
Dua minggu telah berlalu, yang mana satu minggu kemarin Angga diperbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah berangsur membaik. Begitupun Depresinya menghilang karena lelaki itu berusaha membuang mimpi buruk tersebut yang membuat dirinya kembali Depresi. Angga begitu bersyukur ia mampu menghapuskan hal mengerikan yang melekat dipikirannya.
Kini sekarang Angga tengah beristirahat di atas kasur Spring Bed miliknya yang nyaman untuk ditempati. Bahkan posisi pemuda jiwa pemberani itu punggungnya bersandar di kepala ranjang tidur. Hingga tiba-tiba saat ingin bersantai suara ringtone ponsel Angga berbunyi menandakan ada sebuah telepon dari seseorang.
Angga bergumam lirih, “Reyhan?”
Dengan tangkas lelaki tampan itu menggesek tombol hijau ke atas untuk mengangkat telepon dari sahabatnya yang masih menjalani perawatan di RS Wijaya.
...----------------...
...REYHAN...
^^^Assalamualaikum-^^^
Bang Angga! Gue kangen huhuhu!
^^^Gak usah lebay!^^^
Ih orang kangen malah di bilang lebay! Semenjak lo pulang dari rumah sakit karena dah sembuh, gue kesepian anjir, gak ada temen gue!
^^^Kenapa? Lo pengen gue dirawat sana terus? Berarti sama aja kalau lo gak mau gue sembuh^^^
Eh gak gitu konsepnya, anying! Ah sudahlah males gue debat sama lo. Sekarang lo dimana, Bro?
^^^Di rumah, habis pulang sekolah. Lengkap, kan?^^^
Serba komplit lo mah.
^^^Hm. Lo sendiri ada dimana sekarang?^^^
Ih tumben gantian nanya? Biasanya cuek-cuek aja, tuh hahaha!
^^^Yasudah lo gak usah jawab pertanyaan gue^^^
Eh anjir! Tanggapannya gitu banget?! Gak asyik lo emang dari dulu! Kaku kayak robot manusia berjalan! Bawaannya bikin kesel mulu
^^^Oke, nggak usah temenan lagi kalau begitu. Selesai masalah, kan?^^^
Jangan Ngga! Enak banget lo ngomong begitu! Ehm, sekarang gue lagi ada di taman.. Hehehe main ngobrol sama adik unyu-unyu TK sama SD
^^^Oh- eh apa?!^^^
Gak konek otaknya jangan-jangan ini anak. Kenapa lo kaget gitu gue dengernya? Ada problem kah di segala kalimat gue tadi?
^^^Enggak. Lo nggak salah ngomong tadi? Lo lagi main sama anak-anak itu? Memangnya mereka berani main di waktu sore yang bentar lagi Maghrib???^^^
Kagak kok, mereka malah kayak asyik gitu ngobrolnya. Wah apa karena pancaran ganteng gue dan aura mawar gue mencolok kali, ya hehehe
^^^Malah sinting ini anak. Oke, gue minta lo hati-hati sama mereka. Entah lo mau percaya atau sebaliknya pokoknya gue minta elo buat hati-hati. Firasat gue gak enak sama mereka yang lo ajak main^^^
Hah apa, Ngga?! Jangan nakutin gue dong! Hari mau gelap, nih! Gue hajar juga lo kalau macem-macem sama sahabatnya sendiri!
^^^Gak percaya ya sudah. Tapi lo yang bakal tahu sendiri, kok. Gue tutup teleponnya. Bokap manggil gue suruh ke bawah^^^
O-oke dah...
...----------------...
Angga duluan mengakhiri telepon Reyhan dan langsung mematikan layar HP-nya. Angga cepat beranjak dari kasurnya lalu pergi membuka pintu hitam kamarnya setelah itu keluar dari kamarnya dikarenakan Agra sudah memanggil-manggilnya di bawah undakan anak tangga, sementara Andrana sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk nanti.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Reyhan menurunkan ponselnya dengan tatapan nanar, lelaki itu mendongakkan kepalanya ke arah beberapa anak kecil yang diam seperti patung tetapi tersenyum manis pada Reyhan.
“Kalian anak kecil pengunjung rumah sakit ini, ya?” tanya Reyhan dengan hati ramahnya.
“Tidak hanya itu saja, Kak. Kami semua yang ngajak main sama Kakak juga pernah dirawat di rumah sakit Wijaya, tapi sekarang kami bertiga sudah sembuh,” jawab salah satu anak laki-laki yang mengenakan kemeja lengan pendek.
“Loh, kalian juga pernah sakit? Sakit apa kalau Kakak boleh kepo?” Pertanyaan Reyhan langsung di tanggap gantian oleh anak laki-laki kedua. “Kami ketabrak mobil bis, Kak.”
“Ya ampun kalian bertiga ketabrak bis berbarengan?!” Ketiga anak laki-laki berumur 10 tahun itu mengangguk kompak dengan senyuman.
Namun Reyhan merasa aneh dengan mereka bertiga karena yang namanya ketabrak mobil pastinya ada bekas luka di anggota tubuhnya, terlebihnya ucapan Angga saat di dalam telepon.
Baru saja akan mengeluarkan suaranya untuk bertanya kepada tiga anak laki-laki tersebut, bahu Reyhan bagian atas dicolek-colek oleh seorang wanita berkisaran seumuran Jihan namun wajahnya nampak keriput.
Reyhan sontak kaget dan menoleh pada seorang yang mencolek bahunya. “Eh iya, ada apa Bibi?”
Wanita itu yang lebih tua dari sang ibu Reyhan nampak khawatir pada sikap Reyhan bahkan kedua alis wanita tersebut saling bertautan. “Mas, Mas baik-baik saja, kan? Bibi perhatikan kamu dari tadi ngomong sendiri, apalagi kamu sendirian di taman. Bibi sedari tadi memperhatikanmu karena kamu berbicara sendiri seolah-olah kamu mengobrol dengan seseorang. Kamu memangnya sedang ngomong sama siapa?”
Reyhan menyusutkan keningnya merasa bingung perkataan wanita yang tak ia kenali itu. “Saya sedang berbicara dengan tiga anak laki-laki ini, Bi. Kebetulan saat saya sampai di taman rumah sakit ini saya dihampiri oleh mereka.”
“Tiga anak laki-laki? Dimana mereka? Kamu sepertinya hanya seorang di sini, Nak.”
“Tidak kok, Bi. Saya tidak sendiri, saya ditemani sama mereka bertiga-” Disaat Reyhan kembali menoleh pada ketiga anak usia 10 tahun tersebut dengan menuding pelan, Reyhan begitu terkejut. “Lho?! Mereka kemana?! Kok gak ada?!”
“Nah tuh, kan. Mereka itu bukan manusia, Nak tapi hantu yang bergentayangan di wilayah ini. Lain kali hati-hati, ya. Berdoa sebelum menempatinya.”
Reyhan yang detak jantungnya lumayan berdegup cepat dan melihat ke arah wanita tersebut. “Iya Bi, terimakasih sarannya ...”
Darah Reyhan berdesir dengan cepatnya, keringat dingin mengucur deras dari keningnya. Detak jantungnya yang lumayan berdegup cepat kini berpacu maksimal. Wanita yang memberi tahunya bahwa ketiga anak umur 10 tahun tersebut adalah arwah kini malah menghilang tidak tahu kemana.
“Bibi itu?!” Napas Reyhan menjadi tersengal-sengal, padahal dirinya tak habis berlari. “Kemana?! Cepet banget ngilangnya?!”
Tubuh Reyhan berubah gemetar hebat. “Apa wanita itu juga arwah seperti mereka bertiga?! Ya Allah! Gue gak lagi berhalusinasi, kan?! K-kenapa gue bisa lihat mereka yang seharusnya nggak kasat mata itu?! Apa yang terjadi sama gue, sih sebenernya?!”
