
Suara monitor pendeteksi jantung terus saja terdengar memenuhi ruang rawat ICU dimana Reyhan masih tetap terbaring lemah Koma serta Kritis yang belum terlewati. Ada dua seseorang yang mengenakan baju hijau penjenguk pasien di ruang ICU, mereka menatap Reyhan dengan penuh lara bahkan di salah satu temannya matanya telah berkaca-kaca.
“Sampai kapan lo begini terus Rey? Kita semua yang berharap lo bangun, khawatir bener sama kondisi lo yang masih stuck di dalam keadaan buruk lo ini,” ucap lirih Jevran tetangganya.
“Lo kenapa sih, lari-lari ke tengah jalan? Udah tau banyak kendaraan lewat, apalagi mobil truk. Andai aja, lo gak lari ke sana. Lo gak mungkin sampai seteruk ini, Rey.” Aji menyambung kata.
“Rey, kita semua sudah tau kalau lo lumpuh. Tapi keadaan yang lo alami, tidak masalah bagi kami kok. Mau elo lumpuh sementara atau permanen, pun kita gak peduli. Yang kita harap-harap lo cepet sadar dari Koma. Gak ada lo di sekitar kami, rasanya hampa.”
Aji mulai terhisak dengan tangisannya yang menjadi-jadi padahal tadinya matanya hanya berkaca-kaca tetapi dirinya sekarang malah mengeluarkan air matanya. Pemuda yang berjulukan 'Maemunah' atau 'Ajinomoto' memeluk Jevran yang tak sama sekali mengeluarkan linangan air matanya dari bawah kelopak matanya.
“Eh! Lo apa-apaan sih, Ji?!”
“Udah tau nangis! Malah di tanya, dasar temen gak peka!”
“Buset lu njir! Cengeng banget sih lo jadi cowok!” Jevran melepaskan paksa kedua tangan Aji yang telah melingkar di pinggang Jevran. Jevran merasa risih di peluk siapapun, dikarenakan semenjak kecil lelaki itu tak pernah di peluk sama sekali.
Aji pun menggeser tempatnya dengan memanyunkan bibirnya seperti ikan peliharaannya yang ada di dalam akuarium. Jevran meringis geli pada perilaku temannya itu bahkan pemuda itu sampai bergidik bahu. Aji mengusap air matanya dan kembali fokus melihat Reyhan. Ruangan tersebut memang bisa terbilang sunyi, dan setiap yang menjawab Jevran begitu juga Aji pada obrolan ringan untuk Reyhan hanyalah alat pendeteksi jantung saja, tak ada yang lain selain itu.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di dalam ruang kamar rawat no 112, Freya nampak melenggangkan kepalanya saat diberi suapan makan oleh Rani. Mukanya juga berekspresi cemberut sedari tadi malam, membuat Angga yang ada di sampingnya menghela napasnya dengan panjang.
“Ayo sarapan dulu, nanti kapan sembuhnya kalau makan aja kamu susah?”
“Diem ah! Kamu aja juga sama kok pas lagi sakit, makan aja ogah!” damprat Freya membentak sahabat kecilnya.
“O-oke, tapi jangan ngegas mulu dong, kamu lagi sakit. Nanti sakitnya nambah parah-”
“Terus aja ngomong begitu! Nanti juga sakit aku nambah parah, kok!” potong Freya tanpa menoleh sedikitpun ke Angga.
“Eh?! Kok kamu bilang gitu?!” kaget Angga pada ucapan Freya yang masih saja bernada tinggi.
“Iya dong! Mulut kamu kan buas, apalagi kamu anak Indigo! Ya jelas, lah bakal terkabul ucapanmu itu!”
Angga memutar bola matanya dari Freya, mulutnya juga ia bungkam dan tutup sendiri. Pemuda itu menyadari kalau ia salah berbicara seperti tadi, bahkan parahnya ia lupa kalau ia anak Indera keenam.
“Freya, kamu jangan bentak-bentak Angga terus dong, Sayang. Kasian lho sahabatmu, dateng pagi-pagi ke sini buat menghibur kamu.”
“Habisnya Angga nyebelin banget!” kesal Freya.
“Yaudah, terserah kamu saja mau bilang aku apa. Aku ngalah.”
Angga balik badan membuat Rani menolehkan kepalanya. “Angga, kamu mau kemana??”
“Duduk di sofa sama om Lucas, Tante,” jawab Angga dengan senyum.
“Oalah, kirain mau pulang hehehehe.”
