
Sekelompok empat sahabat sejati tengah berada di suatu tempat yang tinggi dan sejuk karena pemberian dari semilir angin tenang, tempat apa lagi kalau bukan rooftop atas gedung sekolah SMA Galaxy Admara?
Di situ karena Angga sang lelaki tampan pemilik indera keenam dipaksa oleh Reyhan si sahabat Friendly-nya untuk menceritakan semua tentang perkara masalah Freya dengan Gerald yang membuat mereka nang saling mencintai menjadi seolah sepasang kekasih itu pecah belah atau putus hubungan yang telah mereka berdua arungi bersama selama ini. Mau tak mau Angga harus menceritakannya walau pemuda tersebut malas bercerita panjang lebar, maka dari itu dirinya akan menceritakannya secara random namun tetapi jelas, detail, dan mudah dipahami.
Sebelum Angga memulai, ia merogoh saku kantong celana seragamnya lepau mengeluarkan headset warna hitam miliknya. Kemudian Angga memegang bagian ponsel Androidnya Freya yang sedang gadis cantik Nirmala tersebut genggam, untuk menancapkan kabel headset-nya di lubang kecil bawah handphone Freya.
Selepas itu, Angga menyingkap rambut Freya yang menutupi kedua telinganya buat memasang alat pendengar musik di album lagu ponsel. Sontak, Freya beralih dari memandang langit cerah pagi ke wajah tampan Angga yang tengah menyunggingkan bibirnya menjadi tersenyum menawan.
“Gak usah di dengar.”
Gadis cantik-manis tersebut tersenyum lebar kepada Angga yang sangat begitu pengertian serta memahami keadaannya saat ini sekarang. Apalagi sekarang jari tangan sahabat kecilnya yang sekaligus tetangganya, memencet aplikasi definit yaitu album lagu yang ada di ponselnya Freya.
“Kamu lebih baik fokus dengerin lagu aja,” ucap lembut Angga usai menyalakan salah satu musik POP Barat yang liris pada tahun 2000-an nang ia pilih di ponsel sahabat gadisnya tersebut.
Freya menganggukkan kepalanya mengerti dan menuruti oleh perkataan sahabatnya yang tak ingin menambah beban pikiran gadis polos itu pada tragedi malam di dugem. Sementara, mulut Angga telah bergerak-gerak untuk menceritakan apa yang sudah terjadi pada Freya hingga sikapnya terhadap Gerald jauh lebih beda dibanding biasanya.
Di pertengahan Angga bercerita yang mana suatu peristiwa di dalam bangunan clubbing, Reyhan reflek memukul atas tembok pembatas rooftop menggunakan bagian telapak tangannya. “Anjing! Udah gak punya otak ya itu cowok! Masa cewek sepolos Freya ini diajak ke tempat maksiat itu?!”
Sementara Jova hanya diam terkejut tanpa mengeluarkan unek-unek kesal untuk berkomentar pedas pada cerita faktanya dari Angga. Setelah itu, pemuda tampan tersebut kembali melanjutkan ceritanya. “Ada satu alasan mengapa Gerald mengajak Freya ke tempat terlarang itu, bukan hanya sekedar ingin memperkenalkan Freya dengan semua teman-temannya di sana. Tetapi juga ...”
“Tetapi juga apa, Ngga?!” tanya Jova penuh jiwa penasaran yang makin menggelora karena Angga.
Angga menghembuskan pelan. “Ingin melakukan hubungan seksual pada Freya untuk mengambil keperawanannya. Gerald pengen Freya menjadi miliknya seutuhnya.”
Kedua bola mata kedua sahabatnya mencuat hebat saat mendengar lanjutkan ceritanya Angga. Hingga, Reyhan sampai spontan mencengkram kerah putih seragamnya Angga. “Yang bener lo, Ngga??!! Dia pengen ngelakuin bajingan itu sama Freya?!”
Angga segera melepaskan kedua tangan Reyhan yang reflek mencengkram kerahnya, tanpa bermuka kaget atau marah melainkan stay tenang.
