Indigo

Indigo
Chapter 194 | Ever Met


__ADS_3

Setelah tiba di depan rumah, Reyhan segera turun dari motornya usai memarkirkannya di samping teras. Sementara Arseno malah melesat hilang entah untuk pergi ke lokasi mana lagi. Pemuda Friendly itu, kini memegang handle gagang pintu aluminium rumahnya dan membukanya perlahan.


“Assalamualaikum, Reyhan pulang.”


Usai mengucapkan salam di dalam rumah, ia menutup rapat pintunya dan di situ langsung datanglah ibunya yang tersenyum bahagia sembari melangkah untuk menghampirinya.


“Reyhan! Sudah pulang ya, Nak? Bagaimana aktivitasnya di sekolah tadi?” tanya Jihan.


Reyhan memutar tubuhnya untuk menghadap ke raga Jihan yang menanyainya usai menyambutnya dengan tulus. “Lancar-lancar saja kok, Ma.”


“Lho?! Bentar! Ini?! Astaghfirullah, ada apa dengan mukamu, Rey?! Kenapa di hampir seluruh wajahmu memar begini! Ayo, jelaskan ke Mama sekarang!” panik Jihan dengan menyentuh pipi putranya.


“Em ... tadi-”


“Ck! Ayo sini ikut Mama! Mama harus cepat mengobati memar dan lebam yang ada di wajahmu. Apalagi di sudut bibir kamu luka, nanti kalau gak segera disembuhkan pakai obat, bisa terkena infeksi.”


Jihan memotong jawaban Reyhan yang belum selesai dengan menarik tangan anak lelakinya untuk membawanya ke ruang keluarga. Setelah berada di ruangan tersebut yang terdapat televisi digital, Reyhan diminta duduk di atas sofa oleh sang ibu.


“Sudah, jangan kemana-mana dahulu! Jalanmu sampai pincang gitu. Mama ke dapur dulu buat ambilkan kompres dingin ke sini, kamu senderan saja sambil istirahat, oke?”


“Oke, Mama ...” pasrah Reyhan.


Reyhan mulai menyandarkan lemas punggungnya yang jujur saja terasa sakit pegal, matanya juga ia pejamkan karena kepalanya masih amat pusing usai ditendang habis-habisan oleh dua berandalan itu.


“Sini, Mama kompres dulu memar wajahmu.” Jihan yang telah tiba dari ruang dapur dan menyeletuk tiba-tiba, membuat Reyhan terkaget dengan spontan membuka matanya.


Lelaki itu kemudian membenarkan posisinya dengan cara agak menegakkan badannya yang lumayan remuk karena usai digebuk serta ditendang oleh mereka. Jihan kini mendesis saat menatap beberapa luka lebam yang ada di bagian mukanya.


“Haduh, Nak ... ini yang kenapa, toh? Kok muka kamu bisa menjadi kayak gini. Mending kamu sekarang ceritakan saja, deh kronologi kejadiannya bagaimana. Sambil Mama kompres luka lebam-mu yang sudah mirip kena babak belur.”


“Memang habis kena babak belur. Tadi di perjalanan pas sudah pulang sekolah, Reyhan sempat lihat kemacetan jalan raya di depan mangkanya anaknya Mama belok ke jalan Jiaulingga Mawar. Tahu, kan jalan pintas yang sering rawan kecelakaan itu, Ma?”


Jihan mengangguk kepala dengan tangan sibuk mengompres luka lebam wajah tampan Reyhan. “Iya. Mama tahu, kok. Terus?”


“Di sana motor Reyhan dicegat sama duo preman yang tampangnya sangar tapi modelnya kayak orang dagelan. Mereka sempet ingin palak uang sakunya Reyhan ... dan soal muka ini yang burik, karena Reyhan ngelawan pembicaraan mereka yang sok keren.”


Kening Jihan mengkerut. “Burik itu apa sih, Rey? Buruk?”