“Nggak kok, Tan. Angga tetep di sini sampai mood-nya Freya balik kayak semula. Mungkin karena mimpi itu Freya jadi kayak gini, Tante.”
“Iya Ngga, Tante sudah tau setelah tadi kamu cerita. Oh, kamu sudah sarapan belum? Kalau belum nih ada satu bubur ayam, kamu makan saja.”
Angga yang hendak duduk di sebelahnya Lucas langsung melambaikan tangannya yang maksudnya 'tidak usah'. “Nggak perlu Tante, Angga tadi sebelum ke sini udah sarapan kok di rumah.”
“Oh yasudah, tapi kalau kamu masih lapar .. tinggal ambil saja ya Ngga, buburnya.”
“Iya, Tante.”
Beberapa saat kemudian, pintu kamar rawat di buka oleh seseorang tanpa diketuk terlebih dahulu. Angga, Freya, Rani, dan Lucas menoleh dan kini terdapat teman sekolah serta satu sahabatnya anak semata wayang Lucas dan Rani memasuki ruangan dengan senyum ramah seraya mengucapkan salam.
“Kalian?” Freya begitu kaget melihat kedatangan antara Zara, Lala, Rena, Andra, Raka, Aji, Jevran, dan Ryan terkecuali Jova yang Freya terkejut.
“Hai Freya, met pagi hehehehe. Keadaan kamu sekarang gimana? Udah mendingan, kah?” Lala setelah itu mengangkat kantung plastik bening. “Tara! Aku bawain kamu buah tangan, di makan, yak!”
“Apa? Snack?” tebak Freya.
“Tepatnya bukan, buah-buahan yang mengandung banyaknya vitamin terutamanya vitamin C. Ada beberapa jenis-jenis buah yang pastinya kesukaan kamu, kok.”
Freya berdeham dengan mengukirkan senyuman manisnya meskipun di wajahnya masih terlihat pucat. Sementara Rena memeluk Freya dengan erat.
“I miss youuuu ! Kangen bet deh aku sumpah sama kamu, untung aja kamu gak kenapa-napa selain itu!”
“Heh, Serenong! Lebay banget sih lo, anjir! Pake peluk-peluk segala, emangnya itu boneka lo, apa?!” sewot Lala.
“Heleh, syirik kali lo! Gak pernah di peluk, noh mending kalau gak keberatan elo peluk aja si Andra. Andra kan punya lo.”
“Heh-heh! Sembarangan kalo ngomong! Aku dari dulu tuh Jomblo, ya! Tolong lah itu cingcong-nya di kondisikan, daripada aku oles mulutmu pake sambel colek!” sarkas Andra tak terima.
Lala melengos dan memberikan kantung plastik yang berisi beberapa buah-buahan segar ke tangan Rani. “Ini Tante buah-buahan untuk Freya, buahnya dijamin higienis dan sehat lho, Tan.”
“Wah, terimakasih ya Nak Lala.”
“Siap! Sama-sama Tante.”
Sedangkan Jova dengan jahilnya menempelkan botol susu coklat dingin di salah satu pipinya Freya membuat gadis itu yang kembali murung menoleh ke sahabat tomboy-nya. “Ih, dingin!”
“Ya dingin lah, namanya juga es. Mau gak susunya? Tapi di minumnya nantian aja ya hehehe, sayang kesehatanmu. Soalnya susu coklatnya masih dingin.”
“Iya, terserah kamu aja. Lagian aku gak mau minum apalagi makan, kok.”
Freya menipiskan bibirnya dengan sedikit mengembangkan kedua pipinya, pandangan yang menunduk sendu mengartikan gadis ini sedang terpuruk akibat mimpi yang diduganya nyata. Jova yang tak bisa melihat sahabatnya murung melulu, berjalan menghampiri Ketiga teman perempuannya.
“Oi,” panggil Jova dengan kata khas anak tomboy.
“Kenapa???” serempak kompak jawab Rena, Lala, dan Zara yang ada di pojok tembok dekat pintu kamar rawat.
“Bantuin gue, dong.”
__ADS_1
“Minta bantu apaan?” tanya Rena.
“Bantuin gue buat ngehibur Freya please,” pinta Jova dengan nada lirihnya.
Lala yang bersedekap, memajukan kepalanya dan berbisik pada Jova sembari melirik Freya yang wajahnya tak terlepas dari sedihnya. “Emangnya si Freya kenapa, sih? Kok murung banget mukanya? Kucingnya, habis mati, ya?”