“Iya. Tapi untungnya semua itu gak terjadi sama sekali. Karena di saat malam itu, gue sudah datang untuk menolong Freya. Sebetulnya gue waktu minggu lalu masih berpikiran positif tentang mengenai sikap Gerald terhadap sahabat kecil gue, tetapi lama-kelamaan gue ngerasa curiga dan memiliki insting firasat buruk. Maka dari itulah, gue mempersiapkan suatu cara buat menyelamatkan Freya dari peristiwa yang nyaris merusak masa depannya.”
Reyhan membungkamkan mulutnya lalu mengerutkan keningnya. “Suatu cara? Lo pasti pake mata batin penerawangan milik elo buat mengetahui kondisi situasi Freya gimana.”
Angga menggeleng pasti. “Gak, lo salah. Gue waktu itu nggak pake mata batin penerawangan yang biasa gue lakukan untuk menggali informasi yang terkait. Gue menggunakan aplikasi pelacak yang memiliki fungsi terbaik buat membantu gue menemukan lokasi keberadaan Freya saat minggu lalu itu.”
“Ah! Apapun itu aplikasinya, yang penting berguna buat elo menemukan sahabat kecil lo ini yang mau di kobok-kobok sama Gerald. Wah, emang gak salah lagi gue ngatain dia waktu itu. Musuh SD elo itu memang bejat! Gue yang sebagai sahabat SMP-nya Freya sama sekali nggak terima, njir!”
“Argh! Pengen banget rasanya gue santet itu cowok biar celaka sekalian, berani-beraninya mau main gitu sama sahabat lugu gue ini!” geram Jova lewat batas emosi.
“Jangan. Kalau kamu lakukan, yang ada kamu nanti bakal dapat Dosa besar. Secara itu, perbuatan menyantet orang adalah Musyrik,” tegur Angga tanpa memakai nada tinggi.
“Iya, Nggaaa ... aku juga tau, kali. Tapi si Gerald itu kebangetan gak, sih? Aku yakin, Freya sempet tertekan gara-gara perilaku bangsatnya pacarnya!”
“Gak usah sebut pacar lagi, mereka berdua sudah putus dan menjadi mantan.” Perkataan Angga yang menanggapi dongkolnya Jova, membuat kedua sahabatnya itu melongok tak percaya.
“Alhamdulillah! Terimakasih, Ya Allah!” seru Reyhan dan Jova kekompakan dengan kedua telapak tangan saling terangkat ke atas, bergaya model seperti sedang Berdoa.
Angga memundurkan badannya kemudian menggelengkan kepalanya dengan senyum nyengir yang terlihat di sunggingan bibir. Nampak kedua sahabatnya amat bahagia mendengar kabar baik menurut mereka masing-masing. Sedangkan untuk Freya, gadis cantik tersebut tengah diam berwajah aura tenang mendengarkan sebuah musik lagu kesukaannya. Jika ia mendengar sedikit soal Gerald, segampang itu si Freya menghempaskan semua tentangnya lelaki bermata hijau itu yang melekat di memori benaknya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
16.00 PM
Setelah mengikuti pelajaran musik di sebuah ruangan yang tak lain adalah ruang musik, kini sekarang beberapa siswa-siswi dari bangku kelas XI IPA 2 mulai mengendarai motornya masing-masingnya hendak meninggalkan parkiran. Sementara di sisi lain, Reyhan yang tengah berada di atas motornya sedang meregangkan kedua otot tangannya yang kaku tersebut.
“Lo kenapa?” tanya Angga yang hendak mengenakan helm di sebelah motor sahabatnya.
“Pegel banget, Cuy! Tadi kena hukuman guru karena gak ngerjain PR itupun suruh nulis kata permintaan maaf sampe seratus kali, belum lagi setelah itu ngikutin jamnya bu Vanya guru musik.”
“Salah sendiri gak ngerjain.”
“Ya sorry, Bro! Namanya juga sahabat lo ini, pelupa alias pikun,” jawab Reyhan menatap Angga melas.
