Indigo

Indigo
Chapter 49 | Remember Who He Is?


__ADS_3

Jam pukul 08.00 Angga tengah mengenakan jaket hangatnya serta mengambil kunci motor dari gantungan tembok lalu bergegas keluar kamar. Angga menuruni undakan tangga dan itu langsung di tatap oleh Andrana serta Agra bingung, karena anaknya berpakaian sangat rapi.


"Angga, kamu mau pergi kemana? Pagi-pagi udah rapi, mau kemana?" tanya Agra.


"Angga mau jenguk Reyhan di rumah sakit."


"Lho, sekarang Nak? Apa gak terlalu pagi buat jenguk sahabatmu?"


"Nggak, Ma. Lagian pula ada alasan kenapa Angga mau jenguk Reyhan. Sudah ya, Ma, Yah .. Angga pergi dulu."


Angga menjabat tangan kedua orangtuanya satu persatu dan setelah itu mencium punggung tangan mereka dengan sayang.


"Hati-hati di jalan ya, Nak .. janji nggak boleh lama-lama soalnya kamu belum boleh sampe letih. Oke?"


"Hmm, oke."


Setelah menanggapi perintah Andrana dengan nurut, Angga meninggalkan kedua orangtuanya yang masih berdiri menatap kepergian anaknya keluar membuka pintu rumah. Di teras, Angga menuju ke motor Vario hitamnya kemudian menaikinya dan menyalakan mesinnya menggunakan kunci motor usai memutar kunci tersebut di asalnya.


Angga melajukan motornya setelah memanaskannya beberapa menit di posisi gerbang rumahnya terbuka lumayan lebar. Freya yang tengah menikmati coklat panasnya di atas balkon kamar, melihat Angga yang pergi bersama motornya. Gadis itu sedikit mencondong kepalanya menatap kepergian sahabat kecilnya.


"Angga pergi kemana, ya? Ehm atau mau jenguk Reyhan di rumah sakit ... hhh, yasudah deh aku gak mau ganggu lagian tadi malem pas aku chat Angga, balesnya super singkat."


Freya menghela napasnya dengan panjang dengan wajah resah dan pasrah sembari memegang mug berisi minuman coklat panas.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Pemuda Indigo itu telah tiba di parkiran RS Wijaya, meskipun masih pukul 08.35 banyak sekali pengunjung maupun bukan pengunjung RS Wijaya berlalu lalang masuk keluar dari bangunan rumah sakit tersebut. Angga mencabut kunci motornya kemudian memasukkannya di saku kantong jaketnya.


Angga melangkah berjalan memasuki lobby RS Wijaya, Angga sedikit mengedarkan pandangannya dan melihat beberapa pasien yang menunggu antrian tunggu di persinggahan. Angga melanjutkan perjalannya dengan kembali menghadap ke depan untuk menuju ke lift pertama. Setelah Angga berada di depan pintu lift, tombol lift telah Angga tekan namun Angga sedikit kaget di dalam lift terdapat seorang kakek berumur kisaran 60 tahun bungkuk dengan memakai kruk tongkat 4 kaki khususnya untuk lansia.


Angga sedikit memberikan jalan pada kakek tersebut agar beliau bisa lewat dengan lega, namun Angga merasa kalau kakek tersebut ada yang berbeda. Angga memperhatikan gerak-gerik kakek itu hingga tiba-tiba saja beliau menoleh ke Angga dengan wajah pasi-nya, deretan giginya yang berlumuran darah disertakan mulutnya pula, kedua matanya putih tanpa ada bola mata hitam di situ. Begitu saat itu juga insting Angga benar, kakek itu bukan manusia tetapi hantu arwah yang bergentayangan di RS Wijaya.


Namun sosok kakek tersebut menundukkan kepalanya pada pemuda yang mampu melihat sosok gaib atau tak kasat mata, Angga dengan tersenyum membalas hantu arwah itu dengan anggukan kepala pelan. Sosok hantu kakek tersebut kembali menghadapkan kepalanya ke depan, sosok beliau berambut putih itu berjalan secara menyeret kakinya dalam posisi badan bungkuk dan pada menit kemudian setelah jauh dari Angga, sosok hantu kakek itu menghilang begitu saja menyisakan serbuk asap abu-abu bersamaan menghilangnya setan arwah kakek tersebut entah kemana.


