Indigo

Indigo
Chapter 131 | Expressing Love?


__ADS_3

Angga menempelkan telapak tangannya di tembok lorong, dengan mata tak berkedip. Benarkah ia telah mulai mencintai seorang perempuan yang selama ini ia tak peduli dalam soal percintaan? Ini Sungguh gila bagi Angga.


Angga menggelengkan kepalanya beberapa kali, namun itu sama sekali tak mempengaruhi kondisi detak jantungnya yang masih saja abnormal. Pemuda tampan tersebut lantas itu langsung kembali memegang dadanya dengan merutuk kesal, beruntung saja tempat ini sangatlah sepi, jadi tak ada yang tahu bahwa gelagat Angga hari ini begitu aneh tak biasanya.


“Kenapa detak jantung ini gak mau berhenti, sih?”


“Kalau detak jantungmu berhenti, berarti kamu mati, dong?”


Angga auto terperanjat kaget nyaris tubuhnya melompat ke atas akibat mendengar celetuk suara gadis yang bernada lembut, sudah tentunya Angga merasa tak asing lagi dengan suara perempuan itu yang berada di belakangnya. “Setan- eh! Freya?!”


Freya yang dikatakan seperti itu oleh Angga meski tak sengaja, bertolak pinggang dengan wajah kesalnya. “Ih! Aku bukan setan, tau!”


Angga mengelus-elus dadanya dengan menghembuskan napasnya, pemuda tersebut yang barusan menunduk, menatap Freya bersama wajah raut bedanya. “Kamu ngapain ikutin aku??”


Freya memundurkan badan dan kepalanya. “Idih, ge-er! Siapa juga yang ikutin kamu? Orang aku habis dari toilet yang ada di belakang. Lihat kayak ada sosok bayangan hitam di jarak jauh depan, yasudah aku coba samperin- eh ternyata kamu. Habisnya, kamu pake jaket hitam, sih.”


“Enak saja kamu ngatain aku sosok bayangan hitam, itu artinya kamu sempat anggap aku makhluk gaib.” Angga setelah itu kembali mengatur detak jantungnya yang makin berpacu kencang tidak karuan, apalagi melihat sosok aura cantik ini yang berada di hadapannya.


Freya mengembalikan posisi kedua tangannya dengan sedikit teleng-kan kepala ke kiri, menatap sikap gelagat sahabat kecilnya itu yang aneh sekali. Bahkan lelaki tersebut nampak sungkan menatap wajah cantiknya yang macam boneka tersebut. “Angga? Kamu baik-baik aja, kan? Kok perasaan dari tadi kamu nunduk terus? Oh iya, tadi kenapa kamu langsung tiba-tiba kabur dari perpus??”


Angga yang dihujani banyak pertanyaan oleh Freya sampai bingung harus menjawab apa yang terkesan tidak aneh. Angga mendongakkan kepalanya dari tundukan-nya lalu kepala ia menoleh ke arah lain. “Itu! A-aku lupa ngerjain PR ...”


“Hm? Yakin? Seorang Anggara Vincent Kavindra, lupa mengerjakan PR dari tugas pemberian guru? Tumben banget, deh.”


“Lupa sekali-kali juga nggak apa-apa, lah. Gak ada masalah, kan?” jawab Angga dengan nada gugup.


‘Lupa apa? Semua PR di jadwal hari ini sudah gue kerjakan waktu di rumah. Huh, ini sebenarnya hanya alasannya gue saja.’


Freya memicingkan kedua matanya curiga dengan menatap wajah tampannya Angga secara intens, gadis lugu tersebut berdeham seraya memajukan kepalanya hingga otomatis itu, wajah paras cantiknya lebih dekat pada muka tampan lelaki tersebut. Angga yang ditatap serius seperti itu macam seorang detektif, memundurkan kepalanya sampai belakang kepala miliknya tertegah dinding tembok.


Bibir Angga nyengir sampai keningnya mengerut atas apa yang dilakukan Freya ini. Merasa tak mempunyai pilihan lain, lelaki tersebut meneguk lidahnya lalu mengeluarkan suaranya yang sudah ia pastikan nadanya tak bergetar bahkan tak gagap.


“Kita ke kelas saja, yuk? Sambil menunggu bel sekolah dibunyikan.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Akibat hujan deras ini, membuat beberapa siswa-siswi kesukaran untuk pulang ke rumahnya. Mereka di depan lobby sekolah, memandang langit kelabu dengan wajah kecewanya. Reyhan yang sibuk mengusap-usap kedua lengan tangannya nang terbungkus oleh jaket abu-abu blangkonya, menggerutu kesal pada lebatnya hujan yang tak kunjung-kunjung segera berhenti. Bahkan bukan hanya hujan saja yang ada, namun disertai angin sepoi-sepoi yang sanggup menyerang kulitnya mereka, membuat suasana dingin tetap tercipta.


