Indigo

Indigo
Chapter 181 | Mutual Convince


__ADS_3

Siang tergantikan menjadi sore yang mendatangkan langit senja nang mana berwarna oranye. Kedua mata Reyhan yang terpejam, kini perlahan terbuka dengan sangat laun. Rasa timbul pening di kepala kembali menyerang, namun terlalu lemas untuk Reyhan raba menggunakan tangannya.


“Reyhan?! Kamu sudah sadar?!” bahagia Jihan memperlihatkan wajah semaraknya di atas muka pucat anak semata wayangnya.


“Ma ...”


Jihan hanya tersenyum sumringah saja lalu beralih melepaskan selang oksigen hidung yang Reyhan kenakan dan meletakkannya ke tempat asalnya. “Tetap berbaring, ya? Tadi saat dokter memberikan beberapa bungkusan obat untukmu, beliau menyarankan kamu buat memperbanyak istirahat. Agar proses masa pemulihanmu berjalan dengan lancar.”


“Reyhan haus? Biar Mama ambilkan air putih buat kamu,” tawar Jihan pada anaknya yang cuma diam mendengarnya berbicara.


Namun yang ditawar, memalingkan wajahnya dari wanita paruh baya itu. Raut mukanya kini begitu kusut mengingat Angga yang mengalami Koma bersama kondisinya nang semakin memburuk.


“Rey?” panggil Jihan lirih seraya mengusap lengan tangan kanan Reyhan yang tertutupi oleh baju pasien panjangnya.


“Apa penyebab dari Angga Koma? Jawab Reyhan, Ma. Reyhan ingin tahu.”


“N-nak, kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?” tanya Jihan dengan hati pilu.


“Tolong jawab dan jelaskan semuanya ke Reyhan, Ma. Tetap bagaimanapun, Angga itu prioritasnya Reyhan,” sanggah Reyhan tanpa memedulikan pertanyaan ringan dari sang ibunya.


Jihan menghela napasnya berat seraya duduk di kursi tanpa mengalihkan pandangannya dari muka Reyhan yang tetap menghadap ke arah kiri. Bahkan beliau sekarang menggenggam telapak tangan kanannya Reyhan pakai kedua telapak tangannya.


“Mama akan menjawab dan penjelaskan semuanya tentang Angga. Tapi, setelah itu Reyhan jangan marah dan dibuat pikiran, ya?”


“Apa, Ma?”


“Sahabatmu Koma bukan karena penyebab dari sebuah insiden kecelakaan, tetapi tragedi insiden aniaya dari perbuatannya seseorang.”


“Siapa pelakunya?” geram Reyhan tanpa menoleh ke arah Jihan dengan lumayan mengepalkan telapak tangan bagian kirinya.


“Pelakunya adalah, Gerald Avaran Dedaka ...”


‘Apa? Gerald Avaran Dedaka?!’


Mengingat nama lelaki bengis itu, otak Reyhan langsung terputar singkat ke sebuah tragedi dimana ia dan Angga berada di rumah markas yang ruangannya cukup lingkup dengan cahaya temaram. Bahkan Reyhan juga ingat beberapa perkataan Gerald untuk sahabatnya.


...Lo harus menyaksikan bagaimana gue menyiksa Reyhan, sahabat terbaik lo! Mungkin yang akan gue lakukan ini bakal bisa membuat Reyhan kehabisan nafas lalu mati, sebelum nyawa lo benar-benar tamat di tangan gue !...


'Sebelum nyawa lo benar-benar tamat di tangan gue'. Ya, Reyhan ingat itu semua! Sebuah suara mulut Gerald yang mengintimidasi hatinya Angga. Sudah dibuktikan memang Gerald, lah pelakunya yang membuat sahabat Indigo-nya terserang Koma.


Dan tentang peristiwa yang terjadi di dalam markas, Reyhan menjadi tahu mengapa ia bisa masuk rumah sakit ini hingga mengalami Kritis, tentulah Emlano sang rekannya Gerald yang membuat dirinya sekarat. Seluruh giginya menekan kuat dengan rahang yang mulai mengeras, kedua telapaknya mengepal erat disertakan hela napasnya yang naik-turun karena saking emosinya.


