
Kota Semarang
Di sebuah kamar yang tanpa ada penerangan lampu, seorang pria paruh baya berusia 50-an tahun dengan paras wajah yang mirip sekali seperti Angga, terbangun dari tidurnya. Tatapan matanya terlihat tajam bersama menyapu seluruh sekitar kamar, sementara istrinya sedang menikmati mimpi indahnya di atas kasur yang empuk nan nyaman tersebut.
Pria tampan yang memiliki wajah awet muda itu, mengusap mukanya dengan kasar, ada perasaan tidak enak di hatinya secara tiba-tiba. “Ada apa ini?”
Tidurnya sangat terganggu dengan perasaan tidak baik yang muncul ini. Beliau memutuskan turun dari kasurnya lalu berjalan melangkah membuka pintu balkon kamar dan keluar dari ruangan tersebut. Di sana, pria paruh baya yang tentunya bernama Agra Viencent Havindra sang ayah kandungnya Angga, menyangga kedua tangannya di atas pagar besi pembatas balkon.
Beliau perlahan mengangkat wajahnya ke atas langit malam yang dipenuhi banyak taburan cahaya bintang dan bulan sabit di sana. Satu hela napas keluar dari dalam mulutnya Agra, terlihat dari raut wajahnya mencemaskan kondisi putranya di kota Jakarta.
“Ada apa denganmu di sana, Angga? Mengapa sekarang Ayah begitu mengkhawatirkan dirimu?” tanya Agra dengan bermonolog seraya memejamkan matanya.
Waktu sedang merenungkan dan menerawang posisi anak lelaki semata wayangnya, salah satu bahu Agra disentuh lembut oleh seseorang. Agra lantas itu segera menolehkan kepalanya dan rupanya terdapat sosok Andrana yang tersenyum hangat padanya.
Agra menyongsong badannya untuk menghadap ke arah istrinya. “Mama kenapa bangun?”
“Harusnya, Mama yang bertanya seperti itu. Ayah kenapa bangun? Sedang apa juga Ayah di sini? Di luar cuacanya sedang dingin, lho.”
Agra mengembalikan posisi badannya dengan tanpa sengaja memasang wajah bimbangnya. “Ayah ke sini karena tiba-tiba feeling Ayah tidak enak dan ini tentang Angga anak kita.”
Andrana melangkah sedikit untuk mendekati suaminya dengan raut takut. “Angga terjadi sesuatu yang buruk, Yah?”
Pandangan Agra tetap lurus sembari menggeleng pelan disebabkan tidak tahu. “Ayah kurang tahu, entah kenapa Ayah sendiri kesulitan untuk menerawang keadaan Angga yang ada di luar kota. Jika Mama bagaimana? Mama tahu?”
Andrana menatap nanar Agra. “Ayah tahu, kan kalau kekuatan Mama tidak setajam dan sehebat Ayah? Mama akan bisa jika mata batin ini didorong, buktinya setelah Ayah merasakan firasat tidak enak mengenai Angga, Mama juga langsung terpikirkan oleh tentang itu.”
Agra mengangguk lalu kemudian beliau kembali mendongakkan kepalanya ke atas langit. “Apa jangan-jangan aura mata batin Ayah ditutup oleh seseorang? Sebelumnya saja Ayah sanggup, tetapi malah kali ini tidak bisa.”
“Siapa, Ayah?”
“Ayah tidak tahu juga. Yasudah, mendingan lebih baik kita sekarang balik tidur, ya? Besok kita berdua juga harus bangun lebih awal buat bersiap-siap untuk kembali ke kota Jakarta.”
“Mama tidak sabar ingin bertemu Angga.”
Agra mengangguk dengan senyum lalu merangkul tengkuk istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar untuk kembali tidur. Ya benar, karena tugas pekerjaan mereka berdua telah usai akhirnya seluruh pekerja di salah satu kantor perusahaan diberikan cuti selama beberapa bulan oleh sang direktur.
Dan esoknya adalah hari kebahagiaan sepasang suami-istri yang mana akan pergi meninggalkan kota Semarang nang dijuluki kota atlas untuk menemui anak putranya mereka yang berada di kota Jakarta.