“Kecewa banget, gue! Cengeng banget sih itu awannya?! Nangis mulu dari tadi, gak tau, apa kalau kami sedari tadi sengsara karena gak bisa balik?!” protes Reyhan mengomeli hujan yang di atas langit.


Johan yang sibuk mengirim chat pada kekasihnya yaitu Flo, menoleh ke arah adik kelasnya yang tak habis-habisnya memberikan omelan pada air hujan tersebut. “Woi! Udah kurang satu ons ya, lo? Ngapain lo marahin hujan segala?? Hujan tuh lebih baik jangan dikecewain, mending kecewa karena diputusin doi.”


“Apaan sih, Bang?! Lagian Reyhan belum punya. Jomblo akut maksudnya,” tanggap adik kelasnya tanpa berpaling dari langit warna kelabu.


“Hahaha! Mangkanya, cepetan lo cari pasangan hidup. Mau masuk jenjang kelas dua belas, pula. Masa masih single-single ae?”


Kini Reyhan menatap sinis Johan yang terkesan sedang meledek nasibnya. “Jangan menghina ya, Bang! Gini-gini Reyhan bersyukur, karena Allah masih mencarikan jodoh yang terbaik buat Reyhan. Mendingan jomblo lama, daripada dapet cepet ... ujungnya di sia-siakan terus dikhianati. Hih, ogah!”


“Subhanallah, mulia sekali hatimu, Reyhan? Gak ku sangka, ye. Seorang Reyhan Lintang Ellvano yang sikapnya barbar kayak kucing oyen, rupanya bisa alim juga!” ujar Jova lalu diakhiri tawa renyah.


“Kayak kucing oyen, katamu?! Heh, Sableng! Emangnya kamu gak bisa ngaca, apa?! Sendirinya aja tingkahnya kayak kucing garong! Oh, atau perlu aku rekam setiap gelagatmu yang seperti maling?!”


Jova mendengus banteng lalu berjalan mendekati Reyhan yang tampang mukanya terlihat akan ngamuk pada sahabat humorisnya itu. Yang benar saja, setelahnya si Jova menjewer kencang telinga kanan Reyhan hingga membuat pemuda jahil tersebut berteriak meminta ampun kepada Jova. Pekikan keras yang memekakkan telinga, hal tersebut Angga yang sedang tidur posisi punggung menempel di tembok, terusik karena pekikan salah satu sahabatnya.


Angga mendesis karena merasa sebentar lagi gendang telinganya akan pecah bila Reyhan tak lekas berhenti teriak. “Berisik!!”


CTARR !!!


Bertepatan Angga bersuara nada oktaf tinggi, tibalah suara petir keras yang menggelegar di atas langit kelabu gelap tersebut. Bahkan datangnya sebuah petir tersebut menyertakan cahayanya yang sangat kilat dari atas langit sana nang masih turun air hujan deras bahkan angin kencang.


Freya memundurkan langkahnya dengan sedikit takut jika petirnya mengenai dirinya. Kemudian gadis cantik tersebut yang tetap memakai jaketnya bersama resleting nang terkunci, melimbai kepalanya ke arah Angga yang teleng-kan kepala kanan-kiri bergantian dengan tangan kanan bertengger menyentuh tengkuknya. Sepertinya pemuda tampan itu merasakan pegal di lehernya.


“Angga?” Freya memanggil sahabat kecilnya dengan nada seperti sedang sedikit tertawa. “Lah, ternyata dari tadi kamu diem kayak patung di situ, ternyata tidur?”


Angga menolehkan kepalanya pada Freya lalu hanya mengukirkan senyumannya saja tanpa mengeluarkan kata untuk sahabat kecilnya yang tengah terkekeh. Disaat itu juga, Jova melepaskan telinga Reyhan dan sahabatnya yang ia berikan pelajaran pun berhenti berteriak, cuma menyisakan desis kesakitan.


“Sialan ini hujan! Sebenernya gak bakal masalah kalau gue bawa jas hujan, lah jas mantelnya aja ketinggalan di rumah!” gerutu sebal Reyhan sembari terus mengusap-usap telinganya yang telah memerah udang.


“Yah, kasihan banget deh kamu, Rey ...” ucap Freya usai beralih dari menatap Angga ke Reyhan.