“Sudah, jangan kamu pikirkan. Tenangkan dirimu sejenak waktu demi kesehatanmu-”


Reyhan menolehkan kepalanya cepat ke arah Jihan dengan mata melotot sempurna. “Reyhan gak bisa, Ma! Emangnya dengan Gerald seenaknya buat Angga Koma, Reyhan akan diam saja?! Enggak!!!”


Jihan mengelus-elus bahu kanan putranya untuk meredakan hatinya yang berkecamuk emosi tinggi. “Reyhan, dengarkan Mama! Gerald sekarang sudah menjadi urusannya polisi untuk mendapatkan ganjaran hukumannya di dalam penjara bersama Emlano yang membuat kamu Kritis.”


“Tetap bagaimanapun, Reyhan gak terima, Ma! Sama saja Gerald sudah membuat Angga mengalami Koma hingga dua kali! Dan Mama tahu?! Gara-gara perbuatannya mantan Freya, kondisi Koma Angga terbilang semakin memburuk dengan detak jantungnya yang melemah! Bagaimana jika suatu saat nanti Angga mati karena kebejatannya Gerald?!”


“Nak! Kenapa kamu bilang seperti itu, sih?! Kamu sama saja mendoakan Angga cepat meninggal dunia, lho! Ingat, Reyhan ... ucapan itu adalah sebuah Doa. Kamu jangan asal berucap yang negatif,” sentak Jihan membuat Reyhan bungkam bibir.


“Hiks! Tapi ...” Reyhan memutuskan pembicaraannya yang sengaja ia hentikan lalu meraup wajahnya Stress.


Jihan kembali menggenggam telapak tangan Reyhan dengan menatap matanya lekat. “Kamu telah mengetahui keadaannya Angga, kan? Iya, Mama paham, kok. Memang parah, tetapi kamu jangan sekali-sekali berprasangka buruk terhadap Komanya Angga. Doakan saja yang terbaik untuk sahabatmu.”


Isakan tangisannya Reyhan sudah terdengar jelas di telinga ibunya, membuat hatinya beliau sakit. Bukan hanya sekedar menangis, tetapi pula amarah emosi yang begitu mendalam terhadap Gerald nang telah dihukum penjara di kantor polisi bersama teman yang bersekongkol dengan kekasih masa lalunya Freya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di hari berikutnya tepatnya di suasana pagi yang lumayan cerah, Reyhan tengah duduk ditepi ranjang pasien seorang tanpa ada yang menemaninya di dalam kamar rawatnya. Pandangan lelaki Friendly itu nampak tunduk ke bawah dengan wajah murungnya, kedua matanya ia pejamkan seraya menghela napasnya bersama beratnya karena harus menerima kenyataannya mengenai sahabatnya yang Koma.


...Ini sesuai apa yang dikatakan om Agra dari dokter, kondisinya Angga memburuk dimana detak jantungnya melemah, dan untuk kesadarannya kemungkinan hanya mampu mencakupi lima persen...


Reyhan merapatkan bibirnya dengan air mata kembali berlinang jatuh ke pipinya. Rasa emosi di hatinya juga belum memudar, walau harus terima tetapi jangan berharap Reyhan akan tenang terhadap kondisi parahnya Angga.


Akan namun mengingat suara penjelasannya Jevran waktu kemarin siang, ingatan Reyhan langsung maju ke memori pada kehadiran makhluk negatif raksasa mengerikan yang pernah ia tatap meski tak sengaja. Masih ada beberapa tanda tanya di kepalanya Reyhan, apakah sosok menggentarkan itu kenal pada Angga? Bahkan tatapan matanya menghunus tajam ke arah muka pucatnya.


“Makhluk serem itu. Kira-kira kemarin dia mau berbuat sesuatu sama Angga apaan? Apa jangan-jangan dia ingin menyerap seluruh energi sahabat gue yang sedang lemah di dalam Komanya? Sepertinya akan lebih baik gue ke sana untuk mengecek.”


