Indigo

Indigo
Chapter 185 | You..?!


__ADS_3

Setelah sarapan pagi untuk menjalani aktivitasnya di sekolah nanti, Freya melangkah lebih dulu meninggalkan Lucas yang sedang hendak mengambil kunci mobil di meja ruang keluarga. Usai keluar dari gerbang rumah, gadis cantik berseragam rompi internasional itu mengirup udara sejuk walau hatinya sedang terpuruk.


Rasanya amat resah memandang rumah besar Angga yang seringkali sepi setelah Andrana dan Agra mengetahui bahwa putranya masuk rumah sakit dan harus dirawat intensif karena terserang Koma. Freya meninjaunya sejenak lalu berpaling ke langit biru yang mana sinar terik matahari mulai memancarkan cahayanya untuk menyinari dunia.


Freya, ayo berangkat bersamaku


Freya tersentak kaget dengan reflek menolehkan kepala serta pandangannya ke sumber suara. Mata manik indahnya membelalak lebar saat melihat sosok Angga yang sedang tersenyum tampan di jarak 2 meter, kekasihnya nampak mengenakan seragam sekolah sepertinya bersama tas ransel hitam yang ia tenteng di pundak kanannya.


“Angga?! Itu kamu?!” pekik Freya dengan raut bahagia.


Angga hanya melemparkan senyuman manisnya lalu hilang bak dihempas oleh haluan angin. Hal itu sontak membuat Freya terkejut lalu mencari keberadaan kekasihnya yang telah menghilang seperti hantu.


“Freya?”


“Hah!” Gadis lugu berambut hitam legam panjang sepunggung tersebut lekas menoleh ke belakang saat bahu kecilnya ditepuk oleh Lucas.


“Ayah?! Mama?!”


Rani mengerutkan keningnya waktu mengetahui ada raut linglung dari wajah cantik putrinya. “Sayang, kamu kenapa? Lagi cari siapa?”


Freya menelan salivanya kasar lalu menuding arah tempat dimana sosok Angga tadi berdiri tegap. “Ma! Tadi Freya lihat Angga di dekat tembok pekarangan rumahnya! Pacarnya Freya juga kelihatan sehat, tapi habis itu dia hilang begitu saja!”


Rani menatap Lucas sesaat begitupun suaminya, lalu sang ibu meraih wajah mulus anaknya untuk beliau rangkum serta menatapnya lekat. “Freya, lihat mata Mama. Angga, kan masih terbaring Koma di rumah sakit. Jadi Angga gak mungkin bisa berada di sini, Sayang.”


“Hiks!” Melihat Freya kembali terisak oleh tangisan lirihnya, Lucas menghampiri dan mengusap kepalanya dengan lembut.


“Kamu pasti tadi berhalusinasi, Nak. Kamu terusan memikirkan tentang kondisinya Angga hingga membuat kamu seolah-olah melihat bayangan pacarmu ada di sekitarmu. Sudah, jangan nangis, ya? Kan, mau sekolah. Mesti kamu malu dilihat orang lain di sana termasuk kedua sahabatmu, oke?”


Freya menghapuskan linangan air matanya lalu mengangguk lemah. Kini gadis itu mulai mencium punggung tangan Rani untuk berpamitan pergi ke SMA Galaxy Admara sebelum bel masuk di sana dibunyikan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam perjalanan menuju ke sekolah, Freya terus diam dengan mata pandangan kosong ke arah depan. Sementara Lucas terlihat fokus menyetir mobilnya untuk mengantarkan putri semata wayangnya ke SMA Galaxy Admara.


Freya, ayo berangkat bersamaku


Suara beralun merdu Angga terus mengisi pendengaran telinganya Freya membuat gadis itu tak mampu melupakan apa yang telah terjadi. Sekarang kepalanya begitu pusing, bahkan mukanya nampak pucat karena semalam sukar untuk tidur.


“Sayang? Sudah jangan kamu pikirkan. Kamu harus fokus belajar di kelas, hilangkan benakmu tentang Angga sejenak waktu saja. Freya mengerti?”


“Maaf, Yah ...” ucap Freya seraya menundukkan kepala dengan wajah muramnya.