Reyhan menarik wajahnya untuk menatap langit hujan tersebut yang amat meresahkan. “Ya gimana lagi, Neng? Nasib di hidupku selalu ae ada. Nah elo sendiri, Ngga? Lo bawa jas hujan kagak?”


Angga menghela napasnya sebentar kemudian setelah itu, melipat kedua tangannya di dada bidang miliknya. Menyenderkan punggungnya kembali sekaligus menatap Reyhan dengan tatapan biasa. “Bawa. Tapi ada di dalem bagasi motor, itupun gue gak bawa payung lipat buat anterin gue ke parkiran hanya untuk ngambil mantel jas hujan.”


“Hadeh! Yasudah lah, kita bertiga cowok yang di sini hanya cuman bisa meratapi keadaan nasib masing-masing.” Lantas, Reyhan menoleh ke arah kedua sahabat perempuannya secara gantian. “Kalian berdua? Sama kayak kami? Soalnya aku liat dari tadi, kalian gak pulang-pulang. Malah stay di sini nunggu hujan reda.”


“Ini juga mau pulang sebenernya, tapi gara-gara banyak di chat sama Nova, balikku jadi tertunda,” respon Jova sambil memasukkan ponselnya di tas ransel ungunya, lalu memasukkan salah satu tangannya di dalam tas bagian paling depan seperti sedang mengambil barang sesuatu.


“Kenapa, dah?” tanya Reyhan kepo.


“Huh! Biasalah, itu anak minta dibeliin jajan cemilan yang ada di Indomaret deket bangunan sekolah kita. Itu bocah satu emang sulit mengerti kondisi, mana lagi hujan deres gini, lagi. Kan, aku-nya males mampir ke toko itu nanti.”


“Anjay, adek laknat.”


“Udah dari karakternya, Nyuk.” Jova menanggapi sahabat Friendly-nya yang tinggi badannya seiras dengan jangkungnya Angga, usai mengeluarkan mantel jas hujannya bersama warna favoritnya.


Ketiga lelaki tersebut hanya mampu menatap Jova yang tengah mengenakan jas mantel hujan ungu violet-nya. Sementara Freya bukannya segera memakai mantelnya, malah berjalan ke arah kursi panjang lobby untuk duduk manis di sana. “Lah, Frey? Kok malah duduk? Gak ikut pulang, kah? Kan kamu juga bawa jas hujannya di tas.”


Freya menatap Jova dengan senyumannya sekaligus menggeleng lembut. “Aku mau nunggu hujannya reda dulu, biar aku bisa pulang bareng Angga.”


Pandangan Angga yang menunduk dengan posisi kedua mata ingin menutup karena rasa kantuknya menyerang dirinya, menjadi hilang saat Freya berkata seperti itu kepada sahabat gadis Tomboy-nya yang sekarang telah mengenakan jas mantel hujan lepau melindungi tubuhnya dari basahnya air hujan lebat dari atas langit.


Pemuda tampan Indigo tersebut, mendongakkan balik kepalanya lalu menoleh menatap Freya. Sementara Johan nampak terdengar sedang melegakan tenggorokannya hingga menimbulkan suara. “Uhuy ... perkataan apaan, nih? Kamu kayak mempunyai rasa perhatian lebih sama Angga.”


Freya beralih menatap Johan sang kakak kelasnya yang dari bangku kelas XII IPS 3 dengan sedikit melongok. “Kakak bicara apa, sih? Freya ngomong begitu kan karena kami apa-apa selalu bersama dari kecil.”


Angga yang sudah tak bisa menahan senyuman lebarnya, langsung cepat memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Arah mana yang penting wajahnya tak bisa dilihat jelas oleh mereka bertiga. ‘Lo memang perempuan polos ya, Frey. Selalu berkata apa adanya.’


Angga kemudian membalikkan posisi kepalanya menoleh pada Freya yang masih saja duduk anteng di kursi pojok lobby seraya menatap langit hujan. “Freya, kamu pulang saja nggak apa-apa. Aku tetep di sini menunggu hujan reda sama Reyhan dan kak Johan.”


Freya tersenyum hambar. “Beneran, Ngga? Padahal aku gak masalah lho, nunggu hujannya hilang.”


“Udah, sana pulang. Ini sebentar lagi juga mau Maghrib, lho. Seharusnya sebelum Maghrib tiba, anak perempuan harus sudah ada di dalam rumah, terutama kamu juga, Jova.”


“Iya, Anggaaaa ... sahabat cowokku yang paling ganteng, pengertian, perhatian, peduli, dan juga bijaksana! Ini kan aku juga mau pulang, cuman tinggal nunggu Freya doang, kok!”


