
Di dalam kamar, Angga nampak baru saja bangun dari tidurnya. Kini sekarang pemuda Indigo tersebut meraba ponselnya dari meja nakas sebelah tempat tidur. Melihatnya di layar HP-nya menunjukan pukul jam 07.00
Angga tak bisa lama-lama untuk menatap layar handphonenya karena kepalanya masih terasa sakit bahkan ditambah rasa pusing. Dirinya memutuskan untuk meletakkan ponselnya kembali di atas meja nakas dengan lemas. Untuk bangun posisi duduk rasanya juga tak mampu akibat cedera kepala yang ia alami saat ini. Angga memutuskan untuk kembali tidur dan pergi ke alam mimpinya.
Tok !
Tok !
Cklek !
Pintu kamarnya dibuka oleh seseorang yang menampilkan Andrana yang melangkah masuk sembari membawakan nampan berisi sup daging ayam hangat serta teh panas yang masih mengepul. Mata Angga membuka sedikit disaat sang ibu mendekatinya.
“Nak, ayo sarapan dulu.”
Mendengar suruhan itu, Angga yang berselimutan sampai dada menarik sampai ke ujung kepalanya. Andrana tahu anaknya tak ingin sarapan pagi ini. Andrana tidak protes tetapi malah justru tersenyum seraya menggelengkan kepalanya lambat. Wanita berumur 40-an tahun itu duduk perlahan di pinggir kasur anak semata wayangnya. Tangan lembut Andrana mengulur lalu mengusap bahu Angga yang pemuda itu tutup bersama selimut hitamnya.
“Angga, ayo kamu harus sarapan dulu. Gimana sembuhnya kalau sarapan aja kamu nggak mau? Ayolah, Nak.”
“...”
“Angga?” panggil Andrana menunggu jawaban dari anaknya.
“Hmmm .. nanti aja, Ma.
“Lho, kok nanti? Ini udah jam untuk sarapan, Nak. Yuk.”
Angga tak bisa menolak lagi, titahan lembut Andrana membuat anaknya menuruti keinginan sang ibunya. Angga lantas itu segera menyingkap selimutnya dari kepalanya dan menatap Andrana dengan mata sayu-nya. Andrana mempunyai inisiatif cepat untuk membantu Angga bangun, sebelum itu Andrana meletakkan nampannya yang ia bawa di belakangnya agar tak tersenggol tubuh Angga.
Pertama Andrana menopang punggung Angga kemudian sedikit mengangkatnya dan ia sender kan punggung anaknya perlahan di kepala ranjang. Rambut Angga terlihat acak-acakan beserta wajahnya pucat. Jelasnya karena ia pulang kemalaman apalagi cuaca dingin berangin, terlebih nya Angga saat itu lupa memakai jaket.
Andrana menempelkan telapak tangannya di kening Angga dengan wajah sedikit risau. “Mama gak usah khawatir, Angga nggak demam. ”
Angga memegang tangan Andrana untuk menyingkirkannya dari keningnya. “Barangkali, kamu ternyata malah demam, Nak.”
Angga menggelengkan kepalanya lemah, sementara Andrana mengambil nampannya yang ia taruh tadi di belakangnya. Meski sup daging masakan dari sang ibu tercium menggiurkan akan tetapi rasa selera Angga sangat kurang, perutnya terasa tak enak atau mual.
“Jangan sekarang, Ma. Perut Angga lagi gak enak bener,” tolak Angga.
“Tapi Nak, perut kamu setidaknya harus terisi. Ayo, Mama suapin, ya?”
Angga melimbai kepalanya ke kiri, bermaksud ia tak mau menerima asupan makan yang diberikan oleh Andrana. Andrana bukan marah tetapi senyum sendu, terhadap anaknya.
“Ayo dong, Ngga ...” pinta Andrana nada lembut.
Angga menarik napasnya secara dalam-dalam kemudian menolehkan kepalanya ke Andrana lalu mencoba sedikit tersenyum dan mengangguk. Andrana pun ikut tersenyum pada Angga kemudian mulai mengangkat sendok yang telah terisi kuah dengan wortel, daging suwiran ayam yang di potong-potong kecil serta makaroni.
“Ehm, biar Angga saja Ma.”
“Yakin? Yaudah nih mangkuknya, perlahan megangnya jangan terburu-buru.”