“Iya. Gak apa-apa,” respon Lucas dengan mengelus lembut kepala putrinya dari kursi kemudinya.


Saat akan tiba di gang sekolah, Lucas malah membelokkan stir mobilnya ke arah kiri untuk menuju ke Indomaret. Membuat Freya menegakkan kepalanya dan melihat mobil ayahnya yang hendak mengambil parkir buat berhenti di depan toko.


“Lho? Kok berhenti di sini, Yah?” tanyanya sambil menoleh ke arah Lucas.


“Ayah mau belikan kamu beberapa cemilan untuk makan di sekolah nanti pas jam istirahat. Ayah tahu sekali kamu bakal males pergi ke kantin dengan hatimu yang lagi mood booster. Sebentar, ya?”


Lucas melepaskan belt sabuk pengamannya yang mengunci tubuhnya lalu segera membuka pintu mobil untuk pergi menuju ke toko waralaba minimarket yang telah 8 menit lalu dibuka oleh pegawai. Freya di dalam hanya duduk manis sambil melihat kepergian sang ayah yang membuka pintu kaca toko Indomaret serta memasukinya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Andrana dengan tulusnya membersihkan tubuh lemah Angga yang terbaring Koma menggunakan kain handuk kecil nang dipegangnya. Wanita paruh baya itu berusaha menarik senyuman bibirnya walau hatinya sedang tak baik-baik saja mengenai kondisi anaknya yang semakin memburuk dan melemah.


Di raganya pun, Angga telah dipasang oleh beberapa alat medis yang sebelumnya dicabut dengan lelaki misterius keji yaitu adalah Gerald sendiri. Tapi sampai sekarang, mereka tak mengetahui bahwa Gerald yang sudah berulah untuk mencelakai nyawa-hidup pemuda tampan ini.


Angga hanya ditemani oleh ibunya, sementara Agra sedang keluar untuk membelikan sarapan hangat untuk istrinya agar tetap makan walau tidak nafsu.


Andrana kembali menatap wajah pucat Angga yang mana matanya senantiasa terpejam dengan tenang. Sampai otak memorinya kemarin terputar pada ungkapan penyampaian detailnya dokter Ello saat usai selesai memberi penanganan terbaik untuk nyawanya Angga.


Flashback On


“Anggara kekurangan pasokan oksigen di dalam otak. Penyebabnya dikarenakan alat bantu nafas selang ETT yang ada di dalam tubuh sudah lama terlepas, apalagi di situ pasien tidak bisa bernafas dengan sendirinya.”


Mendengar penyampaian buruk dari dokter Ello, Reyhan langsung meremat rambutnya kuat dengan rahang yang kembali mengeras, matanya juga ia tutup rapat saking tak kuat menahan emosinya yang telah mencelakai Angga. Sementara Freya dan Jova menggelengkan kepalanya dengan air mata yang berderai turun membasahi pipinya.


“Kekurangan pasokan oksigen di dalam otak?! Lalu kita harus bagaimana, Dok? Bagaimana dengan nyawa putra saya?!” panik Agra dengan nada serak.


“Hiks, hiks ...” Andrana yang tak bisa berkata-kata hanya mampu menangis terisak nan sesenggukan.


Dokter Ello menghembuskan napasnya sejenak dengan menundukkan kepalanya gundah sesaat lalu kembali menatap pria paruh baya itu yang dari wajahnya mirip dengan Angga. “Kita hanya bisa terus berdoa kepada Allah untuk meminta kesembuhannya Anggara, cuma itu yang mampu kita lakukan saat ini dan seterusnya.”


Beliau kemudian beralih memutar setengah tubuhnya ke belakang untuk menatap pasiennya yang terbaring Koma di dalam ruang ICU. Terdapat jelas wajahnya sang dokter sangat pasrah bila Tuhan berkehendak lain untuk mengangkat nyawa Angga.


“Kondisi keparahan dari Komanya Anggara memang begitu parah dan hanya memiliki sebatas lima persen untuk tingkat kesadarannya. Jadi, jika Allah telah bertindak, tolong Ikhlaskan pasien ...”


