Indigo

Indigo
Chapter 47 | Ruined Day


__ADS_3

Malam itu sepertinya tak terjadi apa-apa, namun mengapa Reyhan bisa terbaring di lantai kamar? Pemuda tersebut bangun dari baringnya, menatap sekeliling kamarnya. Udara pagi sangat dingin angin juga berhembusan kencang tak hanya itu saja tetapi dengan disertakan langit yang mendung pekat.


Reyhan mengusap kepalanya yang terasa sakit. "Gue kenapa bisa ada di lantai? Bukannya gue tidurnya di kasur. Sial, gue gak inget apa-apa!"


Reyhan yang tak ingin berlama-lama di kamar karena ini sudah jam 05.00 ia memutuskan berdiri perlahan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai 15 menit Reyhan gunakan untuk mandi, Reyhan kembali ke kamarnya mengenakan seragam putih lengan pendeknya yang ujung lengannya bermotif kotak-kotak berwarna abu-abu dipadukan warna hitam, tak lupa pemuda itu mengenakan dasinya dengan rapi dan memakai sabuk, dan mengenakan rompi warna abu-abunya.


Lantas telah rapi, dan lengkap atributnya Reyhan mulai cangklong tas punggungnya di pundaknya lalu pergi turun dari tangga. Di bawah tangga sudah ada Farhan dan Jihan berdiri mengobrol serius di antara ekspresi wajah sedih dan marah. Bahkan disaat Reyhan menuruni tangga, firasat Reyhan sudah tidak enak pada tatapan kedua orangtuanya yang mengarah ke anak semata wayangnya.


"Hai Ma, Pa selamat pagi. Muka kalian kok gini banget? Mama sama Papa kenapa?" sapa hangat Reyhan yang dilanjutkan menanyai mama papanya.


"GAK USAH SOK RAMAH DAN SOK TIDAK TAU YA KAMU!!!"


Reyhan amat-amat terkejut pada jawaban Jihan yang sangat marah padanya, apalagi matanya sampai melotot mengartikan wanita itu sangat benar-benar marah pada Reyhan.


"M-mama?! Mama kenapa? Kok tiba-tiba bentak Reyhan gini? Reyhan ada salah?" tanya Reyhan hati-hati.


"SUDAH TAU KENAPA NANYA??!!" Napas Farhan naik turun dengan cepat serta rahangnya mengeras.


"P-pa! Ma! Kalian kenapa sih?! Coba katakan saja, Reyhan salah apa sama kalian berdua hingga Mama sama Papa marah banget pada Reyhan."


"Katakan salah apa kamu?! APA KAMU TIDAK INGAT DIMANA KEJADIAN MALAM TADI??!!"


"K-kejadian malam tadi apa, Ma?!"


"Halah! Nggak usah pura-pura lupa deh!! Kamu nggak ingat kalau kamu semalam MAU BUNUH MAMA DAN PAPA??!!


Flashback On


Terlihat tengah malam itu Farhan dan Jihan duduk di kursi sofa tempat ruang keluarga sembari menonton suatu film di salah satu channel favorit mereka berdua. Namun berapa saat menit kemudian...


PRAAANGG !!!


PYAAAARR !!!


Sepasang suami istri itu kaget langsung menoleh ke arah dapur, melihatnya anak semata wayangnya menjatuhkan piring serta gelas kaca di atas tempat asah-asahan.


"Ya ampun Nak!!"


Jihan langsung berlari begitupun Farhan yang ada di belakangnya, mereka berdua menghampiri Reyhan yang wajahnya datar serta sorot matanya dingin tajam.


Farhan menundukkan kepalanya melihat pecahan beling piring dan gelas lalu mendongak menatap Reyhan bingung kaget.


"Rey! Kenapa piring dan gelasnya kamu jatuhin! Kamu pikir beli piring sama gelasnya pakai rumput-rumput tanaman tetangga?! Kenapa? ada apa dengan mu, Nak?"


"Nggak usah lembut dengan anakmu!!" Reyhan langsung setelah mengucapkan kata itu menginjak-injak pecahan beling dengan tanpa alas kaki.


"Eh Nak!! Jangan di injak seperti itu!! Kakimu jadi luka berdarah kan!!" teriak panik Jihan.


"Ayo sini Nak, Mama obati kakimu yang luka .. pasti sakit banget. Lihat deh telapak kakimu banyak tertancap beling kaca!"


BATS !


Jihan yang akan mengulurkan tangannya untuk membawa Reyhan ke sofa, langsung di tepis kuat oleh anaknya sendiri.


"Nggak usah sok perhatian!! Gaya lawas!"


"A-apa maksud kamu, Nak?! Kenapa kamu ngomong seperti itu? Mama gak bisa liat kamu terluka, apa itu salah?"


Jihan memegang lembut pundak anaknya dengan sayang namun Reyhan teganya mendorong Jihan hingga punggung Jihan nyaris tertabrak kursi meja makan. Reyhan memandang tidak suka pada sikapnya Jihan terhadapnya.


"Nggak usah pegang-pegang, Najis Ma!"


"Ya Allah Nak!! Ada apa sama kamu, Sayang?! Kalau Mama ada salah Mama minta maaf! Sekarang bilang saja, Mama salah apa sama kamu hingga kamu sampai terlihat benci sekali dengan Mama?!"


"Aku hanya benci dengan sikap Mama yang sok sayang dan perhatian sama aku!"


Reyhan kemudian berjalan meninggalkan kedua orangtuanya di ruang dapur, Reyhan berhenti di depan bingkai foto keluarganya yang menampilkan wajah ceria di sana, dimana Reyhan menggunakan stelan jas rapi begitupun Farhan sedangkan Jihan mengenakan gaun panjang ciamik anggun di dalam bingkai foto berukuran besar tersebut. Reyhan menggelengkan kepalanya pada foto itu, ia ambil begitu saja dari pajangan setelah itu membantingnya ke lantai hingga sebagian retak.


"REYHAN YA ALLAH!!! APA KAMU SUDAH TIDAK WARAS MERUSAK BINGKAI FOTO KELUARGA KITA??!!"


Reyhan tak menggubris ucapan Farhan yang menjadi emosi, anaknya menghentak-hentakan satu kakinya di atas bingkai foto keluarganya tersebut hingga hancur pecah berkeping-keping lapisan kacanya.


"REYHAN HENTIKAN REY!! HENTIKAN!!" Farhan yang tak tahan langsung menarik kuat Reyhan ke belakang, namun Reyhan langsung berbalik badan kemudian menonjok perut sang ayah dengan kuat hingga beliau jatuh tersungkur.


BUGH !!!


BRUGH !!!


"PAPA!!!" teriak Jihan menghampiri suaminya.


"Astaghfirullah Ya Allah! Perutku!!" keluh Farhan dengan nada seperti menekan.


Jihan menoleh cepat ke arah depan. "SUDAH PUAS KAMU NAK?! SUDAH PUAS??!!"


Reyhan tersenyum smirk tak memedulikan Farhan yang kesakitan karena ulahnya ia, Jihan mengeluarkan air matanya dengan ekspresi wajah amarah padanya.


"Kenapa? Mau marah? Marah aja, marah."


"Astaga Nak!! Kamu ini kenapa sih!! Kenapa kamu dengan teganya menyakiti Papa kamu sendiri, papa kandungmu! Mama sama Papa salah apa sama kamu Nak?! Tolong jawab dan jujurlah, kalau Mama Papa salah sama kamu .. Mama dan Papa pasti akan langsung minta maaf sama kamu Rey!!"


"D-dan Rey, k-kamu kenapa sifatmu tiba-tiba berubah?! Papa dan Mama merasa kamu bukan anak Papa dan Mama."


"Aku anakmu, tapi aku gak sudi tinggal bersama kalian lagi!! Dan aku mau ..."


Reyhan mengeluarkan pisaunya dari dalam saku celana panjang biru dongker-nya. "KALIAN MATI MALAM INI JUGA!!!"


DEG !


"JANGAN NAK JANGAN!! TOLONG JANGAN BUNUH MAMA DAN PAPA!! MAMA PAPA SAYANG BANGET SAMA REYHAN, TOLONG JANGAN LAKUKAN ITU NAK!!!"


Jihan berteriak memohon-mohon pada Reyhan yang pisaunya telah ia angkat. Dengan tanpa sepatah kata apapun, Reyhan pada tingkah anehnya langsung menjatuhkan pisaunya kemudian berjalan memutar kunci rumahnya untuk membuka pintu.


BRAKK !!!


Setelah berada di luar, Reyhan membanting pintunya tak peduli juga tetangganya terbangun karena bantingannya sangat keras. Jihan dengan tangisan deras berjongkok kembali untuk membantu Farhan bangkit sedangkan Farhan baru mengeluarkan air matanya sedikit demi sedikit mengalir. Tak menyangka anak yang mereka besarkan dan mereka sayangi tiba-tiba sikapnya berubah menjadi 180°


"Hiks hiks! Ayo Pa hiks Mama bantu hiks!"


Flashback Off


Reyhan mengeluarkan linangan air matanya dengan menggelengkan kepalanya dalam wajah raut kaget.


"Astaghfirullahaladzim ... Mama, Papa demi Allah Reyhan nggak berani seperti itu?! Jangankan berani, melakukannya ada rasa gak tega! Reyhan itu sayang banget Sama Mama dan Papa! Reyhan yakin, pasti itu salah paham saja."


"Salah paham katamu?! Jelas-jelas malam itu benar-benar kamu nyata?! Kamu jangan mencoba untuk mengarang dan menipu Mama dan Papa!! Mama sama Papa lihat pakai mata kepala sendiri!"


"Ma, Reyhan mohon tolong percaya sama Reyhan! Itu bukan Reyhan, Mama! Reyhan tadi malam sudah tidur .. bahkan paginya tau-taunya Reyhan ada di lantai, Reyhan juga nggak ingat apa-apa tentang malam tadi!" Reyhan menoleh ke Farhan. "Pa, tolong percaya sama Reyhan, Pa! Demi Allah Reyhan nggak seperti itu! Reyhan berani bersumpah!"


"Tidak semudah itu Papa dan Mama percaya sama kamu Rey!! Tadi malam, kamu bilang juga tidak sudi tinggal bersama Papa dan Mama .. oke sekarang kamu angkat dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi!!"


"J-jangan Pa! Reyhan nggak mau! Reyhan nggak ada salah apa-apa sama kalian berdua, benar itu Pa Reyhan tidak berbohong!!"


"Mau kamu jelasin yang sebenarnya Papa sudah tidak peduli Rey! Sekarang pergi! PERGI!!!"


"Pa, tolong dengarkan Reyhan dulu Pa-"


"Keputusan Papa apalagi Mama sudah mutlak Rey!! Karna kamu gak sayang sama Papa dan Mama selain itu kamu sudah Durhaka! Lebih baik kamu pergi saja! Itu kan ucapanmu tadi malam kalau kamu tidak sudi tinggal bersama kedua orangtuamu yang menyayangimu!"


"SUDAH DURHAKA, SAKIT JIWA, LAGI!!!"


Reyhan terdiam pada ucapan Farhan yang menohok hatinya, Reyhan menunduk tak bisa berkata apa-apa. Tetapi yang sesungguhnya Reyhan tak setega itu pada kedua orangtuanya, air matanya semakin deras mengalir, kepalanya terasa pusing pada kesalahan paham besar ini.


"Kenapa masih diam saja?! AYO SANA KELUAR!!! MAU NYARI CARA BOHONG APALAGI KAMU, HAH??!!"


"E-enggak Pa! Enggak!"


"YASUDAH SANA PERGI!!! PAPA KECEWA SAMA KAMU!!!"


