
Lelaki Indigo berwajah tampan itu sedang termenung di kamarnya dalam posisi berbaring di atas kasur empuknya. Gambaran bayangan hitam aneh yang muncul di belakangnya Kenzo tadi saat di sekolah terus membuat Angga tak henti-hentinya berpikir untuk mengetahui ada apa sebenarnya. Apalagi Reyhan sahabatnya telah curiga pada Emlano siswa kelasnya.
...Apa jangan-jangan akan ada sesuatu yang terjadi pada Kenzo? Gue tadi di luar gang kantin, mendengar percakapannya Emlano pas lagi menelpon seseorang yang gak gue kenal...
...Emlano? Emiliano Baskatar Leonard siswa yang duduk di bangku kelas IPA dua itu?...
...Iya. Gue denger kalau dia sudah merencanakan sesuatu entah buat siapa. Apa untuk Kenzo?...
...Rey, sebaiknya lo jangan menebak yang bukan-bukan dulu. Gue juga nggak tau kenapa gue tidak bisa membaca auranya Emlano sampai saat ini...
Setelah Angga memutar otak pada pembicaraan dirinya terhadap Reyhan tadi di luar lobby sekolah, pemuda tampan itu mengusap wajahnya kasar dengan menghembuskan napasnya kencang. Ingin mencari tahu, tetapi mencari dimana? Mustahil Angga mampu menemukan mengapa auranya Emlano tertutup untuk mata batin terawangnya. Begitupun dengan keanehan dari bayangan hitam yang hadir di belakang punggungnya Kenzo saat berkomunikasi kepada sahabatnya.
Drrrrtt !
Drrrrtt !
Angga menolehkan kepalanya dengan tubuh masih terlentang berbaring di atas kasur ke meja nakas. Terdengar suara getaran ponselnya yang menandakan ada sebuah telepon masuk. Ya, Angga lupa mematikan mode senyap di pengaturan layar ponsel miliknya, segera tangan kanannya mengulur mengambil handphone Androidnya dan menilik kontak siapa yang menelponnya di malam ini.
“Freya,” gumam Angga tersenyum simpul lalu menggesek tombol hijau ke atas pada layar untuk mengangkat telepon dari sang kekasihnya.
...----------------...
...FREYA...
Assalamualaikum! Met malam Angga!
^^^Waalaikumsalam, met pagi juga^^^
Lho? Kok pagi, sih? Ini kan masih malem, Ngga
^^^Emang iya. Tapi suaramu kedengaran semangat banget kayak habis dapetin hadiah berlian segepok^^^
Hahahaha! Kamu ngelawak, ya? Oh iya bagaimana keadaan kamu sekarang? Sudah membaik, kah?
^^^Belum...^^^
Yah, kirain sudah...
^^^Tapi bohong, hahahaha!^^^
Hah?! Ish! Nyebelin banget, deh! Kirain belum, taunya ternyata bohong!
^^^Lagian kamu khawatir amat sama aku. Biasa saja dong, kepalaku sama dadaku udah gak sakit lagi kok daripada yang sebelumnya^^^
Huft! Alhamdulillah, deh aku seneng banget dengernya kalau kamu emang sudah baik-baik saja
^^^Iya- aduh!^^^
Eh, kenapa?!
^^^Takeshi tiba-tiba naik ke perutku. Makanya aku spontan ngomong gitu, oh iya kok kamu belum tidur? Ini udah mau larut malam, lho^^^
Nanti aja deh. Mmmm... Ngga? Tadi pas aku sama Jova pulang, kamu dan Reyhan ngobrol apa aja di sekolah?
^^^Knowing every particular object. Obrolan cowok nggak boleh tahu^^^
Pelit banget? Yaudah deh kalau nggak mau ngasih tahu. Aku sebagai kekasihmu gak bakal memaksa!
^^^Enggak begitu, kali. Tenang saja, besok aku bakal ceritakan semuanya ke kamu, lagipula sebenarnya aku juga berniat menceritakan sesuatu ke kamu. Besok, ya? Aku gak mau kamu malam ini nggak bisa tidur karena aku^^^
Kayaknya penting banget ya, ceritanya. Oke deh. Oh iya, gimana besok pagi kita sekalian olahraga sepeda buat keliling satu komplek? Habis itu untuk ceritanya di taman. Biar nyaman saja gitu, hehe
^^^Boleh. Ide yang bagus. Yasudah, sekarang kamu tidur, ya? Ingat, meskipun besok dan hari-hari seterusnya libur, kamu gak boleh sampai begadang, nanti bisa sakit sepertiku. Paham?^^^
Iya-iya! Aku paham kok, Anggara yang ganteng. Setelah bicara sama kamu lewat telepon, aku bakal tidur. Gak akan aku langgar, janji
^^^Tumben kamu ngatain aku ganteng? Oke. Janji, ya jangan begadang? Kalau kamu sampai melanggar aku bakal gendong kamu ke gunung Bromo setelah itu aku tinggal di sana^^^
Ih, jahat banget. Terus aku pulangnya gimana??