“Biasanya gak peduli,” gumam Reyhan amat lirih.


“Gue denger.”


Reyhan cengengesan dengan seperti biasa meminta ampun pada Angga bersama cara saling menempelkan kedua telapak tangannya. Sementara Freya yang ada di kursi, memanyunkan bibirnya sembari kedua tangannya sibuk mengambil jas mantel pink bubble gum miliknya.


“Hmmm, yasudah deh. Kalau gitu aku duluan ya, Ngga? Kalian berdua juga ya, hehehe.”

__ADS_1


“Yoooo! Be careful dijalan buat kalian berduaaa!” sorak Reyhan dengan teriak girang, membuat Angga yang berada di sampingnya, segera memiringkan badan dan menutup satu telinganya agar terlindungi dari suara sahabatnya yang seperti speaker salon musik.


Jova dan Freya menganggukkan kepalanya bersamaan dengan senyum lebar, tak lupa sebelum melangkah pergi ke parkiran motor, dua gadis periang tersebut melindungi seluruh kepalanya masing-masing pakai tudung yang tergabung di jas mantel hujannya.


Kini Jova dengan gesit menarik lengan Freya untuk mengajaknya ke parkiran bersama-sama. Otomatis itu, langkah Freya yang biasa menjadi langkah cepat karena Jova yang berlari di depannya apalagi sambil menarik lengan tangan kanannya. Sedangkan, ketiga lelaki yang masih di dalam lobby, hanya memandang perempuan-perempuan tersebut bersama senyuman bibir yang merekah di wajah sempurnanya.


Dari arah jarak yang sangat jauh, di atas motor yang Freya tunggang, gadis cantik lugu tersebut mengangkat tangannya ke atas untuk melambaikan semangat kepada Angga yang diam berdiri di sana bersama lainnya. Angga pun tak ayal, lekas membalas lambaian tangan sahabat kecilnya dengan hati bahagianya menatap sosok aura Freya.


Setelah itu, Freya begitupun Jova di sana, menarik gas motornya masing-masing untuk melaju meninggalkan parkiran beserta bangunan sekolah SMA internasional ini. Angga menurunkan tangannya yang berguna buat membalas lambaian tangan Freya tadi, dan di situ si Reyhan meletakkan tangan kirinya di atas bahu kokoh Angga bersama ekspresi jahilnya bahkan lelaki humoris itu menampilkan seringai senyuman di bibirnya.


“Sedih, Ngga? Pisah sama Freya? Yaelah, pisah sebentar doang, kok. Nanti atau kagak besok bakal ketemu lagi, santai, hahaha!”


Angga berdecih kesal pada Reyhan, dengan tak segan-segan pemuda Introvert itu yang tengah memendam suatu rasa di hati, melempar tatapan tajam horor-nya ke Reyhan. “Berisik banget, lo!”


Angga segera mendorong tubuh sahabatnya ke samping, dengan otomatis karena kurang menjaga keseimbangan, Reyhan langsung terjerembab ke lantai lobby yang dingin tersebut. “Aduh! Sialan lo, Ngga!!”


Angga agak terkejut melihat sahabatnya yang kini terduduk di lantai akibat dorongannya. Padahal tadi ia mendorong tubuh Reyhan lumayan pelan dan tak cukup kencang, namun bagaimana bisa sang sahabat dengan mudahnya jatuh begitu saja?


“Lah, padahal dorongnya tadi pelan.”


Johan ikut terperangah menatap adik kelasnya yang terjatuh di lantai dan kini posisi keadaannya tengah meringis sakit mengusap pantatnya yang telah indah mencium keras di lantai itu. “Buahahaha! Sukurin! Emang enak?”


“Abang! Bukannya di tolongin malah diketawain! Sakit banget tau, Bang?! Emangnya yang Abang pikir, rasanya kek jatuh di kasur?!” komplain Reyhan.


“Itu mah, lo-nya aja yang emang dasarnya ringkih kayak pentol cilok! Wahahahaha!!!”


Reyhan kini cuma mendengus jengkel pada Johan sang kakak kelasnya sekaligus sang ketua PMR yang bertambah tertawa kencang terbahak-bahak hingga berakhir memegang perutnya karena akibat tawa kerasnya yang terus-menerus tak berhenti, membuat jadi kram seketika. Sementara si Angga, segera mencondongkan badannya ke bawah sedikit untuk membantu Reyhan bangkit dari lantai sembari meminta maaf dengan terkekeh, walau yang Angga dengar ini si Reyhan menggerutu sebal kepada nasib apesnya yang selalu saja menimpa dirinya lepau menjadi bahan hiburan orang lain.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Malam pukul 20.00, Angga masih terjaga dan belum tidur berbaring di kasur kamarnya. Pemuda tampan tersebut tengah duduk diam di pinggir kasur seraya merenungkan sesuatu yang sedang ia pikirkan melalui benak otaknya.


