Indigo

Indigo
Chapter 91 | Failed to See


__ADS_3

Angin sepoi-sepoi saling berhembus memasuki jendela kelas XI IPA 2 yang pemuda Indigo itu tengah membuka-buka lembar buku paket materinya yang nanti akan dipelajari waktu jam pertama dimulai. Bola matanya bergerak fokus untuk membaca kolom kotak yang terdapat 5 alenia.


Sampai tiba-tiba saat sedang belajar, otak benak Angga tersirat pada idenya saat ia susun optimal di malam hari tadi hingga nyaris begadang. Dirinya sedikit ragu pada rencananya ini yang akan ia lontarkan nanti kepada seluruh sahabatnya yang kebetulan belum hadir. Angga memang sengaja datang pagi buta agar ide rencananya tetap terfokuskan yang ia pikirkan matang-matang ini.


“Huh, semoga berhasil.”


“Apanya yang semoga berhasil, Bro?”


Saking tersentak kagetnya, punggung Angga reflek membentur sandaran kursi bangkunya dan matanya terbelalak ke arah salah satu siswa pemuda yang datang di hadapannya. “R-rey?! Kapan lo tiba di kelas?!”


“Hehehe, sekitar satu menit yang lalu. By the way ... gue mau tanya sama lo, semoga berhasil apaan?? Jangan nyoba umpetin rahasia ama gue ya, lo! Gue tebas jakun lo,” ancam Reyhan sambil memakan jajanan keripik pedasnya yang terbungkus di kemasan plastik berukuran sedang.


Angga mendengus dengan menatap tajam Reyhan. “Nggak ada! Lo pagi-pagi udah makan yang pedes-pedes, yang lain belum dateng?”


“Belom, mungkin nanti. Eh lo mau keripiknya? Ini tuh ditaburi bubuk pedas lima level cabe, harganya juga murah pas tadi gue beli,” tawar sahabatnya.


“Lo makan aja sendiri. Dasar pikun, gue gak kuat pedes apalagi sampai lima level cabai yang lo punya itu,” respon Angga sewot seraya kembali membaca buku paket Biologinya.


“Gak usah rajin amat napa, Ngga? Ujian juga masih lama padahal. Dibuat enjoy aja gitu lho, jangan dibikin serius mulu kayak kehidupan garing lo yang gak berwarna, hahahaha!”


“Minggir sana lo!” sarkas Angga mengusir Reyhan yang ada di dekatnya saat ini.


Senyuman jahil Reyhan menjadi pudar seketika waktu sang sahabat bersikap cuek padanya, bahkan nadanya mengusirnya untuk kembali ke tempat bangkunya. Namun bukannya duduk di kursinya, Reyhan justru mendekati Angga dan merangkul-nya kuat. “Yaelah gue cuman bercanda doang kali, Ngga! Di bawa oke bisa gak, sih? Tersinggung mulu lo dari tadi awal gue masuk.”


Angga yang sibuk membaca beberapa paragraf materi di buku pake Biologi, mendengus kesal lalu wajahnya ia tarik ke atas dan menatap Reyhan setajam-tajamnya. “Siapa yang tersinggung?! Yang tersinggung malah justru otak pikiran lo. Udah sana balik ke bangku, jangan ganggu gue belajar!”


“Idih, galak amat! Eh gak bisa gak bisa! Elo kan udah bilang kemarin waktu di kantin, kalau lo bakal ngasih tau tentang rencana lo yang udah lo sinkronkan pada kami bertiga. Cepetan kasih tau, mumpung masih gue yang hadir di kelas.”


Reyhan melepaskan rangkulannya lalu kemudian kembali memakan keripik pedas miliknya yang bagi dirinya sangat lezat jika sudah menempel di lidah. “Tunggu mereka berdua dateng dulu, biar jelas.”


“Kebanyakan alasan, lo! Yasudah kalau gitu, lebih baik gue kelarin dulu makanan favorit gue ini- eh yakin nih lo kagak mau keripiknya? Enak banget lho, sayang bener kalau gak lo cobain.”


“Lo mau meracuni gue dengan makanan pedas lo itu?” tanya Angga dengan nada lumayan sebal.


