
Farhan rada mengepalkan telapak tangannya di atas ranjang pasien milik anaknya. Beliau menampilkan wajah resah gelisah-nya terhadap Reyhan yang diam bisu dalam tubuhnya yang berbaring di ranjang dengan kedua mata buka hadap depan. Bibirnya yang masih pucat hanya bungkam, tak menjawab segala celotehan Jihan dan juga Farhan. Ya, walaupun dirinya itu sudah tak lagi Koma namun pemuda itu hanya diam membisu seperti patung terbaring.
“Reyhan, sarapan dulu yuk. Nih Mama suapin pakai bubur,” ucap Jihan seraya menyodorkan sendok ke mulut anaknya.
Reyhan tak merespon sama sekali, membuka suara untuk hanya menanggapi Jihan juga enggan. Rambutnya terlihat acak-acakan, mukanya penuh dengan ekspresi orang yang tengah begitu Depresi mengenai kelumpuhan yang ia alami.
Jihan yang sabar menghadapi anaknya yang jauh berbeda dari yang beliau kenal, mengelus bahu Reyhan dengan satu tangannya lagi. “Ayo buka mulutnya.”
Reyhan dengan segera mengangkat tangan kirinya untuk menepis pelan tangan Jihan yang akan menyuapi dirinya, bahkan Reyhan menjauhkan tangan sang ibu yang memegang sendok dari mulutnya. Setelah itu Reyhan menghadapkan kepalanya ke kiri dan memejamkan matanya untuk kembali tidur. Jihan menghembuskan napasnya dengan hati penuh gundah begitupun Farhan yang menundukkan kepalanya.
Jika sudah seperti itu, Jihan tak bisa memaksa Reyhan untuk isi perutnya di pagi hari ini. Jihan memutuskan meletakkan mangkuk bubur tersebut di atas meja nakas. Meskipun hatinya sakit melihat sifat anak semata wayangnya berubah total, Jihan tetap tersenyum menghadapi Reyhan yang telah tertimpa musibah hingga anak satu-satunya menjadi seperti ini. Wanita cantik itu mengulurkan tangannya meraih rambut Reyhan untuk merapikannya yang teracak-acak berantakan seperti hati lelaki tersebut yang amat hancur menghadapi kenyataan yang tak bisa ia terima takdirnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Sekumpulan para siswa-siswa tengah menikmati bakso yang telah mereka bayar menggunakan uangnya masing-masing. Bakso urat yang dimakan para pemuda SMA Galaxy Admara begitu lezat dan membuat selera makan mereka bertambah.
“Gilak parah! Ini enak banget, we! Jadi pengen tau resep rahasia dari bapak pedagang Bakso yang ter-wuenak ini!” heboh Andra yang beralih menyeruput kuah bakso segarnya di mangkuk.
Kenzo yang sedang mengiris bakso Jumbonya menggunakan sendok karena tidak ada pisau dapur, menatap sinis Andra yang lebay itu. “Anak norak!”
“Heh, Zo! Asalkan lo tau nih ya, bakso ini tuh rasanya kayak di Surga. Udah enak, bikin nagih, lagi!”
Aji yang mengunyah babat Baksonya langsung mengerutkan keningnya. “Emangnya lo pernah ngerasain Surga? Belum tentu lo jadi penghuni Surga, siapa tau masuknya ke Neraka.”
“Temen Dajjal lo, Ajinomoto!”
Jevran tengah melahap seledri bakso miliknya dengan penuh selera membuat Aji akhirnya menatap Jevran jahil. “Tuh lihat, si Jevran aja makan seledri-nya udah kayak kambing makan rumput. Lahap bener kayak gak pernah makan seledri setahun hahahaha!”
Jevran menatap kesal Aji seraya mengunyah seledri yang ia makan, dan setelah ia menelan hasil kunyahan-nya, Jevran mengangkat mangkuk baksonya yang masih belum habis. “Gue guyur pake kuah bakso, mampus lo! Lagi enak-enak makan juga, situ malah bikin sini gak selera makan! Anak Anjing!”