“Pelupa sama pikun apa bedanya?” Angga bertanya lalu mendengus seraya menyalakan mesin matic motornya menggunakan kunci yang telah dirinya gantung di tempat khusus.
“Eh? Iya juga, deng. Yasudah deh, gue duluan gak kenapa-napa ya, Vert?”
“Vert?”
“Introvert! Padahal anak Indigo, lho. Gue selak pengen istirahat di my house. Udah loyo semua nih badan gue gara-gara pak Sobri hukum gue tadi.”
Angga berdeham menganggukkan kepalanya dengan memberikan senyuman tipis. Reyhan melepaskan salah satu tangannya dari stang motor untuk melambaikan tangannya pada sahabat pendiam-nya yang belum melaju pergi meninggalkan bangunan sekolah.
Kini sekarang Reyhan telah meninggalkan parkiran termasuk Angga yang pemuda humoris itu tinggalkan sendiri di parkiran nang sudah lumayan sepi karena hari makin sore. Baru saja kedua kakinya ia gunakan untuk memundurkan kendaraan Honda-nya, Angga menangkap suara tabrakan hebat dari luar gerbang SMA Galaxy Admara. Telak saja, Angga menolehkan kepalanya cepat ke asal sumber suara tabrakan tersebut.
Dengan lekas segera, lelaki tersebut memundurkan motornya lalu melaju meninggalkan parkiran untuk memastikan tabrakan dari pendengarannya itu nyata atau malah sebaliknya. Sesampainya di luar gerbang, Angga mengerem motornya mendadak saat matanya menatap dua motor lainnya tergeletak di dekat aspal jalan sekaligus bersama pengendaranya.
Namun yang membuat kedua mata Angga saling mencuat mendelik dengan raut wajah panik, melihat sahabatnya yang tergelimpang tak berdaya di sebelah gerbang sekolahan.
“REYHAN!!!”
Angga berteriak pada Reyhan seraya melepaskan helmnya dari kepala secara gesit lalu turun dari motor tanpa lupa ia standar-kan motornya supaya tak oleng jatuh. Pemuda tersebut berlari kencang menghampiri sang sahabat yang nampak sukar untuk bangkit dari baringnya akibat motornya tertabrak salah satu lelaki 17 tahun pengendara hingga berhasil membuat tubuh Reyhan terguling jauh dari motornya saat kendaraan miliknya terjatuh.
Detak jantung Angga berdegup dengan cepat saat tak dapat melihat pergerakan tubuh dari Reyhan sedikitpun, bahkan posisi matanya terpejam. Lelaki berambut hitam keren itu menelan salivanya susah payah. Namun detik kemudian, tangan kanan Reyhan terangkat ke depan.
“Lo masih sadar, Rey?!” kejut Angga kemudian menggenggam telapak tangan Reyhan yang sahabatnya posisikan di depan, lalu menariknya secara perlahan agar pemuda tersebut mampu bangkit.
__ADS_1
“Gue masih sadar, kok ... hanya aja, tangan, punggung sakit semua gara-gara jatuh dari motor akibat ditabrak itu cowok satu yang gak bisa nyetir!” protes Reyhan seraya merintih kesakitan.
Angga hanya menatapnya saja, sementara Reyhan yang keadaannya sudah dalam posisi duduk karena usai dibantu oleh Angga, ia melepaskan helmnya dari kepala lalu ia letakkan di sampingnya.
Di sisi lain, lelaki yang berambut berwarna kuning agak kecokelatan bergaya ikal pula melepaskan helmnya dari kepalanya setelah ia bangun dari baringnya. Pemuda yang telah menabrak motor Reyhan hingga raga Reyhan jatuh seperti itu, menatap tajam dengan jiwa emosi.
“WOY! Mulut mending dikontrol sebelum protes!! Itu kesalahan lo sendiri terlalu lambat, udah tau dari belakang ada motor melaju kenceng! Lain kali kalau mau ambil riting lihat kanan-kiri dulu sebelum jalan!!”