“Nah, itu maksudnya. Biasa, omongan anak gaul ya contohnya kayak tadi, Ma.” Reyhan merespon dengan menutup matanya akibat kepala yang masih saja rasa peningnya belum menghilang.


“Kamu ini ada-ada saja,” ucap Jihan sambil menggelengkan kepalanya dengan memberikan sunggingan senyum pada anaknya.


“Tapi, kenapa kamu lawan pembicaraannya mereka? Sudah tahu kalau preman itu bahaya buat keamanan kamu,” tambahnya.


“Habisnya ngeselin! Sok gaya. Mana pake acara ngancem-ngancem mau bunuh Reyhan, lagi! Hampir aja anak kesayangannya Mama ini mati karena digebuk brutal abis-abisan.”


“Hah? Kamu serius, Nak?!” gegau Jihan dengan menatap Reyhan.


Pemuda berambut cokelat seperti kedua orangtuanya, mendengus. “Ya serius lah, Ma! Masa Reyhan ngarang cerita? Niat mau menghindar jangka waktu panjang dari macet jalan kota, eh malah ketiban tower. Jadi korban! Lagian kalau Reyhan cuman pasrah dan membiarkan takdir berjalan, anak jantan-mu namanya pengecut.”


“Lailahaillah, lalu preman yang mencegah jalanmu di sana jadinya bagaimana? Semua uangmu dirampas oleh mereka?” tanya Jihan rada cemas.


“Enggak. Mama tenang saja, uang Reyhan yang di kantong saku masih selamat, kok. Orang Reyhan habis itu langsung berancang melarikan diri. Jadinya misi mereka buat rebut duit Reyhan, gagal. Kalau dua preman sekaligus dagelan itu berhasil memalak uangnya Reyhan, otomatis anakmu sudah di dimensi lain, Ma.”


“Heh! Kalau ngomong, ih!” Jihan yang terkejut sekaligus sebal dengan pengucapan panjang lebar anak lelaki semata wayangnya, langsung memukul keras bahu kanan Reyhan.


“Aduh! Kok bahunya Reyhan dipukul sih, Ma?! Sakit! Orang habis dihajar, eh malah ditambah sama Mama! Gak sayang, nih?” komplainnya.


“Mangkanya kalau gak mau dipukul, mulutnya dijaga! Untung saja kamu langsung kabur dari preman-preman, kalau enggak? Mama sama papa bakal kehilangan anak yang paling ganteng di keluarga ini!” gemas Jihan sembari menekankan kapas bersihnya di bibir Reyhan.


Masa dipukul begitu saja, sudah lembek ?


Reyhan menggertak giginya kuat dengan hati sebal pada salah satu sumber suara lelaki yang menghinanya, siapa lagi kalau tidak Arseno? Manusia yang posisinya sedang diobati oleh wanita paruh baya tersebut yakni ibunya, menolehkan kepalanya kencang ke arah sosok hantu yang tengah entengnya duduk di atas tangga sambil mengayunkan kedua kakinya.


Reyhan memberi tatapan tajamnya bak belati, sementara Arseno mulai meledeknya dengan mata juling serta lidah yang menjulur keluar. Setelah itu, arwah tersebut tertawa terbahak-bahak lalu kembali melesat pergi hilang dalam sekejap mata dengan menyisakan debu berwarna putih.


“Mumpung hari ini ada malem Jumat, awas saja! Gue smackdown, lo nanti!” umpat Reyhan tanpa menyadari atau lupa bila sang ibu masih berada di sampingnya.


Jihan melongo dengan mengerjapkan matanya. “Nak? Kamu lagi bicara sama siapa? Kok, kesel gitu? Padahal di daerah atas tangga sana nggak ada siapa-siapa, lho.”


Reyhan sontak cepat menoleh ke arah Jihan dengan mata membulat. “Eh ...! Enggak! Reyhan gak bicara sama siapa-siapa kok, Ma. Tadi barusan Reyhan cuman lagi jengkel sama para preman itu!”