"Pa tapi Rey-"


"KELUAR ATAU PAPA SERET??!!"


Bibir Reyhan membungkam, ia seperti tak ada kata-kata untuk agar Farhan dan Jihan percaya padanya tetapi sudah mustahil karena mereka berdua telah marah sangat pada Reyhan apalagi benar-benar kecewa.


"Baik. Reyhan akan keluar dari rumah ini balik pun Reyhan nggak pernah lagi. Tapi ada satu yang Reyhan minta, jangan nyesel ya kalau sudah tau sebenarnya. Reyhan pamit, Assalamualaikum."


Reyhan melenggang pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang ia sayangi begitupun rumahnya serta komplek. Menutup pintu rumah dan berjalan begitu saja, Reyhan tak pergi ke sekolah menggunakan motornya karena tadi Reyhan lihat rupanya kunci motornya sedang di genggam oleh papanya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


CTAAAAAARR !!!


DRRRRRRRSSS !!!


Di jalan kota masih beberapa kilometer untuk sampai di bangunan SMA Galaxy Admara, Reyhan berjalan sangat lesu bahkan kerasnya petir menggelegar di atas langit dan guyuran air hujan deras Reyhan tak memedulikan itu. Pemuda itu tak memedulikan daya tahan tubuhnya semakin lemah jika terkena air hujan deras seperti ini, bahkan kini kepalanya terasa amat pusing dan sepertinya Anemia-nya kambuh. Reyhan mendongakkan kepalanya ke atas langit yang abu-abu gelap seperti hati pemuda ini yang telah suram.


Namun tiba-tiba ada suara klakson motor dari belakang, Reyhan menoleh ke belakang yang ternyata itu adalah Angga yang posisinya mengenakan jas hujan.


"Woi Rey! Lo kenapa hujan-hujanan begini?! ke sekolah jalan kaki?!"


Reyhan hanya diam tetap pandangan menghadap depan tak menoleh ke Angga dan tak menjawab pertanyaan Angga yang telah berhenti di sampingnya, Angga sepertinya tak bisa menanyai Reyhan di perjalanan kota.


"Yaudah ayo gue anter ke sekolah! Hujannya makin deres soalnya! Ayo cepetan!"


Angga meninggikan suaranya bukan karena marah pada sahabatnya namun saking kerasnya hujan, orang yang sedang mengeluarkan suara pun tak terdengar oleh penangkap suara ke telinga maka dari itu Angga harus meninggikan nadanya.


Reyhan mengangguk kemudian menaiki motor Angga dengan lemas. Setelah sahabatnya berada di atas motornya, Angga menjalankan kembali motornya di kecepatan sedang. Hujan yang deras Angga harus hati-hati mengendara karena kalau tidak aspal yang licin pasti membuat roda motornya tergelincir akibat mengebut.


Berkat karena sahabat pendiam-nya, akhirnya Reyhan sampai di sekolah begitupun Angga walaupun sekujur tubuh Reyhan basah kuyup. Karena dinginnya angin dan derasnya hujan para siswa dan siswi banyak yang belum datang, usai tiba di parkiran motor Angga menyuruh Reyhan untuk berlari ke dalam lobby sekolah duluan, agar Reyhan tidak tambah masuk angin.


Berlari pun Reyhan tak ada tenaga, bahkan setelah di dalam lobby Reyhan mendekap tubuhnya yang menggigil kedinginan, malangnya ia tak membawa jaket dalam tas. Reyhan menutup matanya dikarenakan kepalanya terasa amat pusing melebihi dari waktu ia jalan tadi. Tepat itu Angga muncul menghampiri Reyhan yang bersandar di tembok lobby, menatap sahabatnya yang kedinginan apalagi sekujur tubuhnya basah kuyup termasuk rambutnya.


"R-rey! Duh, mana masih deres lagi hujannya!" Angga mengedarkan setempat mencari tempat untuk menghangatkan tubuh Reyhan.


"N-n-ngga ..."


Setelah Reyhan mengucapkan kata terbata-bata, pemuda yang kedinginan itu tiba-tiba ambruk ke samping. Dengan mata terbelalak Angga sigap cekatan menangkap badan Reyhan, karena Angga juga tak bisa menahan lama beban tubuh Reyhan Angga dengan perlahan duduk ke lantai bersama menopang tubuh Reyhan yang sudah lemah. Pemuda Indigo itu menyandarkan punggung dirinya di tembok, sementara satu tangan Angga menopang punggung Reyhan dan di telapak tangannya memegang pundak Reyhan.


"Reyhan! Rey, lo denger gue?!"


Meskipun mata Reyhan nampak masih terbuka dengan sangat sedikit namun pandangannya telah mengabur serta suara Angga terdengar menjadi samar-samar. Setelah itu tak berapa menit kemudian, mata Reyhan kembali menutup bersamaan tangan yang ada di atas perutnya jatuh ke lantai. Angga menggelengkan kepalanya kuat dengan gigi menggertak, ada raut wajah panik melihat sahabatnya pejam mata.


"Jangan lagi Rey! Jangan!" Angga mengguncang tubuh Reyhan namun nihilnya tak ada respon sama sekali dari Reyhan.


Bertepatan itu juga, Johan datang dengan mengomel-ngomel karena seragamnya sedikit basah, tapi pada kemudian mata Johan tak sengaja melihat wakil PMR-nya dan Reyhan yang terbaring dalam topangan Angga.


"Eh Ngga! Ini Reyhan kenapa?!" pekik Johan menghampirinya.


"Angga nggak tau Kak! Tapi tolong bawa Reyhan ke UKS sekarang, ya!"


Belum mengangkat tubuhnya Reyhan, datanglah pak Arya yang bersenandung setelah memasuki pintu kaca sliding dua daun pintu otomatis. Pak Arya berhenti bersenandung disaat melihat satu murid favoritnya terbaring mata terpejam, beliau segera berlari menghampiri Angga, Reyhan, dan Johan.


"Eh ini Reyhan kenapa lagi?! Pingsan?! Atau main drama?!"


"Duh Pak Arya, jangan pakai bercanda lah! Ini Reyhan pingsan bukan drama apalagi acting! Pak tolong bawa Reyhan ke UKS aja ya Pak!"


"Waduh Han, pingsan lagi ternyata .. y-yaudah biar Bapak yang bawa Reyhan ke UKS! Oh iya ini tolong bawain tas-nya Bapak ya, Ngga."


"Baik Pak, kemari kan tas-nya Bapak."


Pak Arya cepat-cepat melepas tas punggungnya dan memberikannya kepada Angga lalu beliau dengan segera mengangkat tubuh muridnya yang basah kuyup tapi pak Arya tak kesah kalau pakaian keringnya ikut basah malah justru pak Arya khawatir pada murid kesayangannya yang tak sadarkan diri seperti kemarin.


Sesampainya di ruang UKS meskipun sebelumnya pak Arya menjadi pusat perhatian para seluruh murid-murid yang menggendong Reyhan apalagi yang menjadi bahan pembicaraan, Reyhan yang hilang kesadaran. Kini pak Arya dengan perlahan membaringkan Reyhan di atas kasur UKS bahkan kasur UKS yang kering juga ikut menjadi basah karena tubuh Reyhan yang basah kuyup itu.


Pak Arya menoleh ke arah Angga. "Ngga, apa tadi Reyhan hujan-hujanan??"


"Tadi saat saya sedang mengendara motor menuju ke sekolah, saya melihat Reyhan jalan kaki di kondisi hujan deras, Pak. Jadinya, saya mengantar Reyhan ke sekolah daripada Reyhan masuk angin."


"Gini-gini Reyhan udah termasuk masuk angin kan, Ngga. Orang sampe pingsan lagi," timpal Johan.


"Hhhh, terus ini bagaimana? Pak Harry sepertinya juga belum datang. Gini saja ya Ngga, Han .. kalau pak Harry sudah tiba di sekolah, Bapak akan segera memberitahu beliau mengenai Reyhan ini. Oh atau begini saja Bapak panggil pak Harden dulu ya, pasti pak Harden sudah di dalam sekolah. Tunggu, ya."


"Baik Pak," jawab kompak Angga dan Johan sopan.


"Pak Arya, ini tas-nya."


"Oh iya sampai lupa Bapak kalau bawa tas hehehe, terimakasih ya Angga."


"Ya Pak, sama-sama."


Pak Arya berbalik badan kemudian melangkah pergi dari ruang UKS sembari menenteng tas punggungnya di pundak kanan. Angga menatap Reyhan yang berwajah pucat, Angga menghela napasnya dan memutuskan duduk di kursi.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Sebagian siswa dan siswi kelas XI IPA 2 serta kepala sekolah, wali kelas menatap Reyhan yang juga belum kunjung sadar padahal ini sudah menjelang sore dan sebentar lagi bel pulang akan berbunyi. Mata Freya berkaca-kaca akan mengeluarkan air beningnya dari mata, sedangkan Jova menggigit bibirnya sembari terus menilik jam dinding yang jarumnya semakin berlalu.


Angga yang masih menetap di kursi samping kasur UKS yang mana tempat Reyhan terbaring di situ, nyaris saja ketiduran.


"Angga, melihat kondisi Reyhan yang gak memungkinkan bagaimana kalau-"


KRIIIIIIIINGG !!!


"Nah kan Vran, apa gue bilang ... ramalan gue bener, Bro."


"Heh, Ajinomoto! Yaiyalah bener, orang emang pulangnya jam segini!" jawab Jevran.


"Eeee maaf Pak, kalau apa ya Pak tadi?" tanya Jova pada pak Harden.


"Kalau, Reyhan dibawa ke rumah sakit, Bapak tidak yakin Reyhan akan sadar di sini."


"Baik Pak tidak apa-apa, saya setuju .. mungkin dengan itu Reyhan diberikan perawatan di sana, Reyhan akan segera sadar."


"Eh Ngga tapi gimana orangtuanya yang di rumah? Oh atau di kabarin dulu aja?" tanya Johan yang akan menyalakan layar ponselnya.


"Tidak usah dulu Han, lebih baik Reyhan di bawa ke rumah sakit saja terlebih dahulu .. nanti saja menghubungi orangtuanya Reyhan disaat Reyhan sudah di rumah sakit."


"Saya setuju, Pak Harry." Pak Harden berucap.


"Pak, lalu bawa Reyhan ke rumah sakitnya pake apa??" tanya Aji.


"Pake mobil lah anjir! Yakali bawanya ke rumah sakit pake becak!" ucap kesal Jevran dengan memukul punggung Aji.


"Tetangga Reyhan yang Somplak! Sakit, dongo!"


"Iya Vran, kebetulan Bapak bawa mobil .. jadi daripada lama-lama di sini, Reyhan lebih baik segera di bawa ke rumah sakit, ya."


"Baik Pak Harden, beruntung aja hujannya sudah berhenti jadinya kami semua yang di sini bisa nyusul Reyhan nanti di sana. Kalian pada bawa kendaraan masing-masing, toh?" tanya Johan.


Semuanya mengangguk yang tak lain adalah Angga, Freya, Jova, Aji, dan Jevran.


"Eh Ngga, Reyhan ke sekolah bawa motor gak?" tanya Jova pada sahabatnya.


"Enggak, tadi Reyhan jalan kaki yang pada akhirnya aku anter sampe sekolah."


"Oh iya deng kamu udah ngomong ya tadi, hehehe. Kok aku lupa sih."


"Wuuu dasar pacarnya Reyhan!" sorak ledek Aji.


"Heh! Apaan sih, Ji! Belum pernah yak mulutmu ku cium pake sepatu yang biasanya di pake petani di sawah?!"


"Ji, jangan bercanda dong .. situasi ini tuh lagi urgent, tau kan?" tanya Freya sendu.