“Eh! Lo ngatain gue apa, tadi?! Anak Anjing?! Heh, situ ngerasa gak kalau kelakuannya tiap hari ngajak perang medan dunia?! Elo tuh ya, gue udah bilangin sama lo, kalau-”
“Makan nih tahu bakso!! Cerewet mulu dah dari tadi!” Raka menyumpal tahu Bakso yang ada di meja ke mulut Aji dengan tangkasnya.
“Huk! Uhuk! uhuk!!”
“Weh anjir! Main asal sumpel-sumpel! Emangnya mulut gue lobang air, apa?! Temen laknat, lo!”
“Woi! Udah kenapa sih, berantem mulu perasaan dari tadi. Udah ayo cepet di makan nanti malah keburu bel istirahat selesai,” tegur Joshua
“Ho'oh tuh! Heh Maemunah, mending lo kalau berantem atau debat, sama Angga aja. Dijamin lo dibuat Angga diem seribu kata!” timpal kesal Ryan.
Angga tengah mencoba menggali maksud bentukan senyuman Arwah negatif itu waktu ia kemarin sore berada di RS Wijaya, pemuda Indigo ini merasa janggal pada Arseno yang seperti ingin berulah lagi, tetapi yang Angga rasakan bukan hanya Reyhan saja yang ingin sosok itu perbuat tetapi manusia lain.
‘Apa Arseno ngasih gue tanda-tanda dari cara dia seperti kemarin? Gue mesti harus gimana? Gue sudah pastiin sama Arwah sialan itu bakal ganggu Reyhan lagi entah kapan.’
Angga menuangkan sambal tanpa melihat ia menuangkannya sambil terus merenungkan untuk menerawang maksud dari Arwah negatif tersebut. Hingga tanpa sadar Angga menuangkan sambal ke baksonya begitu banyak lebih dari dua kali. Temannya yang ada di dekatnya juga tidak menyadari Angga yang terus saja menuangkan sambal menggunakan sendok kecil ke dalam mangkuk kuah bakso begitu banyak, mereka terlalu sibuk menikmati baksonya masing-masing.
Angga langsung meletakkan sendok kecil pada tempat wadah sambal kemudian mengambil sumpitnya untuk mengaduk-aduk mie-nya yang telah tercampur banyak sambal, lihatlah seisi makanan Angga sudah berwarna merah terkecuali seledri-nya.
Angga memulai menyempit mienya pada sumpit miliknya kemudian lantas itu Angga mulai memasukkan mie bakso ektra pedasnya itu ke dalam mulutnya. Namun disaat Angga mengunyah ia merasakan ada rasa yang amat dahsyat dibanding ia makan sebelumnya, selesai mengunyah kedua mata Angga terbelalak cukup lebar, wajah Angga memerah serta kedua telinganya begitu panas. Jangankan itu saja, perut Angga menjadi langsung terasa mendidih dalamnya.
“Astagfirullah- huaaahhh!!! Huhh! Huhh! Huhh! Pedas pedas pedas!!!”
Semuanya yang ada di kantin maupun di luar kantin menoleh ke Angga yang berteriak kepedasan seraya mengibaskan mulutnya dengan telapak tangannya. Seketika Angga langsung ditertawakan oleh semuanya mulai dari teman-temannya yang duduk makan bersamanya, para siswa-siswi lain, serta penjual-penjual kantin. Angga yang berkeringat dan wajahnya memerah dikarenakan kepedasan, bahkan dalam perutnya terasa mendidih dan kedua telinganya panas segera mengangkat gelas es jeruknya lalu ia teguk cepat hingga tandas tak tersisa. Namun pemuda tampan itu masih saja merasa kepedasan bahkan rasa pedasnya itu naik ke lambungnya.
Kenzo dengan cepat mengambilkan satu kerupuk berukuran sedang untuk temannya yang sangat kepedasan bahkan sampai memegang perutnya. “Nih Ngga! Lo makan kerupuknya, siapa tau pedesnya cepet hilang!”