Mendengar ungkapan dari mulut dokter Ello, seketika raga Reyhan runtuh di sini. Lelaki itu terduduk lemas tak berdaya dengan menumpahkan segala tangisannya, ia memukul-mukul keras lantai dingin tersebut tak peduli bila telapak tangan kanan nantinya terluka. Yang tentunya, hati Reyhan begitu rapuh sama dengan para sahabatnya, beserta kedua orangtuanya Angga sekalipun.


Sudah jelas dibuktikan, mereka tidak ingin akan hilangnya Angga untuk selamanya.


Flashback Off


Telah banyak air mata Andrana tumpah sampai membanjiri kedua pipinya. Dadanya sangat sesak mengingat ungkapan dokter Ello kemarin sore. Usai membersihkan setengah tubuh Angga, sang ibu mulai mengunci kembali kancing baju pasien biru awan yang dipakai oleh anaknya selama dirawat.


Meskipun sudah masuk jam sarapan, akan tetapi tak ada rasa lapar bahkan nafsu untuk makan. Hatinya ini begitu hancur mengenai kondisi Angga yang ingin menuju ke akhir nyawanya. Setelah meletakkan kain handuk basah itu, Andrana mengangkat tangan kanan Angga lalu mencium telapak tangannya lalu beralih mendekatkan bibirnya di atas kepala anaknya buat mengecupnya dengan perasaan sayangnya.


Namun di situ, air mata Andrana semakin tertumpah hingga beliau menempelkan keningnya di kepala Angga bersama tangisan yang tergugu.


“Jangan coba untuk pergi, hiks! Mama sayang sekali padamu, Sayang. Angga lelaki yang kuat ...”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


SMA Galaxy Admara - Kelas XII IPA 4


Reyhan di atas bangku kursinya tetap diam tanpa ingin bergabung pada teman-temannya. Jangankan bergabung untuk nimbrung ria, mengeluarkan suaranya pun enggan.


Hatinya di pagi ini begitu sangat amat hancur, dari raut muka tampannya juga gelap tak seperti biasanya yang selalu cerah setiap hari. Air mata yang berusaha Reyhan tahan kini tak bisa ia bendung lagi, mengalir lolos begitu saja membasahi pipinya walau tak deras. Bibirnya lumayan bergetar saat memori otaknya terputar pada seluruh rentetan ucapan dokter untuknya dan lainnya.

__ADS_1


...Kondisi keparahan dari Komanya Anggara memang begitu parah dan hanya memiliki sebatas lima persen untuk tingkat kesadarannya. Jadi, jika Allah telah bertindak, tolong Ikhlaskan pasien......


Reyhan memejamkan matanya lalu mengusap air tangisnya singkat sebelum ada yang mengetahuinya. Rasa untuk semangat mengikuti mata pelajaran kali ini, terbuang jauh waktu mengingat ujaran tersebut. Begitu menyakitkan, kan walau belum terjadi? Ikhlaskan? Tidak bisa! Reyhan tak mampu melepaskan jika Angga benar-benar pergi meninggalkannya.


Sikut tangan kiri Reyhan menyangga mejanya sementara telapak tangannya menutupi wajahnya untuk membenamkannya sejenak dan membuang pikiran negatif yang telah menempel dibenaknya.


“Bro, ini gue punya keripik pedes kesukaan lo. Barangkali elo hari ini kepengen ngemil ginian.”


Reyhan menyingkirkan segera telapak tangannya dari muka lalu bola matanya melirik Jevran yang menyodorkan cemilan keripik pedas nang dibungkus oleh plastik berukuran sedang di dalamnya. Hanya sekilas melirik lalu menghadapkan kepalanya ke depan dengan tampang cueknya.


“Gue gak laper, lo makan aja sendiri.”


Jevran yang mendapat respon nang tak mengenakkan hati, menurunkan cemilan berbumbu pedas itu lalu melemparkan pandangannya ke tatapan mata Aji yang berdiri di sebelahnya. Aji mengedikkan bahunya tak mengerti kemudian tersenyum melihat Reyhan yang wajahnya amat datar.


“Rey? Lo kenapa? Are you okay, friend?” tanya Aji seraya menyentuh atas bahu bagian kiri Reyhan.