Angga menghembuskan napasnya dan ia bersyukur hantu sosok beliau itu beraura positif, dan kebetulan lorong yang Angga pijak begitu sepi tak ada orang berlalu lalang.


"Hantu lagi yang gue temui ..."


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Pintu lift telah terbuka lebar secara otomatis, Angga segera keluar dari lift tersebut yang kini sesuai angka lantai yang Angga tekan tadi. Angga kembali menelusuri lorong tersebut untuk menuju ke ruang rawat ICU sahabatnya yang tengah Koma. Di sepanjang lorong, Angga tak melihat ada orang-orang berlalu lalang seperti dokter, suster, pasien ataupun pengunjung. Angga berbelok arah ke kiri dan di ujung sana tak ada Farhan juga Jihan yang duduk di kursi tunggu depan ruang perawatan ketat anak semata wayangnya, bahkan di dalam ruangan wanita dan pria paruh baya tersebut juga tak ada. Tapi Angga tak mau memusingkan itu kedua orangtua Reyhan dimana, tujuan Angga datang ke ruang rawat ICU Reyhan adalah mencari tahu sebenarnya apa yang telah terjadi di malam jumat itu.


Usai Angga mengenakan pakaian baju hijau sesuai prosedur khusus penjenguk pasien di ruang ICU serta mencuci tangan, perlahan Angga membuka pintu ruangan itu. Saat Angga mendongak, tak ia duga Arseno ada di sampingnya Reyhan yang akan mengeluarkan sihir untuk menamatkan nyawa sahabatnya di sela-sela keadaan Kritisnya.


"NGAPAIN LO, HAH?!" tuding Angga dengan mata mencuat amarah.


Arwah negatif itu mengepalkan tangannya yang akan mengeluarkan sihir hitamnya, sosok itu sangat marah pada manusia yang menganggu aktivitasnya.


Angga berlari ke Arseno kemudian menangkap Arseno dengan penuh jiwa berani, namun bagaimana lagi? Arseno dengan mudahnya membuat Angga jatuh ke lantai menggunakan sihirnya itu.


Brugh !


Flash !


Angga langsung menggulingkan badannya ke samping mengelak serangan berbahaya dari Arseno, bukannya takut malah justru Angga tambah murka pada Arseno. Namun Arseno melangkah maju mendekati Angga, kemudian berhenti setelah berada di tepat sampingnya Angga yang pemuda Indigo itu belum sempat bangkit berdiri.


"Manusia Indigo pengganggu! Enyah lah kamu dari sini detik ini juga huahahaha!!" ucap Arseno dengan membentangkan satu tangannya.


Sialnya Angga terpojok duluan, membuat Angga terjebak tak bisa kemana-mana. Lihatlah, bola sihir hitam perlahan muncul di telapak tangan bercak darah Arseno, gumpalan sihir asap hitam itu menyimpulkan bahwa kekuatannya telah maksimal dan siap ia dorong ke arah Angga. Yang benar saja, kini bola asap hitam berupa sihir itu melayang ke arah Angga akan tetapi baru sampai 2 meter dari muka Angga, sesuatu pancaran mantra cahaya putih padukan warna emas mengalahkan serangan bahaya Arseno hingga bola asap hitamnya terpental dan pecah saat menabrak tembok di sampingnya Angga persis.


Angga menelan ludahnya, dan menoleh ke arah yang menolongnya. "Cahya?!"


Cahya yang ada di belakang pintu melangkah maju mendekati Arseno dengan penuh kekesalan. Arseno berdecih dan maju ke hadapan Cahya, sementara Angga bangkit dan berlari dari belakang Arseno untuk menghampiri Reyhan yang masih terbaring lemah Koma di ranjang pasien.


"Kamu!?"


"Apa? Lo gak suka kedatangan gue? Look, gue sudah jadi setan sama kayak elo! Siapa yang buat gue akhir hidup? Elo, kan?! Dan sekarang lo mau mencelakai hidup manusia yang tengah lemah ini?! Ayo, mending lo celakai gue aja .. gak mempan sama sekalipun. Karna gue sudah mati dan jadi arwah jadinya gue bebas apa yang gue bakal lakuin ke lo."


Wajah Cahya sedikit bersinar karena munculnya cahaya di kedua telapak tangannya. Arwah ini meskipun beraura positif namun ia berani berhadapan dengan arwah negatif seperti Arseno. Energi kekuatan Cahya hampir terkumpul sedangkan Arseno semakin geram pada Cahya yang telah berani berhadapan dengannya.