Masih ditertawakan kecuali Kenzo dan Joshua, Angga tak memedulikan lalu memakan kerupuk udang yang diberikan oleh temannya itu. Bagaimana tidak di sorak-sorak tawa dengan mereka? Angga belum pernah berlaku tingkah seperti itu di depan mata para mereka, yang sering mereka lihat adalah sikap cool pendiam dari Angga si pemuda Indigo tampan tersebut.
“Gimana Ngga? Udah hilang??” tanya Joshua.
Angga menggelengkan kepalanya kuat sementara kerupuk udang yang ia makan telah habis. Joshua yang tak bisa melihat anggota kelasnya yang masih kepedasan, dengan langsung cekatan ia mengambilkan gelas Pop Ice Choco Cookies miliknya kemudian beranjak dari kursi dan menghampiri Angga yang duduk paling pojok jauh darinya.
“Angga, coba lo minum susu Pop Ice ini, cara buat meredakan pedas, lo harus minum susu biar pedasnya cepat hilang. Nih,” sodor Joshua yang segera diterima Angga kemudian ia di teguk perlahan agar tidak tersedak di tenggorokan.
Andra menilik mangkuk bakso Angga yang penuh banyak sambal, jadi tidak heran kalau temannya sangat kepedasan seperti itu. “Pantesan, banyak banget sambel yang lo kasih?! Bisa bahaya buat lo yang gak kuat pedes!”
“Sok-sokan gaya lo banyakin sambel, gak kuat gak usah jago hahahahaha!!” ledek Raka.
“Heh!! Temen kita lagi kayak gini, lo malah ngetawain! Rasa pertemanan lo sama Angga dimana? Ini dia sampai sakit megang perut, lho!” tegur tegas Joshua untuk tidak menertawakan Angga.
“Lagian lo ngapain sih main eksperimen makan sambel banyak-banyak? Kasihan tuh usus sama lambung lo, nanti bisa luka. Apalagi lo sudah sampe pegang perut gitu. Sakit, kan pasti?!”
“Gak usah lo tanya! Udah jelas Angga sampe kesakitan gitu, gak punya mata ya lo?!” semprot Kenzo pada Aji.
“Eh Ngga, lo gak apa-apa kan? Sampai kesakitan gitu, mending ke UKS aja gih!” suruh Jevran yang tawanya mereda dan mulai khawatir pada temannya.
“Sssshh, nggak. Gue nggak kenapa-napa,” jawab Angga dengan nada menekan.
“Gak usah sok kuat Ngga! Ayo ke UKS, biar gue yang papah lo!” ucap tegas Joshua yang mulai mengangkat tangan kanan Angga dan ia rangkul di tengkuknya.
Angga dengan pasrah menuruti Joshua yang memapahnya ke ruang UKS, perlahan Angga beranjak dari kursinya dibantu oleh ketua kelas yang peduli sekali pada temannya.
Sementara di sisi lain dari kejauhan, gadis yang masih berumur 16 tahun menatap genit Angga. Gadis itu adalah Rainey dengan nama lengkap Rainey Keysa Alevala. Sedangkan anak-anak buahnya yang menjadi pesuruh Rainey tengah memposting sesuatu di akun Instagramnya tersendiri.
“Ih, Kakak ganteng masuk UKS? Kasian banget, deh. Tapi gakpapa deh sakit-sakit gitu masih cakep,” ucap Rainey dengan nada kecentilan.
“Ney, lo sudah ngerjain PR belum? Kalau belum kerjain bareng yuk di kelas, gue juga belum soalnya. Takut di hukum, gue.” Gadis yang menyerong badannya ke hadapan Rainey adalah Gantari Adiera Hanin dengan nama panggilan depan ialah Gantari.
__ADS_1
“Ah, males banget gue! Lagian bel masuknya masih lama kok. Mending gue ngeliatin kak Angga yang dibantu sama temennya itu. Kyaaa, demen banget gue sama dia, yang gantengnya gak ada bisa ngalahin,” jawab Rainey masih menatap kepergian Angga dengan menangkup wajah kanan bersama tangannya, sementara siku tangan gadis itu menyangga meja makan kantin.
“Hah? Lo suka sama kak Angga?? Kakak kelas cowok itu lo sukai? Yang bener aja lo, Ney!”