^^^Yaaa... Menunggu terompet Sangkakala dibunyikan sama malaikat Israfil, hahahaha!^^^
Parah, berarti Kiamat, dong! Dasar nyebelin kamu! Ini pasti gara-gara kamu ketularan virus resenya si Reyhan, mangkanya kamu yang dingin jadi kayak absurd gini!
^^^Iya, mungkin. Sudah-sudah, aku hanya bercanda doang, kok. Jangan dimasukkan ke dalam hati ya, Freya yang cantik?^^^
Okay. Kalau gitu aku mau tidur duluan ya, Ngga? Daripada kamu-nya marah sama aku
^^^Hei, aku gak akan marah sama kamu. Jangan terlalu negatif thinking^^^
Maaf, hehe. Good night, Angga
^^^Good night too, Freya^^^
...----------------...
Angga mematikan layar ponselnya setelah Freya mengakhiri hubungan teleponnya dari sebrang sana. Pemuda tampan itu dengan senyuman sumringah yang mengembang di wajah kulit putihnya, meletakkan HP-nya di atas meja nakas samping tempat tidur.
Sekarang di kamar, Angga ditemani oleh kucing Anggora hitamnya yang bernama Takeshi nang sedang tidur mendengkur di atas perut sang tuan majikannya. Di situ, tangan Angga mengelus-elus bulu kucing peliharaannya yang memiliki kepekaan nang sungguh amat tajam.
__ADS_1
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Rumah Freya
Gadis cantik tersebut sedang tersenyum bahagia usai melakukan percakapan obrolan hangat dengan kekasih tampannya lewat telepon ponselnya yang berjenis merk Oppo. Senyuman lebar yang pernah kerap ada di muka cantiknya, membuat Freya tak menyadari bahwa ada seseorang yang duduk di tepi kasurnya.
“Aduh, bahagianya habis teleponan sama Angga. Mama masuk ke dalam kamarmu sampai nggak tahu,” celetuk Rani melihat putrinya kesemsem dimabuk asmara oleh segala celotehan candaan Angga.
Freya tersentak kaget lalu menolehkan kepalanya ke belakang. Gadis tersebut terkejut rupanya ada sang ibu yang tersenyum nyengir di pinggir kasur. “M-mama?! Ih, masuk ke kamarnya Freya kapan? Kok Freya gak tahu??”
Rani menggelengkan kepalanya dengan terkekeh geli pada anak gadis semata wayangnya yang polos itu. “Sudah dari tadi, Sayangnya Mama. Kamu gak tahu karena kamu sibuk teleponan sama Angga. Itu dua pipinya sampai semburat merah begitu, keliatan lho dari sini, Nak.”
“Apaan sih, Ma? Freya begini karena gara-gara Angga, kok. Oh iya Ma, sekarang tuh Angga kayak bukan Angga yang dulu ya, Ma.” Freya mengatakan itu sambil beranjak dari kursinya lalu duduk di sampingnya Rani.
“Maksudnya Freya, bagaimana?” tanya Rani tidak mengerti seraya membelai-belai rambut hitam panjang anaknya.
“Iya, Ma! Dulu kan Angga cowoknya dingin, cuek. Nah kalau ini sekarang sifatnya malah saingan sama wataknya Reyhan,” adu Freya sambil menatap wanita paruh baya tersebut yang berusia 40-an tahun.
Mendengar aduan Freya, membuat Rani tertawa. “Wah, berarti sekarang hatinya Angga hangat. Kalau dulu kan enggak kayak begitu. Memangnya Freya lebih suka sifat Angga yang mana?“
“Ehmm ... yang sekarang sih, Ma.” Freya cengengesan sambil bergelayut manja di lengan tangan Rani.