“Sahabat apaan gue mau racuni elo?! Ya maaf, kali. Gue lupa kalau lo gak kuat pedes-”


“Minta dong keripik pedasnya!”


Reyhan melongo kaget saat Jova yang baru saja datang di kelas langsung mencomot dalam kemasan plastik jajanannya itu untuk mengambil tiga keripik pedas sekaligus pada satu tangannya yang seolah mencapit makanan tersebut. Dengan rasa tak sopannya pada sahabat friendly-nya itu, Jova melahap keripiknya bersama muka santainya.


“Ini anak kapan datengnya? Kayak setan, tau! Itu juga, kalau mau ambil izin dulu kenapa!” Pada akhirnya Reyhan yang belum selesai mengobrol dengan Angga, si pemuda celomes itu mengomel ke Jova.


“Enak aja kamu ngatain aku kayak setan! Jadi cowok jangan pelit-pelit, napa?! Cuman jajanan murahan doang pelitnya minta ampun. Awas noh, kalau sifatmu pelit nanti kuburanmu bakal jadi sempit!”


“Eh kamu nyumpahin aku?! Lagian siapa yang pelit, coba? Boleh kok ambil, tapi seenggaknya izin dulu lah. Gak main serobot kayak tadi!”


“Alah, ribet!”


Reyhan mendengus lalu memutuskan untuk memakan keripik pedasnya lagi, sedangkan Jova yang tengah mengunyah makanan yang ditaburi bubuk pedas lima level cabai, melangkah pergi ke tempat bangkunya untuk meletakkan tas ransel ungunya di atas kursi.


Angga celingak-celinguk melihat luar ruangan kelas. “Freya belum datang?”


“Cieeee! Nyariin Freya nih, yeee! Cewek tercinta lo belum dateng, paling sebentar lagi tiba buat menemui sang pangeran tampan di kelas sebelas IPA dua,” ledek Reyhan tanpa ia sadari kalau mata Angga melotot padanya.


“Maksud lo apa, hah ngomong begitu?!” damprat Angga seraya menutup buku paket Biologi tebalnya dan tanpa ba-bi-bu, pemuda Introvert tersebut memukul punggung sahabatnya menggunakan buku paketnya itu.


“Adauw! Sialan lo, Anggara! Kok cuman gue yang digebuk, sih?! Jova juga kenapa? Dia kan ngetawain elo tuh!”


“Dia perempuan.”


“Gila! Emang sahabat gak ada adilnya lo, Ngga! Sakit banget tau kena pukul buku paket segede gaban itu!” protes Reyhan sambil mengusap-usap dengan gerakan cepat di punggungnya.


“Good morning, guys- eh!”


Freya yang baru saja menginjak lantai kelas, kontak matanya terpusat pada salah satu sahabatnya yang merintih kesakitan sambil mengusap punggungnya. Maka dari itu, gadis lugu berponi tersebut segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri sahabat lelakinya dengan wajah ekspresi bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada Reyhan.


“Reyhan, ih kamu kenapa?! Kok kayak kesakitan begitu?!” tanya panik Freya seraya sedikit memutari tubuh sang sahabat SMP-nya.


Freya beralih menatap Angga serius yang balik membaca buku paketnya. “Angga, Reyhan kenapa?”


Angga menatap Freya sekilas. “Kamu tanya aja sendiri sama orangnya.”


Freya menyusutkan keningnya hingga kedua alisnya hampir saling bertautan. “Lho, aku kan nanya sama kamu, Ngga. Kok malah kamu suruh aku tanya Reyhan?”

__ADS_1


“Udah deh biarin aja mereka, Frey. Itu dua cowok lagi sama-sama aneh. Gak usah kamu urusin mereka berdua dulu daripada kamu pusing sendiri entar,” ujar Jova seraya turun dari meja bangkunya yang ia duduki.


“Ehm ... Angga dan Reyhan lagi marahan apa gimana?” tanya Freya bermonolog sembari melepaskan tas ranselnya lalu menaruhnya secara ia tegakkan rapi di kursi bangkunya.


“Gak lagi marahan kok,” tanggap respon Angga begitupun Reyhan bersamaan.