"Iya-iya, deh maafin aku. Yaudah yok Ngga, Vran, Frey, Va, Bang Han .. ambil tas di kelas."


Aji mengajak para mereka ke kelas meskipun ada salah satu siswi yang beda kelas untuk mengambil tas punggungnya, yaitu Johan. Usai mengambil tas, mereka bergegas pergi ke parkiran mana di sana sudah ada pak Harden memasukkan Reyhan ke dalam mobil pintu belakang depannya pintu kemudi, di situ ada pak Harry membantu pak Harden. Sementara Angga, Freya, Jova, Aji, Jevran, dan Johan naik ke motor honda-nya masing-masing.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di komplek Kristal.


Dalam rumah, Jihan nampak memunguti kepingan pecahan kaca dari bingkai foto rumah tangganya. Wanita itu memasukan kepingan-kepingan kaca ke dalam plastik kresek hitam, namun matanya terpusat pada foto Reyhan yang tersenyum ramah di dalam foto. Meskipun Jihan masih tak menyangka Reyhan bisa berbuat setega semalam itu bahkan pagi tadi ia memarahi Reyhan habis-habisan, air matanya menetes mengenai wajah foto Reyhan menandakan beliau masih merindukan pada anaknya yang telah suaminya usir dari rumah.


Flashback On


"Astaghfirullahaladzim ... Mama, Papa demi Allah Reyhan nggak berani seperti itu! Jangankan berani, melakukannya ada rasa gak tega! Reyhan itu sayang banget Sama Mama dan Papa! Reyhan yakin, pasti itu salah paham saja."


"Salah paham katamu?! Jelas-jelas malam itu benar-benar kamu nyata?! Kamu jangan mencoba untuk mengarang dan menipu Mama dan Papa!! Mama sama Papa lihat pakai mata kepala sendiri!"


"Ma, Reyhan mohon tolong percaya sama Reyhan! Itu bukan Reyhan, Mama! Reyhan tadi malam sudah tidur .. bahkan paginya tau-taunya Reyhan ada di lantai, Reyhan juga nggak ingat apa-apa tentang malam tadi!"


"Pa, tolong percaya sama Reyhan, Pa! Demi Allah Reyhan nggak seperti itu! Reyhan berani bersumpah!"


Flashback Off


"Apa aku dan suamiku sudah salah paham dengan Reyhan? Tapi kejadian semalam terlihat nyata." Jihan memejamkan matanya bersamaan air linangan miliknya mengalir ke pipinya. "Kenapa aku ngerasa salah paham sama anakku sendiri, bahkan tadi pagi saja seperti bukan salah Reyhan. Hiks! Aku bodoh, seharusnya aku nggak membiarkan Farhan untuk mengusir Reyhan dari rumah. Kenapa aku diam saja Ya Allah hiks hiks!"


Dalam posisi berjongkok, Jihan menutup wajahnya yang penuh berlumuran air mata menggunakan kedua telapak tangannya. Sementara Farhan yang usai balik dari dapur mendengar suara tangisan tersedu-sedu di ruang keluarga, Farhan segera mendatangi sumber suara tangisan itu dan pria itu langsung mendapati istrinya menangis posisi wajahnya di tutup.


"Ma?! Mama kenapa nangis?!" kejut Farhan dengan berjongkok di sisinya seraya memegang pundak Jihan.


"Apa Papa tadi nggak menyesal mengusir Reyhan?"


"Maksudnya Mama gimana? Kok tiba-tiba nanya itu?" Farhan bingung karena tiba-tiba saja di keadaan menangis istrinya menanya seperti itu.


"Hiks! Mama rasa kita sudah salah paham sama Reyhan, Pa!"


"Lah, salah paham bagaimana?! Memang benar kan Reyhan yang melakukannya tadi malam, apalagi kita hampir mati karena anak itu!"


Jihan menyingkirkan kedua telapak tangannya dan menatap lekat Farhan. "Coba Papa pikir, apa pernah sih Reyhan berani berbohong sama kita berdua?! Raut wajah Reyhan dan cara bicara anak kita bisa Mama tebak, Reyhan tidak menyimpan kebohongan dari Mama dan juga Papa! Seharusnya ... Mama nggak membiarkan Reyhan pergi tadi! Kalau saja Papa masih mau buka hati untuk Reyhan dan mau mendengarkan penjelasan Reyhan, kita jadi tau siapa yang salah!"


Mata Farhan berkaca-kaca dengan tak berpaling dari wajah Jihan. "J-jadi maksud Mama, Papa yang salah? Papa yang salah paham?"


"Bukan hanya Papa, tapi juga Mama!"


Kemudian Jihan menengok jam lingkaran di sekitar ruang keluarga. "Ini pasti Reyhan sudah pulang, pasti sekarang Reyhan ada dirumahnya Angga."


Farhan mengalihkan mukanya dari Jihan, pria tersebut merenungkan pikirannya dan memikir ekstra mengenai sikap Reyhan semalam dan tadi pagi. Akankah iya, Farhan dan Jihan ujungnya memang salah paham pada anak satu-satunya tersebut?


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Reyhan yang berseragam SMA kini pakaian ia diganti dengan baju rumah sakit lengan pendek berwarna dominan biru muda. Seorang dokter pria berkacamata tengah memeriksa Reyhan di ruang perawatan atau kamar rawat, dimana beliau mengecek detak jantung pasien menggunakan stetoskop kemudian setelah itu sang dokter beralih membuka mata Reyhan satu persatu untuk menyorotkan matanya pada senter kecil medis.


"Dok, sebenarnya apa yang terjadi dengan sahabat saya hingga sampai sekarang sahabat saya juga belum sadarkan diri?" tanya Angga bernada cemas.


Dokter tersebut menghela napasnya. "Dari hasil pemeriksaan dan diagnosa, Reyhan mengalami depresi yang berlebihan dan Anemia-nya yang kambuh bahkan daya tahan tubuhnya sangat lemah itu yang mengakibatkan sahabatmu belum siuman sampai sekarang."


"Hah? Depresi yang berlebihan dan Anemia?" gumam Freya dan Jova bersamaan dengan saling menatap.


"Lalu Dok, kapan Reyhan akan sadar?" tanya Jevran.


"Kita tunggu saja, Reyhan akan secepatnya sadar. Dan .. untuk sementara Reyhan harus dirawat inap selama dua hari."


"Baik terimakasih Dok atas kesampaian dari anda," ucap pak Harden.


"Sama-sama, Bapak. Oh iya wali orangtuanya Reyhan apakah ada di sini? Atau belum ada yang mengabarinya bahwa Reyhan dirawat rumah sakit Wijaya?"


"Ngga, telpon gih om Farhan apa tante Jihan. Lihat noh kakak kelas kita, malah molor," bisik Aji dengan menyenggol-nyenggol lengan Angga.


Angga mengangguk saja, dan akan menelpon Farhan di handphonenya. Sementara sang dokter yang tak lain adalah dokter Samuel dimana dokter itu yang dulunya pernah menangani Reyhan, pamit keluar meninggalkan mereka semua yang ada di kamar rawat.


Nampak layar ponsel Angga berdering di bawah kontak profil WA Farhan, dan pada akhirnya tersambung.


...----------------...


...OM FARHAN...


Assalamualaikum, ya Ngga?


^^^Waalaikumsalam, Om ... Om, Angga hanya mau mengabari kalau Reyhan sekarang di rawat rumah sakit, Angga minta Om dan tante Jihan dateng ke sini ya^^^


Reyhan masuk rumah sakit Wijaya??


^^^Iya Om, Farhan ... pagi tadi sampai malam ini Reyhan juga belum sadarkan diri, untuk nomer kamar rawat nomernya seratus empat belas lantai empat, Om. Tolong datang sekarang ya Om kalau Om dan tante ada waktu^^^


Oke, Om dan tante segera kesana. Makasih ya Ngga infonya


^^^Ya Om, sama-sama kalau begitu Angga tutup ya telfonnya^^^


Hm'em iya Angga


...----------------...


Angga memasukkan HP-nya di saku celana seragam SMA kemudian mengangkat tangan kanan Reyhan yang lemas untuk menggenggamnya sedangkan Freya dan Jova tak mengerti maksud dokter Sam bahwa Reyhan mengalami depresi berlebihan dan Anemia, bahkan dua gadis itu sampai berpikir keras karena setiap bertemu di sekolah Reyhan selalu menampilkan senyuman cerianya bukan wajah murung yang mengundang lara.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di komplek Permata.

__ADS_1


Agra menikmati sup jagung buatan sang istri tercintanya, karena kalau Agra tahan rasa lapar cacing-cacing di dalam perutnya terus demo minta makan. Sementara Andrana tak habis-habisnya mengintip layar jam di ponselnya. Andrana melirik suaminya yang nampak santai anaknya belum pulang daritadi.


"Ayah, Angga kok belum pulang ya? Mama khawatir banget anak kita kenapa-napa."


"Santai Ma, paling juga Angga ada tugas kerja kelompok di rumah temen atau sahabatnya."


"Ih santai darimana?! Gak ada inisiatif buat hubungi Angga atau gimana!"


Agra hampir saja tersedak pada kesalnya Andrana padanya. "Ya Allah Ma, Ayah itu lagi makan .. nanti aja Ayah telpon Angga-"


"Hm! Yaudah Mama aja yang nelpon, habisin aja tuh semua makanannya jangan lupa sekalian piring-piringnya, mangkuk-mangkuknya, dan gelas-gelasnya habiskan sampai nggak tersisa!"


"Aduh galak banget sih, Ma ... hehehe maaf deh maaf, yaudah gih telpon Angga."


Andrana menghela napasnya pada sikap suaminya, sang ibu Angga mencoba menelpon anak semata wayangnya yang tak kunjung pulang ke rumah. Namun karena Andrana juga merupakan wanita Indigo dari kecil, Andrana bisa menerawang anaknya sedang di suatu tempat yaitu rumah sakit.


...----------------...


...ANGGARA VINCENT...


Assalamualaikum, Nak!


^^^Ya Allah Waalaikumsalam, nggak usah pakai teriak juga sih Ma .. kenapa?^^^


Kamu jam segini belum pulang, kamu lagi dimana sih, Nak?!


^^^Angga ada di rumah sakit, Ma^^^


Nah benar terawangan Mama! Kenapa kamu di rumah sakit?! Kenapa bisa di rumah sakit, siapa yang masuk rumah sakit?!


^^^Reyhan, Ma ...^^^


Astaghfirullah! Reyhan yang masuk rumah sakit, Nak?! Kenapa bisa?! Tadi di sekolah ada insiden yang buat Reyhan masuk rumah sakit?!


^^^Bukan Ma, nanti saja pas pulang Angga jelasin semuanya^^^


Kalau begitu Mama sama ayah ke rumah sakit deh! Rumah sakit Wijaya, kan!


^^^Yaiyalah masa Rumah sakit Kusuma di kota Bogor^^^


Hehehe oke-oke, yaudah tunggu Mama ayah di sana ya, Nak! Assalamualaikum!


^^^Iya Ma, Waalaikumsalam^^^


...----------------...


BRAK !


"Ayah!"


"BRUUUUUUSSSHH!!!"


Karena saking terkejutnya pada suara gebrakan meja makan dan suara teriakan Andrana, membuat Agra tak sengaja menyemburkan air putihnya ke samping.


"Apaan sih Ma! Kaget lho Ayah, untung cuma nyembur belum jantungan. Apa apa?"


"Angga di rumah sakit!"


"Hah?! Di rumah sakit?! Berarti anak kita masuk rumah sakit lagi, Ma?!"


"Aduh bukan, tapi anak dari sahabat kita!"