Angga masih tak percaya bahwa rupanya dirinya telah jatuh cinta pada seorang sahabat kecilnya yang sekaligus tetangganya di komplek Permata ini. Padahal sebelumnya itu, Angga sangat tidak peduli yang namanya soal percintaan dan dalam mencintai seorang perempuan. Namun, kali ini malah sebaliknya.


Jari-jemari Angga yang ada di tangannya saling bertautan di atas kedua paha sang empu, dan tanpa sadar pula lelaki tampan tersebut tersenyum mesem dengan semburat rona merah di kedua pipi wajahnya. Hal itu, membuat Cahya dan Senja yang tengah nongkrong di atas lemari pakaian manusia Indigo, melongok bingung ada apa dengan Angga sang manusia beku tersebut.


Padahal Angga berharap rasa deg-degan yang mana detak jantungnya berdegup amat tak karuan, segera mereda. Namun saat tiba di rumah, kembali timbul. Jantungnya sangat berdebar-debar di dalam dada. Dan sayangnya saat ini Angga tak sanggup mengontrol dirinya. Serta ini juga baru pertama kalinya pemuda tersebut merasakan bagaimana jika sedang jatuh cinta.


Senja menyenggol-nyenggol lengan sahabat kecilnya yaitu Cahya yang lelaki hantu itu tengah asyik melongok pada tingkah aneh Angga malam ini. “Cahya, itu si Angga kenapa, dah? Kok mesem-mesem mulu dari tadi??”


Cahya membungkamkan mulutnya lalu menjadikan senyuman miliknya berubah smirk. “Aku tau, Ja. Pasti cowok manusia Indigo frozen itu, lagi menyukai cewek dengan diem-diem. Kalau soal ini mah aku sudah jelas tau dan mudah aku tebak.”


Senja membelalakkan matanya dan menatap Cahya yang telah berkata seperti itu bersama yakin dirinya. “Hah?! Angga lagi menyukai cewek?! Seorang Anggara Vincent Kavindra yang cowok kaku itu naksir sama cewek?? Yang bener aja kamu, Ya!”


“Idih! Yaudah kalau kagak percaya, pokoknya aku yakin banget. Angga lagi menyukai sosok perempuan. Kalau dia memang posisinya biasa saja, gak mungkin itu dua pipinya merah gitu.”


“Hmmm ... ada benarnya juga sih kamu, Ya. Kira-kira Angga lagi menyukai siapa ya kalau cewek?” Senja kemudian berdeham lagi seraya berpikir-pikir perempuan yang selalu di dekatnya Angga. “Oh! Apa jangan-jangan si Freya kali, ya?”


Cahya sontak langsung menoleh ke arah Senja sang sahabat perempuan masa kecilnya. “Hah, Freya siapa?”


“Ya ampun, dasar cowok gak peka! Itu lho, si Freya Septiara Anesha sahabat kecilnya Angga sekaligus tetangganya dia yang rumahnya berhadapan sama rumah temen Indigo kita.”


Cahya menjentikkan jarinya dengan mata melotot sempurna. “Oalah! Cewek yang cantik kayak Bidadari di Surga itu?! Wah-wah! Demi apaan, coba? Si Angga suka itu sama Freya?!”


“Ih, aku cuman nebak doang, ye? Belum tentu kalau Angga emang suka sama Freya, tapi cewek lain. Mending aku tanya Angga aja, deh.”


“Yaudah sana, coba.”


Angga terkejut bukan main atas kehadirannya Senja yang tiba-tiba itu, apalagi memberikan pertanyaan yang membuat dirinya sangat terkesiap hingga darahnya berdesir cepat. “K-kamu ini kenapa?!”


Senja tertawa cekikikan mendengar suara nada gugupnya Angga. “Jangan pura-pura bodoh, Ngga. Aku ini arwah lho, jadinya segala apa yang ada di hatimu aku bisa tau, hehehe!”


Angga langsung membuang mukanya berpaling dari Senja dan menghadap ke depan seraya mengubah wajahnya menjadi datar serta dingin. “Mengganggu saja!”


Senja merangkak agar posisinya bisa sejajar dengan manusia Indigo yang mempunyai paras wajah tampan tersebut. “Mengganggu apa? Mengganggu kamu yang lagi sibuk mikirin Freya, yaaaa?!”