Freya yang sedang membenarkan tasnya, kepalanya menoleh ke belakang dengan senyuman lega. “Bagus deh, kalau kalian memang nggak lagi marahan. Soalnya kalau beneran iya, suasananya jadi kurang enak apalagi tegang.”


“Emangnya kamu pikir aku sama Angga mau saling bunuh-bunuhan?” tanya Reyhan dengan nada rada dingin.


“Astagfirullah, masa sahabat sama sahabat saling membunuh? Bukan sahabat dong namanya, tapi musuh bebuyutan.”


Mulut Reyhan menganga dan menghentikan untuk mengusap punggungnya yang terasa kebas akibat pukulan buku tebal dari Angga. “Sahabat unyuk-unyuk gue udah nggak polos lagi ini, mah.”


“Cowok nggak waras,” gumam Angga pelan dan malangnya masih bisa di dengar oleh Reyhan.


Reyhan pun yang tak terima sekali dikatakan Angga seperti itu, langsung hendak memberikan bogeman mentah untuk sahabatnya yang sering membuat dirinya naik darah. “Ngomong apa lo tadi?! Gue jotos nih lama-lama!”


“Terserah.”


Sepertinya inilah jurusan andalan Angga yang bisa membuat Reyhan terdiam seribu kata. Lihatlah raut muka berang pemuda friendly itu, berubah menjadi lunak bahkan tangannya yang siap menonjok sahabatnya, ia turunkan dengan menghela napasnya. Lagipula, Reyhan tidak mungkin melakukan setega-nya itu kepada Angga yang dipertengahan debat layaknya ini.


“Api bisa dimusnahkan oleh air. Se-jengkelnya kamu sama Angga, kamu tetap bakal kalah dengan Angga yang bersifat kayak air dan bawaannya tenang. Gak kek kamu, sukanya ngamuk meracau mengerikan!”


Reyhan memejamkan matanya dengan menghembuskan napasnya. “Udah aku duga, ujung kalimat kamu bakal bandingin aku sama Angga.”


“Ssstt! Jangan suka banding-bandingin, ah.” Freya memutar kursi bangkunya menjadi menghadap ke arah meja bangkunya Angga. “Nggak baik.”


“Iya deh maaf.”


Kini Freya telah menduduki kursinya dan bola matanya fokus menatap Angga yang sahabat kecilnya sendiri tak menatapnya, melainkan berkutat membaca buku paket materinya. “Hehe, pagi-pagi jam segini kamu udah sibuk baca buku paket sih, Ngga? Oh iya katanya kamu mau ngasih tau soal rencana idemu kemarin. Sudah kamu susun dan eee ... sinkronkan, kah?”


Angga lantas segera menutup buku paketnya. “Iya, sudah. Tadi malam hampir mau pagi kalau nggak salah. Di situ udah aku susun rencana idenya, tapi aku nggak tau semuanya bakal berhasil dan lancar atau sebaliknya.”


“Buset, lo rela-relain begitu sampai mau begadang nih ceritanya? Ngapain aja sih selain itu? Kalau boleh gue tebak, lo gunain ritual-ritual khusus ya.”


Ketiga sahabatnya dengan terkejut auto menoleh gesit menatap Reyhan yang berbicara lantang pada tebakan ucapannya tersebut. Raut wajah Angga yang tak tergambar, bukan menunjukkan amarah namun ekspresi biasa usai terkesiap.


“Untuk apa gue ngelakuin ritual-ritual? Semuanya gue gunain pakai terawangan mata batin gue sendiri yang gue kuasai. Gue anak Indigo Rey, bukan anak Dukun yang bisa memainkan sebuah ritual. Kecuali kalau gue mempelajari hal seperti itu, tapi gue gak pernah sama sekali mencobanya.”


“Sori, gue terforsir sama film. Gue kira Angga ngelakuin ritual-ritual begituan. Yasudah mending lanjut dah lanjut, hehehe.”


Jova menyoraki Reyhan dengan wajah sengitnya pada sahabat ramahnya tersebut, sementara Angga menghembuskan napasnya pelan dan mulai melanjutkan tentang persoalan ide beserta rencananya yang telah ia tepati untuk memberi tahu dengan para sahabatnya. Namun sebelum ia meneruskannya, bola mata Angga menelisik sepenjuru ruang kelas dan luar kelas dari dalam. Merasa situasinya aman, pemuda pemilik indera keenam tersebut mulai mengeluarkan kertas usang itu dari saku kantong celananya.