“Oalah. Kirain tadi habis marah sama setan,” jawab Jihan lalu kembali menepuk-nepuk kapas di salah satu sudut bibirnya Reyhan yang berdarah.


‘Emang tadi abis marah sama setan, Ma. Anjir, Goblok! Ini mulut kenapa pake keceplosan segala, sih?! Untung aja nyokap percaya sama gue.’


“Oh iya, Reyhan. Besok hari Minggu ada acara besar-besaran di rumahnya bibi Diana dan paman Oktar, kamu harus ikut ke sana, ya? Masih kuat, kan?”


“Beres kalau itu, Ma. Acaranya hari Minggu, kan? Berarti Reyhan bisa istirahat sampai hari Sabtu. Paling Minggunya udah sembuh, kok.”


“Sip, deh! Dania pasti seneng banget jika kakak sepupunya besok hadir ke rumahnya. Dania sudah kangen banget sama kamu, udah lama juga gak ketemu,” oceh Jihan.


Reyhan tersenyum simpel. “Reyhan juga sama kangen Dania, Ma. Pasti kalau sudah berjumpa, dia langsung meluk saking kesenangan ada Reyhan besok di sana.”


Jihan tertawa pelan dengan tetap fokus mengobati seluruh luka yang ada di bagian wajah kulit putih bersih tampannya sang buah hati. Sementara Reyhan mulai kembali memejamkan matanya seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa untuk menetralisir pusing dari kepala.

__ADS_1


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Hari Minggu yang telah tiba dengan dipadukan langit pagi yang cerah karena sinar mentari matahari. Di dalam rumah sang adik sepupu perempuan, Reyhan merasa bosan dikarenakan Dania yang ia rindukan belum kunjung kembali hanya karena ikut ke supermarket bersama Diana, ibundanya.


Reyhan yang sedang duduk di kursi sofa single, mulai beranjak akan pergi. “Paman, Reyhan izin keluar sebentar, ya?”


“Mau kemana, Rey?” tanya pamannya yang bernama Oktar, beliau juga nampak tengah sibuk sesuatu di hadapan meja.


“Ke taman komplek, Pam sekalian nyari udara seger. Nanti kalau si Dania sudah pulang terus tanya Reyhan dimana, bilang saja lagi di taman. Kalau memang mau nyusul, juga boleh. Duluan ya, Paman?”


Oktar yang tahu seperti apa hati keponakannya hari ini, menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. “Iya. Biar nanti Paman ngomong ke Dania terus suruh dia nyamperin kamu ke taman, hati-hati.”


“Ya, Paman.”


Reyhan menghela napasnya lalu balik badan untuk keluar rumah, sementara kedua orangtuanya sedang berada di teras dengan sibuk mengobrol ramah bersama lainnya yang ada di sana.


“Abang! Mau kemana?!”


Reyhan mendengus lalu menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap adik sepupu laki-lakinya yang masih berumur 8 tahun alias duduk di bangku kelas III SD. “Apaan? Teriak-teriak kayak monyet!”


“Sembarangan! Mau kemana sih, Bang?! Masih pagi gini, juga. Nyari doi?” tanyanya dengan asal ceplas-ceplos.


“Ye, ngawur!” kesal Reyhan sambil menjitak kepala adik sepupunya yang menggenggam ponsel kesayangannya.


“Habisnya jam segini udah mau keluar aja! Gak usah jitak juga kali, Bang! Entar aku aduin ke maknya Abang, kapok!” protes dirinya.


“Hu! Dasar cowok mulut cewek! Apa-apa sukanya ngadu sana-sini. Abang mau ke taman komplek, napa? Mau ikut?”


“Haaaah?? Taman komplek? Idih, mana sudi aku ikut Bang Reyhan ke sana?! Ogah, ah! Sana tempat mainnya bocil, mending nge-game.”


“Elu juga bocil, Anying!”


