Indigo

Indigo
Chapter 86 | Steady Plan


__ADS_3

Angga mulai menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sofa sembari menghembuskan napasnya saat dirinya mendongak kepalanya ke atas. Sementara Andrana yang telah selesai membuatkan teh hangat manis untuk anaknya, beliau berjalan dan kemudian duduk di samping Angga seraya menyodorkan halus cangkir mug yang berisi teh hangat nikmat.


Angga mengubah posisi kepalanya di awal dan menatap sebuah cangkir mug yang tengah dipegang oleh sang ibunya. Angga dengan tersenyum menerimanya lalu menegaknya sedikit teh buatan beliau. Sedangkan Agra yang ada di sebelah kirinya sibuk memijat-pijat kedua kaki putranya secara bergiliran.


“Udah kenapa, Yah? Angga bukan anak perempuan yang dipijat-pijat begini.”


Agra menolehkan kepalanya ke arah anaknya yang bercakap seperti itu padanya. “Ayah ngelakuin ini untuk kamu biar peredaran darahnya lancar. Habis jotos-jotosan sama lawan, pasti tubuhmu mustahil gak sakit-sakitan.”


“Ayah tahu darimana tentang kejadian itu?” tanya Angga dengan kening berkerut heran.


“Kamu lupa? Ayah kan juga Indigo sepertimu, Ngga apalagi si mama. Huh, gara-gara peristiwa yang mencelakai kamu di bulan-bulan lalu buat gampang kamu sering lupa bahkan daya ingat-mu berkurang.”


Angga hanya memberikan senyuman sangat tipisnya, dan Andrana sekarang menyelipkan kedua tangannya di tangan Angga dari belakang lalu menggenggamnya dengan sayangnya, bahkan wanita paruh baya berumur 40-an tahun itu bersandar di atas bahu kanan anaknya.


“Yang terpenting kepalamu tidak mengalami luka lagi, Nak. Kalau itu sampai terjadi padamu, Mama dan juga ayah nggak bisa bayangin kondisimu akan seperti apa. Yang jelas, orang tua kamu ini enggak ingin kehilangan Angga.”


Angga yang mendengar penuturan sang ibu, tersentak kaget serta bercampur bingung. Lelaki itu lumayan beralih menatap Andrana dengan ekspresi yang tak bisa ditebak. “Mama kenapa ngomong begitu sama Angga? Jelasin ke Angga, Ma.”


Andrana begitupun suaminya terdiam seketika pada Angga yang membutuhkan penjelasan darinya. “Kenapa kalian diam aja? Apa ada yang Mama Ayah sembunyikan dari Angga?”


Agra menundukkan kepalanya. “Ayah ingin menceritakan semuanya sama kamu, Angga ... hanya saja bagi Ayah dan mama berat buat jelasin semuanya ke kamu.”


Entah karena kelemahan dari cedera kepalanya yang belum sama sekali pulih total atau jalan terawangan Angga yang tidak ada sinyal di malam ini, pemuda tampan tersebut tak mampu memasuki pikiran kedua orangtuanya yang merenungkan diri.


Angga balik menoleh ke arah sang ayah yang mengeluarkan suara dehaman layaknya ingin memulai cerita yang berkaitan pada keadaan cederanya yang ia alami sampai sekarang. “Mungkin emang udah waktunya Ayah ceritain ke kamu, ya?”


Angga hanya diam tak menggubris Agra meskipun kedua matanya berkedip satu kali. Agra menegakkan badannya dan lantas itu menarik napasnya dalam-dalam kemudian membuangnya. Menatap putranya dengan tatapan wajah gundahnya.


Flashback On


“Jadi, Dokter ingin menyampaikan tentang apa ya? Hingga menyuruh kami ke ruangan anda?”


“Jadi begini Bapak serta Ibu, saya di sini ingin menyampaikan sesuatu tentang cedera kepala yang di alami oleh Anggara Vincent Kavindra. Pada kondisi kepala Anggara yang luka, suatu saat akan semestinya sembuh. Namun, akan lebih baik sekali lagi Bapak dan Ibu harus menjaga Anggara untuk tidak terjadi lagi benturan kepala yang keras, karena pada dasarnya luar kepala Anggara telah luka jadi kalau itu sampai terulang kembali luka Anggara yang menutup kembali terbuka.”