Angga kemudian menunjukkan kertas lusuh tersebut ke arah ketiga sahabatnya. “Soal kertas ini yang mampu buat gue bisa menerawang lebih jauh. Setelah gue menggali tentang kertas misteri ini, gue jadi mempunyai ide yang sanggup menyelesaikan semuanya.”


“Kami sudah tahu kalau kertas itu kertas tentang pembullyan, Ngga. Karena bukti terangnya sudah ada di dalam kertas gak berfaedah itu. Lalu, sebenarnya kamu mempunyai ide apaan? Dan apa yang bakal kamu dan kita lakukan buat menuntaskan dari hubungan kertas yang ada di atas mejamu ini?” tanya Jova penuh jiwa penasaran.


“Ada satu yang butuh kita pastikan. Dan kalau memang aku mampu, semua ini bisa dibuktikan dengan ... surat kenangan terakhir dari Emily.”


BRAK !


Tak ada petir, angin, hujan, Reyhan menggebrak meja Angga dengan wajah tercengang. “Ngga! Sumpah, lo kok bisa tahu kalau ada surat kenangan terakhir dari Emily?! Selama ini kan gue apalagi yang lain belum ngasih tau elo soal itu!”


“Sesuai dari penglihatan gue saja, gak ada yang lain.”


“Wah keren! Indigo-mu sungguh tajam!” takjub Freya bertepuk tangan bervolume kecil.


Jova termenung sebentar setelah itu mengeluarkan suara untuk Angga. “Ngga, kalau tentang surat kenangan terakhir Emily buat Kyra sahabat SD-nya itu ... mungkin sampai sekarang ini masih Kyra simpen, terlebihnya dia pajang tempel di suatu tempat.”


Angga mengangguk paham. “Nanti kalian berdua ada waktu senggang untuk menemui Kyra di rumahnya?”


“Gue ada! Nanti sore pas pulang sekolah, kan?” tanya Reyhan semangat dan ditanggapi Angga dengan anggukan kepala.


“Untungnya nanti nggak ada acara keluarga, jadinya nanti sore pulang sekolah jam tiga bisa ke rumahnya Kyra. Emangnya kita berempat ke sana mau ngapain?” Jova bertanya lagi.


“Ekstra sabar dan tahan penasarannya dulu, ya? Kalian pastinya bakalan tahu apa yang akan kita lakukan di sana. Lebih baik kita tutup dulu soal tentang itu sementara agar kita bisa mengutamakan konsentrasi belajar di kelas ini nanti.”


Ketiga sahabatnya saling melempar pandangan bingung lalu secara kompak mereka menoleh menatap Angga dengan senyuman tipisnya sekaligus mengangguk mau memahami pada lelaki Indigo tampan tersebut yang penglihatan mata gaibnya terbilang sangatlah tajam.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Ting tong !

__ADS_1


Usai Angga memencet bel rumah Kyra, mereka berempat menanti sampai pintu dibuka oleh Kyra atau keluarganya yang ada di dalam rumah. Tak butuh waktu yang lama, pintu rumah nang hanya satu daun pintu dibuka oleh sang ibu Kyra dengan nama Arty.


Setelah membukanya sedikit lebar, Arty keluar tanpa menginjak teras rumah. Arty menarik kedua sudut bibirnya mengukirkan senyumannya atas kedatangan kakak-kakak kelas anak remaja perempuannya. “Eh Freya? Angga? Jova? Reyhan? Tumben datang di mari, hehehe.”


“Assalamualaikum Tante, kami ke sini ingin menemui Kyra. Apakah Kyra-nya sudah pulang?” tanya Jova dengan sopan.


“Waalaikumsalam. Oalah kalian ingin bertemu Kyra, ya? Kebetulan sebelum kalian datang ke rumah, anak Tante sudah pulang. Itu lagi ada di dalam, kalian berempat masuk saja dulu, biarkan Tante panggilkan Kyra di kamarnya.”


