya masuk ke dalam rumah. “Ayo, Om bantu kamu masuk ke dalem. Nanti motormu biar Om giring ke teras rumahmu. Tidak ada penolakan ya, Ngga?”
“Iya, Om ...” pasrah Angga.
Setelah itu, Lucas memapah Angga berjalan masuk ke dalam gerbang rumah begitupun dalam rumahnya yang telah beliau buka barusan dengan kunci nang Angga berikan tadi. Dan di dalam, Lucas tetap menuntun pemuda tampan tersebut hingga sampai di kursi sofa panjang untuk mendudukkannya perlahan.
“Sebentar ya, Ngga. Om masukin dulu motornya kamu ke dalem teras. Kamu lebih baik istirahat saja biar sakit kakinya bisa sembuh.”
“Terimakasih, Om.”
“Sama-sama.” Lucas kemudian balik badan dan keluar dari dalam rumah Angga yang sunyi untuk memasukkan kendaraan motor lelaki tersebut yang habis mengalami kecelakaan nang disengaja oleh sang pengendara motor Megapro biru tadi.
Angga mulai selonjor-kan kaki kanannya sementara kaki kirinya masih posisi ia tekuk biasa. Punggungnya ia sandarkan di sandaran sofa nyamannya, hari ini sungguh melelahkan. Bertemu orang yang ada di masa lalunya ditambah kecelakaan yang ia alami meskipun itu adalah ulahnya si pemuda bergaya style rambut anak punk dengan disemir warna ungu.
Siapa mereka berdua? Mengapa ia melakukan seperti itu pada diri Angga hingga membuat Angga mengalami kecelakaan kendatipun hanya sebuah kecelakaan kecil? Bahkan Angga sendiri tak mengenali siapa mereka tersebut, sayangnya pula pagi menjelang siang ini pemuda tampan itu tak mampu mengaktifkan jalan penglihatan di mata batinnya.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1