
Hari berikutnya tepat di suasana sore, Freya berjalan secara sorang melewati para rumah warga komplek Permata. Kepalanya menunduk ke bawah, sementara kedua tangannya saling memegang bagian tas ransel putihnya.
“Haaaaaaaa! Sudah Angga Koma dan belum ada perkembangan! Kemarin ditambah Reyhan divonis Kritis lagi setelah mengalami kecelakaan! Kenapa, sih di dunia ini mereka berdua selalu saja mendapatkan musibah yang enggak-enggak?!” rutuk Freya dengan mengangkat wajahnya ke atas langit senja bersama mata yang ia pejamkan sengaja.
Setelah sampai di rumahnya dengan perasaan yang tak karuan, gadis Nirmala itu membuka pintu utama seraya mengucapkan salam walau tak ada satupun orangtuanya yang menyahut. Dirinya menutup pintu dari dalam lalu melangkah memasuki ruangan keluarga yang luas tersebut.
“Biasanya kalau aku sudah pulang, Meiko dateng buat nyambut aku. Tapi, kok tumben kucingku gak- lagi tidur kali, ya? Ih! Dia mana pernah mau bobok sore-sore gini?” gumam Freya.
“Meiko! Meiko!”
Freya terus memanggil nama kucing Persia putihnya sampai ia harus membungkukkan badannya untuk melihat keberadaan Meiko jikalau sedang bersantai dibawah kolong meja makan.
Gadis itu berakhir menghempaskan napasnya sebal setelah berkeliling mencari kucing kesayangannya dari kecil, yang nyatanya tak juga ia temukan. Sampai datanglah Rani nang selesai membereskan kamar tidurnya dan kini sedang menuruni undakan anak tangga.
“Kenapa, Sayang? Kok, pulang-pulang udah kesal seperti itu?”
Suara lemah lembut dari ibunya, membuat Freya berlari menghampiri Rani dengan wajah khawatirnya. “Mama! Meiko dimana?! Udah Freya cari-cari sampe pelosok rumah tapi gak ada. Lagi di atas?”
“Meiko ...”
Freya menganggukkan kepalanya dengan menatap intens wajah Rani yang terlihat kebingungan harus menjawab apa tentang keberadaan hewan peliharaannya.
“Dimana, Ma? Kok, diem??” tanya Freya yang tak sabar menunggu respon berikutnya dari sang ibu.
Rani menghela napasnya dengan berat lalu menyentuh halus kedua pundak anak putrinya. “Freya ... jangan nangis, ya? Meiko sudah gak ada lagi di rumah sini.”
Freya membulatkan matanya sempurna dengan muka tampang terperangah. “Lho! Kenapa, Ma? Mama kasih Meiko ke orang lain?!”
__ADS_1
“Enggak, Sayang. Mama gak mungkin memberikan kucingmu ke orang lain, Meiko sudah nggak ada lagi di rumah kita karena ... Meiko mati.”
“HAH?!? MEIKO MATI??!!” Sungguh tak diduga oleh Freya bahwa kucingnya yang selalu ia berikan hati dengan penuh kasih sayang hingga dewasa, kini telah mati entah apa penyebabnya.
“Kenapa bisa mati sih, Ma?! Kan, Freya sayang banget sama Meiko! Itu kucing Freya satu-satunya lho, Ma!!”
“Tadi pagi Meiko sempet nyelonong keluar dari pintu rumah, kebetulan pas dia keluar ada tikus lewat. Dikejar deh lalu di makan sama kucingmu, tahu-tahu habis itu Meiko muntah darah lalu mati di pekarangan rumah kita. Gak apa-apa ya, Freya? Kita bisa cari penggantinya, kok.”
“Huwaaaa! Gak mau! Gak mau! Itu kucing kesayangannya Freya dari sejak kecil, Mama! Gak bisa diganti-ganti!” isak Freya dengan memukul-mukul lemas badan Rani.
“Kalau Meiko sudah nggak ada, lalu kita mau bagaimana lagi? Menghidupkan nyawa Meiko kembali? Kan gak mungkin, Sayang. Tolong Ikhlaskan, ya? Suatu saat nanti kita pasti mendapatkan penggantinya. Dah, jangan nangis ...”