Reyhan menggertakkan giginya jengkel sambil menatap lelaki yang berjarak jauh dari Reyhan berada. “Biarkan lambat asalkan selamat! Lah elo, ngebut-ngebut bawa motor kayak kebelet berak!!”
“Lo bilang apa barusan??!!” Nampaknya pemuda yang tak Reyhan kenal itu, murkanya makin menjadi-jadi. Bahkan rasa sakit di seluruh tubuhnya terkalahkan oleh emosinya yang lebih memuncak.
Angga memicingkan kedua matanya dengan menatap serius pada lelaki yang sedang emosi besar pada Reyhan tersebut. ‘Kayak pernah lihat ...’
“Yudataraaaaa!!!” Dari arah belakang ketiga remaja tersebut, terdengar suara teriakan keras dari pemuda satu lagi yang kini tengah berlari mendatangi seseorang selepas menghentikan dan turun dari motornya.
Pemuda yang memiliki rambut hitam itu segera jongkok setelah berada di samping teman dekatnya. “Yuda! Lo nggak kenapa-napa?! Kenapa bisa jadi kayak gini?!”
“Dia yang udah buat gue kecelakaan!” tuding lelaki jiwa emosi tersebut yang bernama Yudatara Adikara Pratama.
Reyhan melongo dengan kening mengerut. “Kenapa jadi gue?! Yang menimbulkan kecelakaan ini kan, elo!”
Yuda beranjak berdiri, sedangkan teman dekatnya itu mengangkat motornya yang tergeletak di aspal. “Da, gue tau lo lagi ada masalah. Tapi dengan lo mendapatkan hal seperti itu, bukan berarti semua emosi lo, elo lampiaskan ke orang lain.”
Yuda menatap horor pemuda tersebut yang telah berjaya mendirikan kembali motornya Yuda. “Lo lebih belain cowok goblok itu, daripada sahabatnya sendiri?!”
Teman dekatnya atau bisa dikatakan sahabatnya itu, menelan ludahnya dengan menonjolkan ekspresi takutnya. “Anjay, lo kenapa sih semenjak lo bangun dari Koma dua tahun itu sikap lo jadi jauh lebih parah?! Lagian yang jadi peristiwa tabrakan ini, elo yang salah. Dia udah bener lho riting motornya. Tapi lo-nya aja yang mengendara dengan terbawa emosi masalah keluarga lo itu.”
“Terserah!”
Yuda yang emosinya susah untuk dihilangkan, pemuda tersebut mulai naik ke motornya lalu kembali menyalakan mesinnya untuk melaju meninggalkan kedua pemuda siswa SMA Galaxy Admara sekaligus sahabatnya yang tengah berdiri.
“Yuda? Kok langsung mau pergi, sih? Minta maaf dulu, napa?! Apa lo juga kagak kasian sama cowok itu yang tadi lo tabrak meskipun yang lo lakuin itu dengan gak sengaja??”
“Cih, gak sudi! Dia yang salah ngapain gue minta maaf segala? Harusnya cowok lelet itu minta maaf sama gue!” damprat murka Yuda seraya menatap sinis Reyhan yang tengah merasakan kesakitan di tubuhnya yang mengalami benturan keras di aspal.
“Yuda, tapi-”
Belum sempat menyelesaikan ujaran pada Yuda, pemuda berambut cokelat madu itu menarik gas motornya sehingga laju kecepatan kendaraannya menjadi sangat maksimal. Yuda pun juga tidak peduli kalau Reyhan mengalami cedera akibat tabrakan yang membuat antara ia dan Reyhan kecelakaan.
Pemuda sang sahabatnya Yuda, menjadi sangat tidak enak pada Reyhan akibat karena perilaku Yuda yang begitu buruk jika suasana hatinya tengah turun terlebihnya jiwanya sedang emosi besar karena masalah di keluarga kecilnya. Tanpa sungkan ragu-ragu, lelaki tersebut menghampiri Reyhan dengan ekspresi paniknya.