"Anak sahabat kita, sahabat kita kan ... Farhan dan Jihan berarti ... REYHAN DONG!?"


"Iya, karena Angga di rumah sakit Wijaya .. kita susul yuk, Yah sekalian jenguk Reyhan di sana."


"Yaudah ayo! Mama siap-siap aja duluan, Ayah panaskan mobil dulu."


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Cklek !


Kesemua terkecuali Reyhan yang masih pejam mata, menoleh ke ambang pintu. Terdapat di sana rupanya Farhan dan Jihan telah tiba di kamar rawat Reyhan.


"Selamat malam Bapak dan Ibu, syukurlah kalian datang," ucap pak Harry menyapa Farhan dan Jihan.


Farhan hanya senyum tipis. "Iya, Pak."


Jihan begitupun Farhan setelah tersenyum di sapa oleh mereka langsung melangkah ke dalam kamar rawat anaknya, hanya Jihan saja yang mendekati Reyhan Farhan hanya beberapa sentimeter jarak dari ranjang kasur pasien.


"Nak ..." panggil Jihan dengan membelai lembut rambut Reyhan.


Sedangkan Farhan memalingkan wajahnya dari Reyhan, bahkan raut mukanya begitu datar dan dingin. Angga yang merasakan aura yang tak mengenakkan, langsung bangkit dari kursinya dan mengajak para gurunya, dua sahabatnya, dan ketiga temannya keluar dari ruangan.


"Tan, Om .. kami pamit keluar dulu sebentar ya."


"Oh iya, Ngga tidak apa-apa," ucap Jihan mempersilahkan.


Lantas itu termasuk Angga, Freya, Jova, Aji, Jevran, Johan, pak Harden, pak Harry keluar dari kamar rawat no 114. Dan kini yang ada di kamar rawat adalah kedua orangtuanya Reyhan.


"Ngapain juga jenguk anak itu."


Jihan menoleh ke belakang dan menatap tajam Farhan. "Papa! Maksud Papa apa ngomong seperti itu?! Ini kan anak kita, anak kandung kita! Kita pantas menjenguk Reyhan."


"Dari awal setelah Angga telpon Papa, Papa nggak mau untuk menjenguk Reyhan tapi Mama maksa Papa."


"Papa jangan tega-tega bisa nggak, sih?! Pokoknya setelah Reyhan sadar nanti, Papa harus mau dengerin semua kata-kata Reyhan perihal tadi pagi! Kita sudah sepakat, loh!"


"Lagian Reyhan sampai masuk rumah sakit yang terutama juga salah Papa! Mungkin Papa membiarkan Reyhan jalan kaki agar kehujanan, Papa tau kan Reyhan gak tahan air hujan!!"


"Iya tau!! Papa salah! Papa keterlaluan! Puas?!"


Jihan yang tak ingin membuat kericuhan lebih baik berbalik kepala ke depan menatap Reyhan. Namun ada yang membuat hati Jihan yang khawatir menjadi lega dan bahagia disaat melihat kedua mata anaknya terbuka lamban pandangan matanya yang buram berada di atas langit-langit dinding berwarna putih, merasa ada seseorang di sekitarnya Reyhan menutup matanya sejenak kemudian membukanya setelah menolehkan kepalanya lemah ke samping kanan.


Pandangan yang telah jelas itu membuat Reyhan tersentak kaget tak menduga bahwa di sampingnya ada Jihan bahkan Farhan.


"M-mama ... P-papa?"


Jihan tersenyum rindu pada anaknya yang telah siuman. "Nak, akhirnya kamu sadar juga."


"Reyhan ... senang kalian berdua masih peduli dengan Reyhan-"


"Kalau bukan mama yang maksa, Papa gak sudi ke sini!" ucap Farhan kembali memalingkan wajahnya dengan masih marah.


Reyhan diam tak berani menyahut ucapan Farhan barusan yang masih sangat marah padanya. Jihan mendengus kesal pada suaminya yang berkata seperti itu.


"Bagaimana kondisi kamu sekarang?"


"Reyhan baik-baik saja, tapi Ma .. setau Reyhan kalian masih marah dan gak mau menerima anakmu lagi, apakah kalian datang ke sini untuk memberitahu sesuatu pada Reyhan?"


"Enggak Sayang, Mama justru ke sini karena kangen banget sama kamu. Semarah-marahnya Mama, tapi Mama ternyata nggak bisa melepaskan kamu begitu saja. Dan Mama rasa Mama dan Papa sudah salah paham sama kamu."


"Salah paham?"


"Huh! Untuk membuktikan kamu benar atau salah mending sekarang Papa mau lihat kedua telapak kakimu sekarang!"


"B-buat apa, Pa??"


"Buka saja! Itu satu-satunya membuktikan kalau kamu benar-benar kurang ajar tadi malam!"


"I-iya Pa, iya." Reyhan yang akan hendak bangun langsung jatuh baring karena tubuhnya masih sangat lemah.


"Pa, Reyhan itu lagi sakit! Nurani hati sedikit, lah Pa!"


"Nggak apa-apa Ma, mungkin Papa memang masih marah banget sama Reyhan."


Jihan mengangguk kepala saja kemudian menyingkap selimut Reyhan dari bawah ujung. Farhan mengecek telapak kaki anaknya yang pada kemudian Farhan dan Jihan begitu kaget apa yang mereka lihat.


"Eeee Mama Papa kenapa kaget begitu?"


"Tunggu dulu, kok telapak kakimu bisa bersih gini?! Bahkan bekas luka pun nggak ada!"


Reyhan menggaruk kepalanya pada ucapan Farhan yang membingungkan dirinya. "Maksudnya Papa gimana? Reyhan gak ngerti."


"Tadi malam itu, kamu sengaja menginjak pecahan kaca gelas di dapur dan pecahan kaca bingkai foto, Nak."


"Hah? Masa iya?"


Flashback On


PRAAANGG !!!


PYAAAARR !!!


"Ya ampun Nak!!"


"Rey! Kenapa piring dan gelasnya kamu jatuhin! Kamu pikir beli piring sama gelasnya pakai rumput-rumput tanaman tetangga?! Kenapa? ada apa dengan mu, Nak?"


"Nggak usah lembut dengan anakmu!!"


"Eh Nak!! Jangan di injak seperti itu!! Kakimu jadi luka berdarah kan!!"


"Ayo sini Nak, Mama obati kakimu yang luka .. pasti sakit banget. Lihat deh telapak kakimu banyak tertancap beling kaca!"


BATS !


Flashback Off


"B-berarti tadi tengah malam itu bukan kamu!" pekik Jihan.


"Lalu tadi malam itu siapa, Ma? Bahkan mulai dari postur tubuh rupa dan wujud sama persis Reyhan. Tapi lihat sekarang, telapak kaki Reyhan baik-baik saja, juga tidak ada luka bahkan bekasnya."


"Reyhan, ayo jujur sama Papa .. semalam kamu ngapain saja?"


"Selesai mandi Reyhan langsung tidur Pa, soalnya kepala Reyhan pusingnya minta ampun .. buat turun ke bawah tangga juga pasti keliyengan."


"Kamu ngerasa keluar rumah tidak, tengah malam tadi?" tanya Farhan menyelidiki.


"Enggak kok Pa, Reyhan nggak berani keluar rumah tengah malam apalagi cuacanya sangat dingin buat Reyhan yang kondisinya lagi seperti itu."


"Ehm, Papa percaya kan sama Reyhan? Mama juga kan? Untuk luka di kaki Reyhan, kayaknya nggak ada deh karena semalam itu Reyhan gak ngapa-ngapain, cuman tidur sampai pagi jam lima."


"Ya ampun! Ternyata Mama benar, Papa dan Mama sudah salah paham sama kamu!"


Reyhan tersenyum saja tanpa berbicara namun di hatinya ia sangat bahagia dan senang akhirnya semua ini hanyalah salah paham saja.


"Hiks! Maafin Mama udah membentak Reyhan tadi pagi ya Nak! Maaf Mama sudah menuduh Reyhan yang ternyata bukan kamu pelakunya hiks hiks hiks!"


"Terutama Papa, maafin Papa juga ya Nak! Papa sudah tega menyuruh kamu pergi dari rumah kita! Papa nyesel sudah berkata kamu yang tidak sepantasnya! Papa akan tarik sekarang juga ucapan-ucapan Papa tadi pagi, kamu bukan anak yang Durhaka, kamu juga bukan anak sakit jiwa tapi sebaliknya hiks!"


Perlahan pula air mata Reyhan menetes mendengar seluruh ucapan Farhan barusan.


"Maafin Papa sudah buat Reyhan masuk rumah sakit!! Papa sudah jahat sama kamu, Papa juga sudah keterlaluan sama kamu, Nak!! Maafin Papa kamu ini ya hiks!"


"Papa nggak jahat, Papa hanya salah paham saja. Sudah ya Pa, Ma kalian jangan nangis lagi. Maaf kalian sudah Reyhan terima bahkan sebelum kalian berdua minta maaf sama Reyhan. Semuanya juga sudah berlalu, kok."


Jihan dan Farhan bersamaan melepaskan pelukannya dari tubuh lemas anaknya. Mereka mengelap air matanya mereka masing-masing terkecuali Reyhan yang menatap kedua orangtuanya dengan mengukirkan senyumannya.


"Lalu, tadi malam itu siapa ya Nak? Bahkan orang itu mirip sekali denganmu."


"Iya Rey, itu yang jadi salah paham antara Papa dan Mama. Apa Reyhan tau?"


"Reyhan nggak tau Pa, tapi kalau di pikir-pikir ada sosok yang menyamar Reyhan dan mungkin dari awal memiliki siasat buruk untuk membuat kita bertiga bentrok."


"Sosok? Sosok apa yang dimaksud Reyhan?" tanya Jihan padanya.


"Sosok-"


Reyhan terkejut setengah mati bahkan detak jantungnya nyaris berhenti. Tak sengaja menatap Arseno yang tersenyum menyeringai, bahkan tangan Arseno membentang dan mengeluarkan sihir hitam ke arah Reyhan dengan sangat kilat.


Clap !


Setelah sihir hitam itu mengenai tubuh raga Reyhan, secara tiba-tiba dada Reyhan terasa di sayat oleh pisau membuat pemuda itu memegang dadanya dengan berteriak kesakitan.


"REYHAN KAMU KENAPA NAK??!!"


Teriak terkejut dari kedua orangtuanya tak direspon Reyhan, malahan ia menatap Arseno yang tertawa kencang menyeramkan membuat Reyhan tak tahan pada suaranya.


"Celakalah hidupmu malam ini, Reyhan."


"Jangan!! Gue gak mau mati!! Gue gak mau mati!!"


Setelah berteriak depresi seperti itu Reyhan langsung menyingkap selimutnya, turun dari ranjang kasur lalu berlari kuat meninggalkan Farhan dan Jihan yang panik tak karuan.


"REYHAN!!!"


Jihan dan Farhan berteriak spontan pada Reyhan, namun sayangnya Reyhan tak menjawab mereka berdua.


Angga yang dari luar membuka kamar rawat sahabatnya, langsung tertabrak Reyhan hingga ia dan Reyhan terjatuh keras di lantai.


BUGH !!!


BRUGH !!!


Reyhan yang jatuh terduduk setelah menubruk Angga langsung bangkit berlari kencang sangatlah kilat seperti halilintar. Angga pun dengan memegang pundaknya yang terhantam tubuh Reyhan, ikut bangkit lalu berlari mengejar Reyhan yang telah berlari jauh termasuk Freya, Jova, Jevran, Aji, Johan, pak Harry, pak Harden, Farhan, Jihan, Andrana, dan terakhir Agra.


