Indigo

Indigo
Chapter 90 | About Outdated Paper


__ADS_3

Sepertinya Angga tak butuh dijawab pertanyaannya dikarenakan pemuda tampan itu sedang bertanya pada diri sendiri. Reyhan yang melihat beberapa gorengan hangat nang menggiurkan di piring atas meja kantin, segera mencomotnya untuk ia isi perutnya yang tengah kosong.


“Kalian berdua beneran lihat hantu siswi SMA Galaxy Admara di toilet perempuan? Mata pandangan kalian nggak ngaco kan di pagi jam istirahat ini?” tanya Freya sungguh memastikan.


“Ya ampun, kamu pikir kami berdua cerita tipu-tipu?! Kamu kayak gak sama sekali percaya denganku dan Reyhan, deh. Orang nih, ya kami lihat pakai mata kepala sendiri! Oh iya hampir aja lupa, ada yang perlu kalian denger lagi dari aku ... setan siswi itu meminta tolong sama kami berdua, lho!”


“Meminta tolong?” tanya Angga.


“Hm'em, Ngga! Tapi karena takut ya kami langsung kabur, hehehe! Sumpah demi apaan, mukanya serem banget. Lebih serem daripada Reyhan!”


Reyhan yang sibuk mengunyah tempe goreng krispi-nya seketika menoleh ke arah Jova yang duduk di sampingnya dengan tatapan sebal. “Napa aku yang dibawa-bawa?! Bikin orang gak selera makan, aja!”


“Kamu juga sih! Di sini lagi getir gara-gara itu arwah, kamu malah ngurusin perutmu! Makan mulu hidupmu!” omel Jova.


“Ya biarin, dong! Kan aku lagi laper, kalau lambungku kosong karena gak ada makanan yang dia cerna, aku bisa kena sakit Mag! Kesehatan itu lebih penting daripada berurusan sama makhluk gaib yang kerjaannya nyusahin manusia!”


“Contohnya kayak Arseno dulu, kan?”


Reyhan berdecak kesal pada Jova. “Ini malah nyambungnya ke Arseno, jangan bahas soal dia, lah! Arwah itu udah tenang di alam sana, dendamnya sudah lenyap berkat si Anggara Vincent Kavindra,” ucap Reyhan seraya menowel tangan Angga.


Angga langsung menatap bingung Reyhan. “Kenapa jadi gue? Maksudnya berkat, berkat apa??”


Reyhan terkekeh. “Halah, gak usah sok polos lo, Ngga. Pokoknya ini semuanya berkat elo. Arwah itu pergi dengan tenang karena kebaikan diri lo. Sahabat satu gue ini memang hebat banget, dah. Salut bener gue sama lo, Angga!” sambung lelaki itu sambil menggelengkan kepalanya kagum.


Angga tersenyum pahit seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Sudahlah, gak usah dibahas lagi. Sekarang yang perlu kita bahas tentang hantu yang kalian berdua lihat tadi di toilet perempuan. Emangnya arwah siswi itu benar-benar minta tolong?”


“Hm'em. Gue agak kasian sih sama dia, pake gue sama Jova tinggalin. Tapi kalau gue rasain, hantu itu bukan pembawa aura negatif deh. Ck, kayaknya sih! Gue gak bisa menerawang kayak kelebihan lo.”


“Jangan keras-keras, bego! Nanti kedengaran yang lain di sekitar dalem kantin ini,” kata Angga bersama tekanan nada.


Jova yang diam, dalam detik kemudian ia mengangkat suara kepada sahabat Introvert-nya. “Oh iya, Angga! Aku pengen nunjukin kertas sesuatu yang kubawa dari rumah.”


“Kertas apa, Va?” Freya bertanya dengan memicingkan kedua matanya.


“Sebentar, aku keluarin dulu.” Jova menundukkan kepalanya dan salah satu tangannya merogoh satu kantong jas almamater untuk mengeluarkan secarik kertas usang yang ia temukan di selipan note book ungu violet ciamik kesayangannya.