“Jadi saya mohon pada Bapak dan Ibu demi keselamatan jiwa anak kalian, tolong jangan sampai terkena benturan keras ataupun pukulan kuat yang membuat kepala Anggara terluka apalagi hingga sampai berdarah, dikarenakan kalau terjadi ada dua antara yang terbilang sangat fatal.”


“Dua antara itu apa saja Dok yang bisa membuat anak kami terbilang sangat fatal?”


“Dua antara itu adalah Koma atau taruhan nyawa.”


DEG !


“Dokter berbicara yang betul-betul, apakah anda sudah memastikannya jika itu terjadi anak kami bisa menjadi fatal seperti anda sebutkan??”


“Saya berbicara tidak dengan mengada-ngada Bapak, saat saya mengobati luka kepala Anggara akibat Anggara terbentur keras lagi di lantai waktu ada dalam kamar rawat, saya bisa memastikan bahwa jika itu terjadi sekali lagi dampaknya akan sangatlah fatal, ya seperti dua antara saya sebutkan. Tetapi itu tergantung keadaan Anggara saja Koma atau taruhan nyawanya, namun saya harap Anggara tidak akan terjadi lagi pada kecelakaan insiden yang dialaminya.”


Flashback Off


DEG !


Bola mata Angga keduanya mencuat dengan tubuh yang menegang saking terkejutnya pada cerita Agra yang begitu mendetail awal dari masuk ruangan dokter hingga pembicaraan intens mengenai parahnya pada kondisi keadaannya yang memprihatinkan.


“Kenapa nggak dari dulu cerita soal itu sama Angga?! Ayah malah justru menunggu waktu yang tepat buat menjelaskan semua itu pada Angga. Kenapa selama ini disembunyikan, Yah? Ma?”


“Tapi kamu sudah tahu semuanya, kan yang Ayah jelaskan?”


“Selain kalian berdua, apa ada lagi yang ngerti tentang cerita itu yang mengenai dengan Angga?” Angga tak menanggapi pertanyaan Agra yang ayahnya sudah bersalah pada sang putranya.


“Tiga sahabatmu. Mereka sudah mengetahui semuanya soal keadaanmu saat itu. Maafkan Ayah dan mama ya, Nak ... kami ngerti kalau itu salah, salah sudah menyembunyikan tentang pembicaraan dokter Ello terlalu lama.”


Angga menghela napasnya dan menganggukkan kepalanya sebagai balasan maafnya kedua orangtuanya yang ia terima. Angga sontak menoleh ke arah Andrana yang terisak bersama aliran air mata yang menuju ke pipinya. Anaknya tersebut langsung menyongsong badannya memutar ke sang ibunya yang menggenggam erat tangan kanannya.


“Hiks, itu yang buat Mama sama Ayah takut sama kamu, Nak. Meskipun Mama tahu Angga adalah anak satu-satunya dari Mama ayah yang kuat. Tapi kalau sudah fatal, kami sudah nggak bisa melakukan apa-apa untuk kamu selain Berdoa, Angga.”


Angga meringis setiap mendengar ucapan Andrana yang sangat getir kalau kejadian itu kembali terulang untuk kesekian kalinya. Angga meletakkan cangkir mug-nya di atas meja hadapannya kemudian Angga menghapus air mata sang ibu dengan lemah lembut.


“Jangan nangis, Ma. Angga paling benci lihat Mama nangis begini ...”


Lantas itu, Angga memberikan pelukan hangatnya pada Andrana seraya mengusap-usap punggungnya untuk menghentikan tangisannya yang berderai melulu. Agra yang memandangi itu ikut mendekap putra dan istrinya bersama senyuman pilunya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...

__ADS_1


Masih dengan kondisi yang sama, meskipun luka lebamnya telah diobati oleh Jihan dengan memakai alat pengompres yang di dalam terdapat banyak es batu, Reyhan tetap mengeluh pada sekujur tubuhnya yang memar. Nampak satu kakinya masih belum sembuh dari pincangnya, lebih baik begini saja dibandingkan ia mengalami patah tulang gara-gara pria satu itu tadi pagi di JL. Jiaulingga Mawar.


Dirinya mengaduh-aduh sembari berjalan ke arah kasurnya untuk beristirahat tidur yang tempatnya empuk tersebut. Beruntung saja di sekolah tadi tak ada tugas PR, maka dari itu tidak membebani Reyhan malam ini di pukul jam 20.00


“Hadeh, lemah banget sih lo Rey jadi cowok. Begini aja udah lembek lo kayak cendol dawet. Kapan gue bisa seperti Angga yang kuat gitu? Pasti nih ye, itu anak di rumah udah biasa-biasa saja, gak kayak gue yang masih ae kesakitan begini. Huh, nasib!” gerutu Reyhan.