“Singkirkan tangan lo dari gue! Gak perlu lo tanya pasti lo sama Jevran sudah tahu gue kenapa hari ini!” sentak Reyhan sambil menepis kasar tangan Aji.


“Rey? Elo-”


“Untuk apa kalian tanya seperti itu kalau kalian aja ngerti hati gue kenapa? Jangan sok bego!” desak Reyhan duluan memotong ucapan Jevran.


Senyuman Aji memudar. “Lo lagi ingin sendiri?”


Reyhan menarik napasnya panjang lalu menghembusnya perlahan seraya kembali menutup matanya untuk menetralisir ketenangannya. “Hm.”


“Y-yasudah kalau itu mau lo. Kami bakal menjauh sampe lo benar-benar mau dideketin,” ujar Jevran paham lalu menarik tangan Aji untuk mengajaknya mangkir dari Reyhan sejenak waktu.


Kini dari jarak kejauhan dimana Aji dan Jevran sampai di belakang jendela kelas, Reyhan terlihat meraup wajahnya Stress. Bahkan mereka tahu kalau tadi Reyhan sedang menangis.


“Kalau sudah begini, gue yakin ada sangkut pautnya sama kondisi Komanya Angga. Gue bisa ngerasain kalau hatinya Reyhan sekarang lagi terpuruk, terlebih temen kita yang suka nimbrung-nimbrung ngobrol sama kita di dalem kelas sekarang banyak diem. Separah apa, ya keadaannya Angga di kota Bogor?”


“Pasti buruk banget, Ji. Mungkin kemarin sore saat dia dan kedua sahabat ceweknya jenguk Angga di rumah sakit Medistra Kusuma, dokter memberikan kabar yang jauh lebih buruk daripada dulunya. Bisa jadi seperti itu,” jawab Jevran.


Aji menghela napasnya dengan wajah gundahnya begitupun Jevran yang tetangga akrabnya Reyhan. Mereka berdua tentu tidak bisa melihat lelaki humoris itu terlarut dalam kesedihan, kepedihannya.


Di sisi lain, Jova yang kesal segera mematikan lagunya yang ia setel dan ia dengarkan melalui earphone nang dirinya pakai di sepasang telinganya. Gadis Tomboy itu nampak berusaha semaksimal mungkin melupakan atau menghilangkan tentang kondisi buruknya sang sahabat lelakinya. Namun...


Sangat begitu sulit.


...Anggara kekurangan pasokan oksigen di dalam otak. Penyebabnya dikarenakan alat bantu nafas selang ETT yang ada di dalam tubuh sudah lama terlepas, apalagi di situ pasien tidak bisa bernafas dengan sendirinya...


...Kekurangan pasokan oksigen di dalam otak?! Lalu kita harus bagaimana, Dok? Bagaimana dengan nyawa putra saya?!...


...Kita hanya bisa terus berdoa kepada Allah untuk meminta kesembuhannya Anggara, cuma itu yang mampu kita lakukan saat ini dan seterusnya...


Mendengar suara sayup yang mana ungkapan antara dua lawan bicara pernah ada di hari sebelumnya, membuat Jova menutup wajah cantiknya pakai kedua telapak tangannya sekaligus. Tetapi semua itu tak mempengaruhi mood hatinya kecuali perkataan dokter Ello yang sangat lesu dimana beliau menghimbau mereka untuk mengikhlaskan takdir Angga pada Tuhan yang bertindak.


Jova menggelengkan kepalanya kuat dengan saling menurunkan sepasang telapak tangannya dari muka bersamaan air mata kembali tertumpah jatuh. Ia tak rela jika salah satu sosok sahabatnya pergi tuk selamanya.


‘Enggak! Gue gak akan bisa rela bila Angga salah satu sahabat gue di antara dua sahabat gue pergi ninggalin dunia! Padahal gue sudah meyakinkan seratus persen jika suatu saat nanti Angga akan sadar dari Komanya. Tapi kenyataannya apa?! Gue sekarang bener-bener gak bisa melakukannya sepenuh hati untuk percaya dan yakin karena udah di pupuskan sama keadaannya Angga. Hiks! Emang bajingan yang telah berhasil mencelakai sahabat gue! Siapapun pelakunya gue gak akan terima.’