Yang benar saja, Reyhan kini menurunkan kedua kakinya di atas lantai lalu siap memegang tiang infusnya untuk ia giring keluar bersama langkahnya. Sementara Jihan sedang membeli sarapan hangat untuknya di daerah pinggir RS Medistra Kusuma. Tak lupa setelah meninggalkan kamar rawatnya, Reyhan menutup pintunya dan mulai melanjutkan langkahnya untuk menuju ke lantai 4 menggunakan sebuah lift.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Pintu lift terbuka otomatis usai tiba di keinginan tujuannya. Reyhan melangkah keluar dari lift lalu berjalan menyusuri lorong lantai 4 yang selalu senyap bahkan jarang ada orang berlalu lalang melewati di bagian lorong tersebut.

__ADS_1


Setelah memasuki jalan pembelokan tempat daerah dua ruang rawat ICU yang patokannya berjejeran, Reyhan lumayan tersentak melihat sepasang suami-istri sedang menikmati mimpinya di dalam tidurnya di atas kursi yang mereka duduki belakang tembok nan sisi jendela kaca pembatas ruangan.


“Om Agra? Tante Andrana?” kemam Reyhan menatap kedua orangtuanya Angga.


Wajah di antara mereka berdua terlihat sedikit pucat karena memikirkan kondisi putra semata wayangnya yang justru menanjak teruknya. Ingin membangunkan, tetapi tidak tega dikarenakan mereka nampak sangat kelelahan karena terlalu banyak menjaga Angga.


Reyhan menghembuskan napasnya lalu memilih melewatinya saja untuk menjenguk sahabatnya dari jendela pembatas ruang intensif. Bola mata lelaki Friendly itu bergerak kesana-kemari buat mencari keberadaan makhluk raksasa tersebut.


‘Dimana dia? Giliran dicari, malah gak ada. Gue jadi penasaran siapa sosok yang kemarin di sampingnya Angga, sebenarnya dia itu siapa? Apa sosok itu mengenali sahabat gue yang mempunyai indera keenam?’


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Cklek !


Freya melebarkan pelan pintu kamar rawat sahabat lelakinya lalu memasukinya seraya bola matanya saling menelisik setiap ruangan yang terasa sepi. Mulut gadis cantik itu yang semulanya bungkam, kini menganga saat mengetahui bahwa Reyhan tak ada di atas ranjang pasien.


“Dia dimana? Atau lagi di kamar mandi?” Freya memutar langkahnya ke samping untuk berjalan mengecek kamar mandi yang dekat sekali dengan wastafel.


Langkah Freya terhenti di depan pintu kamar mandi yang posisinya tertutup. Gadis itu mencoba mengetuk pintunya dengan memanggil sahabatnya. “Reyhan? Kamu di dalam?”


Tak ada respon apapun di dalam kamar mandi, membuat Freya mengerutkan keningnya. ‘Kok gak ada sahutan?’


“Rey?”


Freya kini beralih memegang handle pintu aluminium yang berbentuk bulat. “Ku buka, bukan masalah kali, ya? Soalnya gak disahut. Takutnya dia malah kenapa-napa di dalam sana.”


Freya menghempaskan napasnya lirih dengan wajah jenuhnya waktu rupanya di dalam kamar mandi tidak ada sosok sahabat lelakinya. “Yang benar saja. Reyhan kemana, sih? Dia, kan belum boleh keluyuran.”


Gadis lugu berambut panjang hitam legam sepunggung itu, memutuskan kembali menutup pintu kamar mandi lalu berjalan meninggalkannya. Di langkahnya, Freya merogoh ponselnya di celana panjangnya untuk menelpon Reyhan.


“Mending aku coba telpon dia dulu, deh. Siapa tahu dia lagi pergi kemana, gitu.”


Setelah membuka aplikasi WhatsApp-nya di layar ponselnya, Freya memencet kontak Reyhan untuk segera menghubunginya agar ia tahu sahabatnya sedang berada dimana.


Drrrrtt...


Drrrrtt...