BUM !


Usai arwah positif dan arwah negatif itu sama-sama membentang satu tangannya untuk saling menyerang, dentuman keras dicampur angin kencang tiba-tiba di dalam ruang ICU. Asap sihir hitam dan mantra putih serta emas akan membuktikan siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Namun Cahya malah tersenyum smirk karena kekuatan tenaga ia lebih kuat daripada Arseno.


Sementara Angga melindungi Reyhan dengan memeluknya erat dikarenakan anginnya begitu sangat kencang bahkan kantong cairan infus serta kantong darah milik Reyhan tertiup kuat pada kencangnya angin gaib. Mata Angga juga Angga pejamkan kuat dengan tak terlepas dari pelukan raga sahabatnya. Rambut Angga dan Reyhan ikut tertiup kuat, begitupun rambut dua arwah tersebut yang beradu kekuatannya mereka.


"HYAAA!!!"


Cahya mendorong kekuatannya maksimal hingga pada akhirnya Arseno terpental bersama sihir asap hitamnya. Cahya tertawa bahagia melihat Arseno terkapar di lantai namun masih ada mampu untuk Arseno kabur dari Cahya. Arseno mengerang kemudian pergi menghilang begitu saja, sementara angin kencang sangat itu berhenti bersamanya Arseno pergi mangkir dari Cahya.


Cahya melipat kedua tangannya di dada dan berkata, "Dasar setan pengecut!"


Di sisi lain, Angga melepaskan pelukannya dari tubuh lemah Reyhan dikarenakan angin tersebut telah berhenti. Angga menyentuh pundak kiri Reyhan memastikan Reyhan belum sama sekali dimasuki asap hitam berwujud sihir yang akan menjalar ke seluruh tubuhnya yang dampaknya mendatangkan kematian.


"Huh, syukurlah lo nggak kenapa-napa ..."


Ucapan lirih Angga dengan kepala menunduk kepala, Cahya melihat manusia temannya itu bernapas lega terhadap pemuda yang terbaring lemah dengan alat-alat medis nang terpasang di tubuhnya terutama alat oksigen untuk pemuda manusia itu tetap bernapas.


Usai Berhasil menyingkirkan Arseno, arwah positif tersebut melangkah mendekati Angga yang menatap pemuda Koma itu dengan wajah sendunya. Seperti orang dekatnya Angga bagi Cahya.


"Ngga, dia siapa lo?" tanya Cahya.


"Dia sahabat gue, sahabat dari SMP."


"Oalah pantesan aja, keliatan deket. Kalau gue boleh tau, sahabat lo kenapa? Mukanya pucet bener apalagi dia sampe di rawat ruang ICU?"


"Koma sekaligus Kritis akibat kecelakaan ketabrak truk di tengah jalan rumah sakit Wijaya," jelas Angga.


"Innalilahi! Parah bener kecelakaannya, yang sabar ya, Bro. Sorry gue gak tau kalau yang bikin lo sedih tadi malem itu karena hal ini."


"Gak masalah, karna lo juga baru tau." Angga duduk di kursi sementara Cahya hanya berdiri menatap Reyhan.


Cahya yang suka kepo, melangkah mencari tahu nama sahabatnya Angga tersebut. Tentunya arwah baik hati itu mencari tahu di papan ranjang pasien, di situ tertera Name : Reyhan Lintang Ellvano.


"Wow namanya keren asli! Hmm pantesan ini sahabat lo, orang dia ganteng kek elu apalagi yang namanya keren banget!"


"Gak usah berlebihan daripada gue usir lo dari sini!" sarkas Angga.


"Eh ya jangan, lah! Tega bener lo kalau lo sampe ngusir gue, arwah baik hati gini suka nolong manusia yang benar masa di usir?! Kayak anak gelandangan ae di usir!"


Angga menghempaskan napasnya dengan kasar malas berdebat dengan satu arwah yang seiras dengan umurnya, dirinya lebih baik diam tak berbicara dan menatap sahabatnya yang Koma tersebut. Dan oh! Angga sampai lupa ingin mencari tahu apa yang Reyhan alami di malam jumat itu, dengan menerawang apa yang sebenarnya telah terjadi dan melihatnya untuk memutar ke yang lampau, Angga perlu menggenggam telapak tangan Reyhan yang lumayan dingin dengan kedua tangannya. Angga menutup matanya perlahan dan aksi menerawang dimulai.