Yang berlari sangat cepat untuk mengejar Reyhan adalah Angga, tak henti tak lelah Angga terus saja mengejar Reyhan hingga sialnya karena lari Reyhan lebih kilat dari Angga, kilat karena ketakutan ucapan dari Arseno yang akan mencelakai dirinya malam ini, Angga kehilangan jejak sahabatnya.


Di sisi lain, Reyhan terus berlari meskipun ia tak sadar kalau ia telah di luar rumah sakit, kakinya tak terasa pegal berlari dari lantai 3 hingga luar lobby rumah sakit, namun disana Reyhan di tangkap oleh satpam RS Wijaya.


"Mas! Mas mau kemana?!"


"Lepaskan saya Pak! Lepaskan saya, dia ingin membunuh saya tolong biarkan saya pergi dari sini Pak!"


Reyhan terus meronta-ronta pada cekalan kuat dari dua satpam penjaga. Reyhan langsung menendang tulang kering kaki para satpam tersebut hingga membuat pegangan kuat dari dua satpam itu terlepas dari masing-masing tangan Reyhan. Pemuda depresi itu kembali berlari kencang sampai ia tak sadar kalau ia berlari ke tengah jalan.


TIN TIN !!!


TIIIIIIIINNN !!!


Cahaya sorot lampu dari sebuah mobil truk mendekat ke arah Reyhan, bahkan mata Reyhan mencuat kuat dengan terbelalak lebar. Tak sempat menghindar karena jaraknya sangat dekat terjadilah...


DUAGKKHH !!!


Reyhan tertabrak truk hingga tubuhnya terpelanting kencang jauh, pemuda tersebut merasa raganya melayang di udara secepat hembusan angin hingga ia merasakan di kedua ialah tubuhnya mendarat keras ke aspal jalan hingga kepalanya membentur sangat kuat di aspal sertakan tubuhnya, merasakan yang terakhir seluruh sendi-sendi kakinya seakan-akan remuk akibat hantaman kuat di jalan aspal. Kepalanya mengeluarkan banyak darah yang mengalir membasahi aspal begitupun terutama wajah tampan putihnya hingga menjadi muka berlumuran darah.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Angga mengatur napasnya akibat berlari sangat kencang tadi. Pemuda itu dan yang lainnya melihat kerumunan banyak orang di tengah jalan yang membuat jalan tersebut menjadi macet. Angga yang penasaran mendatangi kerumunan tersebut.


Angga berusaha menerobos kerumunan itu namun sangat susah karena di sana banyak sekali orang-orang di sana.


"Permisi, ini ada apa ya?" tanya Angga.


Salah satu orang yaitu pria berumur kisaran 50 tahun menoleh ke belakang. "Ada yang kecelakaan, Nak kalau di lihat masih muda umurnya. Kecelakaannya juga begitu parah."


Feeling Angga tiba-tiba buruk dan tak segan itu Angga menerobos kepungan tersebut dan akhirnya bisa lihat korban yang kecelakaan tersebut, kecelakaan itu cukup parah karena melihat darah dari korban itu mengenai aspal. Namun Angga belum tahu korban itu adalah siapa, apalagi Reyhan belum ia temukan di sekitar dalam RS. Angga dengan mengumpulkan keberaniannya terhadap korban itu, berjongkok di sampingnya pada sang korban remaja yang posisinya membelakangi Angga. Namun sebelum itu Angga mengangkat tangan korban yang penuh bercak-bercak darah, salah satunya untuk mengetahui korban tersebut adalah namanya di gelang pasien tapi sayangnya gelang itu telah berlumuran darah bahkan saat Angga angkat, darah itu menetes-netes mengenai baju pasien milik korban.


Angga perlahan mengusap lumuran darah gelang pasien hingga tertera tulisan nama 'Reyhan' ini yang mulai detak jantung Angga berdegup sangat cepat dimana setelah ia mengusap nama kedua itu tertera tulisan 'Lintang' apalagi Angga langsung berteriak kaget disaat nama paling belakangnya adalah 'Ellvano.' Angga langsung menarik korban yang ternyata itu sahabatnya yang kecelakaan. Angga mengangkat ke dekat dirinya bahkan punggungnya ia topang pakai tangan. Angga mengusap lumuran darah segar dari muka Reyhan hingga di 1 menit kemudian Reyhan terbatuk-batuk mengeluarkan cairan merah pekat memuncratkan ke wajah Angga, Reyhan yang setengah sadar kini matanya memejam kembali.


"Hiks! Rey bangun Rey! Bangun!!!" Angga mendekap tubuh Reyhan yang pakaiannya penuh lumuran darah segar tersebut bahkan muka yang berlumuran darah itu menodai seragam rompi milik Angga.


Freya dan Jova menutup mulutnya masing-masing dengan tangisan deras, sementara Jevran, Aji, dan Johan yang baru sampai dan melihat kejadian itu terkejut setengah mati menatap tubuh Reyhan berlumuran darah sedangkan kepalanya terluka parah akibat benturan kuat di aspal setelah tubuhnya terpental akibat tertabrak truk.


Angga bersama berlumuran air mata, tangannya dengan bergemetar perlahan jari telunjuknya ia dekatnya di dekat kedua lubang hidung Reyhan yang telah mengeluarkan darah juga.


"Gue mohon jangan mati Rey! Lo harus tahan sebentar! Lo harus kuat hiks hiks hiks!"


Tak butuh waktu yang lama, datanglah para perawat dan beberapa dokter berjas putih yang mendorong kasur roda untuk Reyhan. Supir truk lah yang memanggilnya bahwa ada kecelakaan yang tak sengaja ia tabrak tadi. Angga yang melihat jalan tersebut di beri celah karena ada para tim medis mendorong kasur roda ke dekat Angga sekaligus Reyhan, pemuda Indigo itu langsung dengan kuat dan cepat mengangkat Reyhan ke kasur roda dibantu oleh para perawat lelaki. Setelah Reyhan telah dibaringkan di kasur roda dan sebelumnya kasur itu putih bersih kini penuh bercak-bercak darah dari Reyhan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Mereka semua yang menjenguk Reyhan di kamar rawat kini menunggu pemuda friendly tersebut yang berada di dalam ruang Operasi. Farhan dan Jihan tak berhentinya menangis begitupun Angga yang menangis dalam wajah ia benamkan di satu lengannya yang ada di atas lututnya. Bukan hanya mereka bertiga saja namun yang mengeluarkan air mata hingga membanjiri pipinya juga Freya, Jova, Aji, Jevran, Johan, Andrana, Agra, pak Harry, pak Harden.


"Kita berdoa saja ya Ngga, semoga Operasinya Reyhan berjalan dengan lancar," ucap lembut Andrana dengan memeluk anaknya.


Beberapa menit kemudian usai mereka di kursi tunggu menunggu cukup lama, dokter Sam keluar dari ruangan Operasi. Kesemua yang duduk di kursi tunggu bangkit berdiri termasuk Angga.


"Bagaimana Dok?! Apakah Operasi anak saya dan istri saya berjalan dengan lancar?!"


Dokter Sam membuka maskernya. "Kalau Operasinya Alhamdulillah berjalan dengan lancar, namun ..."


"Namun apa, Dok?!" panik Jihan.


"Keadaan Reyhan malah justru semakin memburuk maka dari itu setelah ini Reyhan harus di bawa dan dirawat dalam ruang ICU."


Angga, Freya, dan Jova membuka mulutnya kaget tak menyangka bukannya pasca Operasi Reyhan baik-baik saja namun keadaannya malah justru semakin buruk. Beberapa perawat membuka pintu dua daun dengan lebar-lebar agar ranjang kasur yang mereka dorong muat untuk di dorong keluar. Di atas ranjang tersebut nampak Reyhan yang belum siuman dan sebuah masker oksigen terpasang di hidung sekaligus mulutnya dan ada dua kantung yang satunya kantong cairan infus serta satunya kantong darah di atas gantungan tiang infus pasien.


"Reyhan, Sayang! Hiks, ayo sadarlah!" pinta Jihan di sampingnya dengan air mata yang belum kering.


Para perawat lelaki tersebut kembali menjalankan ranjang pasien segera ke ruang ICU, tak hanya para perawat tersebut namun seperti Angga, Farhan, Jihan ikut mendorong ranjang pasien agar lebih cepat ke ruang perawatan ketat.


Sesampainya di depan ruang ICU lantai 2, kini yang sementara di perkenankan masuk ke dalam ruangan tersebut hanya para perawat tadi serta dokter Sam. Bahkan sekarang usai ranjang pasien telah dimasukan ke dalam ruang ICU, pintu ICU di tutup oleh dua perawat. Angga hanya pasrah kembali menunggu dan juga dengan yang lain di kursi tunggu.


"Va, Reyhan gimana ya di sana? Aku takut kalau Reyhan ada apa-apa hiks!"


"Kita doa aja Frey, dan kita harus yakin Reyhan baik-baik saja," ucap Aji yang mengelap air matanya.


Johan merangkul Angga. "Jangan cemas Ngga, lo harus yakin Reyhan tetep kuat dan bertahan. Selemah-lemahnya Reyhan, sahabat lo itu punya daya tahan kuat kok."


Angga memejamkan matanya dengan menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya berusaha tetap tenang dalam kondisi yang mencemaskan ini, sementara kedua orangtuanya tengah menenangkan Farhan dan Jihan dengan rasa persahabatan mereka seperti di masa muda remaja dulu.


Tak lama menit kemudian berlalu, dokter Sam membuka pintunya dan keluar menatap kesemuanya yang menunggu keadaan Reyhan. Kesemua berdiri dan menghampiri dokter Sam, bahkan melihat raut wajah dokter Sam seperti ingin menanya sesuatu.


"Mohon maaf, apakah di sini ada yang atas bernama Angga?"


"Saya Dok," jawab Angga sedikit melangkah maju ke hadapan sang dokter.


"Oh kamu ya yang bernama Angga. Begini, pasien menyebut-nyebut namamu di ruangan, sepertinya Reyhan ingin kamu masuk ke dalam."


"Apakah Reyhan sudah sadar Dok?!" tanya Farhan.


"Betul Bapak, pada kondisinya yang sedang sangat lemah anak Bapak memanggil-manggil sahabatnya. Mari silahkan masuk, Angga."


Angga menganggukkan kepalanya. "Baik Dok."


Dokter Sam tersenyum. "Kalau begitu Dokter pamit dulu ya namun jika ada terjadi sesuatu pada pasien Reyhan segera pencet bel darurat."


"Saya mengerti Dok, terimakasih."


Dokter Sam menjawab Angga kemudian dengan sopan pergi meninggalkannya bersama para perawat yang berjalan dari belakang sang dokter.


"Masuk saja Ngga, mungkin Reyhan ingin berbicara denganmu? Kalau di kira sepertinya pembicaraan pribadi. Masuk saja, Nak."


Farhan mengangguk setuju pada Jihan, Angga dengan tersenyum berbalik badan ke depan dan melangkah memasuki ruang ICU sahabatnya sementara yang lain menengok Reyhan lewat dari jendela pembatas kaca ruang ICU yang gordennya telah di buka tadi.


Di dalam ruangan, yang pertama Angga dengar adalah suara sebuah alat monitor pendeteksi jantung. Pemuda itu semakin melangkah ke ranjang pasien milik Reyhan. Melihatnya Reyhan matanya terpejam, Angga dengan itu menyentuh perlahan pundak lemah Reyhan serta memanggilnya lirih.


"Rey ..."


Setelah mendengar suara Angga, Reyhan membuka matanya perlahan dan bola matanya melirik Angga dengan senyuman lemahnya di dalam masker oksigen yang terpasang.


"Anggara ..."