“Bego!” Jova menoyor puncak kepala Lala dengan keras.
“Adaw ...! Apaan sih ah, sakit tau! Heuh, terus sahabat lo kenapa? Jangan bilang kalau lo suruh gue nebak, ya! Gue bukan cewek Indigo yang kayak di film-film atau novel!”
“Ya tau kali!” Pada setelah itu, Jova merubah ekspresi wajahnya menjadi gundah dan berbicara secara pelan dengan Lala, Rena, dan Zara. “Itu lho, soal tentang mengenai Reyhan. Ehmm, tau kan?”
“Oalah, oke-oke. Hmm mantap deh dan aman! Gue bisa bantuin lo buat hibur hatinya Freya.”
“Caranya gimana, Ren? Eh lo mau beliin Freya boneka imut di Mall??” tanya Zara penasaran.
“Gak lah, gue perlu bilang sama si Aji tuh yang asyik ceriwis sama lainnya. Tapi sori ya, Va. Soalnya dan pastinya Angga yang kena, yah tepatnya jadi korban.”
“Eh lo mau ngapain Angga?! Lo gak bakal bilang Aji buat ngelakuin sesuatu yang enggak-enggak ke Angga kan, Ren?!”
“Yailah, emang Sableng lu, Va! Mana ada sih gue punya siasat rencana buruk buat Angga, santai .. Angga nggak bakal kenapa-napa kok, percaya sama gue.”
“Asalkan Freya bisa tertawa ceria kayak dulu.”
“Kirain lo bakal bilang 'asalkan kau bahagia' eh dugaan gue salah,” ujar Lala.
“Yeu, mending gue suruh Angga nyanyi lagu dari Armada Band aja kalau gitu!”
Setelah mempertimbangkan ide konyolnya Rena tadi yang akan berkaitan dengan Angga, akhirnya Jova mengangguk setuju. “Hhh, yaudah deh. Semoga ide lo ada faedah dan ada hasilnya.”
“Mantap!” Rena mengacungkan jari jempolnya dengan senyum semangat lalu melangkah mendekati Aji. Di sana, Rena mencolek-colek bahu temannya kemudian memanggilnya.
“Aji.”
Aji berhenti mengobrol pada para temannya terkecuali Angga yang masih diam di kursi sofa. Aji memutar badannya sedikit menghadap Rena dan menaikkan satu alisnya.
“Ya? Napa, Ren?”
“Sini deh aku bisikin sesuatu, ayo cepetan.”
Mau tak mau, Aji mendekatkan telinganya ke dekat mulut Rena. Entah apa yang dibisiki oleh teman perempuannya yang di akhir kalimat Aji mengangguk paham dan setuju atas suruhannya untuk menghibur hati teman polosnya.
“Nah, paham kan maksudku apa?”
“Paham dong, aman itu aman. Aku bisa atasi semuanya. By the way si Angga di mana?”
“Itu, lagi duduk anteng sama ayahnya Freya,” jawab Jevran menunjuk Angga dengan dagunya.
Aji menatap Angga yang nampak memang diam dengan ponselnya bahkan mukanya terlihat tampang datar tak ada senyumnya sama sekali membuat Aji mempunyai ide cemerlang untuk menjadikan Angga sebagai korban, tidak tahu juga korban apa.
“Ngga, Anggara?” panggil Aji dengan senyum jahilnya.
“Lepasin itu HP lo, di pegang mulu perasaan dari tadi.”
“Terserah gue mau megang atau apa, bukan urusan lo.”
“Anak sialan emang,” gumam jengkel Aji.
Aji yang sudah gregetan dengan Angga, langsung dirinya menarik tangan Angga membuat Angga reflek berdiri dari kursi sofa. Angga bersama wajah kesalnya matanya menatap tajam ke Aji seraya mendengus sebal.
“Kenapa?!”
Semuanya tertuju pada Angga begitupun si Aji yang tersenyum menyeringai. Angga yang lagi tak ingin membaca pikiran Aji, hanya diam dan terus menatap dingin pada temannya itu. Angga terkejut disaat Aji menaikkan dagu Angga dengan penuh dramatis.
“Oh, my Darling. Lo tampan banget hari ini, lebih ganteng daripada pangeran kadal.”