Dengan wajah amat pucat-nya karena rasa jiwa ketakutannya kembali timbul, Reyhan memilih secepatnya kembali ke dalam rumah sakit dan menuju ke ruang perawatannya di lantai 4
Reyhan sesampainya di dalam rumah sakit sesegera mungkin mempercepat jalan gerakan kursi rodanya yang ia arahkan dengan kedua tangannya. Hingga setibanya di lift utama, pemuda tersebut segera menekan tombol buka lift. Dan secara otomatis setelah itu, lift terbuka lebar mempersilahkan Reyhan masuk ke dalam. Tangan kanan Reyhan yang bergemetar memencet tombol tutup lift sekaligus pencet tombol angka 4 di antara kolom angka-angka untuk menuju ke tempat lantai yang ingin ditujukan.
Beberapa menit Reyhan menunggu sampai Reyhan menautkan kedua tangan jarinya. Hingga detik-detik kemudian saat liftnya baru naik ke lantai 3, lampu lift yang berpijar terang berkedip-kedip serta ditambahkan guncangan kuat dalam ruang lift tersebut seperti ada bencana masalah pada mesinnya.
Reyhan begitu takut pada situasi mengerikan ini baginya, bahkan lelaki itu sampai merapalkan Doa meminta pertolongan dari Allah agar menyelamatkannya dari marabahaya dalam lift tersebut.
Guncangan itu berhenti, begitupun lampu atas tak lagi berkedip-kedip tetapi berbalik seperti semula.
Tepat hentinya yang membuat jantung Reyhan nyaris diam tak berdetak, kini tujuannya telah berhasil meskipun ada ketegangan secara tiba-tiba aneh itu. Lift terbuka dengan lebarnya, Reyhan segera keluar. Tetapi baru saja menjalankan kursi rodanya, bagian belakang sandaran kursi roda miliknya di dorong kencang hingga tubuh Reyhan terhempas keluar dan mendarat di lantai begitu kerasnya.
BRUGH !!!
Reyhan mengerang kesakitan disaat tubuhnya terlungkup, kepalanya terbentur keras membuat kepalanya sedikit menjadi pusing karena efek kejadian yang rasa-rasanya janggal. Sedangkan kursi roda Reyhan posisinya terbalik dan menindih kedua kaki Reyhan yang mengalami kecacatan tersebut. Pemuda itu berusaha bangkit dengan sekuat tenaga namun sukar, karena kedua kakinya tak bisa digerakkan apalagi ia susah membalikkan tubuhnya menjadi terlentang dikarenakan kursi rodanya masih menindih sepasang kakinya.
Kepalanya pusing. Tak ada seorangpun yang menolongnya, sebab lorong lantai 4 sepi karena hari sudah gelap. Kedua tangannya berusaha menopang lantai dan kepalanya berupaya ia angkat meskipun telah keliyengan. Sampai 2 detik usai, sesosok lelaki berada di tepat depannya.
Reyhan memaksakan kepalanya untuk ia angkat, menatap dari ujung kaki hingga atas kepala. Reyhan menekan salivanya susah payah disaat ia mengetahui kalau itu adalah... Arseno Keindre.
Arseno tersenyum menyeringai puas sudah membuat manusia incarannya menderita untuk kesekian kalinya. Reyhan yang ditatap menyeramkan seperti itu tak ada tenaga untuk mengeluarkan keamarahan padanya melainkan hati pasrah serta wajah pucat yang tidak berdaya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Komplek Permata
Seluruh keluarga yang ada di rumah Angga tengah menikmati hidangan makanan yang tentunya masakan dari sang ibu Angga. Pemuda yang duduk anteng di kursi meja makan mulai menyeruput pelan kuah sup daging ayam buatan si Andrana, sedangkan Agra melahap kentang sup yang telah dipotong-potong kecil Andrana sebelum dimasak, sambil mengemil tempe gorengnya yang ayah Angga makan penuh selera.
“Sup dagingnya enak, Ngga?” tanya Andrana tersenyum sumringah mengisi kesunyian ruang makan.
Angga nampak mengaduk sup daging tersebut. “Masakan Mama nggak ada yang gak enak, semuanya lezat.”
Andrana menganggukkan kepalanya lembut dengan tersenyum bahagia, meskipun jawaban anak putranya terdengar singkat apalagi mata Angga tak melihat ke kontak mata Andrana yang ada di hadapannya. Agra yang mendengar pujian Angga pada istrinya seketika senyum mesem.
Andrana yang melihat suaminya mesem-mesem mengerutkan keningnya. “Ayah kenapa senyum begitu?”
“Seneng dipuji sama anakmu, padahal Angga jarang muji orang lain termasuk orangtuanya.” Ayah Angga cengengesan kemudian seraya menatap anaknya yang terlihat tidak peduli pada ucapannya.
“Oh iya, Ma ... tempenya Ayah kan sudah habis di remuk dalam lambung perutnya Ayah, nih. Jadi ...” Dengan sikap rese-nya, Agra merebut halus tempe goreng yang sedang di pegang oleh istrinya. “Tempenya Mama, Ayah makan.”
Bersamaan perkataan Agra, pria itu memakan tempe goreng yang harusnya punya Andrana. Istrinya hanya mendengus dan menggelengkan kepalanya, sedangkan Angga menepuk keningnya atas kelakuan ayahnya.
“Kan masih ada banyak tempe gorengnya di piring situ, Yah.” Ujaran Andrana langsung dijawab Agra usai mengunyah tempe milik istrinya. “Tangan Ayah pegel, Ma. Jaraknya juga jauh dari Ayah duduk.”
“Bilang aja Ayah males ngambil,” celetuk Angga anak tunggalnya tanpa menatap Agra.
“Tajam juga inderanya anak Ayah satu ini!”
Andrana tertawa pelan pada celetuk suara Angga ditambah jawaban tuturan dari sang suaminya yang wanita itu cintai. Tanpa ada perdebatan yang membuat suasana ricuh, satu keluarga Indigo tersebut melanjutkan kegiatan makan malamnya dengan penuh selera. Namun, di pertengahan suasana yang nyaman firasat diri Angga menjadi buruk mengenai salah satu sahabat di antara ketiga sahabatnya. Angga memejamkan matanya, hingga muncul bayangan nama Arseno yang tercantum di dalam benak otak mata batinnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Reyhan membuka matanya dengan perlahan, entah mengapa dadanya terasa bergemuruh. Dirasanya pemuda itu tengah berada di atas tempat yang empuk nan nyaman beserta nang ada di bawah kepalanya yang masih terasa sakit. Apa yang Reyhan pandang begitu tak jelas alias seperti foto blur, apa yang telah terjadi dengannya?
Reyhan mendapati suara sayup-sayup dari seseorang yang terasa ada di dekat sampingnya, memanggilnya dengan nada lembut belum bisa Reyhan pastikan suara siapakah itu. Kepala Reyhan perlahan menoleh ke arah asal sendang suara dan mengerjapkan matanya lemah agar dari hal itu mampu membuat dirinya bisa melihat dengan sempurna serta jelas.
Detik demi detik, akhirnya lelaki itu yang posisi tubuhnya terlentang dengan nyamanan hangat selimut tebal menjadi kaget apa yang ia tatap. “Papa?! Mama?!”
“Kamu sudah sadar, Rey! Alhamdulillah Papa sama mama lega.”
Reyhan mengerutkan keningnya bingung pada tutur ucap Farhan padanya yang di raut wajahnya ranah. “Sadar? Lha, memangnya Reyhan habis ... pingsan??”
“Hm'em, Nak.” Kemudian setelah merespon pertanyaan Reyhan, Jihan menggenggam tangan kanan anaknya dengan sunggingan senyuman. “Kamu nggak apa-apa, kan? Mama panik banget pas Mama tau Papa bawa kamu dalam posisi Reyhan tidak sadarkan diri.”
Wajah Reyhan seketika linglung usai mendapat pengucapan Jihan yang beliau utarakan. Reyhan ingin memutar otaknya untuk mengingat-ingat apa yang terjadi dengannya sebelumnya. Tak berhasil, malah justru kepalanya menjadi sakit bahkan kini Reyhan memegang kepalanya bagian kening samping menggunakan pangkal telapak tangan kirinya yang tangan tersebut di infus.
“Apa yang terjadi denganmu, Rey? Papa hampir jantungan lihat kamu pingsan di depan lift apalagi kaki-kakimu tertimpa kursi roda punyamu.”