“Eh woi?! Sumpah lo nggak kenapa-napa?! Maafin sahabat gue yang tadi, ya?!” panik ia usai berjongkok di dekatnya Reyhan.
Reyhan yang tengah memijat kedua tangannya secara bergiliran bersama meringis kesakitan, menoleh menatap pemuda tersebut. “S-sans. Ini juga udah agak lumayan, kok sakitnya- akh!”
“Eh gak usah! Gue gak perlu ke rumah sakit juga nggak ada masalah. Ini cuman memar biasa,” sangkal Reyhan.
Kemudian dengan rasa tak enak hati, pemuda tersebut yang memiliki rambut warna cokelat gelap menoleh ke arah Angga yang lelaki Introvert itu tengah memendam amarah pada Yuda atas perilaku dan lontaran kata untuk Reyhan tadi sebelum dirinya pergi entah kemana.
“Bro, tolong maafkan kesalahan sahabat gue terhadap temen lo ini, ya? D-dia kalau lagi emosi, orang lain suka Yuda lampiaskan,” mohon lelaki itu pada Angga yang bibirnya bungkam bisu.
Namun saat sedang menatap Angga untuk memastikan apakah Angga memaafkan dirinya, lelaki tersebut langsung tersentak agak kaget pada sosok remaja tersebut. ‘Eh ...? Cowok ini kok ... keliatannya familiar, ya? Seolah hampir buat gue mendapatkan dejavu. Apa gue pernah lihat? Tapi dimana gue lihat dia? Gue aja gak inget banget.’
Kini isi dalam kepala Angga dipenuhi banyak tanda tanya pada batin relung hatinya pemuda yang ada di hadapannya ini. Tak hanya pemuda itu saja, tetapi pula dengan Angga yang tersirat dibenaknya gambaran nyata sosok lelaki tersebut. Bahkan sekarang dua remaja itu saling bertatapan secara diam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
‘Ini dua bocah napa malah main tatap-tatapan gitu, dah kayak bertemu pada pandangan pertama? anjir! Ngilu bet punggung gue !’ batin Reyhan.
“Gue maafin. Syukur sahabat gue gak mengalami luka berat dan parah yang membuat sahabat gue harus dilarikan ke rumah sakit,” jawab Angga setelah 3 menit berlalu.
“Oh, berarti kalau sahabat gue buat sahabat lo mengalami luka parah dan berat sampai masuk rumah sakit, elo gak mau memaafkan dia, ya?” tanya lelaki tersebut yang mengenakan seragam SMA putih abu-abunya dengan nada hati-hati.
“Tetap.”
“Tetap?”
“Tetap gue maafkan. Sebaiknya lain kali kalau Yuda posisinya di tengah emosi tinggi, lebih jangan berkendara. Itu bisa membahayakan nyawa orang lain termasuk nyawa sahabat elo sendiri.”
Pemuda itu menundukkan kepalanya. “Iya. Sumpah, maafin semua kelakuan sahabat gue pada sahabat lo ini. Semenjak bangun dari Koma dua tahunnya sikap sahabat gue jauh lebih berubah, suasana mood hatinya juga mudah naik-turun kayak cewek lagi PMS.”
‘Buset, bah! Koma nyampe dua tahun, dong?! Gilak lama sama parah banget, gue aja Koma nyampe empat bulan doang. Itupun sengsara bener karena ketinggalan banyak materi pembelajaran yang buat brain gue suka blank kalau belajar di kelas,’ celomes Reyhan.
Pemuda tersebut yang tak ingin melihat suasana sunyi seperti ini apalagi Angga yang diam tak menggubris ucapan panjang lebarnya, segera membentangkan tangan kanannya untuk mengajak Angga kenalan. “Gue Daniel Yudistira Andranata. Lo bisa panggi gue dengan nama depan, Daniel.”
‘Daniel Yudistira Andranata? Secara samar-samar kenapa gue pernah dengar nama dia? Jangankan nama, orangnya juga pernah gue lihat. Tapi gue lihatnya dimana ...?’