Rani tersenyum manis lalu menganggukkan kepala sambil tetap menatap mata anaknya dengan wajah aura teduhnya. “Oh iya, berarti sekarang kondisi Angga sudah baik-baik saja? Bukannya tadi kamu bilang kalau di sekolah cedera kepalanya Angga kembali kambuh?”
“Emang bener, Ma. Tapi sekarang Angga sudah baik-baik saja, kok. Nyatanya tadi bisa ngajak bercanda sama Freya.”
“Alhamdulillah kalau begitu, Mama senang mendengarnya. Yasudah, sekarang Freya tidur yuk. Tadi pas ditelepon Angga nyuruh kamu apa, hayo? Tidur dan nggak boleh begadang, nanti sakit.”
Pipi Freya yang menempel di lengan tangan Rani, gadis itu singkirkan karena kaget. “Ih, Mama di sini dengerin semua obrolannya Angga?!”
“Iya, dong. Habisnya kalian terlihat seru banget ngobrolnya. Tidak apa-apa, kan? Kalau sedari tadi Mama menguping segala pembicaraan kalian?”
Freya menghela napas panjang. “Iya, nggak apa-apa kok, Mama. Yasudah deh, Freya mau tidur saja. Besok harus bangun pagi buat olahraga sepeda sama Angga, hihi.”
“Iyaaa,” jawab santai Rani karena beliau sudah tahu bahwa anak gadisnya besok akan pergi keluar bersama Angga. Tentu tahu dari komunikasi Freya dan Angga tadi ditelepon.
Kemudian setelah itu, Freya mengangkat kedua kakinya ke atas kasur lalu menyeret pantatnya untuk lebih agak dekat dengan tempat biasanya ia berbaring buat tidur. Sementara saat waktu sudah melihat anaknya berbaring di kasur, Rani segera menarik selimut tebal warna kesukaannya Freya ke tubuh putrinya supaya tidak kedinginan dan agar tidurnya nyenyak sampai pagi.
“Tidur ya, Sayang? Mimpi indah.” Usai mengungkapkan kata lembut itu, Rani mengecup kening Freya lalu beranjak berdiri dari kasur tak lupa mematikan saklar lampu sebelum keluar dan menutup pintu kamar anak gadisnya.
Freya tersenyum lebar pada Rani lalu beliau menutup pintu kamar dengan sangat perlahan. Bisa dilihat dari atas kasur, Angga di rumahnya tengah menutup kain gorden setelahnya segera mematikan saklar lampu kamarnya sebelum tidur di atas kasurnya, gadis lugu cantik tersebut konstan tersenyum hingga kedua matanya menutup karena rasa kantuknya menyerang.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Pagi - Pukul Jam 09.00
Di taman komplek yang banyak anak-anak bermain dengan tawa cerianya serta main wahana tempat main yang tersedia dari tahun-tahun lalu, Freya tengah duduk manis di kursi taman sembari menunggu Angga selesai membayar dua es krim rasa cokelat pada sang pedagang pria dewasa yang mengenakan topinya.
“Hore, makasih!”
“Iya, sama-sama. Kayaknya bahagia banget tuh dibelikan es krim pake duit pacarnya,” ucap Angga seraya duduk di tepat sebelahnya Freya.
“Ih, apaan? Kamu yang maksa buat belikan ini. Padahal tadi aku udah bilang sama kamu, pakai uangku saja tapi kamu tetap mau traktir aku. Bagaimana, sih?” respon protes Freya sambil menjilat es krim cokelatnya yang rasanya begitu lezat dan nikmat.
“Hahaha. Iya deh, iya. Di makan ayo, nanti keburu mencair karena kena sinar matahari,” titah Angga lembut pada kekasihnya.
“Ini juga lagi aku makan, Angga.” Gadis cantik tersebut kemudian kembali menjilat-jilat pelan es krimnya hingga ia teringat akan sesuatu lalu lekas menoleh ke arah Angga yang juga sedang menikmati es krim cokelat miliknya.
“Angga, aku baru keinget sesuatu deh. Tadi malam pas ditelepon katanya kamu mau ceritain ke aku?kedengarannya cerita yang bakal kamu jabarkan ke aku, penting dan intens banget.”
“Oh. Soal itu?” tanya Angga seraya menjauhkan es krim cokelat dari mulutnya.
Freya menganggukkan kepalanya dengan senyum. “Emangnya kamu mau cerita apa sama aku? Apakah berhubung tentang kamu ngobrol sama Reyhan kemarin saat di sekolah?”
