
Angga memejamkan matanya setelah suara hembusan napas berbunyi untuk keluar dari mulutnya, ia memarginalkan Fino tidak semakin berjalan masuk ke dalam ruangan buat membuka pintu ini. Karena kalau iya, habislah nyawa dirinya begitupun Reyhan di larut malam ini.
Hahahaha! Yaelah, sayang banget sama benda kesayangan lo itu? Udah itu entaran saja, mending kita makan daging kelinci panggang dulu deh. Biar habis itu kita masuk ke dalam ruangan buat mempermainkan fisik kedua cowok yang masih pingsan itu
Fino yang posisi tangan kanannya memegang handle pintunya, menghela napasnya pada penuturan Bondan yang di sana sibuk menikmati makanan hangatnya. “Oke. gue juga sudah nggak sabar untuk besok pagi, hahaha!”
Mantap! Bakal kaya raya kita, Bro !
Angga di dalam ruangan sempit yang tanpa ada ventilasi udara, berdecih sinis dalam hati pada bahagianya Kori yang lelaki psikopat itu ujarkan untuk Fino nang sekarang memundurkan langkahnya keluar lalu menutup pintunya kembali.
Di situ, Angga menghembuskan napasnya lega saat Fino mengurungkan niatnya untuk mengambil salah satu tengkorak manusia di ruangan sempit ini entah buat apa sebenarnya. Kemudian dengan perlahan, kaki kanan Angga mendorong pintu kayu jati yang ada di depannya untuk membukanya.
Setelah terbuka cukup lebar, Angga mulai kembali mengangkat badan lemah Reyhan untuk menyeretnya keluar dengan maksimal tenaga yang ia miliki. Sementara sahabatnya masih saja senantiasa tutup mata dan sama sekali belum siuman. Angga terus menyeret tubuh tidak berdaya Reyhan sampai tepat di belakang pintu jalan keluar, Angga mengarahkan tangan kanannya ke belakang untuk meraba gagang pintu dan membukanya.
Setelah keluar dari markas kecil nan lingkup tersebut, Angga menutup lambat pintu hingga rapat tanpa mengeluarkan suara bahkan agar tak terdengar suara decitan, tangan kiri Angga mengangkat pintu itu sampai benar-benar tertutup rapat.
Angga kini berjongkok sembari membaringkan tubuh Reyhan yang lemah di atas tanah hutan. Angga di sebelahnya sang sahabat, mencoba mengguncang-guncang kedua bahu lemas Reyhan sekaligus berharap Reyhan segera sadar.
Menatap muka Reyhan yang semakin memucat membuat Angga mengatupkan bibirnya tipis dengan perasaan bimbangnya. Mungkin ini bisa jadi karena diakibatkan peluru tembakan itu belum dikeluarkan dari dalam perut Reyhan yang telah terluka hingga mengeluarkan darah tersebut.
Angga lalu mengangkat kedua tangannya bersamaan dirinya memunggungi Reyhan untuk menggendongnya di belakang. Angga sekuat tenaga bangkit dengan menahan beban tubuh sahabatnya demi membawanya kembali ke bangunan villa Ghosmara untuk mengobatinya di sana.
...Semua organ tubuh gue bakal dijual? Pasar Ilegal yang seperti tersiar di berita?! Gak! Gue gak ingin mati! Siapapun saja yang datang selain mereka, tolongin dan selamatkan gue...
Masih Angga ingat betul suara hati Reyhan yang ketakutan dalam mimpi buruknya. Hal itu membuat Angga menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap sahabatnya yang belum sadarkan diri lalu memberikan senyuman padanya.
“Tenang, lo telah berhasil gue selamatkan dari mereka bertiga yang ingin mengambil seluruh organ tubuh lo. Ayo kita pergi kembali ke villa bersama-sama.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Villa Ghosmara
Gadis lugu berparas wajah cantik jelita tersebut jalan mondar-mandir di ruang utama dalam villa tersebut. Freya sangat khawatir kekasihnya belum kembali. Sementara Jova berdiri patung sambil menggigit jari telunjuknya dengan rasa risau pada Angga.
Sementara teman-teman mereka berdua tengah berkutat pada pikiran overthinking-nya masing-masing. Mereka tidak bisa berpikir jernih dan positif untuk Angga saat ini yang belum kunjung datang kembali ke dalam bangunan villa.
Sampai tiba-tiba pintu utama villa dibuka dari samping kanan dan langsung menampilkan sosok Angga yang kembali tiba bersama seseorang nang ada di belakang punggungnya. Mereka berenam yang sangat menantikan kehadirannya Angga tersenyum bahagia walau dalam hati bertanya-tanya siapa yang Angga gendong belakang.
“R-reyhan?!” kejut Jevran berlari menghampiri tetangganya yang tidak ada pergerakan di tubuhnya karena kondisinya memang tidak sadarkan diri.
“Reyhan kenapa, Ngga?! Mukanya dia kok pucat banget kayak mayat?! Kamu menemukannya dimana?!” Jova menghujani banyak pertanyaan ke Angga karena sudah amat penasaran.
Angga mendengus pelan. “Reyhan pingsan, dia juga terluka karena terkena tembakan. Aku harus mengobatinya dia segera sebelum terjadi sesuatu pada Reyhan.”
Angga langsung kembali melangkah menuju ke tangga, sementara Aji dan Jevran berjalan mengikuti teman pendiamnya yang telah menaiki undakan anak tangga nang panjang tersebut. Mereka berdua juga jaga-jaga kalau Angga sudah tidak bisa menahan beban tubuh lemah Reyhan yang sedang ia bawa ke atas kamar no 002 sebelah ruang kamarnya.
Setelah berhasil sampai di ujung atas tangga dengan peluh keringat yang membasahi kedua pelipis matanya, Angga kembali melangkah untuk masuk ke dalam kamar Reyhan. Dan di dalam, perlahan pemuda tampan Indigo tersebut melepaskan tubuh Reyhan dari punggungnya serta membaringkannya di kasur empuk dibantu oleh kedua temannya yang setia kepadanya.
Setelah membaringkan tubuh sahabatnya di atas kasur, Angga beralih balik badan untuk keluar mengambil tas besar hitamnya di kamarnya. Usai memungut tasnya dan membawanya menuju ke kamarnya Reyhan, Freya memanggilnya lembut membuat Angga langsung menoleh ke arah pujaan hatinya.
“Nanti saja, ya? Lebih baik kalau kalian mau, tunggu diluar. Jangan masuk dulu sebelum aku selesai mengobati lukanya Reyhan, karena aku nggak mau membuat kalian berempat takut.” Angga dengan melemparkan senyuman tipisnya pada keempat gadis tersebut, seraya menutup pintu kamar Reyhan sementara dari dalam.