Tanpa lama-lama lagi, Angga pun membentangkan tangannya untuk berjabatan tangan. Dengan sedikit mengukir senyuman tipis andalannya. “Anggara Vincent Kavindra, panggil aja Angga.”
‘Anying, buset! Namanya Anggara Vincent Kavindra?? Lah, kok gue kek pernah denger yak namanya ini cowok? Apa dia seorang lelaki terkenal di kota Jakarta? Eh gak mungkin juga kali, ya? Mending gue tanya aja deh.’
“Anggara Vincent Kavindra? Gue pernah denger, lho nama elo. Apa lo lelaki terkenal di kota Jakarta?” tanya Daniel to the point.
Angga menaikkan kedua alisnya, agak tersentak mendengar pertanyaan yang Daniel lontarkan. “Apa? Gak usah ngada-ngada kalau bertanya. Gue cuman rakyat biasa di kota Jakarta.”
Sedangkan si Reyhan yang diam menyimak, mulai mengatupkan bibirnya rapat-rapat untuk menahan tawanya yang nyaris keluar. Tetapi dengan gampangnya sahabat pendiamnya amat peka hingga lengan tangannya di siku kencang oleh Angga.
__ADS_1
Secara tak sengaja, pandangan mata Angga terpusat pada atas langit. Di sana terdapat sosok gadis arwah yang melambaikan kedua tangannya ke atas tanpa mengeluarkan suara untuk memanggil namanya. Ya, itu adalah Senja Intara Alanda yang jarang muncul di hadapannya.
“Angga! Itu Daniel si temen-mu pas kamu masih jadi roh gara-gara raga kamu Koma pada lima bulan silam! You must remember that, cowok ganteng!”
Angga mendengus tanpa berpaling dari Senja pemilik mata iris warna ungu yang terkesan fantastik begitupun rambut hitam yang disela-sela tengahnya berwarna putih nang terlihat sangat unik. Hingga Daniel yang tengah menatap Angga, ikut melihat ke atas langit sesuai arah yang Angga tatap. Tetapi Daniel nang merupakan manusia biasa tanpa mempunyai kelebihan apapun, tak mampu melihat apa yang sedang Angga lihat di atas langit sana.
Daniel menggaruk kepalanya dengan raut bingung jelas. “Ngga? Lo lihat apaan? Lihat awan, kah?”
Reyhan yang mampu melihat sosok makhluk astral tak kasat mata, mencondongkan kepalanya dengan jidat berkerut heran sedang apa perempuan hantu itu lakukan di atas sana. Tapi jika diamati lebih detail, arwah tersebut tengah berkomunikasi pada Angga. Di bawah, Reyhan menatap Senja penuh senyuman kagum melihat model uniknya mulai dari warna mata hingga rambutnya.
“Cantik bener itu cewek setan? Pasti salah satu dari temennya si sahabat gue,” gumam Reyhan terpukau.
“Siapa yang cantik? Kayaknya di sini nggak ada cewek satu pun, deh. Cuman tinggal kita bertiga doang yang di sini,” celetuk Daniel lepau Reyhan.
Bukannya menjawab dari pertanyaan Daniel yang bingung, Reyhan malah mengangkat tangan kanannya untuk melambaikan tangannya ramah pada Senja. Senja pun yang dilambaikan oleh manusia remaja lelaki tersebut, membalas lambaiannya dengan tersenyum lebar.
Daniel melongo tak mengerti siapa yang Reyhan sapa menggunakan lambaian tangan itu, yang padahal di atas langit sana tak ada siapapun. “Lo nyapa siapa, sih? Bingung dah, gue. Soalnya di atas sana nggak ada siapa-siapa.”
Reyhan akhirnya menoleh ke arah Daniel yang masih menggaruk kepalanya. “Gak usah garuk-garuk kepala gitu kek monyet. Lo gak liat, di atas sono ada cewek cantik yang posisinya mengambang di udara?”
Mata Daniel auto membelalak kaget. “What?! 'Cewek cantik yang posisinya mengambang di udara'?! M-maksud lo setan?!”