“Hampir masuk ke situ. Tapi ada yang lain yang ingin aku kasih tahu ke kamu, kemarin pas pulang sekolah tepatnya di luar lobby, secara tiba-tiba aku melihat ada sosok bayangan hitam di belakangnya Kenzo. Sudah aku pastikan aku gak berhalusinasi, itu nyata sekali di mata luarku dan di mata batinku.”
Freya terkesiap dan beruntungnya tidak sampai tersedak oleh es krim cokelatnya karena saat itu Freya sedang mengulum ujung pucuk makanan dinginnya. “Hah?! Sosok bayangan hitam di belakangnya Kenzo?? Oke. Aku percaya apalagi kamu memang bisa melihat makhluk gaib.”
“Eh! Apa jangan-jangan itu sebabnya kepala kamu tiba-tiba mendadak sakit begitupun juga dadamu?! Karena melihat sosok bayangan hitam di belakangnya Kenzo?! Maaf, aku soalnya nggak bisa melihatnya.“
“Gak masalah, karena kamu memang tidak mampu melihat yang gak kasat mata. Mungkin bisa jadi karena itu penyebabnya. Anehnya yang membuat diriku tanya-tanya dalam hati, mengapa Reyhan nggak bisa melihat sosok bayangan hitam yang mendadak timbul? Semenjak pasca Koma, Reyhan mampu melihat sosok yang tidak terlihat.”
“Oh kalau yang itu Reyhan pernah cerita sama kita bertiga, Ngga. Mungkin karena kekuatan mata batinnya masih lebih kuat kamu dibanding Reyhan yang hanya beberapa persen saja. Jika aku boleh tahu, aura apa yang kamu rasakan saat melihat sosok bayangan hitam itu?” tanya Freya.
Angga menggelengkan kepalanya dengan wajah menjadi lara. “Aku gak tahu. Karena aku sulit membaca ataupun menerawang aura dari sosok bayangan hitam itu yang kemarin ada di belakangnya Kenzo sebelum menghilang.”
Freya menaikkan kedua alisnya bersamaan. “Hah? Kok tumben banget kamu kesulitan membaca aura yang seperti itu? Apa karena mata batinmu ditutup bila melihat bayangan hitam itu?”
Angga tersenyum tipis tanpa mengubah mukanya yang pilu. “Tebakan yang benar. Oh, tentang aku kesulitan membaca aura, ini sepertinya ada hubungannya dengan Emlano.”
“Emlano? Emiliano Baskatar Leonard yang duduk di bangku kelasnya kita itu, kah?” tanya Freya untuk memastikan benar atau tidak.
Angga mengangguk pelan. “Sudah lama sekali mata batinku dibatasi oleh auranya Emlano. Bahkan sampai sekarang pun aku gak tahu aura dia positif atau negatif apalagi warna auranya sekalipun.”
Freya terdiam berpikir. Aneh? Benar. Seorang Anggara Vincent Kevindra yang memiliki kelebihan istimewa tersebut yang menurun dari kedua orangtuanya, kesukaran membaca aura orang. Mungkin aura orang lain masih bisa Angga jelajahi.
Angga menyerong badannya agar tatapannya melekat di mata indah pujaan hatinya karena pemuda tampan itu akan bercerita serius kali ini. “Kemarin Reyhan juga cerita sama aku soal kecurigaannya dia dengan Emlano. Saat Reyhan sudah membeli sebotol air mineral di kantin, dia melihat Emlano sedang berkomunikasi lewat telpon. Waktu itu katanya apa yang Reyhan dengar, Emlano telah merencanakan sesuatu yang tidak kami tahu.”
Freya mengedipkan kedua matanya. “Merencanakan sesuatu? Kalau jika dikira-kira saja, itu untuk siapa?”
__ADS_1
Angga membungkamkan bibirnya dengan menggelengkan kepalanya. “Aku tetap gak tahu, Freya. Terlebihnya Reyhan walau sahabat kita itu sudah memasang kecurigaan di hatinya dia sendiri. Bahkan Reyhan sempat berfikir bisa jadi itu ada kaitannya dengan Kenzo yang Emlano suruh ke kota Bandung untuk meminta bantuan.”
“Begitu, ya? Ngomong-ngomong soal Kenzo, pasti teman kita sudah berangkat ke kota Bandung. Mana jarak antara Jakarta ke Bandung kan jauhnya minta ampun, malam mestinya baru sampai di kota itu.”