“Apa lukanya yang dialami Reyhan parah banget, ya? Sampe kita dilarang Angga masuk ke dalam?” tanya Lala pada kesemua temannya dan direspon dengan angkatan kedua bahu dengan gelengan kepala tersendiri dari ketiga temannya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di dalam kamar Reyhan yang sepi, Angga tengah mengambil tas P3K miliknya yang ia simpan di dalam tas besar hitamnya. Setelah mengeluarkannya, Angga meletakkan tas ukuran sedang berwarna putih itu di atas kasur sahabatnya tepatnya di sebelah Reyhan.
Aji dan Jevran yang ada di belakangnya Angga, memperhatikan teman sang wakil PMR yang mulai mengenakan sarung tangan latex di kedua telapak tangannya sebelum memulai untuk mengobati luka Reyhan yang bisa dibilang cukup parah.
Angga menyingkap baju hoodie milik Reyhan dan menggulung-gulung ke atas hingga sampai dadanya. Aji dan Jevran yang melihat luka tembakan di perut kiri Reyhan, meringis dengan menyipitkan kedua matanya saking ngerinya.
Hal yang perlu Angga lakukan pertama adalah, mengambil pinset anatomi yang ada di tas P3K untuk mengeluarkan peluru tembakan yang ada di dalam perut sahabatnya. Baru saja akan memasuki ujung pinset tersebut, Angga ditahan tugasnya oleh suara Aji.
“Angga! Mending Reyhan dibawa ke rumah sakit saja biar lebih aman. Karena kalau lo obati sendiri tanpa petugas medis juga percuma.”
Angga menghela napasnya lalu menolehkan kepalanya ke arah Aji yang wajahnya terdapat raut panik di sana. “Rumah sakit sangat jauh dari sini. Kalau kita bawa Reyhan ke rumah sakit, itu akan terlalu membuang waktu dan lo mau jika hidup Reyhan berakhir di sini?”
Aji terdiam dengan menggelengkan kepalanya kuat begitupun Jevran yang sedari tadi hanya diam mengamati Angga yang bak seorang dokter. “Kalau begitu, lo diam saja. Jika elo dan Jevran meragukan kemampuan diri gue, kalian boleh keluar.”
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Angga dengan dingin mulai balikkan kepalanya ke depan dan mulai fokus pada tugasnya untuk mengobati luka Reyhan. Kedua teman Angga saling nyengir yang terlihat di bibirnya saat lelaki tampan berambut hitam tersebut memasukkan ujung pinset miliknya di pertengahan luka Reyhan untuk mengeluarkan peluru tersebut yang ada di dalam.
Angga melakukan tugas darurat itu dengan juga memakai pertolongan terawangan mata batinnya bahwa bisa dipastikan sekali Reyhan akan baik-baik saja setelah ini, kendatipun Angga tidak bisa mengetahui kapan sahabatnya kembali siuman.
Jevran serta Aji melongo tak percaya apa yang mereka lihat bahwa Angga berjaya mengeluarkan peluru pistol dari dalam tubuh Reyhan, dan kini Angga meletakkan peluru yang berdarah itu ke dalam kom bengkok steril punyanya.
Kedua pemuda tersebut dalam relung hati sangat kagum dan bangga memiliki teman seperti Angga yang telatennya seperti seorang dokter nang bekerja di dalam bangunan rumah sakit. Mereka tetap memperhatikan Angga yang mulai membersihkan bekas-bekas darah Reyhan yang telah mengering di tepi-tepi lubang lukanya. Setelah ia bersihkan dengan kapas, Angga menutup luka perut sahabatnya bersama perban kasa.
‘Fix banget! Besok Angga jadi seorang dokter! Keren bener bisa mengobati luka se-telaten itu,’ puji batin Aji dengan gelengan kepalanya.
“Gue gak akan mau jadi seorang dokter!”
“Iye-iye, yang anak Indigo! Lagi fokus begitu masih saja bisa denger suara hati orang!” kesal Aji.
Sementara Jevran yang diam, menutup mulutnya dengan kepalan salah satu telapak tangannya karena tawanya susah dirinya tahan. Aji yang peka terhadap Jevran yang sebenarnya sedang menertawakan dirinya secara lirih, langsung memukul lumayan kencang punggung Jevran.
“Aduh!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah Angga melaksanakan tugasnya dengan baik serta lancar untuk mengobati luka Reyhan yang mengalami tembakan, banyak remaja nang di kamar pemuda Friendly tersebut yang masih pejam mata. Bahkan sekarang ini, tubuh Reyhan ditutupi oleh selimut tebal cokelat peanut agar mendapatkan kehangatan.
“Gakpapa deh Reyhan belum sadar, yang penting sekarang Reyhan sudah ketemu. Kasihan banget kamu, Nyuk. Pasti di sana kamu diculik, ya?” celoteh Jova mengobrol pada Reyhan yang belum kunjung siuman.
Sementara Angga posisinya memeluk tas hitam besarnya di pinggir kasur Reyhan bersama menundukkan kepalanya tanpa ada kesedihan wajah yang tergambar. Freya beralih menoleh menatap kekasihnya yang diam bungkam sedari tadi, lalu melangkah mendekati Angga bersama senyuman manisnya.
Freya mendudukkan pantatnya di kasur sebelahnya Angga lalu menatap wajah tampan kekasihnya. “Kok diam saja dari tadi?”
Angga mendongakkan kepalanya dan menatap Freya dengan senyuman tipis. “Kan emang biasanya aku diam, sudah jadi hobi maksudnya.”
Freya mendengus. “Kamu sudah baik-baik saja? Bukannya kamu masih sakit Demam?”
“Aku sudah sehat, Freya.”
“Masa? Sini aku cek.” Freya mulai menyentuh kedua pipi kekasihnya lalu pula menyentuh kening Angga yang tertutupi rambut hitamnya.
“Eh, sudah dingin. Alhamdulillah, deh.”
Tanpa sengaja, Freya melihat tengkuk Angga yang sedikit memar tersebut membuat gadis polos bermuka menggemaskan itu mulutnya menganga terkejut. “Ngga? Ini kenapa belakang lehermu agak memar begini?”
“Itu ... karena aku dipukul pakai sesuatu dengan seseorang, tapi tenang saja. Aku nggak apa-apa, kok.”
Freya mencoba menekan bagian memar tengkuk pujaan hatinya dengan jari telunjuk lentiknya lalu menatap serius Angga yang juga sedang menatapnya. “Kalau ditekan kerasa sakit, gak?”
Angga menggelengkan kepalanya dengan tetap tersenyum untuk kekasih tercintanya. “Enggak. Sudah nggak terasa sakit. Paling besok atau kapan memarnya akan hilang sendiri.”
Freya menganggukkan kepalanya seraya melepaskan jari telunjuknya dari tengkuk Angga. Kemudian gadisnya lelaki tampan jangkung tersebut duduk seperti semula dengan memposisikan kedua tangannya di kedua paha kakinya.
“Kamu yang menemukan Reyhan ya, Angga?” tanya Freya lemah lembut.