“Hah? Setan? Ah masa?”
Angga yang sedari tadi ingin sekali memukul Reyhan karena kebodohan sang sahabat tentang kehadiran sosok arwah macam Senja itu, langsung memukul paha sahabatnya dengan kencang. “Dongo!”
“Sakit, lho ...” lirih Reyhan dengan memberikan raut ekspresi wajah melas pada Angga.
Rahang Angga mengeras karena Reyhan yang sampai sekarang tidak peka-peka terhadap sosok yang di atas langit tersebut termasuk Daniel nang merupakan manusia biasa yang tak bisa melihat makhluk gaib. ‘Lo kenapa malah melambaikan tangan sama dia?!’
Reyhan menaikkan satu alisnya pada batin relung hatinya Angga. Jelasnya sahabat Indigo-nya itu tengah mengajak ia berkomunikasi secara lewat telepati. ‘Emangnya kenapa, sih? Cewek itu cantik banget, Bro !’
‘Dasar, lihat cewek cantik aja, mata lo langsung jelalatan! Sosok perempuan remaja yang berumur enam belas tahun itu yang elo lihat, hantu arwah !’
Kedua mata Reyhan langsung melotot sempurna setelah Angga mengatakan kalimat tersebut dalam hati. ‘Hah? Hantu arwah, toh?! Abisnya auranya positif sih kayak manusia pada umumnya, ya gue gak bisa ngira kalau dia setan.’
Angga berakhir menepuk jidatnya yang tertutupi oleh rambut hitamnya dengan kedua mata saling memejam. Ya, sepertinya Angga sebagai lelaki Indigo harus memakluminya saja atas kurang kepekaannya Reyhan terhadap segala sosok makhluk astral. Dikarenakan sahabatnya baru awal mengerti tentang soal mata penglihatan layaknya yang Angga miliki sejak kecil.
Daniel yang menatap Reyhan dan Angga secara bergiliran, tambah jauh lebih bingung. “Ini dua cowok kenapa malah saling tatap-tatapan gitu, dah? Apa jangan-jangan mereka lagi ngobrol lewat komunikasi telepati?”
Daniel lantas itu melenggangkan kepalanya ke arah atas langit tepat dimana Reyhan melambaikan tangannya. “Lalu, soal cewek cantik itu? Apa ... mereka berdua adalah tergolong anak six sense yang bisa lihat roh-roh atau arwah-arwah gitu?”
Daniel kemudian menghela napasnya pendek. “Huh ... udahlah, Niel. Mending lo diem aja, gak usah tanya-tanya lagi sama mereka. Mereka pasti gak mau cerita soal hal itu.”
Daniel segera beranjak berdiri untuk mendirikan motor Honda matic silver Reyhan yang tergeletak di atas aspal. Setelah berhasil mendirikan kendaraan sahabatnya Angga yang baru ia kenal hari ini, Daniel beralih membungkukkan badannya usai standar-kan motornya Reyhan. Daniel tengah mengecek apakah ada suatu kerusakan atau lecet di bagian badan motor pemuda Friendly itu yang sedang bermain komunikasi telepati pada Angga.
Daniel lalu memutar badannya beberapa derajat ke arah Reyhan. ‘Siapa, ya nama itu cowok yang abis kena tabrak motor sahabat gue? Hmmm ... Reyhan Lintang E? Mending gue coba panggil dia dengan nama depan aja, deh.’
“Reyhan.”
Reyhan teralihkan pandangan oleh suara Daniel yang memanggilnya, sontak langsung lelaki berambut cokelat tersebut menoleh ke arahnya dengan senyuman khasnya. “Eh, iya? Buset, kok elo bisa tau nama gue? Apakah karena gue ini orang terkenal jadinya semua orang termasuk elo bisa mengenali nama gue?”
“Anu, gue tau nama lo karena ngeliat name tag di samping kanan seragam jas almamater lo, hehehe.” Daniel nyengir pada kepercayaan diri Reyhan.
