Indigo

Indigo
Chapter 20 | A Bad Omen Happened


__ADS_3

Usai semua yang ada di sekitar Anggara melihat diri Anggara tak baik-baik saja, Anggara di minta Andra untuk beristirahat di sebuah kamar di lantai atas. Sebelum tiba di kamar, Anggara sedikit dipapah oleh Reyhan dan Rangga.


Di dalam kamar, bergantian lah Reyhan meminta Angga untuk berbaring diri di kasur sementara selain sahabat-sahabat Anggara, mereka keluar mencari kamar masing-masing sesuka hati yang mereka suka. Freya duduk di pinggir kasur sambil mendekap tas punggungnya lalu menatap Anggara yang kembali menyentuh kepalanya.


“Kenapa kalian masih ada di sini? Tinggalin gue aja di sini, nggak masalah,” ucap Anggara dengan memejamkan matanya karena kepalanya masih terasa sakit.


“Malah ngusir lu, Ngga! Eh, elo kenapa lagi, dah? Aneh bener,” respon curiga Reyhan.


Anggara tak menjawabnya, ia malah menghela napasnya membuat diri Reyhan mendengus kesal pada Anggara yang tak menanggapinya. Reyhan mengambil botol minum Tupperware berwarna blue olympic berukuran sedang, Reyhan membuka tutup botol bermerk itu lalu menyodorkan botol miliknya tersebut ke Anggara.


“Minum, nggak?” tanya Reyhan.


“Gak perlu. Gue bawa sendiri,” sangkal Anggara.


Kini Anggara telah bisa mengeluarkan suaranya kembali yang sebelumnya sangat tercekat sehingga Anggara kesulitan untuk berbicara. Anggara meraba tas pundak merah merk-nya. Setelah mendapatkan tasnya, ia membuka resleting tas punggungnya untuk mengambil botol air minum bermerk Tupperware berwarna black misty.


Anggara menyandarkan punggungnya di kepala ranjang tidur dan lantas itu meneguk air yang ada di dalam botolnya hingga tandas. Keringat dingin Anggara masih mengalir, dengan itu Anggara mengelapnya menggunakan telapak tangannya.


Anggara kembali termenung, memutar otaknya kembali pada kejadian yang mendatangi pada penglihatannya. Tentu masih bisa Anggara ingat sosok wanita menyeramkan berumur 32 tahun itu yang sangat-sangat mirip pada mimpi buruk Anggara saat ia ber-camping hari-hari yang telah berlalu di hutan ini. Apakah jangan-jangan semua ini belum berakhir secara baik? Anggara memutuskan untuk membuang pikiran negatifnya ia tersebut barusan dari benak otaknya yang telah menggerogoti isi pikirannya.


Anggara menatap langit-langit dinding betul-betul, meskipun villa itu terlihat baik-baik saja saat di pandang orang lain biasa, tak juga dengan Anggara. Anggara merasakan aura-aura berbau mengerikan sekarang ini. Anggara mengedarkan pandangannya dari dinding atas ke jendela kaca yang tertutup. Anggara memandang jendela luar tersebut sembari menggenggam botol Tupperware black misty-nya.


“Ngga, kamu kenapa? Kok kayak ngeliat jendela situ, kamu seperti bingung gitu??” Freya menatap aneh pada wajah Anggara yang nampak setengah bingung dan pula setengah heran.


Tak ada jawaban dari Anggara, mata pandangan Anggara nampak kosong alias melamun kembali. Reyhan yang duduk bersilang, geram karena sahabatnya melamun lagi, tak segan-segan itu, Reyhan langsung menyentil kening Anggara rada keras.


“Sialan! Kurang kerjaan ya, lo?!” bentak Anggara yang terbuyar dari lamunannya.


Reyhan mendengus jengkel. “Gue bukannya kurang kerjaan, tapi nyadarin elo dari bengong! Elo sebenernya kenapa, sih?!”


“Apa lo bisa jawab tanpa ngegas?! Daripada gue suruh elo keluar dari kamar gue!”