“Iya, kamu benar.”
“Aku gak tahu kamu menemukan sahabat kita dimana, tetapi jasamu luar biasa banget,” puji Freya seraya menyandarkan kepalanya di pundak kanan kekasihnya dengan senyuman yang berhasil membuat Angga terpesona akan kecantikan manisnya sang pujaan hatinya.
“Kamu juga begitu, Freya.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di tempat markas untuk menganiaya, menyiksa, dan membunuh korban target, Fino bersama rekan-rekannya memasuki ruangan tersebut setelah menghabiskan makan malam.
Mereka bertiga terkejut karena dua mangsa yang telah mereka jerat di ruangan tersebut bersama borgol talinya telah hilang entah kemana. Fino dengan hati kesal, menendang pintu kayu jati. “Bangsat! Kemana mereka berdua itu?! Berani sekali mereka kabur dari markas kita bertiga!”
Kori dan Bondan melangkah menilik setiap ruangan. Ada beberapa tali yang terlepas dari tubuh nang mereka perangkap untuk korban spesial malamnya, pintu rak beberapa tengkorak manusia sebagai koleksi terbuka dengan sangat lebar.
Bondan berjongkok untuk memungut kain navy yang keadaannya terkena noda darah seseorang yang telah kering. Sementara Kori berjalan melewati Bondan menuju ke arah gembok besi yang sudah dirusak dan posisinya berada di atas lantai. Dan Kori langsung mengambilnya dengan nada geram.
Di sisi lain, Fino melangkahkan kedua kaki panjangnya untuk menghampiri Bondan dan Kori yang sibuk mengecek benda nang mereka pegang masing-masing. Terdapat jelas gurat amarah Fino di wajahnya karena rencana ia yang telah tersusun rapi, hangus total.
Fino membuka pintu keluar, dan menatap jalan hutan yang sangatlah gelap. Dan di ujung sana yang tertutupi banyak pepohonan besar, Fino dapat melihat bangunan villa Ghosmara. Sudah pemuda keji tersebut pastikan bahwa Reyhan dan Angga telah berada di villa tersebut.
“ARGH DASAR BAJINGAN KALIAN BERDUA SEMUA!!!”
Kori dan Bondan lantas langsung melindungi kedua telinganya masing-masing saat mendengar suara teriakan Fino yang sangat murka pada dua targetnya nang telah berhasil melarikan diri dengan mulus. Tidak tahukah, Fino? Saking dendamnya ia kepada Angga begitupun Reyhan, Fino memukul kuat badan pintu tua tersebut hingga terjadilah keretakan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kamar Reyhan yang telah dibuka lebar, hal itu mentari cahaya tersebut berhasil menyoroti bagian selimut tebal yang pemuda humoris itu kenakan. Ternyata sudah banyak yang ada di dalam kamar 002 untuk menemani Reyhan nang belum juga sadarkan diri walau lukanya telah diobati Angga dengan sangat telaten.
Wajahnya kian masih terlihat pucat, kedua matanya senantiasa pejam seperti enggan membukanya kembali. Bahkan ada beberapa remaja yang menjadi sosok terbaik Reyhan yang merasa khawatir karena lelaki ini belum kunjung siuman.
Sementara seperti Angga tengah duduk diam di pinggir kasur belakang kedua kaki Reyhan yang tertutupi selimut. Pemuda tampan berkulit putih tersebut juga sedang menatap sendu sahabatnya yang masih terbaring lemah di kasur empuk itu. Satu helaan napas keluar dari mulut Angga sekaligus langsung menundukkan kepalanya.
Jevran menghembuskan napasnya dengan wajah lara lalu menolehkan kepalanya untuk menatap Angga yang bibirnya bungkam. “Angga?”
“Hm?” Angga mendongakkan kepalanya dan menatap tetangganya Reyhan yang memanggil dirinya.
“Elo nemuin Reyhan dimana? Lo tau, gak?”
__ADS_1
“Gak.”
“Ye! Gue kan belum ngomong apa-apa sama elo. Gue sama Aji sudah mencari Reyhan di seluruh jalan hutan ini, bahkan rela jauh-jauh dari kawasan villa demi menemukan sahabat lo. Emangnya elo nemuin Reyhan, dimana? Gue penasaran dan juga lainnya.”
Angga menghela napasnya dengan memalingkan wajah tampannya dari Jevran yang menatapnya serius. “Tempat markas pembunuhan.”
Semua yang mendengarkan Angga terkejut sampai membelalakkan matanya karena kaget kecuali Reyhan yang matanya masih terpejam damai. Freya menelan ludahnya dengan menatap kekasihnya intens bersama raut gegaunya. “Maksud kamu, di situ Reyhan mau dibunuh?! Dan ... sudah tepatnya Reyhan telah menjadi korban di markas itu?!”
Angga menganggukkan kepalanya. “Iya. Sebenarnya mereka bertiga ingin membunuh Reyhan sebagai kesenangan mereka semua, tetapi rencana yang diatur mereka telah hangus setelah aku berhasil menyelamatkan Reyhan.”
Jova terdiam sejenak untuk mencerna perkataan Angga yang seperti mengetahui semuanya apa yang terjadi. “Kamu tahu darimana kalau Reyhan mau dibunuh? kamu kayak ngerti semuanya deh jika aku pikir-pikir.”
Angga lagi-lagi menghela napasnya. “Kenapa kamu harus bertanya seperti itu kalau kamu saja pasti sudah tahu aku ini apa?”
‘Eh, iya! Angga kan anak Indigo, pasti sudah mengetahui semuanya. Geblek banget otak gue,’ batin Jova dengan bibir nyengir.
“Kalau aku coba memutar kejadian tadi malam dimana kamu belum sadar, sepertinya kamu sedang mimpi buruk, ya? Soalnya tadi malam tuh kamu mengigau gak jelas. Terus tiba-tiba kamu langsung lari tergesa-gesa sesudah menyebut nama sahabat kita bertiga. Iya, bukan? Dan ... mungkin di alam mimpi kamu, kamu melihat Reyhan dibunuh entah dengan cara apa sama para pembunuh yang kamu maksud tadi.”
Angga takjub pada Freya yang sangat peka terhadapnya membuat lelaki tersebut mengukirkan senyumannya. “Kamu benar, makasih kamu sudah terlalu peka dengan aku.”
“Payah bener gue sebagai sahabatnya Angga! Kapan gue bisa peka kayak Freya?!” sebal Jova cemberut.
Rena menyenggol lengan Jova dengan cengengesan. “Kenapa, lo? Iri ya sama Freya?”
“Idih! Sok tau amat! Gak, lah. Gue nggak mungkin ada rasa iri sama sahabatnya sendiri, kelebihan orang kan beda-beda!”