“Oh iya, deng. Gue lupa kalau gue masih pake seragam sekolah.”
“Mangkanya jadi cowok gak usah terlalu kepedean,” kemam Angga pelan dengan kepala menoleh berpaling dari Reyhan.
Reyhan mendengus sembari menyiku kuat bahu kiri Angga dengan bersama sorot mata tajamnya. “Gue masih denger, senglek!”
Angga merapatkan bibirnya dengan menggeram jengkel pada tingkahnya Reyhan kepadanya barusan, pemuda tampan berkulit putih bersih tersebut hanya memegang bahu kanannya saja tanpa mengeluarkan protes komentar untuk sahabatnya.
Reyhan kembali menoleh ke arah Daniel yang masih berdiri di samping motor miliknya. “Bro. Makasih ya, udah bantuin gue.”
Daniel senyum meringis pada Reyhan. “Gak masalah.”
Angga berinisiatif mengangkat tangan kanan Reyhan yang ada di sampingnya, sementara tangan satunya Angga gunakan untuk mengangkat badan sahabatnya. Setelah itu, lelaki tersebut memungut helmnya Reyhan yang ada di bawah sahabatnya.
Daniel melangkah menghampiri Reyhan dengan tampang masih khawatir. “Rey, lo yakin nggak mau gue anterin ke rumah sakit? Lo lihat aja cara jalan elo, pincang gitu. Gue mau kok bertanggung jawab walau gue tau Yuda sahabat gue yang salah.”
Reyhan menggeleng untuk menolak pelan. “Santai aja udah. Lupain aja yang tadi, wajar dan maklum juga kalau orang lagi emosi kayak gimana. Contohnya kayak gue.”
‘Ngaku juga dia,’ batin Angga.
Reyhan yang mampu mendengar suara dalam lubuk hati Angga, segera melirik sahabatnya dengan tatapan sinis. Daniel tersenyum hambar karena tolakan lelaki tersebut dari sahabat akrabnya Angga. “Begitu, kah? Padahal nggak apa-apa, lo juga gak ngerepotin gue. Tapi kalau lo emang kagak mau dianterin ke rumah sakit, oke lah gue tidak memaksa atas tolakan elo sama gue.”
Reyhan melebarkan sunggingan senyumannya. “Sekali lagi makasih, ya karena udah nawarin gue. Sekarang gue udah nggak apa-apa kok, cuman ngilu di bagian tangan dan punggung aja. Yaa, kaki juga termasuk, sih.”
Daniel menganggukkan kepalanya dengan melempar senyuman aura ramahnya yang terpancar, daripada Yuda yang memberikan aura sinis gelapnya nang membuat emosi Reyhan terpancing begitupun Angga yang pemuda tersebut masih sanggup menahan atau memendam amarahnya tadi sebelum sahabatnya Daniel pergi begitu saja meninggalkan.
“Kalau gitu gue balik dulu, ya? Sekali lagi, gue minta maaf banget atas perilaku kesalahannya sahabat gue. Nanti kalau ada sempat waktu, gue nasehati pelan-pelan.”
Angga dan Reyhan hanya diam manggut-manggut kepala secara kekompakan. Setelah itu, Daniel pergi melangkah ke arah jalan kanan untuk menghampiri motor yang berjenis sepadan Reyhan serta Angga. Di sisi lain, Angga menatap punggung Daniel seraya berpikir keras tentang sosok pemuda tersebut yang telah menolong Reyhan serta meminta maaf sebesar-besarnya akibat ulah emosi Yuda.
Meskipun sudah beberapa kali Angga coba ingat-ingat gambaran fakta Daniel, namun tetap saja gagal. Yang pastinya, secara sayup-sayup Angga sebelumnya pernah melihat lelaki itu yang hendak pergi meninggalkan ia dan juga sahabatnya. Tetapi di sini Angga sadar, bahwa akibat cedera fisiknya yang sempat menimbulkan Koma selama 2 bulan membuat daya ingatannya begitu lemah.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››