“Emangnya kenapa sih?! Dari hati gue suka banget sama kak Angga si cowok ganteng itu hihi!”
“Eh, anjir! Kak Angga itu susah buat di dapetin hatinya! Jangankan begitu, sikapnya aja bikin nyebelin. Udah cuek, dingin, kalau ngomong juga suka singkat. Gak usah deh lo suka sama kak Angga, yakin gue, hati lo bakal sakit.”
Rainey terkejut dan melirik Gantari. “Hah? bakal sakit hati??”
“Yaiyalah! Karena pasti meskipun lo mengungkapkan suka cinta sama kak Angga, lo bakal di tolak mentah-mentah. Ya emang sih, kak Angga itu cowoknya emang cool dan terbilang ganteng di SMA ini, tapi gue yang bilang gitu .. gak ada hasrat gue buat suka sama dia.”
“Iya lho sumpah! Lagian kalau lo jadi pacarnya, sama aja lo berurusan sama kak Jova yang galaknya kayak singa betina. Kak Jova kan sahabatnya kak Angga.”
“Belum lagi lo juga berurusan sama kak Reyhan yang setia banget tuh sama kak Angga. Hih, harusnya lo mikir sejauh itu, lo tau kan suara kak Reyhan kalau marah udah seperti singa jantan ngaum,” tambah seorang gadis bernama Eliana bersama nama panjangnya ialah Eliana Letta Herfana.
“Eh, El ngomong soal kak Reyhan, kak Reyhan masih Koma kan, ya??” tanya Gantari.
“Apaan-nya! Udah bangun, anjir! Gue denger kabar itu dari kak Jova yang ngomongin semua di kelasnya waktu kemarin hari Senin,” tanggap Rainey.
“Cepet banget dah sadarnya!” pekik Gantari.
“Cepet darimana?! Kak Reyhan itu Koma sampai empat bulan gara-gara ketabrak truk waktu dulu! Bagi gue itu udah lama banget. Tapi herannya nih ya, kak Reyhan yang cowoknya galak dan tukang emosian tapi kenapa bisa disukai banyak anak siswi-siswi seumuran kita bertiga?? Keren banget itu kak Reyhan dijulukin Prince Charming dan populer di SMA ini,” ujar Eliana.
“Nah, mending lo lepasin aja ikatan hati lo dengan kak Angga. Gak pantes, udah!” tutur Eliana.
“Belum ada ikatannya, njir!”
“Yaudah gini aja, lepas kak Angga lo cari cowok lain yang sekiranya cucok sama lo,” timpal Gantari.
“Hah? Siapa lagi selain pangeran ganteng idaman gue??” tanya Rainey.
“Kak Reyhan Lintang Ellvano, kan itu cowoknya ramah banget kalau sama adik kelas. Apalagi dia juga ganteng kayak kak Angga.”
“Yakali gue suka sama kak Reyhan, El?! Sialan lo, lihat mukanya yang kadang banyak emosi, bikin gue mundur takut!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Johan terlihat sibuk mengobrak-abrik kotak P3K untuk mencari dua alat penyembuh luka yaitu Alkohol dan Betadine. Bahkan siswa ketua PMR kelas XII itu juga mencari-carinya di meja dalam ruangan UKS yang begitu sepi.
“Elaaaah! Mana sih itu betadine sama alkoholnya?! Kok di UKS gak ada?! Apa dibawa adik kelas kali, ya? Udah jarang gue ke UKS gara-gara tugas numpuk mulu! Hhhh ...”
Johan memutuskan duduk di kursi UKS sebagai penghuninya karena tak ada selain ia yang menjaga ruangan UKS. Baru saja akan menyadarkan punggung untuk bersantai karena tugasnya telah terselesaikan dengan lancar, pintu ruang UKS dibuka oleh satu orang yang tengah memapah temannya yang sedang kesakitan. Seketika itu, Johan cepat berdiri melihat wakil PMR-nya yang merintih sakit.
“Ngga?! Eh lo kenapa bisa gitu?!” kejut Johan berlari mendatangi Angga begitupun Joshua.
“Bang, untung ini anak sampai di UKS. Mau pingsan soalnya tadi,” ucap Aji.