Rena mendengar tanggapan Jova yang mengotot, tertawa kecil dengan menggelengkan kepalanya. Sementara Angga mulai menatap kesemua remaja yang duduk dan berdiri di dalam kamar 002
“Ada yang ingin gue sampaikan ke kalian semua, ini soal Reyhan juga.”
“Apaan, Ngga?” tanya Aji yang posisinya sedang berdiri melipat kedua tangannya di dada.
“Tentang Reyhan yang pergi dari villa satu hari lalu bukan karena kemauan dirinya sendiri, tetapi kemauan sesosok hantu yang berniat untuk menjebak Reyhan.”
Jevran mengerutkan keningnya karena pemuda tersebut sejujurnya kurang percaya adanya keberadaan takhayul-takhayul. “Maksud lo apa? Sesosok hantu apaan? Sori, gue masih gak paham.”
Angga menatap Jevran dingin. “Lo gak paham karena dari dasarnya elo gak percaya kalau hantu itu ada. Gue juga nggak akan memaksa diri lo untuk mempercayai makhluk astral.”
Tanggapan Angga membuat Jevran terdiam seketika. Memang benar apa yang Angga katakan untuknya. Sedangkan Aji menatap teman indera keenamnya dengan sangat sungguh-sungguh. “Gue mau tahu ciri-ciri hantu apa yang lo maksud.”
“Dia hantu wanita berkisar usia dua puluh tahuan, mengenakan semacam gaun dan satu lagi ... hantu itu bukan hantu yang ada di negara kita tetapi negara lain, Prancis.”
“Wow! Pasti cantik banget kalau hantu Prancis.“ Ini kenapa Rena malah kagum dengan arwah wanita beraura negatif tersebut?
Mendengar ciri-ciri yang dijabarkan oleh Angga, berhasil membuat Jevran menggerakkan kedua bola matanya ke samping karena merasa tidak asing apa yang Angga sebutkan secara rinci. Sementara yang lain sibuk memperhatikan pemuda tampan tersebut nang terus menyampaikan yang tak mereka tahu.
“Reyhan gak akan mau menuruti dan mengikuti hantu wanita Prancis itu bila dia tidak mengubah wujud asli ke palsunya. Sosok itu sengaja menjelma menjadi rupa seseorang di salah satu dari antara kita bertujuh.”
“Siapa, Ngga?” tanya Freya membutuhkan jawaban segera dari kekasihnya.
Angga melirikkan bola matanya ke arah Aji yang sedang fokus menatap wajah miliknya. “Adalah Aji Rivaldi Valentino.”
Kedua mata Aji sontak langsung mencuat. “Hah?! Hantu itu mengubah wujudnya jadi sosok gue?! Astaga! Pinter main licik juga itu arwah sialan satu!”
Angga menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan cerita yang belum selesai, “Reyhan terus mengikuti arwah yang menjelma lo hingga ke pertengahan hutan. Merasa puas menjebak sahabat gue, hantu itu menghilang meninggalkan Reyhan begitu saja di sana. Dan bertepatan saat Reyhan mencari sosok yang menyamar jadi elo, dia dihadapkan seorang pembunuh yang memegang gergaji mesin untuk hanya mengintimidasi hatinya Reyhan.”
“Akhir sebelum Reyhan dibawa ke tempat tinggalnya mereka yang ingin membunuh diri Reyhan, dia sempat jatuh ke dalam jurang dengan sedalam sekitar tiga puluh meter, dan yang gue lihat dari atas tepi jurang ... sahabat gue diseret dua orang yang memiliki jiwa psikopat. Diseret kemana lagi kalau bukan markas?”
“Dua psikopat?!” kejut Freya dan Jova dengan mata saling melotot ke Angga yang telah menyelesaikan penyampaian detail kepada semuanya.
Angga menganggukkan kepalanya saja tanpa mengucapkan kata apapun yang keluar dari mulutnya, hal tersebut membuat Jova mengedipkan kedua matanya beberapa kali. “Semua cerita kamu yang fakta itu, kamu tahu dari mimpi yang kamu kunjungi?”
Sahabat lelaki Introvert-nya menggelengkan kepalanya. “Bukan. Dari foto Reyhan album galeri ponselku.”
Freya berkacak pinggang dengan menatap tajam Angga. “Oh! Yang itu, ya?! Berarti aku benar dong kalau kamu keras kepala buat menerawang keberadaan Reyhan yang hilang saat itu!”
“Eh gak begitu! Kamu jangan salah paham dulu, ini bukan karena aku yang ingin. Tapi ada suatu petunjuk dengan cara asing yang mengharuskan aku menatap fotonya Reyhan.”
“Oh, begitu ... maafkan aku, deh. Aku kira kamu bertekad untuk menerawang pakai mata batinmu. Tetapi petunjuk gaib yang timbul ke kamu itu malah justru mampu menyakiti kamu hingga hilang kesadaran, Angga!”
Angga menundukkan kepalanya dan mulai menjawab Freya dengan nada lirih, “Aku tahu ...”
Jevran yang sibuk berkutat dengan pikirannya, kini menolehkan kepalanya ke arah Angga yang kepalanya sedang ia tundukkan. “Angga ... soal hantu wanita Prancis yang lo sebut beberapa ciri-cirinya, mungkinkah wanita itu adalah sebuah lukisan bingkai foto yang dipajang di salah satu tembok dalam bangunan villa ini?”
Angga menarik wajahnya lalu mengernyitkan dahinya pada Jevran. “Bingkai foto?”
Jevran menganggukkan kepalanya. “Iya, bingkai foto. Kalau lo mau, gue bawakan ke sini bingkai fotonya.”
“Boleh, bawa saja ke sini.”
Setelah itu, Jevran kembali ke kamar Reyhan dengan kedua tangan membawa sebuah bingkai foto yang ukurannya besar tersebut. Semuanya terpukau melihat ciamiknya gambar lukisan yang ada di dalam bingkai itu, kecuali Angga nang menatapnya intens.
“Harusnya di antara kalian semua pernah melihat bingkai foto ini yang dipajang di tembok samping pintu keluar Reyhan. Gue dan tetangga gue waktu itu lihat bingkai foto ini pas malam hari. Menarik, bukan?”
“Wah iya-ya. Hebat banget yang melukis secantik ini, aku saja nggak sadar kalau ada bingkai foto yang kamu pegang itu,” ujar Freya dengan memuji kehebatan dan kemahiran seseorang yang berkarya melukis wanita bak putri dari negara Prancis tersebut.
Angga memicingkan kedua matanya ketika saat menatap seluruh postur tubuh lukisan wanita Prancis cantik dengan sebuah gaun krem tersebut di dalam palar bingkai foto itu yang sedang dibawa Jevran.
‘Ada apa dengan lukisan dalam bingkai foto itu? Mengapa gue merasakan bahwa ada suatu energi negatif di dalam sana. Bahkan dari semua postur, dan rupa wajah wanita itu sama persis apa yang gue lihat di masa dalam petunjuk astral yang masih berlangsung waktu itu.’