Baru saja akan merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya, Reyhan merasakan ada seseorang di belakangnya. Aura kamar pun menjadi berubah membuat Reyhan mengira-ngira siapa ia.


“Reyhan.”


Seketika itu Reyhan menegakkan badannya dengan posisi mata mendelik karena terkejut pada sendang suara tersebut. “Bukan suara Arseno nih, mah. Suara kali ini agak cempreng. Siapa, ya? Pintu padahal udah gue kunci.”


Dalam keadaan yang rada kurang enak badan akibat serangan tinju brutal itu, perlahan Reyhan memutar tubuhnya ke belakang untuk memastikan seseorang yang tiba-tiba ada di belakangnya. Betapa syoknya Reyhan melihat sosok hantu lainnya yang menyeramkan tengah melambaikan tangannya dengan senyuman menyeringai. Serasa jantung Reyhan ingin lepas dari tempatnya.


Lelaki itu yang jiwanya penakut langsung menuding dengan gemetaran ke sosok pemuda makhluk astral itu bersama wajah yang memucat. “S-siapa lagi, lo ...”


Belum sempat menjawabnya, manusia berambut coklat dengan style kerennya itu sudah ambruk tumbang di lantai dinginnya. Hal tersebut arwah yang hanya ingin menyapa Reyhan, mulutnya melongo terkejut menatap Reyhan yang malah tidak sadarkan diri di situ.


“Buset! Lah kok malah pingsan, orangnya?!”


Makhluk halus itu yang tak lain adalah Cahya Araav Jonathan, berjongkok dan mulai mengguncang-guncang tubuh Reyhan dengan muka pucat pasi paniknya. “Aduh Rey! Jangan pingsan, dong! Niat gue kan cuman nyapa elo doang! Please lah ayo sadar! Bisa mampus gue dimarahin Angga sahabat Indigo lu!”


“Ada apa sih sama rupa gue? Cermin mana cermin?!” Cahya celingak-celinguk untuk mencari sebuah cermin yang ada di sekitar dalam kamar Reyhan.


Saat berhasil menemukan sebuah cermin bentuk kotak di sebelah lemari pakaian si manusia yang belum kunjung siuman itu gara-gara syok melihat muka Cahya, Cahya segera berdiri dan berlari mendatangi cermin untuk berkaca diri di sana. Mata arwah itu seketika auto terbelalak lebar terkejut pada rupa wajahnya yang sungguh berbeda dari biasanya.


Cahya spontan berjongkok dengan menutup seluruh wajahnya dengan dua tangan sambil bergidik ngeri dan takut saat melihat mukanya sendiri. “Huaaa momok!!”


“Oh iye, gue lupa! Gue kan abis nakutin sama neror perampok ninja di kantor Bank!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Hari Jumat yang disuguhi langit mendung. Reyhan nampak mengigit jari telunjuknya dengan bergidik merinding pada sosok hantu waktu malam tadi. Ia masih bisa membayangkan bagaimana rupa wajah menyeramkan tersebut yang sama sekali dirinya tidak kenali siapa arwah itu.


Hingga Reyhan mendengar suara derapan sepatu yang melangkah ke salah satu kursi bangku kosong sebelah bangkunya. Rupanya itu adalah Angga yang baru saja datang, dan kini sahabatnya tengah melepaskan tas punggung hitamnya. Reyhan menatap Angga yang hendak duduk, namun setelah itu Angga berbalik ikut menatapnya.


“Dateng juga elo!” ucap pekik Reyhan dengan menyerong badannya menghadap bangku Angga.


“Nggak usah lo ceritain gue mesti udah tau.” Kemudian Angga duduk di kursinya dengan santai lalu menatap sahabatnya kembali. “Lo diperlihatkan wujud hantu yang tiba-tiba muncul di kamar lo, kan? Dia itu aslinya ingin kasih sapa dengan elo, tapi caranya aja yang salah. Apalagi arwah itu sempet bikin elo pingsan.”


“Nani?! (Apa?!) gue pingsan, toh? Lah gak tau gue kalau tadi malem gue semaput gara-gara itu arwah. Tapi sumpah, njir! Jantung gue mau copot! Siapa sih itu?! Gilak banget otaknya.”