Ibaratnya seperti tarikan waktu ke hari yang sudah lampau, Angga seperti menatap kamar Reyhan. Ya, tentu pastinya Angga tak asing pada kamar tersebut. Angga melihat seorang manusia yang berdiri tertatih-tatih mencengkram kepalanya dan sesosok arwah menyeramkan dihadapan satu manusia yang membutuhkan pertolongan. Itulah antara Reyhan dan Arseno. Cara bicara arwah negatif pada senyuman menyeringai membuat Reyhan terasa terancam olehnya, Reyhan menggeleng kepalanya kuat seperti tak ingin Arseno melakukan apa yang sosok itu perbuat.


Satu suara menyeramkan dan kata-kata tiba-tiba keluar dari mulut Arseno, 'penyamaran ku menjadi wujud dirimu akan menjadi permasalahan terbesar di hidupmu' itulah yang Reyhan takutkan, kalau sudah dasarnya Reyhan tak bisa seberani Angga untuk menantang Arseno yang menyimpan dendam besar tetapi bukan dirinya tetapi manusia lain. Angga menyusutkan keningnya dan dadanya bergemuruh disaat sebuah asap hitam Arseno sosok itu kenakan pada Reyhan, hingga Reyhan terjatuh keras di lantai dan hilang kesadaran saat itu juga.

__ADS_1


Pandangan mata batin Angga seperti di tarik oleh waktu dan itu Angga langsung membuka matanya dengan cepat. Napasnya tersengal-sengal secara tiba-tiba, keringat dingin mengucur pelan dari kening karena tenaganya telah digunakan untuk menerawang sekuat itu. Angga menatap Reyhan intens tak pula dengan Reyhan yang selain raganya berada di alam sesuatu seperti mimpi antara indah atau mencekam.


"Ngga! Lo pasti habis liat sesuatu di mata batin lo, ya?!"


Angga hanya mengangguk menjawab Cahya yang kaget pada tingkah gerak-gerik Angga usai pemuda Indigo itu menerawang menggunakan mata gaibnya. Bertepatan itu, seorang membuka pintu ruang ICU, Angga menoleh mendapati Farhan dan Jihan melangkah dengan mengenakan baju hijau seperti Angga pakai ini.


"Lho, Angga di sini dari kapan?" tanya Jihan dengan tersenyum.


"Sudah daritadi kok, Tan." Angga respon dengan ikut senyum.


"Hmmm tapi kok kamu berkeringat begitu? Habis lari marathon di sini ya, Ngga hehehe."


"Nggak mungkin lah, Om. Mana mungkin Angga lari marathon di ruangan ini .. kalau boleh Angga tahu, Tante sama Om habis darimana?"


"Habis dari rumahnya omanya Reyhan, Nak .. kabar-kabar omanya Reyhan sakit semenjak beliau tahu kalau Reyhan Koma dilanjut Kritis, Nak Angga." Nada Jihan terdengar pelan namun wajahnya begitu lara.


"Ini baru pertama kali Ibu mertuanya Om, sakit sebelumnya omanya Reyhan sehat-sehat aja kok ... tapi sampai dua hari ini omanya Reyhan juga masih sakit belum sembuh."


"Sakit apa, Om?"


"Sakit demam Ngga, juga sempet syok denger cucu kesayangannya Koma apalagi sampe Kritis. Hhh, Udah khawatir tambah khawatir deh, Om."


"Kalau syok itu sudah jelas Om, karena Reyhan itu cucu kesayangan omanya. Dengar-dengar Reyhan di rawat ruang ICU serta kondisinya yang parah, pastinya beliau seperti itu ditambah sakit demamnya."


Farhan dan Jihan tersenyum mengangguk pada penuturan ucapan Angga yang jelas, sementara itu Angga berdiri beranjak dari kursi.


"Angga turut sedih dengan omanya Reyhan yang sampai sekarang ini sakitnya belum pulih, semoga omanya Reyhan segera sembuh dan juga ... Reyhan."


Jihan maju mendekati Angga dan memegang pundaknya dengan lembut. "Makasih ya Angga, biasanya kalau anak punya kelebihan seperti kamu ucapan yang di lontarkan pasti akan langsung segera terwujudkan."