“Sudah pada lihat, kan? Gue mau kembalikan bingkai foto kuno ini ke tempat semula. Takut nanti kalau ada yang marah,” ungkap Jevran hendak memutar langkah ke belakang.
“Emang siapa yang marah?” tanya Aji bingung.
“Ya, yang mempersilahkan menyewa bangunan villa besar ini.”
“Bapak yang bikin Angga pingsan waktu malam itu sebelum kejadian Reyhan hilang?” Lala bertanya dengan menyusutkan jidatnya pada Jevran.
“Yap. Tapi masalahnya itu petugas penjaga villa ini kok udah lama gak pernah kelihatan, ya? Ya kali masa ada suatu pekerjaan yang beliau tinggalkan hingga pergi dari hutan ini.”
‘Sebenarnya petugas penjaga villa yang mana dan seperti apa? Gue masih tetap gak bisa mengingatnya ke masa yang sudah berlalu,’ ucap Angga dalam lubuk hati.
Freya mengelus lembut bahu kiri Angga dengan senyum manis yang mesti terlihat di wajah cantiknya. “Jangan terlalu dibuat ingat. Nanti kepalamu bisa menjadi sakit, lho.”
Angga tersenyum tipis dengan kepala manggut-manggut menuruti perintah lemah lembut sang nada kekasih hatinya. Sampai tiba-tiba saat Jevran baru berjalan tiga langkah keluar dari kamar milik Reyhan, kesemua ketujuh remaja mendengar suara lantunan piano yang bermusik Beethoven di daerah atas loteng bangunan megah villa Ghosmara.
Lantunan musik piano yang dimainkan oleh seseorang di atas sana terdengar indah setiap menekan beberapa tuts piano tersebut. Meskipun iramanya terkesan konvensional namun beberapa remaja yang dapat mendengarkannya merasa merinding karena tidak mungkin ada seseorang di loteng, kecuali Angga yang mulai waspada.
“S-siapa yang mainin piano di atas loteng? Bukannya yang menempati villa ini hanya kita berdelapan?” tanya Lala dengan muka ketakutan.
Jevran meneguk ludahnya bersama kepala mendongak ke atas dinding kamar seraya mengusap tengkuknya. “G-gila suara lantunan piano itu bikin gue merinding abis. Siapa sih yang mainin?! Bikin memacu adrenalin aja, dah!”
“Jangan-jangan yang memainkan piano di atas loteng, bukan manusia. Tapi setan ...!” tebak Aji dengan suara nada merengek di kalimat akhir.
Rena memukul atas pundak kanan Aji dengan raut kesal bercampur ekspresi takut. “Jangan nakut-nakutin kami, dong! Gak mungkin pagi-pagi jam segini ada setan. Kamu tuh yang setan!”
“Apaan, sih?! Aku kok disamakan sama setan! Barangkali kalau tebakan aku benar.”
“Biar gue yang cek ke atas loteng. Kalian semua di sini saja, tetap jagain Reyhan.” Angga beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.
“Angga.” Freya memanggil pacarnya dengan mencekal lengan tangan Angga membuat lelaki tampan pemberani itu menolehkan kepalanya ke arah Freya yang mukanya ada seraut ketakutan. “Kamu hati-hati, ya?”
Angga tersenyum tipis. “Iya, kamu tenang saja.”
Freya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lumayan lebar sambil melepaskan genggaman tangannya dari lengan kiri kekasihnya dan membiarkan Angga pergi meninggalkan kamar nomor 002 milik Reyhan yang belum sadarkan diri.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Angga memegang handle pintu bulatnya dan memutarnya ke kiri untuk membukanya. Sesuai pada pendengarannya, suara lantunan piano yang masih dimainkan di atas loteng villa dekat di sekitar dalam kamarnya yang bernomor 001
Angga melangkahkan kaki panjangnya lalu menghentikannya saat telah berdekatan di meja nakas, kepalanya ia angkat ke atas dengan sorot mata tajamnya bersama muka datarnya. Rupanya saat Angga tatap bagian atas dinding, terdapat sebuah pintu panjang macam ada ruangan rahasia di dalam loteng villa Ghosmara yang belum sama sekali Angga tahu.
Angga diam sebentar di situ untuk berpikir bagaimana caranya membuka pintu yang ada di atas dinding kamarnya, sampai akhirnya lelaki tampan itu mengalihkan pandangannya ke penjuru ruangan dan menemukan kotak putih yang terpajang di tembok samping pintu dengan tombol merah ditengahnya. Angga sontak langsung mengernyitkan keningnya lalu memutuskan balik badan ke belakang mendatangi sebuah tombol merah yang ada di tepat sebelahnya saklar lampu.
Angga yang telah berdiri di depan kotak tombol merah tersebut, tak perlu berpikir lama ia langsung memencetnya karena seorang Anggara Vincent Kavindra tidak suka memperlambat waktu. Kini terdengar suara seperti mesin berasal dari atas dinding, Angga lekas memutar tubuhnya dan ternyata pintu panjang yang ada di atas sana sedang terbuka perlahan dan langsung menampilkan sebuah tangga yang tersedia di belakang pintu panjang aneh itu.
Bola mata Angga terus fokus memperhatikan turunnya perlahan pintu berupa tangga ke bawah untuk menempel lantai kamar. Setelah pintu gabungan tangga panjang tersebut telah terbuka lebar, Angga disuguhkan sebuah ruangan gelap gulita kendati dirinya melihat dari bawah loteng.
Angga memasukkan tangan kanannya di salah satu kantong celana jeans hitam panjangnya bagian depan untuk mengambil ponselnya yang ada di dalam sana. Tentunya pemuda tersebut ingin menyalakan blitz cahaya handphone buat sebagai penerang ruangan tersebut selama Angga mengitari loteng lepau mencari suara lantunan piano itu yang masih terdengar jelas di sepasang telinga indera tajam miliknya Angga.
Setelah Angga memencet tombol untuk menghidupkan layar HP-nya, dirinya mulai membuka sandi angkanya yang sebagai privasinya lalu kemudian segera menggesekkan layarnya dari atas ke bawah, tetapi tiba-tiba tak ada angin, hujan, petir ponsel yang sedang Angga genggam mati dengan sendirinya. Padahal baterainya masih tersisa 80%, masih cukup banyak, bukan?
Angga mendengus karena tahu ini pasti kelakuan sang gaib entah sosok siapa, tanpa lagi memedulikannya ia langsung meletakkan ponselnya di atas meja nakas lalu berjongkok untuk membuka lemari kecil bawah meja. Di situ Angga mendapatkan sebuah satu lentera yang ada di dalam lemari kecil tersebut. Mungkin ini bisa membantu dirinya untuk mencari sumber suara lantunan piano di atas loteng setelah ini.