Bibir pucat milik Reyhan bungkam, matanya memicing untuk bersikeras mengingat lagi. Tetapi alhasilnya juga tak berjaya ingat. “Reyhan nggak ingat apa-apa.”
Farhan dan Jihan saling melemparkan pandangan kontak matanya lalu sang ibu Reyhan melepas satu tangannya dari telapak anaknya dan beralih mengusap-usap lembut lengan sang putra tulus kasih sayang. “Yasudah kalau Reyhan nggak ingat. Reyhan mau minum? Mama ambilkan.”
Reyhan mengangguk senyum. Pemuda itu mulai membangkitkan tubuhnya menjadi duduk, dan tangkas Farhan segera membantu anak semata wayangnya tersebut. Jihan yang telah mengangkat gelas air putih, beliau sodor berikan pada Reyhan.
Reyhan menerima gelas tersebut. “Makasih, Ma.”
“Sama-sama, Sayang. Yasudah diminum dulu biar enakan badannya.”
Reyhan mengangguk lagi dan mulai meneguk air putih bersih itu hingga tersisa setengah. “Haus banget kayaknya, nih.”
Reyhan menurunkan gelasnya dari mulut dengan nyengir. “Hehehe, iya Pa. Haus banget Reyhan.”
Jihan dengan lembut sertakan senyuman manisnya mengambil gelas itu dari tangan Reyhan, sementara Farhan yang ditanggap Reyhan tersenyum lebar kepada anaknya. “Mau nonton TV atau mau tidur?”
“Reyhan mau tidur aja, Pa. Kepala Reyhan juga masih pusing gak enak kalau buat duduk terus.” Reyhan kembali berbaring di ranjang pasiennya dan menyesuaikan posisi kepalanya di atas bantal.
“Oalah kepalamu masih pusing toh, Nak?” Jihan menyentuh bahu anaknya dengan wajah sendu.
“Hehehe, Mama gak usah cemas. Reyhan masih baik-baik aja kok. Dibuat tidur sampai pagi InsyaAllah bakal membaik lagi.”
Jihan menarik senyuman bibirnya dan menganggukkan kepalanya pelan, sedangkan Farhan masih penasaran apa yang terjadi dengan anaknya hingga pingsan di depan lift tempat lorong lantai 4. “Apa karena faktor kamu kecapekan, kamu jadi ambruk, ya?”
“Mungkin begitu, Pa. Reyhan sampai sekarang juga masih belum ingat apa-apa tentang yang tadi. Bisa jadi karena otak anak kalian ini terlalu sempit dan dangkal, jadinya gak semudah mengingatnya.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Siang hari Sabtu
Di kamar, Angga tengah sibuk mengetik-ketik keyboard pada laptop hitamnya yang bermerk. Mata menawannya yang mana kedua mata itu berwarna abu-abu sejak ia lahir terlebihnya dari keturunan sang ayah, fokus menyimak film Horor Indo. Saat film tersebut dimulai, Angga kembali bersantai bersandar di kepala ranjang tempat tidurnya.
Pintu kamar telah Angga tutup dengan rapat, tak ada dari kedua orangtuanya yang menganggu anaknya jika masih berada di dalam kamar. Menurut bagi mereka kalau Angga sudah berada di kamar itu artinya anaknya tengah berdiam diri melakukan hal sesuatu yang tenang. Inilah sikap Introvert yang ada di dalam jiwanya Angga.
Saat sedang menikmati alur film awal mula yang menggentarkan, pemuda yang tentang bersantai diam itu dikecam oleh suara nada dering ringtone HP yang ada di meja nakas samping kasur. Tanpa menoleh ke ponsel yang ia letak, tangan kanannya mengulur ke meja nakas dan meraba-raba ponselnya. Setelah berhasil mendapatkannya, ponsel itu Angga genggam depan laptopnya. Pemuda tersebut sedikit menunduk kepalanya untuk melihat kontak siapa yang menelponnya di siang bolong ini.
Angga mendengus pelan disaat tahu siapa yang menelponnya di hari Sabtu ini. Tanpa segan-segan Angga mengangkatnya dan menempelkan layar benda pipihnya di telinga bagian kanan.
...----------------...
...REYHAN...
^^^Assalamualaikum, napa nelpon gue di siang panas gini?^^^
__ADS_1
Waalaikumsalam. Hehehe, gue pengen ngobrol sama lo aja kok, gak boleh kah?
^^^Boleh^^^
Lo lagi dimana sih? Kok kayaknya ada banyak suara orang? Lagi di acara kondangan, yak?
^^^Ngaco! Gue lagi nonton film, film Horor-nya aja yang alurnya di acara pernikahan gitu. Lo sendiri, lo di kamar rawat, ya? Sepi^^^
Iya nih, Ngga. Tadi pagi mama papa gue izin pergi nginep di rumah oma sampai besok minggu, ya kira-kira sih katanya minggu sore udah pulang. Mangkanya di sini sepi kek kuburan China
^^^....^^^
Angga, gue jujur ngerasa aneh sama bokap nyokap soal tentang oma gue yang sama sekali gak ada kabar. Ya, mungkin karena gue udah berminggu-minggu di rumah sakit.. gue sendiri yang gak tau kabar oma di sana. Lo tau oma gue kenapa? Barangkali lo diceritain sama nyokap bokap gue. Aneh anjir, berkali-kali ada acara mulu tapi anaknya gak di ceritain
^^^....^^^
Ngga? Halooo? Weh masih hidup, kan lo??
^^^Masih, lah! Hmm, kalau itu gue nggak tau kenapa sama oma lo. Bahkan orang tua lo gak bilang apa-apa ke gue soal oma lo^^^
Huh, gitu ya? Alright and it's okay
^^^Lo sekarang beneran di rumah sakit sendirian, kan?^^^
Yap, jadinya gue nelpon elo aja biar gak kesepian. Seharian bolehlah gue ditemenin dalem telpon. Sepi hati gue kayak gue yang Jomblo
^^^Halah, alay! Lagian kalau lo sampai berjam-jam Nelpon gue, data paket lo habis. Di rumah sakit Wijaya nggak disediakan WIFI^^^
Iye-iye yang di rumah pakai WIFi, aman itu kuotanya! Lo di rumah gak sibuk ini itu, kan? Kalau sibuk mah matiin aja, gak mau ganggu kayak setan
^^^Ngaku juga kalau dirinya setan^^^
Anjir sialan! Terus kalau gue setan, lo apa? Iblis?!
^^^Gak gitu juga! Hm, gue tutup teleponnya nggak apa-apa, ya. Gue mau nyiapin barang-barang^^^
Eh! Lo mau kemana, Ngga?! Gak pindah rumah, kan?! Lo masih di komplek Permata, kan?! Dan masih tetep orang Jakarta, kan?!
^^^Ribut! Gue gak pindah rumah!^^^
Wah cosplay jadi tugas cewek nih berarti! Hahaha, yaudah kalau gitu. Gue tutup aje ye, Bye Assalamualaikum!
^^^Hm, Waalaikumsalam!^^^
...----------------...
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
RS Wijaya - Kamar Rawat no 114
Reyhan memencet tombol simbol telepon lingkaran merah untuk menutup telepon dari sang sahabat ketusnya. Reyhan menurunkan teleponnya tepat di atas selimut tebalnya seraya sedikit menggembungkan kedua pipinya sekaligus mendengus karena dirinya tengah kesepian di kamar rawat tanpa ada seorangpun menemani obrolan.
Reyhan meraih headset yang ada di laci meja nakas lalu memasangkan di lubang kecil ujung HP bagian bawah. Cara menyembuhkan Reyhan dari kesunyian hati adalah menghibur diri dengan mendengarkan musik kesukaan di album lagu miliknya. Bagian untuk mendengar indahnya musik, Reyhan pasangkan ke sepasang telinganya. Lelaki tersebut meng-scroll pilihan jumlah musik yang ia miliki di ponsel untuk mencari musik yang sekiranya enak di dengarkan.