Angga tersenyum menyengir. "Aamiin, Tante."


"Yasudah gih mending kamu pulang, sana."


"Lho? Kok Angga malah Papa usir??" tanya Jihan rada kaget.


"Eh, Papa nggak bermaksud ngusir Angga .. tergantung Angga saja sih, Angga mau tetap di sini atau pulang."


"Angga pulang saja Om, lagian jam batas Angga jenguk Reyhan sudah habis .. jadinya Angga pamit pulang saja ya, Om Tante."


"Oh yasudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya Nak," ucap Jihan seraya menerima salaman tangan Angga yang pemuda sopan itu mencium telapak tangan Jihan.


"Iya Tante, Angga pasti akan tetap berhati-hati kok." Kemudian itu Angga bergantian menjabat tangan Farhan.


"Nah sip, itu baru anak sahabatnya Om hehehe."


Angga hanya tersenyum lebar kemudian berpamitan lagi meninggalkan ruang ICU Reyhan, namun sebelum itu Angga melangkah dan menepuk pundak Reyhan.


"Gue pulang, ya. Kapan-kapan gue pasti dateng lagi," ujar Angga dengan tersenyum.


Usai pamit pada sahabatnya meskipun begitu Reyhan tidak merespon Angga sama sekali. Angga berjalan menuju ke pintu ruang ICU dan keluar dari ruangan yang selalu terdengar alat elektronik yaitu detektor monitor pendeteksi jantung. Baru saja setengah melangkah akan berbelok ke arah kiri, Cahya dengan kaki tak menapak di lantai alias melayang di udara berteriak memanggil Angga.


"Woi Anggaaaaa!!"


"Gue ikut doooongg!!!"


Angga menolehkan kepalanya sedikit ke Cahya yang melayang di belakangnya dengan wajah ekspresi sebal apalagi teriakannya yang tiba-tiba.


"Ck, sialan! Ganggu, aja!"


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Angga mencari tempat persinggahan duduk yang kosong tak ada orang yang menempati persinggahan duduk berukuran panjang, usai berjalan sembari mencari tempat duduk akhirnya juga Angga menemukan tempat persinggahan yang kosong sekaligus bersih seperti lingkungan alun-alun yang tak tercemar kekotoran sampah dimana-mana alias asri hijau menyejukkan pandangan.


Tujuan Angga datang di tempat tersebut dan duduk saja tanpa melakukan apapun, hanya untuk melegakan pikirannya bahkan berdiam buat mengembalikan tenaga miliknya yang terkuras karena telah menggunakan penerawangan lewat mata batinnya. Berat? Tentu saja.


Namun tidak masalah, yang terpenting hari ini Angga telah berhasil mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya di hari-hari telah berlalu. Sekarang, Angga perlu rehat sesekali menghirup udara segar yang bermanfaat bagi tubuhnya, dan untuk mengatasi rasa kebosanannya beruntung saja Angga gembol headset hitamnya di dalam saku jaketnya. Kini pun juga Angga merogoh ponselnya dan menancapkan kabel headset di ujung bawah handphone pemuda Indigo itu.


Angga menyetel lagu di musik albumnya, jelas Angga menyalakan lagu berjenis santai sesuai cuaca pagi tenang yang semilir angin meniup pepohonan di sekeliling dalam alun-alun.


Hingga tiba-tiba saja, datanglah seorang lelaki mengenakan kaos sweater panjang warna biru navy mendekati Angga.


"Permisi, eh gue boleh duduk di sini, gak?"


Angga yang tak mengeraskan volume HP-nya, menoleh mendongak ke pemuda tersebut yang tersenyum ramah hanya menganggukkan kepala sekilas kemudian menoleh kembali ke depan. Pemuda itupun langsung duduk di samping Angga dengan kedua kaki selonjor.


"Aaaahh, akhirnya setelah sekian lama seminggu di rumah sakit, gue bebas juga dari sono."


Angga mendengar pemuda itu yang berbicara sendiri dan terlihat meregangkan ototnya karena pegal, Angga lebih baik mencuekkan-nya saja dan fokus menikmati musik lagu favoritnya yang telah ia daftar putar khusus lagu POP Indo/Barat bernada musik santai. Coba saja kalau Reyhan, pastinya ia sudah panjang lebar menanyainya. Namanya juga anak kepo, suka ingin tahu.