Arty melebarkan pintunya untuk mempersilahkan keempat remaja tersebut masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu sebagai ruangan utama. “Terimakasih, Tante Arty.”


Arty tersenyum lebar pada kesemua empat remaja anak SMA yang duduk di bangku kelas XI IPA 2. “Sama-sama, yasudah yuk sini masuk ke dalem. Jangan berdiri terus diluar, nanti pegel lho.”


“Ehehe, iya Tante. Terimakasih perhatiannya pada kami,” ucap Reyhan.


Mereka berempat mulai memasuki dalam rumah Kyra yang sangat sepi kemudian Arty dengan senyuman ramahnya menyuruh Angga, Freya, Jova, dan Reyhan untuk duduk di kursi sofa ruang tamu. Mereka duduk diam di situ dan sesudahnya, Arty meninggalkan keempat remaja tersebut lepau memanggil Kyra yang sedang berada di kamar atas.


Di dalam ruang tamu, sekelompok empat persahabatan itu hanya perlu menunggu kehadiran Kyra turun dari atas tangga. Beberapa menit setelahnya, mereka berempat menoleh bersamaan ke Kyra yang tengah melangkah mendekati empat kakak kelasnya.


“Hai adek cantik! Sini duduk,” titah Reyhan menyuruh lembut adik kelas sepuluhnya dengan senyuman ramah, membuat Kyra manggut-manggut bersama senyuman kalemnya.


“Hai, selamat sore Kak Freya, Kak Jova, Kak Angga, Kak Reyhan. Hehehe, tumben dateng ke rumahnya Kyra, ada perlu apa, nih?”


“Harusnya yang bilang selamat sore, kami dong, Dek. Kakak mau pinjem suratnya Emily!”


“Hah?! Apa, Kak Reyhan?! Suratnya Emily?!” kejut Kyra pada Reyhan yang langsung ke intinya.


Angga langsung menyiku lengan Reyhan dan mulai menekankan pembicaraannya kepada sang sahabat. “Heh, lo terlalu to the point !”


Reyhan menggaruk kepalanya dengan cengar-cengir seperti orang gila dan pada akhirnya Angga yang mewakili para ketiga sahabatnya. “Sebelumnya maafkan Kak Angga, Kak Reyhan, Kak Freya, dan Kak Jova karena sudah mengganggu waktunya Kyra di sore ini. Kakak di sini ingin bertanya sama kamu, Kyra masih menyimpan surat terakhir dari almarhumah sahabat Kyra?”


Kyra langsung mengubahkan senyumannya menjadi hambar dan nyaris pudar. “Masih kok, Kak. Kalau Kyra boleh tau, kenapa Kak Angga bertanya soal itu?”


“Begini Ky, kalau Kyra memperbolehkan ... apakah Kakak boleh meminjam sebentar suratnya almarhumah Emily?”


“Maaf Kak, untuk apa?” tanya Kyra lirih dengan wajah gundahnya.


Angga memberikan senyuman aura nyamannya pada Kyra. “Kakak ingin ... menyelidiki sesuatu dari kaitannya dengan surat yang dituliskan almarhumah sahabatmu. Boleh, kan Kakak pinjam sebentar? Tapi kalau Kyra menolak, Kakak juga nggak akan maksa, kok. Kakak hanya butuh jawaban Kyra, boleh atau enggak.”


‘Menyelidiki? Apa kak Angga seorang lelaki detektif atau bahkan mungkin mempunyai suatu kelebihan di jiwanya kak Angga? Kenapa aku yang jadi penasaran begini, ya? Apalagi sebenarnya aku nggak percaya kalau Emily bunuh diri tanpa sebab, hhh ...’


Gadis berusia 16 tahun tersebut yang masih mengenakan seragam almamaternya, kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Angga yang sedang menanti jawaban lama dari Kyra. “Kakak tunggu di sini dulu, ya.”


Tanpa basa-basi lagi, Kyra beranjak dari kursi sofa singlenya dan berjalan meninggalkan ruang tamu lalu menaiki tangganya untuk menuju ke kamar tidurnya. Setelah itu, Kyra keluar dari kamar dan menuruni undakan anak tangga. Keempat remaja berusia 17 tahun tersebut melihat Kyra yang membawa sebuah buku diary miliknya.