Nada lagu mulai terdengar pada lantunan gitar pada reff pertama, Reyhan mendengarkannya dengan tenang sampai menutup matanya buat menghayati musik tersebut yang telah ia setel. Hingga 30 menit kemudian, pintu ruang perawatan dibuka oleh satu orang di sana. Reyhan yang tengah mendengarkan lagu, membuka matanya kembali dan mengalihkan pandangannya ke ambang pintu.
Reyhan mengedipkan matanya beberapa kali seseorang yang ia tatap. Orang itu masuk ke dalam dengan senyuman tipis seraya menutup pintu kamar rawat no 114
“Lho, Angga?!”
Angga hanya mengangkat satu alisnya dan Reyhan melepaskan headset-nya dari telinganya dengan masih menatap sahabatnya yang tiba-tiba datang tanpa kabar terlebih dahulu. “Ngga! Lo ke sini gak ngabarin gue dulu anjir! Kayak hadiah aja lu bagi gue hahahaha!”
Angga meletakkan tas ranselnya di sofa sambil menjawab, “Yang penting hati lo seneng, kan ada sahabatnya sekarang.”
Terlihat mencolok wajah bahagia Reyhan atas kedatangan Angga sahabat cueknya, namun ada kontak mata Reyhan yang terpusat pada sesuatu. “Ngga, lo kok bawa tas punggung segala? Lo mau Camping? Kalau Camping mah di sono tuh taman, luas tempatnya.”
Angga menghela napasnya. “Buat apa segala gue Camping? Kalau Camping, bukan sini tempatnya tapi hutan! Aneh jalan otak, lo. Gue nginep di sini sampai hari Minggu.”
“Astaga dragon ! S-serius lu mau nginep di sini?! Demi apaan anjrit?!” kejut Reyhan.
“Kalau gue gak nginep, ngapain gue bawa tas punggung? Mikir pakai nalar. Gue nginep alasannya biar lo gak kesepian, apalagi om Farhan sama tante Jihan pulangnya besok hari Minggu.”
Reyhan membuka mulutnya menganga lebar bahagia pada Angga yang tengah duduk di kursi sofa seraya menatap Reyhan datar. “Wah ya ampun! Thank you so much, sahabat gue yang setia! Lo paling bisa ngertiin gue dah!”
Angga menarik sunggingan senyuman semu dan berdeham sebagai balasan terimakasih dari sahabat cerianya. Bahkan sekarang Reyhan mengangkat kedua tangannya ke atas. “Horeeee!! Sahabat gue nginep!”
“Ck! Gak usah kayak anak kecil!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Kini sekarang setelah mengajak Reyhan jalan-jalan keliling dalam rumah sakit bersama kursi rodanya, Angga dan Reyhan sedang berada di depan jendela kamar rawat yang terbuka lebar, menikmati semilir angin yang berhembusan tenang. Posisi Angga berdiri sedangkan Reyhan tak mungkin berdiri melainkan duduk di kursi rodanya.
“Ngga, lo nginep di rumah sakit emangnya udah izin sama bokap dan nyokap, lo?” tanya Reyhan membuka pembicaraan.
“Sudah. Walaupun bokap gue agak kaget aja anaknya nginep di rumah sakit, tapi ujungnya dibolehin karena gue alasannya hanya untuk nemenin lo sampai besok,” jawab Angga menatap Reyhan sekilas lalu menghadap ke depan jendela kembali.
“Oalah. Terus, pas ditelepon maksud lo mau nyiapin barang-barang itu ... karena lo mau pergi nginep di sini, toh hahahaha! Gue baru ngeh maksud lo, njir.”
Angga yang mendengarnya hanya membalas dengan sedikit nyengir. Di langit nampak telah berganti berwarna jingga setelah warna biru, sepertinya dengan berjalannya waktu kini sudah sore hari. Dan Angga yang telah berputar keliling cuma untuk mengajaknya sang sahabat jalan-jalan agar tidak bosan, sekarang mata Angga terasa berat alias mengantuk.
“Lo keliatan capek, mau tidur aja?” tanya Reyhan yang beralih menatap sahabatnya.
Angga mengusap satu matanya seraya menoleh kemudian melepaskan tangannya dari satu matanya. “Kayaknya, lo masih mau di kursi roda atau di kasur? Soalnya gue mau tidur.”
“Di sini ajalah, bosen di kasur mulu.” Angga mengiyakan jawaban pilihan Reyhan lalu berbalik badan ke belakang dan melangkahkan kakinya ke kasur sofa untuk berisitirahat tidur.
Reyhan menoleh ke belakang memperhatikan Angga yang menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, sementara siku tangannya menopang di sisi sofa dan terakhir telapak tangan sahabatnya juga menopang di dagu. Angga benar-benar menutup matanya, mungkin karena banyak luang waktu Angga menemani Reyhan hingga ia menjadi lelah, tetapi beruntung saja itu tak berpengaruh pada cedera kepalanya.
Dari jauh, Reyhan tersenyum sumringah menatap sahabatnya. Takjub kepada sikapnya Angga yang cuek namun peduli dan setianya tetap sahabatnya terapkan. Hatinya Reyhan juga merasa terhibur atas keberadaan Angga di sini untuk menemaninya hingga kedua orangtuanya balik lagi ke rumah sakit.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Lelaki friendly yang sudah tidur semenjak jam pukul 16.00 sore, sekarang membuka matanya disambung menguap namun segera tangkas ia tutupi dengan tangannya. Saat membuka matanya penuh, Reyhan begitu kaget karena ia ada di tempat yang berbeda. Seperti di lorong lantai lain.
Reyhan mengitari sekeliling tempat, bahkan posisi ia terduduk di lantai pojok tembok sementara kursi rodanya ada di jarak jauh Reyhan duduk. Ulahnya siapa ini? Reyhan yakin dirinya sedang tidak bermimpi.
Reaksi pertama Reyhan adalah terkejut membuat Arseno yang ditatap kaget itu tersenyum menyeringai sembari melangkah mendekati Reyhan yang keadaannya terduduk di lantai. Reyhan berusaha pergi kabur menghindar akan namun ia lupa kalau dirinya tak bisa berdiri bahkan berlari meninggalkan Arseno yang telah ada di sebelahnya.
“Kamu mau kemana? Apa kamu tidak ingat kalau kakimu telah lumpuh?” tanya Arseno dengan nada mengejek.
Entah mengapa rasa takut Reyhan berubah amarah pada kedatangan arwah negatif itu yang ingin mencelakainya. Sorot mata manusia tersebut menjadi nyalang menatap hantu itu, apalagi suara mengernyit dari Reyhan terdengar di telinga pendengaran Arseno.
“Bukannya ini adalah ulah lo sendiri yang bikin gue kayak gini?!” Raungan murka Reyhan dibalas senyuman iblis dari Arseno seraya mengangkat satu alisnya ke atas. “Awal dari semuanya, itu kesalahan kamu sendiri, bodoh! Kamu ingat, dimana waktu malam jam sembilan kamu melintasi wilayah kematianku bersama motormu?”
“Kamu tidak mau mengakui atas kesalahan besar itu? Kamu terlalu menyepelekan tempat terlarang yang sudah diperintahkan untuk nggak dilewati. Oh, iya tujuan aku ke sini, kan ingin menyakitimu.”
“Setan keparat! Bajingan!” umpat Reyhan.
“Kamu mengatakan aku apa, tadi? DASAR MANUSIA BODOH!!!”
Suara yang menggema lorong lantai terakhir yang kosong sepi, seakan-akan gendang telinga Reyhan ingin pecah akibat suara menyeramkan dan keras tersebut. Kini Arseno dengan nada geramnya dan muka emosinya, mengangkat satu tangannya hingga membuat tubuh Reyhan melayang ke atas udara.
“Satu kesakitan akan aku kirim padamu!” Arseno dengan tangan mencengkram tanpa menyentuh leher Reyhan berjaya membuat seluruh leher manusia itu dibelit asap sihir hitamnya.
“Ugh!” Lehernya terasa dicekik oleh belenggu sihir hitam tersebut. Sudah lama Reyhan tidak pernah dicekik seperti ini, ia tak bisa apa-apa untuk melawannya. Kekuatan tenaga arwah negatif itu lebih kuat dari tenaga manusia biasa.