Jova mengelap air matanya dengan punggung tangan serta menarik cairan ingusnya ke dalam hidung. Akibat tangisannya semalam hingga hari ini, membuat kantung mata milik Jova membengkak apalagi kedua matanya memerah. Tetapi linangan air bening tersebut yang telah banyak tertumpah, tak bisa menandingi rasa sesak dadanya begitu pula pahit hatinya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di jalan koridor menuju ruang kelas XII IPA 4 tempat bangku belajarnya hingga kenaikan kelulusan, Freya berjalan dengan sangat lunglai tanpa mau memperhatikan siswa-siswi lain yang memandanginya bersama tatapan gundahnya. Mereka tentu sudah lama tahu bahwa Angga terserang Koma di rumah sakit yang sama tempat lelaki tampan itu mengalaminya selama 2 bulan.


“Eh, si Cupu lewat. Lihat, deh mukanya kayak lap belum dijemur gak, sih? Hahaha! Enek gue liatnya,” ucap Youra bersama geng para sahabatnya.


“Mata lo emang tajem ya, Your? Masih pagi kayak gini tapi pandangan lo masih oke aja. Kasihan yang ditinggal Angga Koma, hahaha! Rasain, mangkanya kalau jadi cewek tuh gak usah sok tenar di sekolah calon papa mertuanya si Queen Youra,” timpal Febrie jauh lebih pedas.


“Bener tuh, Brie! Paling juga bentar lagi pacarnya auto is death di rumah sakit. Buat apa lagian cowok sok menggurui kayak Angga itu hidup lama-lama, gak layak banget!” respon Claudie.


Di dalam tundukan kepala, Freya mencengkram erat ujung seragam rompi abu-abunya dengan mata mulai memanas karena perkataan cacian maki mereka yang menghinanya serta Angga.


‘Tahan, Frey! Tahan! Diamkan saja mereka bertiga, mereka itu gak pantes untuk kamu ladenin. Lebih baik kamu mempercepat langkah daripada hatimu semakin sakit mendengar celaan dari mulutnya.’


Freya segera berlari kencang menghindari ketiga gadis yang suka merundung fisik serta kecantikannya. Di langkah cepatnya, Freya masih bisa mendengar mereka bertiga bertutur kata...


“Eh, kok lari? Hahahaha! Paling dia mau nangis karena udah denger omongan kita bertiga. Yes or no, Girls?” seru Youra.


“Yes, dong!” kompak antara Claudie dan Febrie.


“Good. Dasar cewek cengeng!!!”


Mereka bertiga tertawa bahagia di atas penderitaan Freya yang gadis cantik Nirmala itu sedang alami. Dalam larinya, Freya terus menutup matanya sampai ia berakhir tak sengaja menubruk dada keras seseorang hingga membuatnya terperosok nan tersungkur ke belakang.


Brugh !


“Ssh, auw! Sakit banget kakiku. Sudah berapa orang, ya yang aku tabrak? Kayaknya sial banget dia karena kecerobohan dari lakunya aku,” rutuk Freya seraya mengusap betis kakinya yang rada ngilu.


“Ayo, aku bantu. Maaf tadi aku sibuk lihat HP, jadinya gak konsen lihat jalan.”


Freya mengangkat wajah cantik jelitanya ke arah sumber suara lelaki pemilik nada Bariton yang tangannya mengulur untuk membantunya bangkit berdiri dari jatuhnya di lantai koridor.


“Angga?”


Lelaki berambut hitam itu terkekeh. “Rangga, bukan Angga.”


“Eh- iya, itu maksudku. Maaf sudah salah sebut nama orang, hehehe!”


“Hahahaha, no problem. Oh iya, kamu nggak kenapa-napa, Frey? Ada yang sakit, gak? Kalau ada bakal aku antar kamu ke UKS untuk ngobatin luka sakitnya,” ucap Rangga seraya mengangkat badan mungil Freya.


Freya menggeleng pelan dengan memaksa senyum. “Sakitnya udah lumayan, kok. Makasih, ya sudah bantuin aku.”