Kyra kemudian duduk di kursi sofa tempat dimana ia duduki tadi. Gadis berambut coklat terang itu kini tengah membuka gembok menggunakan kunci perak kecilnya supaya kotak buku diary tersebut bisa dibuka dikarenakan sebetulnya itu adalah buku privasinya dirinya. Setelah berhasil dibukakan olehnya, Kyra membuka-buka beberapa lembarannya yang banyak sekali tulisan-tulisan tangannya yang berisikan curahan hatinya. Remaja kelas X IPA 5 tersebut berhenti menggerakkan jarinya untuk membuka lembaran saat ia telah menemukan secarik kertas surat yang ia tempelkan pakai selotip sakuranya.


“Tadi katanya Kak Angga pengen pinjam surat kertas dari almarhumah sahabatnya Kyra, ya? Hmm, Kakak boleh kok meminjamnya.”


“Hah? Beneran, Ky?! Kami boleh meminjam surat kertas dari Emily?”


“Iya, Kak Freya.” Kyra melepaskan perlahan selotip dari ujung atas lembaran buku diary-nya. Beruntung saja selotip bergambar bunga sakura itu tak dapat merusak ataupun merobek lembar buku diary punyanya.


Sekarang ini Kyra memegang kertas coklat berbahan halus itu dan mengelusnya bersama senyuman lara. Kedua mata gadis yang hampir menitikkan air matanya mulai balik menatap Angga. “Kak, kalau bisa pinjamnya jangan lama-lama, ya? Karena ini adalah satu kenangan terakhir Emily yang paling berharga buat Kyra ...”


Angga mengangguk. “Tenang, Kakak nggak akan pinjam kertas miliknya Kyra dalam waktu yang lama. Sebenarnya Kakak sudah tahu Kyra tidak mau kalau Kakak mengembalikan suratnya Emily besok, jadi nanti malam Kak Angga bakal kembalikan, ya ke rumahmu.”


“Oh nanti malam, ya? Ehm, yasudah deh kalau begitu. Tetapi Kak, Kyra tolong mohon kertasnya jangan sampai rusak dan kotor ya, Kak Angga?”


“Itu nggak akan, Kyra. Kamu percaya, kan sama Kakak?”


Kyra menganggukkan kepalanya antusias dengan masih menatap Angga yang auranya begitu membuat gadis itu nyaman dan tak takut padanya yang padahal sifatnya terkenal komplit antara dingin, cuek, dan kurang peduli pada lingkungan atau dunia luar. “Kyra percaya, kok dengan kak Angga serta juga sahabat-sahabatnya Kakak!”


Angga bernapas lega setelah rupanya Kyra terlihat sangat percaya padanya. “Makasih ya Kyra, karena kamu mau mempercayai Kakak dan juga dengan lainnya.”


“Iya, Kak Angga. Sama-sama.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Rumah Angga


Ketiga sahabat pemuda Indigo tersebut saling berdiam dengan tatapan tak terlepas dari Angga yang tengah menggenggam surat kertas coklat almarhumah Emily yang mati diduga bunuh diri jatuh dari rooftop SMA Galaxy Admara.


Angga yang duduk di sofa bagian kiri terlihat seperti siap melakukan penerawangan melalui mata batinnya meskipun dengan pegang benda belum pernah sama sekali Angga lakukan. Dirinya mulai memejamkan matanya untuk melihat semuanya tentang kematian Emily sesungguhnya.

__ADS_1


Namun malangnya karena insiden mengerikan itu ada pada di 5 bulan yang lalu, Angga yang hampir mendapatkan penglihatannya menjadi kacau kisruh. Seakan-akan bayangan terawangannya pecah seketika dan kepala Angga seperti dihantam oleh batu yang ukurannya begitu besar. Kedua tangannya bergetar hebat, sedangkan mukanya memucat drastis maksimal. Hingga pada ujungnya dikarenakan lelaki tampan tersebut tak sanggup menahan rasa sakit dari cedera kepalanya, pandangannya langsung menggelap singkat pula juga tubuhnya ambruk terbaring lemah.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2