Tetapi meskipun esok adalah hari gembira, rasa khawatir Agra terhadap Angga belum menghilang apalagi rasa cemas itu semakin menjadi-jadi yang menyelimuti hati serta jiwanya. Namun beliau harus tetap tenang dan mendoakan putranya agar terhindar dari segala marabahaya yang menimpa.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
“Kalau itu adalah sebuah rumah orang, mungkin beberapa dari antara kita berdelapan bisa ke sana untuk meminta bantuan,” celetuk Jevran.
__ADS_1
Reyhan yang sedari tadi diam mengamati bangunan besar nan menjulang tinggi dengan ada lancip di atasnya, menggelengkan kepala. “Itu bukan sembarangan rumah orang.”
Aji menoleh ke arah Jevran dengan kening berkerut. “Maksud lo? Bukan sembarangan rumah orang gimana? Rumahnya dedemit?”
“Lebih mengerikan daripada itu. Seperti apa yang gue lihat dari tepi jurang ini, itu merupakan tempat rumah iblis atau dinamakan ... kastil.”
Kedua sahabat perempuannya melongo dengan mengarahkan pandangannya ke arah Reyhan. “Kastil?”
Reyhan menganggukkan kepalanya. “Sebentar, gue mau samperin Angga dulu balik.”
Kesemua remaja yang ada di samping kirinya Reyhan mengangguk bersamaan untuk mempersilahkan lelaki itu mendatangi Angga kembali. Tetapi begitu memutar tubuhnya ke belakang, mata Reyhan terbelalak kaget bahkan ia samping mengucek-kucek kedua matanya berkali-kali untuk memastikan yang ia lihat salah.
Rupanya ia tak salah lihat. Salah satu sahabatnya sudah tidak terlihat di sana alias menghilang. “Lho! Angga?!”
Reyhan berlari ke arah tempat Angga berada kemudian ia berhenti dengan mengedarkan pandangan sekeliling untuk mencari keberadaan posisi sahabatnya yang tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan sebuah jejak apapun.
“Astaga! Dia kemana?! Gak mungkin kalau dia pergi tanpa pamit dengan kami! Apalagi tubuh Angga sedang lemah. Dia nggak mungkin melangkah meninggalkan kami begitu saja!” gerutu Reyhan panik dengan wajah semrawut bersama rambut yang tidak tertata rapi.
“Kenapa, Rey?! Terus Angga kemana?! Kok di sini dia nggak ada?!” tanya Jova dengan ekspresi terkejut karena baru tersadar bahwa salah satu sahabat lelakinya menghilang entah kemana.
Reyhan menghempaskan napasnya kasar. “Nah, itu! Aku gak tahu Angga kemana! Tiba-tiba saat aku noleh ke belakang, Angga sudah nggak ada di sekitar sini!”
Bulir air mata Freya kembali menjelas. “Maksudnya Angga hilang, kah?! Iya, Angga hilang?!”
“Freya, kamu mau kemana?!” Jova menahan tangan sahabatnya yang ingin pergi.
“Aku mau cari Angga, lah! Gak mungkin aku hanya diam saja di sini. Aku harus cari dia sebelum terjadi sesuatu padanya!” sentak Freya seraya melepaskan telapak tangan Jova dari lengannya.
Tetapi segera Jova ajek telapak tangan Freya yang ingin melepaskan cekalannya. “Iya! Kita bakal cari Angga bersama-sama, oke? Kamu jangan cari dia sendirian, hutan ini bahaya banget!”
“Tapi keburu Angga kenapa-napa di sana, Va!” panik Freya dengan nada merengek, ia takut bila terjadi sesuatu yang menimpa kekasihnya.
“Kamu tenang dulu, bisa jadi Angga masih ada di sekitar sini. Dia pasti belum jauh juga, kok,” ucap Rena lemah lembut untuk menenangkan hati Freya.
Freya beralih berpaling dari Jova ke wajah Rena. “Iya kalau Angga masih berada di sekitar sini, bagaimana jika ternyata Angga diculik oleh seseorang yang nggak dikenal? Kamu gak memikir sejauh itu, kan?!”
“M-masa diculik, sih ...” kelesa Lala berkata dengan ragu pada pengucapannya Freya.
“Oke! Waktu itu Reyhan yang hilang, sekarang malah gantian Angga! Perasaan ilang misteriusnya kayak berantai aja,” oceh Aji.
“Gue lagi serius, Ji!” sembur Reyhan.