"Ehm, ngomong-ngomong boleh kenalan nggak?" tanya Pemuda tersebut yang menyongsong ke hadapan Angga.


"Ya, boleh saja." Angga menoleh ke pemuda tersebut seraya melepas headsetnya dan mematikan musik lagunya.


'Orang ini ... kayak pernah lihat,' batin Angga.


'What?! Cowok ini kok gue kayak kenal yak? Tapi siapa, dah?? Hmmm gue tanya namanya aja kali ya.'


"Hehehe, nama lo siapa?" tanya pemuda remaja 17 tahun itu.


"Anggara Vincent Kavindra, panggil aja Angga."


'Anjir! Gue pernah denger nama cowok ini !'


"Lo sendiri, nama lo siapa?" tanya Angga balik.


"Oh iya sampe lupa! Kenalin, gue Stevan Raditya Satya berhubung nama gue terdengar panjang .. lo cukup panggil gue Stevan."


'Hah? Stevan Raditya Satya? Beneran pernah denger namanya, tapi gue gak inget denger nama cowok satu ini di mana. Gak hanya namanya aja, tapi juga rupa wajahnya.'


'Wait it's the minutes! Anggara Vincent Kavindra?! Beh, kayaknya sih kalau gak salah gue pernah nemu ini cowok dah. Tapi gue nemu-nya di mana, ye? Hmmm muka-muka handsome Angga gue juga kayak gak asing. Ayo Bro! Kita inget-inget siapa cowok ini, kenapa gue kayak kenal ini cowok satu.'


Angga dan lelaki remaja berumur SMA yang bernama Stevan Raditya Satya saling menatap bingung dan sekaligus saling membatin di hatinya mereka masing-masing. Angga, Angga sepertinya pernah melihat Stevan namun ia tak ingat di mana ia lihatnya. Stevan, Stevan juga pernah bertemu Angga namun ia sama seperti Angga tak ingat ia bertemunya ada di mana.


Sementara itu, Cahya dan Senja tengah nongkrong di atas pohon. Satu keterkejutan dari Senja, melihat Stevan teman rohnya yang kini telah kembali ke raganya semula! Mata Senja mencuat sempurna dengan mulut menganga lebar, tak menyangka yang di samping Angga adalah Stevan.


"Astaga! I-i-itukan, Stevan temanku yang roh waktu itu!!"


Di sisi lain, Stevan dengan canggung mulai menanyai orang yang di sebelahnya. "Angga kan, namanya? Oh iya Angga ya hehehe, ehm sorry nih Bro, jujur gue pernah ngeliat elo dah."


"Jujur juga, gue pernah lihat elo. Tapi gue gak inget lihat lo ada di mana."


"Gitu ya?! Wah parah sih! Kita pernah saling melihat, denger nama lo gue juga pernah denger woi! Sumpah gak boong."


"HEH ANGGA!!!"

__ADS_1


Angga langsung cepat menoleh ke Senja yang ada di atas pohon bersama Cahya, dengan menaikkan kedua alisnya.


"Dia itu Stevan loh, Nggaaaa!! Stevan temen roh mu dulu! Stevan Raditya Satya itu lho waktu ragamu Koma di rumah sakit Kusuma Bogor!!" teriak lantang Senja.


"Parah ini cewek! Masih punya kuping aku! Kalau teriak kek setan nenek Lampir!" kesal Cahya dengan menjitak kepala Senja.


"Auwh! Apaan sih ah! Sakit tau kamu pukul!"


"Itu bukan pukul, tapi jitak!"


Stevan menggaruk kepalanya sebab Angga seperti menatap sesuatu yang tak terlihat. "Ngga? Lo lihat apaan sih di atas pohon? Burung yang lagi nari-nari buat pentas seni?"


Angga langsung terbuyar dari pandangannya dan melihat Stevan. "Mana ada burung nari-nari buat pentas seni! Nalar dikit lah, lo pikir dunia ini dunia kartun cerita Fabel, apa?!"


"Anjir! Baru kenal, langsung kena semprot. Hehehe maaf deh maaf .. berhubung karena gue adalah cowok bawaannya enjoy dan slow, jadinya gue gak tersinggung sama ucapan bon cabe lo, yak."


"Hmmm!"


"Nah kan, kualat lo sama gue! Pasti sekarang langsung kena kutukan. Sariawan!"