Freya tersentak kemudian mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke atas meja nakas sebelah ranjang pasien. Lagi-lagi gadis itu yang berusaha mencari Reyhan, menghempaskan napasnya. “Astaga, HP-nya gak dibawa? Lalu kalau caranya begini, aku harus cari dia kemana? Rumah sakit ini, kan luas banget.”


Freya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum simpul lalu balik badan meninggalkan kamar rawat tak lupa pula menutup pintunya sesudah berada di luar. Gadis Nirmala itu melangkah menuju ke lift yang jaraknya lumayan jauh dari ia melangkah.


Usai menaiki lift, Freya menekan tombol angka 4 untuk menuju ke tujuan yang dirinya inginkan. Hanya membutuhkan beberapa detik saja, pintu lift dengan otomatis langsung terbuka dengan lebar dan menyambutnya bersama lorong lantai itu yang sepi serta sunyi. Freya lekas keluar dari lift lalu meneruskan jalannya yang tertunda.


‘Firasatku berkata, Reyhan ada di sekitar lantai ini. Sudah tentunya menengok Angga.’


Setelah membelok langkahnya ke arah kiri, Freya benar-benar melihat sosok punggung Reyhan yang mana pandangan matanya fokus menatap keadaan Angga nang terbaring lemah di dalam ruangan ICU tempat lelaki tampan itu mengalami Koma.


Dengan wajah gundah, Freya menghembuskan napasnya lalu menghampiri sahabat lelakinya yang nampaknya tak sadar atas kehadirannya nang mendatangi. Di sisi lain, Reyhan masih termenung dalam pikirannya mengenai makhluk pria raksasa tersebut. Ia menetap di depan jendela kaca pembatas ruangan, hantu itu tetap belum kunjung muncul di dalam ruang ICU-nya Angga.


‘Sialan. Siapa sih, lo? Kemarin siang mau gangguin sahabat gue yang Indigo?’


“Reyhan?” panggil Freya dengan memegang lengan tangan kanannya, membuat pemuda itu yang menggerutu dalam hati langsung terkaget nyaris tubuhnya melompat.


“Freya?! Astaga, kamu ngagetin aja. Untung jantungku nggak copot,” protes Reyhan sambil mengelus dada bidangnya.


Freya tersenyum. “Maaf. Kok, kamu di sini? Kamu belum boleh jalan kemana-mana, ayo aku antar ke kamar rawat. Kamu harus banyak istirahat biar cepat pulih. Memangnya kamu gak kangen rumah?”


“Maafin aku. Aku tadi cuman ...” ucap Reyhan seraya menoleh ke arah dalam ruang ICU Angga.


Freya mengernyitkan dahinya menatap wajah aneh sahabatnya. “Cuman apa?”


“Lupakan saja.”


“Lah? Kamu kenapa, sih? Habis lihat sesuatu di dalam ruangannya Angga?” tanya Freya.


“Aku bingung jelasinnya ke kamu. Nanti saja kalau sudah sampai di dalem kamar rawatku. Sekali lagi aku minta maaf, ya udah bikin kamu jalan jauh-jauh ke sini. Mungkin harusnya kamu ke ruangan tempat aku dirawat, bukan tempat ruang ICU-nya Angga.”


Freya tersenyum manis. “Gak apa-apa, kok. Aku juga ke sini pakai lift. Yasudah, yuk kita balik. Kamu pasti juga belum sarapan pagi, ayo aku bantu.”


Freya perlahan menuntun tiang infus Reyhan seraya mengajak tubuh lemas sahabatnya untuk pergi meninggalkan lorong lantai 4. Tetapi gadis itu menyempatkan diri buat menatap Angga yang matanya senantiasa terpejam damai seolah tengah tidur di dalam Koma kronisnya, di sisi lain pula Agra dan Andrana masih setia pada mimpinya yang mereka jumpai tersendiri. Freya begitupun Reyhan melangkah perlahan agar tidak membangunkan kedua orangtuanya Angga.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Setelah membantu Reyhan naik ke atas ranjang pasien di dalam kamar rawat, Freya membenarkan posisi letak tegak pada tiang infus tersebut lalu berjalan memutar ke meja nakas yang berada di sebelah sisi kanannya sang sahabat lelaki.