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Lelaki yang memiliki tinggi badan 180 sentimeter itu tengah bersantai menikmati semilir angin yang meniup wajah tampannya dan rambutnya dengan sesekali menghembuskan napasnya untuk membuang segala keresahan yang ada di hatinya. Duduk di kursi taman komplek memang cukup baginya untuk menenangkan diri di sini, meski di sebelah sana terdapat banyaknya anak kecil yang bermain ria.


Reyhan memang sangat membenci Gerald, tetapi bukan berarti langsung menyimpan dendam di hati. Lagipula, apa gunanya main dendam kepada orang lain? Yang ada malah mengotori seluruh kalbu serta otaknya. Ia juga yang mendapatkan Dosa besar.


Kalau bukan mula dari kehadiran Emlano untuk menjadi teman akrabnya Gerald, nasib dan takdir itu tidak akan ada bahkan terjadi. Tetapi kalau sudah begini, mau bagaimana lagi? Mungkin dulu Reyhan mampu mengubah takdir diri Angga waktu akan mengalami kecelakaan besar di jalan raya, tetapi kalau ini telah sangat mustahil bila mengubahnya. Merubah apanya? Semuanya sudah terlambat.


Jujur saja, rasanya jika bertemu pelaku yang membuat raga Angga terbaring Koma, Reyhan ingin menggunakan serangan kuatnya untuk memberi pelajaran pada Gerald. Namun sepertinya tak ada untungnya bila ia benar-benar melakukannya.


Reyhan perlahan membuka matanya dengan langsung disuguhi langit terang dan sinar matahari yang menyinari seluruh dunia. Lagi-lagi ia menghembuskan napasnya dengan lemah, hari ia saja masih terasa hancur dan hampa. Kapan semua itu akan berakhir dengan secara transenden?


“Dania Anggita Sabrina, ya?” tebak Reyhan usai tercengang pada perilakunya yang tiba-tiba dari arah belakang kursi taman nang diduduki pemuda itu.


“Yey, Kak Rey dapet nilai seratus!” gembira seorang gadis kecil berusia 7 tahun yakni adalah Dania.


Dania yang masih berdiri di tepat belakang kakak sepupu lelakinya, membebaskan pandangan mata Reyhan yang sempat gelap karena ia tutupi oleh kedua telapak tangannya. Sesudah itu, Dania melangkah dan duduk di sebelahnya Reyhan.


“Dania kangen banget sama Kak Rey! Udah lama jarang gak ketemu Kakak!” pekik Dania dengan mendekap erat tubuh Reyhan dari samping bersama senyuman lebarnya.


“Hehe, Kakak juga kangen banget sama Dania,” respon Reyhan dengan membalas pelukan erat adik kecil sepupu perempuannya.


Dania tertawa kecil dengan masih memeluk tubuh Reyhan yang telah dirinya anggap sebagai kakak kandungnya. Ya, inilah salah satu gadis kecil itu mampu melupakan dan mengikhlaskan kepergian sang kakak lelaki yang meninggal satu tahun lalu. Terlebih Reyhan lah nang sanggup menghangatkan dan menyamankan hatinya hingga saat ini.


Tung tung tung !


Gadis kecil yang memiliki mata bulat dengan muka menggemaskan nan pipi tembam, memalingkan pandangannya dari kedua mata menawan Reyhan usai mendengar suara kentongan di arah depan. Dania seketika melebarkan matanya dengan berbinar saat melihat ada seorang pedagang es krim dung-dung bersama gerobaknya.


“Kakak! Ada yang jualan es krim dung-dung! Dania mau beli ...!” riangnya sambil menarik-narik tangan kanan Reyhan setelah mengurai pelukan.


“Iya-iya! heboh banget kalau sudah lihat es krim di depan mata,” jawab Reyhan dengan terkekeh geli.


“Dania mau beli es krimnya? Bawa uang, gak?” ulas Reyhan untuk bertanya kepada adik sepupunya yang bibirnya masih tersenyum lebar dengan menatap tempat es krim berada.