“Seharusnya lo kenal siapa arwah itu. Dia juga pernah kenalan sama lo waktu lo dirawat di rumah sakit Wijaya. Cahya Araav Jonathan.”


“Oalah setan gak jelas itu! Eh tapi darimana lo bisa tau kalau arwah itu pernah kenalan sama gue?!”


“Pikir aja sendiri.”


Tatkala Reyhan ingat dan mengeluarkan suara cengengesan. “Pikun, elo kan Indigo, ya? Jyah, Six Sense dilawan.”


Selang menit kemudian, terlihat Freya dan Jova yang usai balik dari toilet. Gadis polos itu yang menatap kedua sahabatnya, melambaikan tangannya di atas bersama senyuman manisnya lalu kedua siswi gadis cantik tersebut menghampiri sahabat-sahabatnya yang nampak tengah duduk di kursi bangkunya masing-masing.


“Kalian udah dateng? Syukur deh, kirain kayak kemarin. Terlambat sampe dihukum bu Aera keluar dari kelas,” ujar Freya dilanjut tawa kecil.


“kamu mah gak tau kalau aku sama Angga kemarin masuk BK. Mana malu bener lagi dilihatin banyak anak-anak di sekolah sini, auto cepet turun image-ku yang populer di bangunan SMA elit ini.”


Jova yang menyimak ucapan dari suara Reyhan dengan mengunyah permen karetnya, langsung memukul kepala bagian belakang sahabat friendly-nya rada keras. “Sok cakep aja kamu!”


“Apaan sih?! Pagi-pagi udah mukul kepala orang! Gak ada kerjaan, ya?!” dongkol Reyhan bernada tinggi.


Freya berdecak lebih ke teguran. “Udah jangan berantem, ini masih pagi banget lho. Oh iya Rey, muka kamu kok pucet lagi? Lagi masuk angin, nih?”


“Dih, itu anak satu berkali-kali masuk angin! Lebih mirip ke Demam dan pucet-nya kek ...”


“Apa?! Kamu mau ngatain aku apa lagi, hah?! Mau bilang pucet-nya kayak mayat mau digotong ke liang lahat?! Hati-hati woi! Aku bisa baca pikiran orang apalagi sebelum ngomong sama diriku!”


“Widih, ngeri amat kayak Dukun mau santet korban.”


“What?! Dukun mau santet korban?! Itu perbuatan Musyrik, Sableng gendeng!”


Angga dan Freya sama-sama menepuk jidatnya mendengar tingkah bicara kedua sahabat sejoli-nya yang hampir melakukan perang mulut. Sementara dipertengahan mereka berdebat yang tak jelas, air hujan turun mengguyur dengan lebatnya.

__ADS_1


“Pasti begini deh, kalian itu kalau sudah bertemu mesti debat mulu! Akur dikit, dong!” protes Freya dengan berkacak pinggang sedangkan Angga hanya menggelengkan kepalanya.


“Dia dulu yang mulai!” serentak kompak Jova dan Reyhan saling menunjuk.


“Hah sudah deh, capek aku lama-lama ladenin kalian berdua.” Setelah itu Freya berpindah topik memberi pertanyaan kepada Reyhan yang mukanya penuh raut sebal. “Reyhan, kamu lagi gak enak badan lagi? Oh aku tau, pasti gara-gara tonjok-tonjokan waktu kemarin itu, ya??”


Reyhan kemudian mengubah ekspresi wajahnya menjadi penuh melas. “Ho'oh, Frey. Dan satu lagi, itu juga karena aku dilihatin setan tadi malem. Wah parah bener sih!”


“Waduh! Arseno, kah?!” kejut Jova mulai reda rasa kejengkelannya.


“Ck, bukan. Bukan dia, tapi setan yang lainnya. Ehm, namanya ... Cinta-”


“Cahya!” ucap keras Angga membenarkan perkataan Reyhan yang suka belibet kalau berbicara.


“Lagian mana ada cowok tapi namanya Cinta? Stress, lo!”


“Ya siapa tau aja itu cowok blesteran dari cewek,” saut Reyhan sembari bersedekap di dadanya.


Jova yang sebelumnya tidak memegang apa-apa, mulai meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja milik Reyhan dengan memasang muka seriusnya. “Soal Arseno, rencana yang kita semua atur bener-bener kita lakukan kan, Rey?”


Reyhan mengeluarkan tangan kanannya yang diselip di belakang tangan kirinya lalu mengacungkan jari jempolnya bersama senyuman biasa. “Tetep. Biar semuanya nggak ada permasalahan besar lagi. Tapi kayaknya aku bakal kena korbannya deh, kudu aku pancing dulu si dua pria beringas itu.”