“Hehe, iya sama-sama- eh bentar! Kok wajahmu pucat sama sembab begitu? Sumpah, baru nyadar sekarang, lho aku!”


Freya menundukkan pandangannya dari mata Rangga dengan wajah muramnya. “A-aku ... em ...”

__ADS_1


Rangga yang langsung tahu, tersenyum pada teman perempuannya lalu mengajaknya untuk duduk bersama di kursi panjang yang ada di tepat belakang tembok koridor kelas. Freya yang air matanya sulit dirinya bendung buat kesekian kali, segera ia seka cepat daripada Rangga melihatnya.


“Freya! Kamu nangis?! Oh, bentar.” Rangga langsung mengambil alih tas ransel biru lautnya yang ia tenteng di pundak kiri untuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


“Nih. Kamu terima saja kotak plastik tisu ini, buat sekalian menghapus air matamu.”


Freya menoleh ke kotak tisu kecil yang diberikan oleh Rangga dengan tulusnya. “Eh! Gak usah, Ga! Itu, kan punyamu. Masa aku ambil?”


“Gakpapa, terima saja pemberianku. Ikhlas, kok. Aku gak tega lihat kamu nangis seperti ini.”


Pada akhirnya Freya menerimanya dengan lemparan senyumnya. “Iya, aku terima. Makasih ya, Rangga?”


Pemuda itu menganggukkan kepalanya dengan senyum kemudian memperhatikan Freya yang mengambil selembar tisu dari dalam kotak plastik kecil nang telah ia berikannya dengan rasa tulusnya. Rangga menatap gadis lugu itu yang mulai membersihkan sisa air matanya nang membekas di kedua pipi mulusnya.


“Ngomong-ngomong, kamu murung dan menangis seperti ini karena Komanya Angga di rumah sakit Bogor, ya?” tanya Rangga hati-hati.


Freya menarik ingusnya lalu menatap sendu temannya yang tetap duduk di sampingnya. “Kamu ternyata cowok yang peka, ya? Iya ...”


Rangga memberikan senyuman pilu. “Jika aku boleh tahu, bagaimana kondisinya Angga di sana? Apakah sudah ada perkembangannya?”


Freya meremat tisunya lalu kepalanya menghadap depan dimana air matanya telah mengumpul di pelupuknya untuk siap meluncur bebas turun. “Malah justru sebaliknya, Ga. Kondisi Angga semakin memburuk di ruang ICU.”


“Hah? Semakin memburuk?” Sungguh, Rangga tak menduganya bahwa teman lelaki Indigo-nya justru keadaannya menambah tingkatan keburukannya.


Freya menganggukkan kepalanya. “Kemarin sore, ada seseorang yang belum terdeteksi satpam ingin mencelakai nyawanya Angga di dalam kondisi yang sangat lemah. Bahkan gara-gara dia, Angga sempat kembali kehilangan detak jantungnya ...”


“Eh, apa?! Gila, ya! Emang gak punya otak orang itu! Bisa-bisanya membuat jantung pacarmu berhenti! Si brengsek itu melakukan aksi aniaya ke fisiknya Angga, kah?! Eh ... maaf, emosiku jadi kelepasan. Aku gak bermaksud bentak kamu, kok. Hehe! Sorry banget ya, Freya?”


Freya menggeleng lirih. “Santai saja.”


Air mata itu jatuh menetes di atas rok pendek Freya waktu kepalanya menunduk ke bawah. “Dokter juga sempat mengabari setelah menangani raga Angga, bahwa Angga mengalami kekurangan pasokan oksigen di dalam otaknya. Jujur saja, dari situ hatiku langsung hancur mendengarnya. Karena yang namanya pasien kekurangan oksigen di otak, itu akan berdampak ... ya, pasti kamu tahu.”


‘Angga kekurangan pasokan oksigen di dalam otak?! Gawat, cowok itu bisa mati kalau gak segera di tolong sama tenaga tangannya dokter! Emang bangsat yang udah ngelakuin Angga seperti itu, jir.’


Freya kembali menghapuskan air matanya walau suara tangisan itu terdengar terisak-isak di telinganya Rangga. Sebagai teman, pemuda berkulit sawo matang itu tidak tega melihat Freya yang terus menangis walau sudah berusaha meredakannya. Rangga sangat tahu sekali bila hatinya Freya dilumuri kepedihan yang amat mendalam terlebih Angga adalah seorang kekasih yang ia cintai sangat.