Angga yang mau ambil protes pada Aji, tiba-tiba Aji melepaskan dagu Angga dan beralih menangkup muka sempurnanya pemuda Indigo tersebut dengan gaya lelaki Gay. Lihatlah tingkah laku Aji sekarang, memonyongkan bibirnya bersiap mencium Angga. Mata Angga terbelalak dengan meringis bergidik geli dan ngeri, cekatan itu karena ia lelaki yang normal dirinya mencapit bibirnya Aji dan membekapnya kuat dan mendorongnya agar menjauh darinya.
“Sudah gak waras ya, lo?! Sialan!!” Sudah terkena imbas sepertinya si Aji, Angga begitu murka dengan mata mencuat tajam seperti ikan Predator.
“Eh, baru kali ini Angga bisa ngamuk kayak si Reyhan ... ih takut banget gue berurusan sama Angga kalau soal yang kayak Aji lakuin,” kejut Andra.
“Lo takut diapain Angga?” tanya Raka.
“Gue takut di kick dari pertemanan, weh! Serem juga kalau Angga marah, biasanya ini anak bisanya diem kek patung kaku.
“Gue yakin, Aji udah bukan cowok normal lagi. Kalau gue perhatiin pake mata penglihatan sih, sepuluh persen warasnya si Aji.”
“Wah gilak lo, Vran! Temen sendiri dikatain cowok gak normal apalagi warasnya dikitnya minta ampun,” ungkap Ryan.
“Wah parah sih ini, parah. Ini namanya bukan ngeledek Angga tapi ngajak Angga pacaran,” gumam Rena menepuk jidatnya.
‘Itu tadi Aji ngapain si Angga, ya? Kok mulutnya monyong-monyong gitu kayak anak kecil gak dipenuhi keinginannya? Main Drama kali ya si Aji sama Angga. Eh, tapi kan Angga kalau di ajak main-main peran gitu, gak mau. Kayak pas Presentasi di depan kelas waktu kelas sepuluh dulu,’ batin relung hati Freya tak konek pada maksud tingkah laku Aji terhadap Angga tadinya. Dan sekarang Freya ditambah bingung melihat mata Aji memicing curiga kepada Angga yang tatapan tajamnya juga belum melunak.
“Heh!!” tunjuk Aji kencang menuding Angga membuat temannya yang ia jadikan korban memundurkan kepalanya dengan bola matanya sedikit juling.
Rani dan Lucas saling menatap bingung bahkan lain-lainnya pula begitu. Angga mengernyit kesal pada perilaku anehnya Aji yang secara tiba-tiba. Aji dengan lancang menyentuh pucuk atas kepalanya dan memejamkan matanya layaknya seorang Kyai mengobati pasien yang tengah dirasuki oleh Jin ataupun arwah yang bersinggah di dalam tubuh raganya.
“Hei makhluk tak kasat mata yang berada di dalam raga teman gue, gue mohon sekarang lo keluar dan jangan pernah lagi masuk ke dalem tubuh temen gue yang tidak punya salah sama lo. Gue tau kok, Angga cowok yang cool dan ganteng yang mampu buat hati lo bergetar kayak suara dering HP. Tapi lebih baik, minggat dari raga temen gue! Carilah jodoh yang sesama jenis dengan lo, kasihanilah temen gue yang sebatas manusia.”
“Minggat dan balik ke Dukun yang nyuruh lo ... minggat ... minggat lah, dengan gue ucapkan agar lo secepetnya keluar! SIMSALABIM ABRAKABRA!!!”
“...??!!” Angga begitu terkejut dan merasa otaknya Aji telah bergeser tempat membuatnya dirinya sinting.
Termasuk Jevran, Raka, Andra, Ryan, Rena, Lala, Zara, Freya, Jova, Rani, serta Lucas melongo tak percaya pada pengucapan Aji yang membuatnya bergidik geli bila ada yang mendengarkannya segala penuturan kata Aji yang sangat nan alay seperti anak layangan. Angga segera menepis kasar tangan Aji yang masih bertengger di atas kepala Angga. Dengan teganya karena terlanjur saking greget dan sebalnya pada Aji, tangan temannya yang Angga pegang ia layangkan ke pipi Aji, hasilnya Aji terkena tamparan telapak tangannya sendiri.
PLAKK !
__ADS_1
“Awawawaw! Apaan dah lo, Ngga?! Main nampar-nampar pipi orang segala! Dasar cowok gak berperikemanusiaan.”
“Yang gak berperikemanusiaan itu siapa? Elo, kan! Lo pikir gue di santet sama orang?! Gue masih sadar, Ajinomoto!!” geram Angga.
“Yahh, ternyata gak di santet. Padahal lagi asik-asiknya ngobatin sifat lo yang bawaan dari lahir!” kesal Aji.