Angga menganggukkan kepala dengan senyum pilu. "Gue seneng, lo sudah sadar. Apa lo ngerasa sakit di seluruh tubuh lo?"


Reyhan hanya senyum tak menjawab pertanyaan Angga. "Ngga ... gue mau minta ... maaf ... sama lo ..."


"M-minta maaf kenapa, Rey?"


"Maaf, kalau gue udah sengaja sembunyikan ... rahasia gue selama ini dari lo dan juga semuanya ..."


"Rey, soal itu gue sebenernya sudah tau semuanya. Gue tau kenapa lo sembunyikan semua itu dari gue apalagi orang-orang yang lo sayangi selain gue. Lo gak ingin teror itu terlibat ke kami, kan."


Reyhan mengangguk kepala lemah dengan air mata mengalir dari sudut mata hingga ke telinganya. "Maaf ... maafin gue Ngga ..."


Angga mengangkat tangan Reyhan yang di infus lalu sedikit menggenggamnya pada kedua tangan. "Lo nggak usah minta maaf, gue sudah tau semuanya ... lo sengaja mengorbankan diri lo sendiri demi gue dan yang lain. Arseno ingin melenyapkan lo dari dunia ini, dan itu malah justru salah gue gagal jaga lo dari arwah negatif itu."


"Jangan salahin ... diri lo sendiri Ngga ... bukan salah lo, tapi salah gue sendiri yang ... ceroboh ..."


Angga kembali mengeluarkan air matanya dengan deras bersama eratnya genggaman kedua tangannya di tangan Reyhan.


"Hei Ngga ... jadi cowok jangan cengeng lah ... gak pantes lo nangis gini, tau ..."


"Oh iya Ngga ... ada satu permintaan terakhir gue sama lo ..."


"Rey, please kenapa lo bilangnya permintaan terakhir? Jangan buat gue takut lagi seperti tadi."

__ADS_1


"Apa itu salah Ngga ...? Tolong sampaikan sama bokap nyokap gue, kalau gue minta maaf sama mereka soal tentang gue minta maaf sama lo tadi. Hanya itu saja, tapi kalau lo mau bongkarin tentang kejadian gue di sebelum-sebelumnya lo boleh kok ngomong sama Freya apalagi Jova. Itukan juga sahabat terbaik gue semenjak SMP ..."


"Tolong ya Ngga ..."


"Oke, tapi kenapa harus gue yang sampaikan sama om Farhan dan tante Jihan? Apa lo gak sanggup untuk meminta maaf pada mereka?"


"Terlebihnya seperti itu, Angga ..."


Angga menatap pilu Reyhan, merasa feeling-nya tidak beres di dalam situasi ini, sementara Reyhan menatap lemah sahabatnya yang matanya sembab.


"Reyhan."


Angga langsung memeluk sahabatnya yang terbaring lemah pada mata yang buka redup. Reyhan mengangkat tangan kanannya untuk mengusap-usap punggung Angga dengan begitu lemah.


"Ngga ... baru kali ini gue liat lo yang bisa kayak begini ya ..."


"Lo gak usah ngomong gitu karna firasat gue gak enak terhadap, lo!" ucap Angga dengan bangkit dari peluknya.


Lagi-lagi Reyhan tersenyum dan menatap dinding-dinding atas. "Firasat lo gak enak? Bahkan gue ngerasa kalau habis ini gue akan mati."


DEG !


"Jaga ucapan lo Rey! Gue gak siap! Tolong tarik kata-kata lo itu, lo gak pantas berkata seperti itu barusan!"


"Apa gue ada harapan untuk hidup? Di dunia gue selalu aja megang beban gue sendiri .. bahkan nyusahin orang lain, termasuk elo."


"Tapi, makasih ya Ngga keadaan gue yang begini lo juga masih peduli dengan sahabat lo yang lemah ini."


"Gak masalah! Lo bukan beban hidup gue, tapi lo motivasi semangat hidup gue."


Reyhan tersenyum lagi, namun bibir pucatnya Reyhan mengatup sangat rapat karena tiba-tiba ada yang janggal di tubuhnya serta sesak di dadanya begitu dahsyat. Hingga sesuatu terjadi membuat Angga sangat panik dimana Reyhan kejang-kejang dalam posisi mata masih terbuka. Suara alat monitor menjadi menderu berisik kencang terdengar sepenjuru ruang ICU.


"Reyhan??!! Rey lo kenapa??!!"


Teriak Angga pada Reyhan dan suara alat pendeteksi jantung tak terdengar dari luar karena ruangan tersebut anti suara atau kedap suara. Namun mereka yang di luar ikut panik tak karuan memanggil-manggil Reyhan yang terlihat kejang-kejang dalam ruang ICU.


Di sisi lain, Angga yang hendak menekan tombol merah emergency, suara alat pendeteksi tersebut berganti suara yang berbeda yaitu mengiung keras bertepatan Reyhan berhenti kejang dan matanya menutup tenang. Hela napas milik Angga naik turun mode cepat dengan mata terbelalak lebar disaat melihat dalam layar monitor itu bergaris kontinu tipis dan tertera HR angka 0


Angga langsung dengan tak lama-lama menekan tombol merah itu yang akan ia tekan, setelah itu kedua tangannya mengguncang-guncang tubuh Reyhan hebat


"Reyhan bangun Rey!! Sudah gue bilang tarik kata-kata yang gak pantes lo ucapin tadi! Hiks gue mohon buka mata lo Rey huhuhu!!" Angga dengan cepat dan takut setengah mati membenamkan wajahnya di badan Reyhan yang telah menutup mata.


Tak berapa lama kemudian dokter Sam dan beberapa perawat masuk ke ruang ICU dan berlari ke Reyhan yang butuh penyelamatan jiwanya segera. Bahkan sang dokter menyuruh Angga untuk keluar sebentar dari ruangan. Di luar Angga langsung menengok dokter Sam yang melakukan tindakan pengembalian detak jantung Reyhan. Setelah beberapa kali tubuh Reyhan terangkat karena efek alat pacu jantung itu yang memberikan aliran listrik ke jantungnya yang di tempelkan ke dadanya, pada akhirnya dokter Sam meletakkan alat tersebut ke tempat asalnya.


Dokter Sam memeriksa detak jantung Reyhan dengan alatnya yang selalu ia lingkarkan di lehernya, kemudian setelah itu sang dokter bergantian menyorotkan cahaya senter kecil medis ke mata Reyhan satu persatu. Mereka yang melihatnya dari luar dibuat senam jantung pada pemuda ramah itu yang tengah ditangani oleh para tim medis.


Dokter Sam meninggalkan pasiennya yang terbaring lemah. Sementara salah satu perawat melepas masker oksigen dari wajah pucatnya Reyhan meskipun awalnya mereka yang diluar sama-sama berpikiran negatif tapi pada akhirnya mereka lega rupanya masker oksigen itu digantikan alat oksigen lainnya ialah masker Rebreathing.


Melihat dokter Sam yang keluar duluan, Angga, Farhan, Jihan, Freya, Jova dan yang lain mendatangi sang dokter berkacamata itu dengan raut wajah khawatir.


"Dokter?! Bagaimana dengan anak kami berdua?! Tidak ada yang bermasalah kan, sekarang?!"


Dokter Sam menundukkan kepalanya kemudian mendongak menatap Farhan dan Jihan. "Mohon maaf Bapak, Ibu dan semuanya ... karena Reyhan kekurangan oksigen dalam otak, itu memicu ... Koma."


"APA DOK???!!" serempak mereka semua yang menyaksikan ucapan dokter Sam.


"S-sahabat saya, Koma! Tidak! Ini pasti Dokter salah memeriksa! Iya, kan Dok?!" pekik Jova tak percaya.


"Dokter tidak mungkin memberitahukan yang mengada-ngada, ini sungguh. Sahabat kalian bertiga telah Koma. Terlebihnya sekarang Reyhan ditambah Kritis karena keadaannya yang sangat-sangat lemah."


"Kalau begitu, apakah Dokter bisa memastikan kapan sahabat saya akan sadar dari Koma?!"


"Untuk itu, Dokter tidak bisa memastikan kapan Reyhan kembali bangun bahkan kesembuhan Komanya sangat kecil, Angga."


"Dan mohon maaf kalau ini sangat mengejutkan bagi semuanya, selain Reyhan pada keadaan Koma sekaligus Kritis, sebelumnya Reyhan kehilangan banyak darah tapi Alhamdulillah kami masih mempunyai stok golongan darah yang sesuai pada Reyhan."


Dokter Sam menghela napasnya pelan. "Karena tubuh Reyhan terbentur keras di aspal, hal tersebut Reyhan juga mengalami cedera tulang belakang .. akibatnya kedua kaki anak Bapak dan Ibu, mengalami kelumpuhan."


"Astaghfirullah Reyhan hiks!" kejut Freya dengan menutup mulutnya.


"Hiks! Dok, kenapa bisa separah itu, sudah Koma sekaligus Kritis sekarang Dokter juga menyampaikan kaki anak kami lumpuh, hiks!"


"Tapi tenang saja, Lumpuh Reyhan bukan permanen tetapi sementara .. ada harapan untuk Reyhan kembali bisa berjalan dengan normal."


"Sekali lagi saya mohon minta maaf ya Pak, Bu ..."


"Tidak masalah Dok, Dokter sudah melakukan yang terbaik pada anak kami."


Dokter Sam tersenyum. "Baik Pak. Kalau begitu, saya izin pamit. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam ..." jawab mereka semua.


Angga berjongkok dan mengacak-acak rambutnya frustasi mendengar kabar buruk mengenai keadaan Reyhan yang begitu parah apalagi sampai Koma seperti dirinya dulu. Aji dan Jevran me00nghampiri temannya yang dilanda kesedihan pada sahabatnya.


"Yang sabar ya, Ngga ... kita harus banyak doa untuk minta kesembuhannya Reyhan," ucap Aji menepuk-nepuk pundak Angga.


"Lo jangan stress begini Ngga, lo juga harus inget kesehatan lo, ya?" Jevran mencoba Angga untuk tetap kuat menghadapi keadaan ini.


"Far, kamu yang sabar ya. Aku yakin Reyhan suatu ketika pasti bakal bangun kok," ucap Agra seraya memeluk Farhan.


"Hiks! Ini salahku, Gra! Ini semua salahku, aku udah yang buat anakku seperti ini, terlebihnya intinya salahku sendiri!"


"Sudah-sudah, kamu yang tenang dulu ... aku tahu kok kamu salah paham dengan Reyhan, tidak usah kamu jelaskan aku sudah tahu."


Di sisi lain Andrana juga tengah memeluk Jihan untuk memberikannya ketenangan. "Sudah-sudah, jangan begini ... kalau kamu menangis seperti ini, bagaimana bisa Reyhan bangun? Sudah ya, Jihan. Kamu harus kuat meskipun kondisi Reyhan begitu tapi ada harapan besar kok kamu kita berdoa meminta kesembuhan anakmu."


Jihan mempererat pelukannya di sahabatnya. "Aku jadi lebih bisa merasakan gimana hatimu saat Angga Koma dulu huhuhu!!"


"Iya-iya, tenang dulu Jihan. Kamu jangan semakin nggak karuan begini dong ..."


Johan melirik pak Harry dan pak Harden yang nampak sangat letih, siswa kelas XII itu mendatangi dua gurunya.


"Pak Harry, Pak Harden ... kalau udah lelah mending pulang saja, Pak. Apalagi ini mau larut malam, kasihan istri dan anaknya Bapak di rumah nanti hehehehe."


"Oh begitu, Han? Yasudah Bapak dan pak Harry pulang, ya."