Angga balik menoleh menatap Senja dengan tatapan tajamnya. “Ck, kamu!”


“Gak usah pake marah-marah juga dong, Ngga. Elo kalau memang suka sama sahabat kecil lo sendiri yaitu Freya, mending langsung ungkapin aja perasaan lo sama dia. Daripada dipendam dalam hati gitu, kan gak enak banget kayak habis mendam mayat di belakang rumah.”


Angga nyaris saja terjungkal jatuh dari kasurnya saat bola matanya mengarah pada arwah hantu lelaki itu yang seumurannya ia yakni 17 tahun. “Setan alas!”


“Gue kan emang setan, Cuy! Gimana? Berani, kah elo mengungkap isi hati lo sama Freya? Ini kesempatan emas buat elo lho, Ngga. Keburu nanti si Freya di embat sama cowok lain lagi, hati lo malah jadi hancur setengah mati dan juga nyesel seumur hidup.”


“Oh ya pasti berani, dong! Angga kan cowok yang mempunyai jiwa keberanian!” buras Senja.


Begitu sulit jika sudah seperti ini, Angga telah tidak bisa berkata bohong lagi kepada dua makhluk astral yang auranya positif tak negatif macam hantu yang kerjaannya suka mengincar nyawa energinya Angga untuk merampasnya agar menjadi miliknya selamanya.


Dan kini, Angga hanya menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan kepala menunduk ke lantai kamarnya. Sementara Cahya melayang mengarah ke Angga dan duduk di sebelahnya. “Lo tembak saja besok si Freya pas di sekolah.”


“Tapi gue belum pernah dan nggak bisa menembak hati seorang perempuan terlebihnya Freya,” jawab Angga dingin.


“Cowok cupu, lo! Ya segala cara yang lo bisa saja, usaha apa yang lo mampu buat menyatakan perasaan cinta dengan Freya. Gue sih sebagai temen arwah lo cuman ngasih saran aja ye, supaya Freya gak keburu dicuri hatinya sama kaum Adam lain. Dan gue di sini juga nggak akan merekomendasikan cara menembak cewek yang lo sukai.”


Angga menghempaskan napasnya dengan menggelengkan kepalanya. Kemudian kepala pemuda tersebut spontan melintang ke arah alat musik melodis miliknya yang berada di samping lemari pakaiannya, ialah gitar hitamnya. Di situ, Angga lumayan mengukirkan senyuman tipis andalannya. Sepertinya Angga telah menemukan cara yang ampuh untuk menyatakan perasaannya besok kepada Freya meski mulai malam ini ia harus mampu mengontrol detak jantungnya yang berdebar terlebih dahulu baru memulai aksinya esok hari yang akan datang.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Keesokan harinya ialah hari Jumat dimana besok dua hari seluruh siswa-siswi SMA Galaxy Admara akan libur. Di dalam sebuah kantin luas yang disuguhkan banyak penjual aneka makanan dan minuman di sana, Angga tengah menilik jam lingkaran di dinding tembok pelosok kantin tersebut.


Sepertinya ini adalah momen yang tepat untuk Angga melakukan sesuatu pada Freya. Sedangkan sahabat kecilnya itu tengah menyedot minuman Pop Ice yogurt strawberry menggunakan sedotan plastik, seperti Jova dan Reyhan sibuk memainkan ponselnya dengan sumringah bahagia, entah apa yang sedang mereka lakukan bersama ponselnya.


Angga menyentuh lembut lengan Freya lalu menatap gadis polos itu. “Freya, ayo ikut aku sebentar.”


Freya melepaskan ujung atas sedotannya dari mulut lalu memberi tatapan bingung pada Angga. “Kemana?”


“Kamu pasti akan tahu,” ujar Angga bernada lemah lembut seraya menarik pelan lengan Freya untuk beranjak dari kursi dan juga meninggalkan kantin.


Freya pun mengangguk senyum menuruti pada ajakan sahabat kecilnya yang gadis cantik jelita itu tidak tahu Angga ingin mengajak dirinya kemana. Sementara lelaki Friendly serta gadis Tomboy itu kompak melirik ke arah mereka berdua dengan tatapan curiga.


“Kemana, mereka? Ini harus cepat-cepat diselidiki oleh empat mata, wehehehe!” ucap Jova dengan membentuk senyuman iblisnya.


Lalu Jova menoleh ke arah Reyhan yang kembali fokus memainkan ponselnya yang di layar tersebut terdapat game action perangnya. “Rey! Ayo kita buntuti mereka berdua!”