"Ka-gak!!" damprat Angga.


Stevan mengecap mulutnya beberapa kali saking kagetnya suara Angga yang bernada tinggi. Namun Stevan memajukan kepalanya disaat melihat wajah Angga berubah murung serta lumayan letih.


"Eh lo kenapa dah? Kok malah murung?"


"Maaf, bukan urusan lo."


"Eeee, waduh begitu yak? Hahahaha oke-oke tapi kan ini masih pagi seharusnya lo ceria dikit, lah hehehe."


Angga menarik napasnya panjang-panjang kemudian membuangnya lewat mulut. "Gue bilang, bukan urusan lo, Stev ..."


Stevan tersenyum hambar menduga Angga mempunyai masalah yang membuat dirinya hingga tak bersemangat seperti ini. Stevan yang membawa kantung plastik berlogo Indomaret mengeluarkan sesuatu dari dalam plastik tersebut.


"Nih, buat lo."


Stevan menyodorkan minuman dingin rasa jeruk segar untuk Angga. Namun Angga malah mendorong pelan minuman dingin tersebut yang Stevan genggam.


"Thanks, tapi gak usah."


"Gakpapa lah, kan kita temen. Ini terima aja, buat adem hati sama biar gak dehidrasi." Stevan mengulurkan tangannya bersama minumannya yang ia genggam.


Akhirnya pun, Angga menerimanya dari pemberian Stevan. Mungkin itu salah satu bantuan Stevan untuk menenangkan hati dan pikiran Angga saat ini. Angga membuka tutup botol minuman satu aneka rasa yaitu jeruk kemudian meneguknya hingga setengah.


"Haus, kah?" tanya Stevan meledek.


Stevan ikut meminum jeruk segar tersebut yang ada di botol tepatnya botol tersebut ia keluarkan dari plastik putihnya. Pemuda suka tolong menolong tersebut membuka tutup botol minuman jeruk segar tersebut lalu meneguknya dengan nikmat memudarkan rasa dahaganya.


Stevan menutup botol minuman tersebut yang seperti diminum Angga. "Oh iya Ngga, alamat rumah lo sama sekolah lo di mana?"


Di sisi lain, Senja berkata, "Idih langsung dua sekaligus dong nanyanya."


"Komplek Permata depan halte bis, dan sekolah gue di SMA Galaxy Admara."


"SMA Galaxy Admara?! Wah gilak- eh lo tau Ansel Hadley pemilik bangunan SMA internasional itu?"


"Itu kan, papanya Alexander Rosefel yang anaknya kelas sebelas IPS dua."


"Nah! Itulah! Kalau lo mau tau, Alex itu sahabat gue!"


"Alex, sahabat lo?! Alexander Rosefel?!" tanya kejut Angga memastikan.


"Yups betul! By the way, pasti lo udah tau gimana sikap Alex terhadap semua orang termasuk di sekolahnya. Gak karuan, kan ya?"


"Ya, begitulah. Maaf, sahabat lo itu suka buat keonaran di SMA sana berbagai hal yang kadang masuk ruang BK meskipun Alex pemegang SMA Galaxy Admara sementara hingga beliau kembali ke kota Jakarta, gue yakin meskipun begitu Alex tetap ada hukumannya jika semena-mena di sekolahnya apalagi sekolah itu milik papanya."


"Wah lo udah kenal banget ya sama sahabat gue yang orangnya susah di atur. Tapi maafin sahabat gue ya kalau pernah buat masalah sama lo."


"Yang lebih sering bukan gue, tapi sahabat gue yang namanya Reyhan."


"Jangan bilang Alex musuhnya sahabat lo?!"


"Yaa bisa dibilang begitu."


"Hmmm ... waduh sumpah gue jadi malu bener dah sama sikapnya Alex, tapi gue mau jelasin kenapa Alex bisa begitu. Ini ada hubungannya sama Almarhumah nyokap-nya Alex, Alex itu sebenarnya orangnya baik, ramah, dan mempunyai sopan santun, terlebihnya sahabat gue itu penghibur hati di kala semua orang yang ada di dekatnya. Tapi semenjak sudah menyongsong kelulusan SMP, Alex sikapnya berubah drastis karena kematian nyokap-nya. Tabrak lari."


"Tabrak lari?"