“ ...?!” Mulut Angga menganga kemudian giginya menggertak. “Oh, jadi lo suka gue kena santet sama orang?! Suka juga gue dimasuki setan apa Jin?!”
Aji menutup mulutnya dengan kedua telapaknya. “Eh, keceplosan deh mulut duwer gue! Hehehehe maaf kali Ngga, nggak usah tersinggung gitu segala juga dong.”
“Ih, kiciplisin dih milit diwir gii! Hihihihi miif kali Nggi, nggik isih tirsingging giti sigili jigi ding.”
Angga mencibir ucapan Aji yang membuat mereka semuanya yang mendengarnya tertawa meledak begitu kencang bahkan sampai terbahak-bahak dibuat oleh Angga. Angga dengan kaget menatap sekeliling yang menertawakan dirinya termasuk Freya yang sampai memegang perutnya. Angga menatap bingung apalagi hingga mengusap tengkuknya.
“Apa yang lucu?”
“Ya ampun Angga! Itu lho kamu ngapain coba sampe cibir-cibir terus juga bibirmu kamu maju-majuin, gak pantes tau gak hahahahaha!!” jawab Jova yang tawa terpingkal-pingkal karena ini pertama kalinya Angga bertingkah melawak.
“Hihihi! Iya lho Ngga, gak laku deh! Nggak laku hahahahaha!!” sambung Freya terus tertawa bahkan air matanya hampir keluar saking kerasnya ia tawa gara-gara ulah sahabatnya sendiri.
“Hah? Nggak laku? Barang jual di pasaran, apa aku??”
“Halah! Nggak usah sok polos deh lo, Ngga. Sumpah perut gue sakit bener nih wahahahahaha!!” Andra nyaris saja belakang kepalanya membentur tembok karena memang posisi dirinya mojok di tembok dekat kursi sofa.
“Ck, udah ketawanya?!”
“Astaga Nak, kamu sama saja seperti dulu TK. Sikap kamu selalu setia dan menyatu sama jiwamu ya, hehehehe!” Malahan Rani menjadi terkekeh pada anaknya dari Agra dan juga Andrana.
“S-sial,” ucap Angga dengan pasrah karena dirinya masih dijadikan bahan tawa para mereka.
“Nah, akhirnya Freya tertawa lagi tuh. Yes kerja gue berjalan dengan lancar hahaha!” Ucapan Aji membuat Angga menoleh ke arah Freya yang kembali ceria.
“Memang bagus dan gue makasih sama lo karena udah hibur sahabat kecil gue, tapi gak gue juga yang jadi korban!” tutur keras Angga bersilih menoleh ke Aji lagi.
“Yaelah, korban dikit demi sahabat kecil lo bolehlah Ngga. Lagian lo jadi korban malu doang kok, bukan korban kecelakaan, korban pembunuhan, atau korban tewas,” jawab Aji dengan santai seraya melipat tangannya di dada.
“Hmmm!” Angga berdeham bersama ia pejamkan matanya untuk menghilangkan rasa emosinya bahkan malunya karena telah dijadikan korban separah itu, baginya.
“Eh kalian berdua,” panggil Freya seraya menatap Aji dan Jevran bergantian.
“Iya? Kenapa Freya?”
“Anu Vran, kalian semua yang jenguk aku tuh pertamanya janjian dulu, kah?”
“Enggak juga sih. Jadi tuh gini ceritanya, pas aku sama Aji keluar dari ruang rawat ICU-nya Reyhan, kami berdua gak sengaja ketemu Raka, Andra, Ryan, Zara, Jova, Rena, sama Lala. Yaudah karena mereka mau jenguk kamu, aku ma Aji ikutan jenguk dirimu ke sini.”
“Ooohh begitu, hehehe kirain kalian semua janjian.” Freya menggaruk kepalanya dengan menyengir, di balas senyuman ramah dari kesemua temannya termasuk satu sahabatnya, Jova.
Rani dan suaminya ialah Lucas amat senang dan sangat lega melihat anak gadisnya tak murung lagi seperti tadi. Bahkan gadis polos itu kembali menampilkan senyuman cantiknya. Sepertinya ia bisa melupakan semua mimpi ia bersama Reyhan, kemungkinan hanya sementara.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Kini di kamar rawat no 112 hanyalah tinggal Angga, Freya, dan Jova sedangkan kedelapan temannya pulang ke rumah termasuk kedua orangtuanya Freya yang ingin mengurusi rumah dan akan datang lagi saat sore tiba.