Angga mengangguk mengerti lalu segera mengangkat mangkuknya dengan perlahan, namun hasilnya membuat meringis Andrana dikarenakan tangan anaknya yang gemetar hasilnya mangkuk tersebut ikut bergetar nyaris tumpah kuahnya. Andrana langsung cekatan mengambil balik mangkuk itu agar tak terlanjur jatuh dari pegangan tangan Angga.
“Meragukan banget kan, sudah sini .. biarin Mama aja yang bantuin kamu buat makan. Nih,” sodor Andrana dengan sendoknya.
Mau tak mau, Angga menuruti sang ibu yang sudah bertutur sangat lembut sepadan niat hatinya untuk menyuapi sang anak putranya. Dalam relung hati Angga berkata bahwa ia bukan anak kecil lagi yang harus diberikan seperti ini. Tapi, pemuda itu sendiri kondisinya masih sangat lemas untuk menyentuh apapun, bahkan untuk bangkit berjalan ia merasakan tubuhnya sempoyongan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di tempat Reyhan dan Freya, dua sahabat itu tengah asyik baringan di atas rumput hijau dengan nyaman. Namun secara tiba-tiba perut Freya berbunyi bertanda cacing sudah demo minta makan, gadis itu yang tak bisa menahan lapar langsung memegang perutnya dan sedikit mengelusnya. Reyhan yang melirik sahabat lugunya mengukirkan senyuman manisnya, paham ada apa dengan Freya.
“Kamu tunggu sebentar, ya.”
“Eh, kamu mau kemana, Rey? Kamu gak ninggalin aku jauh-jauh, kan?!”
Reyhan tertawa geli. “Hahahaha! Mana ada, aku cuman di situ sebentar doang kok. Mau ngasih sesuatu buat kamu.”
Freya tidak terpikirkan dan tak bisa menebak apa yang akan mau Reyhan berikan padanya. Melihat Reyhan bangkit posisi dan berdiri berjalan menuju ke satu arah, Freya pun bangkit duduk memperhatikan Reyhan.
Seketika Freya membelalakkan matanya disaat melihat tingkah konyol Reyhan. ‘C-cowok itu, manjat pohon?! Gila, mau ngapain emangnya?! ’
Seperti gaya hewan monyet jantan, Reyhan memanjat pohon dengan ahlinya dan bakatnya. Kedua kakinya mengangkang sementara dua tangannya terus bergerak untuk menggapai batang pohon besar buat Reyhan pijak nantinya. Freya ketar-ketir saat itu juga, takut kalau pada ujungnya Reyhan jatuh terjun ke bawah. Dan tentunya itu sangat amat sakit jika tubuhnya tak siap.
Ya, akhirnya Reyhan berhasil memijak batang pohon besar yang menurut Reyhan batang itu sangat kokoh. Freya meringis terhadap apa yang Reyhan lakukan sekarang, pemuda itu rupanya tengah berdiri mencapai beberapa buah apel merah segar ada di atas pohon. Sayangnya, sukar untuk Reyhan cabut buah apel tersebut dikarenakan oleh buah itu sangat jauh dari jaraknya Reyhan berdiri.
“Reyhan!! Hei, kamu ngapain sih di atas pohon?! Bahaya banget lho, gimana kalau nanti kamu jatuh?!”
“Tenang! Ini buat mengganjal perutmu yang keroncongan kayak celengan, tau! Udah deh kamu duduk manis di situ aja.”
Dengan usaha maksimalnya, tangan Reyhan terus mengulur untuk memetik buah apel merah yang ada di gantungan ranting pohon. Niat Reyhan tak mengambil satu, namun lebih dari satu jumlah buah apel. Jantung Freya berdegup sangat cepat, degdegan? Pastinya, sebabnya Reyhan terlalu nekat terlebihnya sangat keras kepala seperti Angga.
Freya hanya meratapi kegiatan Reyhan yang sangat membahayakan itu, bukan hanya sekedar bahaya namun Reyhan itu lelaki yang 'ceroboh' suka tidak hati-hati kalau bertindak sesuatu.
__ADS_1
Tiba-tiba, secara samar-samar Freya mendengar suara dahan pohon yang retak, asalnya dari bawah kaki Reyhan yang mana dahan pohon itu tengah Reyhan pijak saat ini. Di sisi lain, Reyhan telah berhasil memetik beberapa buah apel segar dan ia dekap di dada dengan satu tangannya.