Jova menaruh lipatan kertas usang serta terlihat lusuh tersebut di tengah meja lalu membuka lipatan kertas itu agar kesemua sahabatnya dapat membaca tulisan-tulisan cacian maki yang menohok di hati. “Daripada kita musingin soal arwah yang dateng gak diundang itu, mending kalian lihat terus baca deh semua isi tulisan di kertas ini.”


“Kayak gak asing deh sama kertasnya- eh ini kan kertas yang waktu itu ditemuin Reyhan di bawah pintu kelas Kyra! Ternyata kertasnya kamu simpen,” timpal Freya.


“Hhh, sebenarnya ini kertas dikasih sama Reyhan pas bulan-bulan yang udah lepas itu. Kayaknya sih kalau gak salah, si Angga masih dirawat di rumah sakit Kusuma kota Bogor. Ya kan, Ngga?”


“Jangan tanya aku, aku nggak tau apa-apa.”


Freya tertawa kecil mendengar reaksi Angga menjawab, di situ sahabat kecilnya lumayan mencondongkan badannya ke depan untuk membaca tulisan-tulisan yang berisikan hinaan buat seseorang. Dengan inisiatif, Angga mengambil kertas usang itu dari atas meja kemudian ia mencoba membacanya sampai akhir ujung bawah.


Setelah Angga membacanya dengan sungguh-sungguh pada isi secarik kertas lusuh tersebut, dirinya mengeluarkan suara dengan lirih, “Ini kertas tentang pembullyan di sekolah ini, ya?”


“Hah?! Pembullyan?! Bah, bener dugaan gue selama ini! Itu kertas soal orang yang bully korbannya,” lantang Reyhan.


Angga mendongakkan kepalanya menatap Reyhan jengah. “Gue tanya, Rey.”


“Oalah, lo nanya? Salah paham lagi dah, gue.”


“Wuu! Mangkanya dengerin intonasi nada Angga kayak gimana! Nanya atau apa, biar gak salah paham kayak gitu!” ucap Jova kemudian tertawa.

__ADS_1


“Di sekolah ini emangnya dulu pernah ada pembullyan? Setau gue di SMA ini nggak ada sama sekali, meskipun di mading dekat lobi udah dikasih peraturan tegas untuk nggak melakukan aksi main fisik seperti bully.”


“Emang, Ngga. Dulu semenjak Reyhan masih Koma, di sekolah ini ada insiden besar tentang kasus pembullyan, beruntung saja nggak sampai masuk ke penjara tapi ruang BK dan sang para pelaku diberikan hukuman yang sangat berat yaitu di Skors sampai tiga minggu lamanya.”


“Tunggu-tunggu bentar, aku kok kayak ngerasa dejavu ya soal kata-katamu yang 'para pelaku diberikan hukuman yang sangat berat yaitu di Skors sampai tiga minggu lamanya'? Bukannya itu kasus pembullyan yang menimpa dirimu waktu dulu itu?”


“Hehehe, kok kamu masih inget banget, sih?” tanya Freya nyengir pada Jova.


“Eh astaga! Iya-iya aku ingat tentang tindakan kasus kriminal itu. Maaf aku lupa soal pembullyan yang dulu mengenai kamu,” tukas Angga seraya menutup seluruh wajahnya pakai dua telapak tangan. Entah mengapa semakin lama daya ingat Angga untuk memori dahulu menjadi hilang.


Reyhan yang duduk di kursi menatap ketiga sahabatnya satu persatu dengan muka ekspresi raut bingungnya. “Wait the minutes, otak kabel gue mendadak konslet nih, jir! Maksud kalian apaan sih? Gue masih belum ngerti banget. Pembullyan dulu itu maksud kalian soal mengenai Freya? Freya dibully?!”


“Ho'oh! Sampai masuk rumah sakit dan gak sadar selama dua hari,” tutur mulut nada cepat Jova.