__ADS_1


“Tadi pas aku mau masuk ke gang rumah sakit Medistra Kusuma pakai motor, aku sempat lihat mamamu lagi asyik ngobrol sama temannya. Teman akrab mungkin, soalnya kedengaran seru saja berbincangnya. Nah, di situ aku mulai menawari beliau kalau biar bubur ayam ini aku antarkan ke ruang rawatmu sekaligus jenguk kamu.”


“Oh,” singkat Reyhan dengan menganggukkan kepala.


“Yap.” Freya mengobrol ringan dengan Reyhan seraya kedua tangannya bergerak membuka plastik bening untuk ia tuangkan kuah dari bubur ayamnya ke mangkuk tepat atas bubur hangat yang berwarna putih.


“Mau pake kerupuk, gak?” tanya Freya sambil menoleh ke arah sahabatnya.


“Hmm ... boleh, deh.” Reyhan menjawab setuju dengan senyuman simpulnya yang merekah di wajah tampannya.


“Oke,” gubris Freya dengan senyum manis lalu mencampurkan toping beberapa kerupuk warna-warni di atas bubur ayam yang akan untuk sarapan Reyhan.


Kini sekarang Freya mengangkat bubur ayam itu ke Reyhan yang senantiasa duduk setengah berbaring di ranjang pasien. “Kamu bisa makan sendiri? Kalau gak mampu, biar aku bantu suapi kamu.”


Reyhan menggeleng pelan sembari menerima mangkuk berisi bubur ayam hangat yang disodorkan oleh Freya. “Aku bisa sendiri, kok. Sans.”


Freya melebarkan senyumannya sekaligus kepalanya manggut-manggut. “Hati-hati saja makan-nya, daripada tersedak.”


“Siap.”


Di atas kursi dengan duduk diam manis, Freya memperhatikan Reyhan yang melahap bubur ayamnya setiap kali suapan ke dalam mulutnya. Sampai ke suapan terakhir, Reyhan mengedarkan pandangannya sesaat lalu menatap wajah cantik sahabat perempuan polosnya.


“Frey, Jova gak kamu ajak ke sini?” tanya Reyhan.


“Oh, Jova? Sebenarnya dia mau ke sini sama aku, tapi katanya ada acara keluarga yang buat Jova nggak bisa ke kota Bogor. Tadi pas aku sampai lobby rumah sakit, dia nelpon aku.”


“Oalah. Kasihan juga, ya? Pasti modelnya ngeluh sama merengek,” tuturnya.


“Hahaha, begitulah. Acara keluarganya pasti selalu menjadi penghalang dan penggagalan rencana yang sudah mantap. Yasudah, gih kamu lanjutin makan-nya. Tuh, kurang sekali suapan lagi.”


“Hehehe! Gaskan, Cantik.”


Setelah bubur ayam itu telah ludes dihabiskan oleh Reyhan, pemuda Friendly tersebut membentangkan tangannya bersama mangkuk yang ia pegang untuk ia letakkan di atas meja nakas. Sampai Reyhan tak sengaja berpusat kontak mata ke muka muram Freya yang pandangannya terlihat menunduk.


“Mikirin Angga, ya?” laun Reyhan dengan menggenggam lengan tangan mulus Freya yang terbungkus baju pink magenta panjangnya.


Freya menarik napasnya dalam lalu membuangnya dengan hati amat lara. “Iya ...”


“Aku gak tahu kenapa Angga harus mendapatkan takdir memilukan seperti itu. Terlebih, kondisi lemahnya seperti akan membawanya pergi dari dunia. Tapi aku gak pernah berharap hal itu terjadi ...”


“Iya, aku juga sama.” Kemudian Reyhan membuang mukanya dari wajah murung Freya dengan menghadap arah depan yang di tembok terpajang sebuah TV digital.