“Freya? Mau, gak aku bawa kamu ke UKS? Aku rasain dari sini, kamu lagi kurang enak badan, ya? Tubuhmu saat aku giring ke sini juga lemes bener. Kenapa kamu paksain untuk berangkat sekolah?”


“Aku gak kenapa-napa, kok. Aku masih kuat buat mengikuti pelajaran di sekolah, jangan khawatir.” Freya menjawab dengan lembutnya serta senyum.


“Begitu, kah? Yasudah, deh kalau gitu. Em .. kamu lebih baik duduk diam di sini dulu, ya? Redakan tangisannya terlebih dahulu, tenangkan juga hatimu sebelum masuk menginjak kelas dan siap mengikuti mata pelajaran dari guru, oke? Biarkan aku tetap di sini menemani kamu. Kalau perlu sampe bel dibunyikan it's okay aja, hehehe!”


Freya tersenyum lebar mendengar ucapan panjang lebar dari Rangga. “Tulus kamu kayak Angga, ya?”


Mata Rangga membulat. “Eh? Iya, ya? Hahaha! Bagus dong, berarti. Itu artinya sifat hatiku kayak pacarmu yang setia kepadamu- eh tapi gak ada yang bisa ngalahin mulia malaikatnya Angga, deng! Paling aku setengahnya kali, ya? Hadeh.”


Freya tertawa pelan walau mulutnya bungkam. Hatinya sedikit tenang dan membaik berkat celoteh lebarnya Rangga yang menemaninya kali ini. Menanti kesedihannya mereda beserta menunggu hatinya sampai benar-benar tenang sebelum mengikuti kegiatan belajar yang dibimbing oleh guru yakni wali kelasnya 10 menit nanti.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


21.00 PM


Dibawah langit malam yang ditaburi banyak cahaya bintang walau berangin, Jevran tengah sibuk membelai kucing peliharaannya yang ia kasih nama dengan Makabe. Entah mengapa bisa lelaki itu memberi nama kucing kesayangannya pakai nama bahasa Jepang. Menjadi unik tentunya.


Saat sibuk mengobrol dengan hewan peliharaannya yang sedang mendengkur senang dielus-elus tuan majikannya di balkon kamar, Jevran mendengar suara mesin motor Honda Vario matic yang sendang suaranya berada di daerah dalam gerbang rumahnya Reyhan.


Jevran memicingkan kedua matanya saat melihat gerbang cokelat rumah Reyhan dibuka oleh seseorang, hingga pemuda yang tangannya sedang membelai bulu kucingnya, matanya membelalak waktu menatap tetangganya-lah yang membuka gerbang rumahnya tersebut. Reyhan juga sedang menggiring motor silver miliknya ke luar gerbang yang mana ia telah mengenakan helmnya.


Jevran auto bangkit dan berteriak memanggil Reyhan dari atas balkon kamarnya. “Reyhan! Lo mau kemana malem-malem gini?! Cuacanya sekarang lagi dingin banget, lho! Entar lo bisa Demam!”


Jevran tentu tahu sekali, bahwa karakteristik Reyhan tak sanggup tahan yang namanya dingin apalagi angin yang menerpa kencang tubuhnya. Karena jika terkena, lelaki Friendly tetangganya itu bisa terserang Demam hingga waktu yang lama, antara harian atau mingguan.


Reyhan membuka kaca helmnya seraya mendongak ke atas balkon kamar Jevran dengan wajah datarnya. “Stop, ngatain kelemahan gue!”


Reyhan kemudian dengan sikap cueknya, menutup kaca helmnya kembali lalu mulai menunggangi motor matic-nya. Jevran gelagapan di atas balkon kamarnya waktu Reyhan menyalakan mesin motornya.


“R-rey, bukan gitu maksud gue! Gue cuman gak mau lo sakit! Lagian lo mau kemana, sih? Gue ikut, ya?!”