“Ya Allah, Va. Gamblang amat, sih ngomongnya?”


“Santai lah, Frey. Orang kan aku bocorinnya sama sahabat kita yang ketinggalan info di jalan.”


“Wah emang minta dicaplok Anaconda! Parah banget kamu sampai masuk rumah sakit, siapa pelakunya yang udah berani ngelakuin hal nggak senonoh sama kamu?!”


“Eeee ... Youra, Febrie, dan Claudie-”


“Oalah trio geng jablay itu! Emang harus dikasih pelajaran nih biar otaknya jalan dikit! Berani bener udah melukai sahabat polos gue terunyuk-unyuk ini, awas aja lu pade, gue sigar-sigar muka lu bertiga!!”


“Eh udah, Rey! Semuanya udah berlalu kok, mereka bertiga juga sudah jarang gangguin aku. Semoga saja mereka dapat Hidayahnya. Aku juga tenang kok mereka bertiga nggak mencari ulah masalah lagi sama aku. Jangan marah-marah ya, Rey. Hehehe!”


Reyhan menghembuskan napasnya kasar dan menganggukkan kepalanya bersama mata yang ia pejamkan untuk meredakan emosinya nang nyaris naik menggebu-gebu. Dan Jova berucap lepau menghilangkan rasa suasa ketegangan, “Eh guys, terus ini kertasnya gimana yak? Apa kita cari tau aja siapa pelakunya yang udah nulis-nulis perkataan hinaan itu? Kejam banget yang nulis di paling bawah itu, yakali masa nyuruh mati?!”


“Mati?” gumam tanya Angga bersama nada lemasnya begitupun muka lesunya. Perkataan ini sangat sama pada dirinya dulu waktu di bully masa kecilnya, adalah SD di sekolah Bakti Siswa. Tidak, Angga harus mampu menghempaskan memori masa lalu kelamnya tersebut agar tak menganggu proses pemulihan cedera kepalanya bahkan supaya tidak menganggu kehidupannya selama di dunia.


“Soal mati ... di sekolah ini pernah ada salah satu siswi kelas sepuluh yang mati di sangka bunuh diri, kan? Bisa jadi ada kaitannya dengan kertas yang Angga pegang itu!” tebak Reyhan pasti.


Reyhan mengangguk antusias pada Freya yang duduk di kursi tepat sebelahnya Angga yang setengah melamun. Gadis lugu itu dengan reflek menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan lembutnya.


“Reyhan! Jangan-jangan arwah sosok yang kita lihat di toilet perempuan tadi, Emily?! Aduh tapi aku masih belum bisa memastikannya, sih. Soalnya aku gak sempet ngecek namanya di name tag-nya.”


“Seharusnya kita berdua sama-sama sempet, Va. Tapi sayangnya, label nama hantu siswi itu kena banyak lumuran darah. Sulit buat kita lihat identitas namanya. Coba aja di situ ada Angga, mesti dengan jiwa keberaniannya dia langsung mengajak komunikasi sama makhluk gaib itu.”


Freya yang fokus memandang Angga, merasa iba melihat mata lelaki itu kosong alias tengah melamun. Gadis cantik tersebut yang tak menginginkan Angga seperti itu, segera melambai-lambaikan tangannya di depan wajah sahabatnya agar lamunannya langsung terbuyar.


“Eh?! Kenapa?!”


“Hehehe, jangan ngelamun dong, Angga. Kamu pasti lagi mikirin sesuatu, ya?” tanya Freya sedih dengan mata gak berpaling dari sahabat tampannya.


“Enggak, aku gak mikirin apa-apa.” Angga kemudian menegakkan badannya dan mulai mengganti topik seolah dirinya memang tidak apa-apa. “Tentang kertas misteri ini, gue punya ide. Tapi gue perlu mengatur semuanya dulu di rumah, biar menjadi lancar dan stabil.”