Kra ... TAKK !!!
Matilah sudah! Benar pendengaran telinga gadis polos itu, dahan batang pohon yang Reyhan pijak benar-benar retak. Mata Freya mencuat kemudian berteriak memberikan peringatan untuk Reyhan. Kalau pohon itu pendek, tidak masalah karena Reyhan tinggi, masalahnya pohon itu tingkat menjulang tinggi.
“R-REYHAN AYO CEPETAN TURUN!! ITU BATANG POHON YANG KAMU INJEK BAKALAN PATAH!!!”
“Mampus ...” lirih Reyhan dengan melihat ke bawah.
Baru saja akan hendak cepat turun, dahan batang pohon tersebut telah patah duluan sehingga Reyhan terjun jatuh ke rerumputan hijau dengan sangat amat keras.
GEDUBRAK BRUK !!!
Nasib mau bagaimana lagi? Apes sekali nasibnya Reyhan, sudah jatuh ditambah kejatuhan beberapa buah apel, lagi di tepat mukanya. Tidak bisa membayangkan sakitnya seperti apa kalau Freya yang hanya melihat peristiwa apes terjadi pada Reyhan.
“Reyhan!!” Freya segera bangkit berdiri dan berlari menghampiri Reyhan yang jatuh terbaring di pinggir danau.
Freya menjatuhkan kedua lututnya perlahan di sampingnya Reyhan kemudian tangan lembut Freya menyentuh pundak Reyhan yang pemuda itu mengernyitkan matanya sedang merasakan kesakitan pada seluruh tubuhnya terutama itu di tangan kanan, dan punggungnya.
“R-rey! Kamu nggak apa-apa, kan?! Sini-sini aku bantu!”
Freya mengangkat badan Reyhan dengan kedua tangannya bersama sekuat tenaga kecilnya. Reyhan mengeluh sakit seraya ngedumel protes pada diri sendiri. Gadis polos sang sahabatnya mendesis dengan menatap Reyhan.
“Dibilangin suka ngeyel! Nih akibatnya keras kepala, jadi jatuh akhirnya!” protes Freya dengan kesal.
“Sahabatnya lagi kayak gini, malah di kasih protes gratis! Aku tuh niatnya mau ambilin apel buat kamu. Aku udah tau kalau kamu tadi lagi nahan laper, makanya itu aku mau ngasih apel sama kamu. Kan kasian, sahabatku yang unyuk-unyuk ini kelaparan.”
“Mau ngasih buah buat aku, kok malah kamu yang jadi korbannya? Hhh ...” ucap Freya dengan menggelengkan kepalanya.
“Itu tepat sekali, cowok itu harusnya berkorban untuk cewek, bukan malah cewek berkorban untuk cowok. Itu mah sih dunia terbalik.”
Freya menghembuskan napasnya. “Oke. Terus, mana aja nih yang sakit?? Banget deh Rey, kamu buat orang cemas mulu!”
“Maaf deh, maaf. But, don't worry girl, aku seperti ini sudah terbiasa kok .. ya pasti tau lah, aku cowoknya suka teledor apalagi gak ngecek keadaan. Tuh, contohnya kek yang aku panjat tadi. Tapi gakpapa lah, nih buah apelnya. Tolong di makan, cowok sahabat gantengmu ini sudah rela berkorban demi menuntaskan rasa laparmu di perut, hehehehe.”
Dari jauh jarak mereka berdua, datanglah seorang lelaki dewasa tampan berpakaian seperti kostum biru negara China, serta di samping lelaki asing itu ada seekor kucing putih corak kuning rada kecoklatan nang menggemaskan berjalan seiring langkah lelaki seusia anak kuliahan.
Lelaki dewasa yang memiliki mata sipit menawan itu tersenyum menatap Reyhan dan Freya satu persatu, sedangkan kucing yang di sebelah lelaki tersebut mendengkur menandakan sangat senang bertemu dua manusia berseragam SMA yang beda model pakaian yang mana manusia pertama mengenakan seragam rompi rapi berdasi, dan manusia kedua mengenakan jas almamater seragam disertakan pita rapi di kerah seragamnya.
‘Siapa cowok itu dan kucing yang di sampingnya? Perasaan baru lihat pertama ini,’ batin Reyhan curiga karena akan penampilan lelaki dewasa itu.