“Duh, nanti aja, dong. Lagi nanggung banget, nih!” keluh Reyhan seraya kedua tangannya asyik mengotak-atik tombol game favoritnya.


“Alah! Udah nanti aja dilanjutinnya, cepetan ayo! Keburu kita kehilangan jejak Freya sama Angga!” sebal Jova seraya merengkuh kencang leher Reyhan buat menariknya dari kursi.


“Uhuk! W-woi! Jangan cekek leherku juga, kali!”


“Yeh! Siapa juga yang cekek lehermu?! Cowok kok lebay kayak anak layangan!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...

__ADS_1


Satu tangan Angga membuka pintu sebuah suatu ruangan dengan lebar. Freya mengerutkan keningnya yang lengannya masih digenggam oleh Angga. “Lho? Kita ngapain ke dalem ruang musik, Ngga?”


Angga menolehkan kepalanya ke belakang lalu hanya memberikan senyuman hangatnya saja tanpa menjawab pertanyaan Freya yang gadis itu sedang bingung. Tak lupa setelah itu, Angga menutup pintu tersebut meski tak rapat sekali. Freya kini hanya pasrah mengikuti langkah Angga ke panggung kecil pojok ruangan musik yang amat sunyi.


Setelah itu, Angga melepas genggamannya dari lengan Freya lalu membungkukkan badannya untuk mengambil wadah tempat penyimpan satu gitar yang terbungkus di dalamnya. Usai tersebut, Angga duduk di salah satu kursi jenis event. “Ayo sini duduk, jangan berdiri terus di situ, nanti kakimu bisa pegal.”


“Oke.” Freya ikut duduk di kursi event yang ada di sebelahnya Angga. Gadis tersebut lalu menatap wajah tampan sahabat kecilnya itu dengan begitu detail, bahkan tanpa ada sadar, Freya memiringkan kepalanya sedikit.


Freya memperhatikan Angga yang membuka resleting casing gitar akustik nang ada di pangkuan paha pemuda tersebut. ‘Angga mau nyanyiin lagu buat aku, ya? Tapi kenapa? Orang mood-ku lagi oke-oke saja, kok. Nggak buruk. Duh, kamu ini sering aja kebiasaan bikin aku bingung, apalagi dari senyumanmu itu kelihatan misterius.’


Angga yang mendengar suara relung hati Freya hanya diam saja dengan senyuman tak pudar. Ia lekas menaruh casing gitar akustik tersebut di lantai. Lalu berselang detik kemudian, jari lentik Angga memetik senar gitar untuk pemanasan sejenak.


“Freya. Aku mengajak kamu ke ruang musik ini, karena aku ingin menyanyikan lagu sesuatu khusus untuk kamu,” ujar Angga menatap hangat gadis cantik tersebut.


Kedua mata Freya berkedip-kedip karena mendapatkan sorot mata Angga yang berbeda apa yang ia lihat saat ini. Gadis lugu tersebut pun hanya manggut-manggut kepala dengan menyongsong badannya menghadap ke arah Angga. Sementara Angga yang telah mendapat jawaban Freya dengan gerakan tubuh, menarik napasnya panjang-panjang lalu menghembuskannya keluar.


Kedua matanya pemuda itu pejamkan dengan tenang dan rileks, lalu sedia mulai menyanyikan sebuah lagu khusus untuk Freya dengan bantuan alat musik gitar akustiknya.


♫ Saat pertama, ku melihat dirinya


Hatiku bertanya, tanya siapa si dia


Dag dug jantungku berdebar tak menentu


Diakah jodohku


Terus ku mencoba mendekati dirinya


Lalu ku bertanya siapakah namanya


Dia pun tersenyum, tersipu malu-malu


Berdebar jantungku ♫


DEG


Freya yang awalnya mendengar nyanyian merdunya Angga bak seperti seorang artis vokalis secara santai, kini rada kaget spontan menegakkan badannya. ‘Kok lagunya begini ...?!’


♫ Sayang


Jantung ini berdebar, sayang


Berdegup tak karuan, sayang


Ku mau bilang


Bolehkah aku jadi kekasihmu


Bolehkah aku mencintai dirimu


Cintaku ini bukanlah cinta palsu


Jangan abaikan cintaku ♫


Freya kini melongo tak percaya rupanya lagu yang Angga nyanyikan khusus untuknya macam ini. Entah mengapa di situ, tiba-tiba detak jantung gadis tersebut berdegup dengan cepat. ‘Aduh! Ini jantungku kenapa, yaaa?! Ini juga lagunya siapa sih yang Angga nyanyiin? Kok asing banget, huhu.’