Dania menutup mulutnya cepat dengan satu telapak tangannya. “Ups! Lupa, Kak. Eum .. Dania pulang ke rumah dulu, deh buat ambil uangnya.”


Gadis kecil itu yang hendak pergi meninggalkan Reyhan untuk mengambil uang di rumah, lelaki itu langsung mencekal pelan lengan mulus Dania. “Gak usah, jauh nanti kamu capek. Pakai uangnya Kakak saja, Kakak bawa dompet.”


“Wah, dompet?! Isinya uang, Kak?!”


“Hehe, iyalah. Masa dompetnya, Kakak isi pakai kartu poker? Kurang kerjaan, dong berarti. Nih, terserah Dania mau beli berapa. Segini uangnya, cukup?” ucap Reyhan seraya menyerahkan selembar uang kertas berwarna ungu.


“Cukup, Kak! Makasih, hehehe! Dania beli dulu, ya? Entar kalau misalnya uangnya ada kembalian, Dania belikan satu buat Kak Rey,” ungkap Dania sambil menerima uang yang diberikan oleh Reyhan.


“Wih, baik hati banget! Anaknya siapa, sih ini?! Manis banget sifatnya sama Kakak!” Reyhan berkata sembari mencubit kecil pipi tembam milik Dania.


“Anaknya bunda sama ayah, dong!” tanggap Dania dengan cerianya seraya menempelkan ujung atas jadi telunjuk mungilnya di pipi kulit putih sebelah.


Reyhan dengan ramah memperlihatkan deretan gigi putih-rapi bagian atasnya bersama tangan yang mengusap-usap puncak kepala adik sepupunya nang lumayan menaikkan suasana hatinya. Setelah itu, Dania balik badan dan akan menuju ke pedagang es krim dung-dung gerobak tersebut.


“Pak Es Krim! Mau beli, hihihi!”


“Nia! Jangan lari-lari, nanti kamu jatuh!” peringat Reyhan yang masih setia bersinggah di kursinya.

__ADS_1


“Iya, Kakaaaak!” teriak Dania menjawab lalu berhenti berlari dan mengubah langkahnya menjadi jalan seperti biasa.


Reyhan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku manis dari adik sepupu cantiknya. Lihatlah, Dania kini sedang berbicara ramah pada sang pedagang es krim itu sambil menyerahkan uang kertas dari pemberiannya Reyhan.


Pemuda itu sekarang kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi lalu mengangkat wajah tampannya untuk melihat pemandangan langit biru disertai awan putih yang terlihat elok. Sampai tiba-tiba, dirinya dikejutkan lagi dengan suara Dania yang memanggilnya bersama nada mungilnya.


“Eh, udah jadi es krimnya?!”


“Udah! Nih, es krimnya buat Kakak. Kalau lihat dari rasanya, kayaknya enak banget deh, Kak! Jadi pengen langsung nyobain, hehehe!” ria Dania dengan menyodorkan salah satu es krim dari antara dua es krim yang ia beli untuk Reyhan.


Reyhan tersenyum lebar seraya menerima pemberian dari Dania yang meskipun masih kecil, tetapi hatinya sudah seperti malaikat. Usai memberikannya, sang adik sepupunya milik Reyhan berjalan selangkah lalu duduk di kursi tepat sisinya.


Dania menyendok es krim jenis dung-dung itu lalu melahapnya ke dalam mulut, mengunyahnya sejenak kemudian menelannya dengan nikmat. “Hmmm, enak ...! Kak Rey, gimana rasa es krimnya? Pasti lezat banget, kan?!”


“Hm'em. Udah enak terus ada segarnya juga, kamu memang pintar dalam memilih aneka rasa es krim. Kakaknya Dania ternyata punya bakat, ya!” bangga Reyhan untuk menyenangkan hati si kecil.


“Hehe! Oh iya, Kak Rey. Kakak tahu, gak kenapa Dania belikan es krim ini buat Kakak?” tanya Dania layak seperti menyuruh Reyhan untuk menebaknya.