Kucing itu menolehkan kepala mungilnya ke lelaki dewasa tersebut. “Lihatlah, kita kedatangan dua orang yang bersinggah di tempat ini.”
“R-r-reyhan! K-kucing itu bisa ngomong ...!”
“Jangan bilang kalau mereka berdua bukan manusia dan hewan biasa, tapi yang mempunyai kesaktian untuk membunuh kita ...?!”
“Ehh! Jangan ngomong sembarangan kayak gitu! Kamu gak usah takut, ada aku di sini.”
Reyhan melemparkan tatapan tajam pada lelaki dewasa dan kucing yang mampu bicara tersebut, dalam posisi kondisi terduduk karena usai jatuh dari pohon ada satu kata pertanyaan sarkas untuk mereka berdua.
“Heh! Siapa lo berdua, hah?! Apa mau lo pada?!”
Lelaki dewasa yang tak berniat melukai Freya apalagi Reyhan yang memarahinya, malahan berusaha untuk menenangkannya. “Eh! Kami berdua tidak berniat buat menyakiti kalian, kok!”
“Apa kalian bisa dipercaya?” tanya Reyhan dengan nada ketus.
Bola mata kucing itu bergerak memutar dengan malas lalu menatap Reyhan. “Hei, kami berdua tidak akan membuat kalian meninggal dunia. Kami orang yang baik-baik, hati kami berdua juga tidak jahat.”
“Orang? Lah, elo kan kucing!” Reyhan menuding kucing itu dengan wajah bingungnya bersama nada tinggi.
“Astaga, baiklah aku akan menunjukkan wujud asliku. Jangan terkejut, ya saat kalian berdua melihat sosok diriku sebenarnya.”
Freya dan Reyhan saling menatap dengan raut wajah penuh kebingungan pada pengungkapan kata dari seekor kucing tersebut. Sementara kedua mata kucing itu menutup dan beberapa detik kemudian, sekujur tubuh kucing menggemaskan itu dipenuhi cahaya yang memancar sekitar tempat ia dan mereka berada. Reyhan dan Freya saling menutupi matanya masing-masing menggunakan lengan tangan kanannya.
Tak menunggu lama setelahnya, cahaya yang menyilaukan itu memudar begitu saja. Dan lihatlah sekarang, terdapat kucing itu berubah menjadi sosok perempuan dewasa yang tengah merangkak, di satu telapak tangannya menggenggam tongkat yang ujung atasnya berbentuk lingkaran biru transparan ukuran sedang yang di dalamnya berwarna-warni layaknya sebuah langit Aurora menari-nari dengan indahnya.
Freya dan Reyhan menurunkan lengannya masing-masing dan menatap perempuan dewasa itu. Perempuan dewasa tersebut bangkit berdiri dan sedikit membungkukkan badannya untuk membersihkan gaun lengan pendek krem ciamiknya. Inilah yang membuat pemuda dan gadis umur 17 tahun itu melongo oleh perempuan dewasa itu, dimana wajah cantiknya bak seorang nona Belanda yang berambut putih gaya bergelombang, lipstik merona merah natural dan serta postur tubuhnya yang ideal.
“Gilak, cewek ini cantiknya minta ampun,” gumam Reyhan kagum.
Kedua mata Freya berbinar dengan terbelalak lebar. “Wah cantik sekali seperti artis film dongeng Fantasi!” puji Freya.
“Wah, terimakasih atas pujiannya darimu. Kamu juga begitu cantik. Siapa namamu, manis?”
“Oh iya! Salam kenal, namaku Freya septiara Anesha .. ehm bisa di panggil Freya, hehehehe.”
“Wow is the wonderful ! Namamu sangat bagus, Freya. Baru pertama kali ini aku bertemu gadis secantik dirimu,” ujar perempuan dewasa itu dengan senyuman ramahnya.
“Hihi terimakasih pujiannya, oh iya kenalkan juga ini-" Freya menyengir saat melihat Reyhan yang masih melongo menatap perempuan dewasa tersebut dengan mata tak berkedip, Freya langsung menaikkan dagu Reyhan ke atas untuk membungkam kan mulutnya.
__ADS_1
“Ehehehe, ini Reyhan si sahabatku, nama lengkapnya Reyhan Lintang Ellvano.”