Angga gegas mengambilnya lalu mencari korek api yang sepertinya berada di dalam laci meja nakas. Lelaki tampan pemilik postur tubuh tinggi tersebut mulai menarik laci untuk membukanya. Ternyata insting Angga sangat benar, sebuah kotak korek api terletak di dalam situ.
Hendak akan mengambilnya keluar kotak korek api itu dari dalam laci, sebuah secarik kertas blangko yang tergeletak di sebelah kotak penyala api tersebut melayang terbang keluar dan mengambang di udara tepat di depan Angga. Lagi-lagi lelaki tampan Indigo itu memicingkan kedua mata sipitnya yang memiliki mata batin saat ada gerakan tulisan dari cairan merah pekat di kertas putih tersebut.
Angga semakin tidak mengerti...
‘Bawah tanah? Ini maksudnya apa?’
Setelah Angga membacanya dalam relung hati, kertas tersebut menghilang secara astral dan Angga tidak takut atau terkejut sedikitpun dikarenakan hal-hal diluar nalar tersebut dirinya telah terbiasa. 'Bawah tanah' membuat Angga menggelengkan kepalanya untuk menepiskan kata-kata itu yang sudah menempel dibenaknya Ia berusaha mengacuhkan sementara dan memilih menyalakan lentera api dengan bahan bakar korek api yang sedang dirinya pegang.
Setelah dalam kaca lentera tersebut telah diisi bahan bakar hingga menyala-lah sebuah cahaya api yang akan sanggup membantu Angga menerangi loteng gelap gulita. Angga mulai kembali bangkit berdiri dan melangkah menaiki undakan anak tangga menuju atas loteng tanpa ada rasa bimbang yang menyelimuti hati dan jiwanya.
Setelah menginjak lantai yang terbuat dari kayu kokoh bercat hitam, Angga mengangkat lenteranya. Astaga, lihatlah apa yang Angga pandang di sini. Banyak barang-barang kuno nang telah usang dan terlihat berserakan dimana-mana bahkan Angga juga harus sedikit mengibaskan tangan kanannya di dekat mulut untuk mengusir banyaknya debu.
__ADS_1
Kehadiran lelaki jiwa pemberani tersebut membuat suara lantunan piano musik kuno yang dari berasal negara Jerman itu berhenti sendiri. Apalagi sekarang Angga menatap sebuah piano putih yang menjadi sarang laba-laba. Siapa juga yang berniat ingin memainkan alat musik melodis itu terkecuali makhluk gaib yang memainkannya.
Awalnya hanya mengecek suara lantunan piano ini, namun puncaknya Angga ingin mengecek lainnya dikarenakan nuansa angker ini membuat raga Angga terangsang untuk menyusuri setiap ruangan lorong luas tersebut. Jiwanya juga menjadi penasaran akan tempat menyeramkan ini, seperti biasa dirinya ingin mencari suatu petunjuk yang ada di sekitar sini.
Angga melangkah sembari ditemani lentera yang terus menerangi jalannya. Hingga pada akhirnya mata Angga menangkap sebuah chest peti perak di atas lantai kayu kokoh tersebut. Hal itu membuat Angga mendekati peti yang dari bentuknya macam sebuah peti harta karun.
Angga meletakkan lenteranya di samping tubuhnya lalu membukanya perlahan dikarenakan tak ada kunci gembok yang membuat peti kecil tersebut sulit untuk dibuka. Angga memundurkan kepalanya saat debu di dalamnya keluar bertebaran ingin menerpa wajah tampannya.
Angga sedikit membuka mulutnya saat kepalanya ia condongkan ke depan. Ia melihat ada sebuah buku tebal hitam tanpa ada cover apapun bahkan judul sekalipun. Angga segera mengangkat buku asing tersebut untuk memungutnya dari dalam chest peti perak.
DEG !
“Mustahil kalau buku ini adalah buku ...”
Otak Angga dalam singkat waktu langsung cepat terputar pada masa dimana ia bermimpi sangat amat buruk yaitu kekuatan Indigo-nya dirampas oleh lelaki misterius bertudung dan berjubah hitam bersama sekelompok orang yang macam sekumpulan sosok Sekte. Tentang buku tebal yang sedang Angga genggam dengan tangan gemetar ini sama persis buku mantra yang dibacakan sosok misterius tersebut.
Dan di dalam loteng gelap gulita ini, Angga langsung terpikirkan maksud tulisan darah yang ada di kertas blangko nang mengambang di udara dan menghilang itu saat sebelum Angga menaiki tangga menuju ke atas sini.
“Buku hitam? Bawah tanah? Apa dua di antara semua itu ada hubungannya dengan mimpi buruk gue saat dulu?”
...Oh, sebelum aku membacakan sebuah mantra sesuatu untuk ritual spesial menggemparkan ini, aku ingin memberitahumu bahwa kau berada di kastil, yang tepatnya dibawah tanah...
...Dengarkan aku, Angga. Seperti apa yang kau lihat sekarang, itu adalah suatu mantra terkuat di dunia yang dijuluki sebagai logo lingkaran bintang iblis. Dan silauan cahaya merah ini yang menyorot tertuju padamu akan sanggup menyerap energi aura Indigo-mu. Dan kau, selamanya pun tak akan pernah bisa lagi memiliki kelebihanmu itu, huahahahaha !...
Angga langsung melempar buku tebal hitam tersebut hingga tepatnya masuk ke dalam peti perak. Kedua mata Angga mencuat sempurna dengan bersama ekspresi raut wajah yang tidak bisa ditebak. Napasnya seketika terputus-putus mengingat kembali tentang mimpi buruk fatal itu yang sempat dirinya buang.
“Gak mungkin! Ini pasti ada yang lain, bukan karena hubungan tentang mimpi buruk gue waktu itu.”
Ketika detak jantungnya berdegup tak karuan, bola mata Angga tidak sengaja melihat keanehan dibalik gorden putih tersebut yang ada di pojok loteng tepatnya berada di depannya meski berjarak 2 meter. Seperti ada seseorang di belakang gorden itu. Angga mulai kembali beranjak berdiri sambil menenteng lenteranya yang apinya masih setia menyala untuk dirinya.
Angga melangkahkan kakinya perlahan dengan hati-hati saat menguatkan nyalinya tetap menghampiri tirai tersebut. Usai berhenti berlangkah, tangan kanan lelaki tampan tersebut menyibak gorden itu dengan kencang untuk membukanya dan mengetahui siapa yang berada di belakang atau dibalik gorden putih dalam loteng gelap nan angker ini.
Angga menyentuh jendela kaca lebar loteng yang tepatnya memang ada di belakang tirai yang sudah ia singkap, terlihat di luar sana langit begitu berwarna kelabu beserta disertai angin kencang yang menerpa banyaknya dedaunan pohon. Walau sebetulnya yang Angga rasakan sekarang, langit itu bukanlah langit nang sebentar lagi akan turun hujan yang mengguyur deras kota Bandung tetapi seperti akan ada bencana sesuatu.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Semua yang ada di kamar no 002, menatap sendu wajah Reyhan yang pucat tersebut. Mereka tidak tahu kapan pemuda ini kembali sadarkan diri walau Aji adalah seorang peramal orang lain yang hebat dan selalu tepat serta benar.