“Jangan ada kata 'lepas', mengerti? Atau aku buat lebih sengsara lebih dari ini!” ancam Arseno yang Reyhan hanya diam merasakan kesakitan luar biasa di bagian lehernya serta napas yang akan habis.
Mata Reyhan terpejam kuat, wajahnya semakin memerah karena lehernya terus diperkuat belenggu sihir hitam tersebut yang telah melingkar di lehernya. Tahu apa yang sedang dilakukan Arseno selain ini? Sang arwah negatif mulutnya layaknya tengah berkomat-kamit seperti membacakan mantra. Hal itu buat Reyhan berimbuh kemalangan.
“Argh sakit! T-tolong!!!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Nampak tidur Angga telah berpindah posisi yang mana kedua tangan bersedekap di dada dengan kepala belakang menempel dinding belakang sofa. Namun selang detik kemudian, Angga terbangun dan mulai menatap sekeliling. Sunyi, hanya ada ia seorang. Angga mengusap wajahnya bersama dua tangannya lalu setelahnya bola matanya mencari keberadaan sahabatnya yang kini menghilang.
Angga kemudian dengan tenang merogoh celana jeansnya mengambil handphone untuk menghubungi Reyhan. Saat telah tertera 'berdering' tiba-tiba ada suara getaran ringtone ponsel di atas meja nakas putih, apa lagi kalau itu bukan ponsel milik Reyhan?
“Dia pergi nggak bawa HP?” Bersamaan ucapan itu, Angga mematikan telponnya di ponsel dirinya dan memasukkan lagi ke dalam saku kantung celana jeans panjangnya.
Angga mencoba pergi keluar untuk mencari Reyhan yang ia tak tahu sahabatnya berada, dikarenakan sedari tadi Angga tidur. Saat sudah keluar dari ruangan, tajamnya pendengaran Angga mendengar suara seperti bisik-bisikan di atas lantai. Angga sampai mengangkat wajahnya melihat atas dinding.
“Suara itu berasal dari lantai enam, auranya di sini juga buruk. Pasti ada sesuatu terjadi sama Reyhan!”
Angga segera berlari menuju tangga dan menaiki undakan tangga tanpa menggunakan lift saja. Kurang satu tangga lagi untuk bisa menuju Angga ke lantai 6 atau disebut lantai paling terakhir.
Pas Angga telah menginjak lantai enam di atas anak tangga, dapat Angga lihat satu arwah menyeramkan dan satu manusia yang menderita. Mata Angga mencuat tajam disaat tahu tubuh Reyhan mengambang di udara, dan Angga langsung menatap nyalang Arseno yang membuat sahabatnya kesakitan nan bahkan wajah Reyhan bertambah pucat.
Arseno menggertakkan giginya karena kegiatan gembiranya telah dikecam oleh manusia Indigo yang Arseno pernah datang ke mimpinya untuk melemahkan tenaganya. Arseno seketika menghentikan mantra kegelapannya sekaligus mengepalkan telapak tangannya yang dipenuhi asap hitam sihir yang arwah itu kuasai, hal itu membuat Reyhan terlepas dari siksaan tersebut dan jatuh kencang ke lantai.
Mata Angga terbelalak lebar yang berdiri di jauh belakang Reyhan, tanpa membiarkan sahabatnya terjatuh kuat di lantai yang permukaannya keras itu Angga segera berlari dan menangkap tubuh sahabatnya. Karena Angga tak mampu menahan beban Reyhan lama-lama, Angga dengan taktiknya dirinya menjatuhkan kedua lututnya, tak masalah lelaki itu merasakan sakit di dua lututnya yang penting dan aman sahabatnya tak terbentur di lantai.
Namun saat Angga menatap wajah Reyhan tepatnya di matanya, pemuda Indigo itu kaget melihat kondisi sahabatnya kembali tak sadarkan diri begitupun tubuhnya yang Angga topang sangat lemas tak berdaya. Angga menelan salivanya kuat lalu sedikit menggoyangkan tubuh Reyhan yang sudah tak bergeming.
Angga menundukkan kepalanya dengan memejamkan matanya beserta mencengkram baju pasien sahabatnya bagian lengan pendeknya. Gigi Angga bergemeletuk dan kemudian melimbai kepalanya kencang ke arah Arseno yang masih tetap berada ia berdiri di jarak 5 sentimeter. Matanya yang sudah ia buka melotot tajam pada arwah negatif tersebut.
“Kamu lagi!”
“Elo lagi!”
Angga membaringkan sahabatnya dengan perlahan di atas lantai yang telah hilang kesadaran akibat kesakitan yang ia dapati dari kejamnya Arseno. Angga beranjak berdiri, dirinya menghadap ke Arseno yang nampak sengit kehadiran manusia menjengkelkan itu baginya.
“Kamu manusia agitator, Angga brengsek!”
“Lo arwah pengusik hidup Reyhan, Arseno maksiat!” Angga menatap penuh murka pada arwah itu, yang padahal ia telah dibantai habis-habisan olehnya di dunia alam mimpi buruknya. Tidak, Angga tak akan takut dengan Arseno yang suka mengusik kehidupan manusia seperti Reyhan contohnya. Malahan jiwa beraninya Angga justru meningkat dewa.
Arseno menderam berangsang pada buras omongan Angga yang tak ada takut-takutnya dengannya. Karena gregetan pada manusia jiwa tangguh itu, Arseno melancarkan aksinya menyerang Angga menggunakan kekuatan sihir gelapnya. Asap hitam tersebut bersama cepatnya memarani Angga. Angga dengan tangkasnya memiringkan badannya, alhasilnya serangan dari arwah negatif itu meleset.
“Argh!” geram Arseno memberikan serangan lagi kepada Angga, namun dua kali depakan berhasil meleset saat manusia Indigo tersebut cuma menyerong badannya ke samping.
“K-kamu ... benar-benar mengesalkan!!” Kini Arseno meracau emosi tak terkendali, dimana sekarang arwah negatif itu memakai kekuatan aura bahayanya bersama kedua tangan yang mana telapak tangan masing-masing terlihat asap sihir hitam tersebut berkumpul. Kemudian tanpa lama menunggu saking Angga tak mudah dikalahkan, tangannya sosok itu bentang kompak ke depan.
SPLASH !
Dengan cekatan sigap, kursi rodanya Reyhan yang ada di pojok tembok tepatnya di sebelahnya, Angga angkat bersama tenaga kuat untuk menangkis kencang sihir serangan bahaya milik makhluk astral beraura negatif tersebut. Maka dari hal itu, serangan Arseno terpental ke belakang dan melintang ke sasaran arwah itu.
BUM !!!
Dentuman timpakan sihir gabungan itu yang mengenai Arseno mampu sukses membuat Arseno berteriak kesakitan. Dan Angga yang melihatnya memasang wajah senyuman mengejek. “Rupanya sama sihir sendiri aja, kalah. Tidak sesuai kelakuan!”
“Manusia tidak berguna! Awas saja, akan aku pastikan kemelaratan mu datang di suatu hari nanti!”
Bersamaan ancaman yang Arseno lontarkan pada Angga penuh rasa amarah terdalam dengan tangan menuding, makhluk persetan itu menghilang disaat angin hempasan tiba di sepenjuru lorong lantai 6 tersebut. Angga mengepalkan kedua telapak tangannya, lalu usai itu menolehkan kepalanya menengok Reyhan yang masih belum pulih kesadarannya. Angga berlari mengarah sahabatnya nang terbaring di lantai kemudian menopang kedua lutut kakinya di lantai setelah berada di samping kanan Reyhan.
Dua tangan Angga bersamaan menepuk agak kencang pundak-pundak Reyhan agar supaya sahabatnya langsung sadarkan diri. Karena tak membuahkan hasil, pada kedua tangan memegang kedua bahu Reyhan, Angga mengguncang sahabatnya yang membuat seluruh anggota tubuh milik sahabatnya itu berguncang.
“Rey! Reyhan! Ayo sadar!!” Meskipun sudah berkali-kali memanggil namanya bahkan memintanya untuk segera bangun, sahabatnya Angga tetap tidak mau merespon.