“Oohh, namanya cukup modern sekali, ya! Dan sepertinya kalian berdua sangatlah akrab dalam bersahabat.”
Lelaki dewasa itu yang sedari tadi diam mendengarkan perempuan dewasa tersebut berceloteh panjang lebar, dirinya melangkah maju.
“Hai, selamat datang di Ornaliea Asgremega untuk Reyhan Lintang Ellvano dan Freya Septiara Anesha. Perkenalkan, aku adalah Adretio Grefen Rolenfro. Aku merupakan lelaki pemilik alam tempat ini, dan perkenalkan juga perempuan ini adalah Sellynarla Rachaela Athalanearmala, temanku yang menemaniku untuk menjaga alam tempat ini semenjak lima tahun yang lalu.”
“Panggil saja Adretio, dan kalian bisa memanggil diriku Nearmala. Satu yang pasti yang tepat, kalian mestinya sangat nyaman berada di Ornaliea Asgremega, maka dari itu kalian tak mungkin mau meninggalkan alam sang pemilik temanku.”
“Aku tahu kami berdua lebih tua dari kalian, tetapi tolong kalian jangan memanggilku dan Nearmala sebutan 'kakak' sudah, panggil saja Adretio dan Nearmala.”
“O-oh oke, aku mengerti!” tanggap Freya semangat.
Reyhan yang diam, menganggukkan kepala dan pada akhirnya mengukirkan senyumannya. Rasa curiganya menghilang karena sudah membaca aura Adretio dan Nearmala.
“Oh, jadi aku dan Freya ada di alam ternama? Ornala Mega?”
Nearmala menepuk jidatnya. “Ornaliea Asgremega, bukan Ornala Mega!”
“Hei! Kamu jangan berkata kasar padanya, Nearmala! Apakah kamu tidak ingat mereka berdua adalah salah satu tamu istimewa kita?”
“Iya-iya, baiklah maafkan aku. Oh iya sepertinya kalau tidak salah lihat, dari kejauhan aku berjalan ke sini bersama Adretio aku melihat kamu jatuh dari pohon. Apakah sekarang kamu baik-baik saja, Reyhan?”
“Eeee, ya! Aku sudah nggak apa-apa, kok- akh!” Di saat ingin berdiri, tangan Reyhan sangat sakit untuk di gerakkan.
“Aku yakin kamu tidak baik-baik saja, mari aku obati tanganmu agar bisa sembuh seperti semula.”
Adretio berjalan mendekati Reyhan dan duduk di sampingnya, Adretio mengambil tangan Reyhan yang bermasalah perlahan kemudian mengeceknya.
“Tidak ada yang perlu di cemaskan, tanganmu hanya terkilir saja. Dengan obat ini pastinya tanganmu tak akan sakit lagi.”
“A-apa yang akan kamu lakukan dengan sahabatku?” tanya Freya dengan rada takut.
“Tenanglah, Freya. Adretio hanya menyembuhkan Reyhan, percayalah pada temanku dia tidak akan mencoba menyakiti sahabatmu.” Nearmala mengelus-elus bahu gadis itu dengan lembut.
Adretio mulai fokus dengan penyembuhannya pada lengan tangan Reyhan, lelaki dewasa tampan itu menempelkan telapak tangannya di atas lengan pemuda friendly tersebut, Adretio sedikit memutar telapak tangannya. Terjadilah efek yang Reyhan rasakan, seluruh tangan yang di obati Adretio seperti tersengat oleh listrik. Reyhan memejamkan matanya dengan mengatupkan bibirnya rapat-rapat untuk menahan sakit tak biasa dari efek tersebut.
“Tahanlah, sebentar lagi penyembuhan ini akan selesai.”
‘Kirain rasanya kayak di pijet, eh malah rasanya kek kesetrum colokan kabel mejikom di rumah.’
Merasa kegiatan untuk mengobati telah tuntas, Adretio memutar lagi telapak tangannya menjadi bentuk Vertikal. Cahaya yang menyinari telapak tangan lelaki dewasa sakti itu, hilang sedikit demi sedikit. Adretio tersenyum sumringah lega karena usaha ia untuk menyembuhkan tangan Reyhan membuahkan hasil yang sangat baik.
Adretio menyingkirkan telapak tangannya dari lengan Reyhan dan berkata padanya, “Bagaimana? Apakah tanganmu sudah tidak sakit lagi dibandingkan yang tadi?”