Pak Harden dan Pak Harry berpamitan pada Farhan dan Jihan sekaligus memberikan kesabaran terhadap Reyhan yang mengalami Koma, setelah itu sang wali kelas XI IPA 2 dan kepala sekolah SMA Galaxy Admara memutuskan pulang ke rumahnya masing-masing namun pak Harry berbalik badan dan menghampiri Angga yang terduduk di lantai.


"Angga, jangan dibuat beban pikiran, ya. Kasihan kesehatanmu dan kepalamu yang belum sembuh total. Beruntung saja besok sudah libur, jadinya kamu bisa merilekskan pikiranmu begitupun dengan perempuan kedua sahabatmu. Yasudah Bapak pamit pulang dulu ya, Nak.


"Baik, Pak terimakasih sarannya dan hati-hati dijalan, Pak."


"Iya Angga," tanggap pak Harry ramah kemudian bangkit berdiri menyusul pak Harden.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Angga yang tengah duduk di kursi tunggu bersama lainnya tiba-tiba teringat pesannya Reyhan sebelum sahabatnya Koma. Inginnya sekarang Angga menyampaikan itu pada Farhan dan Jihan yang tengah diam termenung gundah apalagi hatinya telah hancur, namun masalahnya masih ada teman-temannya yang tak tahu bahwa dirinya memiliki kelebihan indera keenam, kalaupun ia menyampaikan sekarang teman-teman Angga bisa menganggap dirinya gila.


"Ngga ..." Tiba-tiba Aji memanggil Angga dalam posisi Angga tengah merenung pikiran.


"Hm?"


"Sebenernya Reyhan itu kenapa Ngga, disaat dokter memeriksa Reyhan waktu di kamar rawat .. dokter itu bilang kalau Reyhan mengalami depresi dan Anemia, dan yang gue bingung, Reyhan depresi apaan?"


"Gue bingung jelasin ke lo gimana, gue jelasin lo juga susah ngerti."


"Eh jelasin aja, biar gue tau Reyhan kenapa .. ya meskipun Reyhan sekarang seperti itu, tapi gue pengen tau apa yang buat Reyhan depresi, gue sebagai temannya harus tau apa yang terjadi sama Reyhan sampai ada musibah celaka gini."


"Maaf Ji, kalau soal itu mending gue cerita di lain waktu aja."


"Eh lah?? Y-yaudah sih, gakpapa .. gue gak maksa lo, dah. Oh iya Ngga, ini barusan gue dapet chat dari Adna adik gue .. gue di suruh pulang karna dah mau larut malem."


"Gue juga ya, Ngga .." timpal Johan.


"Iya, pulang aja nggak apa-apa."


"Oke, oh iya by the way lo jangan terlalu sedih ya Ngga .. lo harus sabar di keadaan ini, kalau gitu gue, sama bang Johan pulang ye."


Angga mengangguk sedikit mengukir senyum. "Makasih, Ji."


"Sama-sama, Bro."


Aji dan Johan berpamitan pada kedua orangtuanya Angga dan kedua orangtuanya Reyhan dengan menyalami tangannya satu persatu bersama sikap sopan-nya. Johan kemudian menghampiri Angga, Freya, dan Jova yang diam bungkam.


"Gue turut sedih sama keadaan Reyhan, tapi kalian bertiga harus tetep senyum biar keliatan gantengnya sama cantiknya hehehe .. keep strong, oke?"


"Oke."


"Nah sip hebat buat kalian bertiga, udah ye gue pulang dulu sama Aji. Kalian juga langsung pulang habis ini, jangan sampe kelelahan nanti bisa sakit meskipun besok kita libur dua hari."


"Iya, Kak Johan .. nanti kami bertiga bakal pulang kok, sebelumnya terimakasih ya Kak, Kakak udah semangati Freya, Jova, dan juga Angga."


"Sama-sama Freya hehehe, kalau gitu Kakak balik ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," tanggap Angga, Freya, Jova, Jevran, Farhan, Jihan, Agra, dan Andrana.


Terlihat langkah Aji dan Johan semakin menjauh hingga tak terlihat lagi karena mereka berdua telah masuk ke dalam lift.


"Tante Jihan dan Om Farhan mau pulang?" tanya Jevran.


"Enggak dulu, Vran. Tante sama Om bakal di sini menjaga Reyhan dari luar ruangan, Jevran kalau mau pulang, pulang saja nggak apa-apa."


"O-oh begitu ya, Tan .. hmm yasudah kalau begitu, Jevran ikut pamit pulang ya Om, Tante. Udah malem takut di cari sama bunda apalagi ayah di rumah."


"Siap, hati-hati di jalan ya Vran .. jangan ngendara sambil ngebut-ngebut," peringat Farhan.


"Itu pasti, Om Farhan .. yasudah ya Om, Tante, Om Agra, Tante Andrana. Jevran mau pulang dulu."


Wanita-wanita pria-pria tersebut mengangguk lembut bersamaan dengan senyum menatap Jevran, lalu Jevran beralih berpamitan pada teman-temannya yang dilanda hati rapuh.


"Angga, Freya, Jova .. gue pulang dulu ya kalian nanti juga harus pulang ke rumah." Perkata Jevran diberi anggukan pada ketiga temannya.


"Ya, hati-hati di jalan," ucap Angga.


"Yoi."


Mata Jevran bersilih ganti menatap Reyhan dari jendela pembatas kaca luar ruang rawat ICU. Melihat tetangganya terbaring lemah di ranjang pasien dengan beberapa kabel medis tertempel di badan Reyhan yang tertutup baju pasien biru mudanya, selain itu ada beberapa alat medis yang terpasang di tubuh tetangganya membuat Jevran menundukkan kepalanya berusaha membendung air matanya.


Raut ekspresi Jevran begitu sangat sedih pilu, pemuda itu melepaskan telapak tangannya dari jendela kaca tersebut kemudian pergi meninggalkan mereka semua dan menuju ke lift untuk menujunya lantai 1, di pertengahan langkah akan mendekati sebuah lift Jevran nampak tengah mengusap air matanya bahkan jalannya sangat lesu mendapatkan keadaan Reyhan, tetangga terbaiknya sangat buruk.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Angga yang bersandar di tembok kursi tunggu, pemuda itu memiliki kesempatan dirinya untuk menyampaikan pesan dari Reyhan kepada Farhan dan Jihan. Dengan posisi tidak menoleh pada kedua orangtua sahabatnya, Angga membuka bicara.


"Tante, Om?"


"Hm? Iya, kenapa Nak? jawab Jihan dengan nada seraknya.


"Angga mau pulang juga?" tanya Farhan


"Tidak Om, tapi Angga hanya ingin menyampaikan pesan sesuatu dari Reyhan."


"A-apa pesan dari Reyhan, Nak? Ayo sampaikan pada Tante dan Om."


Angga menghela napasnya kemudian mulai menjawab semua pesan Reyhan yang Reyhan berikan pada Angga tadi.


"Sebelum Reyhan Koma, di dalam ruangan Reyhan memesan Angga untuk Angga sampaikan pada kalian kalau Reyhan minta maaf sama Tante Jihan dan juga Om Farhan."


"Minta maaf kenapa, Nak?" Mata Jihan berair dan mengeluarkan air matanya kembali.


"Reyhan minta maaf kalau selama ini Reyhan sudah menyembunyikan rahasia masalah-masalah Reyhan yang Reyhan hadapi dari Tante dan juga Om. Kalau memang Om sama Tante bingung maksud maaf Reyhan, Angga bisa menjelaskan karena Angga tahu apa yang Reyhan alami waktu yang sudah berlalu itu."


Kedua sahabatnya, kedua orangtuanya, begitupun kedua orangtuanya Reyhan mendengarkan Angga secara seksama, sementara yang akan menjelaskan menarik napasnya panjang-panjang lalu membuangnya.


"Selama ini Reyhan dapat masalah besar bahkan masalah yang mencelakai Reyhan sampai seperti ini. Itu akibat dari sebuah teror arwah korban kecelakaan yang pernah di siarkan di berita internet dan TV."


"Teror arwah kecelakaan???" tanya kompak mereka yang mendengarkan Angga.


Angga mengangguk. "Sosok arwah itu bernama Arseno Keindre, arwah negatif yang membuat ulah siapapun yang berani melewati kawasan wilayah kematian dia di jalan Jiaulingga Mawar, tempat jalan rawan kecelakaan."


"T-tunggu dulu deh Ngga, nama arwah itu Arseno Keindre? Lah itu kan korban berita kecelakaan tragis yang waktu itu aku bacain di HP di kantin sama kamu, Freya, dan Reyhan."


"Oh yang itu! Iya-iya aku masih inget .. tapi pas HP kamu di pinjem Reyhan buat baca ulang berita yang kamu dapet dari internet .. tiba-tiba aja Reyhan langsung banting HP kamu di meja habis itu Reyhan lari kenceng ninggalin kita bertiga di kantin."


"Aku yakin, di dalam layar HP-nya Jova ada sosok arwah negatif itu yang menampakkan wujud dirinya bahkan saat sebelum itu aku melihat arwah itu ada di pojokan kantin, emang dari awal arwah pembawa malapetaka itu mengincar Reyhan kemanapun Reyhan ada."


"J-jadi yang membuat anak Om kecelakaan adalah arwah itu?! Dia sengaja membuat Reyhan celaka hingga Koma?!"


"Yang di inginkan Arseno lebih dari itu Om, maaf Om kalau ucapan Angga buat Om dan semuanya kaget .. arwah itu ingin Reyhan mati tetapi kalau dasarnya Reyhan mempunyai nyawa yang kuat, Arseno akan mencari cara untuk mengakhiri nyawa Reyhan."


Semuanya amat terkejut pada ucapan Angga yang nyata, bahkan Farhan dan Jihan malah menjadi takut arwah itu berbuat sesuatu yang lebih fatal pada anaknya. Farhan dan Jihan tentu sangat percaya pada Angga, karena pemuda itu adalah seorang Indigo yang memiliki aura luar biasa seperti Agra dan Andrana.


"Om juga baru ingat setelah segala ucapan kamu itu, Ngga. Reyhan itu sebenarnya bisa melihat sosok gaib namun kalau sosok itu menerornya bahkan yang lebih memukau, Reyhan mampu merasakan aura yang baik maupun tidak. Reyhan bisa seperti itu karena berasal keturunan dari Almarhum opanya, yang hanya bisa cuman anaknya Om dan tante, Om sama tante nggak bisa seperti Reyhan."


Ketiga sahabatnya Reyhan membuka mulutnya membentuk huruf O dengan mengangguk mengerti.


"Tapi kenapa Reyhan sengaja menyembunyikan masalah itu, Nak?"


"Reyhan nggak mau Om dan Tante terlibat terornya Reyhan. Reyhan mengorbankan dirinya demi keselamatan Tante dan Om bukan hanya Om dan Tante saja tetapi juga selain kalian berdua termasuk Angga, Freya, dan Jova."


"Nggak usah nyebut namamu juga kali Ngga, kamu kan dari awal emang udah tau tapi kayaknya kamu baik-baik aja, di teror kayaknya juga gak ternampak."


Perkataan Jova yang sedikit lesu, Angga hanya menghembuskan napasnya dengan menggeleng-geleng kepalanya kemudian dirinya yang tak menoleh sama sekali pada di antara mereka melainkan menghadap depan lurus, kini Angga menoleh menghadap ke arah Farhan dan Jihan.


"Maafkan Angga ya, Om Tante .. seharusnya Angga lebih cepat mencegah arwah itu dari Reyhan agar sesuatu yang fatal tidak terjadi. Apa Angga sudah terlambat, ya ...?"


"Enggak kok Ngga, enggak. Kamu belum terlambat, Reyhan masih ada bertahan hidup kok .. Reyhan pasti akan bangun ... aku yakin itu." Setelah mengucapkan kata terakhir, Freya menundukkan kepalanya.