Dengan detak jantung yang berdebar, Angga bersilih ganti menepuk-nepuk pipi pucat Reyhan dan beralih lagi untuk menggerakkan kepala Reyhan ke kanan kiri bergiliran disaat Angga menangkup muka sahabat SMP-nya menggunakan sepasang tangan.
Tetap bergeming. Tak ada pergerakan dari Reyhan sama sekali, Angga melepaskan kedua tangannya dari wajah sang sahabat dan mengedarkan pandangan setempat. Malangnya, tempat yang Angga tuju adalah lorong lantai terakhir yang mana tanpa adanya ruang-ruang kamar rawat terkecuali satu gudang di pojok lorong jauh depan Angga serta Reyhan.
Jangan, Angga tidak boleh panik. Ia harus tenang atau tidak pikirannya menjadi runyam kalut tak karuan. Namun beberapa detik kemudian, terasa ada yang menyentuh tangan kiri Angga lalu digenggam oleh seseorang. Angga melihat ke bawah, Angga terkejut sekaligus senang melihat Reyhan yang membuka matanya walau sedikit.
Hatinya terenyuh lega mendapati sahabatnya yang akhirnya telah sadarkan diri, lemparan senyuman yang Angga berikan dibalas Reyhan dengan mengungkapkan ucapan kata nada yang serak. “Gue, belum mati, kan ...?”
Angga cukup menggelengkan kepalanya berisyarat 'belum mati' pada sahabatnya. Angga perlahan menopang punggung Reyhan untuk mengubah posisi baringnya menjadi duduk. Reyhan memandang sekitar, sepertinya arwah yang menyakitinya tadi telah pergi.
“Lo udah nggak apa-apa, kan?” tanya Angga sembari menepuk pelan punggung lemas Reyhan.
Pandangan bola Reyhan yang fokus ke satu arah, kini menoleh lemah menatap sahabatnya yang ada di sisi kanannya. “Nggak apa-apa ... makasih, Ngga.”
Angga menganggukkan kepalanya dengan senyuman merekah di wajah kulit putihnya. Tapi ada yang membuat Reyhan bingung mengapa dirinya bisa ada di tempat sepi ini, akan namun insting Reyhan berkata bahwa Arseno yang memang sengaja mengantarkan dirinya ke lantai terakhir.
“Maaf, harusnya tadi gue gak ninggalin lo tidur.” Celetuk Angga yang tiba-tiba dipertengahan Reyhan berpikir, buat lelaki yang 2 menit telah siuman itu rada gegau. “Ngapain minta maaf? Ngantuk tuh nggak diperkenankan dipaksa buat melek mulu. Bahaya sama kesehatan otak lo, nanti otaknya bisa gak ada fungsi lagi.”
Angga mengerutkan keningnya. “Sadar-sadar, masih aja gak jelas!”
__ADS_1
Reyhan terkekeh lirih, Angga menghela napasnya panjang. “Ayo sini gue bantu berdiri.”
Angga merangkul tangannya di tengkuk leher Reyhan, sementara itu tangan satunya melingkar di badan sahabatnya dari belakang untuk mengangkatnya berdiri. “Kenapa gak dari tadi sih bantunya?”
Angga mendengus pada suara Reyhan yang tengah mengomel. “Kalau langsung berdiri, lo bisa pingsan lagi. Duduk beberapa menit dulu baru boleh berdiri.”
“Emang anak dokter,” jawab Reyhan usai didudukkan di kursi rodanya. Angga menatap sinis pada sahabatnya yang suka ngawur kalau menjawab.
“Orang tua gue kantoran! Bukan seorang dokter!” Suara Angga yang memakai nada tinggi membuat Reyhan terperanjat karena semprotan sahabatnya.
Angga kembali tak bersuara, bibir yang bungkam kedua tangannya mendorong kursi roda sahabatnya di bagian pegangan fungsi untuk menyorong. Saat akan mendekati lift, Reyhan membuka percakapan yang tak lain bertanya pada Angga yang nampak waspada.
“Eh, ini sahabat gue beneran, kan? Bukan arwah yang nyamar jadi Angga sahabat gue?”
Angga yang telah menekan tombol buka pintu lift langsung menarik tangannya dari tombol lalu mengusap wajahnya kasar mendengar pertanyaan konyol tak bermutu dari Reyhan.
“Ini gue beneran! Mentang-mentang udah malem, elo mikir gue setan!” kesal Angga dengan memukul kepala sahabatnya hingga yang dipukul pungut protes langsung.
“Sahabat laknat! Sakit kepala gue anjir!” jengkel Reyhan yang dirinya telah dimasukkan dalam lift oleh Angga bersama kursi roda yang ia duduki.
Angga hanya diam tak menggubris protes sebal Reyhan yang gunakan nada geramnya pada tingkah lancang pemuda tampan tersebut. Tetapi dalam relung hati Reyhan, ia merasa sudah aman dan tertolong dari bahayanya Arseno berkat Angga.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Lantai 4 - Ruang Perawatan No 114
Sekarang Angga mengangkat tubuh Reyhan perlahan dan hati-hati itu pastinya. Reyhan menatap muka sahabatnya yang telah terlihat lelah, ia merasakan sudah banyak merepotkan Angga hari ini. Namun Angga nampak melakukannya dengan tulus tanpa mengeluh sedikitpun.
Angga mendudukkan Reyhan di ranjang pasien dari kursi rodanya, selanjutnya kantong cairan infus yang Angga pegang perlahan juga Angga gantung di tiang infus dengan benar. Kemudian berikutnya Angga mendorong kursi roda milik sang sahabat sampai di pojok tembok tepat sebelah jendela yang masih terbuka lebar. Bersama inisiatif niat, Angga menutup kaca jendela itu yang anginnya bebas masuk ke kamar rawat dan setelahnya Angga menutup gorden putih jendela.
Angga berbalik badan usai kegiatannya tuntas, namun disaat dirinya tengah berjalan menghampiri Reyhan, sahabatnya nampak menundukkan kepalanya dengan wajah murungnya.
“Hei, lo kenapa?” tanya Angga lirih tanpa nada ketus yang keluar, tangannya menyentuh lengan tangan kiri Reyhan agar sahabatnya menarik wajahnya.
Perlahan kepala Reyhan mendongak dan menatap wajah Angga yang sahabatnya menunggu responnya. “Maafin gue ya, Ngga ... gara-gara sahabat lo ini, lo kerepotan di malem gini. Harusnya jam segini elo istirahat, tapi lo malah ngeluarin tenaga lo buat ngurusin gue yang ngerepotin lo terus.”
“Kalau lo sakit, gue bakal tanggung.”
“Berlebihan.” Angga kemudian membungkukkan badannya dan kedua tangannya memegang dua lututnya. “Lo inget waktu itu gue ngomong apa sama lo? Lo sama sekali nggak ngerepotin. Lumrah saja kondisi lo masih seperti ini, satu lagi, gue gak ngerasa keberatan ngurusin sahabatnya.”
Reyhan yang mendengarkan Angga begitu terpukau dan mengerti pada ucapannya yang bernada lembut. “Sudah, nggak usah lo pikirin lagi. Sekarang yang penting nyawa lo masih selamat.”
Angga menegakkan badannya dan melepaskan kedua tangannya dari lututnya, lalu menaikkan kedua kaki Reyhan ke atas ranjang kasur dengan sepenuh hati. “Lo itu emang beda dari yang lain ya, Ngga. Suka membantu orang tapi giliran dibantu nolak.”
“Sudah dari dasar kriteria gue,” tanggap Angga singkat sambil menarik selimut tebal untuk menutupi kedua kaki Reyhan hingga sampai batasan ulu hati milik sahabatnya yang Reyhan telah berbaring.
“Sekarang lo tidur, oke? Istirahat dan nggak usah lagi lo pikiran dan membahas soal lo yang ngerepotin orang. Selain gak boleh kecapekan, lo juga nggak boleh banyak pikiran. Ngerti??”
“Ngerti, Abang.”