Jova yang tengah membaca novel di salah satu aplikasi lapak terbaiknya, tak sengaja pandangannya terpusat dan teralihkan dari layar ponselnya, langsung terkejut bukan main kedatangan Senja yang secara tiba-tiba.
“Eh! Elo kan arwah yang gue temui di toilet SMA kami!” Pekiknya Jova membuat Angga dan Freya yang saling mengobrol sesekali bergurau langsung menoleh cepat ke arah Jova.
“Kamu kenapa teriak-teriak sih, Va- eh kamu siapa? Kok tiba-tiba ada di ruang kamar rawat aku?”
Senja malah gantian yang kaget bukan main, mengetahui sahabat kecilnya Angga mampu melihatnya yang dirinya merupakan sosok arwah. Senja beralih menatap Angga yang menatapnya dengan tatapan tajamnya.
“Hehehehe, halo Angga. Apa kabar? Sehat, kah?” tanya Senja yang berusaha agar Angga tak memarahinya.
“Sehat, kamu ngapain ke sini?”
“Bosen di rumah kamu mulu, gak ada bagus-bagusnya. Ya udah mending aku dateng ke lokasi kamu berada. Eh iya sampai lupa nanya. Freya, kok kamu bisa lihat wujud ku??”
“Lho, memangnya kamu siapa?” tanya Freya dengan wajah bingungnya.
“Aku ini arwah lho. Wah hebat banget deh, kamu juga bisa lihat aku kayak Jova sama Angga.”
“Hah?! Kamu arwah, toh?! T-terus memangnya Jova bisa lihat kamu?!”
“Kalau gak bisa, aku gak mungkin teriak karena ini setan ngagetin satu manusia cantik ini kali,” jawab Jova jengah seraya beranjak dari sofa dan menghampiri Senja yang telah ada di sisi ranjang pasien.
“Oh iya Frey, langsung to the point aja. Ini adalah arwah yang ngasih tau aku kalau yang ngelukai kamu adalah trio cewek Jablay itu. Awalnya aku ragu untuk percaya sama Senja, tapi akhirnya aku ngerasa kalau arwah ini baik hati nolong kamu. Coba saja kalau enggak, gak ada yang tau siapa yang buat kamu seperti ini.”
Freya menoleh pelan dengan sedikit tersentak pada ucapan Jova, sementara Senja senyum meringis bersama tangan jari bentuk simbol Peace.
“Hehehe, tenang. Aku nggak jahat sama kalian, kok. Niatku baik buat bantu kalian, terlebihnya waktu itu aku balas dendam sama mereka bertiga. Aku paling gak terima kalau orang gak salah malah disakiti.”
Freya tersenyum. “Apapun itu, makasih banget ya. Oh iya nama kamu tadi siapa? Kalau aku Freya Septiara Anesha, hehehe.”
Senja ikut tersenyum. “Namaku Senja Intara Alandara, Arwah yang masih baru di satu tahun ini.”
“Dia Arwah korban pembunuhan di salah satu gunung pendakian yang gak aku tau dimana tempatnya,” jelas Angga.
“Ya Allah, malang banget. Aku juga baru tau kalau kamu ternyata hantu, aku kira kamu manusia yang dateng ke sini tanpa jejak. Soalnya biasanya kalau setan itu nggak kasat mata.”
“Wah sahabat-sahabatnya Angga sangar markotop banget, ye! Bisa lihat makhluk enggak kasat mata juga.”
“Ehm, Angga. Jangan-jangan aku sama Jova anak Indigo kayak kamu?! Aneh banget sih, aku bisa lihat Senja yang arwah!” heboh Freya.
“Eeee, aku juga kaget sebenernya. Kamu ternyata bisa lihat makhluk gaib. Tapi aku seneng kalian bisa mampu lihat arwah, aku yakin kalian bisa berjaga-jaga kalau ada kejadian yang gak wajar.”
Freya dan Jova saling melemparkan pandangannya dengan tatapan bingung dan senyuman hambar-nya. Seolah-olah perkataan Angga mencengangkan kedua sahabat gadisnya. Sementara Senja menempelkan jari telunjuknya di sisi bagian kepalanya, ikut bingung mengapa kedua manusia perempuan remaja SMA itu sanggup melihat dirinya yang tak kasat mata, yang padahal mereka bukanlah seorang anak Indigo seperti kelebihan yang Angga miliki semenjak kecil.
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››