“Udah hati Freya hancur, sekarang makin tambah hancur! Dunia terlalu jahat untuk Freya!!!” Teriakan Freya yang bernada marah dengan tangisan derasnya, ditanggapi oleh ibunya segera secara memeluk tubuh mungil miliknya.
“Jangan bilang seperti itu, Nak. Ini memang sudah takdir. Kamu yang sabar ya, Sayang?”
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Banyak dari masyarakat warga negara Indonesia berhati merdeka setelah mengetahui bahwa sang pelaku yang dulu telah nyaris merenggut nyawa Angga yaitu bernama Gerald Avaran Dedaka, tewas akibat dari kecelakaan maut di kota Jakarta kemarin pada pukul 17.00 petang.
Tentu sang peng-evakuasi, tahu bahwa korban dari ledakan mobil dahsyat itu adalah Gerald setelah menemukan sebuah kartu KTP yang hampir hancur tak terbentuk. Kejadian itu juga sempat viral kembali di berita usai dijabarkan oleh pembawa acara televisi.
Dan kini di salah satu ruang ICU dalam bangunan RS Paviliun Wijaya, Reyhan tengah terbaring lemah di atas ranjang pasien bersama beberapa peralatan medis yang melekat di tubuhnya untuk menunjang hidupnya dimana kondisinya masih terbilang Kritis.
Reyhan hanya sendiri di sana, tanpa ada satu orangpun yang menemani apalagi menjaganya. Telah 3 hari mata pemuda itu terpejam tenang bersama alat bantu pernapasannya.
Hingga kemudian, terbukalah pintu dan menampilkan dua seorang lelaki yang memiliki gaya warna semir rambut antara merah serta ungu. Mereka adalah merupakan teman sekaligus anak buahnya Gerald, siapa lagi kalau bukan Rain dan Teivel?
__ADS_1
Tanpa memakai baju hijau penjenguk pasien yang dirawat intensif dengan sesuai prosedur, mereka menyelonong masuk begitu saja bersama tampang muka lebih dari setan, iblis.
Usai berada di tepat samping kirinya Reyhan, Teivel menyenggol-nyenggol lengan tangan Rain. “Ayo, cepetan! Keburu nanti ada yang masuk!”
“Sabar, kali!” calak Rain lalu merogoh benda sesuatu di kantong celana panjangnya.
Rain mengeluarkan sebuah spuit suntikan lalu dirinya menerima botol kaca cairan hitam yang sudah disodorkan oleh Teivel. Sang cairan yang mengandung zat Kimia mematikan itu segera ia surutkan pakai suntikan tersebut sebelum menancapkan dan menyuntikkan ujung jarum ke bagian kantong infus Reyhan.
“Kami jelas gak terima Gerald pergi karena lo. Jadi, dengan cairan item ini akan membuat diri lo kejang hingga berujung mati secara epic.”
Rain tertawa setelah mendengar ucapan Teivel yang di belakang tubuhnya. Dan kini dirinya mulai beraksi menyuntikkan kantong infus tersebut dengan menggunakan spuit yang telah berisi cairan zat Kimia pengancam jiwa.
Bats !
Tubuh Rain mematung saat tangannya yang beraktivitas, ditahan kuat oleh seseorang. Perlahan dengan detak jantung yang berdebar, Rain mengarahkan pandangannya ke orang nang telah mencekalnya.
“Lo, gak tepat waktu.”
“E-elo .. udah sadar?!” kejut Teivel karena sama sekali tidak menyangka bila hal itu terjadi.
Dalam masker oksigen yang masih terpasang di bagian wajah pucat nan tampannya, bibir Reyhan tersenyum miring dengan kedua mata yang telah terbuka walau sayu.
“Menurut lo? Dan elo pengen bunuh gue dengan suntikan cairan ini secara epic, kan? Apakah kalian mengira kalau gue masih Kritis? Dasar Bodoh.”
INDIGO To Be Continued ›››
•••
__ADS_1
Siapa yang di antara Readers ku mau pergi untuk Ziarah ke pemakamannya Gerald? 😂