“Iya.” Kemudian Angga menghela napasnya dengan panjang, masih bingung dan tak mengerti mengapa mata batinnya untuk menyurvei mereka dibatasi.
Freya yang melihat kekasihnya menundukkan kepalanya dengan rasa pasrah, segera mengelus-elus punggung Angga penuh kasih sayang bersama senyuman manisnya. “Sudah, sabar saja.”
Angga melirik ke arah Freya lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpel padanya. “Makasih ya kamu sudah mau mendengarkan ceritaku sampai akhir.”
“Iya. Sama-sama, Angga. Aku juga makasih karena kamu telah menceritakan semuanya padaku dengan keterbukaan hatimu.”
Angga semakin menarik kedua sudut bibirnya hingga terlihat sunggingan senyuman lebarnya. Senyuman aura wajah tampan nyaman milik kekasihnya membuat hati Freya meleleh. Tanpa lagi bertatapan empat mata, sepasang kekasih pelengkap hidup tersebut memutuskan kembali memilih menghabiskan es krim cokelat jumbonya masing-masing daripada terburu mencair dikarenakan terkena terik sinar matahari di pagi yang begitu cerah ini.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Hari Minggu yang tiba, banyak sekali yang datang ke rumahnya Angga untuk mampir karena sudah lama tidak datang ke rumahnya yang terletak di komplek Permata sebrang jalannya halte Bus. Terdengar suara-suara gelak tawa yang melenyapkan rasa ketegangan nang menyelimuti sementara Angga hanya tersenyum saja melihat mereka tertawa dengan cerianya.
Sampai tiba-tiba ada suara notifikasi sebuah pesan chat masuk dari salah satu kontak pengirim lewat aplikasi WhatsApp-nya. Segera Angga buka layar ponselnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
...----------------...
...KENZO...
[Kenzo]
Angga, tolong!!!
...----------------...
DEG !
Kedua mata sipit Angga terbelalak tak menduga Kenzo temannya yang telah sampai di kota Bandung, mengirim pesan seperti itu padanya. Sebuah pesan chat yang meminta pertolongan.
Reyhan yang sedang sibuk memakan cemilan keripik bumbu gurih yang ada di dalam toples kaca, menoleh ke arah sahabatnya. “Ngga? Lo lihat apaan? Kok muka lo keliatan kaget gitu?”
“Barusan Kenzo mengirim chat pesan ke gue. Coba kalian semua lihat tulisan yang sudah Kenzo ketik.” Angga membalikkan posisi layar ponselnya ke belakang agar kekasihnya, kedua sahabatnya, serta keempat temannya melihat apa yang Angga perlihatkan untuk mereka bertujuh.
“Angga? Tolong?” Itu yang Aji baca di kolom kotak chat yang dikirim oleh Kenzo 2 menit lalu.
“Kenapa Kenzo ngirim chat begitu sama elo? Apa jangan-jangan Kenzo di sana dalam bahaya?!” cemas Jevran.
“Duh, Jevran. Kamu jangan berpikiran buruk seperti itu dulu terhadap Kenzo,” tegur Freya lembut.
“Eh tapi Kenzo kayak minta pertolongan sama Angga, Frey! Angga, coba kamu telpon Kenzo sekarang!” gusar Jova.
Angga menganggukkan kepalanya lalu memencet simbol telepon di atas layar samping foto profil Kenzo. Lelaki Indigo tampan itu mulai menempelkan layar ponselnya di telinga kanannya dengan hati penuh perasaan was-was khawatir.
Hingga puncaknya tertera tulisan di layar ponsel tepatnya dibawah foto profil Kenzo dengan 'Panggilan tak terjawab' hal itu membuat Angga melepaskan layar ponselnya dari telinganya seketika. “Nggak dijawab. Harusnya dijawab karena dia mengirim pesannya baru 4 menit yang lalu.”
“Kok perasaanku gak enak ya, Ngga? Walau aku gak Indigo kayak kamu tapi aku sebagai temannya ada rasa khawatir sama itu si Kenzo,” ujar risau Lala.
“Angga. Kenzo ada ngirim lokasi sherlock ke kamu, gak? Biasanya kalau sampai ngirim lokasi tempatnya dia berada, Kenzo memang ada masalah atau bahaya di sana,” tutur Rena.
“Iya. Dia mengirim lokasi tempatnya ke aku. Aku juga ada rasa nggak beres dengannya, bagaimana kalau kita susul?” tanya Angga mengeluarkan pendapat.