“Gue bukan kakak lo!” Angga Kemudian menepuk-nepuk pelan bahu Reyhan dan berkata, “Tidur. Jangan sampai begadang, gak baik buat kesehatan.”
Reyhan mengangguk dengan senyuman lebar yang sempat mukanya muram, Angga pula ikut tersenyum lalu meninggalkannya ia di ranjang pasien. Angga melangkah pergi ke kursi sofa yang sebagai tempat tidurnya.
“Oh, kalau lo ngerasa sakit sesuatu bilang aja ke gue kalaupun gue sudah tidur, bangunin aja. Kalau perlu sampai teriak banguninnya juga nggak masalah.”
“Beh! Yang bener aja lo ngomongnya? Tapi, okelah. Semoga aja sih gue gak ngerasain sakit-sakit gitu. Lagian siapa juga mau gangguin tidur lo.”
Angga menanggapinya dengan senyuman tipis dan tatapan teduh untuk sahabatnya, Reyhan bisa mampu eksistensi auranya Angga yang membuat nyaman tanpa ada aura sisi negatifnya.
‘Lo memang sahabat yang luar biasa, Anggara.’
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Hari dimana Reyhan merasakan bahagia dan terlepas dari kurungan dalam rumah sakit. Sekarang Reyhan yang masih menjalankan aktivitasnya di kursi roda tengah menunggu Angga yang tengah membeli sesuatu di sebrang jalan. Pemuda itu hanya menunggu di pinggir jalan trotoar.
Ya, mereka berdua habis selesai kerja kelompok di rumahnya sang ketua kelas ialah Joshua. Dan sekarang Angga lagi membeli voucher kouta di salah satu konter tempat ruko-ruko yang telah direnovasi menjadi lebih bagus menarik.
Reyhan yang diam duduk di kursi roda hanya memandangi jalan padat kota yang begitu ramai akan jenis kendaraan. Namun kontak mata Reyhan terpusat pada Angga yang banyak digoda kaum perempuan yang membuat Angga segera pergi meninggalkan ruko-ruko setelah membeli kartu voucher kuota. Angga memasang headset-nya disambung menyalakan lagu seraya menaikkan volumenya hingga 100 persen.
Angga begitu merasa terusik pada para godaan perempuan seumurannya itu yang menggunakan nada manja serta genit. Pemuda tersebut mulai menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri terlebih dahulu. Reyhan yang ada di sebrang jalan sana cuma menunggu sahabatnya selesai menyebrang jalan. Tetapi tanpa Angga sadari saat tengah menyebrang, dari arah berlawan, sebuah mobil truk melaju ke Angga dengan cepatnya.
Mata Reyhan melotot disaat suara klakson truk memperingati Angga untuk mengelak segera, namun tak di dengar oleh sahabatnya Reyhan.
“ANGGA AWAS NGGA TRUK!!!”
Reyhan berteriak kencang menyuruh Angga segera cepat minggir dari mobil truk tersebut. Tangan Reyhan sampai gerak-gerak mengisyaratkan pada sahabatnya, hingga Angga yang melihat Reyhan langsung melepas headset-nya. Tetapi hembusan angin seakan-akan meniup rambut hitam Angga disaat mobil truk itu menghantam tubuh Angga hingga terpental kencang ke udara.
DUAGGH !!!
Suara hantaman kuat truk itu mengenai tubuh sahabatnya membuat jantungnya seolah-olah berhenti sebentar. Apalagi Reyhan melihat kejadian berlangsung itu di depan mata. Bisa Reyhan tatap ponsel dan headset sahabatnya yang jatuh di aspal menjadi terlindas remuk oleh mobil sedan yang posisinya melaju.
Di jauh sana bisa Reyhan lihat tubuh sahabatnya menabrak kaca bis bagian belakang hingga pecah tepatnya membuat luka kening Angga terbuka lagi penuh banyak darah. Raganya kemudian terjatuh kencang ke aspal yang mana kini belakang kepalanya membentur kuat dan darah dari kepalanya mengeluarkan banyak lumuran cairan merah pekat di sore hari.
Semua orang yang melihat kecelakaan tersebut segera berlari kencang mendatangi Angga yang telah memejamkan matanya. Penumpang bis serta sang supir bis segera beranjak keluar dari mobil dan melihat kejadian tersebut yang menimpa remaja 17 tahun itu. Termasuk Reyhan yang telah berada di banyak kerumunan, menyuruhnya memberikan jalan untuknya agar Reyhan bisa mengecek keadaan sahabatnya. Mengerikan, banyak kepingan kaca menusuk di bagian wajah Angga.
Reyhan menjatuhkan dirinya dari kursi roda dan mendekati Angga dengan terseok-seok menyeret kedua kakinya ke depan. Bersama tangisan deras, Reyhan menggapai tangan kanan sahabatnya. Saat berada di dekatnya, supir bis tengah menghubungi ambulans rumah sakit pusat Jakarta yaitu RS Wijaya.
Reyhan perlahan mencabut kepingan kaca mobil bis itu yang berhasil menusuk dan melukai wajah sahabatnya. Bertepatan saat semuanya tusukan kaca telah Reyhan cabut, Angga kembali membuka matanya lemah menatap Reyhan.
“Angga gue minta tolong tahan sebentar! Hiks, ambulan akan bakal dateng!” ucap tangisan Reyhan seraya menopang punggung Angga dan memeluknya.
“Hukk uhuk uhuk!!” Batuknya Angga berhasil memuncratkan darah dari mulutnya mengenai baju yang dikenakan Reyhan. “M-m-maaf ...”
Akhir dari kata itu, kepala Angga yang tegak dan mata menatap tak berdaya pada Reyhan, sudah tidak ada artinya. Dikarenakan mata sahabatnya kembali menutup dengan damai. Reyhan menggelengkan kepalanya kuat disaat tubuh sahabatnya menjadi terbujur kaku usai memejamkan mata.
“J-jangan Ngga! Please ayo buka mata lo! Lo harus kuat Nggaaaa!!!” Reyhan mengguncang tubuh sahabatnya yang sudah tidak ada pergerakan apalagi darah keningnya terus mengalir membasahi rahang pipi kanannya.
Bersamaan Reyhan tengah berusaha menyadarkan Angga yang telah memejamkan matanya, mobil ambulans baru datang dan paramedis berpakaian seragam putih segera keluar dari mobil. Ada beberapa paramedis yang mengeluarkan kasur roda dari belakang mobil, dan satu lelaki yang berseragam putih tengah berjongkok di kiri Angga dan mengangkat tangannya untuk menekan denyut nadi di pergelangannya.
Satu paramedis itu menggelengkan kepalanya dengan wajah sendunya. “Innalilahi Wa Inna Ilaihi Raji'un ... korban telah meninggal dunia.”
DEG !
“ENGGAK SUS ENGGAK!! SAHABAT SAYA BELUM MENINGGAL! SAHABAT SAYA ORANG YANG KUAT!! DIA TIDAK MUNGKIN MENINGGAL DUNIA!!!”
Reyhan mendekap erat tubuh kaku dingin Angga dengan menangis tersedu-tersedu. “Hiks! Gue gak percaya Ngga! Suster itu bohong, kan?! Lo pasti masih hidup!!”
Reyhan yang ingin membuktikan sendiri langsung menempelkan satu telinganya di dada sahabatnya tepatnya di jantung. Sayangnya, memang benar Angga telah pergi dikarenakan Reyhan tak dapat mendengar detak jantung milik sahabatnya.
“Hiks huhuhu!! Angga jangan tinggalin gue!! Kenapa lo cepet banget ninggalin dunia, Ngga?! Kenapa! Huhuhu! Gue mohon kembalilaaaahh!!!”
Reyhan dengan tangisan semakin menjadi-jadi terus saja mengguncang tubuh Angga, mengharapkan sahabatnya kembali nyawanya. Namun, karena takdir semua itu sudah tidak mungkin. Di jalan padat yang menjadi macet ini menjadi saksi bisu bagi yang melihat satu korban kecelakaan yang telah tewas. Dan Reyhan, tidak bisa ikhlas begitu saja pada kematian kepergian Angga yang begitu cepat waktunya dimana Reyhan sungguh tak siap menerima hari gelap kepahitan yang mengundang duka.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Air mata Reyhan senantiasa membanjiri kedua pipinya karena kejadian tragedi berdarah itu yang mendatangkan duka kematian kepada Angga. Hisakan dari Reyhan terdengar jelas.