Angga dan Freya mematung bersama, sedangkan Jova yang usai meniup permen karetnya menjadi bentuk gelembung balon, kepalanya manggut-manggut paham kendatipun gadis tomboy tersebut bersemu cemas apa yang akan terjadi pada Reyhan nantinya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di malam hari menjelang Isya. Reyhan nampak tengah memegang pangkal hidungnya dikarenakan kepalanya sungguh pusing, bahkan muka pucat-nya itu menyimak grup di aplikasi online WhatsApp dimana isinya adalah susunan rencana yang telah mantap dan stabil.


Sedetik kemudian, Reyhan mendengar suara teriakan histeris Jihan beserta suara Farhan yang membentak-bentak seseorang dari bawah tangga. Membuat itu anak mereka berdua langsung meletakkan ponselnya dan cepat-cepat keluar begitupun turun ke bawah dalam kondisi badan kurang sehat.


Cklek !


Klap !


Dari lihat atas, Reyhan menatap Jihan yang terduduk dengan tangisan sembari ketakutan, sementara Farhan yang juga terduduk tengah menuding kencang sosok yang membawa pisau di genggamannya. “Sudah saatnya!”


Reyhan berlari marathon menuruni undakan anak tangga dan menghampiri mereka bertiga. Reyhan berhenti di tepat depannya kedua orangtuanya bermaksud melindunginya. “Arseno! Jangan bunuh orang tua gue!”


Arseno menyeringai. “Kamu ingin langsung mati di detik ini juga?”


Reyhan meneguk ludahnya dengan wajah setengah takut karena energi negatif Arseno yang membuat tubuhnya mulai melemah. “Sen, gue ngerti lo marah, dan gue ngerti lo dendam sama mereka berdua.”


“Diam kamu, Reyhan! Kamu tidak tau tentang aku yang sebenarnya!!” bentak Arseno dengan suara amat menggema.


“Gue tau tentang elo! Tubuh lo mati karena lo dibunuh dengan dua pria itu. Hari ini, gue bakal selesain semuanya agar lo terlepas dari sebuah dendam besar lo itu supaya elo bisa tenang dan damai.”


“Jangan mencoba untuk membohongiku!” marah tinggi Arseno dengan napas naik turun cepat bersama tangannya yang menodong pisau berlumuran darah itu ke muka Reyhan.


“Enggak! Gue gak nyoba bohongin lo. Gue tau siapa yang sudah buat lo berumur pendek. Kalau lo masih nggak percaya, temui gue di lokasi kematian lo.”


Arseno yang menggertakkan giginya kuat, mulutnya bungkam dan menurunkan tangannya yang menggenggam pisau tajam bahaya itu. Arseno terdiam sejenak lantas tersebut dirinya menghilang secara sekejap mata.


Reyhan melemaskan badannya dengan menghembuskan napasnya lemah lalu berbalik badan ke belakang disambung jongkok. “Papa sama Mama nggak kenapa-napa, kan?! Nggak ada luka?!”


Bukannya menjawab, Jihan justru menangkup wajah pucat anaknya dengan kedua tangan bersama raut panik khawatirnya. “Nak! Jangan pergi ke sana, Mama mohon! Mama nggak mau kamu kenapa-napa di sana! Kamu pasti tau kan kalau kawasan itu berbahaya banget?!”


Reyhan mencekal kedua tangan sang ibu dengan lembut dan tersenyum. “Ini satu-satunya cara, Ma. Tenang, semuanya bakal berjalan dengan lancar kok.”


Pip !


Sekeluarga dalam rumah tersebut menoleh ke suara klakson mobil yang berada diluar gerbang. “Reyhan pamit pergi dulu, ya.”


“T-tapi Rey-”


“Sudah, Ma. Lebih baik kita turuti aja apa kata Reyhan. Biar semuanya tuntas terselesaikan ...”


Reyhan kemudian setelah menyalami tangan kedua orangtuanya, beranjak berdiri dari jongkok-nya lalu melangkah meninggalkan Farhan dan Jihan. Reyhan memegang gagang pintu rumah dengan menghembuskan napasnya untuk mempersiapkan nyali keberaniannya di jiwa yang semua rencananya telah tersusun baik.


Pemuda tersebut memarginalkan konflik ini segera terlampaui dengan efektif!


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2