“Ide apa, Ngga? Kamu mau buat suatu rencana yang harus kamu atur dan sinkronkan? Kenapa gak bersama-sama aja mengatur idemu itu?”


Angga memberikan senyum tipis pada Jova. “Biar aku saja yang meluruskan ideku ini. Besok pagi akan aku kasih tau langsung sama kalian bertiga, baru itu kita jalanin bersama-sama.”


“Anjay! Lo emang cowok kriteria yang unik, Bro! Suka bikin penasaran orang doang! Tapi beneran ya besok pagi lo beri tau pada kami, awas aja bohong dan mencoba bersiasat buruk buat menyembunyikan sesuatu dari sahabat-sahabat setia lo ini.”


“Ck, buat apa gue bohong? Tenang, bakalan gue tepati omongan gue tadi.”


“Sip mantap! Tos dulu kita, hahaha!”

__ADS_1


Kedua pemuda sahabat itu mulai beradu tos kepalan tangan seperti bermain simbol tanda persahabatan mereka dan juga Freya beserta Jova. Hingga pada menit kemudian, pandangan sekelompok empat sahabat remaja kelas XI tersebut teralihkan ke tiga siswi gadis kelas X yang sedang asyik menggunjing-gunjing seseorang.


Sampai berapa saat sesudahnya, ketiga gadis X IPA 5 yang wali kelasnya adalah bu Hana, pandangan mereka terbentur pada kakak-kakak kelasnya yang menatap mereka bertiga. Dengan raut terkejut dicampur ketakutannya, siswi-siswi itu segera cepat beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kantin bersama langkah gesit kompaknya.


Mereka adalah yang tak lain... Rainey, Gantari, dan terakhir ialah Eliana.


Sekelompok empat sahabat sejati itu terus memperhatikan kepergian dari ketiga gadis siswi tersebut yang gelagatnya begitu aneh saat ditatap intens oleh Angga, Freya, Jova, dan juga Reyhan.


“Kenapa tiba-tiba mereka pergi?” tanya Jova penasaran dengan menggaruk kepalanya pakai jari telunjuk tangan kirinya.


Kedua sahabatnya yang mendengarkan pertanyaan bingung dari Jova hanya mengangkat kedua bahunya masing-masing berisyarat tidak tahu kecuali Angga yang sedia menyelidiki keanehan Gantari, Eliana, Rainey dikarenakan gelagat sikapnya barusan. Dirinya ingin sekali menerawang lewat mata batinnya, namun tak untuk sekarang.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Komplek Permata - Pukul Jam 16.00


Nampak Freya dan Angga melangkah secara beriringan menuju ke rumahnya masing-masing yang saling berseberangan. Namun suasana sore pulang sekolah ini, terasa sunyi dan canggung. Apalagi apa yang Freya lihat, Angga banyak diam bahkan untuk berbicara begitu enggan. Mulut pemuda itu bungkam melulu dan pandangannya terlihat menunduk ke bawah bersama muka lunglainya.


“Angga? Kok diem aja? Yakin nih kamu gak lagi mikirin sesuatu?” tanya Freya penasaran pada sahabat kecilnya yang dibalas gelengan kepala.


‘Gak mungkin. Aku jelas gak percaya sama kamu, Ngga. Gara-gara kertas yang di bawa Jova tadi, otakmu langsung terputar ke masa lalu gelap itu. Tidakkah bisa kamu melepaskan semua memori buruk itu yang mengganggu kehidupanmu?’


Freya tak peduli Angga mampu membaca seluruh isi relung hatinya. Kini sekarang sahabat pendiamnya menghembuskan napasnya letih dengan membenamkan wajahnya pada telapak tangannya yang jari-jarinya terbuka, sementara matanya ia pejamkan untuk menenangkan diri sejenak dalam posisi ia menyusuri para rumah warga bersama Freya.