"Hhhh, kalau keadaannya di ambang hidup dan mati .. delapan puluh persen nyaris sama lah! Apalagi kondisi Reyhan yang lemah begitu ..."


"Heh Va, haduh kamu jangan memikir yang enggak-enggak dong. Baru ini Reyhan Koma kamu sudah ngomong gitu, gimana hari ke berikutnya coba."


"Iya-iya deh Frey ... maafin, aku."


"Angga, Nak, kamu nggak perlu meminta maaf sama Tante dan Om apalagi kamu nggak bersalah kok. Yasudah mending Angga, Freya, Jova juga pulang ya, yaa. Apalagi khusus kamu Ngga, kamu nggak boleh sampai terlalu letih."


"Nah tuh Ngga, betul kata tante Jihan. Mending kamu pulang sana, masih inget pesan dokter Ello, kan?"


"Huh, iya-iya Angga inget, terus Mama sama ayah gimana??"


"Mama sama ayah pulangnya agak nanti, Ngga lebih baik sekarang kamu, Freya, sama Jova pulang duluan aja. Mama sama Ayah bakal nyusul Angga ke rumah."


"Hmm."


"Kunci rumahnya kamu bawa, kan?" tanya Agra.


"Ada di tas, Yah."


"Oh bagus deh, yaudah gih buruan pulang .. kasian si Jova lho pulang sendiri apalagi jam segini anak cewek harus sudah ada di rumah."


"Alah, gakpapa kok Om .. meskipun baru pertama kali ini Jova pulang jam segini, tapi bagi Jova fine-fine aja kok."


"Hmmm, kalau begitu Freya, Angga sama Jova pamit pulang ya Tan, Om."


Freya mengangkat tangan Andrana untuk menyalaminya dalam cara mencium punggung tangannya begitupun juga selain Andrana, ketiga sahabat Freya ikut berpamitan pada mereka. Setelah berpamitan, seperti Angga dan kedua perempuan sahabat Reyhan menatap pemuda humoris itu yang terbaring lemah bersama alat medis yang melekat di tubuhnya, suatu melambangkan dari raut wajah ketiga sahabat Reyhan tergambar sangat sedih akan yang dialami Reyhan hingga seperti ini.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di parkiran motor, satu pemuda dan dua gadis tengah memakai helmnya masing-masing dan hendak naik motor. Sebelum itu karena Angga tak ingin menjadi bahan pembicaraan pada seragamnya bernoda darah, dirinya memakai jaket agar darah tersebut tak terlihat oleh siapapun.


"Va, atau mau aku antar kamu saja sampai depan rumah?"


"Nggak usah lah Ngga, aku berani kok pulang sendiri. Mending kamu sama Freya pulang deh, apalagi rumah kalian kan deketan."


Angga yang diam menunggu Jova sampai selesai bicara tiba-tiba saja sakit kepalanya kambuh kembali, pemuda itu memegang kepalanya dengan memejamkan matanya. Bahkan karena terasa sakit, wajah Angga lumayan pucat daripada biasanya.


"Eh Ngga! Duh sakit kepalamu kambuh, ya?! Gawat! Kamu bawa obatnya?!"


"Ehmp! Enggak .. t-tapi aku nggak apa-apa kok, cuman cenat-cenut doang."


"Eh Ngga! Tapi kan nanti kamu mengendara, nanti kalau tiba-tiba gak konsentrasi, gimana?"


"Santai, jangan khawatir gitu .. sumpah aku gakpapa. Mending lebih baik kita langsung pulang aja."


Betul, kalau Angga sudah kembali kambuh sahabat kecilnya suka begitu, panik tidak karuan pada kondisi Angga. Namun Angga tetap menguatkan dirinya untuk pulang ke rumah bersama Freya. Sedangkan Jova suka ambil negatif thinking kalau Angga seperti ini.


Tak ingin berlama-lama di parkiran karena semakin mereka di sana semakin pula cuaca malam ini sangat dingin. Mereka bertiga meninggalkan gang RS Wijaya dan pulang ke rumahnya mereka masing-masing, alur jalan mereka ada yang berbeda. Arah pulang Jova jalannya ke kiri sementara alur arah jalan pulang Angga dan Freya ke kiri.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di komplek United.


Jova segera masuk ke dalam rumahnya yang pintunya masih belum di kunci, padahal sekarang sudah jam 21.00 mungkin sepertinya kedua orangtuanya dan adiknya menanti gadis tomboy itu pulang. Begitu tahu yang membuka pintu siapa, Echa atau mama Jova berlari kecil pada anak gadisnya yang tengah menutup pintu.


"Sayang, kok jam segini baru pulang- lho kamu habis nangis, Nak?!"


"Hiks! Ma!" Jova langsung memeluk Echa dengan tangisan terhisak-hisak dalam pelukan sang ibu.


"Jova, eh kamu kenapa Sayang? Kenapa kamu nangis? Ada apa?!"


"Hiks! M-mama hiks!"


"Kenapa, Sayang?" tanya Echa cemas dengan mengelus rambut panjang coklat Jova.


"M-mama hiks! R-reyhan hiks! T-tadi kecelakaan hiks hiks!"


"Astaghfirullahaladzim! Ya Allah, lalu sekarang keadaan Reyhan bagaimana?!"


"Sekarang hiks! R-reyhan Koma dan Kritis, Ma hiks hiks hiks!"


"Innalilahi! Udah Sayang, udah jangan nangis seperti ini. Cup, cup, cup ..."


"B-bang Reyhan ... K-koma dan Kritis, Kak?!" kejut Nova tak menyangka.


"Reyhan yang mana sih? Reyhan yang pendiam itu, bukan Nak??" tanya Agatha atau papa Jova bingung.


"Itu Bang Angga, Papa! Bang Reyhan yang sifatnya yang tukang lawak itu lho, Paaaa ...!"


"Masyaallah yang ke sini suka debat mulut sama Jova?! Sahabat cowok yang paling humoris itu di antara sahabat-sahabatnya Jova, kan?!"


"Iya Papa, itu Reyhan. Dan sekarang Reyhan Koma sekaligus Kritis di rumah sakit. Sayang, Reyhan kenapa bisa kecelakaan?"


Dalam peluknya, Jova menjawab dengan nada seraknya. "Ketabrak truk, huhuhu!!"


"Ya Allah Ya Robbi, gak kebayang gimana sedihnya orangtuanya Reyhan. Va, sudah Va jangan nangis gini .. kita berdoa saja ya semoga Reyhan cepat sembuh dari Komanya."


"Hiks tapi, kata dokter kesembuhan Komanya Reyhan kecil, Pa hiks! Itu yang Jova takut hiks! Dan kata dokter juga, kaki Reyhan lumpuh. Jova bener-bener gakpapa kalau Reyhan lumpuh, yang Jova pengen Reyhan cepet sadar hiks!"


"Iya Sayang, iyaaa ... udah ya Nak kamu jangan nangis terus, nanti cantiknya bisa hilang lho." Echa melepaskan pelukan Jova kemudian mengusap air mata anaknya. "Sekarang Jova naik ke atas buat mandi habis itu istirahat, ya Sayang."


Jova menganggukkan kepalanya lunglai kemudian Echa mengantarkan anaknya sampai ke dekat tangga. Jova segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian kembali ke kamar untuk mengenakan pakaian piyama ungu lavender satin-nya.


Jova melemparkan tubuhnya ke kasur empuknya kemudian ia mengambil boneka coklat beruang berpita ungu berukuran sedang untuk ia dekap dalam tidurnya. Air mata gadis tomboy itu kembali mengalir menetes mengenai kepala boneka beruangnya, gadis itu sebenarnya kebal tahan tangis tapi kali ini tangisan air matanya tidak bisa ia bendung. Jova memejamkan matanya untuk tidur posisi tubuh miring dalam pelukan boneka kesayangannya dengan masih air linangan-nya membasahi pipi putih cantiknya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Setelah Rani dan Lucas mengetahui apa yang terjadi dengan Reyhan, tentu saja kedua orangtua Freya turut sedih atas yang di alami sahabat humorisnya Freya.


Kini gadis polos itu tengah menyisir rambut hitam legam halus panjangnya di kaca rias, kemudian setelah rapi Freya menaiki atas kasur seprei warna pics-nya. Freya meraih guling nyamannya yang biasanya untuk ia peluk tidur. Gadis ber-piyama pink bubble gum tersebut tanpa sadar mengeluarkan air bening dari kedua mata indahnya, ada rasa takut cemas pada Reyhan di kemudian hari. Namun gadis polos manis ini tak boleh over thinking terhadap sahabat rese ramahnya. Lebih baik Freya bersiap ke alam mimpi barunya meskipun tangisan air mata tetap berjalan mengalir.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Usai melaksanakan mandi, Angga duduk di pinggir kasur kamarnya untuk meminum obatnya. Angga membuka bungkusan obat kapsul serta mengangkat gelas air putih yang ia ambil sebelumnya di dapur bawah. Angga memasukan obat kapsulnya ke dalam mulut dengan meneguk air putih untuk membantu mendorong obatnya masuk ke dalam tubuh pemuda yang cedera kepalanya sedang kambuh.


Angga meletakkan gelas air putihnya di meja nakas, kemudian dirinya membaringkan tubuhnya di atas kasur, kepalanya berada di atas bantal. Bersama selimut yang Angga tarik untuk menghangatkan tubuhnya, dalam sekejap detik Angga mengingat segala ucapan-ucapan lemah Reyhan sebelum akhirnya Reyhan Koma serta Kritis. Dalam pejam mata, sama-sama di setiap air mata Angga mengalir, bibirnya juga ia katup. Angga meletakkan lengan tangan kanannya di atas keningnya yang tertutup oleh rambut hitam kerennya.


'Gue sudah turuti semua permintaan lo, Rey. Dan gue harap lo secepatnya bisa sadar kembali.'


Pemuda berhati ramah yang terkadang suka emosi sekarang tubuh raganya terbaring lemah di ruang bau obat-obatan. Semua adalah ulahnya Arseno yang ingin mencelakai Reyhan meskipun inginnya Arseno Reyhan mati hasil siasat rencana jahatnya, negatifnya.


Ketiga sahabat Reyhan masih merasakan bagaimana sedihnya di tinggal Reyhan dalam ambang mati dan hidup, mereka bertiga sangat berharap sekali dan berdoa Reyhan tak meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Indigo To Be Continued ›››


•••


...Halo selamat malam readers setiaku semuanyaaa!...


...Bagaimana kabarnya kalian hari ini? Kalian sehat, kan? Semoga always sehat ya hehehe...


...So, aku minta maaf ya sama kalian aku telat update 1 hari. Tadi tuh sekitar jam 11 harusnya aku sudah upload tapi karna ngantuk menyerang akhirnya aku update jam 1 dini, maaf ya hehehe... Mana bangun" udah tengah malem, yah gak sempet deh aku masuk update 3 hari. Tapi gakpapa deh yang penting hari ini aku telah update untuk pembaca setiaku semuanya 😅🙏🏻🥰...


...Dan, sepertinya alur ceritaku di Bab 47 ini mengandung bawang nggak sih? Mana aku nulisnya sampe ngeluarin air mata dong sumpah memalukan apalagi di lihat Mamaku saat aku sibuk menghayati alur cerita ini yang aku tuangkan ke dalam novel dari imajinasi otakku 😐...


...oke, segitu saja dari aku ya readers parah malah curhat deh aku 🤭🤦🏻‍♀️...


...Stay berhati hatilah readers, typo banyak bertebaran dimana mana 😂⚠️😂...

__ADS_1


...See You Next Time...


__ADS_2