“Hmm, kenapa? Oh! Pasti karena Kak Rey juga suka es krim dung-dung, ya?” tebak Reyhan dengan mata menatap mata manik indah milik Dania.


Dania menggeleng. “Kakak salah. Dania belikan Kak Rey es krim ini, karena Dania ingin banget buat Kakak senang. Dania tahu, kok kalau hari ini Kak Rey lagi sedih gara-gara sahabatnya Kakak yang tidur di rumah sakit.”


Reyhan yang mendengarnya, sedikit memudarkan senyuman dari bibir. “Kakak gak kenapa-napa, kok.”


Dania melenyapkan senyumannya apalagi raut wajahnya tergantikan menjadi sendu. “Kakak keliatan lagi gak baik-baik aja, lho. Mukanya Kak Rey juga agak pucat, pasti kebanyakan mikirin sahabatnya Kakak, ya?”


Reyhan hanya diam, ada rasa enggan menjawab semula rentetan ucapannya Dania yang dari segi perkataan, begitu peduli kepadanya. Sampai akhirnya, Dania menggeser tempatnya untuk lebih dekat ke Reyhan.


“Kakak, Dania boleh lihat fotonya sahabatnya Kak Rey, nggak? Dania penasaran banget sama mukanya sahabat Kakak yang lagi sakit parah di rumah sakit,” pinta Dania dengan suara nada gemulainya.


Reyhan terkekeh kecil lalu mencubit pelan dagu putihnya sang adik sepupu perempuannya. “Kamu masih kecil tapi udah punya jiwa kepo, ya? Yasudah, kamu tunggu sebentar biar Kakak ambil HP dulu.”


Dania cengengesan kemudian kedua bola matanya memperhatikan Reyhan yang tengah merogoh saku celana jeans abu-abunya untuk mengeluarkan ponselnya. Usai berada di pegangan tangannya, pemuda itu membuka layar dan masuk ke dalam album galeri buat menunjukkan yang mana fotonya Angga.


Setelah menemukannya di salah satu gambar, Reyhan mencondongkan ponselnya ke samping untuk memperlihatkannya ke Dania. “Ini, nih fotonya sahabat Kakak. Ganteng, ya?”


Dania mengerutkan keningnya. “Hmm?? Ganteng itu apa, Kak? Kok, Dania baru dengar?”


“Eh, ’Iya! Gue lupa kalau lagi ngomong sama adek sepupu gue yang paling kecil, dasar cowok tulalit gak ketulungan.’ Ganteng itu artinya keren, Nia!”


‘Bodo amat, lah mau itu artinya bener apa salah. Yang penting bisa dimengerti sama Dania,’ batin Reyhan kemudian.


“Ooooh, ganteng itu artinya keren ya, Kak? Hmm ... eh, kok ini kayak .. kak Angga?! Kakak! Ini beneran kak Angga?!” Pekikan Dania disebabkan terkejut melihat foto seseorang yang ia kenali, membuat Reyhan terperangah.


“Lho! Dania kenal sahabatnya Kak Rey?! Kamu dulu pernah kenalan sama kak Angga?” Kini tentunya Reyhan menghujani banyak pertanyaan ke Dania, karena bagaimana mungkin adik sepupunya bisa mengenali sahabat Introvert-nya?


Dania mengangguk cepat. “Iya, Kak! Dulu Dania pernah berkenalan sama kak Angga sekaligus jadi temennya sahabatnya Kakak! Jadi kak Angga itu teman akrabnya Kak Rey, toh? Hehe! Dania baru tahu.”


Mengingat momen singkat itu, Dania mengulum senyumannya sambil terus menatap fotonya Angga yang posenya layak seperti gaya lelaki cool.


“Kak Angga orangnya baik ya, Kak?! Waktu dulu, tuh pas Dania keinget kakaknya Dania yang sudah bersama Allah, kak Angga yang menyemangati Dania untuk tetap bisa Ikhlas perginya kakak. Dania masih gak nyangka banget, deh kalau kak Angga itu adalah sahabatnya Kak Rey.”