Freya menipiskan bibirnya tanpa pandangannya berpaling dari Angga. Mungkin ini saatnya gadis manis itu menghiburnya sedikit dengan senyumannya. Tangan Freya perlahan menggenggam pergelangan tangan bagian kanan sahabat kecilnya, sedangkan tangan satunya mengelus-elus bahu Angga. Hal tersebut membuat Angga menyingkirkan telapak tangannya dari muka lalu matanya yang kembali ia buka, menatap sahabat kecil tetangganya.


“Jangan dibikin pikiran, ya? Enggak baik untuk kesehatanmu yang prosesnya lagi menuju fase penyembuhan, loh. Aku tahu kok otak benakmu belum sanggup menghempaskan masa lalu-mu itu, tapi aku berharapnya, kamu bisa membuang semua memori jahat itu. Sorry, aku nggak bermaksud mengungkit tentang yang kamu alami dulu, kok.”


“Aku mengerti. Aku tau kamu berusaha ngasih aku motivasi hidup, makasih ya perhatiannya.”


Freya tersenyum lebar sekaligus mengangguk semangat pada Angga yang sekarang kembali mengukirkan sebuah senyumannya walau tipis. Tetapi tak mengapa, yang penting Freya bisa melihat sahabat Introvert miliknya tersenyum balik seperti sediakala.


“Kayaknya kamu butuh asupan motivasi setiap hari nih, biar senyuman kamu terus tertancap di mukamu, hehehehe.”


“Eh? Maksudnya bagaimana?” tanya Angga kurang fokus.


Freya menutup mulutnya dengan satu telapak tangan kemudian usai itu, gadis tersebut menyingkirkan telapaknya dari mulut. “Bukan apa-apa, tadi aku ngelantur. Ehm, habis ini kan kita sampai rumah nih, nah kamu langsung istirahat. Oke?”


“Berarti aku nggak mandi dong?”


Freya tersenyum hambar pada jawaban polos sahabat kecil lelakinya yang sebenarnya paham maksud dari gadis cantik itu. “Itu yang utama atuh, Ngga. Hayo, mau pura-pura sok polos sama aku, kan kamu?”


“Haduh, ketahuan deh.”


Freya meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya lalu mencubit tangan Angga gemas. “Kamu asyik juga ya, orangnya.”


“Lebih asyik Reyhan, aku mah nggak ada apa-apanya,” jawab Angga menghadap kepalanya ke depan.


“Halah, suka banget merendah diri!” pekik Freya seraya merangkul-kan tangannya di atas tengkuk Angga, otomatisnya karena Angga lebih tinggi dibanding sahabat kecilnya, badan lelaki itu menjadi terbungkuk kencang oleh Freya yang cengengesan jahil pada Angga.


“Eh aduh! Bisa patah leherku nanti!”


Freya tertawa bahagia mendengar omelan Angga lalu karena tidak ingin leher sahabatnya kenapa-napa karena ulahnya sendiri, akhirnya Freya melepaskan tangannya dari tengkuk Angga. Angga pun habis itu langsung menegakkan badannya sambil mengusap-usap leher belakangnya tanpa berkomentar atau protes pada sahabat kecilnya yang telah jahil padanya. Namun Angga tahu dalam hati Freya, gadis bertubuh mungil ideal itu hanya ingin menghibur dirinya dari terpuruknya karena masa lampau yang menjadi kekangan hidupnya.


Kini Freya fokus berjalan dengan pandangan menghadap depan arah jalan yang lurus. Sedangkan Angga perlahan menampilkan senyuman pilunya yang mukanya berubah sedikit berekspresi lara.

__ADS_1


‘Freya, lo memang sudah tahu tentang masa lalu yang gue ceritakan waktu dulu. Tapi sebenarnya gue hanya bercerita secara random, hingga elo dan juga lainnya tidak tahu kisah masa lalu gue sepenuhnya. Maaf, gue nggak mau merepotkan otak benak kalian karena pastinya bakal terus kepikiran soal latar belakang gue yang sesungguhnya. Biarkan waktu yang memberi tahu kalian suatu saat nanti.’


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2