“Lo gak seharusnya pergi begitu saja meninggalkan semua ini, Ngga hiks!”
“Gue minta tolong kembali, Ngga. Gue ingin itu semua hanya halusinasi gue aja!”
“KEMBALI ANGGA LO JANGAN TINGGALIN GUE!!!”
Reyhan berteriak kencang hingga menggema ruangan membuat satu orang yang ada di persinggahannya amat kaget hingga spontan berdiri. Melihat Reyhan yang menangis, orang tersebut menghampirinya dengan berlari.
“Woi! Lo kenapa nangis?!” kejut Angga yang melihat sahabatnya menangis dalam wajah ditutupi menggunakan kedua telapak tangannya.
“Dasar gak peka! Gue yang baru ditinggal mati sama sahabat gue, malah ditanya kenapa nangis!!” Reyhan membuka kedua telapak tangannya dan menatap Angga dengan derai linangan air bening.
“ANGGA?! E-ELO MASIH HIDUP, NGGA??!! Atau ini adalah arwah lo??!!”
Angga mengerutkan jidatnya bingung apa yang dimaksud Reyhan. “Lo ngomong apa?! Gue masih manusia, Rey! Belum jadi arwah! Gue masih hidup!”
“B-beneran?!” Dengan cepat Reyhan memeluk erat raga Angga. “Huhuhu terus tadi itu apa?! Jelas-jelas gue lihat mata kepala gue sendiri lo udah mati ketabrak truk!”
Angga menghembuskan napasnya pelan. “Lo mimpi buruk, Rey. Mana ada gue mati ketabrak truk? Gue masih di sini.”
“Hiks! Sial bikin hancur doang ternyata cuman mimpi!” Reyhan melepaskan pelukan Angga dan menatap Angga serius. “Gue beneran mimpi, kan?! Apa maksud mimpi itu astaga! Gue lihat lo mati ketabrak truk! Gue takut malah jadi kenyataan!”
“Hust! Ambil pikiran positif aja, bisa gak? Mimpi nggak selalu nyata, Reyhan. Bener-bener, gue kira lo teriak karena apa taunya mimpi. Makasih udah bangunin gue di pagi buta ... dan lo tunggu di sini sebentar ya?”
“Eh! Mau kemana, Ngga?!”
“Mandi! Kenapa? Lo mau ikut?”
“Gilak kali!” Angga tertawa kecil kemudian mengambil barang-barangnya untuk mandi terutama handuknya.
Sekarang setelah Angga menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Reyhan menyandarkan punggungnya di bantal yang telah ditegakkan di belakang kepala ranjang pasien. Reyhan merenungkan mimpi buruk itu yang baru pertama kali dirinya alami, ia begitu getir karena semua mimpinya selalu menjadi kenyataan. Tetapi beruntungnya saja mimpi tersebut adalah mimpi baik, buruknya pertama kali tadi.
5 menit Angga gunakan membersihkan diri, dan sekarang dirinya keluar dari kamar mandi seraya memegang handuknya, sementara ia telah berganti pakaian yaitu baju putih oblong lengan pendek serta celana panjang warna coklat tua.
Dilihatnya Angga, pandangan Reyhan nampak tengah kosong. ‘Malah ngelamun ini anak.’
Angga berjalan ke arah Reyhan dan menyabit kepalanya pakai handuk mandinya agar lamunan itu hilang. “Woi! Eh kaget gue, Ngga!!”
“Suruh siapa bengong? Kesambet setan lagi, baru tau rasa lo! Buat apaan sih lo mikir mimpi itu segala? Jangan dipikirin, gak akan jadi nyata.”
“...”
“Huh, Aamiin ...”
Angga duduk di kursi sisi ranjang pasien dengan masih menggenggam handuknya. Sementara Reyhan mengusap air matanya, sedikit lega karena kejadian pahit itu hanyalah mimpinya saja. Hingga datanglah memori ingatan dimana Reyhan bisa merasakan aura positif arwah yang belum sempat ia ceritakan pada Angga.
“Angga?”
“Hm? Kenapa?”
“Semenjak gue sudah lama bangun dari Koma, entah kenapa gue bisa ngerasain aura yang beda.”
Angga menatap Reyhan lekat dengan memajukan kursinya. “Aura yang berbeda? Positif?”
Reyhan mengangguk mantap. “Bener, dan di hari pas lo masih sakit dirawat rumah sakit ini ... gue ngeliat jelas seorang lima anak kembar sekiranya umur kelas dua, masuk ke lubang dunia portal.”
“Dunia portal? Mungkin bisa jadi mereka berlima pergi ke tempat tujuannya.”
“Ke tempat tujuannya? Bukannya arwah itu gak punya tujuan lagi, ya?” Sungguh Reyhan tak mengerti maksud jawaban Angga.
“Bukan gitu. Maksud gue ke tempat alam gaib, itu kan tempat mereka. Oh iya, lo sudah tau apa maksud gue yang suruh lo hati-hati saat lo di taman?”
“Ah iya yang itu! Sumpah Ngga gue kaget banget! Ternyata anak kecil itu adalah arwah yang bergentayangan di sekitar wilayah rumah sakit Wijaya. Dan, gak hanya tiga anak itu tapi ada sosok wanita umuran nyokap gue datengin gue cuman ngasih tau kalau tiga anak laki-laki yang gue ajak ngobrol itu hantu, eh tau-taunya wanita itu juga setan. Beh, merinding bener gue kalau dibahas!”
“Gue bisa rasain meski di telepon, aura mereka positif dan bukan negatif. Gue seneng semenjak lo pasca Koma, lo bisa melihat aura positif juga. Ada tambahan kemampuan di diri lo, Rey.”
“Maksud lo gue ada tambahan kemampuan, gue jadi Indigo kayak lo dong?!”
Angga menganggukkan kepalanya. “Kalau auranya positif harusnya lo gak bisa melihat mereka yang gak kasat mata itu, tapi sekarang lo memiliki kemampuan tambahan. Bisa dibilang indera keenam, apalagi lo juga pinter membaca pikiran orang.”
“Sumpah! Please, apa hubungannya gue yang Koma dan Indigo, coba?! Gue gak paham.”
“Ada hubungannya, disaat raga lo Koma, Roh lo melayang ke suatu dunia mimpi entah alam gaib atau lain-lainnya. Tapi kalau sudah berkaitan dengan tambahan kelebihan, bisa jadi mungkin Roh lo berpetualangan di tempat alam gaib.”
“Wah, nggak sia-sia gue Koma, ye? Malah dapet keuntungan yang berharga dalam hidup gue.”
Angga menatap Reyhan sinis. “Nggak sia-sia .. nggak sia-sia. Heh! Lo itu mau mati, bego!”
Angga menjitak kepala Reyhan. “Sontoloyo lu, Ngga! Bisa gak sih jangan pala mulu yang dijadiin korban?!”
“Maaf, reflek.”
“Huh! Oh iya Ngga, mimpi itu gimana?! Gue takut ada something di mimpi buruk yang gue alami tadi! Apalagi yang terjadi cuman lo, yang terkena musibah kecelakaan itu!”
“Masih aja dipikirin. Nggak perlu lo sampai segitunya, anggap aja itu adalah hanya bunga mimpi, daripada bayangan itu terus menempel di benak otak lo. Nggak akan ada apa-apa. Oke?”
Angga mengusap puncak kepala sahabatnya dengan senyuman untuk menghiburnya meskipun Angga belum pernah menjadi lelaki pelipur lara. Reyhan menganggukkan kepalanya tanpa menatap Angga, sepertinya Angga benar, tak seharusnya mimpi buruk tersebut Reyhan terlalu pikirkan secara dalam-dalam apalagi Angga meminta Reyhan untuk mengambil pikiran positif saja, negatif thinking-nya dibuang dari benak dalam otaknya supaya dirinya tak dihantui ingatan mimpi obsolet tersebut.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1