“Hadeh! Iye-iye, maaf! Nah, mending lo jawab aja pertanyaan gue yang belum sama sekali lo tanggapi. Elo kenapa? Atau ... lo ngeliat sesuatu yang gak bisa kami bertiga lihat?”


Untungnya si Rangga telah keluar dari kamar, jadi Anggara bisa bebas menjawabnya dengan non kebohongan terhadap para sahabatnya yang menatap mukanya secara intens. “Iya. Tapi gue lihatnya bukan di sekitar kamar ini, tetapi dalem mata penglihatannya gue.”


Ketiga sahabatnya Anggara saling menatap satu sama lain, karena bingung apa yang barusan pemuda itu maksud. Merasa penasaran, Reyhan mendekatkan wajahnya ke muka datar Anggara. “Mata batin, ya? Apa yang lo lihat, Bro??”


“Singkirkan muka lo dari gue!” sentak Anggara kesal seraya tangannya mendorong muka sahabat hati Friendly SMP-nya.


“Woi! Dorongnya pelan-pelan aja, napa?! Lo nggak liat, apa? Hidung gue mancung sempurna gini kayak perosotan? Nanti kalau jadi pesek gimana, hayo?! Harga nilai ganteng gue bisa turun drastis, anjay!”

__ADS_1


“Idih, sok ganteng, mending kamu ngaca dulu deh di cermin Kuntilanak, sapa tau akhirnya kamu bisa lihat kamu ganteng apa buruk rupa.”


“Anjir banget ini cewek Sableng one.”


Reyhan berkata lirih disambung mengomel-ngomel, “Woi, Nona Sableng! Masa aku ngaca-nya di depan cermin Kuntilanak, sih?! Yang ada jiwaku jadi santapan dia, dong!”


“Loh? kamu, kan ganteng. Barangkali Kuntilanak itu adalah setan genit yang lagi sibuk nyari Cogan (Cowok ganteng). Gak ada salahnya dong, kamu jadi mangsa pencariannya si kuntilanak dalam cermin itu yang buat kamu ngaca rupa-rupa tampan-mu itu.”


'Dih males banget gue bilang si kunyuk itu ganteng, padahal, kan dia si buruk rupa.'


Reyhan mencuatkan matanya mendelik ke Jova dengan mendengus serta menggertak giginya kesal. Reyhan begitu karena ia bisa mendengar suara isi relung hati Jova berkata apa. 'Buruk rupa' sungguh Reyhan tak terima dikatakan wajah tampannya di rendahkan. Reyhan membuka suaranya secara mengomel-ngomel protes pada sahabat gadisnya yang sifat sablengnya tidak tertolong.


“Enak aja kamu ngatain mukaku buruk rupa! Ey, cewek sableng sejagat raya, muka aku ini udah ganteng bersih and sempurna. Bahkan saking gantengnya aku, banyak adek-adek kelas kita nge-fans aku banget.”


“Huek! Amit-amit, dah!” Jova menggelengkan kepalanya dengan berdecak. “Nge-fans? Iya juga, sih adik-adik kelasmu banyak suka denganmu yang terkenal populer itu di sekolah. Tapi heran aja, dah kenapa cowok kampret kayak kamu gini banyak di fans banyak orang? Apalagi kamu kan cowoknya minus akhlak. Aku pun yang sebagai sahabatmu, ogah main fans-fans ke kamu. Nanti kepalanya jadi besar kayak balon udara.”


Reyhan melongo karena tidak ada habis-habisnya Jova terus menghinanya yang tidak-tidak. Pada akhirnya, pemuda humoris tersebut mendengus kesal. Ingin rasanya ia menyumpal mulut Jova pakai tanah kuburan. “Bjir!”


“Ikan mujaer,” jawab Jova sekenanya.


Anggara dan juga sahabat kecilnya yaitu Freya, menepuk keningnya bersamaan. Merasa tobat dan Stress mendengar pula melihat tingkah Reyhan serta Jova kalau berdebat mulut ujungnya menjadi saling bobrok. Bahkan sikapnya sudah macam pertengkaran kucing-tikus.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Anggara turun dari kasur empuknya lalu melangkah mendekati pintu kamar yang tertutup rapat, jelas tentunya pada endingnya ia mengecek siapa yang sudah menganggu aktivitas tidurnya di malam ini.