“Sekarang, Ngga? Tapi ini udah sore. Kita gak mungkin ke sana sekarang buat pergi ke kota Bandung, besok pagi saja bagaimana?” tanya Reyhan meminta persetujuan seluruh remaja yang ada di rumah sahabatnya.
“Sebentar. Di sini siapa yang setuju ke kota Bandung besok pagi, gue butuh persetujuan dari antara kalian semua terlebih dahulu,” ungkap Angga serius.
“Kenzo temen gue, Ngga! Jadinya gue besok pagi akan tetap ikut ke Bandung, gue yakin Kenzo di sana sama Emlano nggak baik-baik saja. Terlebih sudah mengirim pesan chat minta pertolongan pada lo,” timpal Aji cepat karena sangat setuju.
“Gue juga, Ngga! Gue akan ikut kalian ke kota Bandung buat mengecek kondisi Kenzo di sana sesuai lokasi yang telah dia kirim ke WhatsApp lo,” kata Jevran sambil mengangkat tangan kanannya.
Jova, Rena, dan Lala menganggukkan kepalanya antusias bermaksud setuju pada pendapatan Angga begitupun Reyhan tadi. Kini sekarang kurang Freya yang hanya diam mempertimbangkan ikut ke luar kota atau tidak.
“Freya, kamu mau ikut? Atau tetap di kota Jakarta?” tanya Angga pada pujaan hatinya yang bungkam.
Setelah mempertimbangkan pendapat pacarnya dan sahabatnya, gadis cantik polos tersebut manggut-manggut kepala dengan senyum. “Oke, aku ikut kalian semua. Nanti aku izin dulu sama mama ayah, semoga dibolehin.”
“Oke, Cantik- eh guys! Kalian izin sama ortunya liburan ke kota Bandung, ye?! Jangan izin karena mau menolong Kenzo, entar malah gak diizinkan, lagi. Malah justru langsung laporan sama polisi, kita nggak tahu ini beneran apa kagak. Barangkali si Kenzo ngeprank kita semua karena ngasih kejutan.”
“Wah! Ide yang sangat cemerlang, Rey! Hebat dah, lo!” puji Jevran sang tetangganya yang tempat tinggalnya di komplek Kristal.
“Gue gitu, loh.” Reyhan menyugar rambutnya dengan tersenyum lebar sambil menutup matanya.
“Sok ganteng!” protes sebal Jova seraya menyiku kencang lengan tangan Reyhan.
“Aduh! Sakit, Nona Sableng!” komplain Reyhan sambil mengusap-usap lengannya yang telah di siku oleh sahabat perempuan Tomboy-nya.
Reyhan menggerutu kesal lalu mulai menatap kesemua para remaja satu persatu. “Mending gue tentukan rencananya buat besok Senin pagi, ya? Besok antara jam tujuh kalian semua sudah ada di rumahnya gue, oke? Kita berangkat pake mobil gue. Bagaimana? Pada setuju??”
“Oke, setuju. Dan untuk ke kota Bandung-nya, kita dari rumah membawa tas besar masing-masing, ya? Entah kenapa firasat gue kita mending bawa segala perlengkapan seperti pakaian dan lain-lainnya.”
Perkataan Angga membuat semuanya bingung, tetapi tidak ayal mereka tersenyum dan menganggukkan kepala pada suruhannya dari Angga yang pemilik Indera keenam tersebut. Mereka tidak mungkin meremehkan kelebihannya Angga yang Indigo-nya memiliki strata karakter tipe A.
“Turutin saja dari atas komando tuan Indigo yang mata batinnya tajam gak ketulungan!” buras Reyhan.
Mendengar penuturan ucapannya Reyhan yang terdengar lantang tersebut, membuat kedua sahabatnya dan keempat teman terbaiknya tertawa lepas. Sementara Angga hanya diam menyunggingkan senyuman yang ia patri.
__ADS_1
Dalam pikirannya, Kenzo sudah dipastikan tidak baik-baik saja di Kota Bandung tepatnya berada di lokasi yang Kenzo kirimkan pada Angga melalui aplikasi pesan. Apa yang terjadi dengan Kenzo? Pastinya ini bukan atraksi sandiwara yang Kenzo lakukan. Dan pemuda tampan Indigo tersebut telah mempunyai firasat amat buruk terhadap temannya yang disuruh Emlano ke kota Bandung untuk meminta bantuan fundamental kepadanya.
INDIGO To Be Continued ›››