“I-iya-iya gue minta sorry. Galak amat, dah kayak bon cabe selevel iblis ...”
__ADS_1
“Lo bilang apa tadi?! Coba ngomong sekali lagi, biar gue tendang lo sampe nyangsang di gunung Salak!” tukas Reyhan dengan mata mendelik tajam.
Aji menelan salivanya susah payah dengan wajah ketakutan pada ekspresi Reyhan yang Stress bercampur raut emosi. “A-ampuni gue, Nyuk! Enggak lagi, deh gue gitu-gitu lagi! Huhuhu ...!”
Jevran menghela napasnya dengan memutar bola matanya malas melihat kelakuan Aji di waktu yang sedang tengah genting seperti ini. Mereka bertujuh tidak tahu dimana letak posisinya Angga sekarang, di sini beberapa remaja itu begitu panik dan bimbang yang mengaduk menjadi satu tentunya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di suatu ruangan yang lumayan gelap, terdapat layar besar nang bergambar posisi keadaan tujuh remaja yang sedang dirundung kepanikan. Seorang pria paruh baya yang memiliki kumis tipis dengan rambut hitam gaya cepak, menonton layar tersebut yang dinamakan sebuah alat pendeteksi keadaan seseorang nang terjebak di hutan keramat itu.
“Anak-anak remaja itu. Kasihan sekali mereka, sudah terjebak dan salah satu teman dari mereka semua menghilang karena oleh makhluk jahat itu. Sepertinya saya harus cepat-cepat menolong mereka supaya bisa kembali lagi ke dunia aslinya.”
Satu kali tepukan tangan dari pria paruh baya yang sedang duduk di sofa single itu, sudah berhasil memberikan beberapa remaja tersebut petunjuk gaib yang beliau kirimkan ke hutan keramat.
“Semoga pada akhirnya mereka baik-baik saja dan tidak mengalami hal kejadian yang parah begitupun buruk.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Angga mengambil napas dalam lalu menghembuskannya keluar dengan lemah, perlahan juga kedua matanya yang tertutup kembali terbuka setelah mengalami keburaman dan kegelapan pandangan.
Lelaki tampan itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membuang pandangannya yang tidak jelas alias blur, sampai akhirnya ia bisa melihat dengan betul yang mana terdapat sebuah dinding langit permukaan keras. Ia dimana sebenarnya?
Kepalanya terasa amat sakit hingga Angga melenguh dan ingin hendak meraba kepalanya, akan tetapi tangannya terkunci oleh sesuatu yang menjeratnya. Dirinya kemudian langsung menoleh untuk mengecek kondisi tangan miliknya.
Kedua mata Angga melebar saat ternyata kedua tangannya diborgol dengan suatu besi. Tak hanya sepasang tangannya saja yang dibelenggu, tetapi pula bersama kedua kakinya nang mana pergelangannya diborgol sama persis pergelangan di tangan kanan maupun kirinya.
Angga ingin berusaha bergerak tetapi tubuhnya terlalu lemah dan lemas. Ia sangat tak berdaya di ruangan luas ini, terlebih posisi tersebut dirinya terbaring di batu besar yang lonjong. Hingga tiba-tiba terdengar suara pintu kayu dibuka dan mulai terdengar suara langkah kaki yang menuju ke arah Angga.
“Kau sudah sadar rupanya, baguslah.”
Mendengar suara yang berkomunikasi dengan lelaki Indigo itu, kepala Angga melongok ke sumber suara. Di depan mata, ia menatap seseorang bertubuh tinggi dengan jubah hitam yang dikenakannya walau wajahnya tak terlihat pedengan gelap gulita.
“Lo siapa ...?”
“Aku adalah seseorang yang pernah tiba di alam bawah sadarmu. Sebuah tentang mimpi buruk yang datang berulang-ulang sampai ketiga kalinya.”
DEG
Mata Angga mencuat dengan napas tercekat karena sungguh tidak menduganya bahwa ini hadir secara nyata dan bukan mimpinya lagi. Seketika otak Angga terputar ke masa lalu yang mana memimpikan kejadian dimana kekuatannya dirampas paksa oleh sosok lelaki setara dengan usianya yang ingin memiliki aura dan energinya seutuhnya.
“Kau siap rela lepas dari Indigo-mu selamanya?”
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1