Reyhan mencoba mengangkat-angkat tangannya sekaligus menggerakkannya. “Sudah nggak sakit lagi! Dibuat gerak juga gak sakit!”
Melihat Reyhan yang senyum bangga dan bahagia, Adretio ikut tersenyum kepada pemuda friendly itu. “Syukurlah kalau begitu, lain kali kamu harus berhati-hati jika ingin bertindak serta melakukan apapun.”
“I-iya-iya, maafkan aku ... aku ingin berterimakasih padamu karena sudah ngobatin tanganku, rupanya kamu dan Nearmala orang yang baik. Sudah sempat aku curiga kedatangan kalian berdua tadi, tapi dugaan ku salah.”
“Sama-sama Reyhan, tidak ada masalah kalau kamu tadi curiga kehadiranku dan temanku, maklum saja karena kamu dan Freya baru pertama kali ini lihat aku dan juga Nearmala. Dan untuk gaya penampilanku, ini sudah pakaian khas dari Ornaliea Asgremega termasuk pakaian yang di pakai oleh Nearmala.”
“Ooohh, jadi begitu ya ternyata. Aku kira tadi kalian adalah orang dari negara yang berbeda. Kamu orang China dan Nearmala orang Belanda, tepatnya nona Belanda,” ungkap Freya lembut.
Adretio dan Nearmala saling tersenyum untuk menanggapi tuturan kata manis Freya si sahabat polosnya Reyhan. Dan kini sepasang sahabat tersebut merasa tenang dan nyaman berada di sisi lelaki dewasa yang bernama Adretio Grefen Lorenfro dan perempuan dewasa bernama Sellynarla Rachaela Athalanearmala. Tak ada lagi rasa curiga begitupun juga takut yang meliputi hatinya Freya dan Reyhan.
Sekarang, mereka berempat duduk bersama di tepi danau yang airnya tenang serta luasnya danau itu. Dari jauh sana terlihat ada pegunungan yang menjadikan Ornaliea Asgremega terkesan lebih memukau di pandang oleh siapapun. Hamparan rumput serta danau begitu sejuk serta udara segar yang pantas di hirup untuk menyehatkan oksigen.
Namun, tiba-tiba saja ada yang ganjal di hati Freya. Gadis polos itu merindukan seseorang yang ia sangat sayangi selain Reyhan. Angga, Jova, Rani, Lucas...
Rasanya Freya amat merindukan kedua sahabatnya dan orangtuanya yang berada di jauh sana. Padahal masih sebentar ia menempati tempat ini, mengapa ia malah justru secepat itu merindukan mereka?
‘Mama, ayah, Jova, dan kamu Angga ... aku kangen deh dengan kalian berempat. Kabar kalian di sana gimana ya? ’
Ingin rasanya bertemu pada sahabat kecil Introvert-nya, sahabat tomboy-nya, serta sang ibu dan ayah yang selalu sayang padanya sekaligus menaruh perhatian yang menunjukkan Rani dan Lucas menyayangi gadis cantik manis nan anggun ini. Akan tetapi, di tempat jauh berbeda seperti ini apalagi mereka berempat tentunya berada di Kota, Freya tak semudah itu bertemu pada yang ia rindukan.
Indigo To Be Continued ›››
•••
...Assalamualaikum, halo Readers setiaku semuanyaa!...
...Haduh, maafin aku banget ya Readers.. aku sudah lama nih gak update buat kalian, kalau gak salah aku telah nggak update 4 atau 5 hari deh kayaknya hehehehe, hampir satu minggu sih. I'm so sorry please 😟...
...Aku kasih tau alasan yang pastinya kenapa aku sudah lama tidak update, karena aku sakit dari kemarin dan sampai sekarang masih belum sembuh. Tapi aku tetep berusaha kok menyenangkan hati kalian dengan chapter terbaru di cerita novel Indigo ini. Plong banget hatiku karna udah berhasil update sore hari ini 🥺...
...Okelah hanya segitu dari aku si Author Ansyanovels yaa para kaum pembaca ku semua. Mohon maaf bila ada kesalahan kata di permintaan maaf ku 🙏🏻...
...Stay berhati hatilah Readers, typo bertebaran dimana mana 😂⚠️😂...
__ADS_1
...Wait For The Next Chapter 💜...