Johan dan Joshua perlahan mendudukkan Angga kemudian membaringkannya. Sudah hampir seperti sakit asam lambung dan sudah pusing keliyengan akibat kesalahan ia makan tadi.
“Ini si Angga sebenernya kenapa?! Itu mukanya malah jadi agak pucet gitu, sama wajahnya rada merah. Gak keracunan kan temen lo ini?!”
“Enggak sih Bang, tadi tuh si Angga kebanyakan makan sambel di kantin. Ya tau lah Angga tuh gak kuat makan terlalu pedas, kasian banget Bang itu anak mau semaput rasanya.”
“Sebanyak berapa itu, Ji?”
“Kalau dikira-kira tadi, lima kali tuang di baksonya.” Aji menjawabnya dengan yakin.
“Ya Allah Ya Robbi! Banyak bener itu! Yaelah, ada-ada aja lo Ngga!”
“Biasanya yang gak kuat makan pedas apalagi kayak Angga, bisa cepat masuk rumah sakit. Tapi ini si Angga nyawanya tangguh kuat banget kayak baja,” timpal Raka.
“Alhamdulillah dong kalau gitu. Oh iya Kak, si Angga gak kenapa-napa kan? Soalnya dia makan sambelnya terlalu banyak, takutnya kalau ada permasalahan di bagian lambungnya atau ususnya apalagi kepalanya udah pusing betul sampai keliyengan.”
Johan menatap sekilas Angga yang memejamkan matanya. “Sans Joshua, temen lo gak kenapa-napa kok. Biarin tiduran dulu di sini.”
“Alhamdulillah kalau gak kenapa-napa. Yaudah ya Kak, kami mau keluar dulu. Makasih yang tadi,” ucap Joshua.
“Yoi, sama-sama. Keluar aja gakpapa, masih ada waktu gue buat jagain Angga di sini.”
Usai tersenyum menanggapi jawaban Johan, para adik kelas lelaki Joshua melenggang keluar dari ruang UKS yang sejuk tersebut. Mereka pergi ke kelasnya agar kalau bel nanti mereka tak terburu-buru ngibrit ke kelas. Bu Aera mendisiplinkan murid-muridnya untuk tak datang terlambat masuk ke dalam kelas usai istirahat termasuk pengajarannya nanti untuk membimbing kelas XI IPA 2
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di kelas XI IPA 2, para siswi-siswi asyik mengobrol yang tepatnya bergosip, sedangkan Freya lebih suka curhat, bercanda ria di sekelompok kawannya yaitu Lala, Rena, Zara, dan satu sahabatnya ialah Jova. Namun saat Freya hanya menoleh ke belakang, gadis polos itu dikagetkan Aji yang tersenyum padanya.
“Eh kenapa, Ji? Tiba-tiba ada di belakangku, kan aku jadi kaget hehehe.”
“Sori Cantik, gini aku mau cuman ngasih tau kamu sama Jova kalau Angga masuk UKS. Palingan di sana dia lagi tiduran.”
“Masuk UKS??!! Lho Angga kenapa, Ji??!!” panik Freya membuat teman-temannya dan satu sahabat tomboy-nya menoleh ke arah Freya.
“Ada apasih, Frey? Panik gitu,” ucap Jova.
“Gara-gara makan banyak sambel pas makan bakso, udah sana gih kalau khawatir, pergi aja ke UKS.”
“Kita mau ke UKS? Iya Frey??”
“Ih udah jangan banyak tanya! Ayo ke UKS, Angga masuk UKS tau!!”
__ADS_1
“Oh my gosh !”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Angga tengah memijit-mijit keningnya yang terasa pusing hingga beberapa menit kemudian terdengar suara pintu dibuka kencang oleh seseorang gadis yang lalu berlari menghampiri Angga.
“Anggara!!” teriak Freya berlari.
Mendengar teriakan Freya, Angga langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangannya dan membatin, ‘Mati gue.’
Sesampainya di dekat kasur ranjang UKS sahabat kecilnya, Freya mulai sedikit memukul Angga. “Kamu ngada-ngada deh! Gak usah makan pedes-pedes lagi lain kali!”