"Iya Ngga, gue juga waktu itu turut berduka cita atas meninggalnya mamanya Alex dan gue sebagai sahabatnya menghiburnya meskipun yang gue berikan gak mempan sama sekali. Dan pelaku yang menabrak mamanya Alex sampe sekarang juga belum ditemuin bahkan disaat nabrak beliau, dia gak ada tanggung jawab malah langsung melarikan diri. Di situ Alex begitu terpukul kepergian nyokap-nya yang secepat itu."


"Jadi gue mohon tolong sama lo ya, Ngga .. maklumi sikap Alex sampai sekarang. Itulah alasan yang paling tepat mengapa Alex bisa jadi orang yang kejam dan gak ada sama sekali peduli sama sekitarnya, dia pedulinya sama bokap-nya dan juga sahabatnya, yaitu gue. Ya, meskipun begitu Alex semenjak gue ada di rumah sakit kota Bogor kalau pulang sekolah Alex suka jenguk gue sampe hampir larut malem. Pokoknya intinya lo sudah jelas, kan Ngga tentang Alex sebenarnya?"


"Iya, setelah gue dengerin semua penjelasan lo mengenai tentang Alex .. gue jadi paham. Jadi kalaupun dia seperti itu emosinya suka meluap gak terkontrol, mungkin setiap detik dia selalu inget Almarhumah mamanya. Dan, makasih ya Stev dengan begitu, entah kapan itu gue akan ngomong sama Alex."


"Eh? Yakin lo, Ngga?! Alex itu susah dideketin, woi! Nanti yang ada lo langsung di kasih pelajaran bogeman mentah ama itu Alex!"


"Gak peduli, gue mau di SMA itu gak ada permusuhan terlebihnya seperti itu. SMA yang terkenal itu dan sempet viral di berita pada tahun-tahun yang lalu harusnya terjaga dari keburukan, gue bakal berusaha untuk mengubah Alex, hanya itu satu caranya SMA Galaxy Admara terbebas dari hal yang membuat sekolah internasional tidak nyaman."


"Ngga, kayaknya lo gak usah deh .. gue kan sahabatnya, gue bisa kok ubah sikap Alex dengan cara memberi motivasi sedikit demi sedikit dan berbicara perlahan. Siapa tau itu berhasil. Gue bukan gak mau dibantu Ngga, tapi gue gak mau merepotkan elo. Bahkan lo sebelum itu gak tau apa-apa tentang Alex. Urusan ini biar gue yang selesaikan, semampu gue."


"Begitu? Hmm yaudah kalau mau lo seperti itu .. gue niatnya cuma bantu sahabat lo yang terpukul kepergian keluarga yang dia sayangi hingga dia seperti ini."


"Thank you banget pertolongannya, Bro. Tapi biar gue yang tuntaskan .. gue juga mau bilang makasih lagi ke elo karna lo udah dengerin semua penjelasan gue tentang Alex."


"Sama-sama, Stev."


Stevan tersenyum. "Sip, oh iya BTW gimana perasaan lo? Udah enakan? Gak kayak tadi, kan?"


"Alhamdulillah, sudah mendingan. Thanks ya Stev, berkat lo juga gue agak mendingan."


"Kenapa kita malah jadi saling bilang makasih yak? Hahahahaha! Oke-oke, YRW."


"YRW???" Angga tak mengerti, tumben.


"You re welcome hahahaha!"


"Ooohh," tanggap Angga dengan kedua mata menyipit karena di sertakan senyuman yang merekah di wajah sempurnanya.


"Yaudah yok pulang, lo mau pulang?" tanya Stevan dengan beranjak berdiri dari tempat duduk.


"Sekalian aja," jawab Angga ikut beranjak berdiri.


"Yaudah yok, let's go kita go home."


Stevan mengajak Angga ke parkiran tanpa menarik temannya. Yang dulu teman roh namun di antara mereka berdua belum ada yang ingat dalam benak otaknya. Sedangkan Senja dan Cahya memperhatikan dua manusia pemuda tersebut yang mengenakan helmnya di dalam parkiran motor Honda-nya. Senja sebetulnya sedikit kecewa karena di antara manusia Indigo dan bukan Indigo itu belum saling mengingat pada masa-masa saat jiwa raganya terpisah akibat Koma panjangnya, namun mau bagaimana lagi? Tak ingat tidak bisa di salahkan pula, mungkin saja mereka berdua butuh waktu untuk mengingat memori tersebut.

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2