“Rivaldi, bukannya kamu cowok yang pinter banget ramal orang kayak Dukun?” tanya Rena.
“Pake nama depan aja, dong!” protes Aji.
“Terserah aku, dong mau panggil kamu apaan! Aku panggil kamu Ajinomoto kamu juga jangan ambil protes!”
“Lah? Ngapain protes, itu kan asli julukanku yang dulu dibuat sama Kampret Reyhan dan kalian malah justru terjerumus ikut ke sesatnya Reyhan untuk ngatain aku bumbu micin masakan dapur!” sebal Aji sampai bersedekap di dada.
“Kasihan loh si Aji, masa nama orang diganti nama bungkusan bumbu masako? Untung saja aku gak ikut-ikutan ngatain Aji dengan julukan seperti itu.”
“Ya gak mungkin dong, Cantik. Kamu kan selalu dicegah Angga untuk gak terpengaruh watak sesatnya si Reyhan. Kamu tuh selalu dijaga sama pacar gantengmu itu, jadi untuk terjerumus ... sungguh impossible.”
Jevran nyengir lagi. “Katanya gak bisa ngomong bahasa bule? Lah itu nyatanya bisa!”
Aji menatap tajam Jevran dengan mendengus. “Sudah gue bilangin! Gue tuh bisanya hanya satu kata doang, kalau satu kalimat ya Wasalam jadinya.”
“Hahahaha!” Tawa Lala membuat Aji menekuk mukanya seketika dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
Jevran mengeluarkan cengengesannya dengan menggelengkan kepalanya lalu balik badan ke belakang untuk keluar dari kamar tetangganya dan memasangkan bingkai foto yang sedang ia pegang ke tempat asalnya. Setelah memajangnya, lelaki tersebut memandang lukisan wanita cantik sang putri negara Prancis itu.
“Hantu yang Angga sebutkan, memangnya seperti ini? Walau ciri-ciri khasnya cocok tetapi mana mungkin hantu itu adalah lukisan menawan seperti ini?” Jevran melangkah pergi mengacuhkan bingkai foto lukisan kuno tersebut dan balik masuk ke dalam kamarnya Reyhan.
Beberapa detik setelah Jevran masuk ke dalam kamar Reyhan, wanita lukisan kuno itu yang ada di dalam bingkai foto perlahan menghilang secara misterius dan hanya menyisakan latar belakangnya saja yang berupa pandangan nang memukau.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Angga melepaskan telapak tangannya dari jendela kaca lebar tersebut usai menatap kelabu sang langit. Hingga saat memundurkan langkahnya, tengkuk milik dirinya seperti sedang ditiup oleh seseorang dari belakang. Dan di sinilah, Angga merasakan keberadaan aura negatif dalam loteng villa Ghosmara.
Angga segera memutar tubuhnya ke belakang dengan mata sorot tajamnya. Tidak ada siapapun di belakangnya, namun Angga yakin sebenarnya ada walau yang mengerjainya tadi makhluk astral. Lentera yang tengah dirinya jinjing, tiba-tiba cahaya apinya mati dengan sendirinya. Tidak mungkin karena tertiup angin dikarenakan cahaya dari bahan bakar tersebut telah dilindungi kaca transparan di bagian lentera.
Angga nampak biasa saja menatap matinya api dalam lenteranya. Energi jahat dan hitam dalam sini semakin kuat hingga membuat seakan-akan Angga sulit meninggalkan loteng gelap ini. Lelaki tampan itu tetap tenang lalu memejamkan matanya.
Ketika menutup matanya tanpa menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya, dapat Angga dengar suara tawa arwah wanita yang seolah sedang mengitari raganya dari atas posisi melayang. Angga meneguk salivanya bukan karena ketakutan melainkan mempersiapkan diri kalau nanti ia diserang habis-habisan oleh hantu wanita tersebut yang masih menertawakan nyaring padanya.
Dari atas tubuh Angga, makhluk bermuka pucat pasi nan menyeramkan tersebut mencium aroma aura berbeda yang jelasnya akan bentrok bila dirinya berhadapan dengan pemilik energi positif itu. Hingga akhirnya hantu aura negatif itu turun menapak di lantai tepat pada hadapannya manusia Indigo tersebut yang sedang sibuk pejamkan mata.
“Aku mencium aura spektakuler di sini. Rupanya kau adalah lelaki Indigo, sang pemilik indera keenam yang tidak mudah ditaklukkan serta tak ada yang mampu menandinginya. Wahai tampan, apakah kau takut denganku? Hingga kau sendiri menutup matamu?”
Angga membuka matanya lalu mulai menatap tajam arwah wanita sang hantu penjebak Reyhan. “Jangan lo kira gue takut dengan aura sekalipun rupa lo! Siapa lo sebenarnya? Mengapa elo menjebak sahabat gue?!”
Wanita hantu Prancis bergaun dengan dicampur banyaknya bercak-bercak darah itu, mengangkat tangannya lalu melainkan kuku-kuku cantik panjangnya bersama wajah angkuhnya. “Aku ... disuruh oleh seseorang, sih.”
“Katakan. Siapa yang telah menyuruh lo untuk berbuat semacam itu?!”
Arwah wanita itu mendongakkan kepalanya ke manusia Indigo tersebut yang sama sekali tidak takut kepadanya. Sungguh hebat, padahal energi negatifnya begitu kuat serta dahsyat. “Kau tidak perlu mengetahui siapa yang menyuruh diriku. Lagipula villa Ghosmara ini tempat persinggahanku, dan kalian semua sudah mengusik kawasan milikku!”
Pyar !
Arwah wanita pucat bergaun krem itu sengaja menghempaskan tangan kirinya untuk melemparkan lentera Angga jauh dari lelaki tersebut berdiri. Lemparan kencang hingga mendarat di lantai, membuat lentera milik Angga pecah dan Angga cuma menatapnya nanar.
Sebenarnya Angga tidak ingin juga menempati villa Ghosmara yang telah ia terawang bahwa tempat ini tidak aman untuk disinggahi karena adanya hantu wanita pemilik energi negatif tersebut, jika dilenyapkan kemungkinan bangunan villa ini akan terasa menjadi baik-baik saja tanpa ancaman nyawa.
Dengan kasar secara menggunakan kekuatan gaib, wanita arwah itu mengangkat tubuh Angga hingga mengambang di atas udara lalu menambahkan sihirnya dengan mencekik leher Angga. Kedua mata mengerikan hantu tersebut tak terpengaruh sedikitpun ke Angga untuk melemahkan tenaganya.