“Hah? Makan pedes?? Pppfft! Hahahahaha!!! Yaelah Ngga, ngelawak kamu, hah? Sok bergaya, gak kuat pedes malah makan pedes! Untung aja masih di UKS, gak di rumah sakit. Gimana? Enak ya perutnya sakit??”
Freya menatap kesal Jova. “Ih! Kok malah diketawain, sih?! Alhamdulillah nyawa Angga belum melayang, kalau ia gimana coba?!”
“Ya tinggal di kuburin, lah. Gitu aja ribet amat. Ya kan Ngga?” tanya Jova melihat ke Angga dan dijawab Angga dengan hela napas pendek.
“Iya, aku minta maaf. Salah aku juga makan sambel banyak-banyak,” lirih Angga dengan menyingkirkan telapak tangannya dari kedua matanya.
“Habisnya buat apaan sih makan sambel banyak-banyak? Kalau lambung kamu luka gimana? Urusannya udah di rumah sakit lho, bukan di UKS lagi,” ucap Freya dengan wajah sedihnya.
“Niatnya aku mau tuang satu sambel aja, gak sadar kalau aku tuangi-nya banyak banget. Tapi sekarang aku agak mendingan kok.”
“Tuang sambel gak nyadar? Wuu! Kebanyakan ngelamun mulu sih! Kena akibatnya kan tuh!” protes Jova.
“Iyaaaa, aku minta maaf.”
“Ada juga ya yang gak kuat pedes cepet mau pingsan.”
“Iyalah Frey, kan kenanya lambung! Biasanya nih orang yang gak kuat pedes malah makan super pedes berakhir masuk IGD atau mati!”
“Jova mah! Udahlah jangan ngomong yang itu, bikin takut tau!”
Jova mengiyakan Freya dengan terkekeh, sementara itu Johan yang telah keluar dari toilet melihat Freya dan Jova yang ada di sampingnya Angga berbaring di kasur UKS.
“Ehem!”
Freya dan Jova bersamaan menoleh ke belakang pada sumber suara tersebut. “Eh, Kak Johan?!”
“Kakak sudah dari tadi ya di UKS?” tanya lembut Freya usai mengutarakan terkejutnya bersama Jova.
“Hm'em. Ini Kakak habis dari toilet. Wah mumpung kalian berdua ada di sini, gue keluar dulu ye nyamperin adek-adek kelas buat minta balikin obat betadine sama obat alkohol, kebiasaan mereka pinjem gak dikembalikin. Gue cuman sebentar doang habis itu balik, sans nanti guru-guru ada rapat.”
“Wih asyik! Yaudah deh Kak, makasih ya info baiknya heheheheh!” senang Jova hura-hura.
Johan tersenyum dengan mengangkat tangannya dan mengacung jari jempolnya untuk Jova, kemudian ketua PMR tersebut keluar dari ruang UKS tak lupa menutup pintunya.
Cklek !
Freya menoleh ke depan untuk melihat Angga. Sahabatnya nampak memijat keningnya dengan mendesis. “Kepalamu pusing, ya? Apa jangan bilang sakit kamu kambuh lagi?! Aku ambilin obatmu dulu ya di kelas!”
Freya yang hendak berbalik badan pergi ke kelasnya untuk mengambilkan obat di tas Angga, tangan Angga yang ada di tepat samping Freya mencekal duluan lengan kulit halus sahabat kecilnya. “Gak usah di ambil, kepalaku doang yang pusing, bukan sakit. Itu faktor aku makan terlalu banyak sambal.”
Freya menoleh dan menghadapkan tubuhnya ke Angga bersamaan cekalan tangan dari Angga sahabat kecilnya lepaskan. “Oh gitu? Hmm, yaudah deh. Kamu mau teh? Kalau mau aku buatin dulu di dapur.”
“Nggak usah, aku gak haus. Perutku kembung karena terlalu banyak minum gara-gara kepedesan tadi.”
“Hahahahahaha! Ya ampun, gitu banget nasibmu, Ngga. Apes!” tawa Jova meledek sahabat lelakinya.