Cklek ...


Anggara membuka pintu kamar no 001 sangat perlahan agar yang lainnya sibuk pada mimpinya masing-masing tak terusik sama sekali. Tanpa menutup pintu dari luar, Anggara langsung melangkah beberapa kilometer hingga sampai di undakan anak tangga. Tangga tersebut berhadapan dengan kamar no 005 yaitu kamar miliknya Lala. Anggara berjalan menuruni anak tangga untuk mengecek siapa yang mengetuk pintu larut malam pada pukul jam 23.59


Usai menuruni tangga, Anggara membelok ke arah kanan untuk menuju ke pintu villa yang utama. Pintu tersebut memiliki jenis dua daun pintu, dan posisi pintunya masih tertutup rapat. Dengan jiwa pemberaninya, salah satu tangan Anggara membuka salah satu dari pintu villa tersebut buat mengecek seorang siapa yang mengetuk pintu di tengah malam seperti ini.


Anggara menghembuskan napasnya kasar. Tak ada seorang pun yang berada di teras villa. Insting dirinya mengatakan, ia diganggu oleh makhluk halus yang menganggu aktivitas tidurnya tadi. Barusan hendak melengos memasuki dalam villa kembali, pandangan Anggara menangkap sesosok wanita misterius yang berjalan di daerah jauh bangunan villa tersebut.


Ada seraut ekspresi curiga dari wajah tampan putihnya Anggara. Dengan penasaran, lelaki pemilik indera keenam tersebut segera meninggalkan villa untuk mengikuti kemana wanita misterius itu pergi.


Anggara menyusuri jalan yang hawa cuacanya begitu sangat dingin, tetapi tidak ada masalah dikarenakan Anggara posisinya mengenakan jaket. Anggara terus melangkah membuntuti sosok wanita itu yang cara jalannya nampak lesu. Anggara sebenarnya tidak tahu tentang jalur arah sepi ini, namun dirinya tetap mengikuti sosok tersebut.


Tanpa Anggara sadari, ia telah menginjak alas tempat yang bernuansa alam mencekam di hutan kota Bogor ini. Dan kini Anggara sangat terkejut melihat wanita tersebut berhenti di ujung jurang. Mau apa sosok misterius itu?


Anggara yang berada di belakang punggungnya terus memperhatikannya dengan mata terawangan batin miliknya usai ia berhenti melangkah yang sudah ia tempuh jalan ini selama beberapa kilometer.

__ADS_1


Kreeekk !!


Seakan-akan jantung Anggara hampir berhenti karena wanita tersebut yang menghadap belakang, kini menoleh ke Anggara. Yang menoleh hanya kepalanya saja yang ia putar ke belakang tanpa anggota tubuh lainnya. Rambut kusut warna hitam seringai bibir menyeramkan dan kedua mata yang bola mata masing-masingnya melotot ingin keluar dari tempatnya. Tentunya Anggara langsung ingat siapa wanita itu. Ya, wanita itu adalah arwah yang tadi Anggara lihat di mata gaibnya.


“Kamu mau banget, sih ikuti aku ke sini? Dengan kamu penasaran hingga mengikuti aku sampai sini, sama saja rasa penasaran-mu ini akan mendatangkan malapetaka sebentar lagi.”


Anggara terdiam tak bisa berkutik sedikitpun, wanita menyeramkan itu seperti sengaja membuat Anggara tak bisa pergi melarikan diri darinya.


“Oh iya, aku senang melakukan aksi membunuh ... sama seperti apa yang telah dilakukan mereka disaat membunuh semua keluargaku. Aku ingin kamu juga mati seperti keluargaku.”


DEG !


Wanita menyeramkan itu mengeluarkan lidah yang ukurannya amat panjang seperti tali lalu dengan sendirinya, lidah wanita tersebut mengikat erat leher Anggara ibaratnya membelenggunya. Lidah menjijikan tersebut berhasil menarik diri Anggara hingga tubuhnya mengambang dari tanah yang ia pijak.