Tanpa menjawabnya, Reyhan langsung menarik gas motornya pada stangnya untuk meninggalkan Jevran yang sedang berbicara padanya. Tetangganya yang ia tinggalkan tanpa pamit atau berkata sepatah kata apapun, hanya mampu meratapi kepergiannya bersama motor untuk keluar dari gang komplek Kristal.


‘Rey, emang harus ya lo jadi berubah sampai seratus delapan puluh derajat kayak begini? Oke, gue tahu hati lo sedang dihancurkan sama kondisi Komanya Angga, tapi gak gitu juga caranya ...’


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Usai menempuh perjalanan hingga 30 menit, Reyhan tiba di RS Medistra Kusuma yang terletak di pusat kota Bogor. Dan kini sekarang lelaki itu sedang dinaikkan oleh lift setelah dirinya menekan tombol angka 4 untuk menuju ke lantai tersebut tempat dimana sahabatnya dirawat intensif.


Hatinya di malam langit yang indah ini, semakin kacau tak karuan setelah tadi harus mendengarkan perdebatan mulut keras dari kedua orangtuanya yang bertengkar kembali dengan masalah sepele. Daripada otaknya menjadi lebih Stress, Reyhan memutuskan pergi saja dari rumah untuk menuju ke kota Bogor menemani Angga yang terbaring Koma.


Saat pintu lift terbuka dengan otomatis, Reyhan lekas keluar dari dalam sana. Lelaki tersebut tanpa sengaja melangkah sambil lumayan menghentakkan kakinya karena hatinya sungguh hancur lebur, dan setelah tiba masuk di jalan pembelokan tempat patokan antara dua ruang rawat ICU yang saling berjejeran, Reyhan sama sekali tidak melihat sosok kedua orangtuanya Angga. Kesimpulannya, sahabatnya tak ditemani oleh seseorang.


“Om Agra sama tante Andrana kemana? Apa mungkin lagi dipanggil dokter Ello lagi ke ruangannya?” tanya Reyhan pada diri sendiri.


Reyhan menghela napasnya pendek lalu kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti menuju ke arah pintu ruang rawat ICU-nya Angga. “Untung gue ada pikiran inisiatif buat ke rumah sakit ini, jadi Angga aman karena gue jaga.”


Reyhan menyunggingkan simpulan senyumnya lalu tangannya mulai menarik gagang pintu aluminium yang permukaannya dingin ke bawah untuk segera membukanya. Namun di situ Reyhan sudah tak lupa mengenakan gaun baju hijaunya serta mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum masuk menemui sang sahabat Indigo yang senantiasa tetap terbaring lemah di ranjang pasien.


Setelah memasukinya ke dalam ruangan yang disambut oleh suasana dingin dan lembab, Reyhan menutup pintunya dengan lamban. Tetapi begitu menoleh ke belakang untuk menghampiri Angga, pemuda bermata iris hazel menawan itu reflek membenturkan tubuh bagian belakangnya karena terkaget setengah mati, bahkan matanya mendelik sempurna menatap depannya.


Sesosok lelaki berseragam SMA putih abu-abu dipadukan jas almamater biru dongker, membuat Reyhan langsung dejavu atau terputar otak ke masa lampau. Terlebih waktu matanya membaca dua nama lengkap di name tag siswa berbadan tinggi.


“You, Arseno Keindre?!” Napas Reyhan tercekat walau rupa wajah dan auranya tak seperti dulu dimana ia diteror bertubi-tubi serta mati-matian untuk menghancurkan hidup tenangnya di dunia.


Pemuda arwah yang berdiri di jarak 3 meter dari ranjang pasien tempat Angga terbaring bersama beberapa alat medis fundamental yang melekat di tubuhnya begitupun sebuah Ventilator nang untuk menunjang hidupnya, tersenyum pada Reyhan yang masih terkejut setengah mati sekaligus tak menduga bahwa Arseno kembali lagi dihadapannya.


“Senang sekali karena kamu masih ingat nama dan sosokku, Reyhan Lintang Ellvano.”


“T-tapi, bagaimana bisa?!”


Arseno yang dilemparkan kekagetan dari manusia itu, hanya menerbitkan senyuman bibirnya dengan memancarkan aura cerahnya dan efisiennya.

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2