“Kau ... manusia Indigo, dan kau Indigo terbodoh yang paling aku temui! Harusnya kau mengetahui dari sejak awal jika semuanya terasa akan berantakan bila kau dan lainnya menginjak hutan kota ini ... apakah kau merasa kalau dirimu bodoh?”
Angga tidak bodoh. Tetapi ada seseorang atau apa yang bermain curang dengannya hingga dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi. Selama ini, auranya ditutup membuat Angga tak bisa berbuat apa-apa untuk menerawang sekalipun menerawang sangat jauh seperti ke masa yang akan datang. Mungkin ini adalah kelemahan kedua milik dirinya selain mengalami mimpi buruk, yaitu aura yang dibatasi.
Siapa dalangnya yang telah menutup batin aura Angga?
“Kau diam saja? Tidak mau menjawab? Itu artinya kau kalah denganku!” Hantu wanita itu membuat tubuh Angga terpelanting kencang dan jauh hingga berakhir membentur tembok hitam di belakangnya.
“Uhuk! Uhuk!”
Angga sedikit mengumpat amarah dengan memegang dadanya yang terasa sakit secara tiba-tiba. Namun kedua matanya masih saja menatap tajam bersama jiwa beraninya terhadap makhluk astral pembawa sialan tersebut.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Keenam remaja yang masih setia di dalam kamar Reyhan, spontan menarik wajah sempurnanya ke arah atas dinding setelah mendengar suara kegaduhan di loteng. Bahkan ada suara benturan-benturan secara berulang-ulang di atas sana, sementara musik lantunan piano tersebut telah berhenti.
“Kok di loteng berisik banget? Ada apa, ya?” Seketika Freya membulatkan matanya.
“Eh! Angga kan masih ada di atas loteng pasti! Jangan-jangan dia dalam bahaya?!”
Freya langsung beranjak dari tempat duduknya lalu berlari mendatangi kekasihnya dengan gurat cemasnya, membuat otomatis si Jova menatap sahabat lugunya. “Freya! Kamu mau kemana?! Kan Angga bilangnya tetap di dalem kamar Reyhan!
Freya tidak menggubris teriakannya Jova dari dalam kamar sahabat Friendly-nya, hal itu membuat Jova menggelengkan kepalanya dengan menghela napasnya panjang. Begitulah kalau Freya sedang panik.
“Haduh ... itu anak kalau dibilangin suka ngeyel banget, entar kalau dimarahin Angga gue harus ngapain, coba?”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Baru saja menginjak masuk ke kamar kekasihnya karena suara kegaduhan paling dekat di daerah kamar pertama, kedua mata gadis cantik itu terbelalak dengan mulut menganga lebar melihat Angga terguling-guling jatuh ke bawah tangga hingga tubuhnya mendarat sudah di lantai.
“Ngga!!!”
Freya berlari kencang menghampiri lelakinya yang kini posisi raganya terlentang. Gadis cantik itu duduk berlutut di atas kepala Angga, menatap kekasihnya tersebut matanya terpejam membuat Freya panik lalu menyentuh lembut salah satu pipi Angga.
Tidak, sepertinya lelaki tangguh itu keadaannya baik-baik saja dikarenakan dirinya membuka matanya setelah pipinya disentuh lembut oleh seseorang. Dan Kontak mata Angga langsung bertemu pada Freya yang terbalik usai kedua matanya ia buka perlahan.
“Freya?!”
“Ngga! Kamu gak kenapa-napa?! Kirain pingsan!” Freya langsung merangkak ke samping Angga lalu kedua tangannya mulai mengangkat badan kekasihnya untuk membantu bangun dalam posisi duduk.
Rambut pujaan hatinya yang keadaannya berantakan tidak karuan, menoleh ke arah Freya dengan senyum bibir nyengir. “Aku gak kenapa-napa, kok.”
“Bohong! Kamu aja barusan jatuh dari tangga. Bagaimana bisa enggak kenapa-napa?!” Lihatlah, saking paniknya belum terlewatkan sampai sekarang, kekasihnya Angga sampai tidak mempercayainya bahwa dirinya baik-baik saja.
“Jatuh dari tangga gak seberapa bagiku, percaya sama aku. Kamu ngapain ke sini? Kan aku sudah bilang tetap di dalam kamar Reyhan, kenapa melanggar?”
Freya mengerucutkan bibirnya dengan menatap sebal Angga yang bertanya seperti itu. “Aku gak akan mungkin pergi ke sini kalau aku gak mendengar suara kebisingan atas loteng. Kan aku jadi khawatir kamu ada apa di sana, niatnya mau nyusul eh malah sudah lihat kamu duluan yang jatuh dari atas tangga.”
“Aku sudah memperingati kamu untuk hati-hati, eh malah kayak gini,” protes Freya.
“Bagaimana mau hati-hati? Sedangkan aku saja di atas loteng diserang oleh hantu wanita itu. Sebetulnya aku mau kembali turun tetapi akibat kedatangan makhluk astral itu membuat ragaku tertahan di dalam loteng yang berisi energi negatif.”
“Oke, yang tahu hanya kamu. Tapi kepalamu aman kan, Ngga? Gak terbentur lagi, kan? Kalau iya ngomong saja sama aku. Jangan menipu.”
Angga menghela napasnya di setiap rentetan ucapan nada panik kekasihnya. Ya, mau bagaimana lagi? Freya sangat takut kehilangan sosok dirinya. “Enggak sama sekali ... cuma punggung doang.”
Tiba-tiba ada suatu angin menerpa wajah dan rambut hitam Angga hingga tertiup, rupanya setelah Angga mendongakkan kepalanya ke atas loteng wanita arwah pemilik energi serta aura negatif tersebut sedang berdiri di atas tangga bersama senyuman menyeringai membuat Freya yang ikut menatap, terkejut setengah mati.
Gadis tersebut langsung melingkarkan tangan kanannya di leher Angga dari belakang lalu menelungkupkan wajah cantik ketakutannya di punggung kokoh milik kekasihnya. “Huhu! Angga, itu siapa?! Arwah yang tadi menyerang kamu di atas loteng, ya?! Serem banget! Aku takut!!”
Rahang Angga mengeras dengan tatapan sorot mata tajamnya terus tertuju pada hantu wanita tersebut yang masih menyeringai, hingga pintu berupa tangga itu terangkat sendirinya untuk menutup ruangan gelap mencekam itu membuat dirinya tidak bisa melihat makhluk gaib Prancis tersebut walau dalam mata batin masih Angga sanggup rasakan, sosok itu masih setia di dalam loteng.
Relung hati Angga sedang bertanya-tanya bersama kepala yang dipenuhi banyak tanda tanya tentang siapa yang telah menyuruh hantu wanita bergaun tersebut. Tentu pasti ada seseorang yang pintar menggunakan sihir ilmu hitam. Dan terus terang saja, Angga ingin menggali informasi siapa dalangnya yang telah menutup batin auranya selama ini.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1