Saat Anggara ditarik lehernya oleh kekuatan lidah gaib dari arwah wanita tersebut, sang makhluk gaib memutarkan kepalanya ke posisi awal sebelum menoleh ke arah manusia Indigo itu. Sementara, jantung Anggara nyaris ingin jatuh dari organ tempatnya dikarenakan tubuhnya kini mengambang sudah di udara tepatnya di atas dalamnya jurang.


“Hihihihi! Kamu adalah manusia Indigo yang paling bodoh yang pernah aku temui. Jadi, ucapkan selamat tinggal!” Meski lidah itu masih menjulur nan membelenggu erat lehernya Anggara, tetapi wanita arah tersebut sanggup mengeluarkan suara untuk berkomunikasi pada Anggara.


Tiga detik dalam hitungan, makhluk gaib yang muncul di penglihatan mata batinnya Angga pada sebelumnya, perlahan melonggarkan lidahnya dari leher manusia itu yang sosok tersebut belenggu erat. Makin longgar dan makin longgar lagi.


“WAAAAAAA!!!”


Anggara berteriak spontan saat dirinya terlanjur terjun terperosok ke dalam jurang secepat angin. Sementara di atas sana, sosok wanita yang merupakan arwah dendam tersebut mengukirkan senyuman puasnya karena berjaya mengakhiri nyawa manusia pemuda Indigo macam Anggara ini.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


“HAH?!”


Anggara sontak terbangun dari tidurnya lalu membangkitkan tubuhnya dalam keadaan duduk. Napas Anggara begitu memburu, terdapat keringat dingin di luar tubuhnya termasuk keningnya. Lelaki tersebut kemudian menyentuh seluruh tubuh miliknya memastikan dirinya tak menerima luka sedikitpun. Dan rupanya serta faktanya, tak ada.


“Huh! Mimpi buruk lagi.” Anggara terdiam bungkam sejenak usai mengetahui bahwa ia mengalami mimpi buruk saja. “Kenapa gue bisa mendapatkan sebuah mimpi yang kayak gitu? Sosok wanita misterius yang ternyata adalah makhluk gaib yang banyak menyimpan dendam besar?”


Tiba-tiba waktu sedang berpikir keras tentang maksud dari mimpinya itu, kepala Anggara terasa sakit menyerang. Hal itu membuat Anggara mengerang kesakitan sembari memegang kepalanya yang sangat berdenyut-denyut. Sayangnya, tak ada obat yang mampu menyembuhkan sakit kepalanya ini.


Dan karena air botol milik Anggara telah tandas, Anggara memutuskan untuk pergi keluar dari kamar no 001 lalu menuruni anak tangga kemudian setelah itu, Anggara melangkah pergi ke dapur buat meminum air putih yang telah tersedia. Anggara mengambil satu gelas berjenis pint glass sekaligus mengambil teko kaca bening lantas tersebut. Lantas, pemuda tampan itu segera meneguk air putihnya. Anggara meneguk air putih tersebut dalam gelas hingga tak tersisa. Kepala Anggara semakin berdenyutan hebat bak kepalanya tersebut sedang di pukul menggunakan palu beberapa kali.


Anggara merasakan ada satu orang yang di belakangnya. Seorang tersebut meniup tengkuk Anggara yang seketika Angga menjadi dingin dan cabar hati, perut Anggara menjadi terasa mual karena mencium bau anyir tak sedap alias bangkai busuk di sekitar belakangnya. Anggara memberanikan menoleh ke belakang dengan keadaan kondisinya yang kurang sehat.


Darah milik Anggara berdesir cepat, saat melihat sosok arwah hantu wanita mengerikan tengah sedang tersenyum menyeringai menatapnya. Angga tak bisa kemana-mana seolah dirinya terjebak oleh situasi bersama makhluk gaib aura negatif ini. Seakan-akan pula mulut-bibir Anggara dijahit sehingga lelaki Indigo tersebut tak dapat membuka mulutnya dalam posisi kondisi dirinya terkejut setengah mati.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2