“Terserah kamu mau bilang aku apa.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Pukul jam 10.20 masih pagi, pintu kamar rawat Reyhan dibuka oleh gadis kecil yang mengenakan seragam merah putih rapi SD-nya, siapa lagi kalau bukan Dania Anggita Sabrina gadis kecil berusia 5 tahun yang kerap di panggil Dania. Tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, gadis kecil itu berlari gembira dan memeluk erat Reyhan yang baring lurus mata pandangan kosong menghadap depan.
“Kak Rey! Dania kangen banget sama Kakak! Dikabarin sama bunda, Kakak udah bangun hihi!”
Diana dan suaminya yang bernama Oktar memasuki ruang rawat keponakannya kemudian Diana menutup pintu kamar rawat Reyhan. Jihan dan Farhan yang duduk di kursi sofa beranjak berdiri dan mulai berjabat tangan akrab dan rindu karena lama tak bertemu.
“Dik, gimana keadaan dengan anakmu? Semuanya baik-baik saja, kan?” tanya Diana pada Jihan.
Jihan menundukkan kepalanya. “Tidak, Kak. Sudah dari kemarin Reyhan banyak diam seperti ini. Aku sama suamiku juga nggak bisa tenang dan senang kalau Reyhan seperti ini terus, terlebihnya Reyhan punya Depresi berat karena kelumpuhan itu, Kak.”
Diana mengelus bahu Jihan kemudian menarik tubuh adiknya ke dekapan hangatnya. “Yang sabar ya, Jihan. Kakak yakin suatu ketika pasti Reyhan kembali seperti dulu.”
Jihan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Diana untuk membalas pelukan dari kakak kandungnya dengan mulai menangis pelan. Oktar sang suami Diana juga memberikan kesabaran dan ketenangan kepada Farhan yang matanya masih sembab.
Di sisi lain, Dania melepaskan pelukannya karena kakak sepupunya tidak ikut memeluknya melainkan ia diam seperti patung, seperti tak merespon adik gadis sepupunya. Dania mencoba mengelus-elus lemah lembut di lengan tangan kanan kakaknya.
“Kakak? Kakak kok diem terus? Kakak nggak kangen sama Dania ya?” ucap tanya Dania dengan mengerucutkan bibirnya.
Masih tak ada respon dari Reyhan. Jihan dan Farhan bingung tidak tahu bagaimana untuk menjelaskan tentang Reyhan sekarang pada keponakan kecilnya. Bahkan kini Dania lancang menangkup wajah Reyhan dengan kedua tangan kecilnya dan menggoyang-goyangkannya agar kakak sepupunya protes dengannya. Nihil, Reyhan sama sekali tak ada pergerakan apapun meskipun matanya terbuka.
“Kakaaaakk!” rengek Dania sebal karena Reyhan tidak menggubrisnya sama sekali.
Mendengar rengekan adik sepupunya, tangan kanan Reyhan perlahan membentang tanpa menoleh ke arah Dania sedikitpun. Dania tahu maksudnya Reyhan meski tidak berucap sepatah kata apapun, Dania kembali memeluk Reyhan sementara tangan kanan Reyhan yang membentang perlahan memeluk Dania dan mengusapnya sangat lembut. Namun disaat Dania tengah meletakkan kepalanya di atas dada Reyhan sebagai bantalnya, gadis kecil itu melihat kakak sepupu tampannya meneteskan air mata.
“Kak Rey kenapa nangis? Jangan nangis dong,” ucap Dania seraya satu tangannya menghapus air mata Reyhan perlahan.
__ADS_1
Reyhan memejamkan kedua matanya merasakan pelukan rindu Dania padanya begitupun merasakan takdirnya yang begitu buruk. Menghadapi semua ini, bagi Reyhan sangat sulit rasanya untuk Reyhan mampu menghadapi dan menerima takdir yang tak ia inginkan ini. Kembali ceria, ramah serta banyak celoteh dalam dirinya sudah memudar begitu saja akibat dibaluti oleh kesengsaraan yang Reyhan alami sampai sekarang.
Indigo To Be Continued ›››