Bibir Reyhan nyengir bingung dengan menggaruk tengkuknya. ‘Angga pernah temenan sama adek sepupu gue ini? Tapi kenapa dia gak pernah cerita kalau dia pernah bertemu Dania? Terlebih saat itu Angga sempet lihat bingkai foto adek gue, hhh ...’


“Em, Dania pertama kali kenalan sama kak Angga dimana kalau Kak Rey boleh tahu?” penasaran Reyhan dengan kembali menengok Dania.


“Sebentar, biar Dania pikir dulu ... oh, iya! Dania pertama kali kenalan sama kak Angga, di rumah sakit Medistra Kusuma kota, Bogor! Ya, kota Bogor!”


‘Bangunan rumah sakit itu? Tempat dimana sahabat gue terbaring Koma hingga dua kali. Apa bener yang dikatakan Dania kalau dia pernah bertemu Angga? Kenapa gue jadi kurang percaya, ya?’


Reyhan menghembuskan napasnya lalu melihat ke arah wajah imutnya Dania setelah dirinya berpaling muka dari adik sepupunya. “Dania gak mimpi, kan kalau kamu pernah berteman sama kak Angga?”


“Enggak kok, Kak. Dania bertemu nyata dengan kak Angga! Dania sama sekali gak bermimpi, kami berdua beneran pernah berkenalan dan berteman. Walau ... pertemuan Dania sama kak Angga cuman sebentar saja, habis itu udah gak lihat lagi.”


“Hmmm. Gitu, ya?”


“Iya, Kak Rey. Tapi waktu dulu, kak Angga masuk ke kamar rawat Dania gak pakai itu ... jarum sama tiang infus, setiap orang sakit di rumah sakit, kan pasti harus pakai kayak gitu, Kak supaya cepat sembuh. Seingat Dania juga, kakak Angga pakai baju orang sakit seperti dulu Dania pakai,” ulasnya.


Reyhan menggerakkan bola matanya ke arah kiri dengan kepala dipenuhi banyak tanda tanya. ‘Jadi, Dania kenalan sama Angga waktu sahabat gue sakit? Terus ... kenapa dia bisa gak make infusnya? Lagian sejak kapan, dah itu anak lepas jarum? Kayaknya gak pernah. Anjir, gilak. Mumet gue !’


“Kakak, Dania minta pangku,” imbau lembut Dania dengan seraya menepuk-nepuk paha kaki Reyhan.


“Ih, udah kelas dua masih mau minta pangku? Haha! Ayo sini, dengan senang hati.” Reyhan meletakkan wadah es krimnya di tepat sebelahnya begitupun ponselnya lalu mengangkat tubuh kecil milik Dania untuk ia pangku ke atas kedua paha kakinya.


Dania nampak bahagia dipangku oleh kakak sepupu lelakinya yang begitu tulus dengannya, bahkan hatinya selalu saja nyaman bila berada didekatnya Reyhan. Gadis kecil nang mengenakan gaun lengan pendek dengan anggun nan indahnya, lanjut menghabiskan sisa es krim dung-dung punyanya. Jika Reyhan, merengkuh tubuh wangi Dania dari belakang untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Mungkin itu salah satunya.


Di dalam renungan pikiran Reyhan telah dilumuri hujan-hujan meteor yang membuat ia bungkam dengan bertanya-tanya tentang pertemuannya antara Dania dan Angga. Mungkin kejadian itu telah lama dan bisa dianggap sebagai masa lampau.


Bukannya tak mengerti, tetapi bingung pada ceritanya sang adik sepupu perempuannya. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Bahkan Angga sendiri termasuk golongan makhluk hidup pendiam dan tidak ingin tahu apapun kecuali perihal yang mengandung mistis.


Apalagi Reyhan sempat menebak bahwa yang menemui Dania hingga menjadi temannya, bukanlah dari raganya Angga. Tetapi...


Jiwa atau rohnya.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2