Reyhan tersenyum miris dengan hati dilumuri rasa amarah. “Aku gak nyangka Angga bisa kembali Koma seperti dulu, walau keadaannya berbanding jauh dari beberapa bulan yang lalu. Mungkin sudah saatnya aku mengubur emosiku dari cowok itu.”


Freya terkesiap sampai mendongakkan kepalanya dan menatap wajah raut Reyhan yang setengah murka. “K-kamu sudah tahu kalau Gerald-”


“Iya. Aku sudah tahu semuanya saat mamaku mau bercerita denganku apa yang telah terjadi sebenarnya. Gerald, mantanmu yang sudah tega membuat Angga terserang Koma!”


Freya mendengus dengan ekspresi wajah berpindah ke gaya lain ialah tampang sengit. “Aku gak tahu mana yang benar mana yang salah.”


Reyhan beralih menatap Freya. “Maksudnya?”


“Kemungkinan Gerald bukan mau bunuh Angga, tapi mau membunuh aku. Di saat itu memang aku akui, kalau tindakanku gak sengaja membuat emosi Gerald terpancing hingga tidak terkontrol, karena hatiku sudah dipenuhi rasa benci saking sebegitu kejamnya dia melukai hatinya Angga sampai dia menanjak dewasa. Tetapi pada akhirnya ...”


“Kok berhenti? Pada akhirnya apa? Ayo, ceritakan saja semuanya ke aku. Aku juga harus tahu apa aslinya dari peristiwa malapetaka yang menarik Angga ke serangan Koma.”


Freya menghela napasnya. “Setelah Angga terkena dua hujaman pisau yang ditorehkan sama Gerald, Angga berusaha menyelamatkan aku dari pukulan besi yang menjadi senjata cowok itu untuk membunuhku. Dan, kamu pasti tahu apa yang selanjutnya terjadi kepada Angga ...”


Napas Reyhan kembali tercekat usai terkejut nan tak menduga. “Angga mengorbankan raganya lagi?”


Air mata Freya kembali menetes. “Hiks, iya. Untuk keselamatanku agar nyawaku tetap aman, Angga merelakan fisiknya terluka dan tidak berdaya demi aku.”


“Dia bahkan siap jika nyawanya suatu ketika akan menjadi taruhannya setelah Gerald memperlakukan kekerasan itu walau gak disengaja,” tambah Freya seraya mengelap air linangan miliknya.


Reyhan tersenyum pilu lalu meraih pucuk kepala sahabatnya untuk ia usap lembut. “Angga terlalu menyayangimu dan mencintai kamu, mangkanya dia rela berkorban untuk jiwamu tanpa mau memedulikan apa yang akan terjadi padanya.”


“Hiks! Aku tahu, Rey. Tapi gak seharusnya Angga mengeluarkan tekad tingginya untuk menyelamatkan aku dari tragedi aniaya di dalam markas itu. Dia sudah sering terluka, tapi kenapa dia justru gak membiarkan aku saja yang terkena pukulan dari besi itu?! Bodoh banget ...”


“St-st-st. Sudah, jangan nangis. Aku tahu, kok hatimu saat ini lagi hancur dan marah. Iya! Kamu sama sepertiku. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan hari ini, Freya.” Reyhan menghapus sisa air mata sahabat perempuannya dengan gerakan halus.


“Dengan hati berat, aku harus sanggup menerima apapun keadaan Angga yang raganya melemah. Aku yakin, suatu saat nanti Angga bisa kembali bangun dari Komanya.”


Reyhan mengangguk antusias. “Aamiin. Angga itu adalah sosok yang kuat, dia gak gampang pergi meninggalkan kita. Walau kondisi dia sangat parah, tetapi setidaknya kita yakin terlebih dahulu kalau Angga suatu ketika akan kembali sadar dari masa Komanya.”


Freya berusaha memakai senyuman bibirnya kendati wajahnya balik sembab layak sebelumnya. Berupaya meyakinkan diri begitupun Reyhan bila kondisi kronis Angga jikalau suatu saat nanti mampu berubah menjadi transenden. Ya, semoga saja...

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2