♫ Bolehkah aku jadi kekasihmu


Bolehkah aku mencintai dirimu


Karna dirimu yang terbaik untukku


Terima cintaku ♫


Freya merapatkan bibirnya menatap Angga tak mengerti mengapa menyanyikan lagu romantis seperti ini. Mungkin lagu itu telah selesai, karena lelaki tampan tersebut menghentikan permainan gitarnya beserta menghentikan suara nyanyian merdunya yang mampu membuat hati para perempuan meleleh bila mendengar suara konvensional Angga.


Freya reflek memalingkan wajahnya dari Angga dengan kondisi kedua mata terbelalak lebar. ‘Kamu jangan ge-er dulu, Frey! Bisa aja Angga nyanyikan lagu romansa kayak gitu karena buat menyatakan rasa perasaannya pada cewek lain. Gak mungkin, lah kalau Angga suka sama kamu, kamu kan sama Angga cuman sebatas sahabat lama doang. Eh, tapi tadi Angga bilangnya lagu itu khusus buat aku. Haduh, yang bener mana?’


“Freya? Kamu kenapa?”


“Eh, enggak!” Gara-gara pertanyaan Angga yang suaranya tiba-tiba muncul itu, membuat Freya spontan menatap pemuda tersebut kembali yang telah selesai menyanyikan lagu untuk dirinya.


‘Duh, kenapa aku punya firasat gak enak, ya? Angga tuh sebenarnya buat apa nyanyikan lagu itu buat aku? Mana dari tatapannya beda banget, lagi.’


“Kamu paham, kah maksud aku menyanyikan lagu itu tadi buat kamu?” tanya Angga lembut.


Freya hanya diam tak mau menjawab pertanyaan serius dari Angga. Bahkan dengan perlahan, bola mata Freya saling mengarah berpaling dari Angga. Sayangnya pula, Angga tak dapat melihat isi pikiran Freya begitupun isi hatinya. Seolah seperti dibatasi.


“Freya, aku sebenarnya ingin jujur sama kamu. Tujuan aku menyanyikan lagu untukmu tadi, karena aku suka denganmu.”


“Mau, kah kamu menjadi pasangan kekasih hidupku?” tanya Angga agak lirih serta berhati-hati.


DEG DUAR


Freya amat terkejut bukan main pada pertanyaan Angga yang sangat mustahil ia dengar. ‘A-apa aku gak salah denger, barusan?! Angga suka sama aku dan pengen menjadi pacarku?! Huaaa ... ini pasti cuman mimpi.’


Senyuman Angga menjadi lenyap seketika saat dirinya teringat dan otaknya terputar akan ucapannya Freya saat waktu bulan lalu bersama ia.


Flashback On


“Hiks! Aku menyesal karena telah memilikinya, Angga! Aku memang cewek yang bodoh dalam memilih pasangan!”


“St-st! Jangan ngomong seperti itu, Freya. Kamu bukan cewek yang bodoh, dianya saja yang memang buruk untuk kamu. Yang penting, sekarang kamu sudah selamat dari ulahnya Gerald, oke?”


“Aku nyesel, Ngga! Nyesel, huhuhu!”


“Aku sudah nggak mau berhubungan sama dia lagi! Aku jera banget dengan Gerald, Ngga! Cowok itu udah berhasil buat aku trauma untuk kembali memiliki pacar! Hiks! Dia jahat, Ngga! Jahat!!”


^^^{Dialog Berada Di Chapter 125}^^^


Flashback Off


Angga menepuk keningnya pelan. ‘Aduh, gue baru ingat. Freya pernah bilang bahwa dia trauma untuk kembali memiliki pacar, huh ... percuma saja juga gue menyatakan perasaan cinta ini pada dia. Lo cowok bodoh, Ngga.’


Angga melepaskan tangannya dari jidat lalu menoleh menatap Freya yang mukanya masih bersembunyi darinya. Angga tersenyum pahit kepada gadis cantik tersebut yang tak kunjung segera menatap wajahnya.


“Kalau kamu nggak mau dan menolak cintaku ini, gak apa-apa, kok. Aku mengerti bahwa kamu pasti masih trauma akibat masa lalu-mu bersama Gerald waktu malam itu.”


Freya masih saja sengap tak berkutik sedikitpun macam patung duduk. Angga juga siap kalau nanti ungkapan rasa suka dan cintanya ini pada Freya, ditolak oleh perempuan Nirmala cantik tersebut.


Akankah Freya menerima cintanya Anggara?


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2